†satu†
Marcel
berjalan menuju kelas XII-BAHASA-2. Sepanjang perjalanan ia selalu tersenyum
tanpa alasan. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Mungkin ia sudah tidak
sabar melihat Xania, pacarnya.
Semenjak
libur kenaikan kelas, Marcel menjadi jarang bertemu Xania, paling-paling hanya
seminggu dua kali. Saat ini, sudah lima hari Marcel tidak bertemu Xania, rasa
kangennya pada Xania membuat ia ingin cepat-cepat masuk sekolah. Akhirnya Marcel
sampai di pintu kelas XII-BAHASA-2, ia mencari-cari Xania tanpa memanggil, ia
sengaja ingin membuat kejutan.
†††
Xania
merasa hangat dari tangan seseorang di matanya, ia meraba tangan yang menutup
matanya. Tanpa berfikir lama, ia sudah dapat menebak siapa gerangan yang
menutup matanya.
“Pasti
ini tangan pak tani,” tebak Xania dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Marcel
kemudian melapaskan tangannya dari mata Xania.
“Kok
pak tani sih?” Marcel protes sambil membalas senyum Xania dengan mengerutkan
dahinya. “Jelas-jelas pangeran William masak dibilang pak tani,” Marcel
menjawab dengan kedipan mata yang membuat Xania tersenyum geli.
“Yee...
Pangeran William mah tangannya alus nggak kasar ples ngapal gini, ini sih
tangan pak tani abis macul.” jawab Xania jail. Kemudian keduanya berbincang
melepaskan kerinduan yang selama lima hari itu seperti lima bulan bagi mereka.
Xania
Trixie Lubis, cewek imut tapi super cerewet ini berhasil menarik hati Marcel
Yanes Gustanto, cowok indo yang anak-anak SMA AL-Ma’ata bilang mirip Eza
Gionino.
Xania
dan Marcel menjadi pasangan paling heboh di sekolahnya. Bukan karena keduanya
termasuk anak populer di sekolah, tetapi karena kemesraan yang mereka buat
selalu membuat iri orang yang melihat.
Saat
ini hari pertama tahun ajaran baru. SMA AL-Ma’ata ramai dengan wajah-wajah
asing.
†††
“Xan,
kantin yuk,” ajak Vanya teman sebangku Xania. Xania mengangguk dan bergegas
berdiri. Di sepanjang perjalanan, banyak anak kelas X yang memperhatikan Xania.
Tidak hanya memperhatikan mereka juga berkasak-kusuk. Tetapi Xania tidak
memperhatikan semua itu. Ia tetap berjalan.
“Yah. Penuh banget Van. Kita ke
kantin sebelah aja yuk”
“Yee,
mau ke kantin sebelah apa mau ketemu pangeran William lo itu?” goda Vanya
sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Rese
lo, ya udah deh. Disini aja, tapi kita makannya jongkok. Okeee?” goda Xania
sambil menaik-turunkan alisnya.
“Gila
lo, emang kita kodok apa makan sambil jongkok,” mendengar perkataan Vanya,
Xania tertawa terbahak-bahak. Sudah tidak mengherankan lagi jika Xania dan Vanya
tertawa keras di sekolah. Mereka berdua memang urakan.
“Udahlah
Van, ke kantin sebelah aja,”Xania memohon.
“Ya
deh iya, yuk!” mereka berdua berjalan ke kantin sebelah.
† † †
Marcel
merasa lembut tangan yang hangat di matanya. Ia mencium harum parfum yang sudah
tidak asing lagi baginya. “Pasti ini Kate Middleton deh, tangannya alus
banget.” Tebak Marcel.
Xania
melepaskan tangannya dari mata Marcel. Kemudian ia duduk di sebelah Marcel,
sementara Vanya sibuk memesan makanan.
“Aku
Xania Trixie Lubis tau bukan Kate Middleton. Enak aja disama-samain, emang muka
ku udah setua Kate apa?” muka Xania pura-pura cemberut. Melihat muka Xania
cemberut, Marcel mencubit kedua pipi Xania dengan gemas.
“Iyyaaa
peri cintaku,” Marcel berkata seraya melepaskan cubitannya.
“Kalian
berdua tu bikin gue ngiri aja deh, gue sama pacar gue nggak pernah tu semesra
kalian. Ckckck.” Dido berdecak kagum.
Sudah
lama Dido kagum dengan Marcel dan Xania. Mereka berdua memang sangat cocok dan
serasi. Kemana-mana selalu berdua.
“haaloooo
eksyusmuaa!! Di sini ada orangnya tauuu!! Emang gue kurang gede apa, sampai
kalian semua nggak ngeliat gue!!” Vanya mengetuk meja sambil teriak-teriak.
“siapaaa
yaaa? Emang kita kenal? Hahahahaha” seru Marcel dan Xania kompak.
“sialan
lo berdua. Ntar kalo ada apa-apa nggak usah ngelibatin gue, okee?” Vanya
ngambek.
“Vanyaa
ngambeeek. Vanya ngambek. Wekk!!” bukanya meminta maaf, Xania makin
menjadi-jadi.
† † †
“Ayooo
Marcel, SEMANGAT!!” teriak Xania di seberang lapangan futsal. Marcel menoleh
dan memberikan senyuman kepada Xania.
“Elo
sama Marcel udah kayak hape sama charger deh. Dimana ada hape di situ pasti ada
charger. Dimana ada charger di situ pasti ada hape. Persis deh sama lo,” ungkap
Vanya.
“Ahh.
Lebay deh lo!” Xania menjawab kata-kata Vanya tanpa memindahkan pandangan
matanya dari Marcel.
“Gue
heran deh sama lo!”
“Kenapa?
Nggak kebalik tu?”
“Enggaklah,”
“Lo
heran apa?”
“Gue
heran, kok tumben omongan lo puitis banget. Terus pake ungkapan gitu. Biasanya
kan lo paling lola kalo ngomongin soal ungkapan,”
“Rese
lo! Gue anak sastra tau, kan satu kelas sama lo,”
Vanya
kini memasang tampang cemberut dan ngedumel nggak jelas. Mendengar ocehan Vanya
yang nggak jelas, Xania pun melihat muka Vanya.
“Mau
ngaca nggak?” kata Xania saat memperhatikan Vanya.
“Enggak.
Emang apa hubungannya?”
“Yaa
kali aja lo mau liat muka jelek lo sekarang. Muka lo sekarang tu kayak pantat
ayam, hahaha,” tawa Xania pecah.
“Res….”
belum sempat meneruskan perkataannya, suara dari lapangan futsal terdengar.
“AAAWWWH!!!”
suara teriakan yang menandakan bahwa yang berteriak telah kesakitan terdengar
cukup keras. Dan suara itu adalah suara Marcel. Tanpa berpikir panjang, Xania
berlari disusul Vanya menghampiri Marcel yang tersungkur di lapangan.
“MARCEL!!”
Xania berteriak. ”Kamu nggak papa kan?” tanya Xania. Sebelum sempat
pertanyaannya dijawab oleh sang kekasih hati, ia telah memberikan cacian dan
amarah kepada teman-teman Marcel. ”Kalian ngapain sih?! Bukannya bantuin Marcel
berdiri terus bawa ke pinggir malah ngeliatin!... CEPET BAWA KE PINGGIR!!”
perintah Xania marah. Akhirnya dengan menggunakan tandu Marcel di gotong ke
pinggir lapangan.
“Kamu
nggak papa kan? Mana yang sakit? Mesti parah ya sampe pake tandu gitu? Ka….” Xania
tidak meneruskan kata-katanya karena jari telunjuk Marcel berada dibibirnya. Marcel
kemudian mendekati Xania dan berisik.
“Sstt.
Jangan keras-keras dong, pelan-pelan aja,” bisikan dari Marcel membuat wajah Xania
memerah. Xania kemudian berdiri dan mengambil kotak P3K yang memang disediakan
untuk korban futsal.
“Mana
yang sakit?” tanya Xania pelan.
“Siku,
kaki, sama jidatku sakit,” ucap Marcel
manja seperti merengek kesakitan pada ibunya.
Xania
membersihkan luka Marcel dan menutupnya. Orang-orang yang berada di sekitar
mereka melihat dengan terperangah. Mereka seakan-akan melihat film romantis
yang sedang ditayangkan secara live.
“Nah.
Kalo begini nggak bakal infeksi. Masih sakit?”
“Masih.”
Mmuuuuah.
Sebuah cium mendarat di siku kanan Marcel yang terluka.
“Udah
nggak sakit kan,” tanya Xania dengan
rona merah di pipinya.
“Masih
ada yang sakit lagi,” rengek Marcel. “Disini,” Marcel menunjuk pipi kanannya
dengan jari telunjuk.
Tanpa Marcel
duga, Xania mencium pipi kanan Marcel. Adegan itu hanya berdurasi sekitar 3
detik. Begitu singkat memang, tapi cukup membuat orang yang melihat merasa iri
hati dan ingin juga diperhatikan oleh pasangan masing-masing seperti Marcel dan
Xania.
“Ada
lagi yang sakit,” rengak Marcel lagi. Kali ini ia menunjuk bibirnya. Bukannya Xania
mencium bibirnya tetapi ia mencubit lengan Marcel gemas.
“Yee.
Dasar cowok genit! Maunya. Itu namanya mencari kesempatan dalam kesakitan,”
Xania
membantu Marcel berdiri dan beranjak
menuju sekolah. Dengan setia Xania menunggu Marcel selesai ganti baju.
† † †
Suasana
rumah makan padang saat itu tidak seperti biasanya. Biasanya pada sore hari,
rumah makan padang itu selalu penuh pengunjung. Namun saat itu hanya segelintir
orang yang datang makan.
“Bang
biasa yaa. Dua porsi, es jeruknya juga dua,” Marcel memesan makanan pada
waiter. Marcel dan Xania memang banyak persamaan, mereka juga menyukai makanan
yang sama. Nasi padang, es krim, seafood, dan banyak lagi. Kali ini mereka
memilih untuk makan di rumah makan padang ‘MALING KANDANG’. Namanya yang unik
dan rasa masakannya yang sedap membuat mereka sering makan di tempat ini. Tak
lama kemudian pesanan pun datang.
“Eits,
berdoalah dululah, Xan,” kata Marcel mengingatkan Xania.
“Iya
deh. Lupa tadi,” Xania tersenyum dan memejamkan matanya selama beberapa saat.
Kemudian ia membuka mata dan mulai memakan makanannya. Xania dan Marcel makan
dalam diam, mereka memang tidak terbiasa makan sambil bercanda.
“Akhirnya
habis juga,” Xania menghembuskan napasnya setelah makanannya habis.
“Neng?
Doyan, laper, apa rakus?” tanya Marcel dengan wajah geli dikarenakan melihat Xania
yang menghabiskan makanannya sampai benar-benar bersih.
“Rakus.
Di rumah kan nggak ada makanan, adanya cuma ubi rebus sama garem.”
“Ah
masak?”
“Apaan
sih? Genit deh,” Xania mencubit lengan Marcel.
“Eh
ada tamu tu,” kata Marcel. Xania menoleh ke arah pintu masuk, namun tak
didapatinya siapapun.
“Nggak
ada siapa-siapa tuu,” ucapnya polos membuat Marcel tertawa.
“Maksud
aku tamu di mulut kamu,” Marcel membersihkan mulut Xania dengan tisu. “Makanya
kalo makan tu pelan-pelan.”
“hihihi.
Iyaaa deh iya.” Xania tersipu malu.
† † †
Mobil
jazz hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Xania. Mobil itu juga menurunkan
pemilik rumah. Kaca depan kanan terbuka.“Aku pulang dulu yaa?” kata Marcel.
“Oke
deh. Ati-ati di jalan, nggak usah ngebut!”
“Siap
peri cintaku!” Marcel mengatakannya disertai mengangkat tangan seperti orang
yang sedang hormat. Kemudian menunggu Xania masuk gerbang dan melambaikan
tangan.
† † †
Xania
duduk di depan layar laptopnya. Ia sedang berfikir. Tapi setelah susah payah
berpikir, pikirannya hilang begitu saja mendengar ponselnya berdering. Ternyata
Xania mendapat sms dari Marcel.
From : Peri Cintaku
Subjek :Ini jam berapa? Udh sholat? Sholat dlu, ngerjainnya
nanti lagi.
Melihat
pesan yang diterima Xania, membuat ia bergegas menuju ruang ibadah. Salah satu
hal yang membuat Xania sangat mencintai dan menyayangi Marcel karena ia selalu
mengingatkan Xania untuk sholat dan berdoa. Xania yakin bahwa Marcel adalah
orang yang paling tepat untuknya. Dan mungkin juga jodohnya. Setelah selesai
sholat, Xania membalas pesan Marcel.
To : Peri Cintaku
Subjek : Udh nih. Barusan slsai. Makasih udh
ngingetin.
Kirim.
Xania menekan tombol kirim. Kemudian kembali
menyelesaikan tugasnya.
† † †
“Xania.
Kamu mau nggak tunangan sama aku?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut
Marcel. Saat ini Xania dan Marcel sedang berada di sebuah cafe. Mereka sedang
makan malam bersama. Marcel kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku
celananya. Ia kemudian mengeluarkan kotak kecil bergambar peri dan membukanya.
Di dalam kotak itu terdapat cincin dengan mata cincin berbentuk peri kecil di tengahnya.
“Ak...aku...”
dengan terbata-bata Xania menjawab tawaran Marcel. “Aku mau tunangan sama
kamu,”
Marcel
kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Xania. Setelah itu mereka
berpelukan. Cukup lama. Namun, tak lama kemudian tempat yang di pijaknya terasa
bergetar hebat, seperti gempa bumi.
“Geemmpaaaa!!
GEMPA! Marcel gempa!!”
“Xan!!
XANIA sadar dong!!” sebuah suara keras memanggilnya dan semakin jelas
terdengar.
“GEEEEMMPAAAA!!!”
“yeee,
gempa dari taiwan!!”
“Kok
elo sih Van? Marcel mana?” tanya Xania bingung.
“
Yee... Marcel lagi, lo pasti tadi lagi ngebayangin Marcel kan?” tebak Vanya.
“Jadi
tadi gue ngimpi ya?” Xania masih tampak percaya dengan mimpinya barusan.
“Bukan
ngimpi, tapi ngayal! Lo nglamun ada kali satu jam, mana senyum-senyum sendiri
lagi,” Vanya memegang jidat Xania. “Oh, pantes deh.”
“Pantes
apaan?”
“Pantes
lo gila. Hahaha”
“Nggak
lucu! Tadi tu gue baru ngebayangin...” Xania kemudian menceritakan khayalan
tingkat tingginya kepada Vanya. Vanya hanya diam mendengarkan Xania bercerita.
“Dasar
KTT lo,” ejek Vanya setelah cukup lama mendengarkan cerita Xania.
“Apaan
tu KTT?”
“Khayalan
tingkat tinggi, hahaha.” Vanya tertawa terbahak-bahak.
“Rese
lo!” Xania memaki-maki Vanya. Keduanya pun larut dalam kebersamaan.
† † †
“Hahahaha...”
hanya tawa yang keluar dari mulut Marcel. Ia baru saja selesai mendengarkan
cerita Xania.
“Kok
ketawa sih?”
“Iya
lah ketawa, orang kamu lucu banget, masak sekolah aja belum kelar udah ngajak
tunangan, hahaha...”
“Yee.
Itukan cuma mimpi aja. Ehh kalo kenyataan aku juga mau,” senyum mengembang di
wajah Xania. Marcel menghentikan tawanya dan memandang Xania.
“Jadi
kamu bener-bener mau tunangan sama aku?”
“Mau
lah. Mau banget,” Xania tersenyum. Dan kemudian memandang langit yang cerah.
Saat ini Xania dan Marcel sedang berada di taman rumah Xania. Mereka berdua sedang
memandang bintang yang bertaburan di langit.
“Xan?”
panggil Marcel.
“Yaa?”
“Kalo
ada bintang yang paling terang di atas,” Marcel kemudian mengangkat tangan Xania
dan mengarahkannya ke langit “Nggak akan bintang itu seterang kamu. . . . . Jika
ada rasi bintang yang paling cantik di atas, tapi bagi aku rasi bintang paling
cantik ada di sebelahku. Dan. . . . . Jika ada banyak peri di sana, cuma kamu satu-satunya
peri dalam hidupku. Peri cintaku,” kata-kata yang sangat indah dan menyentuh
itu keluar tulus dari dalam hati Marcel. Bukan karena Marcel memang jago dalam
membuat puisi dan syair yang menyentuh, tetapi karena itu memang benar-benar
tulus dari dalam hati Marcel. Kemudian ia menurunkan tangannya dan tangan Xania.
Marcel menaruh tangan Xania di dadanya. Xania tidak menjawab apapun, mendengar
perkataan Marcel yang benar-benar tulus, Xania meneteskan air mata. Bukan air
mata kebahagiaan tetapi air mata kesedihan.
“Xania,
kamu nggak papa? Kok nangis sih?” tanya Marcel ia kemudian mengusap air mata Xania.
“Kamu
tau aku nangis kenapa?” tanya Xania.
“Enggak
taulah, kamu tiba-tiba aja nangis. Ada yang salah sama omonganku at...” kalimat
Marcel kemudian dipotong Xania.
“Nggak
ada yang salah dari omongan kamu. Aku nangis karna aku sedih,” Xania menjawab
lirih.
“Aku
takut kehilangan kamu. Kalo kamu itung bintang di atas, sebanyak itu juga aku
bersyukur mempunyai pacar kayak kamu. Dan nggak ada juga peri cinta yang bisa
bikin aku ngerasa nyaman dan bahagia selain kamu, peri cintaku.” Xania memang
benar-benar bersyukur memiliki Marcel, kata-kata itu memang tulus dari dalam
lubuk hatinya. Marcel kemudian memeluk Xania dengan erat. Sejujurnya dari hati
yang paling dalam, Marcel juga takut kehilangan Xania. Setelah cukup lama
mereka berpelukan, Xania melepaskan tangan Marcel darinya.
“Untung
aja sekolah kita itu mayoritas Islam, jadi nggak perlu ragu kan buat cari
pacar. Lagian kalo beda agama itu juga nggak enak,” senyum mengembang di wajah Xania,
senyum yang benar-benar bahagia.
“Astaga!
Xania, ini udah jam setengah duabelas, mampus deh!”
“Hah!”
Xania juga terkejut, kemudian ia melihat jam tangannya.
“Iya
jam setengah duabelas,” Marcel bergegas bangkit dan membantu Xania berdiri.
Mereka kemudian masuk rumah untuk bertemu Mama Xania.
“Tante,
aku pulang dulu ya?” Marcel berpamitan kepada mama Xania seperti biasanya.
“Ati-ati
di jalan, udah malam nggak usah ngebut. Salam buat mama di rumah,” pesan mama Xania.
Kemudian Marcel meninggalkan rumah Xania.
† † †
Kring...kring... Jam weker di meja tidur Xania
berbunyi.
Tak lama kemudian ia bangun dan melihat
ponselnya.
6
missed calls
10
new message
Dan
semuanya dari Marcel. Isinya pun juga sama. “Ini jam berapa? Sholat dulu,
tidurnya nanti lagi.” Namun ada kata yang tidak biasa dikatakan Marcel di dalam
pesan itu, ia menambahkan kata ‘i miss you’. Tidak biasanya Marcel seperti itu.
Tapi kata itu tidak dihiraukan Xania, sebelum matahari terbit lebih tinggi ia
bergegas menuju ruang ibadah untuk melakukan sholat seperti yang dipesankan
oleh peri cintanya.
† † †
†DUA†
Sunday, 03.00pm.
Seperti
itulah yang terlihat di jam digital Marcel. Hari minggu seperti biasanya,
menyebalkan. Kemudian ia menyalakan radio dan mencari acara yang bagus.
Mendengar lagu yang diputar oleh stasiun radio, Marcel mengambil ponsel dan
menulis satu kalimat untuk Xania.
‘message send’
Laporan
dari ponselnya menandakan bahwa pesan yang dikirim sampai.
† † †
Di kamar Xania
Ponsel
Xania yang sedari tadi membisu, kini berteriak nyaring tepat di bawah
bantalnya, ia pun terbangun. Setelah membaca siapa yang membuat ponselnya
berteriak, ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya.
From : Peri Cintaku
Subjek : Coba dengerin radio deh, 98.5 fm, aku request
lagu buat kamu.
Satu kalimat yang dapat membuat Xania
bersemangat.
