30 Jun 2014

Abu-abu

aku ingin kamu menjadi bagian dari dari napasku, bagian dari suara ku, bagian dari letihku, bagian dari hidupku hingga suatu ketika kamu juga bagian dari agamaku. Alasan terindah untuk mewarnai mendung, alasan terbaik untuk menyinari gelap adalah kau. Bukan karena Tuhan yang melukismu begitu sempurna, bukan juga tangan malaikat yang Tuhan anugrahi tapi semua karena kamu yang memilikinya. Sorot mata itu. Setiap menatapku. Begitu tajam namun menenangkan. Senyum itu, mengembang menjadi tawa dan aku sangat suka. Jemari-jemari itu seperti mengalirkan listrik setiap menyentuhku. Tangan kekar itu begitu kuat namun tetap hangat ketika menggenggam tanganku. Aku sangat menyukai itu. Setiap detik waktu ku bersamamu. Begitu mubazir untuk dilupakan. Setiap kalimat setiap kata dan setiap huruf yang kau kirimkan kepada ku selalu tersusun rapi dalam inboxku. Taukah kamu ketika bersamamu waktu begitu berarti? Taukah kamu waktu terasa berlari ketika aku menikmati kebersamaan kita? Getaran itu. Getaran saat kau memandangku. Getatan saat kau tersenyum kepadaku. Dan getaran saat kita habiskan malam. Itu semua hanya milikku. Hanya aku yang merasa. Hitam bukan putih juga bukan tapi abu-abu. Seperti kita. Kamu begitu abu-abu bagiku. Tapi aku suka. Aku menyukaimu. Sama seperti aku menyukai medung, kelam, dan abu-abu. Karena aku tahu, kamu ada ketika mendung dan kelam datang. Dan kamu adalah putih bagiku dan aku hitam bagimu. Sehingga kita abu-abu. 

Raringga

"Berdasarkan Kisah Nyata" dengan embel-embel seperti itu seringkali membuat sebuah novel menjadi laris manis terjual dan menjadi Best Seller. Namun bukan itu tujuan aku menuliskan kisah ini. Kisah hidupku bersama seorang laki-laki 18 tahun yang sudah merasakan asam pahit kehidupan yang tidak seharusnya ia pikul di usianya yang belum matang. Ia adalah orang pertama yang mengajari ku arti kehidupan sesungguhnya. Guru yang membimbingku agar menjadi lulusan terbaik duniawi. Penyair yang selalu memberiku kalimat-kalimat kiasan yang bermakna luar biasa. Dia orang yang membuat hidupku yang selama ini kosong perlahan terisi.

Mungkin jika orang tidak mengenalnya secara betul, ia adalah seorang yang angkuh, sombong dan keras kepala. Ia juga yang memaksaku untuk mendongengkan kisah ini kepada orang lain karena ia tak akan pernah punya keberanian untuk mendongengkannya seorang diri. Orang bilang hidupnya seperti sebuah sinetron. Terlalu banyak tokoh antagonis! Seperti di tulis manusia bodoh dalam sebuah kertas bernama skenario. Bukan tak terencana macam takdir dengan penulis Maha Agung yang pasti akan berakhir bahagia karena begitulah janjiNya. Mendengar cerita mengalir dari bibirnya dulu, membuat tubuhku begidik ngeri. Tak ku sangka, hidupku yang hancur berantakan ternyata masih ada orang yang jauh lebih berantakan. Tak pernah aku mengira, takdir membawa ku masuk dalam film kehidupannya. Menjadi bagian dari sebuah sinetron dengan peran tokoh tetragonis. Perwatakan ganda! 

"Ini hidupku dan akulah sutradaranya. Aku tak peduli penulis skenario bodoh ini mau menuliskan apa. Dan aku bukanlah aktornya tetapi mereka semua. Orang-orang munafik tak berguna yang menggilai harta, tahta, dan wanita." Begitulah selalu kalimatnya mengenai hidup tiap kali orang melarangnya melakukan sesuatu. Dia memang begitu bodoh tapi untuk ujian kehidupan ia selalu mendapat nilai terbaik. 

•••

Terlahir sebagai seorang nasrani tak membuat Rangga berhenti untuk diam di gereja setiap minggu pagi atau mendekor pohon natal setiap tanggal 25 Desember. Ia seperti orang yang hidup jutaan tahun sebelum masehi, jaman dimana sebuah pedoman hidup yang bernama agama belum ditemukan. Berkelana mencari Tuhan yang menurutnya tepat. Mungkin ia satu-satunya anak yang berpikiran luas macam ini. Ketika anak seusianya selalu berperilaku baik hanya karena Santa Clause, duduk manis mendengarkan ceramah di 'sekolah minggu'. Menerima semua pembodohan otak dan kehidupan. Sedangkan Rangga? Ia tak lantas menerima kelahirannya sebagai nasrani, ia terus mencari siapa penciptanya dan siapa penulis skenario kehidupan busuk ini. 

Orang bilang Tuhan itu satu dan semua orang dari berbagai agama percaya akan hal itu. Tapi tidak baginya. Dia Raringga Hellsafano Gutomo selalu menolak filsafat itu. Mungkin 'neraka' dalam namanya membuat ia seolah jauh dari Penciptanya. Tak jarang ia selalu kebingungan mencari cara untuk dapat berbicara dengan Tuhan. Hanya sekedar untuk menyapanya dan bertanya kapan ia akan berjumpa. Dia itu kafir kalau menurut ajaran di agama ku. Tidak percaya Santa Clause sesuai ajaran agamanya. Ia lebih suka berdoa dan sembahyang dengan cara agama ku dari pada cara agamanya. Terkadang ia memintan maaf kepada ku karena telah meminjam Allah dariku dan berterima kasih sesudah ia mengembalikan Allah. Padahal aku sudah sering bilang, Allah bukan barang pinjaman tetapi tetap saja ia berkata seperti itu. 

Awal mula mengenal Rangga aku seperti di buat muak. Muak akan cara berfikirnya yang amat sangat bodoh dan terlalu berilmu filsuf. Busuk! Aku Islam menjunjung tinggi bahwa tiada Tuhan selain Allah tapi ia selalu menyangkalnya. Aku muak! Ia seperti nabi saja yang mau membuat agama baru. Nama apa yang akan ia pakai untuk "agama" barunya kelak? Manusia bodoh! Ia tak tahu kelakuannya mungkin akan membawanya benar-benar ke neraka bukan cuma neraka yang ada di embel-embel namanya. Baru kali ini aku bertemu orang aneh macam Rangga yang saking anehnya ia tak tahu sedang menjadikan Katolik sebagai data di KTPnya. Ia terlalu menjadikan semua tidak masuk akal. Selalu ingin mempersatukan agama menjadi satu. Bukan cuma agama ku dan agamanya. Tetapi semua agama yang ia tahu. Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghuchu dan apapun itu. Ia seperti menentang Tuhan yang telah mentakdirkan semua ini. Sok suci macam nabi, cuih! Mungkin karena itulah hidupnya saat ini seperti kutukan Tuhan dari semua agama. 

Rangga sang filsafat! Nama agama apa yang akan kamu ciptakan ha? Ia selalu mencari agama mana yang menghalalkan anjing untuk dipelihara namun mengharamkannya untuk dimakan. Agama yang dengan jelas memperlihatkan Tuhannya sehingga ia tak lagi bimbang Tuhannya yang beribu Maria, yang tak berawal dan tak berakhir seperti Tuhanku, yang tersalip, yang disebut Dewa, atau yang menciptakan kebusukan di dunia ini. Ia selalu berkata muak pada kehidupan. Tapi aku yakin pasti, bumi dan segala aksesorisnya lebih muak pada manusia bernama 'neraka' ini. Ia selalu bertanya kepadaku mengapa agama ku menghalalkan sebuah perceraian sedang agamanya tidak. Ia selalu menyalahkan Islam. Dan menyalahkan kenapa kedua orang tuanya yang menikah secara Islam. 

Orang tua Rangga resmi bercerai pada tanggal 28 Februari 2010 saat usia pernikahannya sudah hampir 20 tahun. Sejak saat itu Rangga mengutuk semua ajaran yang memperbolehkan perceraian. Ketika keputusan hak asuh anak jatuh di tangannya sendiri ia lebih memilih tinggal bersama Ibunya di kota Semarang sedangkan Ayahnya menghabiskan masa pensiunnya di kota pelajar Jogjakarta. Ibunya seorang wanita 'karir' dan ayahnya mantan supir motor langit. Keduanya jarang sekali di rumah sehingga Rangga lebih sering menghabiskan waktu bersama kakaknya. Bagi Rangga, Cicin kakaknya adalah satu-satunya orang yang ia percaya. 

Kehidupan sebagai seorang anak broken home memang bukan hanya dilakoni oleh Rangga. Puluhan bahkan ratusan anak seusianya mungkin juga menjadi korban perceraian hubungan bodoh, suami istri. Sebagian dari mereka lari ke obat-obatan terlarang, dunia malam, judi, balapan liar, mabuk miras, gengster, merampok dan segala macam bentuk pelarian neraka. Tetapi ada juga sebagian dari mereka yang ihklas dan tegar menerima cobaan Sang Pencipta. Bagi Rangga mabuk miras, obat-obatan terlarang perbuatan yang sangat dibenci Tuhan. Ia bisa saja menggelar pesta miras dan narkoba di rumah besarnya yang selalu kosong. Perkara uang itu mudah. Ia anak semata wayang tentu saja harta warisan ibu bapaknya yang konglomerat akan menjadi miliknya. Namun Rangga tidak sebodoh itu. Aku mengenalnya belum lama tapi aku bisa menjamin ia orang paling 'bersih' yang pernah aku kenal. Bahkan seputung rokokpun ia tak pernah menghisapnya. Entah makhluk apa Rangga ini. Mungkin dia perwujudan makhluk astral yang punya aura positif untuk lingkungan negatif. Rangga bukan makhluk sempurna tetapi setidaknya ia sempurna untuk dijadikan seorang sahabat sekaligus guru untuk menghadapi ujian kehidupan. 

Rangga itu cerdas. Hampir semua temannya berkata begitu mungkin hanya aku dan Cicin, kakanya yang berkata dia itu manusia paling bodoh yang pernah aku temui. Mempunyai IQ 120 mungkin belum cukup membuktikan bahwa Rangga anak yang cerdas. Ia bersekolah di sekolah elit di Semarang. Sekolah tempat kaum anak sosialita yang glamor dan suka memaparkan kilauan berlian yang menyembul dari jari-jarinya. Rangga sering bolos sekolah. Kalau banyak siswa mempunyai rutinitas kursus Bahasa Inggris atau les Mapel lainnya, manusia neraka ini justru mempunyai rutinitas untuk bolos. Senin, Rabu, Jumat. Macam puasa Daud saja ia bersekolah. Rangga habiskan hari-hari bolosnya untuk menarik kencang motornya menuju kota Gudeg kesayangannya hanya untuk duduk di balkon bekas kamarnya. Membantu Ayahnya mengurusi taman hidroponik mini dan bermain karambol bersama. Aku tak habis pikir dengannya, bagaimana bisa Rangga meninggalkan kebahagiaannya di sini hanya untuk sebuah kekosongan dan sesuatu yang absurd. Ayahku adalah kebahagiaanku tapi surga di telapak kaki ibu. Begitu katanya selalu setiap aku memintanya tinggal lebih lama. 

Ayah Rangga adalah sosok ayah idaman semua anak. Pekerja keras tapi tak lupa waktu. Kini ia hanya tinggal menikmati semua hasil kerja kerasnya selama muda. Menjadi seorang supir motor angkasa alias pesawat bukanlah hal mudah. Rangga begitu mencintai laki-laki paruh baya ini. Tetapi ia tega meninggalkan Ayahnya seorang diri di Jogja. Sedangkan ia hidup bersama ibunya yang seorang wanita 'karir'. Ibu Rangga? Mungkin aku akan malu harus terlahir dari rahim seorang geisha made in Indonesia ini tetapi lihat 'neraka' ini. Ia sanggup melihat ibunya menggandeng brondong taik parasit yang numpang di rumahnya. Ia sanggup melihat ibunya berdandan ala-ala tante girang di depan matanya. Melihat itu semua ia tetap berpikiran positif tentang ibunya! Terbuat dari apa neraka yang satu ini. Ia tak sedikitpun panas. Tetap dingin. Sebenarnya wujud neraka itu seperti apa? Api? Tetapi neraka ini begitu dingin. 

•••

Sekitar empat tahun lalu, seseorang perempuan tomboy memperkenalkan dirinya sebagai Cicin. Nama yang aneh. Seaneh orangnya. Ia bukan mahasiswi jurusan psycologi terbaik di dunia bukan juga seorang peramal masa depan tetapi ia hanya pelajar putih biru seperti aku disalah satu SMP di Jogja. Dia bilang aku unik. Aku punya kekuatan aneh yang bisa membuat orang mengikuti ucapanku. Seperti punya daya tarik. Sekonyong-konyong aku hidup sudah 14 tahun, belum pernah merasa orang-orang mengikuti ucapanku. Bahkan menasihati saja aku tidak pernah. Dan manusia bernama Cicin ini dengan percaya diri mengatakan aku punya daya tarik. Ia baru mengenalku kurang dari 5 menit. 
"Maukah kamu berkenalan dengan sepupuku? Aku yakin kamu bisa membantunya," ucapnya setelah kurang lebih satu jam kita berteman. 
"Membantunya?" Aku benar-benar tidak paham. Takdir apa yang mempertemukanku dengan Cicin. Berdiri menunggu bis untuk pulang ke rumah tiba-tiba aku dihampiri perempuan imut tomboy dengan seragam identitas SMP yang asing bagiku. Ada angin apa tiba-tiba ia mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya sebagai Cicin. Dengan sangat yakin aku bisa membantu sepupunya? Dia ini makhluk macam apa? Melihat aku kebingungan ia kemudian mengingatkanku mengenai kejadian-kejadian belum lama ini. 

Aku mendapat pesan dari seorang tak dikenal bernama Yvone. Entah mengapa ia begitu menyenangkan dan kami bisa berteman. Kami merasa punya kesamaan. Tiga hari berturut-turut kami saling berkirim pesan. Menceritakan sekolah dan teman masing-masing. Dan Yvone itu ada di hadapanku sebagai Cicin. Dari mana huruf C-I-C-I-N itu dalam namanya? Yvone, bahkan sebelum dia memberitahuku nama aslinya mungkin aku tidak akan pernah tau bahwa Yvone itu dibaca ivoni. 

"Aku berharap sepupuku bisa terkena sindrome ceria yang kamu punya," tambah Cicin meyakinkanku agar aku mau 'membantu' sepupunya. Sindrome ceria? Kenapa dia tidak bilang saja sindrome gila? Aku tahu maksud "sindrome ceria" yang ia maksud, adalah kebiasaanku yang selalu meringis tertawa melihat maupun mendengar hal apapun.
"Tapi kenapa aku? Sekian banyak orang yang menjadi teman kamu kenapa aku?"
"Jujur saja, hanya kamu teman nyata yang aku punya." Dan untuk kedua kalinya aku hanya melongo mendengar ucapannya yang sangat ajaib ini. Belum genap seminggu aku mengenal Yvone alias Cicin ini tapi sudah berkali-kali aku melonggo tolol mendengar kalimatnya yang tak terduga macam kentut. 

Kuputuskan untuk 'membantu' sepupunya itu. Apa salahnya membantu orang yang tidak punya stok tertawa. Berjuta-juta manusia di dunia ini aku tidak percaya ada satu diantaranya yang kehabisan stok ceria. Hingga dia butuh seorang terapis gadungan macam aku yang tak tahu menahu tentang dirinya. Aku makin penasaran bagaimana wujud makhluk tanah yang berwujud sepupu Yvone itu. Sekelam apa hidupnya, semiris apa hatinya, dan seabu-abu apa pandangan hidupnya mengenai dunia ini. Dunia bodoh ini. Dunia yang di penuhi topeng. Munafik! 

Hari itu tiba juga. Hari dimana aku bertemu pasien terapisku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Raringga. Makin merasa bodoh saja aku ini. Selama ini aku membayangkan sepupu Yvone seorang wanita yang dua atau tiga tahun lebih muda dariku dengan bibir menekuk ke bawah dan mata sendu tanda hidupnya memang tidak bahagia. Namun apa yang ada di depan ku sangat jauh dari yang aku bayangkan. Laki-laki itu tersenyum lebar saat mengulurkan tangannya kepadaku. Matanya memancarkan kebahagian nyata tanpa dibuat-buat. Parasnya pun jauh dari kata muram. Penampilannya pun jauh dari kata kusam. Dia mungkin pasien terwaras yang pernah terapis temui. 

Mungkin jika saat ini aku tengah melakoni sebuah film, seharusnya aku terpesona melihat manusia di hadapanku ini. Matanya tajam tetapi menyimpan kedamaian. Aku membalas uluran tangannya tanpa lupa tersenyum. Entah magnet apa yang membuat kami bertiga begitu dekat. Kami seperti sudah saling mengenal satu sama lain. Tapi itu hanya omong kosong. Kenyataannya aku orang paling asing diantaranya. Rangga dan Yvone tentu saja begitu dekat. Mereka saudara, mengenyam pendidikan di atap yang sama dan tidur di atap yang sama pula. Hanya bisu dan tuli yang membuat mereka tidak saling cakap. Tetapi aku? Aku hanya orang asing yang tanpa sengaja menerima pesan singkat aneh dari seorang bernama aneh pula. Yang entah mengapa meng-iya-kan permohonan orang itu dan kini terbuai hubungan yang disebut pertemanan. 

Kami sering habiskan minggu bersama. Entah hanya membusuk di kamar Yvone atau menceritakan pengalaman bodoh nan memalukan sehingga kita tertawa tanpa ampun. Seminggu dua minggu aku mulai mengenal Rangga tak ada yang aneh di kehidupannya. Tak ada yang mesti aku 'bantu' dari dirinya. Yang aku tahu hubungan kedua orang tuanya sedang diujung pedang. 

Sampai suatu malam, ketika jarum pendek menunjukan angka 12 sementara jarum panjangnya menunjuk angka 10 Rangga sangat kacau. Aku belum pernah melihatnya secakau itu. Mungkin karena memang aku belum seutuhnya mengenalnya. Penampilannya yang jauh dari kesan lusuh disetiap harinya kini berlainan. Matanya tak lagi memandang positif kepada dunia. Yang ada hanya bara api. Marah. Dan panas! Sedang parasnya yang tampan tak sesegar biasanya. Terdapat bulatan ungu bergradasi biru di bawah matanya. Dan sudut bibir yang biasanya tertarik keatas karena senyuman, terdapat setetes darah yang sedari tadi sudah dilap tetapi tetap menerobos keluar. "Ikut aku sekarang!" Tanganya kencang menarikku dari depan pintu. Aku dipaksa naik motornya.

Aku hanya bisa diam sepanjang perjalanan. Takut. Bukan takut karena aku dibawa paksa laki-laki gila tengah malam begini. Tetapi aku takut jika ibuku terbangun dan mendapatiku tidak ada di kamar. Bisa jadi aku dilaporkan mengurus RT atau RW setempat. Oh Ya Allah mau dibawa kemana hambamu ini oleh manusia neraka satu ini. Lindungilah aku. Aku berdoa sepanjang jalan. Mencoba mencari perlindungan dari Sang Penguasa. Jalan yang kami lewati begitu sunyi. Macam jalan menuju kematian. Gelap dan seram. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu bagaimana wujud 'jalan menuju kematian' itu sendiri. Yang pasti sangat mengerikan seperti saat ini. 

