PROLOG
“namaku Dheca Mahesa Ray
Asmara, tapi kalian cukup panggil aku Ray. Aku berasal dari SMP Harapan Bangsa.
. .” Kira-kira begitulah awal perkenalan Ray pada masa OSPEK. Ray dan Mella,
sahabatnya, berhasil masuk SMA favoritnya yaitu SMA Dhimika 2. Ray dan Mella
sudah bersahabat sejak masih taman kanak-kanak. Sampai sekarang pun mereka
masih selalu bersama-sama. Meskipun mereka selalu bersama-sama, namun mereka
berdua mempunyai kepribadian yang sangat berbeda. Mungkin perbedaan itu yang
membuat mereka saling melengkapi.
Ajaran awal OSPEK sudah Ray kacaukan. Ray hampir saja
berkelahi dengan ketua OSPEK. Padahal ketua OSPEK adalah -bisa dibilang- orang
yang ditakuti di sekolahnya. Kalau saja waktu itu tidak ada guru yang melerai
mungkin aula sekolah akan menjadi area tinju.
Belum resmi Ray menjadi siswi SMA Dhimika 2, Ray sudah
dapat teguran dari berbagai pihak. Mulai dari calon wali kelas, guru BK, hingga
anak-anak kelas XI dan XII. Saat pembagian kelas Ray dan Mella beruntung
mendapatkan kelas yang sama, yaitu kelas X.2
Saat berjalan menuju kantin. . .
Buuk!!! Ray menabrak bahu salah seorang murid entah kelas
berapa. “uupps! Sorry, gue nggak sengaja!!” Ray meminta maaf dengan nada
sekenaknya. “makanya kalo jalan itu di pinggir, nggak di tengah-tengah. Emang
ini koridor punya lo doang apa!”
“emang lo siapa? Koridornya
lebar tau!! Noo masih ada jalan lebar!!” jawab cowok itu tak mau kalah.
“gue Ray. Ray Asmara anak X.2,
lo bisa cari gue kalo lo nggak TE-RI-MA!” Ray sengaja menekankan kata TERIMA
agar terdengar lebih jelas. Kemudian Ray berjalan santai dengan Mella dan
meninggalkan cowok yang tadi ia tabrak tanpa merasa bersalah. Sementara cowok
itu hanya diam terbengong-bengong.
“boleh juga nih cewek. Cantik emang, tapi sayang
kelakuanya mana tahan. . .” batinnya
“tunggu. . . . X.2? satu kelas dong??”
“eh elo!! Ray! Ray Asmara!” orang yang tadi di tabrak Ray
memanggil namanya. Ray berhenti dan menoleh. “lo anak X.2?” tanyanya.
“iya! Emang kenapa? Lo nggak terima?”
“buk bukan bukan. Gue juga anak X.2, gue Valhen. Valhen
Praditya” Valhen mengulurkan tangannya, namun naas. Jabatan tangan Valhen tidak
dihiraukan oleh Ray. “gue harap kita bisa jadi temen,”senyum mengembang di
bibir Valhen.
“oh. Valhen. Salam kenal deh,” jawab Ray seraya berjalan
meninggalkan Valhen.
“sial!! Blagu banget tu cewek!!” batin Valhen.
SATU
Saat pulang sekolah . .
BRUUUUM BRUUUMM TIIIIN TIIIN
TIIIN
Terdengar deru suara motor dan klakson bersahut-sahutan
dari arah luar sekolah. Sontak sebagian anak SMA Dhimika 2 keluar gerbang.
Dengan sigap mereka kembali masuk sekolah dan menganbil motor masing-masing.
Termasuk Ray. Kemudian mereka mengejar anak SMA lain yang belum di ketahui sebagai
pembuat onar di SMA Dhimika 2. Di tengah-tengah perjalanan, salah seorang
mengetahui ada perempuan yang tengah mengikuti mereka,
“BERHEEEEENTIII!!!!” teriak orang itu.
Semua yang berada di
belakangnya berhenti mendadak dan nyaris tabrakan beruntun.
“kalian ngapain berhenti? Kita kejar aja! Kalo lo nggak
pada berani biar gue sendiri aja yang ngejar. Gue berani kok!” protes Ray
panjang lebar. Ia heran melihat pasukan SMA Dhimika 2 berhenti mendadak. Ray
tahu betul, tidak seharusnya mereka berhenti ditengah jalan raya kalau tidak
tanpa sebab.
“elo itu cewek. Ngapain lo ikut-ikutan, ini urusan
cowok,” kata salah seorang seraya membuka helm fullfacenya.
“ELO!!” kata Ray dan cowok itu
bebarengan. Ternyata cowok itu adalah Rama, ketua OSPEK SMA Dhimika 2. “elo
lagi elo lagi. Elo cowok apa cewek sih? Cewek kok brutal” kata Rama sambil
menatap Ray tajam.
“elo nggak pantes nilai gue! Lo nggak kenal siapa gue!
So, JANGAN SOK KENAL!” Ray meninggalkan Rama dan juga yang lain. Ia mengendarai
motornya dengan kencang.
“lo kenal dia Ram?” tanya Valhen.
“gimana nggak kenal, gue sama dia hampir berantem waktu
OSPEK, kalo aja nggak ada Pak Kampret itu udah gue sikat tu cewek. Tapi pantang
gue mukul cewek, lag...”
“jadi? Mau curhat atau kembali ke misi?” potong Andre.
“curhat gigi lo rata! Kita balik dulu, urusan Stela Mulia
kita urus besok,” perintah Rama.
Setelah diperintahkan untuk
kembali, pasukan SMA Dhimika 2 bubar untuk pulang ke rumah masing-masing. Tanpa
perlu mencari tahu siapa penyebab kekacauan tadi, Rama sudah bisa menduga bahwa
SMA Stela Mulia lah dalang dari keributan tadi. SMA Stela Mulia dan SMA Dhimika
2 merupakan musuh bebuyutan dari generasi ke generasi. Bahkan kepala sekolah
mereka pun saling bersaing satu sama lain.
∂∂
“kenapa sih gue harus di takdirkan jadi cewek? Kenapa
nggak cowok aja? Toh nama gue Ray, lebih pantes cowok daripada cewek!!!” omel
Ray sambil memasuki rumahnya.
“kenapa kamu Ray? Pulang-pulang sudah ngomel-ngomel nggak
jelas gitu?” tanya Mama Ray penasaran melihat putri semata wayangnya ngedumel
nggak karuan.
“Maa, kenapa sih aku cewek? Kenapa nggak cowok aja? Kalo
Ray cowok, Ray kan bisa ngejagain Mama sama kakak,” ungkap Ray. Sejujurnya Ray
ingin sekali bisa menjaga Mamanya sebagai perempuan, bukan laki-laki. Tetapi
karena suatu hal ia ingin bisa menghajar siapapun yang berani menyakiti hati
sang bunda.
“kalau kamu emang waktu brojol udah cewek terus mau Mama
apain? Apa iyaa Mama masukin lagi ke perut terus diganti kelamin gitu, ngaco
kamu Ray,” jawab Mama Ray enteng. Ia tidak mau menguak luka yang kini sudah
susah payah ia tutup. Kenangan akan tetap menjadi kenangan.
“bukan gitu maksud Ray, Maaa.
Kalo Ray cowok Ray kan bisa bales perbuatan laki-laki sialan itu!” balas Ray
berapi-api. Setiap kali ada orang yang penasaran akan namanya, Ray selalu
teringat kala masa kecilnya yang kelam.
“Ray.” Panggil Mama Ray halus, “kamu jadi perempuan pun,
kamu masih tetep bisa ngelindungin Mama. Tanpa harus jadi cowok, lagian semua
cowok itu sama aja Ray, nggak ada yang baik kecuali kakak kamu. Perempuan itu
mahkluk mulia, jadi bersyukurlah kamu dilahirkan sebagai perempuan.” Terang
Mama Ray panjang lebar. Ia tak mau melihat Ray terus merasa bersalah karena
tidak bisa menjaganya dulu. Hampir setiap hari Ray mengomel, andaikan dia
laki-laki. Selalu seperti itu, meski dengan nada bercanda namun bagi Mama Ray
hal itu akan membuatnya semakin bersalah.
“maafin Ray Maa. Ray masuk kamar dulu,” Ray menaiki tangga
dan bergegas menuju kamarnya. Ray melepaskan sepatu ketsnya dan menaruhnya di
rak sepatu, sementara tasnya ia lemparkan begitu saja ke meja belajarnya.
∂∂
Ray menarik nafas dalam-dalam,
menahanya sejenak dan kemudian ia hempaskan kuat-kuat. Dipandanginya
langit-langit kamar yang keabu-abuan itu, sesuai warna kesukaanya dan
kehidupannya – yang kelam. Saat ini pukul tiga lebih lima belas dan hari ini
merupakan jadwal Ray berlatih basket. Ray sudah ikut club basket sejak ia masih
duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya saat usianya masih sepuluh tahun.
Ray melepas baju seragam esemmanya dan menggantinya
dengan kaos oblong berwarna abu-abu dan juga mengenakan celana training.
Kemudian Ray memasukan kaos team basket kebanggaanya dan bergegas keluar kamar.
Ray menuju meja makan, ia mengambil empat buah roti tawar dan tiga buah keju
untuk bekal latihannya hari ini.
“Maaaa???” teriak Ray memanggil Mamanya. Sementara yang
di panggil tidak juga menyaut. “MAAMMAAAAAAAA!!!!” teriak Ray makin kencang.
“iyaaa!!” jawab Mama Ray tak mau kalah, “ada apa sih
teriak-teriak?”
“Ray mau berangkat basket nii. Udah telat, Ray berangkat
dulu ya Maa?” pamit Ray.
“iyaaa. Ati-ati” pesan Mama Ray.
Cepat-cepat Ray menuju garasi dan mengambil motor
kesayangannya dan bergegas menuju tempat ia berlatih. Seperti biasanya Ray
mengendaraai sepeda motornya dengan urakkan dan kencang. Kurang dari lima belas
menit Ray sampai di Major Basketball Club atau sering disingkat MBC.
Dipandanginya papan nama “Major Basketball Club”, club yang selama ini
membesarkan namanya di dunia basket. Tak terasa sudah hampir lima tahun ini ia membela MBC dan tak terasa
juga berapa banyak uang yang sudah mengalir ke kantongnya.
Kriiiiiiiiiiing. . . . .kriiiiiiiingggg. . . .kriing
Alarm tanda di mulainya latihan hari ini berbunyi. Ray
segera masuk ke dalam. MBC merupakan salah satu club basket ternama dan salah
satu yang terbesar juga di daerah Jakarta Utara.
“Raaaaayy!!! Tunggu!!” panggil Evan, salah satu teman
terdekatnya di MBC. Ray menoleh dan berhenti.
“lama amat sih lo jalannya, udah kayak siput bunting aja
lo!” umpat Ray.
“yeee! Siput nggak bunting aja
jalannya lama, apalagi bunting non. Ada-ada aja lo Ray,” Evan tertawa. Mereka
berdua berjalan menuju bangku pemain.
“sepuluh menit lagi latihan
kita mulai!” perintah coach Yete. Ray menganbil jersey dan juga celananya di
dalam tas. Ray menuju ruang ganti untuk mengganti kostumnya. Tak lebih dari
tiga menit Ray selesai mengganti kaosnya.
Priiiiit!!!!
Bunyi peluit panjang telah di
tiup coach Yete. Tanda akan di mulainya pemanasan hari ini. Semua anggota MBC
berkumpul di tengah lapangan. Mereka bergandengan tangan membentuk satu
lingkaran besar, sementara coach Yete berdiri di tengah-tengah lingkaran.
“sebelum latihan pada sore
hari ini kita mulai, marilah kita buka dengan berdoa sesuai kepercayaan
masing-masing agar latihan pada hari ini berjalan dengan lancar. Berdoa mulai,”
coach Yete dan anggota MBC menundukkan kepala masing-masing. “selesai” ucapnya
lagi. “lari lima putaran lapangan luar, selanjutnya langsung srtaicing. Ray
pimpin straicing.” Perintah coach Yete. Sebelum pemanasan seperti biasanya mereka
tos bersama-sama,“WE FIGHT TOGETHER, WE WIN TOGETHER, WE ARE THE CHAMPION, WE
ARE???”teriak Ray, “MMBBCC!!!”bales anggota MBC yang lain.
Ray dan Evan lari bebarengan.
“kaku semua nih badan gue.
Gilaaak aja, dua minggu gue nggak latihan cuma gara-gara ngikutin OSPEK di
sekolah. Sialan!” Ray membuka pembicaraan dengan Evan. Mereka memimpin lari di
depan sendiri.