† † †
“Halo
sahabat Sinyalgama fm, apa kabar nih?” suara merdu penyiar radio yang khas. “Ini ada temen-temen kita
yang mau request lagu sama salam-salam. Yang pertama ada Marcel di kamar, salam
buat peri cintaku yang habis bangun tidur, Marcel request lagunya Sheila On7
yang Anugrah Terindah. Ok deh tunggu nanti diputerin. Yang kedua....” dan akhirnya
salam-salam berakhir dan “Ini Anugrah Terindah buat peri cintanya Marcel. So
sweat bangeeet deh Marcel, haha. ” Kalimat itu yang mengakhiri suara khas
penyiar radio.
Senandung
demi senandung dinyanyikan dalam hati Xania, lagu yang direquest Marcel membuatnya
merasa sangat berharga bagi Marcel.
Belai
lembut jarimu,
Sejuk
tatap wajahmu.
Hangat
peluk janjimu,
Anugrah
terindah yang pernah kumiliki
Begitulah
bait terakhir yang menutup lagu dari Sheila On7. Meskipun lagu yang diputar
telah selesai namun Xania tak juga berhenti menyanyikan lagu itu dalam hati. Ia
merasa benar-benar berharga bagi Marcel. Meskipun hanya sebuah lagu yang bukan
Marcel ciptakan sendiri namun ia tetap yakin bahwa ia berharga bagi Marcel.
Xania
beranjak dari tempat tidur dan mendekati telephon rumah yang berada di sudut
kamarnya. Ia menekan beberapa nomor yang disebutkan di radio.
Tut...tut...
Tersambung... Kalau Marcel merequest lagu melalui pesan sedangkan Xania secara
live mengontak penyiar radio.
“Halo,
Sinyalgama fm. Dengan siapa? Dimana?” pertanyaan yang sudah sering didengar
oleh kebanyakan pecinta radio.
“Dengan
Xania, di kamar.”
“Hai Xania.
Kayaknya lagunya mau langsung di bales nih. Mau request apa nih? Ada
pesen-pesen nggak nih?
“makasih
buat penyirnya karena udah mau angkat telfon aku,”
“oke,
ada lagi?”
“Salam
buat Marcel, peri cintaku yang udah request lagu buat aku. Makasih banyak. Aku
juga mau request lagu nih begitu indahnya Gabby.”
“Oke
deh, Xania. Tunggu ya?”
“Oke.
Makasih.”
Sambungan
berakhir. Raut muka Xania kini menggambarkan seorang peri yang bahagia karena
telah memberikan cinta kepada seseorang.
†††
Marcel
terpaku. Setelah mendengarkan suara cempreng Xania di radio. Ia merasa sangat
bahagia, raut mukanya menggambarkan seorang yang menerima cinta dan kasih
sayang yang tulus dari seorang peri cinta, yang mungkin cuma ada satu di dunia
ini dan tak akan terganti di hati Marcel.
Suara
khas Gabby yang merdu mengalunkan sebuah lagu yang diminta oleh peri cinta Marcel.
‘Begitu Indah’ yang dialunkan Gabby memang begitu indah. Memberikan suatu hawa
nyaman di hati Marcel. Dari sekian banyak kata pada lagu yang mengalun indah, 3
kata yang menutup lagu itu yang benar-benar membuat hati Marcel bahagia.
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia begitu indah
Itulah
sepenggal lagu Gabby ‘Begitu Indah’ yang dapat membuat hati Marcel benar-benar
bahagia. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan dan mengungkapkan hati Marcel
saat ini. Satu kata yang tepat. Xania memang benar-benar peri cinta Marcel.
Xania
dapat membuat Marcel merasa sempurna di mata Xania. Ia memang tak sempurna
namun Xania dapat membuatnya begitu indah.
† † †
“Ngapain
lo? Daritadi senyum-senyum nggak jelas?” tanya Vanya bingung. Bagaimana mungkin
teman semeja merangkap sahabat sekaligus saudara tidak bingung. Sudah sejak
masuk sekolah hingga detik ini, waktu istirahat ke-2 Xania masih saja
senyum-senyum.
“Wooy!!”
“Apaan
sih Van? Nggak bisa liat orang seneng dikit deh,” protes Xania. Sementara Xania
dan Vanya berdebat ringan, dari tempat lain ada seseorang yang tidak suka
dengan kebahagiaan Xania.
“nah
lo kenapa senyum-senyum?”
“gue
tuh seneng. Kemaren Marcel habis ngerequastin lagu buat gue...”belum sempat
menceritakan kebahagiaannya, ia merasa getaran yang berasal dari ponselnya.
From
: +62889855
Subjek: JAUHIN MARCEL! ATO GAG LO TANGGUNG SENDIRI
AKIBATNYA!
Satu
pesan singkat yang berupa ancaman membuat senyum di wajah Xania berubah menjadi
ketakutan. Perubahan drastis, 180 derajat.
“Xan,
lo nggak papa?” tanya Vanya bingung. Tanpa menjawab, Xania memperlihatkan
ponselnya pada Vanya. Membaca sms dari nomor tak dikenal itu Vanya juga
membatu, tak berkata apa-apa. Yang dia tau sekarang, ini sebuah teror.
† † †
“Udahlah
Xan, nggak usah kamu pikirin sms itu. Paling cuman orang iseng yang iri sama
kita,” tiga puluh menit sudah Marcel yang menghibur Xania yang takut dengan sms
itu.
Xania
tetap diam, takut. Ia takut seseorang akan benar-benar merebut Marcel darinya.
From
: +62889855
Subjek: BERANINYA NGADU SMA COW LO!! ADEPIN
GUE SENDIRI KALO LO BERANI!
Satu
pesan dari nomor yang sama. Setelah membaca pesan itu, Xania tidak
memperlihatkan pesan itu pada Marcel. Ia percaya hanya dengan kasih sayang yang
tulus dari Marcel akan membuat Xania berani. Ia percaya Marcel tidak akan
meninggalkannya dan pergi untuk orang lain.
To :
+62889855
Subjek: OKE SIAPA TAKUT!! Marcel bukan
barang yang bisa lo ambil gitu aja dari gue! Dia punya PERASAAN!
“Xan? Xania
kamu nggak papa?”
“Apa?
Gue nggak papa kok, gue nggak takut sama ancaman lo!”
“Kamu
ngomong apa barusan?”
“Nggak.
Nggak ngomong apa-apa kok.”
† † †
Liburan
semester pertama sudah di depan mata. Liburan panjang mulai dari tanggal 21
Desember dan baru masuk tanggal 4 Januari. Anak-anak SMA Al-Ma’ata sibuk
megatur liburan panjang mereka. Tak terkecuali Xania dan Marcel.
Xania
dan Marcel berencana akan pergi ke bukit awan. Tempat yang menjadi saksi kisah
cinta mereka. Tepat pada tanggal 26 Desember nantinya. Xania bersikeras akan
menghabiskan waktu di sana, namun Marcel tak sependapat.
“aku
ada acara keluarga, Xania,”kata Marcel untuk kesekian kalinya.
“pokoknya
aku mau tanggal dua enam kita ke bukit awan. TITIK!!”Xania keuh-keuh.
“iya
deh aku usahain. Tapi nggak janji ya,”
Xania
tak menjawab. Ia pura-pura tak mendengar. Biasanya Marcel tidak pernah lupa
menepati janjinya. Namun kali ini ia tidak berjanji untuk bisa mengajak Xania
ke bukit awan.
†TIGA†
“Malem
sahabat Sinyalgama fm. Hari ini SGF mau ngebahas soal cinta nih. Karena hari
ini umat Nasrani sedang merayakan Natal, selamat merayakan hari raya Natal bagi
yang menjalakan... Nah karena sekarang tepat hari natal, gimana kalau temanya
perbedaan iman. Tau dong maksudnya. Itu tu yang kayak lagunya Marcel Tuhan memang
satu, kita yang tak sama uwo uwo” suara khas penyiar radio yang sudah tidak
asing bagi Xania. Kini ia selalu mendengarkan radio favoritnya.“oke kita mulai
dari penelpon pertama.”
Tut...tut...tut...tersambung...
“Halo
dengan siapa? Dimana?”
“Dengan
Xania, di rumah.”
“Oke Xania.
Menurut kamu kalo kamu punya pasangan atau pacar atau suami yang beda iman
gimana? Apa kamu terima dia adanya?” satu pertanyaan sederhana bagi Xania yang
dapat dengan mudah ia jawab.
“Kalo
menurut gue. Gue nggak mungkin mau punya pacar beda agama. Soalnya nih yaa, gue
kan cari pacar nggak cuman buat seneng-seneng aja, tapi juga buat serius. Jadi
ya nggak mungkin gue cari pacar yang beda agama. Ini kan yaa karena gue cari
iman. Lagian biar kata orang perbedaan itu indah tapi nggak semua perbedaan
bisa diterima...”
†††
Marcel
bersiap di kamarnya. Tak lupa ia ditemani senandung dari Sinyalgama fm, radio
yang selalu ia dengarkan kini.
“Kalo
menurut gue. Gue nggak mungkin mau punya pacar beda agama. Soalnya nih yaa, gue
kan cari pacar nggak cuman buat seneng-seneng aja, tapi juga buat serius. Jadi
ya nggak mungkin gue cari pacar yang beda agama...”
Marcel
terpaku, suara cempreng yang sudah tak asing lagi baginya. Suara Xania. Kanapa
Xania berkata demikian? Seribu pertanyaan menghantui Marcel.
“Apapun yang terjadi, gue tetep nggak mau
cowok gue beda iman sama gue!” kata itu. Hanya kata itu yang mengakhiri semua
tanda tanya dalam hatinya.
“Oke Xania.
Pendapat yang bagus dan masuk akal. Thanks Xania.”
“Sama-sama.”
Tak
salah lagi, suara cempreng tadi memang suara Xania. Marcel diam terpaku.
Keraguan tadi kini berubah keyakinan. Yakin, jika Xania tahu hal yang
sebenarnya ia tidak akan bisa menerima Marcel.
Pernyataan
jujur yang keluar dari mulut Xania bagaikan sayatan tipis di hati Marcel. Mencerna
kata-kata Xania dadanya sesak seperti kekurangan oksigen. Hatinya hancur
berkeping-keping. Seandainya Xania-peri cintanya-tahu hal yang sebenarnya, akankah
dia menerima ataukah seperti katanya dalam radio? Pertanyaan yang hanya Tuhan
dan Xania yang menjawab. Dan sebuah pertanyaan yang sangat menakutkan dan
sebuah mimpi buruk yang tak pernah dibayangkan oleh Marcel sebelumnya.
Dalam
hati yang tertusuk samurai panjang dan hanya seorang yang dapat mencabutnya dan
juga orang itu yang dapat mengobatinya. Marcel keluar kamar dengan perasaan
yang tak karuan. Ia harus kuat, ini hari besar baginya. Semoga kalimat-kalimat
suci nantinya akan lebih menenangkan hati Marcel.
† † †
From
: +62889855
Subjek: BLAN DES BWT ORANG KATOLIK BIASANYA NGERAYAIN
NATAL! KALO BWT LO ENKNYA APA?
Satu
pesan dari nomor yang selama ini telah menorornya. Ini merupakan pesan ke-25
yang diberikan peneror itu.
“Gila.
Nggak ada habisnya deh tu orang gangguin lo, Xan!”
“Iya.
Gue juga bingung Van. Gue aja nggak kenal dia.”
From
: +62889855
Subjek:
DTG K JLN PAHLAWAN NO 30 TGL 25. LO AKAN TAU SEMUANYA. D JAMIN LO GAK
AKAN NYESEL!!
“Sms
dari dia lagi Xan?” tanya Vanya penasaran. Saat ini Vanya sedang berada di
rumah Xania.
“Iya.
Sekarang tanggal berapa Van?”
“Dualima.
Emang kenapa?” Vanya yang semakin tidak mengerti merebut ponsel dari tangan Xania
dan membacanya. “GILA! Sekarang dong. Buruan Xan, kita ke alamat ini.”
“Hah?
Buat apa coba? Ogah ah, males banget gue!” Xania menolak mentah-mentah ajakan Vanya.
Setelah
cukup lama berdebat akhirnya Xania dan Vanya memutuskan untuk menerima
tantangan dari peneror itu, dengan mengendarai sepeda motor milik Vanya.
Gelapnya kota Jakarta mereka tembus. Hari natal tahun ini seperti hari natal
tahun-tahun sebelumnya. Ramai dan macet!
Sekeitar
pukul 8, Vanya dan Xania sampai di jalan Pahlawan nomor 30. Suasana rumah itu
tampak ramai dengan hiasan aneka lampu dan pohon natal selayaknya orang yang
sedang merayakan natal.
From
: +62889855
Subjek: MSK AJ!! LO AKN TAU SENDIRI!
Setelah
membaca pesan singkat itu, Xania dan Vanya memasuki gerbang utama. Dengan rasa
was-was.
“Van,
perasaan gue kok nggak enak yaa? Ada sesuatu yang nggak beres deh kayaknya,”
“Gue
juga, gue takut disangka maling,” jawab Vanya polos.
Tak
lama kemudian mereka mendekati pintu masuk. Di halaman, tepat di depan mata Xania
dan Vanya, terparkir jazz hitam dengan nomor polisi ‘B 26 MX’. Xania membisu
bahkan ia mematung. Ia mencoba melangkahkan kakinya lebih jauh, mencoba mencari
petunjuk lain. Namun yang ada hanya sebuah jawaban.
† † †
“Marcel!”
suara yang sudah tidak asing lagi bagi Marcel. Dengan ragu Marcel menoleh. Hal
yang selama ini ia takutkan terjadi. Marcel melihat Xania dengan mata penuh
luapan air mata dan raut wajah yang menyimpan amarah juga tanda tanya. Marcel
berlari keluar mengejar Xania.
Xania
berlari dari tempat itu, ia menarik Vanya. Dinaiki motor Vanya dan ia kendarai dengan
keadaan kalut. Dari kejauhan terdengan namanya dipanggil berulang kali oleh
Marcel.
“Xan,
lo nggak papa?”
“1
tahun Van, dia ngebohongin gue. Kenapa dia nggak ngasih tau gue dari awal?” Xania
berusaha menjawab dengan suara lirih. Hatinya hancur, bahkan jika disatukan,
hati itu tidak akan sesempurna dulu. Peri cintanya telah pergi, dan mungkin tak
kan kembali. Sepanjang perjalanan yang cukup jauh, Xania hanya melamun.
“XAN,
AWAS!!” hanya itu kata yang dapat didengarnya. Ia membanting stir ke kanan
jalan, namun naas dari arah yang berlawanan sebuah bus yang menggila di jalan
melewatinya tanpa ampun. Seolah-olah bus itu yang mengakhiri semua rasa sakit
yang Xania rasakan.
Sebuah
insiden maut terjadi tepat di depan mata Marcel. Peri cintanya hilang di depan matanya.
Melengkapi semua rasa bersalah, penyesalan, juga sakit yang kini dirasakan.
Di
dalam mobilnya, Marcel memeluk erat Xania yang bermandikan darah segar. Dan di
sebelahnya, Vanya. Satu-satunya orang yang masih sadar dan tidak terluka parah
akibat insiden maut tersebut.
Sampailah
ia di dalam sebuah ruangan yang akan menjawab semua. Sebuah ruangan yang
mungkin akan menjadi momok mengerikan bagi Marcel. Ia menunggu dengan doa yang
tak kunjung habis ia berikan.
“Marcel!”
panggil salah seorang.
“Xania!”
spontan Marcel memanggil Xania.
“Sorry.
Tapi gue bukan Xania, gue Vanya.”
“Sorry.”
Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Marcel.
“Kenapa
lo tega lakuin ini ke Xania? Lo taukan dia sayang banget sama lo. Kalo sampe Xania
kenapa-napa, satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab itu....ELO!”
Vanya terus memukul Marcel, entah apa
tujuannya. Yang jelas Vanya dan Marcel mempunyai satu harapan yang mungkin
hanya Tuhan yang memberikan. Xania dapat diselamatkan. 1 tahun sudah Marcel
menjalin cinta dengan Xania. Dan kali ini juga, tepat setahun mereka menjalin
cinta, 26 Desember, meskipun jam dinding masih menunjukan pukul 12.05 namun
tetap saja saat ini sudah tanggal 26 Desember. Dan saat yang amat sangat
berbeda pada satu tahun yang lalu.
†EMPAT†
Satu tahun yang lalu......
26 desember 2007
“Lo
mau ngajak gue kemana sih?” tanya Xania bingung. Ia masih belum mengetahui
betul apa yang akan Marcel-gebetan baru Xania-lakukan.
Hari
ini Marcel mengajak Xania nge-date. Di dalam jazz hitam Marcel, Xania hanya
diam membisu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Salah kata saja mungkin
akan merubah keadaan. Dengan mata yang tertutup oleh sebuah penutup mata, Xania
mulai angkat bicara.
“Lo
mau nyulik gue ya?” kata Xania. “Atau nggak, lo mau nembak gue yaa?” Xania
berkata spontan. Perkataan Xania membuat Marcel tertawa pelan namun tawa itu
tawa yang berarti luas. Yang jelas bukan tawa karena suatu kegelian.
Mampus
gue, kenapa gue ngomong kayak gitu sih? Batin Xania.
“Udah
deh lo ikut aja, ntar lo juga tau,”
“Capek
tau merem terus, gantian sini.”
“Hahahaha...
Kalo lo yang nyetir bisa gagal ren...” Marcel tidak melanjutkan kalimatnya, ia
kemudian meralatnya. “Bisa gagal semua mimpi gue,”hal ini yang disukai Marcel. Xania
yang polos dan asal bicara tanpa memperdulikan orang lain.
“Apa
kata lo deh!” Xania hanya diam mengikuti alunan lagu dari ponselnya.
† † †
Kurang
dari 30 menit mereka sampai di tempat
yang sedari tadi dipertanyakan oleh Xania. Tempat yang begitu indah dan jauh
dari jangkaun kaki. Marcel membantu Xania turun dari mobil dan menuntunnya,
menuju suatu tempat lain.
“Jadi
udah boleh buka mata nih?” Xania mencoba membuka matanya yang sudah 2 jam ini
tertutup. Ia kerlingkan matanya. Menggosok matanya dengan punggung tangan,
mencoba tersadar dari sebuah mimpi. Mimpi yang terlalu indah untuk sebuah hal
yang maya dan terlalu nyata.
“Gillaaaa!
Bagus bangeeeeet! Menakjubkan! Asli indah banget.” Xania tidak mempercayai apa
yang ada di hadapan matanya kini. Xania dan Marcel berada di sebuah tempat yang
tinggi dan curam, namun sebanding dengan keindahannya.
“Kita
dimana?” tanya Xania masih terlihat bingung.
“Kita
di bukit awan.”
“Bukit
awan?”
“Iya.
Bukit awan, kalo siang kita bisa liat awan dan deket banget sama kita. Kalo pagi
kita bisa liat sunrise. Berhubung ini malem, ya liat bintang aja cukup,” terang
Marcel panjang lebar. Marcel meraih tangan Xania. Ia kemudian berhadapan dengan
Xania. Xania hanya membisu, tak sanggup ia berkata walau satu kata pun.
“Aku
mengenalmu melalui satu nama... memahamimu melalui satu renungan, dan ...
menyayangimu melalui satu perasaan. Dan akhirnya, aku jatuh cinta sama kamu.
Kamu mau nggak jadi peri cintaku?” kalimat-kalimat yang diucapkan Marcel
seperti alunan lagu yang indah. Sebuah senandung yang mampu membuat Xania
terperangah. “Kamu mau nggak jadi peri cintaku yang slalu membuat hari-hariku
lebih indah dan lebih berarti.” Marcel mengulangi pertanyaan dan pernyataannya.
“Ak...ak....”
Xania tampak gugup mendengar kata-kata dari Marcel. “Aku mau jadi peri cintamu.
Dan aku mau kamu jadi peri cintaku,”
† † †
Tepat
pada tanggal 26 Desember Xania jadian. Ia kini duduk di samping Marcel yang
tengah menjelaskan tentang rasi bintang.
“kalo
yang itu? Cantik banget, kayak bentuk peri,”tanya Xania polos.
“ada
yang lebih cantik dari itu,”jawab Marcel.
“man...”Xania
belum sempat meneruskan pertanyaannya, jari telunjuk Marcel mengenai pipinya
saat ia hendak menoleh.
Marcel
tersenyum menatap Xania tajam. Xania tersipu, baru kali ini Xania menyadari Marcel
mempunyai mata cokelat muda dengan garis lensa yang amat terlihat meskipun saat
malam hari.
Xania
dan Marcel memutuskan untuk pulang setelah lama mereka menikmati suasana bukit
awan yang elok. Marcel mengandeng tangan Xania, sementara Xania hanya menerima
dengan malu-malu uluran tangan Marcel.