Dari kejauhan terlihat satu motor melaju kencang ke arah kami. Satu...Dua...Tiga...Bukan tapi lima. Lima motor itu melaju kencang ke arah kami. Berjajar rapi menutupi bagian jalan yang beraspal.  Astaga! Jangan-jangan mereka semua bajing loncat. Atau mungkin berandalan bangsat yang hobi anarki. Semoga aku bersama orang yang tepat. Doaku dalam hati. Kelima motor itu semakin mendekat ke arah kami. Jantungku berdegup kencang. Aku hanya bisa menelan ludah, pasrah. Manusia di depanku tidak menghindar tetap melajukan motornya semakin kencang. Ia seolah-olah menantang kelima motor itu untuk adu tabrakan. Siapa yang terpental paling jauh mungkin pemenangnya. Bangsat! Mungkin pemenangnya akan mendapatkan tropi nisan dan bonus bermalam selamanya di liang lahat. Dan semoga saja bukan aku pemenangnya. Aku menutup mata berharap ketika aku membukanya bukan malaikat Izrail yang datang. 

Braaakk!!!! Suara benda terjatuh begitu nyaring ditelingaku. Apa itu yang jatuh? Motor siapa? Dan siapa pemenangnya? Pertanyaan-pertanyaan gila muncul di kepalaku. Aku takut membuka mata. Motor Rangga terhenti? Atau aku yang tengah berjalan ke surga? Aku memberanikan membuka mataku perlahan. Gelap! Ha? Dimana makhluk neraka gila bernama Rangga tadi? Aku macam orang tolol yang menunggu di atas motor karena malas mengeluarkan uang untuk parkir. 

"Kamu pikir kita semua nggak tau?" Suara berat laki-laki itu begitu asing bagiku. Aku menoleh ke belakang. Kelima pengendara motor tadi rupanya. Satu dua tiga empat. Kenapa hanya ada empat motor, dimana yang satu? Cepat-cepat aku turun dari motor dan berlari ke arah segerombolan manusia-manusia bodoh yang tengah kerasukan amarah. Aku menarik tangan Rangga. Menjauhkannya dari lokasi yang sebentar lagi akan menjadi arena pertempuran. 
"Mau kemana kau pecundang?!" Cara ia mengucap kata seperti bukan orang Jawa. 
"Bukan salah ku bajingan itu jatuh!!" Rangga membalas ucapan mereka. 
"Cuih!" Satu dari keempat pemuda berandal itu mendatangi aku dan Rangga. "Kau ini lahir dari perek saja belagu?!"

Apa katanya tadi? Perek? Perempuan eksperimen? Sejenis keple? Siapa yang terlahir dari perek yang dia maksut? Aku? Atau Rangga? Rangga menghentakkan tanganku kasar. Sakit rasanya. Dia mulai terpancing bacotan taik kambing berandal sawah itu. Aku melihat tangannya mengepal erat tanda menyimpang dendam yang amat dalam. Aku memang belum pernah bertemu wanita yang melahirkan Rangga itu. Wanita yang disebut perek oleh keempat berandal itu. Bagaimana wujudnya hingga mulut mereka sanggup mengucap kata perek di telinga anak kandungnya. 
"Apa katamu?!" Nada suara Rangga meninggi. 
"Ibu kau perek!"
"Ibu kau keple!" Tambah yang berambut mirip ayam alay, warna-warni. 
"Hahahaha!! Ibumu lonthe to? Nengendi? Sarkem po Dolly?" Tambah yang kurus dengan baju kebesaran. Rupanya ia orang Jawa tulen. Logat Jawanya begitu medok. 

Jantungku berdegup kencang. Belum pernah aku terlibat suatu perkelahian secara langsung. Paling-paling aku hanya melihatnya di jalan atau ketika sekolahku terlibat tawuran. Namun detik ini lain. Aku berada di antaranya. Hanya sekian meter jaraknya. Maju sedikit aku mungkin yang jadi sasaran. Apa mereka semua tidak punya otak? Haloo! Apa mereka tidak punya ibu sehingga sanggup menghina ibu orang lain sebegitu kejam! Dan. . . Ya Allah bukankah salah satu dari kelima manusia bodoh tadi ada yang terluka? Cepat-cepat aku berlari ke trotoar tempat teman dari keempat berandal itu tersungkur. Aku tidak peduli manusia yang tengah sekarat itu musuh Rangga. Aku melepaskan helm di kepalanya. Astaga, dia pingsan! Hoi manusia-manusia bodoh! Hentikan kebengisan kalian! Teriakku dalam hati. Aku terlalu takut mengganggu singa yang lapar. 

Aku mencoba membangunkan orang ini. Darah mengucur dari siku, lutut, dan. . . Ya Allah manusia ini bisa mati kekeringan darah. 
"Macam mana ini?" Suara ala pache terdengar. 
"Kau mintalah saja uang ke anak perek itu!" Yang mirip ayam alay menimpali. 
"Sekali lagi kalian sebut Bundaku perek, aku tidak sudi membantu! Cuih!" Ancam Rangga. Ia mengeluarkan dompet dan memberikan sejumlah uang kepada pache tadi. Ada sekitar setengah juta yang bisa aku lihat. 

•••

Aku hanya bisa mengekor Rangga yang berjalan cepat. Manusia itu penuh luka memar di wajahnya tetapi tak sediktpun terlihat kesakitan. Barangkali sakit di hatinya lebih menyiksa. 

Teras rumah Rangga...

"Jadi masih mau bisu sampai kapan?" Akhirnya aku memberanikan diri untuk bicara. Aku lelah! Aku muak melihat diamnya. Aku seperti perawat bayaran yang dengan terpaksa mengompres memar yang ada di wajah Rangga. Sudah sejak aku, dia, dan Yvone duduk di teras ia hanya mematung. Pikirannya melayang entah kemana. Bahkan ketika aku menekan setiap memar dan dengan kasar mengusap lukanya, ia tetap diam. 
"Cin anterin aku pulang yaa, plis" aku memohon kepada Yvone. Aku lelah melihat manekin bernyawa di hadapanku. Yvone yang sepertinya sudah hafal kepribadian Rangga mengangguk. Meng-iya-kan permintaanku. Aku melempar asal handuk kecil ke baskom. Membuat air di dalamnya muncrat. 

Baru saja aku hendak berdiri Rangga sudah berdiri duluan. Mau apa lagi manusia ini? Apa diamnya sudah kadaluarsa? Aku hanya bisa melirik Yvone. Dia hanya mengangkat bahu. 
"Pacaran yok!" katanya tiba-tiba. Apa kata dia tadi? Pacaran? Dia ini konslet atau memang sudah rusak? Dua temannya sedang dibuat bingung karena aksi mematungnya dan sekarang ketika ia mulai angkat bicara kenapa kata-kata bodoh itu yang keluar. Sekian banyak film ftv murahan yang aku tonton, mungkin saat ini seharusnya ada adegan romantis ketika sang aktor menyatakan cinta kepada artis utama. Tapi ini? Di bawah tekanan! Menolak berarti pulang sendiri. 
"Hei!"
"Ap...apa?" Aku tersadar dari lamuanku. 
"Pacaran yok?"
"Ayok" Kata itu mengalir begitu saja dari bibirku. Biarlah. Aku ikuti saja permainan hidup Rangga. Apa mau manusia neraka ini. 

Sementara aku hanya nyengir karena terpaksa, Yvone justru tersenyum bahagia. Mungkin ini yang Yvone maksud 'membantu' sepupunya dulu. Dan yap, ini bagian dari pengobatan pasienku atau mungkin menyerahkan hidupku kepada orang kurang waras yang sedetik bicara tapi setahun diam. 

Matahari rupanya sudah tidak sabar menyapa bumi bagian tempatku tinggal. Dari arah timur ia tampak perlahan keluar dari persembunyiannya. Memberikan kehangatan sinarnya untuk memperkuat tulang bagi bayi-bayi suci. Memberikan cahayanya untuk menerangi bumi. Dan sering memberikan sinar ultravioletnya untuk kemudian menggosongkan kulit yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Saat matahari itu mulai bergerak ke atas, barulah aku tersadar. Aku belum ijin ibuku. Mampus! Mungkin sekarang warga sekitar rumahku tengah mencari sosok ku di hutan bambu belakang rumah. Mereka mungkin berpikiran aku diculik semacam genderuwo atau kuntilanak. Astaga bagaimana aku harus menjelaskan kepada ibuku nanti. 
"Cin, anterin aku pulang." Sekali lagi aku memohon kepada Yvone. 
"Mending kamu sarapan di sini sekalian, nanti bilang aja sama ibumu kalau kamu pergi subuh. Inikan hari Minggu." Good job! Dengan polosnya ia menyuruhku berbohong. Sebentar, Minggu? Hmm saran Yvone pintar juga. Aku tinggal pulang pukul 9 atau 10 dan berkata pada ibu kalau tadi subuh-subuh aku pergi ke Sunmor, suatu pasar mingguan di daerah Sagan. Tapi dimana pacar baruku tadi? Dia seharusnya yang bertanggung jawab atas hilangnya aku dari rumah. 

Aroma nasi goreng menyeruak masuk ke hidung. Sedapnya...Siapa yang memasak? Bukanya Ayah Bunda Rangga tengah pergi? Sejak kapan manusia itu bisa memasak? Kuputuskan untuk melihat dan membuktikan sendiri. Aku dan Yvone menuju dapur. Aku membuka pintu belakang, membiarkan sinar matahari masuk dan menampakan efek tyndal. Rangga Rangga, manusia macam apa kamu ini sebenarnya? Makin penasaran aku dibuatnya. 

Selesai makan dari mulut Rangga keluar cerita mengenai pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantuiku. Hidup Rangga memang tidak pernah bahagia, paling tidak itu berdasarkan ceritanya. Ia punya banyak teman tapi semuanya palsu. Teman-teman bayaran, begitulah katanya. Maka dari itu ia selalu bersikap dingin kepada orang lain. Di sekolahnya, Rangga terkenal dingin dan cuek. Mungkin hal itu yang membuat ia banyak disukai. Banyak yang penasaran tentang latar belakangnya. Susah payah ia menyembunyikan hal itu tetapi ada juga yang tahu. 

Bunda Rangga, wanita yang disebut perek oleh berandal semalam memang betul adanya. Setiap hari Bundanya keluar malam dan pulang pagi atau mungkin tidak pulang. Tapi itu karena tuntutan pekerjaannya sebagai Manager salah satu hotel yang mempunyai banyak cabang di Indonesia. Tetapi sering Rangga melihatnya mengandeng laki-laki muda busuk. Tetapi Rangga tak lantas menilai yang tidak-tidak kepada Bundanya. Ayah Rangga, pensiunan pilot. Uangnya sangat cukup hanya untuk jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri sekalipun sebulan sekali. Namun yang namanya manusia, tidak pernah merasa puas. Bunda Rangga tetap bekerja malam-pagi untuk membiayai 'pacar' barunya. Status hubungan Ayah Bunda Rangga masih resmi suami istri. Meskipun setiap bertemu mereka selalu cekcok. Bundanya tetap keukeuh untuk bercerai tetapi Ayahnya masih bersikeras untuk memperbaiki hubungan dan beginilah jadinya. Tidak ada lagi kasih sayang satu sama lain, mungki kata penyair cinta bertepuk sebelah tangan bagi Ayah Rangga. Tanggal 28 Februari esok adalah sidang percerain pertama mereka dan dengan mantap Bunda Rangga berharap sidang pertama dan terakhir. Sekali jadi. 

Sementara kehidupan Rangga tengah di uji, ia bukanya mendekatkan diri pada Tuhan tetapi justru membuat dirinya seolah-olah belum menemukan Tuhan. Ia sibuk mencari sana-sini bagaimana cara ia berkomunikasi dengan Tuhan. Seharusnya ia pergi ke gereja setiap Sabtu atau Minggu pagi tetapi ia tidak melakukannya. Terlalu lama katanya. Ia lakukan sehari lima kali macam ibadah diagama ku. Aku melihatnya bersujud seperti sholat tetapi tidak sempurna karena ia hanya bersujud dan berdoa. Ia juga pergi ke gereja, pergi ke suraw, dan terkadang ia ke pura milik tetangga yang Hindu. Aku benar-benar terkejut, mana ada manusia beragama yang sembayang dihampir semua tempat ibadah. Berdoa dimana-mana, berharap ada Tuhan dari agama lain yang bisa mengabulkan atau malah mengutuknya. Dia ini bagaimana? Bukankah berdoa itu bisa kapan saja? Mengapa ia merasa janggal dengan ibadah agamanya yang Sabtu Minggu itu? Ia merasa jauh dari Tuhan jika hanya seminggu dua kali ke gereja. Sempat dia berkata, seandainya gereja buka 24 jam ia akan menghabiskan waktu di sana. Bukankah tempat ibadah itu tak pernah tutup? Ya Allah apa yang salah dari manusia ini. Mengapa ia begitu tersesat. Aku ingin membantunya tapi bagaimana bisa? Aku bukan ulama bukan juga anak pondok pesantren yang pandai mengenai ajaran agama.  

Aku hanya sebatas mengenal agama seperti kebanyakan orang lain. Mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah. Melakukan ibadah wajib dan terkadang menambahinya sendiri. Menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup dan Kakbah sebagai kiblat. Tapi itu semua tidak berlaku bagi Rangga. Ia sadar bahwa ia seorang nasrani. Menjadikan Injil sebagai pedoman hidup dan gereja sebagai tujuan ia ibadah. Rangga menekankan kepadaku bahwa Tuhan itu tidak mungkin satu. Mana mungkin Tuhan itu satu jika setiap agama mempunyai Tuhan masing-masing yang mereka percayai sebagai Tuhan. Dan Rangga tak lantas menjadikan Injil sebagai pedoman ia berprilaku. Indonesia, dengan banyak suku saja punya satu pedoman yaitu UUD 1945 tetapi mengapa agama-agama itu tidak mempunyai pedoman yang sama? Aku bingung harus bagaimana. 
"Kamu tau kenapa aku tidak pernah makan anjing atau babi?" Tanya Rangga padaku. Mana aku tahu! Aku tidak mau tahu! "Karena aku percaya itu diharamkan tapi aku juga tidak percaya bahwa anjing itu dinajiskan." terangnya kepadaku. Ajaran agama mana itu? 

Begitulah awal mulanya. Dari sini aku mengetahui apa maksud 'membantu' dulu. Mungkin jika sejak awal aku menjadi pacarnya, pekerjaan ini akan jauh lebih mudah. Rangga pasti akan segera menceritakan latar belakangnya dan ini semua akan cepat berakhir. Dan semoga aku tidak benar-benar menaruh hati padanya. 

•••


Hari demi hari aku lewati seperti biasanya bersama Rangga dan Yvone. Statusku masih pacar Rangga, tapi aku tidak peduli. Bukan itu tujuanku dulu. Aku mulai mengenal Rangga semakin jauh. Baru aku tau selama ini ia kecanduan balapan motor. Bukan motor GP! Tapi ia sebagai jokinya. Rangga pernah mengajakku sekali melihat ia beradu kecepatan. Semacam film Fast and Furious versi motor. Banyak motor yang telah diutak-atik sedemikian rupa hingga telah kehilahan bentuk aslinya. Begitu juga motor yang dikenakan Rangga. Motor Yamaha Byson yang selama ini ia gunakan ternyata tidak cukup tangguh untuk mengalahkan Honda Blade yang telah di modif. Sehingga setiap Rangga akan berlaga, ia menggunakan motor lain. Motor garapannya bersama salah seorang bandar. 

Aku yang memang sudah suka melihat Motor GP tentu saja menikmati tontonan liar ini. Uang dan nyawa menjadi taruhan. Bahkan kadang, seorang peserta yang 'kurang waras' rela menjadikan motornya sebagai bahan taruhan. Rangga suka balapan tapi tidak untuk taruhannya. Haram katanya. Toh ia tetap memasang sejumlah uang wajib yang menurutku lebih seperti uang pendaftaran. Ia sering menang tapi tak jarang juga ia kalah. Tapi itu semua tidak masalah baginya. Minimal 300 ribu uang yang harus dipasang untuk taruhan dan hasilnya jika menang adalah lima kali lipat. Semakin banyak uang yang dipertaruhkan maka hasilnya semakin banyak pula. Biasanya pemenang kemudian mengadakan pesta miras bersama rekan satu timnya. Tidak berguna! Kenapa mereka itu tidak mengikuti balapan resmi saja? Bukankah hadiahnya akan lebih banyak? Dan siapa tahu mereka bisa menjadi pembalap internasional. 

"Menang berapa hari ini?" Tanyaku iseng. 
"Siapa yang menang taruhan? Emang kamu pernah liat aku menang taruhan?" Jawab Rangga ketus. Halo? Apa dia ini tidak bisa membaca ekspresi bercanda dengan serius? Aku cuma bercanda tapi kenapa jawabannya seperti itu? Mana aku tahu dia ini pernah menang taruhan atau tidak. Aku tidak peduli juga. Setelah ini aku tidak akan pernah iseng bertanya sesuatu yang tidak penting bagiku. Aku berjanji kepada diriku sendiri. Merasa menyesal saja aku bertanya hal bodoh macam tadi. 

Seorang laki-laki berumur sekitar 20 tahun mendatangi aku dan Rangga. Laki-laki itu memandang heran kami berdua. Lebih ke arah Rangga tepatnya. Ia kemudian mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menoleh ke arah Rangga, seperti meminta persetujuannya untuk menjabat tangan laki-laki itu. Sebelumnya aku telah diwanti-wanti agar jangan berbicara ataupun bersalaman dengan orang asing di area seperti ini. Ia pernah bilang, siapa tau mereka berniat tidak baik. Dasar suudzon! Rangga hanya memasang tampang datar. Kujabat saja tangan laki-laki itu. Persetan dengan niat buruknya! 

"Pacarnya Rangga dek?" Tanya laki-laki itu ramah. Siapa bilang semua orang asing itu berniat buruk kepada kita? Dasar Rangga! Dia pikir semua orang itu seperti apa yang ada dipikirannya? Dia kan hipster, anti maenstream. Semua serba lain dari yang lain. Hidupnya, jalan pikirannya, kepribadiannya, bahkan agamanya semua serba berbeda. 

Aku hanya tersenyum-karena terpaksa-sambil mengangguk pertanda iya. Aku tidak sengaja menengok ke arah Rangga. Matanya begitu tidak suka memandang laki-laki yang belum aku ketahui identitasnya itu. Kenapa dengan dia ini? Mengapa setiap orang yang aku jumpai bersamanya ia tak pernah suka? Yang dia punya apa hanya musuh? Begitu banyak teman yang aku punya. Mereka semua ihklas berteman denganku, paling tidak itu menurut diriku sendiri. Toh apa yang mereka inginkan dariku? Harta? Aku bukan anak konglomerat. Contekan saat ujian? Aku bukan anak emas di sekolah. Apa lagi? Aku hanya anak biasa. Yang terkadang membuat berbagi kisah hidup yang menurutku lucu sehingga orang-orang betah menyandang gelar sebagai "teman". Tetapi Rangga tidak seperti itu. Sejauh ini orang yang 'terlihat' ia senangi hanya Cicin dan aku barangkali. Ia selalu menampakan dingin yang tidak bersahabat kepada orang-orang yang ingin mengenalnya. Entah sebagai teman ataupun hubungan manusia lainnya. Dan lihatlah Rangga saat ini. Ia tampak ingin cepat-cepat mengusir manusia di hadapanku detik ini juga. Dia tidak menganggu, menurutku. 
"Mau apa anda kemari?" Rupanya Rangga sudah tak tahan lagi harus melihat laki-laki 20 tahunan itu. 
"Rangga Rangga ckckc kamu sudah tidak pulang berapa hari? Mama kamu khawatir." jawabnya. 
"Bukan urusan anda! Ayo pulang!" Rangga menggandeng tanganku. 