“haha, salah sendiri lo nggak
berangkat latihan,” jawab Evan sambil tertawa ringan.
“yeee, mending gue kaku-kaku
dari pada nyokap gue di pangil ke ruang BK gara-gara gue nggak ikutan OSPEK,”
“emang lo masuk mana sih Ray?
Gue juga dua minggu nggak latihan di sini nih,”
“gue masuk Dhimika dua,” jawab
Ray enteng.
“gilaaa lo!” Evan terkejut
mendengar jawaban Ray. “beneran masuk sana lo? Kesampaian juga lo mau bales
dendam,”
“hahahaha” Ray tertawa, “bisa
aja lo. Nggak juga, hoki aja kali gue bisa masuk sana,”
“lo itu multitalent beneran
deh, selain jago basket otak lo encer juga yaa,” Evan menaikan alisnya ke atas,
menggoda Ray.
“hahahaha, lo bisa aja deh
buat gue ketawa. Iya, otak gue emang encer orang isinya ludah semua. Hahahaha”
“hahahaha” Ray dan Evan
tertawa terbahak-bahak. Mereka hampir menyelesaikan pemanasannya. Keliling lapangan
luar MBC sekitar 125 meter, jadi mereka lari sekitar 625 meter. Bagi Ray dan
anggota senior MBC yang lain hal seperti itu sudah makanan sehari-hari mereka saat
latihan. Semua anggota MBC telah selesai melakukan lari pemanasan. Hampir setiap
hari Ray latihan, entah itu latihan untuk dirinya sendiri atau menjadi asisten
pelatih untuk MBC junior.
∂∂
Pukul 06:15 pagi
Kriiiinggg Kriiiing Kriiiing
Jam weker di meja tidur Ray berbunyi nyaring sudah sejak
pukul 5:35 tadi. Jam weker itu akan terus berbunyi sebelum sang pemilik menekan
tombol untuk mematikannya. Sementara dari arah luar kamar Ray, terdengar suara
teriakan sang Mama, yang sudah hampir putus asa membangunkan Ray.
“Ray banguuuun!! Sudah siang ini! Kamu mau sekolah enggak
sih?!” teriak Mama Ray, sambil menggedor pintu kamar Ray. “RAAAYY!!! Ray
Asmara!! Ini udah jam berapa?”
“iya Ma, ini udah bangun,” jawab Ray sambil menguap. Di
lihatnya jam weker di kanannya. “APAAA!!” Ray terkejut melihat jamnya yang
sudah menunjukan pukul 06:25.
Dengan cepat Ray bangkit dari
tampat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Sekitar sepuluh menit Ray keluar
dari kamar mandi. Secepat kilat ia mengambil tas, jam, hape, dan juga helmnya.
Ray mengambil motornya di garasi dan segera meninggalkan rumah tanpa berpamitan
dulu dengan Mamanya.
Ray mengendarai motor tiga kali lebih ugal-ugalan dari
biasanya. Jarak yang lumayan jauh membuat Ray harus putar otak agar ia tidak
datang sangat terlambat, paling tidak sepuluh menit dari bel masuk. Sekitar
lima belas menit Ray menempuh perjalanan dari rumah ke sekolahnya tanpa macet
di Ibu Kota ini.
“kenapa sih Jakarta selalu macet! Nggak tahu orang lagi
buru-buru apa!” Umpat Ray. Setelah cukup lama berkubang di antara sepeda motor,
mobil dan angkutan umum yang sejak tadi berjalan bak siput, akhirnya Ray
memutuskan untuk melewati jalan-jalan perkampungan dan itu artinya jarak
sekolahnya menjadi lebih jauh. Tanpa memikirkan banyak orang yang berjalan di
kanan kiri, Ray asal melaju motornya.
“permisi buk, maaf buru-buru!” kata Ray saat akan
menabrak ibu-ibu dengan kantung belanja di kedua tangannya.
“dasar anak muda!! Kalau jatuh baru tahu rasa dia, sudah
tahu jalannya kecil masih saja senewengan jalannya. . .” umpat ibu yang hendak
di tabrak Ray.
Ray masih mengendarai motornya dengan kencang, dan
tibalah dia di depan pintu gerbang SMA Dhimika 2. Sekitar dua puluh tiga menit
Ray sampai. Saat itu pintu gerbang sudah di tutup, itu berarti Ray sudah
terlambat. Hanya sekitar satu meter pintu gerbang itu terbuka dan hanya muat
untuk dilewati satu motor.
Saat akan memasuki pintu
gerbang, Ray masuk bebarengan dengan Rama sehingga keduanya tidak dapat masuk
secara bersamaan. Sementara slebor bagian depan masing-masing motor sudah
masuk.
“minggir lo! Gue duluan yang dateng, udah telat sepuluh
menit nih!” bentak Ray.
“emang lo siapa?! Main srobot duluan, jelas-jelas gue
yang dateng duluan!” balas Rama tak mau kalah.
“lo kan udah tahu siapa gue, ngapain lo pake nanya?!”
“heloo mis geer!! Siapa yang nanya nama lo? NGGAK
PENTING! Udah minggir gue mau lewat!”bentak Rama.
“mentang-mentang lo kakak kelas trus lo bisa seenaknya!
Ngalah dong sama cewek!!”nada suara Ray kini meninggi.
“APA?! Nggak salah denger gue? Seorang Ray Asmara cewek?
Haha” Rama tertawa palsu.
“Ehh! Elo tu cowok nggak tahu diri banget sih!! Elo bisa
minggir enggak? Udah sejam nih gue ngejongkrok di sini!!”
“gue punya nama!” Rama mengacungkan jarinya ke muka Ray,
“dan inget gue senior lo! Sopan dikit dong!”
“sopan sama lo?!” Ray menangkis tangan Rama. “ogah amat!
El. . .”
“nama gue Rama! Jangan eh elo eh elo terus manggilnya,
dan inget GUE SENOIR LO!!!” Rama meninggikan nada suaranya dan bergegas membuka
gerbang. Ia masuk dan meninggalkan Ray seorang diri. “oh... jadi namanya
Rama... ah masak bodoh deh,”
Cepat-cepat Ray memasuki halaman sekolah dan bergegas
menuju tempat parkir sepeda motor. Ia berlari agar cepat sampai di kelas. Sudah
sekitar satu jam pelajaran Ray berdebat dengan Rama. Saat ini kelas Ray tengah
belajar matematika. Karena sudah terlambat satu jam dan Ray juga sangat
membenci pelajaran itu, Ray memutuskan untuk bolos dua jam pelajaran
matematika. Ray pergi menuju kantin kelas duabelas yang biasanya sering
digunakan anak-anak lainnya untuk membolos. Kantin kelas duabelas memang jauh
dari jangkauan guru dan sejenisnya.
Ray duduk di bangku paling pojok bagian barat, tak lupa
ia memesan minuman dan membeli makanan kecil. Ray menoleh ke arah timur
mejanya. Saat ia menoleh, tatapan matanya dan Rama beradu sesaat. Tetapi hanya
selang beberapa detik saja.
“ngapain lo di sini?” tanya Ray langsung, “gilaa kena
kutuk apa gue!” Umpat Ray dalam hati.
“harusnya gue yang nanya, ngapain lo di sini? Ini kan
kantin kelas dua belas.” Rama balik bertanya.
“emang ada ya aturannya anak kelas sepuluh nggak boleh
ada di kantin kelas duabelas? ADA YA ATURANNYA??” Ray menjawab sambil
menggebrak meja dan berdiri. Emosinya saat ini sedang tidak baik dikarenakan
moodnya yang sedang labil.
“untung elo cewek, coba kalo lo cowok. Udah gue sikat
lo!”
“emang gue baju apa pake disikat,”
Rama berdiri dan berjalan menuju kursi Ray. Kini Ray dan
Rama duduk bersebrangan. “Dheca Mahesa Ray Asmar ck...” Rama berdecak “lo tu
nggak ada pantes-pantesnya jadi cewek! Pantesnya lo tu cowok, cewek kok
blangsakkan,”
“apa urusannya sama lo? Nggak ngaruh kan sama kehidupan
lo? Toh ini hidup gue”Ray sudah mulai bisa mengatur emosinya, “ternyata gue
emang exis ya, sampai ketua OSPEK kayak elo aja hafal betul nama gue, hahaha” Ray
tertawa.
“gue heran deh sama bonyok lo, nyidam apa mereka sampai-sampai
punya anak blangsakkan kayak lo,” kata Rama sambil berdiri meninggalkan Ray
karena bel pergantiaan pelajaran telah berbunyi. Ray memandang punggung Rama
hingga ia menghilang di belokan. “Ternyata nggak cuma Evan yang asik di ajak
ngobrol, orang itu juga asik,” tentu saja kata-kata itu hanya di ucapkan Ray
dalam hati.
Ray membayar minum dan makananya dan segera meninggalkan
kantin. Ia berjalan setengah berlari agar tidak terlambat lagi masuk kelas.
∂∂
“dari mana lo Ray? Kok jam segini lo baru dateng sih?
Semalem abis begadang ya?” berondong pertanyaan dari Mella.
“plis deh La, mau gue jawab yang mana dulu nih pertanyaan
lo?”Ray pusing sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan Mella.
“terserah lo deh dari mana,” jawab Mella polos.
“pertama, gue dari kantin. Kedua, gue tadi bangunnya jam
setengah tuju. Ketiga, gue kemaren habis latihan so gue capek. Ada pertanyaan?”
“hahahahah,” bukanya mendengarkan pernyataan Ray, Mella
malah tertawa.
“emang ada yang lucu yaa?” Tanya Ray polos.
“enggaaaaak, hahaha. Udah deh, Bu Rika udah dateng tuh,” Ray
dan Mella berhenti bercanda dan mulai memperhatikan pelajaran Bu Rika. Melihat
kedatangan Ray yang sangat terlambat, ada sorot mata tajam dari bangku pojok
kiri yang sedari tadi memandang Ray.
Sembilan puluh menit berlalu...
Teeeeteeeeeteeeeeeeeeeeeeet. Bel tanda istirahat
terdengar. Bu rika mengakhiri jam mengajarnya dengan segudang tugas pembuka
yang cukup membuat anak didiknya merontokan rambut. Sebelum meninggalkan kelas,
Valhen mendatangi meja Ray dan Mella.
BRAAAK
Valhen menggebrak meja Ray. Ray yang tengah asik tertidur
sontak bangun dan melayangkan satu tonjokan ke pipi Valhen.
“apa-apaan sih lo?!” Valhen terkejut sambil memegangi
pipinya.
“elo yang apa-apaan?!! Ngapain lo nggebrak-nggebrak meja
gue? Nggak sopan banget sih lo?!!”
“elo dari mana tadi?! Kenapa lo masuk jam ketiga?” nada
suara Valhen mulai menurun. Karena Valhen tanya baik-baik, Ray juga tidak
menggunakan emosi.
“gue dari kantin. Tadi gue telat,” jawab Ray enteng.
“kenapa nggak masuk aja kalo lo telat?”
“kalo gue telat cuma sepuluh menit gue nggak bakal bolos,
nah ini gue telat satu jam pelajaran men! Bisa disuruh pulang gue,”
“kok bisa lo telat satu jam?”
“gara-gara Rama tuh. Udah deh, lo nanyanya gitu amat sih,
nggak ada urusannya juga sama lo. Gue mau ke kantin La, lo mau ikut enggak?” Ray
mengacuhkan Valhen dan mengajak Mella pergi ke kantin.
Ray dan Mella berjalan sambil bercanda seperti saat mereka
masih duduk di bangku SMP. Mereka tak menghiraukan mata-mata yang melihat ke
arah mereka, baik itu kelas sepuluh maupun para senior. Mereka tak
menghiraukannya.
“yaaah, penuh banget nih Ray,”
desah Mella, “kita makan di mana nih Ray”
“makan di kantin kelas dua belas
aja yuk, di sana lebih luas menunya juga lebih banyak,” ajak Ray.
“haah?!! Gilaa lo, di sana banyak kakak kelas Ray,” tolak
Mella.
“kan ada gue, ngapain lo takut. Lagian kenapa sih sama
senior? Senioritas banget!” dengan paksa Ray menarik tangan Mella agar ia mau
mengikutinya ke kantin kelas dua belas. Dengan berat hati Mella mengikuti
kemauan Ray untuk pindah ke kantin kelas dua belas. Mella duga-menduga bahwa
Ray nanti akan membuat kekacauan.