† † †
Tetes
demi tetes air mengalir dari pelupuk mata Marcel. Kenangan-kenangan indahnya
bersama Xania tiba-tiba saja muncul dipikirannya. Saat yang amat sangat berbeda
dengan sebelumnya, satu tahun yang lalu.
Dalam diam Marcel terus berharap. Harapan yang
hanya Tuhan yang dapat memberinya. Sudah tiga jam lebih Marcel, Vanya dan kedua
orang tua Xania di ruang tunggu. Mereka menunggu seseorang keluar dari ruang
UGD. Dalam diam pula Marcel terus berdoa dan berjanji. Tak lama kemudian
seseorang yang mengenakan jas putih dan masker keluar dari ruang UGD.
“Kami
semua sudah berusaha semaksimal mungkin...” dokter itu menggantungkan
kata-katanya. “Xania telah melewati masa kritisnya, kini tinggal menunggu ia
sadarkan diri. Semua tergantung yang di atas.”
Dengan
suara bijaksana, dokter itu memberikan
penjelasan.
Hanya dua kalimat! Dua kalimat yang membuat Marcel
merasa semakin bersalah dan membuat hatinya terasa dicabik-cabik.
“Maksud
dokter, Xania koma?” hanya pertanyaan itu yang dapat Marcel lontarkan. Ia tak
tahu apa yang harus ia lakukan.
Mendengar
pertanyaan dokter, Vanya juga kedua orang tua Xania histeris. Mereka menangis!
Tak terbayang sedikitpun oleh mama Xania, anak semata wayangnya harus menjalani
masa koma.
† † †
Marcel
memandangi wajah pucat Xania. Tetes air mata yang jatuh membasahi tangan Xania
yang kini digenggam Marcel.
“Xania?
Kamu bisa denger aku kan?” Marcel berkata lirih, bibirnya bergetar.
“Aku
tau kamu bisa denger aku. Xan, happy anniversary. Hari ini tepat setahun
hubungan kita...” kalimat Marcel terhenti. “Aku pengen lebih dari ini Xan, aku
pengen kita selalu bersama sela...ma...nya...” Marcel tak sanggup berkata-kata.
Tak ada kata lain yang ingin ia ucapkan. “Xania, aku janji. Kalo kamu bangun
nanti, aku akan bikin kamu bahagia, aku akan lakuin apapun yang kamu mau.
Apapun Xania,”
Marcel
berjanji dalam hati. Janji yang tulus dari dalam lubuk hatinya. Kemudian Marcel
mencium tangan Xania dan pergi untuk berganti pakaian. Dengan perasaan kacau Marcel
mengendarai mobilnya. Dengan perlahan dan berusaha berkonsentrasi Marcel melaju
dengan mobilnya di tengah padatnya kota Jakarta.
† † †
†LIMA†
Sudah
dua minggu Xania koma. Dan sudah satu minggu Marcel tidak masuk sekolah. Dan
selama satu minggu itu juga Marcel selalu berada di samping Xania. Marcel
bahkan membawa baju ganti ke rumah sakit.
“Nak Marcel
mending makan dulu, dari tadi pagikan nak Marcel belum makan,” mama Xania yang
juga selalu menjaga Xania mencoba membujuk Marcel untuk makan. Seharian ini Marcel
belum makan, bahkan dari sore kemarin.
“Nggak
usah tante. Saya nggak laper, saya nungguin Xania aja.”
“Makan
dulu nanti kalo kamu sakit gimana? Kan ada tante yang nunggu, kamu beli makan
trus dimakan di sini.” Marcel menghembuskan napasnya kemudian berdiri.
“Saya
makan di luar aja tante. Saya permisi dulu,” Marcel ragu untuk melangkahkan
kakinya dari dalam ruang isolasi. Tetapi akhirnya ia juga meninggalkan ruangan
itu dengan rasa tidak ikhlas.
Marcel
menuju kantin rumah sakit, ia memesan makanan dan kembali duduk. Tak lama
kemudian pesanan Marcel datang. Ia hanya memperhatikan makanannya. Marcel hanya
mengaduk-aduk makanannya, tak berniat sedikitpun untuk memakannya. Kemudian
seseorang menghampiri Marcel. Dan menepuk bahu Marcel. “Xania!” Marcel terkejut
dan menoleh ke belakang. Namun tak didapatinya Xania, melainkan Vanya.
“Sorry
gue ngagetin lo,” Vanya kemudian duduk di samping Marcel. “Lo nggak boleh kayak
gini terus, lo harus bangkit. Xania pasti sembuh, gue yakin. Lo juga yakin
kan?”
“gue
yakin!” jawabnya lirih. “Dulu setiap gue makan, di depan gue selalu ada Xania
yang makannya cepet banget...” Marcel menceritakan lirih. “Xania nggak akan
berhenti makan kalo makanannya belum benar-benar habis,” Marcel tertawa pelan,
tawa yang penuh kesedihan. “Saking cepetnya Xania makan, sampek ada nasi di
mulutnya. Tapi sekarang...” Marcel menunduk mencoba menahan air matanya yang
mulai memenuhi matanya.
“Gue
udah bikin Xania koma! Gue bikin Xania koma, Van! Itu semua salah gue,” Marcel
mencoba tetap tenang, tapi usahanya sia-sia. Melihat Marcel mulai histeris Vanya
mencoba menenangkannya. Mencoba agar Marcel tidak selalu menyalahkan dirinya
sendiri.
“Itu
bukan sepenuhnya salah lo. Itu murni karna kecelakaan,” Vanya berkata dengan
setenang mungkin. Dalam hatinya ia juga merasa bersalah. Kalau saja dia tidak
memaksa Xania untuk pergi malam itu, mungkin tidak akan ada insiden maut itu.
“Tapi
itu tetep salah gue. Coba Xania tau dari dulu, dia pasti nggak akan ke rumah nenek
gue,”
“Gue
yang maksa Xania. Itu salah gue. Maaf,” Vanya menunduk. Ia juga menangis. Air
matanya sudah tak dapat terbendung lagi. Setelah lama mereka terdiam, Marcel
akhirnya beranjak pergi.
“Gue
mau ke tempat Xania dulu,”
† † †
Pukul 22.30
Marcel
duduk tertidur di samping Xania. Tangannya menggenggam erat tangan Xania.
Kepalanya tersandar di tempat tidur Xania. Marcel merasakan gerakan tangan Xania.
Kemudian ia terbangun. Melihat tangan Xania bergerak, Marcel memanggil Xania.
Tak ada reaksi apapun, Xania tetap diam. “DOKTER!!!” Marcel berteriak memanggil
dokter. Tak lama setelah itu dokter datang.
“Tadi
tangan Xania bergerak dokter. Xania sudah sadar,” rentetan pernyataan keluar
dari mulut Marcel. Dokter memeriksa keadaan Xania. Cukup lama, tapi kemudian,
“Keadaan Xania masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin adik tadi
sedang mengigau.” Dokter menerangkan keadaan Xania. Dan kemudian meninggalkan
ruang isolasi.
“Gue
nggak ngigau, tadi gue sadar! Gue liat tangan Xania bergerak,” Marcel terduduk
lemas. “Xania...” panggil Marcel lirih. Ditatapnya kini Xania. “Seandainya aku
bisa gantiin posisi kamu sekarang... aku bakalan gantiin kamu. Aku lebih rela
gantiin kamu daripada harus ngeliat kamu kayak gini. Aku sayang kamu Xania.
Kamu bangun dong. Apa kamu udah nggak sayang aku lagi?”
Marcel
menatap wajah pucat Xania. Ia melihat kilauan dari kedua ujung mata Xania.
Kilauan air mata! Xania menangis. Xania yang tak sadarkan diri menangis.
“Xania?
Kamu bisa denger aku?” Marcel mencoba kembali memanggil Xania. Ia melihat mata Xania
mulai terbuka perlahan. Hingga akhirnya mata itu benar-benar terbuka. Xania
sadar dari koma! Ditatapnya kini Marcel. Ada rasa bahagia di mata Xania.
“Mama?”
panggil Xania lirih. “Mama gue mana?” tanyanya sekali lagi.
“Gue
mau mama gue, bukan lo!” Xania membentak Marcel.
“Se...
sebentar aku telfon dulu,” Marcel sedikit menjauh dari Xania. Dikontaknya mama Xania.
“Halo?
Tante... Xania udah sadar... iya... Tante dicari Xania... yaa... sama-sama,”
TUT... sambungan Marcel dengan mama Xania berakhir.
Marcel
menatap Xania dengan penuh kebahagiaan. Harapan dan doa yang tak pernah habis
diberikannya, sekarang tidak sia-sia. Marcel tahu, Tuhan pasti mendengar
doanya. Marcel mengulurkan tangannya. Ia ingin mengusap rambut Xania.
“Jangan
sentuh gue!” Xania menangkis tangan Marcel. “Ngapain lo di sini? Seneng kan lo?
Puas kan?” Xania berkata lirih.
Kata-kata
Xania bagaikan hantaman keras di hati Marcel. Selama ini, ia hanya ingin
melihat Xania sadar. Xania memalingkan kepalanya ke arah lain. Ia tak ingin
melihat wajah Marcel.
“Lo
tau, elo orang keSERIBU yang pengen gue temuin setelah gue sadar... bahkan
lebih dari itu... gue nggak pengen ngeliat lo. PERGI LO DARI SINI!” Xania
membentak Marcel tanpa memandangnya. Ia takut. Ia takut jika ia memandang Marcel,
maka ia tak akan sanggup menahan air matanya. Xania tak ingin Marcel melihatnya
menangis.
“Ngapain
lo masih di sini? Cepet pergi!”
“Waktu
kamu koma... aku udah janji... kalo kamu bangun nanti, aku akan lakuin apapun
yang kamu mau... sekarang...” Marcel menghembuskan napasnya. “Kalo kamu pengen
aku keluar dari sini, aku akan keluar. Aku akan keluar kalo itu bisa bikin kamu
seneng,”
“Bagus
kalo gitu,”
Marcel
berjalan menjauh. Ia mengambil tasnya. Namun sebelum meninggalkan ruangan, Marcel
kembali memandang Xania. “Tapi... sebelum aku keluar dari sini, aku mau kamu
liat mataku,” Marcel memejamkan matanya agar tak ada lagi air mata yang keluar.
“Setelah kamu liat mataku, aku bakal pergi dari sini... liat mataku Xania,”
“Nggak!”
tolak Xania.
“Aku
tau kamu nggak mau ngeliat mataku. Itu berarti kamu masih sayang aku,” setelah
menyelesaikan kalimatnya, Marcel kemudian meninggalkan Xania sendirian. Saat
akan membuka pintu, langkahnya terhenti. Marcel menoleh ke arah Xania.
“Cepet
sembuh peri cintaku,” Marcel berkata dalam hati dan kemudian bergegas pergi.
† † †
Marcel
berjalan gontai. Tubuhnya lemas setelah Xania mengusirnya. Tak terbayang
sedikitpun oleh Marcel. Peri cintanya, yang selama ini selalu berada di
sampingnya, yang selama ini bahagia bila bersamanya kini telah jauh darinya,
kini benci padanya, dan kini tak mau lagi bersamanya. Setiap kenangan yang
melintas di pikiran Marcel semakin membuatnya hancur, semakin membuat hatinya
remuk, dan semakin membuatnya menyesal dan bersalah. Kini Marcel berada di
dalam jazz hitam yang sedari tadi diam tak bergerak. Dipandangnya tempat yang
biasa diduduki Xania. Marcel menundukan kepalanya. Kini kepalanya tersandar di
stir mobil. Cukup lama Marcel menenangkan diri. Hingga akhirnya ia tertidur di
dalam mobilnya.
† † †
Hari
ini, tepat 2 hari Xania tersadar dari komanya. Keadaannya sudah membaik. Dan
hari ini, dokter sudah mengijinkan Xania untuk pulang. Ditemani oleh mama dan
sahabatnya, Xania kini berada di dalam kamarnya.
“ma,
aku mau sama Vanya aja. Mama istirahat dulu aja,”
“ya
udah kalo kamu itu mau kamu. Mama keluar dulu. Nitip Xania ya, Van?” mama Xania
memberikan pesan kepada Vanya.
Vanya
tahu, saat ini Xania memang tidak butuh mamanya. Ia lebih membutuhkan sahabat.
Sahabat yang dapat mengerti keadaannya sekarang. Xania hanya diam dan
memejamkan matanya. Dalam matanya yang terpejam, dia meneteskan air mata. Entah
itu air mata kesedihan atau kekecewaan.
“Xan? lo nggakpapa?” Vanya mencoba mencari
tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya. Ia tak mau melihat Xania terus
larut dalam kesedihan. Kesedihan yang tak kunjung reda.
“Xan,
hidup itu bagai roda. Lo tau kan? Kadang kita di atas, di tempat yang nyaman,
tempat jauh dari rasa sakit dan tempat dimana lo nemuin kebahagiaan lo...”Vanya
tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan
menghembuskannya. “tapi... kadang kita juga di bawah. Dimana kita merasa bahwa
hidup itu benar-benar berat. Di tempat itu lo juga akan merasa sakit yang
benar-benar sakit. Tapi...” lagi-lagi Vanya menggantungkan kata-katanya. “waktu
terus berputar. Mungkin saat ini lo di bawah tapi gue percaya kalo lo bakal
kembali hidup di atas. Dan lo harus tetep ngejalani cobaan ini, karna kalo lo
nggak ngejalanin cobaan ini, lo nggak akan nemuin kebahagiaan lo sampai
kapanpun. Lo harus percaya itu,” kemudian Vanya berdiri.
“gue
pulang dulu. Mending lo pikirin kata-kata gue. Inget Xan, waktu itu berputar
terus!” Vanya meninggalkan Xania yang masih diam.
Kini Xania
bagaikan patung bernyawa. Hanya diam tak bergerak dan tak bersuara namun
memiliki jiwa dan perasaan yang entah dimana. Kata-kata dari Vanya begitu
terkenang dalam pikiran Xania. Vanya memang benar. Xania memang harus menjalani
hidupnya.
Waktu
akan terus berputar tanpa menunggu Xania. Cepat atau lambat ia harus kembali
menjalani hidupnya sebagaimana mestinya. Xania tahu waktu itu konstan. Tak akan
bisa berhenti berputar walau hanya satu detik saja. Apalagi untuk menunggunya
siap menjalani hidup. Dan Xania juga tahu waktu akan terus berputar ke depan
tanpa melihat ke belakang. Apalagi kembali berputar seperti dahulu. Kini Xania
mengusap air matanya.
“nggak
ada gunanya aku nangis. Toh kalo aku nangis nggak bisa ngembaliin hidupku kayak
dulu,”
Kemudian
ia mengambil ponselnya. Mencari nama dalam kontaknya.
Tut... tut... tersambung
“halo?
Van, lo mau bantuin gue kan?... oke... gue tunggu di kamar gue....” TUUUUT!
Sambungan
berakhir. Rupanya Xania mengontak Vanya. Kurang dari 5 menit Vanya tiba di
kamar Xania. Melihat Vanya, jelas Xania sangat terkejut. Bagaimana tidak, rumah
Vanya dengan rumahnya yang cukup jauh, sekitar 7 km dan waktu tempuh yang
ditempuh minimal 20 menit dan hanya bisa ditempuh pada saat tengah malam. Saat
jalanan kota tidak padat.
“cepet
banget lo?” Xania terheran-heran.
“iyalah.
Orang gue tadi lagi makan sama nyokap lo,” Vanya nyengir lebar.“elo mau gue
bantuin apa?”
“gue
mau lo bantuin gue beresin Marcel dari hidup gue. Lo mau kan?”
“tap...
tapi Xan?”Vanya terbengong-bengong. Tak disangka Xania dapat melupakan Marcel
secepat itu.
“lo
milih bantuin gue ato lo milih gue sedih?”
“Iyadeh,
gue bantuin,” akhirnya Vanya membantu Xania untuk mengubur semua kenangan
tentang Marcel.
Meskipun
Xania selalu ragu untuk memasukkan benda-benda kenangannya bersamanya ke dalam
kardus toh dia tetap memasukannya. Satu persatu kenangan dikubur Xania dalam
ingatannya. Semua benda yang dapat membuatnya bahagia. Namun kini, benda-benda
itu hanya menjadi sejarah yang mungkin tak terlupakan. Atau bahkan dilupakan begitu
saja.
“beres!
Nggak akan lagi ada Marcel Yanes itu lagi dalam hidup gue!!” Xania telah
selesai memasukan semua barang kenangannya dengan Marcel. Jelas terlihat di raut
wajahnya, bahwa Xania sejujurnya tak ingin mengubur kenangan-kenangan indahnya bersama
Marcel.
† † †
†ENAM†
Pagi
ini Xania masih tertidur. Padahal jam tidurnya sudah menunjukan pukul 05.15.
jam itu sengaja ia tidak atur alarm karena hari ini Xania memang masih belum
siap untuk sekolah. Pasalnya hari ini adalah hari jumat. Hari dimana kelasnya
dan kelas Marcel berbarengan olahraga di tengah tidurnya yang baru sebentar, Xania
merasakan tubuhnya bergerak. Seperti ada yang membangunkan.
“XANIA
BANGUN!!!” suara teriakan Vanya terdengar jelas di telinga Xania, bahkan sampai
ke mimpinya.
“apaan
sih? Ngapain lo? Gue nggak mau sekolah,” Xania menjawab sambil menguap dan
menarik selimutnya yang tadi entah dimana.
“ayolah
Xan! Lo harus tunjukin ke Marcel kalo lo bisa jalani hidup tanpa dia,” mendenar
perkataan Vanya, mata Xania langsung terbuka. Ia kemudian bangun dan duduk di
tempat tidurnya.
“lo
kira gue nggak bisa hidup tanpa Marcel? Lo salah, tunggu gue di bawah,” Xania
beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.
Vanya hanya tersenyum puas melihat sohibnya
mau berangkat sekolah. Tak lama setelah itu, Xania turun dengan pakaian yang
rapi lengkap dengan aksesoris yang biasa ia gunakan. Kemudian Xania dan Vanya
bergegas pergi dari rumah Xania. Dalam perjalanan menuju sekolah, Xania terus
diam. Entah apa yang ada dalam benaknya. Sesekali ia menghembuskan napasnya
yang terlihat berat.
† † †
“Xan? Udah nyampe nih?” Vanya mengibaskan
tangannya di depan wajah Xania. Namun ia tetap diam. Akhirnya Vanya memutuskan
untuk mengklakson motornya.
“AAARKHHH!! Gila lo. Bisa budek kuping gue,”
Xania tersadar dan mengusap telinganya yang mulai berdenging.
“yee... ngelamun sih lo. Emang apa sih yang
lo pikirin?”
“nggak ada! Ayo buruan,” Xania menggandeng
tangan Vanya. Sepanjang perjalanan menuju kelas XII-BAHASA-2 yang lumayan jauh dari tempat mereka perkir, Xania
terlihat tetap diam. Vanya yang berada di sebelahnya hanya bisa diam melihat
sahabatnya terus diam seperti itu.
† † †
Saat
ini masuk jam ketiga, yaitu jam olahraga bagi kelas XII-BAHASA-2 dan kelas
XII-BAHASA-5. Hal yang paling tidak diinginkan Xania. Bahkan ia ingin hari ini
tidak ada jam olahraga.
“ayo, Xan.
Ganti...” ajak Vanya. Ia sangat prihatin melihat Xania. Xania yang biasanya
cerewet mendadak diam tanpa alasan. Bahkan saat jam mata pelajaran Sastra-pelajaran
yang apling disukai Xania-ia tetap diam.
“males
ah! Gue absen aja deh. Males ikut OR gue,” Xania menjawab dengan nada yang amat
sangat tidak bergairah untuk hidup.
“katanya
bisa hidup tanpa Marcel? Tapi kenyataannya apa? Gue ganti dulu,” Vanya pun
akhirnya meninggalkan Xania.
Xania
masih diam, ia benar-benar enggan untuk beranjak dari tempatnya. Namun mendenar
perkataan Vanya yang begitu menusuk, Xania kemudian bangkit dan mengambill baju
olahraganya di loker. Vanya sanagt terkejut dengan kehadiran Xania di lapangan.
Pasalnya saat di kelas Xania tampak enggan mengikuti jam pelajaran olahraga.
“gue
kan udah pernah bilang sama lo. Lo salah kalo nganggep gue nggak bisa hidup
tanpa Marcel,” Xania kemudian berbaris dan mendengarkan perintah pelatihnya.
“hari
ini kita akan bermain baseball. Sekarang bentuk tim dan langsung bermain!”
suara tegas dan bijaksana dari pak burha-guru olahraga- yang membubarkan semua
lamunan Xania. Sementara di lapangan bola terlihat Marcel dan teman-temannya
sedang asyik bermain bola.