Seperti biasanya, aku harus menikmati perjalan dengan sejuta tanda tanya di kepala. Tak lupa dengan aksi membisu Rangga. Ingin sekali aku menyumpal mulutnya atau menjahitnya sekalian agar ia benar-benar tidak bisa bicara. Aku lelah sebenarnya harus pura-pura mau menjadi pacarnya supaya ia keluar dari hidupnya yang abu-abu. Sampai sekarang masih ada satu pertanyaan besar yang belum terjawab. Kenapa, dari ribuan manusia di dunia ini, Jogjakarta ini khususnya, harus aku yang 'pembantu' hidup makhluk aneh berwujud manusia bernama Rangga ini? Kenapa aku?! Dan beginilah takdir. Takdir yang membawaku masuk ke dalam kehidupan Rangga, aku tak tahu apa untungnya untukku. Sejauh ini seperti simbiosis komensalisme, Rangga diuntungkan sementara aku tidak dirugikan tak juga diuntungkan. 
"Siapa orang tadi? Kamu kenal?"
"Dia orang yang sudah membuatku merasa tidak berguna. Menghancurkan keluarga ku. Merendahkan Bundaku. Dan. . ." Tiba-tiba Rangga menghentikan ucapannya. 
"Dan?"
"Kamu hati-hati kalau bertemu orang tadi!"
"Nggak semua orang sama kayak yang ada dipikiranmu!" Kataku kemudian. 

Sampailah aku di tempat antah berantah tetapi menyimpan keindahan. Tempat ini seperti taman tak terawat. Banyak rumput teki tak rapi disepanjang jalan setapak. Rumput yang seharusnya menghijau sudah menguning pertanda ia selalu menerima panas matahari. Tak ada bangku besi seperti kebanyakan taman yang novel-novel paparkan. Hanya ada batu besar, tembok semen tebal yang terlihat mirip box, dan pohon tumbang yang beralih fungsi menjadi bangku sore ini. Tetapi semua itu justru terlihat indah. Indah karena diantara semua itu terdapat kubangan raksasa. Waduk itu seperti menyimpan air yang mengandung berlian. Terlihat berkilau saat terkena cahaya. Tempat ini sangat pas. Pas sekali untuk melakoni sebuah akting. Pas sekali untuk latar pembuatan film FTV, ketika adegan romantis. Tokoh-tokoh utama tengah menikmati indahnya dunia. Melakoni adegan-adegan mesra. Tak peduli orang sekitar mau bilang apa. Toh itu dibayar. Semua hanya sandiwara. 

Rangga mengajakku duduk di batu besar utara waduk. Melihat banyak orang. Entah dengan pacarnya ataupun dengan keluarganya. Menikmati matahari tenggelam yang kebanyakan orang bilang 'sunset' sambil mendengarkan petuah hidup yang keluar dari mulut Rangga. Begitu sederhana kalimatnya. Tetapi begitu bermakna. 

"Dulu aku pernah berfikir. Mengapa aku terlahir ke dunia ini. Mengapa aku harus hidup diantara kemunafikan orang-orang di sekitarku..." Rangga mulai mengalirkan materi mengenai kehidupan. Aku hanya membisu, memandang air berkilau nan tenang di hadapaku sambil membiarkan kalimat-kalimat Rangga masuk ke dalam otakku untuk diproses. 
"...Tetapi aku sadar. Aku hidup untuk belajar. Belajar akan arti sebuah kehidupan. Belajar bahwa terkadang mengetahui sebuah kebohongan jauh lebih indah. Bahwa terkadang kebohongan tidak selamanya menyakitkan dan kenyataan tidak selamanya indah..." Yah! Memang benar! Aku percaya itu semua! Aku pun merasakannya. Aku hidup dalam kenyataan dan itu sama sekali tidak indah. Mungkin manusia neraka ini juga merasakannya. 
"...Disini aku juga belajar akan arti sebuah topeng. Di luar sana banyak sekali orang-orang bertopeng. Berlaku baik untuk menutupi kebusukannya. Berlaku kasar untuk menutupi kelemahanya. Berlaku kejam untuk menutupi penderitannya. Dan dekat dengan Tuhan untuk menutupi segala aibnya..." Aku tahu memang hidup ini banyak sekali topeng, banyak kemunafikan, banyak replika. Busuk! Baru kali ini aku sejalan pikiran dengan manusia ini. Aku juga hidup diantara omong kosong belaka. Saudara, dengan kata kunci tersebut orang biasa meminta pertolongan. Cuih! Bukankah saudara itu plesetan dari 'seudara'? Jadi semua itu memang palsu. Pura-pura saudara padahal seudara!
"...Orang bilang hidup ini panggung sandiwara. Tidak selamanya senyum itu bahagia dan air mata itu kesedihan." Benar! Itu semua benar. Taukah kau Rangga, aku selama ini tersenyum hambar bersamamu. Tapi seperti yang kamu bilang. Tidak semua kenyataan itu indah. Kebohonganku mungkin indah bagimu. Lihat! Kamu terlihat begitu banyak kebohongan dan itu indah. Jauh lebih indah dibandingkan kenyataan hidupmu. 
"Iya suhu! Muridmu ini mengerti" kataku sambil tersenyum jahil. Ia menatapku, menaruh telapak tangannya di jidatku, kemudian menampar bagian pelipisku yang tertutup oleh telapak tangannya. 
Aku suka ketika dia sudah seperti itu. Rangga kemudian berdiri, menarik rambut ekor kudaku. "kamu kelamaan aku tinggal pulang!" Katanya jahil sambil berlari meninggalkanku. 

Aku mantapkan hatiku untuk 'membantunya'. Manusia ini memang begitu langka. Aku berjanji akan membuat hidupnya lebih berwarna dengan kebohonganku selama ini hingga dirinya sendiri yang memutuskan untuk menjauh. Ku bantu saja dengan kebohongan tawa dan binar cahaya mataku. Sejujurnya akupun sama dengannya, tapi aku jauh lebih pintar menutupinya. Tidak seperti dia yang awalnya pintar namun semuanya telah terbongkar. Aku tahu betapa perih hatinya, aku pun akan seperti itu mungkin. Orang tua ku memang sudah tidak lengkap. Ayahku kembali menjadi tanah ketika usiaku tujuh tahun. Ibuku kemudian menikah lagi dengan laki-laki bau kencur. Aku tidak bisa lagi hidup bersama ayah kandungku karena kematian yang memisahkan. Tapi itu jauh lebih baik daripada aku harus melihat ayah ibuku berpisah. Seperti ayah bunda Rangga. Mereka berdua ada, tapi Rangga tak akan bisa hidup bersama dengan keduanya. Benar-benar sebuah kebohongan!

•••

Aku pernah berfikir 
Mengapa aku lahir ke dunia ini
Mengapa aku harus terlahir diantara kemunafikan orang orang di sekitarku

Aku hidup untuk belajar
Belajar akan arti sebuah topeng
Aku banyak belajar arti kehidupan
Belajar bahwa terkadang mengetahui sebuah kebohongan jauh lebih indah
Terkadang kebohongan tidak selamanya menyakitkan
Dan kenyataan tidak selamanya indah

Di luar banyak sekali orang orang bertopeng
Berlaku baik untuk menutupi kebusukannya
Berlaku kasar untuk menutupi kelemahannya
Berlaku kejam untuk menutupi penderitaannya 
Banyak sekali topeng

Aku juga belajar bersandiwara
Tidak selamanya senyum itu bahagia
Air mata itu kesedihan
Orang bilang hidup itu panggung sandiwara dan itu benar

•••

Hari-hari semakin terasa menyenangkan bersama Rangga. Kita habiskan waktu bersama. Mungkin aku bisa dibilang kacang lupa kulit. Aku bahkan lebih jarang bersama Yvone. Ia tidak pernah membalas pesan ku. Tidak pernah menghubungiku lagi. Aku juga jarang melihatnya di rumah Rangga. Tapi aku tidak peduli. Bukankah memang seharusnya seperti itu? Dia hanya perantara bagiku dan Rangga. Dia hanya ditugaskan Tuhannya untuk mempertemukanku dengan Rangga. Siapa yang mengira angka-angka dari nol hingga sembilan yang Yvone acak menghasilkan nomor ponselku? Hingga takdir mempertemukanku. Takdir ckckck begitu tak terduganya engkau. Datang seperti kentut. Jika tidak dihirup dalam-dalam orang tidak akan tahu jika itu bau kentut karena terkadang tersamarkan oleh angin. Begitupula takdir. Kita tidak akan tahu takdir itu tanpa mencoba mencari tahu. Dengan cara apapun itu. Melihat, merasa, mendengar, dan semua cara lainnya. 

Setiap harinya Rangga selalu memberiku hal-hal yang tidak terduga. Andai dia tahu, apa yang aku rasakan mungkin aku akan kehilangan dia lebih dini. Aku hanya ingin bersamanya tanpa ada ikatan apapun. Sebagai sahabat, mungkin. Tapi aku tahu, aku egois. Tapi menurutku Rangga jauh lebih egois. Bukankah selama ini dia tidak pernah menanyakan perasaanku padanya? Dan akupun bodoh, tak pernah menanyakan perasaannya padaku karena memang aku tidak peduli itu semua. 

Di sinilah kita, aku dan Rangga. Disalah satu tempat wisata di Jogjakarta, Pantai Parangkusumo. Memang pantai ini tidak begitu terkenal di Jogjakarta, tak seperti Pantai Depok ataupun Pantai Baron. Mungkin mesin pencari Googlepun hanya akan sedikit menyajikan informasi mengenai Pantai Parangkusumo ini. Tetapi apa yang ada saat ini mungkin akan membuatnya menjadi terkenal. 

Seperti biasanya, Rangga selalu diam membisu jika mengajakku pergi. Tiba-tiba muncul dihapanku, kali ini ketika aku sedang menikmati angin sepoi-sepoi di lincak rumah, kemudian langsung mengajakku pergi tanpa bertanya aku itu mau atau tidak. Dasar egois! Tapi untuk kali ini aku memaafkannya. Pantai ini indah. Bukan karena pasirnya, karangnya, ataupun pemandangannya tetapi karena benda-benda yang melayang-layang di langit. Sejak kapan Pantai Parangkusumo menjadi lokasi Festival Layang-layang? 
"Kenapa diam? Nggak suka aku ajak ke sini?" Tanya Rangga setelah melihatku yang hanya diam. Tak suka? Hanya perempuan manja yang tidak suka melihat cantiknya warna-warni layang-layang raksasa itu. Aku suka. Sangat suka malah. Aku hanya tidak bisa berkata apapun. 
"Kenapa nggak bilang mau nonton festival layangan?" akhirnya kalimat itu yang keluar. Mungkin batin Rangga aku gadis bodoh. Dia ini bertanya tetapi aku menjawabnya dengan pertanyaan juga. 
"Dasar! Orang tanya itu dijawab, bukan balik tanya!" Duar! Benarkan apa yang dia ucapkan sama dengan pikiranku. 
"Hahahaha. Suka!" Jawabku mantap sambil tertawa geli karena kalimat bodohku. 

Aku menyusuri pantai berdua bersama Rangga. Sambil memandang langit yang berhiasakan aneka macam layang-layang. Mulai dari bentuk binatang, sapi, cumi-cumi, kucing, ular, burung, capung hingga gambar tokoh ternama macam Enstain, Michael Jackson, Soekarno dan wajah-wajah yang tidak aku kenali. Sunyi suasananya tapi hangat. Aku suka. Bukan seperti adegan di FTV murahan. Menyusuri pantai, bergandengan tangan, atau mungkin berpelukan. Cuih! Terlalu dibuat-buat. Inilah kenyataannya.
"Kenapa berhenti?" Rangga menoleh, rupanya ia baru sadar sedari tadi berjalan sendirian. Aku membiarkannya berjalan seorang diri hingga tercipta jarak kisaran 15 meter. 
"Kamu pikir aku bayangan yang cuma ngikutin kemana kakimu pergi?" 
"Kamu kan emang bayangan." jawabannya membuat aku mengutuk diriku sendiri. Bayangan? Jadi selama ini aku tidak nyata? Bukankah dia yang selama ini tidak nyata? Rangga datang dan pergi sesuka hatinya. Aku tidak pernah memintanya juga.

Pluk! Siapa yang berani melempariku dengan pasir? 
"Hahaha aku cuma bercanda." balasnya sambil terus melempariku bola-bola pasir. Seperti inilah yang aku suka. Ketika dia tak lagi dingin. Aku harus membuatnya lebih lama mencair. Kalau bisa selamanya cair tapi jangan sampai sebelum mencair ia jadi lembek. Bentengnya selama ini akan rubuh jika ia lembek. 
"Rangga!!! Awas kamu yaa!!" Teriakku sambil berlari mengejarnya. Tentunya aku tak lupa membawa segumpal pasir untuk membalasnya. 

Kami terlibat perang pasir. Senang rasanya bisa kembali ke masa kanak-kanak. Masa dimana tak ada beban pikiran. Tak ada yang namanya sakit hati, rasa malu, rasa cinta, cemburu semuanya sama. Yang ada hanya kebahagiaan dengan sedikit air mata. Sedikit sekali. Aku tidak peduli mata orang memandangku dan Rangga seperti apa. Aku tahu mereka hanya iri tidak bisa melakukan hal yang sama denganku. Manusia itu besar karena gengsi. Malulah, sudah tua lah, tempat umum lah, banyak orang lah, semuanya omong kosong. Seperti apa yang Rangga pernah sampaikan. Semua orang penuh topeng! 

"Huh! Capek!" Aku menghembuskan napasku kuat-kuat. Lelah sekali rasanya, tapi menyenangkan. Aku dan Rangga berkejaran jauh sekali hingga kami tak lagi berada di wilayah Pantai Parangkusumo tetapi di pesisir Pantai Parangtritis. Jauhnya! Aku tak peduli lagi Rangga masih berjalan. Aku taruh pantatku di pasir pantai dan meluruskan kakiku yang hendak copot ini. Tenggorokanku sudah meminta air. Tubuhku sudah meminta mandi, lengket sekali rasanya. 
"Dasar letoy!" Ejek Rangga tak lupa ia menarik rambutku yang diikat satu. Aku mulai mengatur napasku sambil menggali-gali pasir.
"Nih!" Rangga menyodorkan buah kelapa kepadaku. 
"Cuma satu?" Aku heran melihat Rangga hanya membawa satu buah es kelapa. 
"Sekali-sekali kita romantis." Katanya datar. 
"Romantis apa krisis? Hahaha" Tak kuasa aku menahan tawa. Mungkin orang bilang jika pantai selatan Pulau Jawa itu angker ada benarnya. Buktinya baru setengah hari Rangga di sini, dia sudah kerasukan makhluk astral yang membuatnya berubah kelakuan. 
"Brisik! Nanti kurang tambah lagi."

Aku menikmati es kelapa bersama Rangga. Menikmati 'keromantisan' yang dibuat-buat ini. Inilah yang disebut kebohongan tak selamanya menyakitkan, buktinya kebohongan ini indah. Maafkan aku. Yap kami habiskan kelapa yang pertama. Aku haus sekali. Aku tambah satu lagi dan satu lagi. Hingga perutku tidak mampu lagi menampung air kelapa. Aku habiskan satu buah es kelapa bersama Rangga dan dua buah es kelapa seorang diri. Mungkin batin Rangga aku rakus tapi aku sama sekali tidak peduli. Topengku hanya untuk kehidupanku bukan untuk jati diriku. Untuk apa jaga image di hadapan pacar sendiri? 
"Ckckck kamu nagaan?" Rangga memandangku heran. 
"Haha sialan! Kalau anak kecil cacingan kalau udah besar nagaan?"
"Emang udah besar?" tanyanya DATAR. Dia ini hobi sekali membuatku yang tadinya tertawa ikhlas mendadak diam. Mungkin dia lebih suka aku diam. 

Semilir angin sore di pantai semakin membuat dingin suasana. Aku tak tahu harus bagaimana. Tatapan Rangga kosong. Seolah-olah ada yang sedang dia pikirkan. Aku benci saat seperti ini. Jika ia sudah masuk ke dunia 'gelap' ia akan lama keluar. Ingin rasanya aku masuk ke dunia 'gelap' itu, kemudian menyeret Rangga keluar dan mengunci rapat-rapat dunia 'gelap' itu agar Rangga tak lagi bisa masuk ke dalamnya. 
"Kenapa?" Rangga menoleh ke arahku. Kenapa katanya?
"Harusnya aku yang bilang kenapa! Kenapa sih kamu itu sebentar ceria sebentar murung sebentar diam sebentar nyebelin?! Mendingan tadi ke sininya sendirian aja! Toh aku cuma bayangan!" Mulutku sudah tak tahan lagi. Itu baru 5% dari apa yang ingin aku utarakan. Kepalaku benar-benar penat tapi mulutku tak mampu mengeluarkan semuanya. Aku hanya bisa ngedumel sendiri. Aku malas berdebat dengan orang bisu. Tak ada gunanya, mubadzir. 
"Bawel! Ayo pulang!" Rangga membantuku berdiri. Dia ini seperti punya magnet. Apa yang dia katakan, apa yang dia ajakan aku selalu menurut saja. Terkadang aku meresa sangat bodoh. Atau memang bodoh? Sudah sering Rangga membisu atau tiba-tiba masuk dunia gelapnya tapi aku toh tetap saja ada di sampingnya. Mengikuti apa maunya. Dia seperti sutradara dan aku tokohnya. Tapi bukankah ini hidupku? Kenapa bukan aku sutradaranya?

Aku merasakan sesuatu di tanganku. Begitu erat dan hangat.  Kenapa Rangga menggenggam tanganku? 
"Terima kasih" ujarnya sembari tersenyum menatapku. Mata itu, mata ketika ia menatapku untuk yang pertama. Tajam namun menyimpan ketenangan jiwa. Berminggu-minggu sudah aku kehilangan mata itu, kini sudah kembali. Ya Allah, sudah sering Rangga mengandeng tanganku, tetapi mengapa saat ini terasa berbeda? Tangannya seperti memberiku getaran-getaran aneh. Untuk pertama kalinya, aku yang membisu. 

•••

Aku harus sudahi 'pengobatan' ini. Tapi aku terlanjur berjanji pada diriku sendiri. Akankah aku harus mengingkarinya? Aku yang berjanji tetapi mengapa aku juga yang tidak menepati? Bodoh! Bukanya memang seperti itu? Hanya orang yang berjanjilah yang bisa mengingkari. Aku mencoba mengingat kejadian-kejadian beberapa minggu belakangan ini. Apa Rangga sudah keluar dari kehidupannya yang kelam? Apa dia sudah bisa menerima segala cobaan di hidupnya? Apa dia sudah tahu mana agama yang tepat untuknya? 

Aku mengambil ponsel, menekan nomor yang sudah aku hafal di luar kepala. 
"Halo?" Jawab seseorang di luar sana. 
"Cin kamu dimana?"
"Baru saja aku ingin meneleponmu. Aku sedang perjalanan menuju rumahmu. Tunggu sebentar. Tuuuuut...." Sambungan terputus. Bagaimana Yvone bisa tahu kapan aku membutuhkannya? Dia ini siapa sebenarnya? Apa dia punya six senses? 

Memang Yvone lah orang yang aku butuhkan saat ini. Orang yang bisa memberiku keputusan. Mungkin batin Yvone aku ini tak tahu diri. Aku sadar itu semua. 