∂∂
Sebenarnya Mella bangga
mempunyai teman seperti Ray. Bagaimana tidak, setiap ada orang yang membuat
gara-gara dengan Mella, Ray pasti akan turun tangan. Ray akan selalu membela
siapun yang benar, meskipun sahabatnya yang bersalah ia juga akan berbuat hal
yang sepantasnya. Tetapi tidak hanya itu, Ray juga berprestasi dalam bidang
olahraga, akademik bahkan bidang seni. Ray tidak pernah meminta uang saku
bulanan, setiap bulan ia sudah mendapat gaji dari mana saja.
Sampailah mereka berdua di
kantin kelas dua belas.
“Ray, lo cari meja kosong biar gue yang pesen makanan,”
suruh Mella.
“oke deh. Gue mau pisang karamel pake keju dua sama jeruk
nggak pake es satu,”
“oke,” Ray dan Mella berpisah.
Ray celingukan kanan-kiri,
rupanya tak susah untuk mencari meja kosong di kantin kelas dua belas, karena
sebagian siswa kelas dua belas lebih memilih untuk jajan di kafe dan warung
makan yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Ray duduk dan mengeluarkan
hapenya. Untuk siswa SMA hape Ray memang jauh di atas siswa SMA pada umumnya.
Ray melihat sekelilingnya, memastikan apakah Mella sudah
selesai memesan makanan.
“LO KALO JALAN PAKE MATA DOOONG!!!” terdengar bentakan
dari salah seorang perempuan. Suara itu terdengar dari arah utara meja Ray. Ray
berdiri dari kursinya, mencoba mencari tahu ada kejadian apa di sana. Ternyata
suara itu berasal dari arah Mella. Ray makin mempercepat langkahnya.
“ada apa La?” tanya Ray langsung.
“anu...ituu...tadi gue nggak sengaja numpahin pisang
karamel lo yang masih panas ke kakak itu,” jawab Mella sambil menunjuk
takut-takut ke arah orang yang di tabraknya.
“MAKANYA KALO JALAN TU PAKE MATA!!” Ulangnya sekali lagi
sambil mendorong kepala Mella.
“maaf kak, aku nggak sengaja. Lagian kakak tadi balik
badan mendadak, jadi kena deh,” Mella coba membenarkan diri.
“JADI LO NYALAHIN GUE?”
“kalo iya kenapa? Lo kira temen gue takut apa sama lo?
Mentang-mentang lo ketua geng gitu! Dasar gengster” kini Ray yang angkat
bicara.
“elo udah tahu dia yang salah malah ngebelain lagi!”
“Mella kan udah minta maaf!!”
“udahlah Ray, nggak usah di ambil ribut,” lerai Mella.
“nggak bisa gitu aja La, biar nih anak songong gue yang
ngurus. Lo minggir aja!” Ray menyingkirkan tangan Mella pelan.
“jadi elo yang namanya Ray?” tanya Grasia, orang yang
dikatakan Ray ketua geng.
Alexia Grasia, orang yang merasa dirinya paling cantik
seantero SMA Dhimika 2. Saking ditakutinya, ia bahkan mendirikan geng yang
berisi orang sok cantik. Geng Ganiza.
“IYA EMANG KENAPA?” tantang Ray.
“JADI ADIK KELAS JANGAN BLAGU DEH LO!!”
“emang kenapa? Masalah buat lo? Masalah buat geng lo?”
Grasia tak tahan lagi
mendengan ucapan Ray. Ia melayangkan satu tamparan ke pipi Ray. Hampir saja
satu tamparan mendarat di pipi Ray, namun tangan Grasia ditahan oleh tangan
seseorang.
Ray yang mengira ia akan mendapat bogem mentah dari
Grasia binggung karena ada tangan yang menghentikannya. Ray ingin sekali Grasia
manamparnya karena itu merupakan salah satu alasan ia dapat memberi perhitungan
dengan Grasia. Grasia mendongak, memandang siapa yang berani-beraninya menahan
tangan mulus yang akan digunakanya untuk memberi pelajaran juniornya.
“lepasin tangan gue Ram!!” Kata Grasia. Ternyata orang
yang menahan tangan Grasia adalah Rama.
“apa-apaan sih lo Gras?” Tanya Rama penasaran, “lo mau
sok berkuasa disini?”
“harusnya lo tanya sama cewek blagu ini, dia apa-apaan,
nabrak orang bukanya minta maaf, malah nyolot!” ungkap Grasia berapi-api.
“jaga ya mulut lo! Mella udah minta maaf tapi lo yang
nyolot!” Ray pun juga berapi-api, “ayo tampar kalo berani! Sini! GUE NGGAK
TAKUT SAMA LO!!”
“lo kira gue takut sama junior model lo?! Minggir lo
Ram!! Gue mau kasih perhitungan sama DIA,” katanya sambil mengacungkan jari ke
arah muka Ray. Grasia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ray,
sementara tangan lainnya maju untuk mencakar Ray.
“LO BERDUA APA-APAAN SIIH?!!” Rama kehilangan kesabaran,
tanpa sengaja tangannya mendorong Grasia agar pergi menjauh dari Ray. Karena
Grasia tak seimbang, tubuhnya terjatuh terduduk.
“Ram...lo...” Grasia berdiri perlahan dibantu kedua
jongosnya yang sedari tadi diam. “LO JAHAT RAM!!” Teriak Grasia sambil berlari
menjauh. Sedangkan ketiga jongosnya hanya berlari kecil mengikuti Grasia.
Ray yang merasa saat ini Rama tidak harus ikut campur
merasa engah dengan tingkah Rama yang sok pahlawan. Ia mendorong tubuh Rama ke
belakang sehingga Rama mundur satu langkah dari tempatnya.
“apa-apaan sih lo? Ikut campur urusan perempuan! Ini
bukan urusan lo!” Ray masih berapi-api.
“mending lo pergi sekarang Ra!!” perintah Rama pelan. Ia
tak tahu berada di saat yang tepat atau tidak.
“gue ingetin sekali lagi sama lo! Jangan sekali-sekali lo
ikut campur urusan gue! Atau...” Ray sengaja menggantungkan kalimatnya.
“atau apa?!”
“atau lo tanggung sendiri akibatnya!” kata Ray. Ia segera
pergi meninggalkan Rama dan puluhan mata yang memandangnya sejak tadi. Namun
baru beberapa langkah ia melangkah, Ray menghentikan langkahnya. Ray berbalik
dan mendekati Rama. Ditatapnya dengan tajam mata Rama. “dan perlu lo inget satu
hal...NAMA GEU RAY!! BUKAN ARA!!” Setelah itu ia pergi meninggalkan kantin dan
menuju kelasnya karena jam masuk telah lama berbunyi.
“ngapain lo semua pada ngeliatin?” tanya Rama, “lo pikir
ini tontonan ha!! Cepet masuk!! Ini udah bel!”
∂∂
“satu dua tiga empat lima enam
tujuh delapan,” hitung Ray. Saat ini ia tengah memimpin pemanasan pada latihan
hari ini.
“Ray, denger-denger mau ada anggota baru di MBC ya?” tanya
Evan.
“apa iya? Gue malah nggak tau tuh,”jawabnya.
“iyaa. Katanya dia ganti club gitu, dulu dari club mana
gitu lupa gue,”
“yah, elo. Kalo mau cerita yang lengkap kenapa? Cuma hoax
kali. Udah yuk mulai. Udah setengah lima nih, ”Ray dan Evan memulai latihan
sore ini. Mulai dari dribling kanan kiri, ley up kanan kiri, hingga shooting.
Tim basket MBC memang terkenal dengan shootnya yang sangat tepat akurat, mulai
dari medium shoot sampai trepoint shoot. Dan yang menjadi andalan shooter MBC
adalah Ray dan Evan. Selain shooter, Ray juga ahli menguasai bola atau sering
di sebut playmaker istilah kerennya pointguard.
“RAY!!” panggil Mella. Mella juga merupakan anggota MBC,
namun ia bukanlah pemain basket maupun murid didik MBC. Mella adalah manager
MBC dan official MBC. Walaupun tidak bisa bermain basket, Mella mengetahui
betul tentang basket. Koneksinya di dunia luar membuat ia berani terjun sebagai
manager.
“eh bu manager udah dateng,”
canda Ray. Mella berlari kecil ke arah Ray. “ada berita apa ini kok ibu rela
terjun ke lapangan?” tanyanya disertai tawa kecil.
“emang muka gue kayak ibu-ibu apa!”balas Mella sambil
memukul bahu Ray, “besok mau ada anggota baru di sini, tapi dia bukan junior
yang baru mau belajar tapi dia udah senior,”jelas Mella.
“usia berapa dia? Cewek ato cowok?” tanya Ray penasaran.
“delapan belas, cowok. Datanya udah masuk semua ke gue,
tapi dia belum ngisi angket perpindahan, angket pemain tetap, dan dia juga
belum tanda tangan perjanjian diatas materai,” terang Mella.
“terus?”
“ya menurut lo tuh anak diterima di MBC atau enggak?”
“kalo keputusan pengurus MBC diterima ya udah diterima
aja,” jawab Ray bijaksana.
“kalo semua udah setuju sih Evan juga, tinggal kapten
cewek aja setuju enggak?”
“setuju aja gue, asal mainnya nggak malu-maluin MBC aja,”
“kalo itu gue jamin bakalan lebih ngangkat nama MBC.
Prestasinya hampir MVP semua,” terang Mella, “nanti lo mampir rumah gue ambil
angketnya, oke?”
“oke ibu manager,” Ray kembali melanjutkan latihannya.
Dua
“pagi anak-anak” sapa Bu Rika.
“paaagiiiiiii buuuuuu,” jawab murid-murid.
“hari ini ibu akan membagikan angket kegiatan
ekstrakulikuler yang harus kalian ikuti minimal dua macam. Bagi kalian yang mau
mengikuti OSIS, kegiatan ekstra cukup satu macam saja.” Bu Rika menerangkan
dengan jelas, kemudian ia membagikan angket satu per satu kepada murid X.2.
“angket di kumpulkan nanti sepulang sekolah di meja saya. Ketua kelasnya
siapa?” tanya Bu Rika.
“Mella bu!” Ray menjawab asal.
“Mella nanti tolong kamu taruh di meja saya,”
“ba baik bu,” jawabnya pasrah. Sementara pelakunya hanya
cekikikan.
“sialan lo!” umpat Mella, “lo mau ikut ekskul apa Ray?” tanya
Mella sambil menaik turunkan alisnya. Tanpa tanya pun sebenarnya Mella sudah
tahu, tetapi ia ingin menggoda Ray.
“gue mau ikut seni tari sama dance. Kalo lo?” jawab Ray
serius.
“hah? Seriusan lo?”
“nggak lah!! Ngaco lo! Jelas basketlah satunya apaan ya?”
Ray memandang sederet kolom-kolom pilihan ekstrakulikuler.
“gue juga bingung nih Ray, kemenejeran sama apaan ya?
Sama aja yuk Ray.”
“DTHA itu apaan sih?” tanya Ray bingung. Dari sekian
banyak ekstrakulikuler, hanya satu yang disingkat.
“Dhimika Two Hiking Association kayaknya, itu apaan sih Ray?” kini Mella yang
balik bertanya.
“itu bukannya ekskul mendaki gunung ya? Kalo dari artinya
sih semacam perkumpulan pendaki gitu,”terang Ray. Pengetahuannya yang luas dan
bahasa inggrisnya memang tidak diragukan lagi, “naah! Ikut ini aja,” kata Mella
dan Ray bebarengan. Setelah itu keduanya tertawa bersama. Tak lama setelah itu
pelajaran kembali berlanjut seperti biasanya. Namun saat ini merupakan mata
pelajaran bahasa inggris, mata pelajaran paling disenangi Ray. Ray sangat
pandai berbahasa inggris, tidak hanya menguasai kosakata yang bejibun, ia juga
fase dalam berbicara.
“now I will to talk about my life,” terang Ms.Viola “and
next you will talk about your life in front of the class. Oke, my name is ms
Viola Veronica but my nick name is Viola...” dan lainnya. Setelah ms. Viola
selesai menceritakan tentang kehidupannya, giliran murid-murid X.2 yang
menceritakan tentang kehidupannya. Dipanggil satu per satu siswa sesuai nomor
presensi yang sudah di atur oleh sekolah. Dan seperti di SD dan juga SMP-nya,
Ray mendapat nomor urut 7 sedangkan
Mella 19.
Saat ini tengah bercerita nomor absen 3, durasi tujuh
menit membuat hampir semua siswa kecuali Ray keringat dingin. Ditengah-tengah
bercerita bel tanda ada pengumuman berbunyi melalui speakers yang menempel
didinding tiap ruangan.