Mungkin
bagi sebagian besar murid XII-BAHASA-5, saat olahraga seperti ini merupakan
salah satu hiburan. Namun tidak untuk Marcel. Saat ini hanya 1 diantara wujud
pelampiasannya. Bahkan dari 3 hari yang lalu, Marcel lebih senang membuat
keonaran di sekolah.
Marcel
dikenal anak yang patuh pada peraturan sekolah. Permainan futsalnya pun di luar
batas. Ia menendang bola sekuat tenaga hingga bola yang ditendang keluar
gerbang dan masih banyak lagi. Entah
apalagi yang akan Marcel lakukan untuk membuat hatinya tenang kembali.
“Do,
oper ke sini,” teriak Marcel. Dido menendang bola ke arah Marcel namun
tendangan Dido meleset jauh dari Marcel.
“sorry...
sorry...” Dido berlari mengejar bolanya.
BUUK.
“AAAWW!!” teriak salah seorang. Rupanya bola yang ditendang Dido mengenai
seseorang.
“Xania!
Lo nggakpapa kan?” Vanya yang tadi hendak memukul bola segera berlari mendekat.
“siapa
sih yang nendang bola sampe sini? Nggak
tau apa kalo ada orang! Sakit tau,” Xania marah-marah sambil memegang
kepalanya yang terkena bola. Dari arah lain, Dido berlari mendekat ke arah Xania
yang terduduk memegang kepalanya.
“Xan,
sorry. Gue nggak sengaja,” Dido meminta maaf dan meminta kembali bolanya. Namun
sebelum Dido meninggalkan Xania, Dido mendapat caci dan maki yang keluar dari
mulut Xania.
“lo
punya mata kan? KALO MAEN PAKE MATA DONG! JANGAN ASAL TENDANG AJA!! PUNYA MATA
DUA BUAT APA?!” segala cacian keluar dari mulut Xania. Tanpa menghiraukan Xania,
Dido tetap berjalan menuju lapangan sepakbola. Melihat Xania terkena bola dari Dido,
Marcel mendekati Dido.
BUK!!
Sebuah hantaman mendarat di pipi kiri Dido.
“lo apa-apaan sih!” Dido melepaskan bolanya
dan mencengkram kerah Marcel. Namun cengkraman itu dihalau Marcel dan dibalas.
Kini Marcel mencengkram kerah Dido.
“gara-gara
lo, Xania jadi kena bola! Harusnya lo tadi nendang bola ke arah gue!”
“santai
dong! Namanya juga maen bola. Wajar kalo meleset,” Dido berusaha tetap tenang
dan tidak terbawa emosi. Ia tahu betul, Marcel sedang kacau.
“emang
apa urusan ma lo? Xania bukan cewek lo lagi kan?” kata-kata Dido bagaikan
sebuah bom di hati Marcel. Hatinya yang memang sudah hancur semakin dijajah
oleh kenyataan. Tanpa ampun Marcel melayangkan hantaman ke Dido.
“meskipun
Xania nggak nganggep gue cowoknya! Tapi bagi gue, gue bakal jagain dia!”
Sama
halnya dengan Marcel, Dido juga membalas hantamannya. Seketika mereka merubah
lapangan sepakbola menjadi area pertarungan. Sebelum perkelahian mereka
terdangar ke telinga guru, Kenzo mendekati Marcel dan Dido memberi mereka
masing-masing satu tamparan. Alhasil mereka menghentikan perkelahian.
“
BUBAR NGGAK LO SEMUA! BUKANNYA PISAHIN MALAH PADA NGELIAT!” suara lantang Kenzo
membubarkan para penonton.
“
apa-apaan sih lo berdua. Ngapain lo pada ribut?” Kenzo terheran-heran melihat
kedua sohibnya berkelahi. “ngapain lo berdua ribut?!!” tanya Kenzo langsung.
“biarin
Ken, biar Marcel lakuin apa yang dia mau.” Jawab Dido sambil memegangi pipinya
yang sedikit memar.
“Sorry
Do, gue nggak bermaksud.” Setelah berkata Marcel kemudian meninggalkan kedua
sahabatnya pergi.
Setelah
Marcel meninggalkan Dido dan Kenzo, Dido mulai menceritakan masalah yang
dihadapi Marcel. Mendengar cerita Dido, Kenzo hanya dapat geleng-geleng kepala.
Tak pernah ia menyangka Marcel akan mendapatkan cobaan atas cintanya.
“gue
punya ide!!” seru Kenzo tiba-tiba.
“ide
apaan?”
“Gue
punya ide supaya hubungan Marcel and Xania membaik,”
“Maksud
lo, lo mau temuin Xania sama Marcel?”
“Dibilang
begitu juga boleh. Gini rencananya. . .” Kenzo kemudian membisikkan rencananya
pada Dido. Dido hanya manggut-manggut mendengar rencana Kenzo.
“
gimana tu? Oke nggak rencana gue?” tanyanya setelah rencananya selesai
dibagikan pada Dido.
“tumben
ide lo brilian banget. Tapi kita butuh satu orang lagi. . .” Dido tampak
berfikir. “naaaahhhh!!!!” Kenzo dan Dido bebarengan mendapatkan orang yang
tepat.
† † †
“Ayolah
Van, lo mau kan bantuin gue kan?” Dido sedang merayu Vanya agar mau membantu
rencananya dan Kenzo. Rupanya Dido mengajak Vanya untuk bergabung dimisinya dan
Kenzo.
“Yaaahh.
Kalo lo ntar sama cewek lo trus Marcel sama Xania, gue sama siapa dooong?? Jadi
kambing congek gituu??” Vanya tampak
berfikir “ “ONGGAAAAHHH!!” Vanya menolak. Sejujurnya ia ingin sekali membantu
hubungan Xania dan Macel, namun ia juga enggan sendirian.
“lo
tenang aja, ada Kenzo juga kok. Lo nanti sama Kenzo aja,
“Kenzo
anak IPS itu?? Yang bule itu bukan?” Vanya terheran-heran nama Kenzo
disebut-sebut.
“Iyaaa.
Emang ada Kenzo lain, lo be . . .”
“gue
ikut! Malming besok kan? Pasti gue bantu, lo tanang aja.”
“yeeee,
giliran ada yang bening dikit aja langsung semangat tadi aja semangit!”
Dido
kemudian pergi meniggalkan Vanya. Tak lama setelah itu Vanya mengambil motornya
dan bergegas pergi. Sepanjang perjalanan ia memikirkan cara agar Xania mau ikut
dengannya.
† † †
Sementara di tempat lain, Xania sedang
terduduk di kasurnya. Memandangi album foto yang kini tengah berada dalam
genggaman tangannya. Album fotonya dengan Marcel. Rupanya saat ini Xania sedang
memandangi foto-foto Marcel dengannya. Disetiap gambar yang diambil selalu ada
keterangan yang di ketik warna orange, sesuai warna kesukaan Xania. Tulisan itu
diketik rapi menggunakan komputer.
NONTON FESTIVAL LAYANG-LAYANG
Keterangan
di bawah foto itu yang sedari tadi ia pandangi. Hanya foto itu. Bahkan sejak
sepulang sekolah hingga sekarang hanya foto itu yang ia pandangi. Hanya foto
itu yang benar-benar membuat Xania merasa sangat sedih. Fotonya bersama Marcel
dan sebuah layang-layang besar berbentuk sapi yang tengah dipegang Xania.
Diusapnya foto itu. Kemudian dipindahkan ke dalam figura yang berada di meja
tidurnya. Salah satu kebiasaannya setiap hari. Mengganti foto dalam figura.
“kenapa.
. . .lo sakitin gue?” Xania berkata seraya memandang foto dalam figura yang
kini telah basah karena air matanya. Xania menangis! Tangis kesedihan juga kekecewaan
yang telah menjadi satu dan membuat sesak dalam dadanya. Kemudian ia peluk foto
dalam figura itu dengan erat. Ditariknya nafas dalam-dalam dan kemudian
dihembuskan perlahan. Mencoba meringankan sesak dalam dadanya. Sedikit membuat Xania
lega.
Tok tok tok
Xania
mendengar pintu kamarnya diketuk perlahan. Cepat-cepat ia menghapus air matanya
dan segera menyembunyikan figura di bawah bantal.
“masuuk.” Katanya sambil menoleh ke arah pinti
kamarnya, “elo Van. Ada apa?”
“harusnya
gue yang nanya, elo ada apa? Elo habis nangiskan?”
Vanya
mendekati Xania dan duduk di sebelahnya. Hanya diperhatikannya Xania, sesaat.
Dan kemudian mengambil figura di bawah bantalnya. “kenapa lo??”
“sory
Van, selam ini gue tutupin kesedihan gue. . .” Xania kembali menangis. Ia
menunduk dalam-dalam. Dikeruarkannya album foto yang sedari tadi ia
sembunyikan. “gue emang nggak bisa hidup tanpa Marcel. . . . gue nggak kuat
begini terus. . . semua yang ada di sini selalu ngingetin gue sama Marcel,
meskipun semua barang udah gue singkirin tapi tangan gue selalu pengen ngambil
lagi dan hati gue ngerasa nggak ihklas buat ngebuang semuanya. . . gu . . .”
“Xan
. . . lo harus sabar. Mungkin ini bentuk cobaan Tuhan buat nguji ketulusan dan
kekuatan cinta lo sama Marcel. Tuhan nggak mungkin ngasih cobaan diluar
kemampuan umatnya, semua pasti ada jalan keluarnya. Lo tau kan?” Vanya juga
meneteskan air mata. Ia tidak tega melihat sahabat baiknya terus bersedih.
“apapun akan gue lakuin Xan, supaya elo balik kayak dulu lagi, gue janji!” Vanya
menghapus air mata Xania menggunakan tisu.
“lo
beneran mau nglakuin apa aja kan buat gue? Lo janji?” ulang Xania sekali lagi.
“I
swear! Janji gue janji penulis, lo kan tau penulis nggak boleh ingkar janji.” Vanya
mengembangkan senyum khasnya.
“hahahaha
ada-ada aja deh lo. Penulis apaan, orang kiasan aja lolanya minta ampun,”
“yeeee!!!
Betewe ada film baru nih. Lo mau ikut nintin gue, Dido, sama Kenzo enggak? Lo
yang pilih filmnya deh,” Vanya mulai mengalihkan pembicaraan. Ia sudah mulai
lega, Xania tak lagi larut dalam kesedihan. Bahkan ia sudah mulai tertawa
lepas.
“okeee,
kapan? Malming besok mau nggak??”
“oke
deh, buat sahabat gue tercinta ini apa sih yang enggak buat lo, hahaha”
Xania
dan Vanya larut dalam kebahagiaan. Mungkin sejenak dapat Xania lupakan dengan
banyolan garing Vanya yang dapat membuatnya tertawa lepas. Kini Xania sadar,
tanpa Marcel ia juga dapat merasakan kebahagiaan. Tentunya dari sahabat
dekatnya. Namun, satu yang Xania tahu. Saat ini tak ada yang bisa menggantikan Marcel
dalam hidupnya. Atau mungkin belum ada yang bisa menggantikan posisi Marcel di
hati Xania. Marcel telah mengukir namanya dalam hati terdalam Xania.
†††
Sementara
di tempat lain, Marcel duduk termangu di sebuah batu besar yang berada di tepi
danua. Sedari tadi ia hanya melemparkan batu-batu ke arah danau. Berusaha
mengusir beban yang ada dalam benaknya. Berusaha menjadikannya salah satu cara
untuk meluapkan emosinya. Hanya itu saat ini yang dapat dilakukan Marcel
sebagai pelampiasan. Selagi itu belum membahayakan nyawanya. Marcel menerawang
entah kemana.
Dulu
di tepi danau ini, Marcel dan Xania selalu meluapkan semua penat dan kekesalan
yang ada. Menyelesaikan semua masalah percintaan mereka bahkan bercanda
bersama. Namun kini, semua hanya kenangan. Di tepi danau kini hanya ada Marcel
seorang diri, meluapkan penat yang ada memang, namun tanpa ada Xania di
sisinya. Samar-samar Marcel mendengar alunan syair lagu yang sudah tak asing
lagi di dengarnya.
. . . .cintaaa tak kan bisaaa. . . . .
pergiiii
Syair
yang seperti ringtone ponselnya. Sekali lagi ia mendengar alunan syair lagu.
Kali ini tak salah lagi, ini benar-benar ringtone ponselnya. Cepat cepat Marcel
merogoh tasnya, berusaha menemukan asal bunyi tersebut.
DIDO
Itulah yang tertera di layar ponselnya.
“halo?. . . ada apa Do? . . . oke bisa gue.
. . lo jempu gue?? . . . hmm okedeh. Tuuuut,” sambunga berakhir.
Marcel berjalan ke tempat dimana motornya di
parkir dan secepatnya meninggalkan danau itu. Tempatnya dan Xania dulu sering
bersama.
†Tujuh†
“haloooo??!!
Van lo lama amat sih!! Buruan ke depan, gue uda nunggu dari tadi...” Dido
mengakhiri pembicaraannya dengan Vanya. Hampir 30 menit Dido dan Kenzo menunggu
di mobil. Dan mereka berdua juga sudah ngedumel nggak jelas.
“buuuussseeeeet!!! Lama amat sih lo? Lo
mandi apa nguras bak sih?” berondong Kenzo.
“kalo nguras bak mah cepet, lo nguras empang
yaa Xan? Hahahaha,” tambah Dido. Bukanya Vanya segera naik mobil, ia malah
cemberut di depan pintu mobil Kenzo.
“CEPET NAIK KUYA!!” Dido dan Kenzo serempak.
“eh. Iya iya,” Xania dan Vanya bebarengan
menaiki mobil. Vanya duduk di tengah, di antara Xania dan Kenzo.
“Xan lo habis barantem ya? Mat . . . AWW!!”
belum sempat meyelesaikan perkataanya, perutnya sudah menjadi sasaran cubit Vanya.
Sementara tersangkanya hanya cengar-cengir tak bersalah.
“apaan sih lo Van?! Sakit tau!”
“nggak papa Van, santai aja,” kata Xania seraya
memndang ke luar jendela. Melihat kemerlap lampu jalanan. Sedikit menghibur
lara hatinya kini.
“sorry Xan gue nggak maksud. Emang lo habis
nangis ya, mata lo bengkak gitu??” Kenzo mengulangi pertanyaannya dengan penuh
kepolosan, seolah-olah dia adalah anak kecil yang tidak tahu masalah
percintaan.
“emang lo kira Xania habis berantem beneran
apa?! Ngaco banget lo!! Jelas dia habis nangislah, bego banget sih lo!!
Gara-gara kapten kalian itu!!” bukanya Xania yang menjawab melainkan Vanya yang
memaki-maki dan memelototi Kenzo.
Vanya teringat ada sesuatu yang ganjil.
Ditariknya baju Kenzo kemudian ia berbisik mengenai suatu hal.
“oh, ntar nyusul kita dia,” jawab Kenzo
enteng.
Sepanjang
perjalanan menuju bioskop Empaire, Xania hanya diam membisu. Tak sepatah kata
pun ia ucapkan, bahkan saat ditanya suatu hal pun, ia hanya mengangguk ataupun
menggelengkan kepala. Tatapan matanya terus tertuju ke arah jendela dan
menerawang entah kemana. Mungkin hanya raga yang tersisa di dalam mobil kini,
sementara jiwanya melayang entah kemana. Tak ada sedikit niat pun bagi Xania
untuk bercanda bersama.
“gue nggak tega liat Xania kayak gitu,
sumpah nggak tega banget gue,” Kenzo berbisik pada Vanya.
“apalagi gue yang tiap hari ngeliatin dia.
Kerjaanya cuma nangiiiis aja, kalo nggak ya nglamun. Pokoknya diem mulu dah,
nggak bawel kayak biasanya,” tambah Vanya, juga dengan berbisik. Kenzo dan Vanya
sedang membicarakan Xania yang jelas-jelas berada di samping Vanya.
“beneran Van sampe segitunya dia berubah?
Yang gue denger sih Xania orangnya ceria banget, kok bisa ya dia drop banget
gitu. Ckckckc”
“kalian ngomongn orang kayak tu orang nggak
ada di sini aja. Gue aja denger, apalagi Xania yang jelas-jelas di samping
kalian gitu.” Dido memperingati Vanya dan Kenzo, pasalnya nada mereka sudah
mulai naik, dari berbisik menuju ke berteriak.
“yang di sini badannya aja, nyawanya udah
nggak tau kemana,” kata Kenzo membuat Dido tertawa geli.
“sialan lo! Lo pikir Xania meninggal apa,
nggak ada nyawanya!”
Tak
sampai 15 menit kemudian mereka sampai di gedung bioskop Empaire. Mereka turun
dari mobil dengan semangat, tak terkecuali Xania. Demi teman-temannya ia akan
berusaha tenang. Mereka menuju ke loket pembelian tiket. Karena masih ada satu
orang lagi, terpaksa mereka menunggu.
†††
“DO!!” mendengar namanya dipanggil, Dido
segera menoleh ke arah datangya suara.
Namun tidak hanya Dido yang menoleh,
melainkan juga Xania, Vanya, Kenzo, dan Sari pun juga menoleh. Betapa terkejutnya
Xania melihat Marcel yang memanggil Dido. Sama halnya dengan Xania, Vanya dan
Kenzo juga ikut terkejut.
Marcel
tidak datang sendirian melainkan bersama seorang perempuan yang tengah
digandengnya. Melihat Xania yang melotot tajam ke arah genggaman tangannya, Marcel
segera melepaskan genggaman tangannya.
“emm. . . udah lama nunggunya?” Marcel
speechles. Ia tak dapat berkata apa-apa, ia benar-benar bingung.
“kenalin, gue Marsya,” rupanya perempuan itu Marsya, ia mengulurkan
tangannya pada Xania.
“Xania!” Xania hanya tersenyum sinis tanpa
menjabat tangan Marsya. Kemudian satu per satu mereka berkenalan.
“kenalannya cukup! Lo mau nonton apa Xan?” Vanya
mengalihkan pembicaraan. Ia menyadari betul perubahan wajah Xania saat ini.
“gimana kalo komedi aja? Kan Xania butuh
hiburan,” usul Kenzo.
“apaan sih lo, kita kan udah sepakat kalo Xania
yang pilih filmnya,” Vanya protes pada Kenzo.
“nonton Final Destination empat aja gimana?
New entry nih? Mau nggak?” Xania bersikap biasa-biasa saja. Meskipun di raut
wajahnya terlihat bahwa ia benar-benar kecewa.
“nonton efde besok-besok aja deh. Kita
nonton horor aja gimana? Kan lebih menantang tu,” tanpa ditanya, Marsya sudah
memberi usul.
“kalo gue sih ngikut-ngikut aja,” Dido dan
Kenzo tidak mau ambil pusing. Mereka hanya diam.
“pokoknya yang nentuin filmnya Xania, titik!!”
Vanya masih bersikeras.
“udahlah Van, nggak gue juga nggak papa kan,
orang sama aja kok siapa yang nentuin film,” Xania mencoba mengalah.
“ta. . . tapi kan. . .” Vanya masih tetap
ngotot.
“UDAHLAH VAN!! Lo bisa ngalah nggak sih?” Xania hilang kesabaran
dan memaki Vanya.
Demi agar sahabatnya tidak mengamuk Vanya
akhirnya mengalah. Ia tidak mau membuat kekacauan di tempat umum. Dengan besar
hati Vanya dan Xania setuju untuk mononton film pilihan Marsya.
† † †
Suara teriakan terdengar nyaring dari dalam
studio 3 bioskop Empaire. Mereka duduk di deretan teratas bangku penonton.
Marsya, Marcel, Xania, Sari, Dido, Kenzo dan Vanya. Mereka duduk berurutan.
Teriakan para penonton sama sekali tidak berpengaruh bagi Xania. Ia hanya
menatap kosong ke layar tanpa memperhatikan sama sekali. Sedangkan Marcel yang
berada di sebelahnya, tampak menikmati setiap detik yang ada dengan Marsya yang
duduk di sebelahnya.
Marsya
sedari tadi memeluk Marcel bila ketakutan. Sedangkan Marcel? Ia malah merima
pelukan Marsya tanpa sedikitpun merasa enggan dengan Xania. Xania hanya bisa
diam melihat tingkah polah Marsya dan Marcel. Biasanya ia akan memaki-maki
siapapun orang yang berani memeluk Marcel di hadapanya. Namun kini, ia hanya
bisa diam. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain diam. Xania tak tahu harus
berbuat apa, ia tak tahu siapa Marcel sekarang.