Lewat peristiwa kemarin, aku mulai tahu bagaimana sorot mata Rangga setelah berapa lama sorot mata itu hilang. Aku mulai tak berani menatap matanya lagi. Aku selalu mencoba mengalihkan pandanganku kemanapun asal jangan ke mata manusia itu. Aku tak mengerti rasa apakah ini. Ya Allah, jangan biarkan aku jatuh terlalu dalam. Aku hanya ingin membantunya tanpa ada luka di hatiku. Matanya indah, seindah mata ketika aku memandangnya untuk pertama kali. Aku tak ingin kehilangan mata itu, tetapi aku ingin pergi dari bayangan mata itu. Tapi mengapa begitu sulit. Aku hanya berlabu tak seutuhnya menetap. Aku tak ingin menyakiti siapapun termasuk diriku sendiri. 

"WOI!!" Yvone berteriak tepat di telingaku. 
"Atafirullah!" Aku terkejut mendapati dirinya sudah duduk di sampingku. "Bisa tuli ini kuping!"
"Kenapa kamu? Mikirin apa?" 
"Ah enggak. Nggak mikirin apa-apa." Jawabku sambil memalingkan wajah. Aku tahu, Yvone bisa 'membaca' mata seseorang. Dia bisa mengetahui aku berbohong atau tidak. 
"Kamu pasti lagi bingung. Aku nggak memaksa kamu jadian sama Rangga. Kalau kamu udah nggak sanggup kamu bisa kok akhiri semuanya." Tebak Yvone. 
"Aku cuma nggak mau ada luka."
"Kadang..." Yvone mulai membaca mata ku,"...seseorang itu nggak pernah sadar bahwa dirinya amat berharga untuk orang lain. Ia begitu disayangi, begitu dibutuhkan, dan begitu dikagumi. Ia hanya terus merasa sendirian, kesepian, dan kelam. Ia selalu merasa tidak pernah dapatkan apa yang ia inginkan dan tak pernah bisa bersama orang yang ia sayangi. Sebenarnya semua itu hanya perasaannya saja..."
Deg! Kenapa 'ia' didalam ucapan Yvone seperti ditujukan kepadaku? Siapa orang lain itu?
"...Ia sudah dekat dengan apa yang ia inginkan, hanya saja bayangan hitam selalu menjauhkannya..." Yvone terlihat serius. Biasanya ia orang yang slengekan tetapi hari ini ia sangat serius. Atau itu hanya topeng? "...tolong jangan berhenti sekarang." Sambungnya lirih. 
"...." Aku hanya mampu membisu. Untuk kesekian kalinya. Kenapa harus aku?! Kedua orang saudara itu begitu ajaib. Yvone seperti pernah mati sehingga sangat paham bagaimana melangkah.
"Tapi kenapa aku?" Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. 
"Karena takdir. Takdir yang membuat aku berhasil menemukanmu dari ribuan peluang yang mungkin terjadi. Dan aku sangat yakin, suatu ketika takdir juga yang membuat kita tidak bertemu."

Astafirullah, aku hanya bisa memohon ampun. Yvone pamit pulang dari rumahku. Selepas kepergiannya aku merasa berdosa karena hampir mangkir dari janjiku. Ya Allah jika memang ini takdirku berilah aku petunjuk bagaimana aku harus mengakhiri semua ini. Mungkin aku hanya perlu jujur kepada Rangga. Aku tidak ingin jatuh terlalu dalam. Aku nyaman bersamanya tetapi ketika kita masih berteman. 

•••

Tahun ajaran baru sebentar lagi dimulai. Liburan kenaikan kelas sebentar lagi berakhir. Semenjak ujian kenaikan kelas aku tidak pernah lagi mendengar kabar mengenai Rangga ataupun Yvone. Aku tak tahu mereka naik kelas atau tidak. Tapi aku yakin mereka pasti bisa dengan lancar naik kelas. Mereka cerdas. Meskipun mereka tidak naik kelas, aku yakin uangnya masih sangat cukup untuk membuat mereka bisa naik kelas. 

Sejujurnya aku kehilangan sosok mereka. Sepi rasanya liburanku kali ini. Meskipun aku terkadang liburan bersama teman satu sekolahku namun serasa belum nikmat jika tak lewati Minggu bersama keduanya. Aku harus segera bertemu dengan mereka, Rangga lebih tepatnya. Aku harus menyelesaikan semuanya. Hubunganku dengan Rangga yang tidak jelas ini. 

Aku mencoba menghubungi nomor ponsel Rangga. 
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkaun...." Hanya kalimat itu yang selalu aku dengar setiap aku mencoba menghubunginya. Sementara Yvone, tujuh hari sudah nomor ponselnya tidak aktif. Apa-apaan mereka sebenarnya. Menghilang tanpa kabar apapun. Tiba-tiba mengakhiri semua permainan bodoh ini tanpa memberitahuku. Mereka ini sudah semacam jalangkung saja. Datang tak dijemput pergi tak diantar. Selalu membuat aku merasa menjadi manusia paling bodoh dengan tingkah maupun ucapan mereka yang ajaib. Kemana sebenarnya mereka berdua? 

Aku mulai menyerah. Satu bulan sudah mereka menghilang dari hidupku tanpa kabar. Seharusnya aku bahagia karena tak lagi harus menjadi terapis bagi Rangga tetapi aku benar-benar sedih. Mereka berdua salah satu teman terbaikku. Jika aku harus kehilangan mereka aku ikhlas, tapi bukan begini caranya. Tanpa kabar! Aku khawatir. Kemudian pikiran-pikiran negatif datang menghantuiku. Jangan-jangan Rangga bunuh diri karena tak sanggup memikul beban hidupnya dan Yvone merasa tak sanggup untuk mengabariku kemudian ia pergi keluar kota. Atau jangan-jangan sewaktu Rangga balapan ia kecelakan hingga nyawanya tak tertolong. Atau mungkin mereka adalah salah satu penumpang pesawat yang jatuh satu bulan yang lalu? Astaga semoga semua itu salah besar. Kenapa perasaanku mendadak tidak enak. Ya Allah semoga mereka baik-baik saja, doaku dalam hati. 

•••

"Semua udah selesai? Kita berangkat sekarang. Kita mulai hidup baru di kota baru juga." tutur wanita kepala empat yang masih terlihat muda. Parasnya cantik, dandanannya pun modis. Dengan dress merah selutut serta high hills 7cm membuat ia terlihat seperti kaum sosialita. 
"Iya. Tapi Bunda, hp Rangga hilang. Ada yang belum selesai." Rangga memasang tampang sedih. Bundanya sudah siap dengan dua koper besar dan tas jinjing. 
"Nanti beli di sana. Ayoo, Cicin udah nunggu di mobil." 

Rangga membawa satu koper menuju gang dimana mobilnya di parkirkan. Ia memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil. Membukakan pintu untuk bundanya dan duduk disebalah Yvone. Sementara bundanya duduk di depan bersama pacar barunya. Sepanjang perjalanan Rangga hanya terdiam. Ia seperti berat meninggalkan tempat itu. Ayahnya akan kesepian setiap hari. Mungkin hanya burung nuri yang mampu menemani hari-harinya. Yvone tampak terdiam juga. Mereka terlihat berat sekali meninggalkan tempat mereka dibesarkan. 
"Udahlah nggak usah sedih," Rangga merangkul Yvone yang air matanya siap jatuh. Yvone menaruh kepalanya di pundak Rangga, "kita bisa sering main ke sini. Perjalanannya kan cuma tiga jam."
"Bukan itu." 
"Lalu?"
"Handphone ku jatuh di kamar mandi tadi pagi," Yvone merogoh saku jaket, ia mengeluarkan sesuatu, "lihat! Aku lupa memberi tahu seseorang."
Rangga memandang Yvone. Ia tahu siapa seseorang yang Yvone maksud. 

Sesampainya di tempat tujuan, Rangga dan Yvone menurunkan koper dari bagasi. Sementara Bundanya langsung masuk digandeng pacar barunya. Rumah itu besar, jauh lebih besar dari rumahnya di Jogja. Terlalu besar jika hanya dihuni Rangg dan Bundanya mungkin ditambah satu pembantu dan satu parasit. Yvone tak tinggal lagi dengan Rangga, ia kembali tinggal bersama kedua orang tuanya di kota yang sama, hanya berbeda blok saja. 
"Banyak yang harus kita selesaikan di sini. Tak mungkin kita bisa pergi satu bulan ini," Yvone duduk di sebelah Rangga yang tengah murung di teras rumah barunya. 
"Satu bulan?! Apa sih yang kita selesaikan? Semua sudah selesai!"
"Banyak bodoh! Rumah ini saja belum kita mulai, sekolah, surat kepindahan, dan..." Yvone menghentikan ucapannya melihat Bunda Rangga sudah berdiri di pintu. Rupanya kedua anak itu sudah ditunggu untuk beres-beres rumah. 
"Semakin cepat kalian selesaikan, semakin cepat pula kalian bisa pergi." kata Bunda Rangga ramah. 

•••


Hari ini cerah. Semoga akan terus begitu sampai malam nanti. Agar bulan tak kesepian seperti hari kemarin. Aku memulai pagi ini dengan ceria. Berharap mood ku yang baik ini akan bertahan sampai aku menutup mata nanti malam. Sudah beberapa hari ini langit selalu mendung. Seperti sedang bersedih. Sepertinya alam mendukung kemurunganku beberapa minggu belakangan ini. Kini aku mantapkan hati untuk memulai semuanya. Melupakan semua hal tak penting yang ada di hidupku. Memulai lembaran baru dan menutup lembaran lama. Aku memang masih memikirkan Rangga dan Yvone. Aku kesal sampai detik ini mereka tak ada kabar apapun tetapi aku berusaha untuk ikhlas. Mereka memang selalu datang dan pergi sesuka hati. Aku hanyalah pelengkap saja, jika dibutuhkan aku akan dipakai dan jika tidak dibiarkan saja sampai ada orang lain yang membutuhkan. 

Siang hari matahari bersinar dengan teriknya. Aneh, padahal seharusnya sudah musim hujan tetapi matahari masih saja bersemangat untuk bersinar. Aku lewati hari ini dengan bahagia. Semua temanku menyenangkan. Tidak ada yang merusak mood baikku sampai bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Aku masih mampu tersenyum bahagia. Sepertinya alam mendukungku untuk mengakhiri hari ini dengan ceria. Untuk berterima kasih dengan alam, aku memutuskan untuk pulang jalan kaki. Bukannya aku tak ada ongkos untuk naik bus tetapi entah mengapa aku ingin sekali berjalan. Lagi pula matahari sudah mulai lelah bersinar, ia hanya bersembunyi di balik awan. 

Aku melangkahkan kaki dengan mantap. Aku berjalan sendirian. Teman-temanku memutuskan untuk naik bus. Gang kecil itu biasa aku lalui jika pulang naik bus tetapi mengapa kaki ini justru berjalan ke arah yang lebih jauh. Tak apalah aku ikuti saja apa maunya kaki ini. Capek nanti ia akan meminta berhenti. 

Dari kejauhan aku melihat seorang duduk di atas motornya. Ia seperti sedang menunggu seseorang. Dengan celana jins panjang dan jaket ia tak begitu ketara laki-laki atau perempuan. Tapi aku seperti mengenal helm itu. Helm hitam dengan ornamen menyerupai koran. Apa dia..

Yvone? Melihat aku hampir mendekat, orang itu kemudian membuka kaca helmnya. Aku benar-benar terkejut orang itu adalah Yvone. Masih hidup ternyata dia. Aku mempercepat langkah kakiku. Aku benar-benar muak dengannya. Aku benci dan marah padanya. Biarlah aku menghindar saja darinya. Tetapi mau tidak mau aku harus tetap melewatinya. Aku mengutuk kakiku yang membawaku berjalan kemari. Seandainya saja aku melewati jalan yang biasanya aku lalui aku tidak akan bertemu Yvone. Aku tak mungkin balik arah juga tetapi Yvone tak akan membiarkanku berlalu begitu saja. Aku balik badan dan menjauhinya. Sudahlah aku putar arah saja jaraknya semakin jauh tak apa. Asal tak bertemu Yvone. 

"AAAAA!!!" Aku berteriak kesakitan. Sialan! Apa-apaan Yvone ini menabrak kakiku dari belakang dengan motornya? Aku jatuh terduduk di aspal. Bisa saja aku berteriak seolah-olah aku ini korban kekerasan. Tapi apa itu tidak berlebihan. "Apa-apaan kamu ha?!" Teriakku marah pada Yvone. 
"Kalau nggak kayak gitu kamu nggak akan berenti berjalan." Jawabnya sok polos. Seolah-olah dia tidak melakukan apapun. 

Aku berdiri. Memaksakan kakiku yang demi Allah sakit sekali. Tak apa aku menahan sedikit rasa sakit ini. Asalkan aku tidak membonceng motor Yvone. Langkahku pincang, jelas saja betisku terlihat memar. Sialan! Tunggu kamu Yvone aku balas kamu suatu saat nanti. 
"Sakit? Ck kelamaan. Ayo naik!" Yvone menghampiriku. Ia menarikku paksa dan menaikanku ke motornya. Dalam hati aku bersumpah, jika dia membawaku untuk hal yang tidak penting aku akan memecatnya dari pertemanan ini. 

Rumah ini, sudah dua bulan lebih aku tak berkunjung ke sini. Suasananya masih asri. Meskipun tidak di pedesaan tetapi rumah ini begitu rimbun dengan aneka pohon buah. Seperti biasanya aku duduk di teras rumah tanpa permisi. Penghuni rumah ini sudah hafal denganku. 
"Cicin? Sediri aja? Rangga mana?" Ayah Rangga membuka pintu. Beliau heran karena anaknya tidak ikut bersama sang kakak. 
"Rangga.... Nah! Itu Pah!" Yvone menunjuk seseorang yang membuka gerbang. Tidak usah heran, Yvone memang menganggap ayah Rangga sebagai Papahnya. 

Manusia bernama Rangga itu juga masih hidup. Lega juga rasanya bisa melihat Yvone dan Rangga masih utuh. Tetapi rasa kesal masih menyelimuti hatiku. Mereka tidak tahu bagaimana kekhawatiranku selama ini! Mereka selalu sesuka hati. Lihatkan? Mereka datang tiba-tiba tanpa kabar apapun kemudian mereka akan pergi lagi, mungkin. 

"Kalian berdua punya waktu lima menit untuk menjelaskan semuanya!" Aku tak tahan lagi. Aku butuh penjelasan mereka. Apa yang mereka lakukan hingga bagai ditelan bumi satu bulan lebih belakangan ini. 
"Hahahahaha!" Bukanya memberi aku penjelasan mereka malah tertawa terbahak-bahak. 
"Apa yang lucu?"
"Hmm kita berdua pindah ke Semarang, jadi satu bulan yang lalu kami harus menyelesaikan rumah, sekolah, dan kepindahan kami," jelas Yvone, "maaf bukanya nggak memberi kabar tapi secara kebetulan handphone ku rusak..."
"Sementara hape ku hilang." Rangga memotong ucapan Yvone. 
"Kalian pindah dan aku tidak tahu? Bagus! Aku memang bukan orang penting bagi kalian, aku cuma orang asing!"

Aku marah bukan marah tapi kecewa. Bagaimana sih mereka ini? Mereka anggap apa aku sebenarnya? Aku khawatir kepada mereka, selalu saja pikiran negatif yang muncul tapi dengan rasa tak berdosa mereka tertawa atas kekhawatiranku. Mereka dengan polos memberitahu bahwa handphone mereka sama-sama bermasalah. Aku tidak bodoh! Bagaimana mungkin handphone rusak secara bersamaan? Kebetulan yang sepertinya tidak mungkin. Alasan klise!
"Aku harus menemani Bunda dan Cicin kembali ke kampung halamannya." Rangga mencoba menambah penjelasana agar aku bisa memaafkan mereka. Aku tidak suka jika membawa orang tua. Alasan yang klise tapi ampuh.
"Apa kalian berdua nggak ada hape lain? Cicin, yang rusak hanya hape kamu kan? Kartunya enggak? Kenapa nggak mencoba ngasih aku kabar? Kalian pikir aku tenang-tenang saja? Aku pikir kalian mati!" Biar saja kata-kata kasar itu keluar. Aku tidak peduli. Meskipun semua harus berakhir di sini aku ikhlas. Yaa semua, pertemanan dan hubungan bodoh ini.   
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Yvone. Beginilah aku. Aku merasa sangat bodoh karena menjadi orang yang tak tegaan. Yvone terlihat menyesal sekali. Biasanya raut wajahnya menantang namun kali ini ia terlihat menyesal. 

•••

Yvone meninggalkanku dengan Rangga di teras rumah. Ia ingin berkunjung ke mantan SMPnya. Sudah sebulan lebih aku tak berkomunikasi dengan Rangga. Gundukan es yang dulu susah payah aku cairkan kini kembali membeku. Aku benci suasana seperti ini. Biarlah aku egois tetapi aku tak sanggup berbohong terus-menerus. Mungkin Rangga masih dalam masalahnya yang pelik toh aku masih bisa membantunya sebagai teman atau sahabat. 
"Kita putus ya?" Tanyaku pada Rangga. Aku tidak peduli saat ini tidak tepat atau apalah. Bagiku semua omong kosong. Tidak ada saat yang tepat kecuali kita sendiri yang menciptakannya. Aku tidak peduli kalian bilang aku egois. Ini kehidupanku!
"Kenapa?"
"Karena aku jauh lebih suka ketika kita berteman."
"Akupun begitu. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi berjanjilah jika kamu masih mau membantuku keluar dari kebusukan dunia ini."
"Aku...sudah berjanji sebelum kamu memintaku."

Yap.... Lega sekali rasanya. Tidak ada luka hati. Aku tidak akan bilang aku terpaksa menjadi pacarnya dulu. Biarlah ini tetap menjadi rahasiaku dan biarlah ia tetap tidak tahu. Bukankah dia sendiri yang bilang 'bahwa terkadang mengetahui sebuah kebohongan jauh lebih indah'. Maafkan aku. Aku memang jahat, aku egois, dan aku bodoh tetapi itu semua demi kebaikanku dan Rangga sendiri. Semakin lama aku berbohong bukankah akan semakin membuat luka. 

"Aku punya sesuatu untukmu," Rangga mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, "ini." Dia menyodorkannya kepadaku. 
"Hahahahaha. Kaktus? Buat apa?" Aku tertawa. Konyol sekali Rangga ini. Dimana-mana sebagai permohonan maaf orang biasa memberi bunga mawar, coklat, ataupun aksesoris lainnya tetapi dia memberiku kaktus. Dia ini terkadang memang romantis, tetapi konyol. 
"Kamu lihat bunga kaktus ini? Indah kan?"
Aku mengangguk mantap. Bunga kaktus itu memang cantik. Berwarna jingga seperti warna kesukaanku. Apalagi batangnya yang hijau dengan pot dari gelas kaca yang berhias batuan warna-warni membuatnya terlihat indah pabila di taruh di meja. Tetapi aku masih heran, untuk apa Rangga memberiku kaktus? Untuk dirawat? Aku pecinta binatang bukan tanaman dan ia tahu betul akan hal itu. 
"Tapi ini palsu. Bunga ini bukan berasal dari pohon kaktus ini. Jika bunga ini dicabut, kaktusnya akan jelek dan busuk!"
"Aku nggak mengerti." Aku bisa membayangkan jika bunga jingga itu tidak menempel pada pohon kaktus itu. Akan terlihat biasa saja. Mononton. Ditaruh di tamanpun tidak akan cantik. 
"Tentu kamu tahu, kaktus nggak butuh banyak air untuk hidup. Jika air yang diberikan banyak ia akan mati...."
"Apa sih maksudmu?" Aku memotong petuah Rangga. Dia ini kenapa mendadak jadi guru biologi?
"...Lihat durinya! Duri ini hanya untuk menunjukan bahwa ia kasar namun sesungguhnya ia halus."
"Kamu itu ngomong apa?!" Aku yang memang tidak paham atau Rangga yang tidak jelas? Apa hubungannya dengan kaktus? 
"Dasar! Nih bawa!" Rangga memberikan kaktus itu padaku, "ayo pulang!"