“...pengumuman di tunjukan
kepada seluruh siswa SMA Dhimika Dua. Bagi siswa dan siswi yang mengikuti
kegiatan ekstrakulikuler cabang olahraga apapun, latihan rutin dilaksanakan
setiap hari Rabu dan Jumat pada pukul empat lima belas, sedangkan kegiatan yang
lain dilaksanakan setiap hari Sabtu sepulang sekolah. Khusus untuk rabu minggu
ini pukul tiga tiga puluh akan diadakan perkenalan anggota baru untuk
ekstrakulikuler cabang olahraga apapun. Bagi siswa kelas sepuluh diwajibkan
hadir memakai seragam sesuai dengan cabang olahraganya. Demikian pengumuman ini
saya sampaikan. Dimohon hadir tepat waktu...”
Sekitar itulah pengumuman dari
pihak OSIS. Tak lama kemudian bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar
berbunyi. Semua siswa merapikan buku dan alat-alat tulis dan bergegas pulang.
Sebagian siswa segera pulang meninggalkan sekolah dan sebagian di antaranya
berkumpul di tempat parkir dekat gerbang sekolah, terutama siswa pria.
“Ray gue pulang dulu yaa,” pamit Mella pada Ray.
“oke, ati-ati La,” pesannya.
∂∂
Ray mengendap-endap dan
bersembunyi agar ia tidak ketahuan mengikuti rapat kecil yang sering disebut
forum ini, yang bagi kaum adam terlarang untuk Ray. Saat pulang sekolah, pentolan-pentolan
SMA Dhimika 2 selalu berkumpul di dekat pos satpam.
Hari ini, menurut berita yang Ray dengar,
pentolan-pentolan SMA Dhimika 2 akan membahas bagaimana mereka membalas kekacauan
yang dibuat SMA Stela Mulia. Mengetahui berita itu benar adanya, Ray diam-diam
mendengarkan strategi mereka.
“oh, jadi dia leader sekolah ini. Pantes aja songong,” batin
Ray. Ray mendengarkan di balik ninja biru milik Rama. Ray mengetahui betul
pemilik motor itu, tatapi ia tetap bersembunyi karena tempat itu dirasanya
paling aman. Ray tertawa mendengar kata-kata Rama yang menurutnya sok
bijaksana. Saking asiknya tertawa, Ray tidak mengetahui bahwa sang pemilik
motor sudah datang dan memandang Ray sejak tadi.
“ngapain lo di situ? Lo mau kempesin ban motor gue ya?!” tanya
Rama curiga melihat gerak-gerik Ray.
“yee, pede amat lo. Siapa juga yang mau ngempesin ban
motor lo,” jelas Ray masih tertawa geli, “gue tadi ikut forum lo.”
“udah gue bilang ke elo kan, ini urusan cowok, cewek
nggak usah ikutan,” tegas Rama.
Ray berhenti tertawa, “gue boleh ikut lo nggak?” tanya
Ray hati-hati.
“ikut gue kemana? Ke rumah gue? Boleh, ayook,” jawab Rama
enteng
“bukan gitu maksud gue kuya!!” Ray menonjok lengan Rama
pelan.
“nah terus lo mau ikut gue kemana?” tanyanya.
“ikutan lo sama temen-temen lo bentrok sama Stela Mulia.
Ini juga sekolah gue Ram. Gue juga nggak terima kalo sekolah gue di usik,” terang
Ray.
“Ra, elo tu cewek. Nggak mungkin gue tawur bawa-bawa
cewek,” Rama mencoba menolak Ray secara halus.
Rama kini mengerti, Ray juga
bisa diajak bicara baik-baik. Selama ini Rama salah, dibalik sifat Ray yang
keras ia juga mempunyai sikap solidaritas yang tinggi.
“tadi kata lo, gue nggak pantes jadi cewek. Ya udah lo
anggep gue cowok aja, gampang kan,” dengan pede Ray menyangkal.
“ini nyangkut hidup dan mati lo, lo nggak bisa
main-main,”
“siapa bilang gue main-main. Dulu esempe gue juga sering
ikutan, tapi masih hidup sampai sekarang tu,”
“terserah lo deh Ra, minggir gue mau pulang,” Rama
mendorong tubuh Ray pelan. Rama mengambil helmnya dan segera mengenakannya.
Saat helmnya akan masuk kepala, tangannya ditahan Ray. Rama tidak jadi
menggunakan helm dan memandang tangan Ray yang menggenggam tangannya.
“ups, sori. Lo tadi panggil gue apa?” Ray melepaskan
tangannya.
“Ara. Nama lo kan Ray Asmara, jadi nggak salah kan gue
panggil lo Ara,
“nama gue Ray, bukan Ara!”
“suka-suka gue,” jawab Rama sambil meninggalka Ray yang
terbengong-bengong.
“tanpa ijin dari lo, gue bakal tetep ikut tawur. Lo liat
aja entar,”batin Ray.
tiga
Tak seperti biasanya Ray sibuk membongkar isi lemari kakaknya,
kelihatnnya ia sedang mencari sesuatu dalam lemari itu. Ia menemukan kotak biru
tua yang sudah berdebu. Dipandanginya kotak tersebut, ditiupnya debu yang
menyelimutunya. Kotak itu dibuka perlahan oleh Ray agar tidak ada yang sobek.
Kotak yang mungkin sudah dua tahun ini tidak ia pegang. Kotak yang selalu
membuatnya merasa bersalah. Diambilnya figura foto teratas, fotonya, Ian-kakanya
dan juga Dimas-sahabat Ian mengenakan seragam Harapan Bangsa yang penuh dengan
coretan pilox dan sepidol.
Ditutupnya kembali kotak itu, kotak yang makin membuat
rasa bersalahnya makin menyesakkan hati dan dendamnya yang terus membayangi
pikirannya. Dimasukan kembali ke dalam lemari pakaian dan ditata rapi. Ray
mengambil sesuatu dari dalam almari dan disembunyikannya di dalam baju.
“Raaaaaaaay!!”panggil Mamanya.
“iyaa Ma,”jawab Ray. Ia kemudian menghapus air mata
dipipinya dan bergegas keluar.
“ngapain kamu dari kamar Kak Ian?”tanya Mamanya
penasaran.
“nyari baju Kak Ian yang muat buat Ray,”jawab Ray berbohong.
“ya udah. Makan dulu gih, Mama masak makanan kesukaan
kamu,”
“iya. Tapi Ray ke kamar dulu,”Ray bergegas masuk kamar.
Memasukan sesuatu yang diambilnya tadi ke dalam tas sekolahnya. Dan segera
menuju meja makan.
∂∂
Jam pejalaran hanya kurang tiga puluh menit. Namun karena
saat ini sedang berlangsung pelajaran hitung menghitung alias matematika, jam
pelajaran yang hanya kurang tiga puluh menit terasa satu hari. Sejak tadi Ray
melirik jam di dinding. Ray sangat tidak suka matematika, namun sebaliknya Mella
sangat menyukai matematika.
“Mel, nanti sepulang sekolah lo kemana?”tanya Ray membuka
pembicaraan diantara mereka. Sejak Pak Kamflet masuk, Mella sudah bungkam. Tak
ada yang ia lakukan selain menyimak apa yang diajarkan Pak Kamflet. Ray merasa
bosan dengan tingkah Mella yang terus-terusan diam.
“nggak kemana-mana,”jawabnya singkat.
“ntar gue mau main, tapi agak sorean. Gimana lo ada di
rumah nggak?”
“di rumaaaah Ray. Gue perginya malem, ada rapat antar
pengurus MBC,”jawab Mella gemas.
“lo kapan seleksi jadi manager
basket sekola?”tanya Ray lagi.
“besok pulang sekolah katanya.
Eh lo tau nggak?”
Yees, batin Ray. Akhirnya
Mella terpancing.
“apaan emangnya?”tanya Ray penasaran.
“Grasia itu manager tim basketnya, kata anak-anak sih
yang ikut seleksi Cuma tiga orang,”
“siapa aja?”
“gue, Grasia, sama anak kelas sebelas. Gila nggak tuh,”
“siapa yang gila Mellanie Putri dan Dheca Mahesa?”tanya
Pak Kamflet. Rupanya nada suara Ray dan Mella mengeras dari yang sebelumnya
sehingga Pak Kamflet mendengar pembicaraan mereka.
“Mella pak yang gila,”jawab Ray spontan. Mendengar
namanya dituduh, Mella menginjak kaki Ray.
“sekarang kalian maju ke depan dan kerjakan soal di papan
tulis!”perintah pak Kamflet.
Mella yang ahli dalam hitung menghitung langsung maju
kedepan dan mengambil spidol, sementara Ray masih duduk manis di bangkunya.
“Dheca Mahesa! Kamu mau mengerjakan soal atau keluar?!”tanya Pak Kamflet.
“keluar Pak,”jawabnya santai. Ray kemudian berdiri
mengemasi barangnya dan bergegas keluar. Tak lupa ia menyalami tangan Pak
Kamflet.
“DHECA MAHESA RAY ASMARA!!!”Pak Kamflet teriak-teriak
memanggil nama Ray, sementara Ray berlari meninggalkan koridor kelas.
Ray bergegas menuju kantin kelas dua belas, karena jika
dia berada di sekitar kelas ia akan mendapatkan poin dari tiap guru yang
melihat. Bayangkan saja, jika guru kelas sepuluh ada lebih dari duapuluh orang
sedangkan setiap guru Ray bisa mendapat tiga poin berapa poin yang akan Ray
dapatkan?
∂∂
Di tempat lain Rama dan pasukannya mempersiapkan diri untuk
melawan SMA Stela Mulia. Rama dan lainnya sudah keluar sejak jam ke tujuh tadi,
seperti biasanya mereka membolos jam terahkir dengan alasan yang berbeda-beda
tiap orang. Mulai dari sakit, mau kondangan, sampai pengetan seratus hari kakek
maupun nenek mereka. Namun diam-diam ada seseorang yang memata-matai Rama dan
teman-temannya.
Lima belas menit berlalu, akhirnya bel yang
ditunggu-tunggu pun berbunyi nyaring. Tak lama kemudian Rama dan teman-temannya
mengambil motor dan melaju motor masing-masing dengan kencang. Di jalan mereka
terlihat seperti sedang melakukan parade. Di bagian depan ada Rama dan Andre
sebagai leader pasukan SMA Dhimika 2 sedangkan di deret paling belakang ada
satu orang siswa SMA Dhimika 2 yang tidak tahu siapa. Ia mengenakan helm hitam
dengan cadar yang menutupi hidung dan mulutnya dan motor Honda CBR hitam.
Tibalah pasukan SMA Dhimika 2 di utara SMA Stela Mulia.
Rama bersiap-siap, ia menyetel gas. Tak lama kemudian mereka melewati gerbang
SMA Stela Mulia. Saat mereka melewati gerbang, Rama dan teman-temannya
membunyikan klakson bersahut-sahutan seperti layaknya pawai coblosan dan
menarik gas secara bergantian.
Tak lama setelah mereka membunyikan klakson, pasukan SMA
Stela Mulia keluar. Jumlahnya tidak berbeda dengan pasukan SMA Dhimika 2. Rama
dan lainnya bergegas meninggalkan SMA Stela Mulia. Sempat terjadi kejar-kejaran
antara SMA Dhimika 2 dan SMA Stela Mulia. Tapi akhirnya mereka berhenti di
sebuah lapangan sepak bola yang sudah tidak rerurus lagi. Rama dan
teman-temannya berdiri di utara lapangan
sedangkan anak-anak SMA Stela Mulia berada di sisi lainnya.
Rama melepaskan helm fullfacenya dan berjalan mendekati
Adit-leader SMA Stela Mulia-yang juga berjalan ke arah Rama. Adit dan Rama
bertatap muka. Mereka terlihat adu mulut ringan.
BRAAAK...
Rama terjatuh karena dipukul secara mendadak oleh adit.
Saat akan membalas, tubuh Rama malah jatuh tersungkur karena ditendang oleh
Adit. Tak seorang pun menolong Rama karena sebelumnya Rama sudah memberi
perintah jangan ada yang melawan sebelum ia perintahkan.
Rama hampir tak berdaya. Saat akan meninju wajah Rama
yang sudah lebam, tangan Adit ditahan seseorang yang sedari tadi berada dalam
pasukan SMA Dhimika 2. Ia mendorong tubuh Adit hingga terjatuh dan membalas
segala yang dilakukannya kepada Rama. Orang itu kemudian memberi aba-aba pada
pasukan SMA Dhimika 2 agar segera menyerbu. Dan seketika lapangan itu menjadi
arena tawuran. Orang itu membuat Adit tak sadarkan diri, sementara saat itu
keadaan kurang tepat bagi Rama, orang yang tadi menghajar Adit membantu Rama
berdiri dan membawanya menjauh.