Tak
ada lagi yang Xania lakukan sekarang selain menahan sesak di dadanya dan
menahan agar air matanya tidak tumpah. Sekuat tenaga Xania menahan agar air
matanya tak keluar dari dalam kelopak matanya. Nmamun ia gagal. Air matanya
menetes perlahan. Bahkan tak tertahankan lagi hingga bahunya berguncang. Tak
satupun diantara mereka yang menyadari bahwa Xania menangis. Tarikan napas yang
panjang dan berat membuat Sari menyadari Xania menangis.
“Xan, lo nggak papa kan?” Sari bertanya
dengan hati-hati. Sari mengulurkan tangannya dan kemudian menyolek Kenzo.
“panggilin Vanya, suruh dia pindah di kursi gue,” Sari berbisik pada Kenzo. Tak
lama kemudiaan Vanya berdiri dan duduk di samping Xania.
“kenapa lo?” tanya Vanya langsung, namun
bukanya menjawab Xania malah sibuk mengusap air matannya. “kenapa lo nangis?”
ulangnya.
“nggak. . . nggak papa kok. Gue cuma terharu
aja,” jawab Xania disela isak tangisnya. Ia mencoba tenang agar air matanya
berhenti mengalir.
“HAH? Ngaco lo! Kita nonton horor bukan
drama seri!” Vanya tampak hilang kendali “elo kenapa nangiss?!” suara Vanya
naik level dari yang sebelumnya. Matanya menatap tajam ke arah Marcel, mencoba
mencari tahu penyebab menangisnya Xania.
“iya, gue tahu kok. Gue terharu sama
pocongnya. Kok bisa gitu maen film bagus bannget gitu. Apa nggak capek tu
loncat-loncat mulu,” jawab Xania asal-asalan.
“lo bener-bener ngaco Xan! Kita nggak nonton
pocong tapi kit. . .” belum selesai Vanya berbicara, dari depan berjatuhan
benda-benda yang entah datang dari mana. Mulai dari pop corn, tutup botol
mineral, sampai sandal jepit. Loh? “ssttt!” ternyata benda-benda itu berasal
dari penonton lain yang mulai meresa terusik dengan suara cempreng Vanya.
“lo sih! Kita nonton Insidious tau, bukan
pocong,” jawab Vanya pelan.
“bodoo! Yang penting gue nggak nangis
gara-gara ngeliatin nih orang dua, tapi gara-gara terharu,” Xania menunjuk Marcel.
“terserah lo mau bilang apa! Habis nonton,
kita makan dulu.”
“iyaa,” jawab Xania sambil mengangguk.
Xania menghapus air mata yang kini membasahi
pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahanya sejenak dan kemudian ia
hembuskan perlahan. Xania tak ingin menangisi hal yang bodoh. Hal yang
jelas-jelas tak berguna baginya. Xania hanya ingin mengeluarkan air mata untuk
orang-orang yang menyayanginya, bukan orang yang telah menyakiti hatinya
ataupun membohonginya mentah-mentah. Bagi Xania, kebohongan tetaplah sebuah
kepalsuan. Dan ia tak ingin di bohongi. Apalagi diberi sesuatu yang palsu.
“AAAAAAAAAA!!!!!” Xania berteriak sekuat
tenaga. Mengurangi sesak di dadanya. Sedikit melegakan sakit hatinya. Untungnya
saat Xania berteriak banyak juga orang yang berteriak, sehingga teriakannya
seolah-olah adalah teriakan ketakutan. Rupanya Xania berteriak disaat yang
tepat. Kemudian ia kembali tenang hingga akhirnya tertidur.
† † †
“Xan?
Filmnya udah selesai nih,” Vanya menggoyangkan pelan tubuh Xania yang terbaring
di bangku studio. “XANIAAA!!”
“Apaan sih lo, lima meniit lagi deh. Ganggu
aja lo Van,” jawab Xania di sela tidurnya.
“lima menit??” Vanya hilang kesabaran “lo
kira ini di kamar lo apa?! Ini di bioskop kuyaa!!” teriak Vanya. Suaranya yang
cempreg membuat sebaian orang yang belum keluar dari bioskop menoleh ke
arahnya.
“APA?” mendengar suara Vanya, Xania segera
terbangun. “kenapa lo nggak bangunin gue dari tadi sih?” tanpa merasa berdosa Xania
balik memarahi Vanya. Vanya hanya mengangkat satu alisnya ke atas dan memandang
Dido dan Kenzo bergantian. Sementara Dido dan Kenzo hanya menyengir.
Mereka
segera meninggalkan studio sebelum penjaga mengusir mereka. Mereka menuju ke
salah satu foodcourt. Mereka semua duduk dalam satu meja besar.
“lo semua mau pesen apa? Biar gue deh yang
traktir,” Kenzo menawarkan diri.
“lagi banyak duit lo sob? Gue mau stek
sirlion double dua sama milk shake moca dua,” tanpa berpikir panjang lagi Dido
cepat-cepat memesan makanan untuknya dan Sari. Ia tak mau menyianyiakan
kesempatan emas yang jelas-jelas di hadapan matanya. Sementara itu, Kenzo
mencoret-coret kertas pesanan di tangannya. Satu per satu dari mereka memesan
makanan bergantian,
“gue apa yaa? Bingung nih. . .” Xania tampak
bingung dengan apa yang hendak ia pesan.
“nah! Chicken honey satu!” tanpa sengaja Xania
dan Marcel memesan makanan yang sama. Mereka hanya memandang heran saaatu sama
lain.
“ternyata
lo masih suka apa yang gue suka” tentu saja kata-kata itu hanya diucapkan Xania
dalam hati. Dan meneruskan pesanannya, “es telernya satu,” kemudian ia diam
terpaku.
† † †
Pesanan
mereka pun datang. Vanya makan dengan lahap, begitu pun Xania, untuk sesaat ia
akan menutupi semua kesedihannya demi teman-temannya.
“hmmm,
roasted sheepnya enaak banget. Coba tadi lo pesen ini Xan, cobain deh!” tawar Vanya.
“ogah
ah. Kasian tauk dombanya, domba kan lu. . .” Xania tidak melanjutkan
kata-katanya. Ia teringat pada Marcel. Xania ingat betul, Marcel sangat
menyukai daging domba tetapi karena Xania selalu mengasiani domba yang akan
dimakan Marcel, ia juga menjadi tidak tega memakan daging domba. Saat Xania
hendak memandang Marcel, ia justru melihat suatu hal yang seharusnya tidak ia
lihat di depan matanya saat ini. Xania melihat Marcel dan Marsya sedang asyik
suap-suapan tanpa mempedulikan Xania yang kini sedang menatap sedih Marcel.
Xania
mencoba menahan air mata yang kini telah penuh di pelupuk matanya. Ia tarik
nafas dalam-dalam mencoba mencari ketenangan jiwanya yang kini sedang dihujani
kecemburuan. Xania kini merasa ia tidak dipedulikan. Dido sibuk dengan
pacarnya, Kenzo yang bercanda dengan Vanya dan Marcel yang kini tidak bisa lagi
membahagiaakanya.
“Van?”
panggil Xania pelan.
“ya?”
jawab Vanya.
“gu. .
. Gue ke toilet dulu ya, lo sama semuanya lanjutin aja makanya.” Xania berkata
sambil berdiri meninggalkan tempat makan. Ia bergegas menuju toilet terdekat. Xania
berlari sambil menangis menuju toilet. Di dalam toilet ia hanya berada di depan
cermin, menangis di depanya. Kemudian Xania mengambil air dari keran dan ia
basuhkan ke wajahnya. Xania tidak ingin orang lain melihat kesedihannya.
Enam puluh menit berlalu
Terlihat
cemas di raut wajah Vanya, pasalnya sudah sekitar enampuluh menit Xania berada
di toilet. Tak seperti biasanya Xania berlama-lama di tiolet. Biasanya lima
belas menit saja berada di toilet ia sudah hendak muntah, nah ini enam puluh
menit. Semua makanan sudah hampir habis tetapi Xania tak kunjung datang.
“Van! Xania
lama amat sih?” tegur Kenzo. Sebenrnya tidak hanya Vanya yang kawatir dengan Xania,
bahkan Marcel pun demikian. Ia juga merasaka ada hal yang tidak beres dengan Xania.
“lo susul Xania gih Van,” bujuk Kenzo.
“gue
telpon aja deh, toiletnya jauh.” Kemudian Vanya mengampil ponsel di dalam saku
celananya. Ia mencari nama Xania di kontaknya. Tuuuuut tuuuuut tersambung!
“Haloo?
Xan lo dimana sih? Lama banget sih? Udah hampir selesai nih makanya!” berondong
pertanyaan keluan dari mulut Vanya.
“huuh”
hanya desahan nafas yang keluar dari mulut Xania. “gue di jalan Van. Ini udah
hampir deket rumah,” jawabnya singkat.
“APAAA!!!”
jawab Vanya terkejut. Mendengar jawaban Vanya yang begitu mengejutkan, wajah Marcel
menjadi tegang. Ia takut ada sesuatu hal buruk menimpa Xania.
“iya,
gue udah di jalan” ulang Xania sekali lagi. “Van, tolong sampain maaf gue ke
anak-anak ya soalnya gue pulang duluan. Thanks. Tuuuut” sambungan terputus!
“gimana
Van? Xania nggak papa kan?” tanya Kenzo.
“satu.
. .dua. . .tiga. . .empat. . .lima. . .enam. .” Vanya mengambil nafs
dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Hal yang selalu ia lakukan untuk
mengatur emosinya. Vanya memang sangat tempramental. Dibandingkan dengan Xania,
Vanya tidak bisa santai.
“gimana
Van? Xania baik-baik aja kan?” ulang Kenzo.
“kayaknya
setan yang kita tonton tadi ngikutin deh,” jawab Vanya santai. Matanya
memandang Marsya tajam.
“hah?
Maksud lo apaan?” Kenzo tampak bingung.
“iyaa.
Setan insidious tadi ngikutin kita sampe sini. Buktinya aja Xania ketakutan,
trus pulang duluan deh!”
“APA!?”
Marcel, Dido, Kenzo bebarengan. “Xania pulang duluan?”
“iya
emang kenapa?! Kayaknya gue juga mau ikutan pulang deh. Gue nggak kuat ngeliat
tuh SETAN!!” Vanya sengaja menekankan kata SETAN sambil melihat tajam ke arah
Marsya.
“oke
deh. Gue juga ikutan pulang. Gue cabut dulu sob, semua udah gue bayar kecuali
punya tuh setan, dia nggak ada dalam undangan!” Kenzo berdiri dan memukul pelan
bahu Marcel. Tak lama kemudian Dido dan Sari juga pulang. Rencana yang sudah
mereka susun matang-matang agar dapat membuat Xania dan Marcel kembali gagal
total gara-gara seorang perempuan yang tak seorangpun dari mereka mengenalinya.
†
† †
Xania
hanya terdiam di dalam taxi. Setelah mematikan telfon dari Vanya, air mata yang
sudah susah payah ia hentikan kini mengalir lagi. Hatinya perih. Belum genap
satu bulan Xania dan Marcel bubaran, Marcel sudah menggandeng perempuan lain.
Entah itu hanya sebagai pelarian maupun palabuhan hatinya. Hanya Marcel dan
Tuhan lah yang mengetahuinya. Yang Xania tahu saat ini, hatinya sakit, perih.
Kini bagaikan luka yang terkena garam dan dibersihkan dengan air jeruk nipis.
Sakit sekali.
Xania
hanya bisa melihat ke luar jendela taxi. Ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah,
masuk kamar dan menangis sekencang-kencangnya. Berteriak sebisanya. Tak peduli
seberapa banyak orang yang mendengarnya.
Kurang
dari sepuluh menit kemudian Xania sampai di depan rumahnya. Ia segera turun dan
membayar ongkos taxi. Xania berlari memasuki halaman rumah. Diambilnya kunci
rumah yang selalu pembantunya taruh di bawah karpet depan. Pembantu Xania
memang selalu pulang malam.
Dengan
cepat Xania menaiki tangga dan bergegas mengunci pintu kamar. Ia memutar volume
radio maximum, agar tangisnya tidak terdengar jelas dari luar. Tak lupa ia
mamitikan handphonenya.
“AAAAAAA!!!
MARCEL LO JAHAT BANGEET!!! LO TEGA JALAN SAMA CEWEK LAIN DI DEPAN MATA GUE!!” Xania
berteriak sekuat tenaga. Hanya itu saat ini yang Xania bisa lakukan. Ia
berteriak mengeluarkan semua sesak dadanya, mengurangi rasa sakit di luka
hatinya.
Xania
teringat sesuatu, ia mangambil remot kontrol untuk tape combonya. Ia mencari
saluran favoritnya, yaitu Sinyalgama fm. Terdengar suara merdu dari penyiar
radio favoritnya itu. Kini tengah diputar lagu dari Bruno Mars, Runaway. Baru
musik pembuka. Rupanya penyiar radio itu mengetahui benar isi hati Xania. Xania
larut dalam setiap alunan lagu, suara merdu Bruno membuatnya lebih tenang.
Hingga akhirnya ia tertidur lelap.
† † †
Marcel
terduduk di ranjangnya. Ia tak tahu mengapa Xania besikap seperti itu padanya.
Tatapan matanya seolah penuh kekecewaan. Bahkan Xania pulang duluan.
“kenapa
lo nggak mau dengerin penjelasan gue, lo nggak pernah tanya apa-apa ke gue.
Kenapa sekarang lo tinggalin gue? Gue nggak pernah tau keyakinan bikin lo jauh
dari gue,” katanya.
Marcel
berdiri dan memandang dirinya lewat cermin. Tak ada lagi sinar mata yang
seperti dulu, seperti saat ia selalu bersama Xania. Ia bahkan tak pernah
merasakan sepi yang seperti ini. Mata Marcel redup bahkan ia seperti tak
bernyawa. Ia hanya terlihat bahagia namun hatinya remuk. Ia hanya tak ingin
orang lain mengetahui penderitannya.
Praaaang!!!
Marcel
memecahkan kaca yang ada di depannya. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia
lakukan untuk menebus kesalahannya kepada Xania. Ia keluar kamar dengan tangan
berdarah. Ia menuju garasi dan mengeluarkan motor yang sudah lama tak ia pakai.
“hari ini lo harus nemenin gue!”
katanya pada Kawasaki Ninja RR itu. Ia melajukan Ninja RR itu melebihi
kecepatan yang semestinya. Menembus sepinya kota Jakarta malam hari.
†DELAPAN†
Bukan
hal mudah melupakan Xania bagi Marcel. Semua kenangan manis sudah tercetak
jelas dalam ingatan Marcel. Bahkan saat ia menutup mata hanya Xania yang ada,
semua Xania.
Hampir seluruh isi kamar Marcel
terpampang hadiah dari Xania. Bukan hanya itu, di sudut dekat jendela tercetak
besar sekitar 25R foto yang dipigura rapi oleh Marcel. Fotonya besama Xania
saat Festifal Layang-layang. Saat itu Xania benar-benar terlihat cantik. Dengan
menggunakan dress kuning selutut dan bolero cokelat membuatnya terlihat semakin
feminim.
Marcel
beranjak dari tempat tidurnya, mengambil ponselnya dan memandang keluar
jendela. Langit tak secerah biasanya. Mungkin langit merasakan apa yang
dirasakan Marcel. Dipandanginya foto Xania, “kenapa kamu nggak mau dengerin
penjelasanku Xan? Aku bisa terima kamu nggak mau nerima aku karena kita beda.
Tapi, plis aku mohon kamu dengerin penjelasanku setelah itu kamu bebas putusin
apa mau kamu,”kata Marcel. ia seolah sedang berbicara pada Xania. Namun yang
ada hanya bayangannya dalam sebuah
Tok...ok..tok
Terdengar suara ketukan pintu namun Marcel
enggan membukakannya. “masuk!”hanya itu yang keluar dari mulutnya.
“lo
kenapa? Udah siang tapi lo belum turun dari kamar?”tanya Marsya.
“gue
baru bangun.”jawab Marcel singkat.
“gue
tau lo pasti masih mikirin Xania, yaa kan?”
“iya.”
“lo
tau masih banyak cewek diluar sana yang lebih dari Xania. Dan gue yakin mereka
pasti bisa terima lo apa adanya, tanpa pandang apapun. APA PUN!”Marsya sengaja
menekankan kata terakhirnya agar terdengar jelas oleh Marcel.
“tapi
semua nggak ada yang sama! Mereka semua nggak seperti Xania lo tau?! Nggak ada
yang bisa bikin gue bahagia selain Xania!”ujar Marcel “tinggalin gue sendiri!”
“gue
akan tunjukin ke elo nggak Cuma Xania yang bisa bikin lo seneng. Gue juga
bisa,”kemudian Marsya pergi meninggalkan Marcel.
“terserah
apa kata lo!”
†††
“kita mau kemana sih?”tanya Marcel.
ia sudah tak tahan dengan kelakuan Marsya. Sudah hampir dua jam mata Marcel
ditutup kain.
“lo diem aja. Gue bakal bikin lo
seneng. Dan lo ingat nanti, bukan Cuma Xania yang bisa bikin lo seneng,”
“terserah
apa kata lo!”kata Marcel kemudian diam.
Sepanjang
perjalanan Marcel dan Marsya hanya diam. Kurang dari tigapuluh menit kemudian
mereka sampai di tempat tujuan Marsya.
“nah
sekarang lo boleh buka mata,”katanya sambil membantu Marcel.
“lo
bawa gue kemana sih?”tanya Marcel sambil mengerjapkan mata, seolah pemandangan
didepan matanya hanya sebuah fatamorgana.
“ke
tempat yang bisa bikin lo seneng lah. Gue yakin kalo gue bawa elo kesini lo
pasti bisa keluarin semua beban yang lo punya,”
“thanks.
Lo emang orang yang paling bisa ngertiin gue,”
†††
“nggak
salah lagi Xan, itu Marcel. Eh bukannya itu cewek yang waktu itu diajak Marcel
nonton ya?”kata Vanya. Saat ini Xania dan Vanya sedang menghabiskan sore di
danau yang dulu sering Marcel dan Xania datangi.
“ah
lo salah liat kali. Marcel nggak mungkin dateng ke sini kalo nggan sama gue.
Paing-paling kalo ke sini dia sendiri. Gue tau persis gimana Marcel,”bantah Xania.
Sejujurnya ia ragu orang yang Vanya lihat bukan Marcel. Namun ia tak mau
merusak moodnya yang lagi bagus.
“iya
kali ya. Gue salah orang kayaknya. Marcel kurusan sekarang ya? Sama kayak lo,”Vanya
mulai mengalihkan pembicaraan.
Xania
hanya diam, tak menjawab apapun.
“oooooiii!!
Jyaah nglamun lagi,”
“sory
Van, coba Marcel ngejelasin semuanya ke gue dari awal. Gue pasti bisa
ngerti,”katanya sambil menunduk.
“gimana
dia mau jelasin ke elo, elonya aja selalu ngehindar setiap ada Marcel. sakit
lah, nggak mau diganggu lah, bla bla bla,”
“bukan
gitu maksud gue. Coba aja Marcel bilang ke gue dari dulu kalo dia ternyata
nasrani. Gue mungkin bisa terima,”
“nah
lo nggan pernah tanyakan? Marcel juga mana tau lo pilih pilih,”
Vanya
benar. Xania memang tidak pernah menanyakan apa pun mengenai Marcel. Ia ingin
mengetahuinya sendiri. Namun setelah semua ia ketahui mengapa ia justru menjauh
seperti saat ini.
Xania
memang tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan yang ada antara Xania dan Marcel.
Saat menjalani hubungan pun, Xania dan Marcel sepakat hubungan mereka
berdasarkan kejujuran dan kepekaan. Xania tak pernah menyangka bahwa Marcel
yang selama ini selalu mengingatkannya agar tidak lupa untuk sholat ternyata
mempunyai keyakinan yang sebaliknya.
Bukan
menyesal karena ia memilih Marcel dari sekian pria yang mendekatinya, tetapi
menyesal karena ia baru mengetahui sekarang. Saat rasanya benar-benar dalam
untuk Marcel.
“gue
butuh penjelasan Marcel, Van”kata Xania tiba-tiba, “lo bisakan bantuin gue?”
“apasih
yang enggak buat lo”Jawab Vanya sumringah.
†††
Vanya
sudah merencanakan matang-matang pertemuan Xania dan Marcel. Rencananya akan
berjalan mulus jika tanpa kendala. Ia ingat betul pertemuannya dengan Marsya
sore kemarin akan memberikan sedikit gelombang dalam hubungan Marcel dan Xania.
“gue harap lo nggak
akan ganggu hubungan Xania lagi,” kata Vanya tiba-tiba saat tanpa sengaja
bertemu Marsya di Indomart.