Perjalan menuju rumahku terasa lebih menyenangkan daripada biasanya. Tak ada lagi sunyi. Rangga lebih banyak bicara dan akupun juga seperti itu. Rangga menceritakan lingkungan barunya. Tak ada lagi jarak di antara kami. Seandainya kamu seperti ini sejak dulu Rangga, kataku dalam hati. 

•••

Lebih menyenangkan ketika aku bisa berteman dengan Rangga. Tanpa ada ikatan apapun kecuali persahabatan. Tak ada pacaran bodoh nan palsu lagi. Semua ini asli tanpa rekayasa dan tanpa topeng. Aku dan Rangga sering berbagi cerita. Aku yang selalu bercerita lebih tepatnya. Cerita tentang teman-temanku. Aku sudah hafal betul bagaimana sifat-sifat Rangga. Aku mengenalnya lebih baik dari siapapun, termasuk Yvone. Ia masih dingin. Seperti biasanya, tapi tak lagi denganku. Cerita favorit Rangga adalah mengenai teman-temanku di SMA yang dulu juga temanku saat aku SMP. 
"Hahahaha," Rangga tertawa lepasendengar ceritaku, "pongping? Apa itu?"
"Olahraga baru." Jawabku asal. Rangga ini polos atau tolol? Aku tertawa saja dengan ketololannya itu. 
"Sepertinya semua temanmu menyenangkan," pujinya. Dan seperti biasanya, ia selalu membekukan suasana yang susah payah aku cairkan. Aku jadi salah tingkah sendiri. Merasa tidak enak karena aku jarang mendengar cerita mengenai temannya yang menyenangkan keluar dari mulutnya. Selama ini hanya teman geng motornya yang ia ceritakan. 

Aku tahu kehidupan Rangga memang berubah semenjak ia menetap di Semarang. Sikapnya yang dingin? Tentu saja masih! Balapan liar? Tetap ada! Tetapi ia lebih mempunyai teman di geng motor dan di sekolahnya yang elit. Teman yang katanya bertopeng. Tetapi menurutku tidak. Toh mereka berada distatus sosial yang sama, kaum sosialita. Mungkin jika aku yang bersekolah di SMA Rangga, aku hanya akan menjadi Upik Abu karena aku yang berasal dari rakyat jelata dan mereka yang mau berteman dengan aku lah yang bertopeng. Sampai kapankah kamu akan berpikiran positif kepada orang asing wahai Rangga? 
"Bukanya bertopeng?" Tanyaku jail. 
"Nggak tu! Menurutku tulus."
"Kalau kamu mau, kamu boleh berkenalan dengan mereka. Cari saja dikontaku." Aku memberikan handphoneku kepada Rangga. Biarlah dia memilih yang mana calon temannya. Aku tahu, ia akan sulit bertemu dengan calon teman barunya kelak karena hidupnya di Semarang dan kebiasaan menghilangnya. 
"Thanks." Katanya seraya menyerahkan handphoneku. 
"Tapi aku nggak menjamin temanku mau berteman denganmu atau nggak."
"Kenapa?"
"Kamu itu udah kayak gunung es!"
"Aku juga punya topeng!" Rangga pergi begitu saja. 

•••

subyek: Estuuu

Rangga mengirim pesan ke seseorang yang belum ia kenal. Ia hanya tahu namanya Estu. Bagaimana orangnya dan bagaimana wujudnya Rangga tak tahu. Ia hanya sering mendengarkan cerita mengenai Estu dari seseorang. Semoga Estu bisa menjadi temannya seperti seseorang itu yang menjadi temannya selama ini. 

Kling. Handphonenya berbunyi. Pertanda ada pesan yang masuk. 

from: +6287658975
subyek: siapa lagi ini?

Aneh. Dia seperti pernah diberi pesan dari orang tak dikenal hari ini, batin Rangga. Ia akan membuat orang lain mengenal dirinya yang lain. Ia mengamati layar ponselnya. Mengetikan beberapa huruf hingga membentuk kalimat.

Me: Raringga. Panggil aja Rangga
 +6287658975: temennya elly?
Me: Iyaa. Tp jgn bilang2 dia ya kalo aku sms kamu. 
 +6287658975: kenapa? Dpt noku darimana?
Me: Jgn bilang2 dia yaa, aku ambil nomermu ga bilang2 soalnya, ntar dia marah. 
 +6287658975: wo aku udh terlanjur tanya
Me: Yaudah gpp. Eh kamu lagi apa?
 +6287658975: lg nonton tv
Me: ooh, kok kamu ga nanyain balik sih aku lagi ngapain :(. 
 +6287658975: lah emg aku harus tau?
Me: yakan biasanya ditanyain balik tu. 
 +6287658975: lah bagiku nggak penting sih. Haha yaudah kamu lg apa?
 Me: lg sms kamu. 
 +6287658975: itu juga aku tahu. 

Sedang nonton tv, itulah jawabanya ketika Estu ditanya. Rangga heran, apa semua teman dari temannya itu tak bertopeng? Bahkan tidak ada basa-basi sama sekali. Ketidakpedulian mereka jelas tak ditutup-tutupi. Seperti seseorang yang selama ini dia kenal. Ia akan peduli jika orang membutuhkan kepedulian dan perhatiannya tapi ia akan benar-benar tidak peduli jika itu kiranya tidak penting. Tak ada topeng. Selama ini hampir semua orang yang Rangga kenal hanya basa-basi. Omong kosong belaka. Mereka sok berkabung mengenai kehidupannya tapi toh mereka tertawa. Estu, bisakah kita menjadi teman? Tanya Rangga dalam hati. 

Rangga masih sibuk dengan ponselnya. Ia masih terlihat menekan huruf-huruf. Kenapa ini? Rangga heran. Kenapa aku nyaman dengan topengku ini? Ini bukan diriku tetapi mengapa menyenangkan? Rangga bertanya dalam hatinya. 

Me: elly sering cerita tentang kamu loh. kamu lucu tenyata hehe. 
+6287658975: woo dia ngomongin apa? Aib pasti?
Me: ga kok. Ngomongin kelucuan sama keunikan kamu aja. 
+6287658975: duh sialan!
Me: gpp kali. Aku penasaran aja sm kamu. Habisnya tiap aku otp an sm dia, dia ngomonginnya kamu terus. Lucu banget aku sampe ketawa. 
+6287658975: trus nyolong2 nomernku? :D
Me: hehehe iya, gpp kan?
+6287658975: gpp santai aja
Me: yaudah estu aku mau futsalan dulu yaa. 

Rangga mengakhiri onlinenya bersama Estu, yang mungkin bisa menjadi teman barunya. Aku tidak bisa bertopeng terus. Aku harus tetap menjadi diriku sendiri. Rangga menekan ponselnya lagi. 

Hapus.

•••

"Masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah..." Lagu itu memang benar. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain bersekolah. Itu menurutku sebagai seorang pelajar. Bertemu teman-teman, belajar bersama, bermain bersama, menyontek bersama, badung bersama, bahkan terkadang menjahili guru-guru yang tidak disukai bersama-sama. Memang beginilah suasana di sekolah. Hampir setengah hari dilewati di sekolah. Mulai pukul 07:00 hingga pukul 14:00 aku berada di sekolah. Menikmati tiap detik yang tak akan bisa terulang lagi bersama teman satu perguruanku. 
"Hoi!" Aku merasa seseorang menepuk bahuku. 
"Estu?" Aku menoleh. Ternyata dia Estu salah seorang sahabatku di sekolah. 
"Katanya kepo sama sms temenmu itu." 

Aha!! Estu mengingatkanku pada sesuatu. Semalam, aku mendengar bunyi dari ponselku. Pertanda ada pesan singkat yang masuk. 

from: Estu
subjek: Rangga temanmu?

Rangga? Jadi dia mengambil nomor ponsel Estu? Kenapa dia tidak bilang?Hanya Estu atau ada yang lainnya? Bodohnya, aku lupa bertanya kala itu nomor siapa saja yang Rangga ambil. 

to: Estu
subjek: iyaa. Knp?

Kenapa tanyaku? Maaf, aku berbohong. Aku pura-pura tidak tahu apa yang Rangga lakukan. Aku jelas sangat tahu Rangga pasti menghubungimu, entah itu melalui pesan singkat atau melalui telephone. Semoga saja ia tak berulah. 

from: Estu
subjek: dia sms aku. 

Oh! Ternyata Rangga mengirim Estu pesan singkat. Aku jadi penasaran bagaimana bahasa yang Rangga gunakan. Pasti sangat kaku. 

to: Estu
subjek: oh. besok ceritakan padaku

"Oh iyaa. Ayo kita ke halte!"
Seperti biasanya, saat pulang sekolah sembari menunggu mobil jemputan berplat kuning aku, Estu, dan teman-temanku yang lain akan duduk di halte barat sekolah kami. 
"Sekarang ceritakan siapa sebenarnya Rangga!" Inilah yang aku sukai dari teman-temanku. Mereka semua asli, tanpa basa-basi dan tanpa topeng. Walaupun aku tahu semua orang pasti punya topeng untuk menutupi dirinya. Entah itu tentang keluarganya, tentang masa lalunya, tentang kehidupannya, atau apapun yang sekiranya orang lain tak perlu tahu. 

Aku ceritakan saja bagaimana sifat Rangga yang dingin namun dewasa. Aku tak mau menceritakan lebih jauh. Bukan hakku untuk membeberkan kehidupan Rangga. 
"Dingin? Kok sama aku enggak? Dia ramai kalau menurutku." Estu memberikan pendapat tentang Rangga. 

Aku membaca pesan singkat antara Estu dan Rangga dari ponsel Estu. Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Bisa-bisanya dia berkata bahwa aku akan marah bila Estu melaporkan mengenai pencurian nomor ponselnya kepadaku. Jelas-jelas aku yang mempersilahkan Rangga untuk memilih sendiri. "Selamat Rangga. Sandiwaramu berhasil!" Ucapku dalam hati. Membaca pesan yang dikirim Rangga, aku tak percaya bahwa seorang Rangga yang melakukan itu semua. Sandiwara ini terlalu profesional. Hah? Sejak kapan dia bisa futsal? Haha, sejak kapan dia menyukai kegiatan selain lari dan balapan? Benar-benar sandiwara yang sukses. 
"Hmm dia hanya ingin menambah teman," kataku. Aku jujur, memang itu niat Rangga, "kamu mau jadi teman Rangga?"
"Selama itu positif kenapa nggak?"
Aku tersenyum. Bus yang kami tunggu sudah datang rupanya. Aku bergegas naik agar bisa mendapat tempat duduk. Aku mengeluarkan ponselku. Mengetik sebuah pesan untuk seseorang. 

•••

Kling. Terdengar suara yang berasal dari ponsel Rangga. Sebuah pesan rupanya. Rangga terlihat mengutak-atik ponselnya. 

EL's: selamat! Sandiwaramu berhasil! Topeng apa yg kmu pakai?

Rangga mengembangkan senyum di wajahnya. Mungkin ia memang harus bertopeng untuk mempunyai banyak teman. Setidaknya membuang sedikit sifat dinginnya kepada orang asing. Tapi apa itu sah? Selama ini Rangga membenci orang-orang bertopeng akankah dirinya juga harus bertopeng?

•••

Kaktus dari Rangga aku taruh di meja kamarku, bersanding dengan piala, boneka pajangan, dan figura berisi fotoku. Setiap pagi, setiap membuka mata, aku dengan otomatis akan memandang kaktus itu. Sebelum tidurpun mataku pasti akan menatapnya. Sengaja aku menaruhnya di tempat yang bisa aku lihat setiap saat. Agar perlahan aku bisa paham apa maksut ucapan Rangga dulu. Berhari-hari sudah kaktus itu menginap di kamarku. Sampai detik ini aku masih belum paham apa maksut ucapan Rangga dahulu. Aku mengambil pohon kaktus itu. Memandangi bunga jingganya yang makin mengecil. Apa yang spesial dari pohon penuh duri ini? 

Tiba-tiba kalimat-kalimat Rangga menggema di pikiranku. Jika bunga ini dicabut, kaktusnya akan jelek dan busuk. Apa benar? Dahulu aku hanya membayangkan saja. Aku cabut bunga jingga itu. Benar! Kaktusnya tak lagi indah. Tak ada yang menghiasinya lagi. Bunga itu hanya sebagai penutup. Tunggu.... Sebagai penutup? Seperti topeng? 

Aku mulai meresapi kalimat-kalimat Rangga. Kaktus nggak butuh banyak air untuk hidup. Air adalah sumber kehidupan bagi pohon kaktus ini, selain matahari tentunya. Tetapi ia tak butuh banyak air untuk bertahan hidup. Ia hanya butuh sedikit yang kemudian akan disimpan baik-baik agar tidak terbuang percuma. Duri ini hanya untuk menunjukan bahwa ia kasar namun sesungguhnya ia halus. Banyak sekali duri pada pohon kaktus ini. Berjajar rapi sepanjang batangnya. Namun tetap terdapat cela antar durinya. Aku melewati celah itu. Kaktus ini memang lembut ketika aku menyentuh bagian yang tak berduri. 

Tunggu dulu... Aku mulai paham apa maksud semua ini. Bunga jingga, air, duri itu semua kiasan. Bunga jingga itu sebagai topeng agar orang mau memandangnya. Air itu ibarat kebahagiaan dalam kehidupan. Hidup tak perlu banyak kebahagiaan jika itu akan menyakitkan, tapi cukup sedikit saja untuk disimpan agar tidak mubadzir. Dan duri itu ibarat kepribadian seseorang. Kepribadian yang kasar dan keras. Jika mampu menembusnya maka sejujurnya orang itu adalah orang yang halus dan menyenangkan. 

Aku tak menyangka seorang Rangga bisa mengambil hikmah dari sebuah pohon kaktus. Aku hanya geleng-geleng kepala. Tak sanggup berkata-kata. Bagaimana ia bisa mengerti kehidupan makhluk lain? Kenapa tidak sejak dulu saja dia seperti ini? Setidaknya aku mungkin tidak akan terpaksa menjadi pacarnya dulu.

Kriiiing.....kriiiiing.....kriiiing....

Ponselku berdering nyaring sekali. Dimana benda kotak itu berada? Aku lupa menaruhnya dimana. Sembari mencari ponselku, aku masih memegangi kaktus ini. 

Raringga

"Halo?"
Prang!!!
"Suara apa itu?" Tanya Rangga terkejut. Aku menjatuhkan pohon kaktus pemberiannya. Mati! Apa dia akan marah?
"Hm... Anu kaktusnya jatuh ehe," aku berusaha tetap tenang. Aku tidak biasa merusak barang pemberian orang. Aku tidak sengaja. Gelas itu licin sekali. 
"Apaa?!!" Mati aku! Rangga pasti marah.
"Maaf aku nggak sengaja. Potnya licin. Besok aku ganti potnya." Kataku membujuk agar Rangga tak marah. Aku pernah melihat ia marah. Mengerikan. Seperti singa yang kelaparan. Mengganti potnya? Bahkan bunganya saja sudah aku cabut. Kaktus ini lebih mirip gambas berduri sekarang. 
"Hahaha nggak papa. Aku nggak marah. Pasti kamu sudah tahu apa maksud ucapanku mengenai kaktus itu?"
Sialan! Jadi dia mengerjaiku. Ah sudahlah. 
"Sial! Baru saja tadi aku mengerti kaktusnya langsung pecah." Jawabku jujur. 
"Memang seharusnya begitu."
"Apanya yang begitu?"
"Sampai kapan kamu akan terus lama berpikir?"
Apa sih maksudnya? Kenapa dia ini begitu banyak ungkapan? Sekolah dimana sih Rangga sampai-sampai kalimat yang keluar dari mulutnya begitu ajaib. 
"Kaktus itu sudah tak cantik kan?"
"Iya." Kenapa dia bisa tahu? Apa dia juga punya six senses seperti Yvoe? Dua makhluk ini terbuat dari apa? Aaaaaa! Aku ingin berteriak. 
"Cicin yang menyuruhku meneleponmu. Dia bilang kaktusnya sudah selesai."
tuuuut tuuuut

Duar!! Aku melihat sekelilingku. Jangan-jangan sekarang Yvone sedang memperhatikan setiap gerak-gerikku. Aku mengakhiri panggilan Rangga. Mendadak aku merasa diawasi. Itu sungguhan atau Rangga hanya kebetulan menelephoneku saat kaktus itu mau jatuh? Tetapi mengapa timingnya bisa pas sekali? Yvone, kamu itu siapa? Aku merasa berdosa karena terlalu polos, atau bodoh mungkin. 

•••

Manusia itu seperti sebuah pohon kaktus
Dengan bunga dan duri
Bunga yang dipasangkan
Bukan tumbuh sendiri
Namun tetap terlihat indah
Dengan duri yang berjajar rapi
Menutupi hampir semua bagian
Namun tetap ada celah
Dengan sedikit air
Untuk ia hidup
Barangkali manusiapun begitu
Terlihat baik
Namun tak dari hati
Tetap disenangi
Terlihat tak menyenangkan
Kasar, jahat
Namun tetap ada sisi kelembutannya
Tak butuh banyak kebahagiaan
Jika hanya untuk terluka
Sedikit saja
Untuk dapat mempertahankan hidup

•••

"Ih jahil banget!" Aku menonjok lengan Yvone pelan. Aku sedang belajar di kamar Yvone. Bukan belajar mengenai matematika, fisika, biologi, atau pelajaran lain yang diunaskan tetapi aku sedang belajar bagaimana 'membaca' seseorang. 

Setelah saat kaktus dari Rangga jatuh aku mulai mengintograsi Yvone. Ternyata dia memang punya six senses tetapi bukan bawaan dari lahir. Ia belajar semua yang ia bisa dari sebuah pelatihan tentang psycologi. Selain bisa mengetahui hal-hal yang disembunyikan seseorang, tanpa sadar Yvone juga bisa melihat kegiatan seseorang yang jaraknya jauh seperti menggunakan mata batin. Tapi tak semua berfungsi dengan baik katanya. Yang paling jitu dan tepat akurat adalah ketika ia menerawang seseorang. Ia menjadi bola ajaib bagi Rangga. Rangga akan menyuruh Yvone membuntuti bundanya dan terkadang ayahnya. 

Yvone bilang semua orang itu punya six senses tetapi tak disadari dan tak dipelajari. Beberapa orang yang menyadari tidak mampu mengendalikannya sehingga six senses itu muncul setiap saat. Tetapi Yvone tidak. Ia akan menggunakannya ketika ia membutuhkan. Six senses juga banyak macamnya. Ada yang bisa melihat dunia makhluk astral, ada yang bisa melihat masa depan, ada yang bisa membaca pikiran, ada yang bisa merasakan sakit seseorang, ada yang bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan sentuhan, ada yang bisa membaca mimpi, ada yang bisa berkomunikasi dengan hantu, ada yang bisa menerawang kehidupan orang lain, ada yang mempunyai penglihatan seperti sinar-x, ada yang bisa berjalan-jalan ke masa lalu, dan masih banyak sekali macamnya di dunia ini yang aku tak mengerti. Aku hanya tahu six senses itu anugrah yang menyakitkan karena tak seharusnya mengetahui apa yang tidak perlu diketahui, tak seharusnya melihat apa yang tidak perlu dilihat. Tetapi ak penasaran juga. Selama ini aku sadar jika terkadang ada kejadian-kejadian yang tiba-tiba melintas dipikiranku. Seperti mengkhayal namun nyata. Aku seperti melihatnya secara langsung. Aku menganggapnya halusinasi sampai akhirnya seseorang memberitahu aku mengenai hal yang tanpa sengaja melintas dipikiranku. 