“lo nggak papa kan?”tanyanya pada Rama. Suaranya tidak
terdengar jelas karena ia mengenakan cadar.
“nggak papa,”Rama mencoba untuk berdiri. Namun ia ditahan
oleh seseorang yang tadi menolongnya.
“lo di sini aja, biar gue yang urus,”katanya kemudian
meninggalkan Rama.
Orang itu mencari tongkat kayu dan segera mendatangi Adit
yang mulai pulih. Diayunkannya tongkat kayu yang tadi ia bawa, kemudian menarik
kerah baju Adit. Ditatapnya mata Adit secara tajam dan penuh dendam.
Dikepalkannya jari-jari tangannya kuat-kuat kemudian ia ayunkan ke pipi kanan
dan kiri Adit. Sebenarnya ia ingin langsung menghabisi Adit seketika itu juga.
Namun niatnya ia urungkan agar ia dapat membuat Adit lebih menderita dari apa yang
ia lakukan padanya saat ini. Kemudian ia lepaskan cengkraman tangan di kerah
baju Adit dan meninggalkan Adit yang terkapar di lapangan.
Cukup lama Adit tersungkur hingga pasukan SMA Dhimika 2
mengetahui leader SMA Stela Mulia telah kalah dan tersungkur lemas di hadapan
mereka. Mereka baru menyadari SMA Stela Mulia telah kalah dan Adit nyaris
tewas. Pasukan SMA Stela Mulia mundur dan membantu Adit berdiri.
“TUNGGUU!!”teriak Rama saat SMA Stela Mulia akan pergi,
“lo harus ngakuin kalo lo dan pasukan lo KALAH dan nyerahin almamater lo ke
gue!”Rama sengaja menekankan kata KALAH.
Adit berjalan mendekati Rama dengan jalan yang
sempoyongan dibantu kedua teman di kana kirinya. Ia melepaskan almamaternya dan
berkata “gue mewakili esema Stela Mulia mengaku kalah melawan Dhimika Dua dan
gue nyerahin almamater sekolah gue sebagai bukti kalahnya sekolah gue”secara
keras dan lantang dihadapan pasukan SMA Dhimika 2 dan tanpa sepengetahuannya
direkam oleh orang yang telah menolong Rama.
Setelah mengatakan itu pasukan SMA Dhimika 2 segera
meninggalkan lapangan dan bergegas kembali ke sekolah.
∂∂
Di SMA Dhimika 2, semua berkumpul merayakan kemenangan
mereka. Tidak biasanya pertarungan antar SMA dapat berlangsung hingga akhir.
Biasanya selalu ada polisi yang mendatangi dan menangkap mereka.
“lo nggak papa Ram?”tanya Andre langsung begitu Rama
melepaskan helmnya.
“nggak papa gigi lo! Gimana sih tadi, kenapa lo nggak
langsung maju trus pimpin pasukan, pake nunggu gue lagi!! Keburu mampus gue
kalo lo nunggu aba-aba gue kuya!!”Rama membabi buta. Ia kesal teman
seperjuangannya begonya minta ampun.
“hahahaha”Andre hanya tertawa, “tapi temen lo tadi keren
brada. Anak mana tu orang?”
“temen gue yang mana?”tanya Rama bingung.
“temen lo yang nolongin lo tadi, yang pake CBR item trus
pake cadar item juga,”terang Andre.
“itu bukannya anak Dhimika juga ya? Gue nggak bawa orang
luar,”jawab Rama tak yakin.
“oh mungkin anak kelas satu,”
Setelah itu mereka melupakan kejadian sore tadi dan
pulang ke rumah masing-masing. Namun sepanjang perjalan Rama masih bingung
siapa gerangan orang yang telah menolongnya.
∂∂
Malam hari di kamar Ray...
“tuuut tuuut, La lo bisa ke rumah gue enggak? Gue habis
jatuh nih...apa?...di deket indomeret deket rumah gue...oke gue tunggu...tuuut
tuuut,”telpon ditutup dari sebrang.
Tak lebih dari lima belas menit Mella sudah masuk kamar
Ray membawa kentung plastik yang berlogo apotik.
“emang lo kira gue perawat apa?!”omel Mella.
“yee, elo kan menejer gue,”
“menejer sih menejer, tapi bukan lo aja yang harus gue
perhatiin, tapi semua kuya!!”omel Mella sambil mengobati luka lebam di muka dan
lengan kanan Ray.
“aauu, be quite oke,”rengek Ray pada Mella.
“tahan kenapa! Betewe nyokap lo kemana? Kok gue sekarang jarang
liat,”
“aaauu aaau sakit! Belum pulang aaau lo tau kan gue Cuma
aaau berdua,”jawab Ray sambil menahan sakit.
EMPAT
Di kantin XII
“thanks Val, kemaren lo udah tolong gue,”ucap Rama pada
Valhen.
“kapan?”tanya Valhen bingung.
“sok lupa lo. Kemaren waktu di lapangan,”
“tapi bukan gue yang nolong elo,”elak Valhen.
“terus siapa?”Rama terlihat berfikir “gue tau!”Rama
baru menyadari satu hal. Mungkin saja Ray yang menolongnya saat tawuran
kemarin. “tunggu gue bentar,”Rama meninggalkan kantin dua belas dan menuju
kantin sepuluh. Ia mencari sosok yang mungkin telah menolongnya.
Rama celingukan mencari Ray. Setelah menemukan Ray,
Rama langsung menggenggam erat lengannya dan menariknya paksa untuk ikut
dengannya.
“lepasin Ram!! Lo apa-apaan sih? Sakit tau!!”Ray
mencoba melepaskan cengkraman erat tangan Rama. Namun sia-sia, tangan Rama
terlalu kuat. Kini Ray hanya bisa pasrah. Rupanya Rama membawa Ray ke katin
kelas dua belas.
“lo pada liat nih cewek nggak waktu kita tawur
kemarin?”tanya Rama.
“lepasin Ram! Sakit tau!!”Ray masih terus mencoba
melepaskan cengkraman Rama.
“gue nggak liat, lagian nggak mungkin Ray, Ram. Orang
dia pake celana,”jelas Andre.
“apa-apaan sih lo Ram!! Lepasin nggak!! Gue nggak ikut
tawuran!!”Rama ahkirnya melepaskan cengkraman tangannya di lengan Ray.
Begitu tangan Ray dilepaskan, ia segera pergi
meninggalkan Rama dan teman-temannya. Rama hanya terdiam melihat apa yang telah
ia lakukan pada Ray, tak seharusnya Rama menuduh Ray yang tidak-tidak.
“kenapa sih tu cowok, bawaannya curiga mulu sama gue!
Aduh sakit, mana tangannya kuat banget lagi,”omel Ray sepanjang perjalanan
menuju kelas.
∂∂
Tiiiiiiiiin
Suara klakson mobil dibunyikan panjang di depan rumah
Ray. Mendengar suara mobil yang sudah tak asing lagi, Ray segera turu dari
kamar. Kemudian Ray menulis satu pesan singkat untuk Mamanya
Ma, Ray berangkat bskt dulu.
Ray mkn d luar.
Ry.
Setelah menjepitkan kertas di pintu kulkas, Ray segera
keluar dan menghampiri Rio hijau milik Mella. Ray segera membuka pintu dan
duduk manis di sebelah Mella.
“lama amat sih lo! Mobil gue sampe lumutan nih!”begitu
Ray duduk Mella langsung marah-marah.
“sory sory, tadi nulis pesan dulu buat nyokap. Emang
dari dulu kali mobil lo kayak lumut,”
“brisik lo! Tinggal nebeng juga,”Mella melaju mobilnya
perlahan. Namun setelah keluar jalan raya, ia sama saja dengan Ray,
ugal-ugalan. Hari ini Mella mengantarkan Ray ke sekolah untuk melaksanakan
perkenalan antar anggota baru di tim basket SMA Dhimika 2.
SMA Dhimika 2 mempunyai gedung olahraga sendiri di
lantai tiga yang berukuran cukup besar lengkap dengan bangku penontonnya. Rio
Mella parkir dengan rapi di halaman SMA Dhimika 2. Ray dan Mella berjalan
menuju gedung olahraga sambil bercerita.
Mereka berdua ahkirnya sampai di pintu masuk GOR. Ray
dan Mella memandang takjub. SMA Dhimika 2 memang memberi fasilitas terbaik bagi
siapa saja yang ingin berprestasi. Saat Ray hendak membuka pintu, seseorang
dari tempat sebaliknya mendorong pintu dengan keras hingga mengenai wajah Ray.
Buuuuuuk
“AAUUU!”teriak Ray. Karena pintu GOR cukup besar,
tubuhnya terhuyung hingga terjatuh ke lantai.
“lo nggak papa Ray?”tanya Mella sambil membantu Ray
berdiri.
“sialan!! Siapa sih yang buka pintu ngawur, kena muka
gue ini!!”Ray marah-marah.
“sory sory gue nggak seng...”kata seseorang yang
membuka pintu, “ELO!!!”kata Ray dan Rama bebarengan. Ternyata orang yang
membuka pintu tadi ialah Rama.
“NGAPAIN LO DISINI!!”tanya Ray dan Rama bersamaan.
“gue mau ikut ekskul renang!”jawab Ray.
“lo nggak salah alamat kan?”
“lo kira gue Ayu tingting apa, pake salah alamat! Ya
gue mau ikut ekskul basketlah!”kata Ray dengan nada tinggi.
“emang lo bisa?”tanya Rama meremehkan.
“lo liat aja sendiri. Jangan bilang lo juga ikut ekskul
ini?”
“kalo kenyataannya emang ikut gimana?”
“ya Tuhaaaan!! Kena kutuk apa hambamu ini. Mengapa
hamba selalu bertemu dengan cowok blagu itu sih,”Ray mengguman tak jelas,
sementara Mella yang mendengarkan hanya tertawa.
Semua anggota ekstrakulikuler basket yang baru
dipersilahkan memperkenalkan diri mulai dari nama, kelas hingga alasan mereka
mengikuti ekstrakulikuler basket. Sementara untuk anak kelas sebelas dan dua
belas cukup memberitahukan nama dan jabatan mereka di tim.
∂∂
Setelah perkenalan selesai, dilanjutkan seleksi tim
inti untuk mewakili SMA Dhimika 2 dalam setiap pertandingan. Dibuat undian agar
mempermudah penilaian. Ray yang memang sudah jago melakukan semua yang ia bisa.
Hampir semua yang melihat permainan Ray terpukau, bahkan Rama sebagai salah
satu tim penyeleksipun juga terpukau melihat cara Ray memainkan bola.
Untuk ukuran perempuan, cara Ray memaikan bola nyaris
sempurna. Bahkan beberapa gerakan Rama tidak menguasai betul namun Ray seperti
menari indah menggunakan bola.
“kami telah menilai kemampuan kalian dalam menguasai
bola. Setelah istirahat kita mulai game. Istirahat dua puluh menit,”kata Rama
bijaksana. Ia terlihat kekar menggunakan kaos tim bertuliskan DHIMIKA TWO
didadanya dan nomor jersey 7 dipunggungnya seperi nomor jersey Ray.
Rama menghampiri Ray yang tengah asyik meneguk air
mineral. Ia menyingkirkan tas yang berada di samping Ray dan duduk di
sebelahnya. Ia memandang wajah Ray yang memerah entah karena berkeringat atau
malu. Rama melihat lengan Ray sedikit lebam.
“tangan lo kenapa?”tanya Rama penasaran, “udah gue
duga, lo pasti ikut tawuran kan?”tebaknnya.
“apaan sih lo! Ini gara-gara cengkraman lo kemaren!
Udah gue bilang gue nggak ikut ya nggak ikut!”sangkal Ray.
Rama melihat lebih dekat tangan Ray.“oh sory. Coba gue
liat,”kata Rama sambil menarik lengan Ray yang lebam.
“auu! Sakit!”rintih Ray.
“maafin gue Ra,”kata Rama sungguh-sungguh.
“maaf buat apa?”jawab Ray malu-malu. Mukanya yang
memerah akibat berkeringat kini semakin memerah karena malu.
“maaf karena gue udah nuduh lo ikut tawuran. Gue
percaya kok kalo lo nggak ikutan,”
Senyum mengembang di wajah Ray, “oke nggak masalah kok.
Gue juga mau minta maaf soal ulah gue waktu OSPEK itu,”
“oke. Jadi kita temenan nih sekarang?”Rama mengulurkan
tangannya dan menyisakan jari kelingkingnya, sementara jari lainnya ia
kepalkan.
“oke, temen”Ray membalas jari kelingking Rama. Rama
tersenyum penuh arti.