“sory. Tapi gue
nggak tau apa maksud ucapan lo barusan,”
“mungkin Xania bisa
lo bodohi dengan teror-teror lo itu, tapi gue nggak! Gue tau itu cuma salah
satu taktik lo buat ngerebut Marcel dari Xania,”
“gue bener-bener
nggak tau apa maksud lo!”
“gue mohon sama lo
jangan rebut Marcel dari Xania. Hubungan mereka bakal baik nggak lama lagi.
Jadi lo jangan deket-deket lagi sama Marcel,”
“sory tapi Xania
yang udah ngrebut Marcel dari gue. Sory gue buru-buru.”
Pertemuannya
dengan Marsya yang tanpa diduga itu menimbulkan sejuta pertanyaan di benak Vanya.
Pikirannya kini tertuju bagaimana ia bisa mempertemukan Xania dan Marcel tanpa
ada pengganggu diantara mereka.
†††
Marcel
berjalan sambil memandang skeliling. Barangkali orang yang mengirimkan surat
kaleng untuknya dapat diketahui. Pagi tadi Marcel menemukan surat kaleng di
dalam lacinya.
Gue tunggu di danau jam 4.50 sore.
Hanya itu pesan yang ada dalam surat itu.
Sebuah pesan singkat memang, namun cukup membuat Marcel penasaran.
Saat
ini baru pukul 4.30 p.m, tapi Marcel sudah berada di sekitar danau. Ia
benar-benar tidak tahu siapa orang iseng yang telah mengiriminya surat kaleng.
Marcel
mencari kursi kosong sekitar danau. Saat sore seperti ini memang sulit mencari
kursi kosong. Hanya ada satu kursi di ujung danau, tempat yang biasa ia dan Xania
duduki. Marcel menuju kursi itu.
“sory
gu..” Marcel hampir bebarengan dengan seorang wanita yang hendak juga duduk di
pinggir kolam “Xania?” lanjutnya. Tak disangka, ternyata wanita yang akan
menduduki kursi itu Xania.
“Aku
boleh duduk sini?” kata Marcel ragu-ragu. Kini ia merasa canggung dengan Xania.
“bo...boleh
boleh silahkan. Gue bisa cari tempat lain,” jawab Xania. Saat hendak
meninggalkan Marcel, tangan Xania ditahan pelan oleh Marcel.
“Xania?”
panggilnya.
Xania
hanya menatap tangannya yang digenggam Marcel.
“Sory.
Kamu bisa duduk di sini juga kalo kamu nggak keberatan,”
“aku
nggak keberatan,”
Xania
dan Marcel duduk bersebelahan di pinggir danau. Tempat yang selalu menjadi
penyelesai masalah mereka berdua sebelumnya. Dan kini baik Xania maupun Marcel
juga berharap tempat ini bisa menyatukan mereka seperti dulu.
Xania
dan Marcel hanya berdiam sejak sepuluh menit yang lalu. Tak ada yang memulai
pembicaraan. Bahkan hanya sekedar basa-basipun tidak ada yang berani. Mereka
sama-sama tidak suka basa-basi.
“aku...”
Marcel dan Xania bebarengan.
“kamu
dulu aja,” Marcel mengalah.
“enggak,
kamu dulu aja,”
“aku
emang nggak suka basa-basi. Aku mau
jelasin semuanya ke kamu. Kamu mau dengerin penjelasanku? Apapun keputusanmu
aku rela, yang penting kamu dengerin dulu” kata Marcel ragu-ragu. Takut Xania
justru akan pergi dari sisinya.
Xania
hanya mengangguk, pertanda iya.
“maaf
kalo menurut kamu selama ini aku bohongin atau apalah menurut kamu. Tapi demi
Tuhan aku nggak pernah bohongin kamu Xan. Selama kita pacaran kamu nggak pernah
sekalipun tanya sama aku. Aku pikir kamu nggak mempermasalahkan perbedaan
kita..”
“aku...”
Xania memotong perkataan Marcel, namun Marcel tetap melanjutkan perkataannya.
“aku
mulai tau dari radio yang biasa kita dengerin, tanpa sengaja aku dengerin semua
jawaban kamu. Sebenernya setelah natal aku bakalan jelasin semuanya ke kamu,
tapi kamu udah tau duluan. Sekarang semua keputusan ada di kamu, kamu mau
terima aku lagi atau kamu boleh tinggalin aku kalo emang perbedaan kita masalah
yang besar buat kamu.” Marcel menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya serasa
berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
“aku
juga minta maaf selama ini udah ngehindar dari kamu. Aku cuma belum siap
kehilangan kamu. Semuanya selalu ngingetin sama kamu. Tapi perbedaan kita emang
nggak ringan, dari awal aku udah bilang aku cari pacar bukan buat main-main
tapi untuk serius, kita udah sama-sama dewasa. Aku udah putusin dari kemaren,” Xania
menghentikan kalimatnya, membuat Marcel semakin menahan nafasnya. “Aku nggak
akan terima kamu lagi” kalimat itulah yang keluar dari mulut Xania.
Jantung
Marcel serasa berhenti berdetak. Hal yang selama ini ia takutkan benar-benar
terjadi. Aku nggak akan terima kamu lagi, itulah yang di dengar Marcel!
“Jadi
kamu bener-bener nggak mau terima aku lagi?” tanya Marcel, memastikan Xania
salah bicara.
“iyaa.”
Marcel
berdiri. “oke kalo gitu, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku pulang dulu.”
“Tapi
kita bisa mulai lagi dari awal kan?” tanya Xania sebelum Macel pergi menjauh.
“maksutnya?”
“kita
bisa mulai hubungan kita dari awal kan? Yang udah terjadi biar aja berlalu,
kita mulai dari awal,”
“jadi
kamu terima aku?” tanya Marcel. Ia benar-benar tak menyangka Xania secepat itu
berubah pikiran.
Xania
hanya menganggukan kepala dan tersenyum. Senyumnya yang dulu. Melihat senyum Xania,
Marcel mendekat dan memeluk Xania.
“Makasih
Xania. Aku nggak akan pernah sia-siain kesempatan yang kamu berikan,” bisiknya
ditelinga Xania.
†††
†SEMBILAN†
Marcel
dan Xania tidak mempedulikan orang-orang yang berkasak-kusuk melihat mereka
berjalan bersama. Hari ini terlihat jelas kegembiraan di wajah Xania dan Marcel.
Mereka seperti pasangan yang baru kemarin jadian dan baru mengenal satu sama
lain.
Sepanjang
perjalanan menuju kelas Marcel selalu menggandeng tangan Xania. Membuat mata
yang memandang mereka iri karena tak mempunyai pacar sehebat Marcel. Xania
memang beruntung memiliki Marcel, selain bintang lapangan Marcel juga idola di
sekolah.
Jam
dinding baru menunjukan pukul 6.25 tetapi SMA Al-Ma’ata sudah dipenuhi
siswa-siswi yang hendak menuntut ilmu. Kelas XII-BAHASA-2, kelas dimana Xania
menuntut ilmu juga terlihat ramai.
Marcel
mengantarkan Xania sampai ke kelasnya. “aku masuk kelas dulu yaa?” pamit Xania
pada Marcel.
“iyaa,
aku ke kelas dulu. Nanti istirahat aku jemput kamu. Daaa,” Marcel pergi
meninggalkan Xania. Tak lupa ia melambaikan tangan pada peri cintanya yang
telah kembali itu.
†††
“ciee
ciee yang udah baikan,” goda Vanya saat Xania menaruh tasnya di laci meja.
“ceritanya masalahnya udah selesai nih?”
“apaan
sih lo Van, thanks banget yaa lo udah bantuin gue. Nggak tau deh gimana jadinya
kalo gue nggak punya sahabat sebaik en sepinter lo,” puji Xania sambil memeluk
Vanya secara paksa.
“eist!
Siapa bilang gue bantuin lo cuma-cuma?”
“nah
trus? Lo minta bayaran gitu? Jahat banget lo!”
“bayarannya
murah aja kok....” Vanya membisikan sesuatu kepada Xania.
Xania
hanya meringis geli. “oke deh. Bisa bisa!” jawabnya bersemangat.
†††
Sorak-sorak
penonton meramaikan lapangan futsal SMA Al-Ma’ata. Hari ini seperti minggu-minggu
sebelumnya, tim futsal SMA
Al-Ma’ata melakukan latihan seperti biasanya. Namun hari ini ada yang berbeda, tim tuan rumah
kedatangan tim futsal dari sekolah lain. Rupanya hari ini ada uji coba antara
SMA Al-Ma’ata melawan SMA N 75.
Tim
futsal SMA N 75 sudah terkenal hingga seluruh Jakarta. Tim yang memegang piala
Gubernur 3 tahun berturut-turut ini terlihat sama dengan tim futsal pada
umumnya hanya saja pemain dari SMA N 75 merupakan pemain futsal yang sudah
memperkuat tim futsal junior Indonesia 2 tahun belakangan ini.
Tim
futsal Al-Ma’ata yang dikapteni Marcel sudah terlihat di bance. Tim yang
terdiri dari 10 orang itu bersikeras untk dapat mengalahkan SMA N 75. Terlihat
wajah-wajah gugup dari masing-masing pemain.
“ayooo
Marcel kamu pati bisaa!!” suara cempreng Xania mendominasi sorakan penonton.
“hhhuuuuuu!”
sorak penonton lain bebarengan.
“bikin
malu aja lo!”kata Vanya sambil menepuk pelan bahu Xania.
“biarin!
Lo juga semangatin tuh gebetan baru lo. Cieee ciiee kecengannya bule sekarang.
Hahaha” goda Xania.
†††
Peluit
tanda berakhirnya pertandingan telah ditiup, namun papan skor masih menunjukan
angka 0-0. Tambahan waktupun telah diambil namun kedudukan masih seri. Akhirnya
baik tim Marcel maupun tim lawan melakukan adu pinalti.
Satu
persatu pemain menendang ke gawang. Skor saat ini 3-3. Hanya tinggal satu orang
lagi dari masing-masing. Tim SMA N 75 menyiapkan diri di depan gawang.
Bola
melambung ke sudut kanan gawang. Dan .... plek!! Bola hanya memantul di sudut
kanan gawang. Kesempatan untuk Marcel.
Marcel
bersiap di depan gawang. Ia menyentuh bahu kiri dan kananya secara bergantian
menggunakan ibu jari dan telunjuk dan terakhir mencium kedua jari itu dan
menunduk. Persis sebagaimana kaum katolik berdoa. Marcel menarik nafas
dalam-dalam dan menahannya.
Ia
mengambil ancang-ancang dan menendang bola ke arah kiri. Bola mengelinding ke
arah kiri namun kiper SMA N 75 terkecoh dengan gerakan kaki Marcel. Bukanya
menangkap bola ke kiri ia justru berlari ke arah sebaliknya. Saat akan berbalik
langkahnya terlambat dan....
“GOOOOOOLLLLL!!”
sorak-sorak penonton. 4-3 untuk kemenangan tim Marcel.
Dido,
Kenzo dan teman lainya mendatngi Marcel dan memeluknya. Meskipun hanya uji coba
namun ini merupakan uji coba penting bagi Marcel. Ia kemudian di angkat dan di
bawa ke tengah lapangan.
†††
“yeee!!”
seru Xania kegirangan.
“udah
dong senengnya. Udah sejam kali kamu tepuk tangan terus,” ejek Marcel.
“aku
bangga nih ceritanya. Kok kamu gitu sih?” Xania cemberut.
“iya
deh. Makasih yaa udah semangatin aku tadi di lapangan. Coba kamu nggak nonton, nggak akan semangat aku.”
“traktirannya
mana?”
“ayooo!
Kapan”
“besok
sore gimana? Di steak Sabaya? Vanya ajak juga ya? Sama temen-temen kamu juga
ya?” Xania mengusulkan.
“yee
yang mau nraktir siapa yang ngusulin temennya siapa? Hahaha” goda Marcel. Ia
sangat suka melihat wajah Xania yang cemberut.
“yaaayaaya?”
Xania mengkerlingkan genit matanya dan meringis selebar mungkin.
“iya
deh. Apa sih yang enggak buat peri cinta ku” wajah Xania merah merona. Ia
tersenyum dan menundukan kepala. Takut Marcel akan melihat ekspresinya saat
itu.
†††
Steak
Sabaya keesokan harinya...
“ini
yang mau nraktir mana sih?” tanya Vanya mulai gelisah. Sudah setengah jam
Vanya, Xania, Dido, Sari juga Kenzo menunggu Marcel. Dari janjian pukul 18.30
sekarang sudah pukul 19.15.
“udah
kita telat, ee masih ada yang lebih telat,” tambah Kenzo.
“udah
tunggu aja... Nah itu dia,” kata Xania sambil menunjuk Marcel yang kebingungan
mencari seseorang. Kemudian Xania melambaikan tangan dan dibalas oleh Marcel.
Senyum
mengembang diwajah Xania. Tak seperti biasanya Marcel serapi ini. Ia
menggunakan celana jins panjang dan T-shirt hijau muda. Biasanya Marcel hanya
menggunakan celana jins pendek dan kaos oblong jika santai seperti ini.
“sory
sob, gue nemenin Marsya dulu tadi. Udah pada pesen?” sapa Marcel tanpa
basa-basi. Rupanya tak ada yang mendengarkan perkataan Marcel barusan. Tanpa
mengulangi ia langsung memesan makanan begitu pula Xania dan Vanya dan lainya
kemudian mereka bercanda bersama.
Xania
merasakan getaran disakunya.
“hahaha.
Tunggu deh. Halo?...maaf ini siapa? Halo? Halo?!! Sialan!” umpat Xania.
Mendengar
Xania mengumpat Marcel memandang heran, bahkan tidak hanya Marcel tetapi juga
Vanya dan Kenzo.
“siapa
Xan?” tanya Marcel dan Vanya kompak.
“nggak
tahu. Orang rese kali. Udah lanjutin aja,” jawabnya santai.
†††
Tak
lama kemudian pesanan mereka pun datang. Xania mengambil makanan yang telah
dipesannya. Saat suapan pertama, getaran terasa lagi dari sakunya, namun kali
ini lebih pendek. Seperti sebuah pesan.
From :
+62889855
Subyek : AWAS!! Makanan lo udah gue RACUN!!
Melihat
pesan singkat dari ponselnya Xania langsung tersedak. Ia kemudian mendorong
makanannya hingga jauh dari pandangannya. Xania kehilangan nafsu makan.
“kamu
kenapa?” tanya Marcel cemas.
Tanpa
menjawab Xania memberikan ponselnya kepada Marcel. Marcel hanya diam melihat
pesan singkat itu. Dari nomor yang dulu pernah meneror Xania dan menyebabkan ia
dan Xania sempat putus.
Tanpa
pikir panjang Marcel menghubungi nomor itu.
Tut...tut...tut..
Sekian
kali Marcel mencoba namun tak satupun panggilannya digubris. Sialan ! Batin Marcel. Ia tak mau
kejadian dulu terulang lagi.
Setelah
ditunggu lama ternyata nomor tadi tidak mengirim pesan singkat yang berupa
teror lagi. Mereka kemudian meneruskan makan-makannya. Kecuali Xania, ia tak
berselera lagi menyantap steak favoritnya. Ia terus mengaduk minumannya yang
sebenarnya tidak perlu diaduk.
From
: +62889855
Subyek: chiken lo beraninya ngadu! Gue akan
rebut apa yang udah lo rebut dari gue! Tunggu 5 menit lagi!
Satu
lagi pesan singkat dari nomor yang sama. Kali ini Xania tidak memperlihatkannya
pada Marcel. Ia bersikap santai namun ketar-ketir. Jujur, ia takut hal yang
dulu akan terulang lagi.
†††
“ciee
ciee Kenzo Vanya. Hahaha bisa barengan gitu. Jodoh itu berarti,” ejek Xania.
Sedari tadi bahan bulanan hanya Vanya dan Kenzo. Mereka berdua bersamaan
mengambil saos dari meja, bersamaan menghabisakan makanan, bahkan saat akan ke
toilet mereka juga bersamaan.
“apaan
sih lo Xan!”
“alah
semua juga udah tahu lo berduan pedekate. Iya kan ya kan??” tebak Xania.
Vanya
dan Kenzo hanya bisa diam. Mereka seperti ter-skak mat. Wajah Vanya mulai merah
karena malu
“hahahaha”
semua tertawa bersama.
†††
Tak seperti biasanya Marcel terlihat grusah-grusuh. Ia seperti
sedang terburu-buru.
“lo kenapa sob? Gue lihat dari tadi lo liat jam terus?” tanya Kenzo,
ia mulai tak tahan dengan tingkah Marcel yang sedikit-sedikit melihat jam
tangannya.
“aa anu.. sebenernya gue ada janji hari ini. Aku pulang dulu gimana
Xan?” Marcel meminta persetujuan pada Xania.
“emang
kamu ada janji sama siapa?”
“Maaaarhh...
Mama Xan, dia minta dianterin cari kebaya katanya,” terlihat sekali di mata
Xania bahwa Marcel berbohong.
“ya
udah kamu pulang aja. Kita masih mau nongkrong dulu,”
“ya
udah aku duluan yaa. Kamu jangan kemaleman. Sob gue pulang duluan ya,”
Marcel
meninggalkan teman-temannya dengan tergesa-gesa. Ia merasa bersalah karena
sudah membohongi Xania.
From
: +62889855
Subjek :
gw bilang juga apa, gw ambil Macel dari lo kan?
Pesan
singkat dari nomor yang sama. Xania hanya membacanya dalam diam. Ia tahu betul
mata Marcel saat berbohong padanya. Kenapa
Marcel bohongin gue? Sebuah pertanyaan terbesit di benak Xania. Ia paling
benci dibohongi, apalagi dengan orang yang sudah ia percayai. Mungkin Marcel
punya alasan mengapa ia berbohong pada Xania.
†††
Xania
sudah melupakan kejadian seminggu yang lalu, kejadiaan saat Marcel
membohonginya. Kini ia dan Marcel tengah menikmati sunset di danau favorit
mereka. Langit yang jingga menghiasi bumi. Suasana yang teduh di sekitar danau
menambah indah pemandangan di depan mata. Heningnya air danau menambah hangat
suasana.
Marcel
menarik tangan Xania ke genggamannya, namun Xania melepas pelan tangannya.
“Marcel?
kamu mau janji satu hal ke aku?”tanya Xania. Matanya menatap dalam bola mata
Marcel.
“apapun,
selama aku masih bisa nepatinnya. I promise.”
“kamu
jangan pernah bohongin aku lagi yaa? Kalau ada apa-apa kamu harus ngomong sama
aku. Aku nggak akan marah kalau kamu ngomong jujur sama aku. Aku bakalan lebih
marah kalau kamu bohongin aku. Kamu taukan, aku paling benci sama orang yang
suka bohong,” terang Xania panjang lebar.
Marcel
diam sesaat, “I promise that I never lies to you,” kemudian mereka saling
mengikatkan kelingking.
Hari
sudah semakin petang. Taman juga sudah mulai sepi. Beberapa orang tampak
bergegas untuk pulang. Xania dan Marcel berjalan menyusuri jalan setapak dengan
diam. Rupanya janji yang mereka buat mendinginkan suasana.
Xania
terus menatap ke bawah, ke bebatuan yang yang berserakan. Ia merasa masih ada
sesuatu yang disembunyikan Marcel. Xania mengenal benar Marcel. Marcel tampak
gugup saat mengucapkan janjinya.
Xania
terus berjalan menunduk. “aaaww”Xania tak sengaja menginjak batu yang lumayan
besar hingga kakinya tersandung. Ia terhuyung kebelakang dan akan jatuh. Hap!!
Marcel dengan sigap menarik tangan Xania dan menahan tubuhnya.
Marcel
memandang wajah Xania. Memandangi kecantikan alami Xania. Kejadian itu
berlangsung cukup lama.
“hhmm
maaf.” ucap Marcel seraya melepaskan tubuh Xania.
Xania
hanya tersipu malu dan berlari kecil meninggalkan Marcel.
“heeeii!!
Tunggu,” teriak Marcel.
“kejar
aku kalo bisa!”
†††
“hai
hai semua. Masih setia aja nih dengerin radio sinyalgama hoho, harus setia
dong. Oke seperti biasa, hari ini kita buka buat yang mau kirim salam atau
reques lagu buat si doi. Ngomong ngomong nih, tema kita hari ini kesetiaan
brada. So kita tunggu di nol lapan tiga...”suara penyiar yang sudah tak asing
lagi bagi Marcel. Kini ia sedang gundah memikirkan janjinya pada Xania minggu
lalu.