Yvone bilang aku punya potensi. Yeah! Seperti biasanya dia selalu sok tahu. Tapi aku penasaran juga. Sepertinya seru bisa mengetahui apa yang orang lain sembunyikan. Aku mau saja dia ajarkan bagaimana cara membedakan mana mata seseorang yang penuh misteri, mana mata yang menyimpan kedamaian, dan mana mata yang selalu berbohong. Aku diajarkan semua itu. Aku tidak peduli itu mengganggu privasi seseorang. Sepertinya mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahui menyenangkan juga asal tidak di salah gunakan. 
"Begini..." 

Kami mulai dengan metode pertama. Membedakan warna mata seseorang. Berdasarkan informasi yang Yvone haturkan, ada berbagai cara 'membaca' seseorang. Melalui mata, melalui tingkah laku, melalui senyuman, melalui garis tangan, melalui sentuhan, dan melalui tulisan tangan namun yang paling mudah adalah melalui mata. Aku hanya tahu orang Indonesia mempunyai kemungkinan dua warna mata, cokelat muda dan cokelat tua mendekati hitam. Sedang dalam metode ini ada tiga warna mata seseorang hitam, putih, dan abu-abu. Warna ini bukan warna lensa mata! Ya kali putih! 

Warna hitam untuk orang-orang yang kesehariannya ceria dan bersemangat. Orang-orang seperti ini biasanya sangat pandai menyembunyikan kenyataan-kenyataan hidupnya. Orang yang sangat rapat menutup kehidupannya dari orang lain. Orang yang penuh tawa, tak pernah memikirkan hal-hal yang sekiranya memuakan. Sehingga akan sulit untuk masuk ke dalam pikirannya. Seolah-olah semuanya gelap. 

Warna putih untuk orang-orang yang dengan jelas memperlihatkan apa yang sedang dirasakan. Sedih, senang, marah, dan lainnya. Orang-orang seperti ini yang sangat mudah dibaca. 

Warna abu-abu untuk orang-orang yang dengan sengaja menutupi diri dari orang lain. Tidak memperlihatkan dengan jelas apa isi hatinya tetapi selalu memikirkan perkara hidupnya. Melalui mata abu-abu sering kali menerawang menjadi salah mengartikan. 

Menurut Yvone aku mempunyai mata abu-abu. Aku terima saja dia katakan seperti itu. Toh aku tidak paham maksudnya. Yvone mulai menebak siapa orang yang aku suka, bagaimana keseharianku, apa yang sering aku rasakan, seperti apa tipe teman yang menurutku menyenangkan. Aku hanya tertawa saja. Hampir semuanya benar. Tapi ia sangat salah tentang kehidupanku. Hahaha! Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Biarkan dia mengetahui apa yang menurutnya benar.

Aku mulai belajar. Aku hanya bisa mangut-mangut mendengar penjelasan Yvone. Mudah saja sepertinya. Aku tinggal pura-pura berbicara dengan seseorang sambil terus menatap matanya. Mengkorek informasi yang sekiranya aku butuhkan tanpa dia tahu atau sekedar mencari kebenaran saja. 

"Tunggu dulu. Emang kamu mampu untuk menatap mata seseorang tanpa grogi? Bukankah selama ini kamu selalu mengalihkan pandangan setiap berbicara dengan orang lain?"

Ah itu dia masalahnya! Aku tak akan sanggup menatap mata seseorang. Semakin lama aku menatapnya mata itu seolah berubah menjadi menenangkan hingga aku takut masuk terlalu dalam. Mata siapapun itu. 
"Hmm mudah saja! Aku tak perlu pura-pura bicara dengan seseorang. Tinggal curi-curi pandang saja," ide itu melintas begitu saja dikepalaku, "apa bisa?"
"Tentu saja. Bagaimanapun caranya. Asal ingat! Tepat pada matanya." 

Akan aku praktikan pertama kali pada orang itu. 

•••

Aku tak tahu, mengapa kehidupan membuat aku merasa sepi. Hidup memang berat aku tahu pasti. Aku hanya berfikir bagaimana cara untuk keluar dari penderitaan ini bukan cara untuk bahagia. Bukan dunia yang memberiku penderitaan tetapi aku yang mendatanginya. Disaat aku tengah bahagia, aku pergi meninggalkannya. Aku  selalu mencari cara bagaimana aku bisa kembali. Aku punya mimpi besar. Aku ingin bahagia yang nyata bukan karena materi. Aku ingin bahagia bersama orang-orang yang aku sayangi. 

"Haloo!!!" 
"Dasar bodoh!"
"Siapa yang bodoh?"
"Apa?" 
"Siapa yang bodoh? Kamu kenapa sih dari tadi nglamun terus? Ngeliatin apa?" Tanya Rangga. 

Astaga! Aku lupa. Berapa lama aku memandangnya? 

"Eh itu. Nggak ngeliatin apa-apa ehe." Aku berusaha tenang. Aku benar-benar gugup. Semoga Rangga tidak tahu apa yang baru saja aku lakukan. Semoga ia tak merasa terganggung. Semoga ia tidak merasa privasinya dicuri. 
"Kamu kayak lagi..." Rangga terlihat mengingat sesuatu "...Cks kamu pasti diajarin Cicin kan?!" Tebaknya.
Mati aku. Nada yang sama ketika Rangga berbicara dengan lima berandal dahulu. Apa dia marah?
"Itu anu apa namanya...hmm nggak sengaja." Jawabku gagap. Jika terdesak seperti ini gagapku selalu saja keluar. 
"Kamu pikir semua orang mau privasinya diketahui?! Kamu pikir semua orang senang jika kehidupannya diketahui ha?!" 
Aku hanya geleng-geleng kepala. Matanya menatapku tajam. Mata itu. Bukan mata yang teduh seperti biasanya. Mata itu marah. Terlihat jelas sekali. Aku tak berani membalas tatapan Rangga. Ngeri sekali rasanya. 
"Aku cuma mau membantu," ujarku. 
"Membantu apa?! Dengan cara seperti ini?! Itu sama sama kamu ikut campur urusan orang lain!" Katanya membentak. 
"Maaf," kataku tulus. 
"Kamu pikir Cicin juga akan setiap saat membaca mata orang lain? Nggak!! Kamu salah! Dia hanya akan seperti itu jika orang lain yang memintanya!"
"Maaf. Aku nggak akan ngulangin lagi," aku menunduk. Menyesal. 
"Memang seharusnya tidak diulangi! Kamu bisa kehilangan banyak teman kalau terus seperti itu!"

Aku mulai terbawa emosi. Kenapa dia sebegitu marah? Bukankah dia yang memintaku untuk membantunya keluar dari kebusukan dunia.
"Aku udah minta maaf. Apa itu nggak cukup?" Aku meniru kalimat-kalimat di FTV yang biasanya ampuh. 
"Kamu pikir semua kesalahan bisa terhapus hanya dengan kata maaf?!" Rangga kembali membentak. Aku tidak suka dibentak. Ibuku saja tidak pernah melakukan hal itu. 
"Nggak usah teriak-teriak! Manusia bisa apa selain minta maaf? Yang penting aku tulus minta maaf. Aku nggak peduli kamu maafin atau nggak!"

Aku berdiri meninggalkan Rangga. Biarlah aku pulang sendirian. Naik angkot atau busway. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu. Tidak seharusnya dia membentakku. Aku bukan siapa-siapanya. Dia tidak berhak melakukan itu semua. 

Dasar munafik! Dia itu siapa? Nabi yang tidak pernah berbuat salah kepada orang lain? Cuih! Sok suci! Tidak perlu semarah itu. Ak perempuan. Perempuan mana yang dengan pasrah mau dibentak-bentak? Dengan siapapun itu. Aku menyusuri jalan, mencari bus atau angkot yang lewat. Kemana mereka semua? Biasanya sudah membuat kemacetan! 

"El!" Seseorang memanggil namaku. Aku tahu siapa dia. Suaranya sudah sangat aku hafal. "Kenapa kamu yang marah?"

Kenapa? Kenapa tanyanya? Dasar laki-laki bodoh! Aku masih berjalan. Aku masih tutup mulut. 

Suatu ketika jika aku menjadi presiden, aku akan menghukum orang-orang yang selalu bertanya 'kenapa'. Tidakkah ada kata-kata lain selakn 'kenapa'? Aku muak dengan perlakuan Rangga. Macam adegan di FTV saja! Aku berhenti. Berbalik badan dan seketika ingin menendangnya. 

"Coba kamu tanya bundamu, apakah dia akan terima jika dibentak-bentak?" Kataku sambil berlalu lagi. 

Untung saja ada angkot yang lewat. Aku naik saja, perkara angkot itu melewati rumahku atau tidak, aku tidak peduli. Yang penting aku jauh dari Rangga. Aku malas melihat tampang sok polosnya. Biarlah dia marah denganku toh aku tidak rugi. Dia yang membutuhkanku, bukan aku. 

Dari dalam angkot aku masih melihat sosok Rangga yang memandangku di dalam angkot. 

•••

Mana rumahku? Seharian sudah aku keliling Jogja. Berpindah dari angkot satu ke angkot lainnya. Bertanya dari Bapak A ke Bapak B kemudian ke Ibu C hingga ke Ibu D. Aku tersesat! Orang bilang salah jurusan. Angkot yang aku tumpangi justru menjauhkanku dari rumah. 

Penyesalan datang seketika. Kenapa aku begitu bodoh hingga tidak sempat untuk membaca jalur angkot yang aku tumpangi. Saking bodohnya, aku dengan percaya diri berganti angkot tanpa bertanya terlebih dahulu kepada sang supir. 

Hari menjelang petang. Bus yang katanya menuju rumahku sudah mulai jarang. Aku iseng saja naik busway. Dengan ongkos Rp. 3000 aku bisa sampai halte dekat rumahku. Tinggal jalan kaki sekitar 100 meter sampailah aku di rumah. 

Handphoneku mulai kehabisan energi. Perutku mulai lapar. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku terus mengumpat dalam hati. 

"Permisi mbak, kalau mau ke Tugu saya harus naik bus jalur apa?" Aku bertanya kepada penjaga selter. 
"Nanti adik bisa naik bus A2 tapi muter dulu di Bandara terus di selter Bethesda ganti jalur B1. Adik mau turun dimana?" Tanyanya ramah. 

Hah?! Bandara?! Bandara Adi Sucipto? Jauh sekali! Berapa lama lagi aku bisa sampai rumah? Ini daerah mana sih?! Ya Allah tolong kirimkan malaikat penolong kepada hamba. Aku lelah dan lapar. 

"Adik mau turun dimana?" Ulang penjaga selter itu. 
"Daerah Jetis kota mbak."
"Oh itu bisa langsung naik bus A1 tapi selter yang sebelah sana," penjaga selter itu menunjuk daerah utara jalan. 

Itu dia! Aku harus naik bus A1 itu. Bisa muntah aku jika harus memutar sampai bandara dan lagi masih harus ganti bus. 

"Jauh nggak mbak?" Tanyaku ketar-ketir. 
"Nggak kok. Kamu jalan lurus nanti ada perempatan belok kiri. Ada dua selter ambil yang timur jalan."
"Makasih mbak."

•••

Aku menyusuri trotoar dengan sumpah serapah untuk Rangga. Dasar laki-laki menyebalkan. Dia harus membayar apa yang aku lakukan hari ini. Semoga saja Mbak Eka, nama penjaga selter (aku tahu namanya karena tanpa sengaja melihat nametagnya), berkata jujur mengenai jarak selter itu. Aku sudah belok kiri sesuai petunjuk dari Mbak Eka namun sampai sejauh 300 meter aku belum melihat satu selter sekalipun. 

Deket kok mbak. Dekat dari mana? Ini jauh banget! Umpatku dalam hati. Dekat itu tidak lebih dari 500 meter. Satu kilometer sudah aku berjalan. Menyusuri trotoar dengan perut keroncongan dan kaki yang kelelahan. Langit tak lagi jingga pertanda hari memang sudah malam. 

"Permisi Bu numpang tanya, selter busway daerah sini mana ya?" Tanyaku pada penjual bensin pinggir jalan. 
"Selter baswe? Trans Jogja kui po Pak?
"Ho o." Suaranya berat dan lantang. Khas sekali suara laki-laki pekerja keras. 
"Wah lumayan adoh kui nok. Kui lurus meneh mengko ana siji kiwa dalan. Lurus 300 meteran ana siji meneh tengen dalan." Terang ibu penjual bensin. 

Jarak selter itu lumayan jauh. Aku perlu lurus lagi dan lagi dan lagi itu baru jarak untuk selter barat jalan. Aku perlu jalan 300 meter lagi untuk sampai di selter timur jalan. Huhah! 

•••

Akhirnya rumahku nampak juga. Tidak sabar rasanya aku ingin lompat ke tempat tidur. Merebahkan badanku. Kemudian makan Indomie rebus dengan telur dan sayur. Wuih sedapnya! Aku mempercepat langkah kakiku. Mungkin jika kaki ini bisa bicara ia akan berteriak minta pertolongan. Atau mungkin ia akan lapor polisi karena aku telah menganiayanya. 

Drrrt drrrt drrrt

From: Raringga

Mau apa lagi dia? Apa belum puas perlakuannya terhadapku tadi siang? Apa ia masih belum bisa memaafkan ku?

Aku merebahkan tubuhku ke kasur. Haah nyaman sekali. Aku rogoh kantung celanaku. Mengambil ponsel. Membaca pesan dari Rangga yang belum sempat aku baca tadi. 

Aku terperangah. Kalimat-kalimat ini begitu indah. Benarkah Rangga yang menyusunnya? Niat sekali dia meminta maaf kepadaku. 

"Sayat dalam hatimu". Sayat dalam hatiku? Hahaha, aku tertawa sendiri. Aku tidak sakit hati, Rangga. Aku hanya sebal dan tak suka dengan perlakuanmu  aku terenyuh dengan pesan Rangga. Ia memang pandai merangkai kata. Aku yang bercita-cita ingin menjadi seorang penulis saja takkan mampu menata kata menjadi puisi seindah ini. 

To: Raringga

Aku membalas pesan Rangga. Bukan dengan puisi tentunya. Berharap dengan pesan singkat ini, hubunganku dengan Rangga akan baik kembali. Semua memang ada di tanganku. Aku yang meninggalkannya. Aku yang begitu bodoh mencuri privasinya. Aku yang dengan tolol ingin tahu kehidupannya. Benar memang ucapan Rangga. 

•••

Rangga memandang matahari senja dari balkom kamarnya di Jogja. Ia termenung. Mengutuk dirinya sendiri. Menyalahkan mulutnya yang tak seharusnya berkata demikian. Membodohkan dirinya yang seharusnya tidak melukai hati seseorang. 

Rangga menyesal. Ia bisa saja kehilangn orang yang selama ini menghiasi kelamnya. Orang yang selalu ada disetiap ceritanya. Orang yang kini mungkin saja membencinya. 

Rangga menyerah mencari kemana orang itu pergi meninggalkannya. Ia khawatir. Sangat sangat khawatir. Orang itu telah salah naik angkot. Bagaimana bisa Rangga menyusulnya jika orang itu tak mau menatapnya lagi. 

Rangga mengambil ponsel di saku jaket. Ia terlihat sibuk mengetikan sesuatu. Lama sekali. Tulis-hapus-tulis-hapus, seperti itu terus kelihatannya. Matahari telah selesai dengan tugasnya. Kini bulan dan bintang yang berjaga. Rangga masih sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang akan ia lakukan. 

Rangga menghela napas panjang. Semoga ini bisa membuatmu mau memaafkannku, batin Rangga. 

To: EL's 

Luka yang menyayat
Sukar diobati
Noda yang membekas
Sukar dihilangkan

Goresan luka di kulit
Sukar terhapus
Lebih-lebih goresan di hati
Takkan mungkin terhapus

Maaf...
Maafkan aku
Sayat dalam hatimu
Itu ulahku

Tak mengira aku
Satu goresan kecil dapat membekas
Maafkan aku

send...

Rangga hanya dapat berharap orang itu mau membaca pesannya. 

Lama Rangga menunggu balasan dari permintaan maafnya. Apa ia benar-benar marah? Tanya Rangga dalam hati. Dasar bodoh! Siapa yang tidak akan marah jika diperlakukan kasar! Rangga bimbang, apa hal yang bisa membuat orang itu kembali lagi padanya? Sekian lama menyimpan, sekian lama menjaga, akankah harus berakhir sekarang?

Kling

Akhirnya ada pesan yang masuk. Semoga saja dia. 

From: EL's 

Ak gak punya luka hati

Senyum mengembang di wajah Rangga. Berhasil, batin Rangga sumringah. Ia menekan beberapa nomor di ponselnya. 

EL' phone

Tuuuut tuuuuut tuuuut
Tersambung....

•••

 baby you're firework....

Ponselku berdering nyaring sekali tepat di bawah bantal. 

Raringga

Huh! Mau apa lagi dia? Apa dia tidak bisa membiarkanku istirahat?

"Kenapa?" Tanyaku tanpa basa-bask. Sudah dipastikan suaraku pasti terdengar lelah sekali. Rasa kantuk masih mendera mataku. 
"Maaf yaa." Kata Rangga. Terdengar sangat tulus. 
"Iyaa. Aku enggak marah. Tapi kenapa kamu bisa segitu marahnya sih?"
"Iyalah! Perbuatanmu salah. Kamu mau kehilangan temen kerena hal konyol yang kam pelajari itu?"
"Enggak!" Jawabku mantap. 

Rangga benar. Bisa saja teman-temanku kelak akan memusuhi atau bahkan membenciku karena hal bodoh itu. 
"Sori."
"Udahlah. Jangan diulangi lagi. Daah! Tuuuuut tuuuut"
Sambungan terputus. 

Jangan sampai aku kehilangan banyak teman karena hal ini. Baru aku tersadar, Rangga hanya berniat menegurku, tadi. Tetapi caranya yang salah. Nada bicara dan kalimatnya yang salah. Ah sudahlah. Semua sudah berlalu. Mataku tak sanggup lagi membuka. Aku pergi saja ke bunga tidurku. 

•••

"Hahaha," Yvone terus tertawa terpingkal-pingkal. Sudah sejak tadi tawanya tak kunjung berhenti. 
"Ketawa terus aja!" Lama-lama aku jengkel juga. 
"Hahaha. Lucu! Sumpah demi apa kamu salah angkot? Terus jalan kaki jauh banget?"
"Iyaaaa!"
"Hahaha!" Yvone tertawa lagi. 

Aku menceritakan pengalaman bodohku tiga hari yang lalu. Yang dengan sukses membuat Yvone tidak bisa berhenti tertawa. Aku merasa sangat tolol. Apa benar semua yang aku katakan pada Yvone aku lakukan? Berjalan kaki jauh sekali? Yeah, terkadang rasa kesal memanh membuat seseorang tidak sadar apa yang sedang dilakoninya. 

Sudah seharian aku pergi dengan Yvone. Aku lupa tidak memberi kabar kepada orang rumah. Sewaktu aku bangun rumahku sudah sepi orang. Biarlah nanti sewaktu aku pulang aku menjelaskan semuanya. 