∂∂
Hari ini MBC terlihat ramai tak seperti biasanya,
padahal hari ini adalah hari Rabu hari yang biasanya sepi pemain. Biasanya
hanya segelintir orang yang datang, mungkin hanya sepuluh orang cewek dan
cowok. Evan yang datang belakangan langsung menghampiri Ray yang tengah
melakukan treepoint shoot.
“mau ada uji coba apa Ray? Kok tumben banyak yang
dateng,”kata Evan sambil merebut bola di tangan Ray.
“kurang tau gue. Katanya sih anggota baru itu datangnya
hari ini, jadi ya mau dilihat kemampuannya,”kata Ray sambil menembakkan bola ke
arah ring.
“ooo gitu. Nama MBC bisa makin tinggi nih kalo ada
anggota yang punya label MVP,”
“bukanya nama MBC udah dari dulu ada di atas yaa. Nggak
ada dia pun MBC udah punya label MVP,”kata Ray sombong.
Saat asik tengah bermain bola dengan Evan, seseorang
membuka pintu masuk. Ia menggenakan jersey biru tua bernomor tujuh dan celana
senada. Ray menghentikan permainannya dan melihat siapa yang datang. Ray merasa
mengetahui orang yang baru masuk itu.
“RAA!!”panggil orang itu.
“wooi Ram!”jawab Ray, ternyata anggota baru MBC adalah
Rama. “anggota barunya itu elo yaa?”
“iyaa, boleh gabungkan gue?”
“boleh, asal lo bukan mata-mata dari SBC aja!”jawab Evan
ketus. Ternyata Rama adalah mantan anggota SBC atau Satria Basketball Club.
Club besket yang selama ini menjadi musuh terbesar MBC.
“santai bro, data gue udah masuk,”jawab Rama santai.
“satu lagi asal lo nggak rese sama gue,”kata Ray
enteng.
Kini Ray dan Rama sudah bedamai, tak ada lagi permusuhan
diantara mereka berdua. Meskipun Ray open dengan Rama sebagai anggota baru MBC
namun sebaliknya, Evan justru menaruh curiga pada Rama. Pasalnya Rama merupakan
musuhnya di dalam lapangan. Sudah sejak dulu ia selalu bertemu Rama dalam
pertandingan.
∂∂
“jadi lo juga udah lama pake nomer tujuh?”tanya Rama
pada Ray. Saat ini mereka sedang istirahat latihan. Ini adalah hari pertama Ray
berlatih sebagai tim inti SMA Dhimika 2.
“iya, dari gue punya baju pertama kali,”jawabnya sambil
mengelap keringat di wajahnya.
“gue juga. Semenjak gue kenal basket gue pake nomer
tujuh. Lo udah berapa lama ngebela MBC?”
“lima tahun ada kali,”
“woow, lama juga ya. Lo kenal basket dari siapa?”
“dari kakak gue, dulu dia juga pembasket hebat. Namanya
dikenal semua orang. Nggak Cuma kalangan atlit aja, orang awam yang nggak kenal
basket juga pasti ngenalin dia,”jawab Ray sambil tersenyum nakal.
“oya?! Kakak lo femes banget dong. Emang siapa?”tanya
Rama bersemangat.
“kobe bryant. Tau nggak lo?”senyum mengembang di wajah
Ray.
Rama hanya melongo, ia merasa ditipu. “sialan lo! Gue
pikir beneran,”mereka pun meneruskan latihan mereka.
Rama, Ray dan anggota tim basket lainnya sedang
melakukan uji coba. Tim basket laki-laki Dhimika 2 melawan tim basket perempuan
Dhimika 2. Saat ini hampir memasuki babak ke dua dan tim Ray kalah telak dengan
tim Rama. Poinnya 60-14, Ray membawa bola didepannya ada Rama yang siap dengan
posisi defance. Ray menatap tajam mata Rama, seperti kebiasaanya selama ini.
Ray selalu menatap tajam lawan yang mengalangi jalannya untuk memasukan bola ke
ring. Cara itu dilakukan Ray sebagai gertakan agar lawan mundur.
Tatapan Ray dan Rama kini beradu, namun tatapan mata
Ray bukanlah tatapan matanya saat ia menghadapi lawan tetapi tatapan yang teduh
namun tajam. Rama merasakan tajam mata Ray, saat seperti inilah yang Ray
gunakan untuk memasukan bola. Ia mendribel bolanya sebikit ke kanan, sekitar
titik empat puluh lima derajat dari ring. Kemnudian ia melakukan back step
keluar trhee point dan melakukan shoot.
Shuuuut
Bola Ray dengan mulus masuk ke ring. Para pemain
bertepuk tangan melihat kelincahan Ray memainkan bola. Menit demi menit
berganti, skor saat ini tak telak seperti awal babak tadi. 84-37 untuk tim
Rama. Memasuki babak ke empat Rama dan timnya terlihat sudah kelelahan, hanya
sekitar 7 orang yang hadir latihan saat itu. Sedangkan tim Ray ada sekitar 9
orang yang datang latihan.
Prit prit prit priiiiiiiiiiiiiit
Peluit tanda berakhirnya uji coba sore itu ditiup. Tim
Ray kalah telak dengan tim Rama, sekitar 105-42. Dan hampir setengahnya Rama
dan Ray yang memasukan. Selesai melakukan uji coba mereka tos bersama dan
menutup latihan sore itu.
“RA!”panggil Rama. Ray yang sedang meneguk sebotol air
mineral hanya bisa menoleh dan berhenti. “lo mau langsung pulang?”
“enggaklah. Hari ini gue juga ada latihan di MBC,”
“ooya. Gue juga ikut deh sekarang kan gue juga anggota
MBC. Lo bawa motor?”kata Rama.
“enggak, gue ntar di jemput menejer gue, haha”
“yaa udah bareng gue aja,”Ray akhirnya setuju. Ia dan
Rama berboncengan mengendarai ninja biru milik Rama. Ray agak ragu sebelum
menaiki, ada perasan tak enak yang ia rasakan. Ia merasa curiga pada kebaikan
Rama. Namun ia singkirkan juga perasaan itu dan segera naik.
lima
Sudah hampir dua bulan Ray menjadi siswa Dhimika 2, dan
sudah hampir dua bulan ini juga ia terus dipanggil guru BP. Pelanggarannya
beragam mulai dari terlambat, bolos, sampai nyaris berkelahi dengan salah satu
teman sekelasnya.
Hari ini menurut kabar burung, SMA Stela Mulia akan
mendatangi SMA Dhimika 2 untuk membalas kekalahan mereka. Sudah banyak siswa
yang mengetahui, sehingga banyak diantara mereka yang pulang lebih dulu sebelum
bel pelajaran berbunyi, tak terkecuali Ray. Ray bukannya takut musuh bebuyutan
dari sekolahnya itu datang, tetapi ia malah berjaga-jaga kalau saja ada anak
Stela Mulia yang sudah nyolong start atau masuk Dhimika 2 tanpa pengetahuan. Ray
mengganti seragamnya dan melaju motornya dan menembus jalanan Jakarta.
∂∂
Bel berakhirnya jam pelajaran akhirnya berbunyi. Tak
seperti biasanya, SMA Dhimika 2 sudah terlihat legam, sepi tak perpenghuni. Hanya
orang-orang yang seperti biasa melindungi SMA Dhimika 2. Terlihat Rama dan
Valhen di sudut sekolah, mereka duduk di motor masing-masing.
Sejauh ini tanda-tanda SMA Stela Mulia belum terlihat.
Namun tetap saja, Rama dan Valhen terus siaga. Dari kejauhan terlihat CBR hitam
yang dikendarai salah seorang anak SMA Stela Mulia. Ia menghampiri Rama dan
berhenti tepat di hadapan motornya. Orang itu kemudian membuka helm
fullfacenya. Adit! Orang yang mengendarai CBR hitam itu adalah Adit.
“ngapain lo? Sendiri aja!!
Nganterin nyawa lo?!”tanya Rama langsung. Rama kini berhadapan dengan Adit.
Rama merasa tidak asing dengan
Honda CBR hitam yang dikendarai Adit. Selama ini Rama melihat Adit selalu
menggunakan motor bebek yang sudah dimodiv. Perasaan Rama tidak enak,
jangan-jangan seorang siswa SMA Dhimika 2 tertangkap Adit.
“weits weits santai bro!
Justru gue kesini mau ngasih kabar baik ke lo berdua,”jawab Adit penuh arti.
Matanya terus ditatap tajam oleh Rama.
“apa maksud lo?!”
“ternyata kemaren lo tawur
bawa-bawa cewek ya? Cuih!”kata Adit sambil meludah ke bawah, “jadi lo
kekurangan pasukan sampai lo bawa cewek! Mana tu cewek yang hajar gue! Sialan!
Enaknya gue apain tu cewek?!”terusnya disertai tawa kepuasan.
Rama diam seketika. Tanpa diberitahu siapa orangnya, Rama
jelas tahu siapa perempuan yang dimaksud Adit. “apa maksud lo!!”bentaknya. Kini
ia tak dapat menahan kemarahannya. Ditonjoknya pipi kiri Adit.
“weits! Santai men, nih motor
cewek itu. Lo macem-macem gue bakar nih motor!”
“JADI APA MAU LO HA?!!”
“lo berdua ikut gue, tapi lo
mesti inget, jangan lo bawa-bawa pasukan, atau nggak. .”Adit sengaja
menggantungkan kalimatnya. Adit kemudian mengendarai motor Ray, sementara
Valhen dan Rama berboncengan. Adit melaju motor Ray dengan kencang sehingga
Rama sulit mengejarnya.
∂∂
Adit membawa Rama dan Valhen memasuki gang kecil di
belakang SMA Stela Mulia. Rupanya Rama dan Valhen dibawa Adit ke base camp
anak-anak SMA Stela Mulia. Disana sekitar empat motor diparkirkan, termasuk
motor Adit. Rama dan Valhen turun dari motor. Mereka mengikuti Adit dari
belakang.
Adit menemui salah seorang
anak buahnya, ia membisikan sesuatu kemudian masuk ke dalam.
“LO MAU BAWA KITA KEMANA
HAA?!!”tanya Rama tak kuasa menahan diri, ia cengkram kerah baju Adit.
Rama sudah tak tahan lagi
ingin mengetahui keadaan Ray.
“lo nggak tau lo sekarang ada
dimana?”jawab Adit santai, “lo ada di kandang singa, sementara lo Cuma berdua!
Lo bisa mampus kalo lo nggak bisa sabar sedikit,”
Akhirnya Rama melepaskan cengkramannya. Setelah itu Adit
membuka pintu. Di balik pintu itu ternyata ada Ray yang terduduk lemah. Ia diikat
dikursi dengan kain yang menahan mulutnya. Terlihat ada sedikit darah dari
sudut bibir kanannya, juga lebam di pipi kanannya.
“RAAY!!”teriak Rama dan Valhen bebarengan. Mereka berlari
menghampiri Ray yang terduduk lemah itu. Diangkatnya kepala Ray yang menunduk,
kemudian Rama melepaskan kain di mulutnya dan tali yang mengikat tubuhnya.
“ck! Apaan sih lo! Lo mending urus yang di luar, hubungi
semua anak-anak!”perintah Rama sambil menepis tangan Valhen yang hendak
membantu Ray.
Diam-diam Valhen mengambil
ponsel dari saku dan mengetik pesan singkat tanpa sepengetahuan Adit dan dua
temannya yang sedari tadi berdiri di kanan kiri pintu. Tak lama setelah itu ia
berdiri dan menghampiri Adit.
“gue mau bikin perjanjian sama lo!”Adit, Valhen dan kedua
orang itu kemudian keluar meninggalkan Rama dan Ray.
“Ra!! Bangun Ra!”panggil Rama sambil menggerakan pelan
tubuh Ray.
“Ra, gue nggak akan maafin diri gue sendiri kalo lo
sampai kenapa-napa,”ditatapnya wajah Ray yang lebam itu, kemudian mengambil
sapu tangan yang selalu Rama bawa. Dibersihkannya darah yang berada di ujung
bibir kanan Ray perlahan dan membersihkan tanah yang melekat dilukanya. “gue
udah pernah bilang sama lo Ra, jangan pernah ikutan, sekarang apa? Lo juga kan
yang kena,”katanya sambil menatap sedih Ray.
“maf...maafin gue Ram,”hanya itu yang dapat Ray ucapkan
saat ia setengah sadarkan diri.
“lo nggak perlu minta maaf Ra,”
“maafin gue karena gue udah bohong sama lo, gue
Cuma...”kalimat Ray terpotong. Ray pingsan.