Sebentar
lagi ujian kelulusan dan Marcel tak ingin masalahnya membuat ia tak fokus pada
ujiannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan masalahnya dengan Xania. Ia ingin cepat-cepat mendapat kepastian.
Selama
ini ia selalu risau. Ia tak tahu betul apa yang sebenarnya menjadi kendala
hubungannya dengan Xania kini. Hubungannya tak seindah dulu. Ia seperti
kehilangan sosok Xania.
Tok
tok tok. Terdengan suara pintu diketuk. “masuk,”
“kenapa
lo?” tanya Marsya. Rupanya Marsya yang datang.
“gue
nggak papa. Gue cuma heran, kenapa Xania sekarang bawaannya curiga mulu ya sama
gue? Gue jadi..”
“jadi
gara-gara cewek itu lagi? Gue udah bilang berapa kali sih sama lo? Cewek itu
banyak! Lo jangan cuma buka hati buat satu orang, coba aja lo move on,”
“lo
kira gampang?! Gue sayang sama Xania Ca. Ngomong emang gampang!” Marcel
kemudian meninggalkan Marsya.
†††
“lo
bener-bener nggak kenal Marsya, Van?” tanya Xania. Ini sudah kesekiankalinya
Xania bertayanya dan semua pertanyaannya sama.
“gue
nggak kenal, sumpah dah. Lo sadar nggak sih sebenernya?”
“sadar
apaan?”
“lo
sadar nggak, kalo Marcel baru kenal sama Marsya nggak mungkin banget mereka
bisa akrab trus mesra kayak kemaren. Iya nggak sih?”
Xania
melonjak bangun dari tempat tidurnya. “bener juga. Marcel kan nggak gampang
akrab sama cewek. Berarti mereka udah lama kenal dong?”
Xania
dan Vanya terus menebak kemungkinan hubungan Marcel dan Marsya. Mulai dari
teman SMP yang jelas-jelas tidak mungkin karena Vanya satu SMP dengan Marcel,
teman SD yang lebih tidak masuk akal lagi karena SD Marcel hanya menerima siswa
laki-laki, hingga selingkuhan.
“gue
punya ide!” teriak Vanya “begini Xan...” Vanya membisikan idenya pada Xania,
sementara Xania hanya manggut-manggut seolah-olah ia mengerti.
“good
idea Van,” sorak Xania.
Mereka
kemudian menyusun siasat mengenai misi rahasia.
†††
Seperti
Jumat sebelumnya, kelas XII-BAHASA-2 dan kelas XII-BAHASA-5 mata pelajaran
olahraga pada jam ketiga. Saat itu ialah saat yang paling ditunggu-tunggu
Xania. Ia dan Vanya hari ini berencana untuk bolos olahraga dan melakukan misi
rahasianya.
Saat
kelas XII-BAHASA-5 keluar untuk olahraga, Xania, Vanya juga Dido akan diam-diam
mengendap ke bangku Marcel. Mereka berpura-pura mengobrol bersama agar tidak
mencurigakan, karena Dido yang notabene pemilik kelas berada bersama mereka.
“lo
yakin berhasil?” tanya Dido ragu.
“kalo
belum dicoba mana tau hasilnya!” jawab Xania ketus sambil terus merogoh tas
Marcel. “ketemu!”
Rupanya
Xania diam-diam meminjam ponsel Marcel. Ia mencari kontak Marsya dalam
phonebook Marcel. Ia menekan beberapa tombol. “kok nggak ada yaa?”
“nggak
mungkin lah, gimana mereka bisa janjian kalo Marcel nggak nyimpen nomer tu
cewek,”bantah Dido.
“bener
juga Xan. Coba lo cari dikontak BBMnya, kalo nggak lo cari di inbox atau
outboxnya,”tambah Vanya.
“nggak
ada! Udah gue cari. Kelamaan, mending lo bacain nomernya deh dari hp gue,”
“nol
lapan...” Vanya membacakan sederet angka.
Xania
mengetikan suatu pesan singkat untuk Marsya menggunakan ponsel Marcel. Misinya
sedikit demi sedikit telah sukses.
“tinggal
send aja nih.” Klik! Xania menekan tombol sen dan memsukan kembali ponsel
Marcel.
Messages
send
Laporan
dari ponsel Marcel.
Xania,
Vanya juga Dido segera meninggalkan kelas dan menuju UKS. Mereka sama-sama ijin
tidak mengikuti jam olahraga karena sakit.
†††
Di
tempat lain
Marcel
berlari pelan menyusuri lapangan sepak bola. Ia berharap menemukan Xania yang
seharusnya berada juga di lapangan. Matanya terus mencari keberadaan Xania.
“Xania
nggak ikut sob,” kata Kenzo yang berlari dibelakang Marcel.
“kenpa
dia nggak ikut? Bukanya hari ini ada penilaian? Vanya?”
“sama.
Mereka berdua di UKS, katanya sih sakit perut.”
“aneh.
Dido juga tiba-tiba sakit perut tadi. Curiga gue,”
“kalo
Xania sama Vanya cewek nah Dido? Bulanan juga kali hahaha” jawab Kenzo
sekenaknya.
“hahaha
sialan lo!”
Marcel
mulai curiga dengan Xania dan Vanya. Mereka tidak biasanya mangkir jam
olahraga. Keduanya sama-sama hiperaktif dan menyukai jam olahraga. Namun Marcel
tak ambil pusing, ia tak mau menuduh pacarnya sembarangan selama belum ada
bukti.
†††
†sepuluh†
Hari
ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Xania. Ia dan kedua temannya akan
melakukan misi rahasia yang sudah ia rencanakan matang-matang bersama Vanya.
Dengan mengajak Dido sebagai supir.
Vanya
mengendarai motornya menuju rumah Xania, sementara Dido sudah standby sejak
sore tadi. Dido dan Xania sudah menunggu Vanya di dalam mobil Dido. Tak lama
setelah itu Vanya pun masuk.
“sory
gue tadi makan dulu hehe,” Vanya nyengir. “mobil baru Do?”
“bukan
punya abang gue, kalau pake mobil gue bisa gagal rencana kita. Kacanya bening, kayak
yang punya hahaha”
“yeee
pede lo! Udah buruan jalan, keburu pergi tu nenek lampir,” kata Xania tak
sabar.
Dido
melaju mobilnya menuju taman kota. Di sinilah nanti misi rahasia Xania
dilaksanakan. Sementara Dido fokus menyetir, Xania dan Vanya sibuk mengabsen
barang bawaan. Mulai dari kamera digital, topi, masker, kacamata hitam,
selendang, buku catatan dan lainnya.
“buseet
lo mau mata-matain orang apa mau piknik sih?” Dido tak tahan juga melihat
barang yang dibawa Xania dan Vanya.
“ini
buat penyamaran nanti Dido,” jawab Vanya.
“sesuai
perjanjian gue cuma jadi supir kalian, gue nggak mau ikutan nyamar kayak orang
gila!” tolak Dido.
“iyaa
bawel. Lo cukup pake topi biar nggak terlalu mencolok,” tambah Xania.
“emang
dasar wanita.”
†††
Xania
dan Vanya saat ini sedang bersembunyi dibalik semak-semak. Ia sedang mamandangi
Marsya, targetnya. Seperti anak kecil, Xania dan Vanya menggunakan keker agar
Marsya terlihat jelas.
Marsya
sudah terlihat resah menunggu kedatangan seseorang. Ia beberapa kali
mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Dari kejauhan nampak seorang
pria mengenakan celana pendek dan kaos polo menghampiri Marsya.
Xania
melihat menggunakan kekernya “Van itu Marcel,” katanya pelan.
“iya!
Tuh kan gue bilang juga apa, cepetan foto Xan,”perintah Vanya.
Cepat-cepat
Xania mengambil kemera digitalnya dan memotret beberapa foto Marsya dan Marcel.
Terlihat Marcel berbincang sejenak dengan Marsya hanya sebentar kemudian mereka
beranjak pergi dari kursi taman.
“halo
Do? Cepetan lo nyalain mobil lo. Target mau pergi... ayo Van buruan, keburu
jauh!” terlihat Xania tak sabar.
“iyaa
bawel!”
Mobil
Dido mengikuti motor ninja hitam milik Marcel. “sial sial siaaal! Tuh cewek
ngapain sih pake pegangan Marcel! ngapain coba pake motor? Gue aja jarang
diboncengin naik begituan!” Xania mengomel tak jelas.
Ninja
hitam itu melaju kencang ditengah padatnya jalan. Dido yang menggunakan mobil
sulit untuk mengejar Marcel.
“tunggu!
Bukanya ini jalan ke rumah Marcel?” tanya Vanya, “ngapain Marcel bawa tu cewek
ke rumahnya? Jangan jangan...” lanjutnya.
“lo
tunggu sini aja Do, gue sama Vanya jalan kaki aja. Biar lebih aman,”
Xania
dan Vanya turun dari mobil Dido. Tak lupa mereka mengenakan kaca mata hitam
serta selendang agar tidak ketahuan. Xania dan Vanya berada di samping gerbang.
Mereka dapat melihat dengan jelas Marcel dari situ.
Marsya
terlihat turun dari motor dan bergegas masuk rumah tanpa memberikan salam.
Sementara Marcel terlihat sedang memasukan motor ke dalam garasi. Ia kemudian
menutup garasi dan duduk di teras.
“ngapain
motornya pake dimasukin?” tanya Xania penasaran.
“mana
gue tau. Kita tunggu aja sampai Marsya pulang,”
“ide
bagus!”
†††
Setelah
lebih dari satu jam menunggu, Xania dan Vanya merasa lelah. Mereka sudah
menguap beberapa kali.
“tuh
cewek ngapain aja sih? Mana lampu tengah udah dimatiin lagi,” Xania hilang
kesabaran.
“apa
jangan-jangan mereka tinggal satu rumah Xan?” tutur Vanya asal.
“HAA!
Bisa jadi tuh Van, jangan-jangan Marsya udah dijodohin lagi sama Marcel,”
“mending
kita pulang aja deh, udah malem. Kasian Dido juga,”
Xania
dan Vanya bergegas menuju mobil Dido diparkir. Saat membuka pintu mobil, tampak
Dido sudah tertidur denga kepala berada pada stir mobil.
“DOO!!
Ayo buruan!” teriak Vanya menggagetkan.
“hooaaamm.”
Dido hanya menguap dan menarik tangannya ke atas seperti sedang pemanasaan saat
olah raga. “jadi kalian dapet info apa” tanyanya penasaran.
“ternyata
Marcel sama Marsya tinggal satu rumah Do,” terang Vanya.
“lo
yakin Van? Bisa jadi mereka sepupu,”
“gue
yakin!” Xania mantap.
“tapi
Dido ada benernya juga sih Xan, setahu gue sih Marcel punya adik perempuan...”
“tapi
namanya Aca bukan Marsya, itu jelas beda benget,” potong Dido.
Sepanjang
perjalanan pulang mereka bertiga terus membicarakan Marsya yang tinggal satu
atap dengan Marcel. Xania kali ini tidak mau menuduh Marcel yang tidak-tidak,
ia tak mau egonya membuat ia harus kehilangan Marcel untuk kedua kalinya. Namun
perkataan kedua temannya ada benarnya, untuk apa seorang wanita yang tidak ada
hubungan darah tinggal satu atap. Sebuah misteri yang membuat tanda tanya besar
di pikiran Xania.
Malam
semakin larut, Vanya memutuskan untuk menginap di rumah Xania sementara Dido
pamit pulang. Sesampainya di kamar Xania, Vanya langsung tertidur lelap.
Sebelum tidur ia mengetikan sebuah pesan singkat entah untuk siapa. Xania masih
tetap terjaga, jam dinding sudah menunjuk pukul 12.05. Hari bahkan sudah
berganti.
Rasa
kalutnya membuat ia keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Ia memutuskan untuk
melakukan salat malam agar hatinya lebih tenang. Selesai salat, Xania langsung
beranjak dan pergi tidur. Rupanya berdoa benar-benar membuatnya lebih tenang
hingga mengantuk dan tertidur.
†††
Xania
celingak-celinguk mencari Marcel di kelasnya. Tak seperti biasanya ia tak
menjemput Xania di kelas.
“Ken!”
panggil Xania pada Kenzo, teman sebangku Marcel. mendengar namanya dipanggil,
Kenzo langsung mendatangi Xania. “Marcel kemana? Seharian gue belum liat dia?”
“gue
yang satu kelas juga belum liat dari pagi, nggak masuk kali,” jawab Kenzo
sekenaknya.
“tapi
tadi ada mobilnya di depan, dia juga janji mau nganterin gue pulang,” Xania
mulai sedih.
“sory
Xan, gue mau ada urusan. Nanti gue sampein ke Marcel kalo lo nyariin. Gue pergi
dulu,” Kenzo pamit dengan muka tak tega dan bergegas meninggalkan Xania.
Sebelum pergi, Kenzo terlihat menulis pesan singkat.
Xania
pergi meninggalkan kelas XII-BAHASA-5 dengan wajah lusuh. Xania memutuskan
untuk pergi ke kantin sendirian. Di kantin Xania hanya ditemani Vanya, sahabat
yang selalu ada di sampingnya.
“XAAAN!!”
teriak Vanya untuk kesekian kalinya.
“ap
apa apa?” jawab Xania terkaget-kaget.
“lo
AB ya sekarang,”
“apaan
tuh AB?”
“agak
budek! Hahah” Vanya terkekek-kekek.
“apaan
sih lo. Kayaknya ada yang Marcel sembunyiin dari gue deh Van,” terang Xania
lirih tanpa terlebih dahulu ditanya.
“lo
yakin?”
“yakin!
Dia udah berubah 180 derajat semenjak gue sempet putus. Apa jangan-jangan waktu
gue sempet putus dia cari cewek baru ya Van?” tanya Xania memelas.
“mana
gue tahu. Apa lo nggak pikir positif gitu, siapa tahu dia ada les. Ujian
tinggal menghitung hari lagi Xan,”
“lo
bener juga sih, tapi..”
“mending
lo jangan terlalu mikirin Marcel dulu deh, lo nggak mau kan cita-cita lo kandas
cuma gara-gara cowok?”
Xania
bungkam. Perkataan Vanya memang ada benarnya. Ia tidak boleh menuduh Marcel
yang tidak-tidak, selagi belum ada bukti. Mungkin Marcel memang serius belajar.
Mereka sudah berjanji untuk sama-sama kuliah di salah satu sekolah sastra
terbaik di Prancis.
“gue
kayak gini soalnya gue nggak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya Van. Gue
sayang sama Marcel,” ucap Xania kemudian meninggalkan Vanya.
Melihat
Xania pergi, Vanya cepat-cepat mengeluarkan ponselnya. Ia menekan salah satu
tombol di ponselnya.
“sip!
Dapet satu.” katanya.
†††
Marcel
terus diam meskipun kedua temanya, Dido juga Kenzo sedang asik bermain PS
dirumahnya. Ia masih terbayang akan suatu hal. Ia harus segera mengakhiri
permainanya sebelum ia benar-benar kehilangan Xania.
Tok
tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Marcel
berdiri dan segera membuka pintu. rupanya tamu yang datang ialah Vanya.
“rame
amat, udah pada dateng?” tanya Vanya ketika memasuki ruang tamu Marcel.
“udah
dari tadi. Lonya aja yang telat,”
Marcel
dan Vanya menaiki tangga untuk menuju balkon kamarnya. Marcel dan Vanya
terlibat pembicaraan yang cukup serius. Melihat Marcel dan Vanya berdebat, Dido
juga Kenzo menghentikan permainan mereka dan menghampiri Marcel dan Vanya.
“Vanya
bener sob, apa lo nggak sayang sama Xania sampe lo tega nglakuin hal semacam
itu?” Dido mulai angkat bicara.
“justru
karna gue sayang sama dia Do, gue rela lakuin hal ini! Dan cuma itu caranya
supaya gue nggak ngerasa sia-sia, gue harus tau sejauh mana Xania sayang sama
gue,” Marcel bersikeuh-kueh.
“dengan
cara masa depan sebagai korban? Lo tau akibatnya kalo sampe Xania stres? Dia
bisa nggak lulus!” Vanya tak mau kalah.
“Van,
apa salahnya sih bantu Marcel. Dia udah berkorban banyak cuma buat Xania. Lo
juga tau gimana parahnya Marcel waktu Xania koma. Apa itu belum cukup?” Kenzo
menenangkan suasana.
“tap
tapi...” Vanya berpikir sejenak. “oke oke. Asal lo nggak mempermainkan Tuhan lo
hanya demi cinta, gue mau bantuin lo,” Vanya memberikan pilihan ke Marcel.
Marcel
diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Vanya menyebut nama Tuhan. Ia sama sekali
tak bisa membohongi perasaannya, ia lakukan semua ini memang semata-mata karena
cintanya kepada Xania. Ia merasa berdosa, ia mencintai Xania melebihi cintanya
kepada Tuhan.
“okee.
Tapi sebelum itu, gue mau lo semua ajarin gue. Sebelum gue bener-bener salah
jalan,” ujar Marcel.
Setelah
mebuat keputusan yang benar-benar membuat Marcel lega, ia kembali untuk
bersenang-senang bersama kedua temannya. Setelah mendapat kepastian, Vanya
segera pamit untuk pulang ke rumah.
Marcel
tak tahu, hal yang sepele justru bisa membuat Xania merasa kecewa. Yang jelas
Marcel sudah berkorban banyak untuk Xania. Tinggal menunggu waktu yang tepat
untuk menjelaskan semuanya. Biarkan waktu yang akan mengakhiri semua
pengorbanannya.
“gue
udah setengah jalan, nggak mungkin gue mundur lagi,” ujarnya dalam hati.
†††
Sebentar
lagi Ujian Nasiaonal untuk siswa kelas XII akan segera berlangsung. Hanya
tinggal hitungan jari. Semua siswa-siswa SMA Al-Ma’ata tak terkecuali Marcel
dan Xania sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional. Tak ada
satu siswapun yang ingin gagal dalam Ujian Nasional.
Marcel,
Xania, Vanya, Kenzo juga Dido berencara untuk belajar bersama di rumah Xania.
Di rumah Xania itu juga Marcel akan memulai rencananya. Ia berharap Xania dapat
menerima keputusannya.
Semua
sudah berkumpul di ruang tamu Xania kecuali Vanya, seperti biasanya ia selalu
terlambat. Xania tampak serius membaca buku bertuliskan INDONESIA, mungkin buku
bahasa Indonesia.
“Xania,
aku mau ngomong sama kamu,” suara Marcel terdengar, memecah keheningan, lirih.
“ngomong
aja,” jawab Xania sembari menurunkan buku dari hadapannya. Ia kini menatap
Marcel.
“sebentar
lagi kita kan Ujian Nasional, aku nggak mau hubungan kita nggg...”
“aku
ngerti kok, pasti kamu mau serius dulu kan sama UNAS? Kamu mau kita break
dulu?” Xania memotong perkataan Marcel. ia seakan bisa menebak jalan pikiran
Marcel.
“ak...aku...maksut
aku bukan gitu. Kita fokus dulu sama UNAS, kamu nggak usah terlalu mikirin aku.
Aku gimana-gimana kamu nggak usah pikirin. Kamu fokus sama UNAS aja,” jelas
Marcel. Ia tak sanggup jika harus menatap Xania. Ia terus menunduk.
“okee.
Selama UNAS ini aku nggak bakal gangguin kamu, terserah kamu mau ngapain,”
Suasana
menjadi hening. Diantara Marcel, Xania, Dido juga Kenzo tak ada yang berani
angkat suara. Sejak tadi Dido dan Kenzo pura-pura tidak mengindahkan Marcel dan
Xania. Meskipun tak ada hubungan, Dido dan Kenzo benar-benar merasa tak tega
melihat wajah Xania. Meskipun Xania berusaha ihklas namun matanya jelas-jelas
menunjukan kekecewaan.
“HAAAIII
SEMUA!! Maaf yaa gue telat, udah sampe mana kalian belajarnya?” suara cempreng
yang tak asing dan tak bukan, Vanya. Ia datang di saat yang tepat. Mungkin
sedetik saja Vanya terlambat lagi, ruangan itu sudah menjadi kuburan.
“naaah
ini dia yang kita tunggu. Noh Kenzo dari tadi galau mulu lo nggak
nongol-nongol,” kata Dido. Mencoba mencairkan suasana yang sedingin es ini.
Vanya
sebenarnya sudah datang sejak tadi. Ia berdiri di balik pintu. Ia tak tega
melihat langsung Xania. Vanya sengaja belakangan, karena ia tahu Marcel pasti
akan membekukan suasana.