Jarum pendek sudah menunjuk antara angka 9 dan 8. Semntara jarum panjangnya menunjuk angka 6. 
"Pulang yok Cin?" Aku khawatir orang rumah akan mencariku dan kemudian memarahiku. Sudah sejak pagi aku pergi. 
"Ayok! Udah sepi juga." 

•••

Hari ini aku berapi-api. Baru saja satu dari ratusan mimpiku hancur. Bukan karena orang lain tetapi karena ulahku sendiri. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku hanya bisa berdoa kepada Allah, memohon agar ia kembali mewujudkan satu mimpiku itu. 

Aku kabur dari rumah setelah Rangga tiba-tiba ada di samping rumahku. Aku tidak memberitahunya tetapi dia tiba-tiba saja datang. Aku tahu pasti Yvone yang memberitahukannya. Aku memang butuh seorang untuk berbagi, setidaknya untuk menemaniku. Aku keluar lewat jendela. Persetan dengan orang-orang yang melihatku. Mungkin aku tidak akan pulang samapi polisi yang mencariku. Aku menembus malam bersama Rangga dan berhenti di sebuah Suraw di pinggir jalan. Masjid itu meriah, penuh kerlap-kerlip lampu hias. Menaranya tinggi menjulang dengan warna hijau pink, cantik tetapi tetap memperlihatkan sisi religusnya. Ornamen lafadz Allah dengan warna emas membuat masjid ini semakin memperlihatkan sisi kereligiusannya. 

Aku mengambil air. Membasuh tangan dan wajahku yang dingin. Aku bersujud memohon bantuanNya. Menengadahkan tangan sambil berbicara kepadaNya. Sementara Rangga hanya menungguku sambil memperhatikan apa yang aku kerjakan.

"Kamu itu beruntung." Kata Rangga setelah aku selesai. 
Beruntung? Aku tidak mengerti bagaimana bisa aku beruntung? Aku tidak boleh bertemu ibu kandungku sendiri karena ada monster jahat yang melarangnya. Aku hidup bagai burung dalam sangkar. "Kamu masih punya Allah tempatmu mengadu," lanjutnya. 
"Bukankah kamu juga punya Yesus?" 
"Tetapi aku tidak bisa setiap saat mengeluh."
"Kenapa?"
"Gerejaku tidak buka 24 jam. Lagi pula..."
"Apa?"
"Aku lebih menyukai Tuhanmu." Jawabnya sambil menarik gas motor. 

Ha?! Apa dia bilang barusan? Dia tidak bisa setiap saat mengeluh? Bodoh! Tidak hanya di gereja, masjid, pura, wihara, klentheng kita bisa sembahyang. Dimana saja bisa bodoh! Di rumah, sekolah, dimana saja. Dan apa tadi? Dia lebih menyukai Tuhanku? Bukankah Tuhan itu satu? Astafirullah, aku memang sedang dirudung masalah tetapi aku masih punya Allah tempatku mengadu sedangkan manusia di depanku ini tidak. Hidupnya penuh cobaan tetapi ia tak tahu kemana ia mengeluh. 

Mungkin hidup Rangga saat ini adalah kutukan atas perlakuannya terhadap Tuhan dan agama. Kafir, begitulah kata orang-orang mengenai seseorang yang jauh dari Tuhan. Salah besar mungkin aku yang bermasalah lari kepada orang yang hidupnya hanya berisi dua hal, masalah dan cobaan. Mungkin benar apa yang orang cakap 'manusia memiliki ujian hidup yanh berbeda sesuai dengan kemampuannya'. Ibarat ujian anak SD masalahku jika dibandingkan dengan masalah hidup Rangga yang seperti Ujian Kelulusan anak SMA. 

Memang benar kata Rangga, aku beruntung. Aku seharusnya bersyukur dengan apa yang aku rasakan saat ini bukannya mengeluh. 
"Maaf." Kataku. Entah mengapa aku merasa menyesal menambah beban hidup Rangga. 
"Maaf kenapa?"
"Karena aku hanya menjadi beban."
"Hahaha!" Rangga tertawa terpingkal-pingkal. Kadang aku heran, saat aku tertawa dia tiba-tiba membekukan suasana kadang juga saat aku tengah serius dia tiba-tiba tertawa. "Sejak kapan kamu menjadi beban?"
"Hmm entah. Aku boleh tanya?"
"Apa?"
"Kenapa aku tidak pernah melihatmu mengeluh?"
"Buat apa aku mengeluh? Buat apa aku kesana-kemari mencari tangan yang mau merangkulku?"
"..."
"Mungkin dulu memang aku hanya bisa menyalahkan Tuhan. Tetapi Tuhan yang mana aku bingung."
"Kenapa? Bukankah Tuhan itu satu?"
"Mana mungkin! Coba pikirkan Tuhanmu dan Tuhanku. Apa keduanya sama?"
"..." Aku hanya geleng-geleng pertanda tidak. 
"Dulu aku benar-benar benci pada Tuhan yang menuliskan skenario bodoh hidupku. Tetapi kini aku sadar Tuhan sangat baik padaku..."

Manusia! Membenci Tuhan ketika diberi cobaan, mengutuknya dengan kata-kata kasar, mengatakan bahwa Beliau tak adil dan segala cacian lainnya setelah diberi kepuasan terkadang lupa. Ketika ingat memuja Tuhannya, berkata bahwa Beliau sangat baik dan adil, Maha Mendengar, Maha Melihat ckckck. Manusia!
"...Tuhan memberiku orang-orang yang membuatku belajar. Belajar arti setia, berjuang, ikhlas, sabar, berkorban, cinta, dan kasih sayang..."
Once again! Satu lagi pelajaran hidup yang aku dapat dari Suhu Rangga. Memang benar semua itu. Tuhan memang sangat baik. Terima kasih Ya Allah, Engkau mempertemukan hamba dengan seorang guru kehidupan berwujud Rangga ini. 
"...Aku mulai berusaha hidup mandiri. Aku kaya, aku akui itu tapi uang bukan sealanya..."

Rangga memang kaya bahkan dia mengakuinya tetapi kalimat itu tidak menunjukan kesombongan. Uang bukan segalanya? Yang benar saja! Bisa apa manusia tanpa uang? Uang bukan segalanya itu omong kosong! Uang rajanya, yang kaya berkuasa. Begitulah hidup. Berlaku hukum rimba! Manusia itu gila harta tetapi yang dihadapanku ini lain. Ia tak mau menggunakan uangnya untuk hal yang tidak penting. Ia tak lantas sok berkuasa dan membeli apapun termasuk kebahagiaan. 
"...Aku yakin! Bintang tak perlu bantuan untuk bersinar." Katanya sebagai penutup. 

Akupun yakin. Kamu bisa seperti bintang. Bersinar dengan cahayanya sendiri. Meskipun tak seterang bulan, namun malam tak akan indah tanpa bintang. Kamu harus berjuang dengan usaha dan semangatmu. Aku benar-benar bersyukur bisa mengenal Rangga. Temanku bilang aku beruntung dan itu benar. Ingin sekali aku memeluk laki-laki di depanku ini. Memeluknya sebagai seorang sahabat atau mungkin sebagai seorang yang mengajariku arti kehidupan. 
"Kalau ada bintang di langit, nggak akan bintang itu seterang kamu." Kataku dalam hati. 

•••

Terkadang...
Hidup itu sebuah penyesalan
Mengapa seseorang harus dilahirkan jika ia telah bahagia di surga?
Mengapa seseorang harus terlahir jika untuk menderita?
Mengapa harus merasa cinta jika untuk merana?
Sesungguhnya Tuhan memberikan hidup untuk belajar
Bagaimana mungkin akan bersyukur jika tak pernah diberi karunia?
Bagaimana pula akan ikhlas jika tak pernah diberi cobaan?
Dan bagaimana bisa bersabar jika tak pernah diberi amarah?
Hanya di dunia penuh topeng ini semua itu terjadi
Karena jika di surga tak akan ada lagi
Kesabaran di tengah emosi
Keikhlasan di tengah cobaan
Dan rasa syukur di tengah kekurangan
Memang hidup ini untuk belajar
Selalu ada hikmah dari semua kejadian dan keadaan

•••

Banyak yang aku pelajari tentang semua kejadian selama ini. Tentang persahabatan. Sahabat itu bukan orang yang memberimu jawaban ketika kamu bertanya. Bukan juga orang yang datang saat kamu minta dia untuk datang. Bukan orang membela ketika benar. Bukan pula orang yang tertawa bersama dengan kebahagiaanmu. Tetapi sahabat itu orang yang memberi jawaban atas segala pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan. Orang yang tanpa diminta dia akan datang saat kesepian dan kesendirian tengah melanda. Orang yang mau membela ketika benar dan berani menegur ketika salah. Dan orang yang ikut merasakan kepedihan meski tanpa air mata. Persahabatan itu ibarat sebuah air. Tanpa akhir yang akan terus mengalami siklus. 

Seperti itulah. Sahabatku selama ini, semuanya. Semua sahabatku. Namun dalam kisah ini, Rangga lah orang yang aku maksud. Sampai saat ini aku masih belum paham bagaimana dia bisa begitu tegar menghadapi cobaan. Terus tegar meski pahit kenyataan. Terbuat dari bajakah mentalnya? Hingga angin topan tak mampu memecahkannya. Pastilah beruntung orang yang kelak menjadi jodohnya. Bukan aku tentunya! Rangga sangat baik, nenghargai wanita, pantang menyerah, menjunjung tinggi keadilan, dan tampan. Makin banyak saja nilai plusnya. 

Tentang jodoh Rangga. Ia sudah berjanji akan mengenalkan pacarnya kepadaku. Aku sangat antusias. Wanita mana yang dapat membuat seorang Raringga Helsafano itu jatuh cinta? Seperti apa wujudnya? Rangga akan mengajak Aira (bukan nama sebenarnya dikarenakan orang yang bersangkutan belum tentu mau kisahnya diketahui publik) ke tempat ayahnya. Aku senang saja. Akan lebih mudah aku bertemu dengannya. 

Sore ini Yvone menjemputku. Liburan memang sudah tiba. Yvone bilang akan menghabiskan satu minggu liburannya di Jogja. Dia memintaku untuk menemaninya. Hah? Yang benar saja, mana mungkin aku boleh menginap satu minggu full di rumah temanku. Rumah ayah Rangga masih asri seperti dulu. Ada tambahan kolam mini diteras depan, menambah sejuk suasana. Aku heran, bagaimana bisa Rangga meninggalkan kebahagiaannya di sini hanya untuk sesuatu yang hampa di sana?

"Hai!" Sapa suara berat laki-laki yang begitu aku kenal. Suara yang selama ini selalu menemaniku setiap malam. Menelephoneku tanpa tujuan. Iseng saja, begitu selalu jawabnnya. "Kenalkan ini Aira. Aira ini orang yang sering aku ceritakan." Rangga menperkenalkan aku dan Aira. 
"Aira." Dia mengulurkan tangan. Gadis ini tidak cantik tetapi mengapa wajahnya begitu mempesona. Mengemaskan, lucu, dan manis. Pantas saja Rangga menyukainya. 
"Hai!" Aku menjabat tangannya dengan senyum kebanggaanku. Semoga gadis ini bisa mewarnai hidup Rangga yang abu-abu. 

Rangga dan Yvone meninggalkanku dan Aira di teras. Mereka pamit mencari makan. Seperti biasanya, aku yang sedari tadi bicara. Aira hanya menjawab ala kadarnya dan seringkali menimpali. Aku heran bagaimana bisa Rangga dan Aira pacaran? Mereka sama-sama tak banyak bicara. Apa mereka nyambung?

"Rangga sering cerita tentang lo." Akhirnya Aira angkat bicara juga. Hmm logatnya bukan orang Semarang asli. 
"Pasti yang aneh-aneh."
"Rangga bener. Lo emang nyenengin," Katanya memuji. Aku tidak menyenangkan. Hanya sedikit brisik saja. Aku tidak suka suasana sunyi sepi. Tidak peduli orang yang aku ajak bicara suka atau tidak. Yang penting aku suka dan aku tidak suka keheningan! "Setiap hari cuma lo yang ada diceritanya. Cuma lo yang temen-temen Rangga tau. Cuma lo yang dia telephone setiap malam. Cuma lo orang yang dia ajak jalan-jalan, sementara gue nggak pernah. Udah hampir lima bulan gue jalan sama Rangga. Baru kali ini dia ngajakin gue pergi."

Duar!! Kenapa dia seperti cemburu denganku? Apa yang mesti ia iri kan? Apa salah jika sepasang sahabat bermain bersama? Salahkah jika setiap saat sahabat itu mengisi cerita kita? Dosakah jika seseorang menghabiskan waktu bersama sahabatnya? Aku rasa semua itu sah-sah saja. Toh aku dan Rangga tidak ada perasaan apa-apa. Itu menurutku. Tapi aku yakin pasti. Buktinya dia memiliki kekasih. 

"Hmm kamu kan nggak tahu apa yang kita bicarakan. Dia selalu cerita tentang kamu." Ujarku berbohong. Semoga dia percaya apa yang aku katakan. 
"Lo kira gue tolol! Dia nggak pernah suka sama gue..."

Yeah! Seperti diberi aba-aba Aira menceritakan kepedihannya menjadi pacar Rangga. Jika aku berada diposisi Aira sekarang aku akan sangat sakit hati. Perih rasanya. Mereka hanya status palsu. Rangga dan Aira tak pernah berkirim pesan atau online berdua. Pergi jalan-jalan atau makan berdua juga tidak pernah. Bahkan saat bertemu di sekolahpun Rangga tak lantas menyapa Aira. Benar-benar tidak peduli. Namun jika ditanya statusnya, Rangga pasti akan menjawab 'pacaran'. Hubungan macam apa itu? Aira merasa tidak dianggap. Dia lelah dengan sikap Rangga, namun Aira sangat menyayangi Rangga. Aira selalu menanyakan kabar Rangga namun tak kunjung dibalas. Bahkan Aira tak tahu latar belakang hidup Rangga. Ckckck Rangga Rangga, sok ganteng kamu! Cewek cantik di depan mata disia-siakan, batinku dalam hati. 

Kasihan sekali Aira. Dulu sewaktu aku menjadi pacar Rangga, aku memang tidak merasa nyaman dengannya, dia terlalu dingin. Tetapi setidaknya dia peduli denganku. Dia berprilaku baik. Sering mengajakku pergi berdua hanya untuk sekedar makan atau bersantai di rumah Ayahnya. Dia juga terkadang romantis meskipun sedikit tolot. Paling tidak dia menunjukan profesinya sebagai pacar. Namun dengan Aira ini dia lain. 

"Rangga emang kayak gitu. Kamu sabar aja. Nanti lama-lama dia juga peduli kok." Aku berusaha menghibur Aira yang air matanya siap jatuh. Aku merasa tidak enak sendiri. Kenapa sih dia harus curhat sama aku?
"Lo bisa bikin Rangga berubah. Lo bisa kan?"
"Maksut kamu?"
"Lo bisa bikin Rangga nggak dingin lagi sama lo. Lo bisa juga kan bikin Rangga nggak cuek lagi sama gue? Paling tidak dia itu nganggep keberadaan gue."
"Caranya?"
"Berhenti berhubungan dengan Rangga." Katanya sambil menatap mataku. Tajam. Garang. Marah. 

Inilah yang dibilang Rangga dulu. Teman-temannya bertopeng. Lihat bentuk Aira. Dia cantik, nada bicaranya pun halus. Tetapi dibalik itu semua... Dia memintaku menjauhi Rangga. Oke memang dia tidak bilang seperti itu tetapi intinya sama, aku menjauhi Rangga. Halo Aira! Selama ini Rangga yang selalu menghubungiku bukan aku! Dia yang tiba-tiba muncul dihadapanku dan kemudian membawaku pergi. Dia yang membicarakanku. Itu semua bukan aku! Kenapa aku yang harus berhenti menghubungi Rangga? 

"Sory. Aku nggak bisa." Kataku jujur. Mana bisa aku menjauhi Rangga? Setiap hari dia selalu menghubungiku dengan nomor ponsel yang berbeda. Ketika salah satunya tidak aku angkat, Rangga tiba-tiba bertamu di rumahku. Alhasil mau tidak mau aku harus menemuinya. Kemudian dia akan mengajaku pergi atau aku tiba-tiba ada urusan mendadak yang butuh supir. 
"Kenapa lo nggak bisa? Lo sama Rangga beda kota, pasti mudah buat lo ngejauh dari Rangga."
"Kamu percaya aja Rangga nggak akan balik sama aku. Kita cuma temenan. Nggak akan lebih."
"Siapa yang bisa jamin perasaan orang?"
"Kamu bisa percaya sama aku."
"Oke. Gue pegang omongan lo!"
"Barang kali dipegang."
"Bisa aja lo!"

Susah payah aku mencairkan suasana yang telah dibuat tegang oleh Aira. Kami melupakan percakapan tidak penting tadi. Aku dapat melihat dengan jelas dari mata Aira bahwa ia sangat mencintai laki-laki yang tidak jelas itu. Ia memujanya. Mungkin menuju ke obsesi. Tapi memang semua itu wajar. 

•••

Pepatah yang mengatakan 'cinta tak harus memiliki' itu hanya omong kosong belaka. Ketika seseorang menaruh hati pada orang lain, orang itu secara tidak sadar ingin menjadikan orang yang dicintai menjadi miliknya. Ia akan berusaha keras. Berjuang dan berkorban demi orang yang dicintai. Ketika semua usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil barulah kata-kata 'cinta tak harus memiliki' itu keluar. Bullshit, bilang saja usahanya sia-sia! Kemudian ia akan melupakan orang yang dicintainya itu. Mencari pengganti. Meskipun itu berat. Tetapi tetap dilakukan. Kalau ibarat anak gaul 'move on'. 

Sebagian orang terkadang salah mengartikan apa itu 'move on'. Move itu berpindah dan on itu hidup. Jadi bepindah untuk hidup? Atau move on yang artinya berjalan terus? Apalah arti dalam bahasa indonesianya. Semua itu tidak penting. 

Yang aku tahu, move on itu bukan berarti melupakan orang yang pernah ada dalam hidup tetapi sesaat berpindah ke lain hati untuk mencari kebahagiaan yang lain. Tidak berarti harus membuang semua kenangan indah saat bersamanya dahulu. Kenangan akan menjadi kenangan. Bagaimanapun dan sekuat apapun usaha untuk membuangnya, kenangan itu akan tetap ada dalam bentuk cinta. Move on itu tidak perlu waktu, tak perlu air mata, tak perlu api untuk membakar. Move on hanya butuh keikhlasan dan ketegaran. 

Memang, mungkin menurut kalian aku menulis paragraf mengenai move on itu omong kosong. Karena kita tahu, bicara itu jauh lebih mudah dari pada praktiknya. Tetapi memang seperti itulah yang aku lakukan. Tak ada air mata, api, ataupun menunggu waktu. Karena waktu tanpa ditunggu akan selalu menghampiri. 

•••

Rangga masih diam ketika Aira terus meminta hal yang seharusnya tak perlu untuk berpikir lama-lama. Rangga masih menimbang, apakah yang dikatakan Aira benar. 
"Kenapa masih mikir? Jadi bener kan kamu masih ngarepin dia?" Aira terus mempojokan Rangga. 
"Nggak!"
"Kalau gitu bawa aku ketemu sama dia! Sampai kapan kamu kayak gini terus? Aku pacar kamu, Rangga." Aira mulai tak tahan lagi dengan sikap dingan Rangga. Jurus perempuannya pun mulai keluar. Matanya berkaca-kaca. Siap menumpahkan berlian cair yang menyakitkan. 
"Aku nggak pernah minta kamu jadi pacarku! Dia sahabatku," Rangga memandang wajah Aira yang mempesona, "oke aku akan ajak kamu main ke Jogja. Lusa kita udah libur kan?"
"Jogja? Jadi dia tinggal di Jogja? Selama ini kamu ke Jogja cuma buat dia?" Air mata Aira yang dibendung kelopak matanya bercucuran. Melewati kulit putih mulus wajah Aira. 
"Aku benci liat kamu nangis." Rangga menghapus air mata Aira dengan tangannya. 