Dengan sigap Rama memeluk tubuh Ray. Ia mencoba menggendong
Ray. Saat ia akan membawa Ray, terdengar suara gaduh dari luar. Rama mencoba
mencari jalan keluar lain. Ia melihat pintu lain yang terlihat di kunci. Rama
menurunkan Ray kembali dan mencoba membuka pintu itu. Dengan menggunakan kayu,
Rama mencongkel gembok yang terlihat tua itu. Untung saja gembok itu dapat
terbuka.
Rama kembali membopong Ray dan membawanya keluar. Rama
mencari jalan raya disekitar itu. Ia kemudian mencegat taxie dan membawa Ray ke
rumah sakit terdekat.
∂∂
Ray sudah tiga puluh menit berada di dalam ruang UGD.
Sementara Rama mondar-mandir di luar ruang UDG. Rama harap-harap cemas, ia
takut sesuatu yang buruk menimpa Ray karenannya.
Tak lama kemudian, seorang berjas putih keluar dari ruang
UGD dengan raut muka yang tak terduga. Ia mungkin saja akan membawakan kabar
buruk, mungkin juga kabar baik. Orang berjas putih itu kemudian melepas
kacamata minusnya dan memasukannya ke dalam saku jas putihnya. Melepas sarung
tangan yang sedikit kemerahan, mungkin karena percikan darah.
Rama memandang dokter dengan penuh harap. “bagaimana
keadaan teman saya Dok?”tanya Rama padanya.
“jadi anda temannya? Mana orang tuanya? Saya perlu
membicarakan hal yang serius dengan beliau”jawab Dokter itu.
“mamanya sedang menuju kemari Dok? Bagaiman keadaan Ray?
Apa dia baik-baik saja?”Rama mengulangi pertanyaannya lagi. Mungkin ia akan
terus mengulangi sebelum dokter menjawabnya.
“teman kamu baik-baik saja, tetapi...”Dokter tidak
melanjutkan kalimatnya. Ia melihat wanita separuh baya berlarian mendekat ke
arahnya dan Rama. Mungkin saja itu orang tua Ray. “apa Anda orang tua dari Ray
Asmara?”tanya dokter pada wanita itu.
“iya dok!”jawabnya mantap, “saya Asna dok. Bagaimana
keadaan putri saya dok?”tanyanya. Tetes air mata jatuh dari sudut mata Asna,
mama Ray.
“keadaanya cukup memprihatinkan Bu. Bisakah ibu ke
ruangan saya untuk membicarakan hal ini?”hanya dengan anggukan lemas, Bu Asna
menjawab pertanyaan itu.
Sementara Bu Asna masuk untuk membicarakan keadaan Ray,
Rama masuk ke ruang UGD, namun sebelumnya ia telah bertanya pada suster yang
menjaga Ray. Ia diperbolehkan melihat Ray asalkan ia mengunakan perlengkapan
yang telah disediakan rumah sakit.
Rama memandang wajah cantik Ray yang kini pucat dan penuh
perban. Namun kecantikan Ray tetap terpancar meskipun lebam hampir sebagian
wajahnya. Rama membisikan sesuatu kepada Ray. Meskipun Ray tak sadarkan diri,
namun Rama yakin bahwa Ray dapat mendengar bisikan Rama. Setelah selesai ia
mencium kening Ray
Selang beberapa saat dokter beserta perawat masuk dengan
membawa perlengkapan operasi. Sepertinya hanya operasi ringan. Rama diminta
untuk meninggalkan ruang UGD dan menunggu di luar. Dengan pasrah Rama berjalan
keluar.
Rupanya di luar Bu Asna sudah menunggu dengan kepala
tertunduk. Rama menghampirinya dan menegurnya.
“maaf tante, boleh saya temani?”sapanya sopan.
Bu Asna hanya menoleh memandang Rama tanpa menjawab. Ia
hanya memberikan senyum sambil mengangguk.
“kamu pacarnya Ray?”tanyanya tanpa memandang Rama. Ia tak
ingin kesedihannya mendapat belas kasihan dari Rama.
“bukan! Bukan tante, saya kakak kelasnya,”jawabnya
terbata-bata.
“maafkan Ray, nak...”
“Rama tante,”
“nak Rama. Ray memang seperti itu, tanpa kamu jelaskan
tante sudah bisa menebak. Dia pasti ikut tawuran kan?”
“enggak tante. Maafin saya, itu semua salah saya. Ray...”
“tidak usah menyalahkan diri sendiri nak, meskipun dari
kecil Ray tidak pernah ikut saya, tapi Ray tetap anak saya. Saya tahu betul.”
Rama dan Bu Asna terlibat percakapan cukup lama. Mama Ray
menceritakan bagaimana masa lalu Ray yang selalu membuat kekacauan. Bagaimana
ia ingin sekali menghajar semua laki-laki yang menyakiti hati Bu Asna.
“dulu Ray selalu dengan papanya, saya sudah lama bercerai
sejak Ray masih TK. Tapi setelah papanya meninggal Ray dan Ian tinggal lagi
sama saya...”Rama memandang raut wajah Bu Asna. Matanya mirip sekali dengan
mata Ray, tajam namun teduh. Penuh tanda tanya.
“satelah itu saya memutuskan untuk menikah lagi dengan
laki-laki brengsek itu...”
“maksut tante?”tanya Rama hati-hati.
“laki-laki yang sudah membuat Ray seperti sekarang ini
dan Ian selalu membuat onar...”
∂∂
Ray mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Denesa
Febrian Asmara, mereka sering memanggilnya Ian. Ray dan Ian selalu bersama
sejak kecil. Ian selalu menjaga Ray dan mamanya. Dulu Ian bersekolah di sekolah
yang sama dengan Ray saat ini.
Saat itu Ian duduk di kelas XII SMA Dhinika 2 bersama
dengan Dimas, sahabatnya. Mereka sama-sama anak yang berprestasi dan
membanggakan sekolah. Meskipun mereka pentolan SMA Dhimika 2, namun prestasi
mereka layak dibanggakan.
Suatu ketika Ian dan Dimas terlibat bentrok dengan SMA
Stela Mulia. Seperti biasanya, Ray selalu ikut dengan Ian. Meskipun saat-saat berbahaya
seperti tawuran namun Ian tetap menjaga Ray. Mengetahui Ian sangat menyayangi
Ray, musuh Ian menjadikan Ray sandera. Saat Ray pulang sekolah ia membuntuti
motor Ray dan menendangnya. Kemudian Ray dihajar dan disekap. Namun saat itu,
Yudha, tidak mengetahui bahwa Ray adalah perempuan. Ia sudah terlanjur menyekap
Ray.
Ian datang menemui Yudha seorang diri, Karena ia tak mau
membawa temannya dalam masalah pribadi seperti ini. Begitu Ian datang Yudha
mengeroyok Ian hingga babak belur dan tak sadarkan diri. Ray yang saat itu
diikat tangannya berusaha sekuat tenaga untuk menolong Ian.
Saat Ray sudah berhasil meloloskan diri, ia sudah melihat
Ian tak sadarkan diri dan berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Ray panik dan
menelepon ambulan. Ian sempat dibawa kerumah sakit, namun kerena organ dalam Ian
banyak yang rusak akhirnya Ian tak tertolong lagi. Saat itulah Ray benar-benar
merasa bersalah karena tidak dapat membantu kakanya.
Ray benar-benar patah semangat. Ia sempat hampir membunuh
Yudha dengan tangannya sendiri. Karena emosinya yang kurang stabil akhirnya Ray
masuk rehap dan menjalankan terapi. Sepengetahuan Bu Asna, Ray telah sembuh
total dan bisa menjalani kehidupan seperti layaknya anak perempuan seusianya.
Tak lama setelah itu, Bu Asna dan suaminya bertengkar
hebat karena Ray. Menurut ayah tirinya Ray sudah tak waras. Karena membela Ray,
Bu Asna di pukul suaminya. Ray hanya diam saja melihat itu. Ia tak tahu harus
berbuat apa lagi, kejadian yang sama terulang di depan matanya. Kedua orang
yang ia sayangi dihajar karenanya.
Mulai saat itulah Ray bersumpah untuk menjaga orang-orang
yang disayangi dan membalaskan dendam kakanya.
∂∂
“begitulah nak ceritanya, semenjak kejadian itu Ray tidak
mau dipanggil Ara lagi karena itu panggilan kesayangan Ian. Tante minta maaf
kalau Ray sering merepotkan nak Rama. Tapi tante mohon sekali, tolong jaga Ray.
Meskipun ia bukan siapa-siapa bagi nak Rama, tapi tolong sekali,”Bu Asna turun
dari tempat duduknya dan memohon kepada Rama, “tante rela melakukan apa saja
demi Ray,”
“tante,”Rama membangunkan mama Ray, “saya janji akan
menjaga Ray. Seperti Ian menjaga Ray. Saya berjanji”
“terima kasih nak,”
“sama-sama tante. Pantas saja Ray kalau saya panggil Ara
selalu marah,”
“Ray tidak pernah mau dipanggil Ara lagi karena ia selalu
merasa bersalah jika mengingat Ian. Ah sudahlah nak, tente jadi melow kayak
begini,”tante Ane tersenyum dan menghapus air matanya.
Sekarang gue tahu dari mana Ray bisa kuat, ibunya jauh
lebi kuat batin Rama.
∂∂
Seharian ini Rama, Evan, dan Valhen menunggui Ray. Ray
telah berhasil menjalani operasinya. Kini hanya menunggu ia sadarkan diri.
Wajahnya masih pucat, lebam di wajahnya masih terlihat. Sudah dua hari Ray
tidak sadarkan diri.
Mata Ray sedikit terbuka, ia seperti mengkerlingkan mata.
Sedikit lagi dan akhirnya benar-benar terbuka. Ray sadarkan diri.
“gue ada dimana?”tanyanya. Suaranya parau, “tolong, air”
“lo ada di rumah sakit Ra,”jawab Rama seraya menyodorkan
segelas air mineral.
Ray mencoba mengingat kejadian yang telah menimpanya dua
hari yang lalu. Kepalanya sakit dan kakinya terasa berat. Ia membuka selimut
yang menyelimuti sebagian badannya.
“kak...”suaranya serak dan tertahan “kaki gue kenapa?
KENAPA RAM? GUE NGGAK BISA BASKET LAGI”Ray menangis melihat kakinya digips.
“TINGGALIN GUE SENDIRIAAAN!!!”Ray mulai histeris.
“Ra tenang, lo masih bisa basket,”kata Rama menenangkan.
“tinggalin kita berdua”sambungnya. Evan dan Valhen meninggalkan mereka berdua.
“gimana bisa Ram? Gimana bisa?!”
“kaki lo Cuma di gips, nggak akan lama,”jawabnya enteng.
“GIMANA BISA GUE TENANG!!!”Ray hilang kendali. Rama
menarik tubuhnya dan memeluknya. Ia benamkan kepala Ray dan membiarkannya
menangis di bahunya.
“lo bisa ceritain lebih tenang ke gue kalo lo
mau,”kemudian ia melepaskan pelukannya.
“gue nggak akan bisa main basket lagi”kata Ray tertunduk.
“tapi kenapa?”
“gue pernah ngalamin hal kayak gini dua kali, kaki kanan
juga. Sekali lagi lutut gue cidera, kaki gue bakal diplatina, lo taukan itu?
Tanpa dijelasin dokterpun gue tahu lutut gue nggak akan bisa sembuh total, gue
nggak bisa maen lagi,” Ray kembali menangis.
“Ra, gue tahu lo orang yang kuat. Bahkan gue sendiri
kalah sama lo. Lo tahu dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, mungkin aja ini
jalan sempit yang susah lo lalui buat ke jalan yang lebih mudah. Gue yakin lo
pasti bisa berangkat ke Australia tahun ini, masih ada tujuh bulan buat mulihin
kaki lo, gue tahu lo bukan orang sembarangan,” kata Rama bijaksana.
“dari mana lo tahu gue pengen banget ke sana?”
“itu impian hampir semua anak basket, dan tahun ini milik
lo, gue yakin lo bisa!” katanya mantap.
“hahahaha” Ray hanya tertawa, “sok bijak banget lo,
hahaha”
Ray tetap tegar dengan apa yang menimpanya. Kata-kata
Rama begitu membekas di hatinya. Saat ini orang seperti Rama lah yang
diperlukan Ray untuk kesembuhannya. Dulu hanya kakaknya yang dapat membuat Ray
melupakan kejadian-kejadian yang membuatya down, kini posisi Ian telah
digantikan Rama, atau bahkan lebih dari itu. Rama berhasil menarik hati Ray.
∂∂
“jadi itu sebabnya lo bisa ketangkep Adit?” tanya Rama
setelah Ray bercerita bagaimana ia bisa menjadi sandera.