Mereka
kembali meneruskan belajar dengan canda dan tawa seperti biasanya. Vanya yang
selalu lemot menjadi bulan-bulanan. Sementara Dido yang asal jeplak menambah
hangat suasana. Yang hilang hanya tawa Xania yang keras. Ia hanya tertawa
seadanya, seperti kotak persediaan tawanya menipis.
Raut
wajah Xania terlihat kekecewaan. Meskipun senyum menggembang namun matanya
menangis. Ia tertawa namun matanya berlingan air mata yang siap jatuh dari
pelupuk matanya.
†††
Radio
seperti sebelumnya selalu menjadi teman Xania saat ia kesepian seperti sekarang
ini. Ditemani secangkir cokelat dingin ia duduk di jendela sambil mendengarkan
radio. Alunan lagu sedikit menenangkan perasaan Xania yang labil saat ini.
Ujian
Nasional tinggal satu hari lagi. Xania tak ingin ia gagal karena masalah cinta.
Ia terus mencari solusi agar belajarnya selama ini tidak sia-sia.
“nah
kembali lagi di sinyalgama fm. Radio paling gaul seantero jagad. Hahaha, hari
ini khusus buat semua anak SMA yang besok Senin mau UNAS tapi masih juga
mengalaauu, esge punya tips-tips yang keren abis dan dijamin bisa menghilangkan
galau kamu,”suara khas penyiar radio langganan Xania terdengar. Seperti
biasanya ia secara tidak langsung akan menghibur Xania dengan ocehannya yang
terkadang tak masuk diakal. “pertama nih, buat lo yang diputusin cowok...”Xania
mendengarkan sambil terkadang menyeruput cokelatnya.
Pertama,
mulai dari yang galau karena diputusin pacar hingga yang cintanya tidak sampai
kepada sang pujaan diulas oleh si penyiar radio. Saran yang tidak bermutu namun
justru membangkitkan semangat.
“...terus
yang terakhir. Yang galau karena pacar berubah disaat yang tidak tepat seperti
ini..” nyees Xania membesarkan volume radio. Ia mendengarkan dengan seksama
saran yang mungkin cocok untuknya.
“...gampang
aja lo tinggal googling, masukin kata kunci ‘cowok cakep’. Nanti kalo udah
ketemu, lo pilih deh mana cowok yang tepat, buat jaga-jaga aja sih siapa tau
mau move on...” mendengar saran si penyiar Xania tertawa, ia bahkan lupa akan
Marcel.
“...intinya
nih ya listeners, buat kamu para remaja, nggak usah deh terlalu mikirin pacar kamu. Inget masa depan ada di
tangan kamu, kalo kamu gagal cuma di UNAS besok sih masih bisa diperbaiki, tapi
jangan sampai kamu mempertaruhkan masa depan demi orang yang kamu cintai.
Percaya deh, kalo ending itu pasti bahagia so tunggu apa lagi. Buruan isi
pikiran kamu buat hal yang positif, jangan sampai menyesal listeners...” kalimat
yang sebenarnya singkat namun berarti. Penyiar itu benar, Xania kini sadar. Ia
mulai tersenyum. Ia harus tetap menghadapi ujian yang menantinya esok. Hanya
dia yang mengetahui siapa yang akan menang. Ia atau rasa sedihnya.
†††
Ujian
Nasional bagi siswa-siswi kelas XII sedang berlangsung. Semua siswa SMA
se-Indonesia sedang berjuang. Semua perjuangannya selama tiga tahun belajar
harus diakhiri dalam waktu empat hari.
Wajah
tegang menghiasi ruang 9 di SMA Al-Ma’ata, yaitu kelas dimana Xania menempuh
ujian nasional. Xania terlihat serius mengerjakan soal UNAS di mejanya, tak
sedikitpun terlihat ia sedang merasa galau ataupun sedih. Ia terlihat sangat
yakin mencoret-coret lembar jawab.
Sementara
itu, di ruang 20, ruang dimana Marcel menempuh ujian nasional. Lingkaran hitam
di sekitar matanya terlihat jelas seperti habis begadang semalaman. Meskipun
terlihat bimbang dan sesekali melamun, Marcel tetap serius mengerjakan soal. Ia
mantap melingkari lembar jawabnya.
Marcel
dan Xania mempunyai tujuan yang sama setelah Ujian ini selesai, yaitu
menyelesaikan hubungan mereka. Tetap berlanjut ataukah tak bisa berlanjut lagi
seperti dahulu.
†††
Malam
sebelum Ujian Nasional...
Marcel
berdiri di balkon kamarnya. Ia memandang langit yang sepi. Hanya terlihat bulan
sabit dan sedikit bintang. Ia merasa alam merasakan kesepian dirinya. Ujian
Nasional tinggal besok dan sampai sekarang ia masih ragu akan keputusan dan
rencananya.
Angin
malam yang dingin berhembus. Sedingin hati Marcel kini. Ia menutup jendela
balkon, berbaring di tempat tidur dan memandang langit-langit kamarnya. Jam
dinding sudah menunjukan pukul 23:37 namun mata Marcel belum juga bisa
terpejam.
Marcel
memiringkan kepalanya, di meja terdapat fotonya bersama Xania saat melihat
festival layang-layang tahun lalu. Ia melihat Xania begitu bahagia bersamanya.
Kebahagiaan yang jarang dirasakan Marcel belakangan ini.
“come
on Marcel, lo nggak boleh kecewain orang-orang yang udah ngedukung lo! Lo harus
bisa, demi Xania, Marcel. ayolah!” kata Marcel pada dirinya sendiri.
†††
†sebelas†
Ujian
Nasional yang berlangsung selama lima hari telah usai. Wajah-wajah gembira
bertaburan di SMA Al-Ma’ata. Mereka merayakannya dengan makan-makan bersama di
kantin. Perang telah usai, hanya tinggal menanti detik-detik kemrdekaan.
Pengumuman
kelulusan hanya berselang satu bulan. Waktu yang cukup lama untuk menanti.
Seperti SMA lainnya, SMA Al-Ma’ata juga mengadakan prom night. Di SMA
Al-Ma’ata, prom night biasanya diadakan pada hari kesepuluh setelah Ujian Nasional
berakhir. Seperti biasanya, disetiap prom night pasti akan ada queen dan king
prom namun di SMA Al-Ma’ata lebih kenal dengan sebutan mis Alma dan mr Alta.
Semua
pasangan pasti ingin mendapatkan gelar-yang sebenarnya tidak penting-itu.
Mereka ingin mendapatkan gelar bersama sang kekasih hati atau bagi yang tidak
mempunyai pasangan, ia ingin mendapatkan gelar bersama si gebetan. Tak
terkecuali Marcel dan Xania. Semenjak naik kelas XII, mereka ingin sekali
mendapatkan gelar sebagai mis Alma dan mr Alta.
Marcel
sudah mempunyai rencana agar ia dapat mewujudkan keinginan Xania. Sebagai ketua
prom night, ia ingin membuat acara prom terbaik selama prom night diadakan di
SMA Al-Ma’ata. Waktu Marcel terkadang habis untuk rapa panitia prom night. Ia
sampai tidak sempat untuk bersama Xania, bahkan ia lupa akan rencananya.
†††
“lo
nggak bisa lupa gitu aja dong! Xania udah ngalah buat ngejaga perasaan lo! Dia
nggak mau dikatain manja!...” Vanya meledak-ledak. Ia marah sekali saat
bertanya pada Marcel mengenai rencanya. Dan dengan enteng Marcel menjawab,
lupa!
“gue
ketua Van! Lo harusnya ngerti posisi gue! Jangan egois lo! Mentang-mentang
Xania sahabat lo terus elo main nyalahin gue git...” Marcel belum selesai
menjelaskan namun sudah dipotong Vanya.
“ooo
jadi lo mentingin prom? Okee! Siapa yang mulai mau ngetes Xania? Apa lo udah
nggak percaya lagi sama Xania? Lo sadar nggak? Lo cuma dikomporin sama Marsya!
Pengorbanan Xania buat lo apa itu belum cukup buat ngebuktiin sayangnya ke
elo?”
“gue
cuma ragu sama Xania, bukan nggak percaya. Lo nggak ngeliat pengorbanan gue
Van! Buka dong mata lo! Xania yang berubah, dia gampang curiga, buktinya dia
sama lo bututin gue kan? Marsya nggak ada hubungannya sama semua ini. Gue cuma
pengen ngetes apa rasa sayangnya Xania ke gue nggak berubah dan gu...”
Braaak
Terdengar suara tong jatuh, seperti tertabrak.
“Xania,” kata Vanya dan Marcel bebarengan. Tanpa berpikir panjang, Marcel
segera mengejar Xania. Ia tak mau Xania salah sangka dengan perkataannya.
†††
Xania
sudah berdiri sejak lima menit yang lalu. Saat ia melewati koridor dekat
kantin, ia mendengar suara Vanya. Ia berniat untuk menghampiri Vanya, namun saat
menlihat Vanya dan Marcel terlihat bertengkar, ia mengurunkan niat untuk
mendatangi Vanya. Ia berniat untuk menunggu di kantin, namun mendengar namanya
disebut ia berhenti dan bersembunyi untuk mendengarkan.
Mata
Xania pedih melihat apa yang keluar dari mulut Marcel. Marcel mengetes rasa
sayang Xania. Tak terbesit sedikitpun Marcel akan melakukan hal itu. Xania terus
mendengarkan dengan seksama, sampai-sampai ia tak sadar telah menjatuhkan tong.
“tong
sialan!” umpatnya dalam hati.
Melihat
Vanya dan Marcel menyadari keberadaan Xania, ia segera berlari. Ia tak
menyangka Vanya akan berbohong padanya dan menyembunyikan sesuatu. Xania terus
mendengar namanya dipanggil, namun ia tak menghiraukannya.
“xaniaa
tunggu! Aku bisa jelasin semua,” sayup-sayup terdengar suara Marcel.
Entah
mengapa langkah kaki Xania terhenti. Mungkin hati nuraninya yang
menghentikannya. Marcel dan Vanya segera mendekat.
“stop!
Jangan jelasin apapun. Gue cuma mau ngomong sama Vanya! Van, thanks banget lo udah
mau jadi sahabat gue...”
“tap...tap..”
“tapi
mulai sekarang lo nggak usah repot-repot lagi bantuin gue buat dia” jari
telunjuk Xania mengarah ke Marcel, “..dan...lo nggak perlu repot-repot lagi
luangin waktu buat gue. Dan buat lo,” kini mata Xania berkaca-kaca menatap
Marcel. “jangan pernah ganggu hidup gue lagi! Gue udah benci sama sikap lo ke
gue! Lo pacaran aja sama Marsya Marsya lo itu!” Xania pun pergi meninggalkan
Vanya dan Marcel yang terbengong-bengong.
Marcel
dan Vanya berjalan sambil tertunduk. Rencana mereka kali ini gagal total, Xania
sudah tahu semuanya-mungkin. Mereka berdua berharap ada keajaiban yang membuat
Xania mau memaafkan mereka. Xania memang benci dibohongi.
†††
Marcel
bodoh, umpat Marcel pada dirinya sendiri. I merencanakan sebuah rencana dan dia
juga yang telah menggagalkannya. Xania salah paham dan dia tidak mau
mendengarkan penjelasan Marcel untuk kedua kalinya. Marcel hanya bisa pasrah
kepada Tuhan.
Marcel
menunduk dengan kedua tangan menengadah. Ia sudah berjanji akan menjaga Xania,
ia juga sudah belajar menjalani hidup seperti yang Xania inginkan. Jika ada
kesempatan lagi, Marcel tak akan mensia-siakannya lagi. Marcel berdoa kepada
Tuhan memohon agar ia dan Xania bisa kembali seperti dahulu lagi.
Selesai
berdoa, Marcel menyalakan radio. Ia mencari tuning sinyalgama. Sepeti yang
sudah-sudah, setiap ada masalah ia akan mencurahkannya kepada semua orang.
“...thanks
Xania buat curhatnya.” suara penyiar radio seperti biasanya.
“sial!
Terlambat gue, kalo dari tadi pasti gue tau Xania curhat apa aja tentang gue,” kata
Marcel, “tunggu berarti Xania juaga dengerin radio..”
Marcel
segera mencari ponselnya dan kemudian mengetikan pesan yang cukup panjang entah
untuk siapa. Wajahnya tampak berharap cemas, semoga Xania mendengarkannya kali
ini.
Xania... maafin ak
kalo ak selalu buat kamu kecewa, tapi yakinlah semua ini aku lakuin bukan tanpa
tujuan. Ak lakuin ini semua buat kamu bisa nerima ak apadanya tanpa kamu tau
sesuatu. Kalo kamu gak ngasih ak kesempatan ke2 ak bakal nunggu kesempatan ke3
kesempatan ke4 sampai ak gak bisa lagi minta kesempatan. Xania plis dengerin
penjelasan ku, kalo kmu mau kmu bisa dateng k taman deket danau jam 4. Ak
bakalan nunggu kmu sampai dateng.
Rupanya
Marcel menulis pesan untuk radio sinyalgama. Marcel berharap Xania akan datang
menemuinya dan mendengarkan penjelasannya. Ini saatnya untuk Marcel membuka
semua rahasia yang ia sembunyikan selama ini.
†††
Xania
meneteskan air mata setelah mendengar pesan dari Marcel yang disampaikan
melalui penyiar radio. Dasar pengecut! Batin Xania. Xania merasa bodoh! Keledai
saja tidak jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya! Apa dia lebih bodoh
dari seekor keledai yang punya image dungu dihadapan semua orang. Xania tak
habis pikir, Marcel meragukan kasih sayang dan cintanya selama ini?
Sampai-sampai ia menguji seberapa besar cinta Xania. Benar-benar hebat!
Xania
sudah mau menerima kembali Marcel walaupun sebenarnya kedua orang tuanya
melarang. Xania tetap pada pendirian bahwa jodoh di tangan Tuhan. Sampai
akhirnya Mama Papanya luluh dan menerima kembali Marcel.
“sepertinya
Tuhan memang bener-bener belum mengijinkan kita sama-sama lagi!”
Xania
mengambil kertas HVS orange kosong di meja belajarnya. Tak lupa ia mengambil
bolpoint gel kesayangannya. Ia mulai menuliskan sesuatu ke kertas kosong itu.
Sesekali ia meneteskan air mata saat menulis. Meskipun Xania masuk kelas bahasa
dan menjadi jurnalis adalah cita-citanya, tetapi ia masih belum fasih dalam
mengolah kata dema kata.
†††
“sampai
kapan lo mau diemin gue Xan?” rengek Vanya.
Sudah
tiga hari Vanya dan Xania diam satu sama lain. Sepertinya Xania masih belum
bisa memaafkan kejadian lalu yang melibatkan Vanya. Bahkan Xania memilih untuk
duduk di sebelah Ibot, cowok paling jorok seantero sekolah. Kalau ada nilai
5-10 tingkat kejorokan, Ibot akan menduduki nilai 9,75 alias nyaris sempurna.
Xania hampir muntah duduk di sebelahnya. Demi agar berjauhan dengan Vanya ia
rela melihat Ibot mengorek-orek telinganya menggunakan bolpoint yang kadang
tanpa sadar bolpoinnya diemut-emut. Hueks!
Hari
ini Vanya sudah bener-bener enek dengan Xania yang seolah-olah tidak
menginginkan keberadaanya. Vanya menghalangi pintu kelas sehingga Xania tidak
bisa lewat.
“Permisi!
Pintu ini milik umum! Gue mau lewat!”
“Gue
nggak akan biarin lo lewat sampai lo dengerin penjelasan gue!” Vanya keukeuh.
“Hebat
yaa lo berdua, kompakan amat. Mau ngatur rencana lagi yaa? Tapi maaf gue udah
muak sama kebohongan yang lo sama Marcel buat! Gue enek! Minggir!” Xania
menepis tangan Vanya yang menghalanginya dan pergi meninggalkan Vanya yang
terdiam.
Astaga
segitu marahnya lo sama gue! Batin Vanya.
Tak
seperti biasanya Xania bisa tahan diam dengan Vanya. Terakhir mereka marahan
adalah saat Vanya tiba-tiba tidak bisa datang ke pesta ulang tahunnya karena
ban motornya bocor. Xania hanya marah selama 2 hari tanpa meninggalkan mejanya
dengan Xania.
Vanya
sedih melihat sahabatnya yang sedang dilanda kegelisahan tetapi tak bisa
membantu apapun. Dan yang paling parah, sahabatnya tidak bisa tersenyum juga
karena ulahnya!
“Cukup
Marcel! Gue nggak mau terlibat terlalu jauh!” Vanya kemudian mengambil tas
sekolahnya dan pergi meninggalkan sekolah. Menuju suatu tempat.
†††
“CUKUP!!”
Vanya memaki Marcel kesekian kali.
“Cukup
untuk apa? Gue tahu lo nggak dukung gue sama Xania setelah insiden dulu, tapi
gue nggak mau berhenti di tengah jalan!”
“Lo
nggak mau berhenti di tengah jalan tapi lo mau kehilangan Xania? Lo nggak Cuma
mempermainkan Xania tapi lo juga mempermainkan Tuhan!”
“Gue
serius Van! Bukan karena Xania! Walaupun akhirnya gue harus kehilangan Xania
gue nggak akan pernah menyesal nglakuin semua ini. Itu murni dari diri gue
sendiri!”
Vanya
dan Marcel adu mulut beberapa saat. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti
mengenai Xania dan Tuhan. Kerena mereka berdua selalu menyebut Tuhan. Tuhan kok
didebatin!
“oke!
Gue harap lo nggak nyesel ngelakuin itu semua. Gue akan bantu sebisa gue”
“Thanks.
Gue mohon lo jangan kasih tau Xania soal ini dan satu lagi... Tolong bikin
Xania percaya lagi sama gue!” Marcel pergi meninggalkan Vanya. Tak lupa ia
membawa tas buku-buku yang temanya hampir sama.
Vanya
hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah salah satu sahabatnya. Terlalu
besar pengorbanan Marcel untuk Xania. Ini bukan lagi cinta remaja biasa!
Terlalu besar pengorbanan maka kepingan saat pengorbanan itu jatuh akan lebih
banyak juga. Semoga pengorbanan Marcel tidak hancur!
Gimana
caranya bikin Xania percaya sama lo, ngomong sama gue aja dia ogah!
†††
Prom
night SMA Al-Ma’ata tinggal menghitung menit sebelum acara dibuka. Siswa-siswi
kelas XII baik program IPA, IPS, maupun bahasa sudah berkumpul di lantai dasar
Hotel Rich Jakarta. Tempat itu sudah disulap bertemakan Fairy Land. Seperti
temanya negeri dongeng, semua siswa berlomba tampil menjadi tokoh raja dan ratu
di negri dongeng. Mulai dari seperti barbie sampai menjadi tokoh antagonis
dalam sebuah dongeng.
Seperti
sudah tradisi tiap sekolah saat prom membawa pasangan mereka. Mulai dari satu
angkatan, satu sekolah hingga beda sekolah pun ada. Yang penting berpasangan!
Kecuali Xania mungkin. Ia datang seorang diri ke pesta prom. Xania tak kalah
dengan yang lain. Ia menggunakan gaun orange selutut yang melekat pas
ditubuhnya yang mungil. Rambut yang biasa ia kucir kuda digelung membulat di
bagian teratas kepalanya dan menggunakan mahkota yang terbuat dari bunga
plastik yang cantik. Membuat Xania mirip sosok peri dalam dongeng.
Vanya
yang sudah resmi jadian dengan Kenzo tentu memilih berangkat bersama pacarnya.
Xania sebenarnya sudah diajak untuk bareng mereka tetapi ia menolak. Oya, Xania
dan Vanya sudah baikan seminggu yang lalu! Mereka sudah kemana-mana bersama
lagi!
Seminggu
yang lalu saat Xania akan makan dikantin, seperti biasanya kantin ramai
penduduk. Xania malas untuk pergi ke kantin sebelah. Ia malas bertemu Marcel.
Xania memesan makanan dan mencoba mencari tempat duduk. Hanya terlihat satu
meja kosong di pojok dekat pohon. Cepat-cepat Xania berlari ke arah meja.
Ternyata meja kosong itu juga dilihat Vanya. Alhasil mereka berdua makan satu
meja dalam diam.
Vanya
meminta maaf pada Xania dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, saat itu
ia tak peduli lagi apa Xania mau mendengarkan. Yang penting sudah bicara!
Alhasil mereka baikan dan urakan seperti biasa.
“Xania!!”
Xania
sibuk mencari-cari asal suara yang memanggil namanya. Pasti Vanya! Penerangan
yang tidak terlalu terang karena acara belum dimulai membuat Xania sulit
menemukan Vanya.
“yee
asal suaranya dimana nengoknya kemana!” Vanya menepuk bahu Xania dari belakang.
†††