Aira menarik tubuh Rangga hingga jatuh kepelukannya. Dipeluknya laki-laki yang telah membuatnya mabuk cinta itu. Rangga hanya bisa diam. Ia tak lantas membalas pelukan Aira. Rasa bersalah semakin besar sekarang. Rangga tak tahu apa yang ia rasakan. Belum ada orang yang mampu mengisi harinya kecuali 'orang itu'. Belum ada yang bisa menggantikan tawa khasnya di telinga Rangga. Belum ada orang seperti orang itu.

•••

"Jadi yang Aira curhatin ke aku semuanya bener?" Tanyaku ke Rangga. Aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Aira memang cemburu denganku. Hahaha, aku tertawa dalam hati. Tertawa geli. Apa yang harus ia irikan dari aku? Semua laki-laki jelas akan memilih Aira dari pada aku. 
"Ho o" Rangga meniru gaya bicaraku.
"Aku pikir dia hanya berlebihan. Hahaha apa yang harus dia takutkan?"
"Iya. Cantikan juga Aira hahaha."
"Hmm don't judge book by it cover Rang." Kataku menggoda. Cantik rupa belum tentu cantik hatinya. Buruk rupa belum tentu buruk hatinya. 
"Omong kosong! Sekarang kalau kamu liat cowok tatoan sebadan, ngrokok, bau ciu*, pake jins sobek-sobek deketin kamu. Kamu bakalan takut nggak?"
"Iyalah preman gitu!" Jawabku mantap.
"Kamu kan nggak tahu dia preman atau bukan."
"Dari penampilannya juga kelihatan."
"Katanya don't judge book by it cover." Katanya menggoda. 

Duar! Skakmat! Bodoh bodoh bodoh! Tolol sekali aku ini. Karena ucapan bodohku, aku harus mendengar Rangga berpetuah (lagi dan lagi). Mau tidak mau aku harus bersusah payah untuk tidak terlihat tidak peduli dengan ucapannya. 

Kembalilah ia pada prinsip keukeuhnya yaitu: kebanyakan orang itu bertopeng. Gara-gara kalimat sepele 'don't judge book by it cover' yang begitu bodoh keluar dari mulutku, Rangga kemudian mengalirkan petuah-petuah, yang seperti biasa akan begitu bermakna. 

Beginilah petuahnya...

Orang-orang itu munafik. Mereka selalu bilang, jangan menilai orang dari penampilannya. Tetapi toh kenyataannya mereka melakukan hal itu. Orang penuh tato satu badan, membawa putung rokok Djarum, beraroma ciu atau jenis minuman keras lainnya, menggunakan jins belel, dengan tindik, dibilang premanlah, copet lah, tukang judi lah, penculiklah. Hal-hal negatif lainnya. Orang-orang seperti itu biasanya dijauhi karena takut akan perlakuannya. Kenapa orang-orang itu tidak mau mengenalnya terlebih dahulu, barangkali orang itu penyayang anak yatim, penyayang lansia, selalu menolong orang lain atau perbuatan terpuji lain yang orang tidak akan menduganya. 

Kemudian ketika seorang wanita berpakain dengan 'bahan seadanya', dengan 'hot pants', baju yang memperlihatkan toketnya, atau terusan-terusan sepaha yang dengan jelas memperlihatkan siluet tubuh, wanita itu akan direndahkan, dibilang pereklah, wanita panggilanlah, tante-tante girang, penggoda suami orang. Mungkin sejujurnya orang-orang tidak pernah tahu, dibalik tubuhnya terdapat jiwa pantang menyerah yang besar, semangat hidup yang tinggi, pengorbanan, cinta, dan kasih sayang. 

Orang-orang tidak pernah mau bertanya dibalik penampilan seseorang. Yang mereka tahu hanya penampilannya saja. 

.... Begitulah petuahnya. 

Aku benar-benar salut pada Rangga. Teman-teman geng motornya, yang menurutku lebih mirip geng pencopet, memiliki kepedulian yang tinggi kepada pemulung, pengemis, anak jalanan, lansia, dan orang miskin. Mereka sering membagi sebagian rejeki, karena memang kebanyakan dari mereka anak mampu. 

"Bentar lagi kelas dua belas ya?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. 
"Iyaa. Terus jadi mahasiswa terus..."
"Terus?"
"Nggak papa. Yuk!"

•••

Kehidupan seseorang akan terus berputar seiring berjalannya waktu. Datang-pergi. Pertemuan-perpisahan. Pertemanan-permusuhan. Kelahiran-kematian. Perjanjian-pengingkaran. Cinta-benci. Semua berjalan konstan. Begitulah waktu. Berjalan konstan. Tak dapat dihentikan dan tak dapat diputar ulang. Tak segan-segan meninggalkan masa jika tak siap. Manusia, hanya mampu menyambut waktu. Siap atau tidak siap waktu akan datang.

Pertemuan dengan Aira tempo hari membuat aku berfikir, apa yang ada di hati Rangga, sebagaimana keras hati itu hingga mampu tak memperdulikan perasaan orang lain. Cinta memang bukan perkara mudah, sepele apalagi, jauh dari semua kata-kata itu. Mulai hari itu, aku sedikit memutuskan untuk "menjaga jarak" dengan Rangga. Tentunya aku tidak ingin dikatakan perusak hubungan orang atau apalah sebutan lain yang lebih kejam barangkali. Aku mengerti betul apa yang disebut iri, apa yang mungkin Aira rasakan sebagai rasa cemburu. Bagaimana bisa ia menutup mata dan telinga untuk pacarnya yang dengan terang-terangan lebih mengunggulkan wanita lain. Tentunya ia akan bertindak! Dan beginilah jadinya, lagi lagi dan lagi, aku yang harus terlibat dalam dunia percintaan Rangga yang penuh omong kosong. Belum cukup mungkin ia melibatkan ku dalam hidupnya selama ini, belum puas tentunya. Aku masih sedikit menyimpan kesabaran untuk mengikuti "skenario" bodohnya. Tambah satu lakon lagi tak masalah, pikirku, toh dia hanya pemain pembantu di sini. Tokoh utamnya? Jelas! Masih Rangga. 

Jogjakarta seperti biasa, macet pada pagi hari dan semakin padat ketika siang hari. Jogja menjadi saksi dari sejuta peristiwa dalam hidupku. Jogja yang begitu indah, bagaimanapun keadaannya dan bagaimanapun pahitnya, aku tetap mencintai Jogja. Sejuta kenangan indah dan pahit aku lalui hampir seluruhnya di Jogja. Kota ini, kota yang memaksaku untuk berfikir dalam setiap perkataan dan tindakan yang dilakukan. Kota yang membawaku masuk dalam kehidupan kelam seseorang.

Berbulan-bulan sudah aku lewati tanpa Rangga, sedikit melegakan tapi dengan sangat sukses mampu membuatku rindu. Rindu akan suara yang mengucapkan kalimat sederhana dengan sejuta makna. Jujur dengan sadar, baru kali ini aku merasakan rindu kepada orang yang membuat hidupku semakin berat. Apa kabar pria itu? Pikirku dalam lamuan. Aku ambil ponsel yang sedari tadi diam membisu, bahkan sekedar pesan dari operator pun tak ada. Aku munekan beberapa nomor, mencoba menghubungi seseorang dan berharap ada balasan. 

"Halo? Ini siapa?" tanya orang diseberang
"Halo" balasku singkat
"Ada apa?" 
Sepertinya ia masih hafal suaraku
"Apa kabar...." 

Dan begitulah awalnya. Aku memulai percakapan yang sekian lama telah hilang. Jujur, aku tak tahan berdiam lama-lama dengan Rangga. Aku rindu tampang sok cuek nan dingin di wajahnya, rindu akan segala kebisuannya, dan dengan sangat sadar aku rindu tatapan matanya. Entah sejak kapan aku merasa seperti ini. 

Telephon ku sukses membuatku berhubungan lagi dengan Rangga. Ia melajukan motornya seketika setelah aku menelephonnya. Esoknya dia sudah berada di depan sekolahku. Seperti biasa, tanpa jawaban, tanpa tawaran, langsung menyuruhku untuk ikut bersamanya. Sedikit senyum terukir di wajah Rangga, terlihat sangat riang. Entah aku yang hanya merasa atau memang seperti itu. Ia seperti bukan Rangga yang dulu, Rangga yang kini lebih penuh harapan. Entah memang sudah berubah atau hanya karena aku merindukannya. 

Aku mengikuti kemana Rangga hendak membawaku. Aku tak peduli. Aku hanya melepas rindu, entah ia masih bersama Aira atau sudah kandas, aku tak peduli! Sepanjang perjalanan kami banyak bertukar cerita. Sungguh, dia bukan Rangga ku yang dahulu, dia berbeda, dan aku suka. 

Tibalah kami di suatu tempat yang asri. Tempat yang dengan sukses membuatku termenung takjub. Hamparan sawah menghijau bak permadani. Nampak sungai kecil sebagai pengairan. Aku menoleh sekitar, berharap menemukan gubuk yang bisa membuatku tinggal lebih lama. 

Sial!! Umpatku dalam hati. Tanpa sengaja mataku dan mata Rangga bertatapan. Assshhh mata itu lagi! Aku membuang pandangan ku seketika. 

"Kenapa?" Tanya Rangga.
"Tak apa. . ."
"Padahal aku sangat berharap kamu mau manatapku..."
Untuk pertama kalinya, aku termenung. Bukan karena kalimat Rangga yang super ajaib, tetapi karena kali ini aku benar-benar berdebar. Selama ini aku berteman dengannya, tak pernah ku rasakan seperti ini. 
"Nggak lah! Ntar mata ku bintitan!" Jawabku, hanya sekedar menyamarkan salah tingkah ku. 

* * * 

Aku mulai benar-benar menyadari, Rangga memang berubah. Sejak pertemuan ku dahulu hingga sekarang, setelah berbulan-bulan aku mulai berhubungan lagi dengannya. Apa yang membuat Rangga begitu bersemangat, hingga setiap saat selalu tersenyum berbinar-binar. Aku selalu bertanya pada diri sendiri. Namun terkadang aku tidak peduli, apapun alasan yang membuatnya seperti sekarang aku benar-benar berterimakasih. 

Alun-alun selatan sepi tak seperti biasanya. Rintihan gerimis hujan dan bau tanah yang khas masih terlihat sesekali. Malam itu, ketika gerimis kecil melanda kota ini, aku dan dia, duduk di antara orang-orang yang lain, menunggu hujan sedikit reda di warung kaki lima. Syahdu suasana gerimis ditambah alunan lagu pengamen jalanan membuat suasana makin menyenangkan. Tanpa sengaja aku tersenyum sendiri. 
"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Rangga penuh curiga. 
"Aaa...hmm...itu baksonya lucu" dua!! Begitu bodoh mulut ini melontarkan kalimat, seperti tidak ada hal yang lebih lucu dari pada bakso!
"Hahahahaha" Rangga tertawa sangat puas dengan tingkah tololku barusan. Aku sangat malu, untung kulit hitamku dapat menutupi roda merah di pipi. 
"Apaan sih!!"
"Dasar!!" Secara spontan ia mencubit pipiku. 

Jantungku serasa copot. Benar-benar mengejutkan. Selama ini tak pernah ia memperlakukanku seperti ini, jauh lebih bersahabat dari pada dulu. Mungkin aku harus berhenti membandingkan Rangga yang dulu dan sekarang. Mungkin kehidupannya memang sudah berubah, sangat berubah. Aku hanya tersenyum bersyukur. Entah mengapa, aku lebih nyaman dengan Rangga yang seperti ini. Mungkin selama ini sosok Rangga yang ku kenala adalah bentuk dari rasa yang tertahan pada busuknya dunia. Ia hanya tak tahu cara mengungkapkannya. 

***
Halaman belakang rumah Rangga masih sama seperti dulu. Asri, sejuk, hijau seperti Jogja yang selama ini aku rasakan. Kangen rasanya hanya duduk memandang dedaunan dan ikan nila yang hanya berenang-renang. Suasana masih sama seperti satu tahun yang lalu, saat aku terakhir menginjakan kaki di sini. Dimana orang tua itu? Tanyaku dalam diam? Dimana orang tua yang saat aku datang selalu menyapaku dengan hangat seperti aku anak perempuannya? Apa kabar dia saat ini? 
"Eheem" tiba-tiba lamuanku buyar. Batuk yang khas dari seorang kepala keluarga terdengar dari dalam rumah. Aku menoleh, kemudian berdiri dan menjabat tangannya yang kasar. 
  Aku hanya tersenyum menyapanya. 
"Apa kabar nak? Lama sekali kamu tidak kesini" ujarnya riang, seperti ia rindu juga kepadaku. 
"Baik pak. Bapak apa kabar? Kok kurusan?"
Kemudian seperti dulu, selalu ada cerita di antara pertemuan kami. Entah mengapa aku begitu nyaman dengan Pak Nono, Papah Rangga jauh lebih nyaman dari pada dengan Ayah tiriku. Mungkin bukan cuma aku wanita yang dibawa Rangga berkenalan dengan orang tuanya tapi aku sangat nyaman dengan perlakuannya. Ramah, menganggap bahwa kelak nantinya aku akan masuk dalam keluarganya, walaupun aku tau pasti itu tidak akan terjadi. Namum toh silaturahmi tiada salahnya. 
"Hahahaha" aku bisa tertawa lepas, tak ada malu sama sekali seperti sudah belasan taun aku mengenalnya, seperti bisa memaklumi sikapku. 
"Jadi Rangga dulu bawa pacarnya ke sini naik motor, maklum yaa nak Jogja Semarang kan jauh, sampai sini dia panas, masuk angin"
"Terus nginep disini pak?"
"Iyaaa, bapak suruh tidur kamar Rangga. Rangga bapak suruh tidur teras, bapak kunci dari dalam" 
"Ih kasian sampai sakit gitu"
"Maklum lah nak, perempuan manja gitu. Anak orang kaya nggak bisa diajak susah, naik motor masuk angin. Disini kan apa-apa sendiri, bapak suruh masak, ee tidak bisa juga"
"Haduh kalau saya naik mobil malah mabuk" 
"Hahahaha" kami tertawa bersama. Sambil menoleh aku memperhatikan rumah bagian dalam, ada yang sedang tersenyum bahagia melihat aku dan Bapak bertukar cerita. 

Rasa bersalah terkadang muncul ketika aku harus terjebak dalam nostalgia keluarga Rangga. Dia mengenalkanku kepada orang tuanya, mengajakku ke acara-acara non-formal keluarga, sesungguhnya aku bukan siapa-siapa. Bahkan status pacar pun bukan. Sampai saat ini, aku masih belum yakin dengan dirinya. Belum berani mengajaknya ke rumah ku, sekedar menjabat tangan ibuku. Aku belum siap. 

Pak Nono ijin keluar rumah sore itu, ada arisan kata beliau. Aku mengambil pakan ikan dan mulai menaburnya di kolam. Aku suka rumah ini, aku suka penghuninya tapi aku belum siap untuk bersama anaknya. 
"Seru ya gosipin orang" 
Aku hanya menoleh dan tertawa "gosip dari mana? Orang papamu sendiri yang cerita"
"Nggak tau kenapa, papah selalu bisa hangat kalau sama kamu..."
Prank
Aku menjatuhkan tempat pakan ikan yang terbuat dari bekas roti kong huan. Mampus, batinku. 
"Hahahaha" Rangga tertawa dengan puas "gitu doang salting, payah lu" ia kemudian pergi masuk ke dalam rumah. 
Aku hanya melonggo melihat tingkah konyolku. Pakan pelet berserakan di lantai. Dasar tulatit, umpatku pada diri sendiri. Apa benar Pak Nono hanya ramah kepada ku? Tapi kenapa? Bukannya memang sifat beliau seperti itu? Ramah kepada semua orang. 

***
Matahari sudah menghilang dari langit sejak pukul 17:30 tadi. Aku masih asyik duduk di teras belakang rumah Pak Nono. Entah mengapa, aku enggan rasanya meninggalkan rumah ini. Aku rindu suasana rumah seperti ini, sama seperti rumahku 10 atau 12 tahun yang lalu. Angin malam
mulai berhembus menembus kaos oblong yang ku kenakan sejak pagi. Hmm sudah bau asam, mungkin. 

Aku berdiri menyusuri lorong rumah Pak Nono, berharap menemukan salah satu penghuni rumahnya. 
Sepi, kemana semua orang? Batinku
Aku duduk di ruang tamu, mengambil remot televisi dan mulai menyalakannya. 
"Kriiiiing kriiiing kriiiiiing" suara nyaring telepon berdenging di telingaku. Aku menoleh, oh Rangga sudah datang rupanya. 
"Dari mana aja?" Tanyaku tanpa basa-basi. 
"Cari makan"
"Oh"
Rangga kemudian duduk disebelahku. Ia sudah membawakan piring dan sendok. Aku makan dalam hening. Aku benci suasana seperti ini. Diam, hening, dan dingin. Masa bodoh pikirku. Toh aku kenyang!
"Papahmu kemana?" Akhirnya aku memulai percakapan, sudah tidak tahan hanya membisu. 
"Nggak tau. Arisan tadi bilangnya. Kamu mau pulang jam berapa?"
"Jam hmm....." Aku melihat jam di pomselku. Pukul 19.39 rupanya. "Jam 8 aja, bentar lagi yaaa?" Sambungku. 
"Cepet banget pulangnya? Nggak nunggu papah dulu?"
"Yaaa ntar lah gamp uhuk uhuk uhuk" aku tersedak tiba-tiba. Sakit sekali, seperti sendok makan ikut ku telan. Dengan sigap Rangga menepuk punggungku. Ada beberapa butir nasi mungkin keluar dari hidungku. Perih rasanya. 
"Hahahaha" laki-laki itu hanya tertawa tanpa rasa bersalah, "neng teh naon? Pelan-pelan atuh" ujarnya dengan logat sok sunda. Tangannya mengusap hidungku, membersihkan nasi yang menyelonong keluar dari lubangnya. Ia mengusap air mataku pula. 

Duar!! Jantungku serasa berhenti sesaat ketika tangannya mengusap air mataku. Bukan air mata kesedihan tetapi air mata kepedihan akibat tersedak. Aku membisu tak mampu berkata-kata. Aku takut salah tingkah dibuatnya. 
"Maaf" katanya tiba-tiba. 
Aku masih diam. 
"Maaf aku pernah melibatkanmu dalam kehidupanku yang entah. Maaf karena aku dulu dengan bodohnya memaksamu mengikuti mauku. Maaf..." Rangga berkata sungguh-sungguh. Aku dapat melihat seriusan diwajahnya dengan jelas. Ia tertunduk, sangat menyesal.
"Aku...nggak ngerti kamu ngomong apa"
"Kalau boleh, sekali lagi, kalau kamu mengizinkan. Aku mau kamu selalu terlibat dalam hidupku. Sejak kenal kamu dulu, aku merasa bisa jadi diri sendiri. Aku butuh kamu, bukan sebagai pelarian ketika aku ingin pergi tapi sebagai pegangan ketika aku ingin jatuh. Kamu mau jadi pacarku? Lagi?"