Saat ini, Rama, Valhen dan Evan mendengarkan cerita Ray
tentang bagaimana ia bisa sampai menjadi sandera. Awalnya Ray tidak mau
menceritakan kejadian tolol itu, namun karena Rama dan Valhen sudah berjanji
untuk tidak ikut campuri masalahanya dengan Adit akhirnya Ray mau menceritakan
kejadian yang sebenarnya.
Pada saat itu, Ray hanya iseng untuk berjaga-jaga kalau
saja anak SMA Stela Mulia bersembunyi sekitar kompleks SMA Dhimika 2 dan benar
saja, Ray melihat empat motor yang bersembunyi di belakang SMA Dhimika 2. Saat
itu Ray benar-benar sendirian. Ia mencoba melarikan diri, namun di jalan
motornya ditendang oleh Adit. Ray jatuh tersungkur. Tanpa pikir panjang, Adit
dan 3 temannya menghajar Ray di tempat. Ray yang saat itu sedang tidak enak
badan dihajar habis-habisan.
Adit memang sengaja tidak menghabisi Ray. Kedua temannya
membantu Ray berdiri. Adit melepaskan helm Ray. Saat helm Ray terlepas,
rambutnya yang panjang terurai. Adit benar-benar tidak menyangka jika orang
yang telah menghajarnya adalah seorang perempuan. Saat itu Ray menggunakan
seragam pria SMA Dhimika 2. Adit tak habis pikir betapa cerdiknya SMA Dhimika
2. Akhirnya Ray dibawa untuk sandera dan Adit mendatangi SMA Dhimika 2
menggunakan motor Ray.
“lo bener-bener kreatif Ra,” puji Valhen. “te-o-pe deh.”
“gue nggak tahu Ra apa yang ada dipikiran lo sampe lo
bisa lakuin itu semua,” Rama masih tak percaya akan apa yang didengarnya. Kini
ia tahu orang yang menolongnya adalah Ray.
“maafin gue karena udah bohongin lo semua,” Ray
tersenyum.
“lo nggak kenal siapa Ray, makanya lo jangan sok tahu!” kata
Evan ketus. Ia pun pamit pulang karena ada latihan di MBC.
enam
Pertandingan antar club basket yang diadakan mendikpora
DKI Jakarta hanya mengghitung minggu, namun Ray masih belum bisa ikut bertanding.
Ia hanya duduk di bance pemain saat berlatih, meskipun gips kakinya sudah
dilepas namun kakinya belum bisa digunakan total untuk berlari.
Posisi Ray sebagai kapten membuatnya merasa bersalah
karena kali ini tidak dapat turun di lapangan. Tapi Ray tetap percaya dengan
teman-teman satu teamnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, MBC selalu ikut andil
dalam berbagai pertandingan. Baik putra maupun putri, keduanya sama-sama dapat
dibanggakan.
Ray berdiri dari tempatnya duduk dan menghampir Rama yang
tengah mengeringkan wajahnya dengan handuk.
“nih” ia menyodorka air mineral pada Rama.
“thanks Ra,” jawabnya sambil menerima air meineral itu.
“oya Ram, lo tahun ini udah bawa nama MBC tapi lo belum
tanda tangan surat perjanjian sama perpindahan kan?” tanya Ray ragu-ragu.
“aa... besok aja deh Ra, gue capek banget hari ini,” Rama
tergagap-gagap menjawab pertanyaan Ray.
“tapi kalo lo belum tanda tangan lo sih emang bisa main
tapi...”
“iyaa, gue bakal tanda tangan tapi habis pertandingan
aja. Kan gue harus cari...”
“cari apa?”
“ah nggak kok, yuk pulang”
Seperti biasanya, Rama mengantar pulang Ray. Ray hanya
diam memikirkan perkataan Rama. Ia curiga ada sesuatu yang Rama sembunyikan
darinya. Namun melihat kebaikan Rama padanya ia membuang pikiran negatifnya
jauh-jauh.
∂∂
“Ray, lo jadian yaa sama Rama?” goda Mella.
“apaan lo La, siapa juga yang jadian. Orang gue cuma
temenan aja kok sama dia. Lo kan tahu gue temennya banyak, nggak kayak lo,
kuper!”
“sialan lo! Gini-gini akses gue banyak tau!” Mella tak
mau kalah.
Ray dan Mella bercanda di kantin. Membicarakan hal-hal
yang berhubungan dengan olahraga, apapun itu. Baik basket, sepak bola, sampai
karate. Mereka memang suka olahraga. Meskipun kaki Ray masih sakit, ia tetap
berjalan tanpa menggunakan penyangga. Hanya Mella sesekali membantunya manaiki
tangga ataupun berdiri. Ray masih pincang saat berjalan.
Kali ini Ray dan Mella makan di kanti kelas X.
Jarang-jarang mereka makan di sini, mungkin karena tempatnya yang paling dekat
dengan kelas Ray.
“jadi si biang kerok pincang nih?” kata seseorang.
“iyaa, denger-denger gara-gara nyelametin Rama, SOK
PAHLAWAN banget nggak sih girl?” tambah lainnya.
Rupanya suara itu berasal dari
geng Ganiza yang sedang membawa semangkuk bakso panas ditangannya. Mereka
kemudian menghampiri Ray dan Mella. Mengetahui Grasia akan mendatanginya Ray
mengajak Mella pergi. Karena kaki Ray yang masih pincang ia jadi lambat saat
berlajan akibatnya Gracia dan teman-temannya dapat menyusul.
“eitts! Mau kemana lo?!” tanyanya sinis.
“bukan urusan lo!”
“mana kaki lo yang katanya patah itu ha?”
“minggir lo, ini bukan urusan lo! Mau kaki gue diamputasi
kek itu bukan urusan lo!!” bentak Ray tepat di wajah Grasia.
“udah pincang masih nyolot aja lo!”
“AAAA!” Ray menjerit kesakitan. “sialan lo, tangan kosong
kalo berani!” tantang Ray. Baru saja Gracia memukul lutut Ray dengan tongkat
mayoret yang sejak tadi ia sembunyikan.
“sakit hm?!!” tanya Gracia pura-pura. “kalo yang ini!”
“AAAAAAAAA!!” Ray menjerit hingga terjatuh. Kakinya
benar-benar serasa patah. Ia hanya memegangi lututnya yang nyeri.
“Ray lo nggak papa kan?” tanya Mella. Sementara tersangkanya
pergi meninggalkan Ray begitu saja. “tunggu bentar Ray,” Mella berdiri dan
mengejar Gracia. Dari belakang dicolek punggung Gracia. Gracia pun menoleh dan
PLAK! Sebuah tamparan sangat keras mendarat dipipi mulus Gracia.
“apa-apaan sih lo?!”
“elo yang apa-apaan!” Mella mengambil mangkuk bakso yang
berada di tangan Gracia dan mengguyurkannya ke wajah Gracia. “makan tu bakso!!”
Kemudian Mella pergi sambil mengetik sebuah pesan singkat.
Mella kembali ke tempat Ray. Rupanya Ray masih terduduk
sambil memegangi lututnya. Mella membantu Ray berpindah ke tempat yang lebih
nyaman. Tak lama Rama datang setengah berlari ke arah Ray.
“lo nggak papa kan Ra?” tanya Rama sambil terengah-engah.
“nggak papa kok, cuman nyeri aja” jawab Ray santai.
Rama kemudian membantu Ray berdiri. Ray masih bisa
berjalan pincang. Dua langkah setelah itu tubuh Ray menghuyung ke samping dan
BUK Ray jatuh pingsan. Cepat-cepat Rama dan Mella memopong tubuh Ray ke UKS
sekolah.
∂∂
“jangan terlalu lo paksain kaki lo, ntar tambah parah. Lo
ingetkan kaki lo bisa bener-bener pulih setelah tiga bulan,” kata Rama. Saat
ini ia tengah membantu Ray berjalan.
Ray dan Rama sedang berlatih di MBC. Turnamen untuk
merebutkan piala Gubernur tinggal hitungan jari. Dan jika saat itu Ray belum
bisa main, ia terpaksa akan duduk di bangku cadangan selama pertandingan
berlangsung atau bahkan ia tidak akan terdaftar dalam turnamen musim ini.
Rama terus menjaga Ray dari belakang agar saat tubuh Ray
limbung ia bisa langsung membantu.
“tiga bulan itu lama Ram, gue harus turun Piala Gubernur.
Ini turnamen antar club putri terbesar tahun ini, dan lo tahu kan ada seleksi
untuk tim putri dan gue mau gue bisa lolos,”
“gue tahu!! Tapi percuma aja kalo lo sekarang maksain
kaki lo, sama aja bakalan bikin lo sama sekali nggak bisa ikut turnamen apapun.
Mending kalo gue nggak turun Piala Gubernur tapi even lain ikut,”saran Rama.
“bagi gue cuma ada dua hal yang penting. Jadi atlet
profesional dan...” Ray menghentikan ucapannya.
“dan??”
“udah lupain. Ayo kita latihan lagi,” katanya
bersemangat.
Ray berlatih lari kecil-kecil. Sebenarnya ia merasakan
sakit dikakinya namun semangat Ray menjadi dorongan dan mampu melupakan semua
rasa sakitnya. Ray mengambil bola dan mencoba mendribling bola. Tidak ada
masalah saat Ray memainkan bola. Hanya saja ia tidak dapat melakukan gerakan
yang biasa ia gunakan. Ray hanya bisa sedikit membungkuk untuk menahan bola
agar tidak terlalu tinggi.
Tekatnya untuk memenangkan Piala Gubernur tahun ini sudah
bulat. Selain itu masih ada even besar antar SMA. Dan jika Ray bermain maksimal
ia yakin ia akan ikut camp ke Australia.
∂∂
Babak penyisihan pertandingan Piala Gubernur tinggal
menghitung jam. Namun lutut Ray masih sakit. Meskipun ia sudah tidak pincang
namun nyeri di lututnya tak kunjung sembuh. Padahal esok timnya akan membuka
pertandingan melawan Yuwana Basket.
Pertandingan besok akan menentukan tim mana yang akan
masuk empat besar. Untuk bisa masuk empat besar tim MBC harus bisa mengalahkan
tiga tim lainnya. Ray terus berpikir ia memang harus turun jika ingin timnya
lolos empat besar. Kali ini tim MBC tidak seberuntung tahun lalu. Kali ini
mereka harus berada di grup A beserta tiga tim kuat Jakarta Utara.
Ray mengambil es batu dari dalam kulkas untuk mengompres
kakinya.
Sebelum kaki gue
bener-bener diamputasi, gue yakin gue masih bisa main basket. Ray ingat
kata-kata mendiang kakaknya. Ia kemudian bangkit dan mengambil jaket.
“ma Ray keluar sebentar,” pamitnya pada sang Mama.
∂∂
“lo gila yaa? Ini udah malem tau,” kata Mella takut. Saat
ini Mela telah diculik Ray dan dibawa ke lapangan MBC.
“alah lo cuma duduk aja ngeliatin gue. Nanti lo tinggal
kasih pendapat kaki gue masih kelihatan pincang atau nggak,”
“tap...” baru saja akan protes Ray sudah mengambil bola
dan melatih kakinya.
Sebenarnya bukan keputusan yang tepat jika malam ini Ray
memaksa kakinya untuk berlari, karena jika malam ini Ray melakukan kesalahan ia
benar-benar terancam duduk di bance selama pertandingan berlangsung.
Ray mendribling bola dari tengah lapangan hingga garis
trhee point. Ia sedikit melakukan tipuan dan menembakakan bola. Namun bola
meleset, jangankan menyentuh ring bola hanya melambung lima meter ke depan.
“sialan lutut gue belum bisa buat loncat!” umpat Ray
dalam hati.
∂∂
Pertandingan babak menyisihan Piala Gubernur sedang
berlangsung. Kali ini tim MBC mengenakan jersey putih emas dan Yuwana
menggunakan jersey hijau. Masing-masing tim menyayikan lagu Indonesia Raya
sebagai pembukaan.
Seperti pertandingan biasanya, starting lineup dipanggil
namanya. Mulai dari nomer punggung terkecil.
“dan... ini dia nomor punggung tujuh sekaligus kapten tim
MBC... Ray Asmara,” suara Mc terdengar begitu jelas.
Mendengar nama Ray disebutkan Rama hanya bisa
geleng-geleng kepala. Ia sama sekali tak menduga Ray benar-benar turun
turnamen. “lo bener-bener keras kepala Ra,”
Dengan nomor punggung tujuh dan nama DM RAY A
dipunggungnya Ray tos dengan starting lainnya. Coach membuka doa dan seperti
biasanya “WE FIGHT TOGETHER, WE WIN TOGETHER, WE ARE...MBC!!
Nama-nama sebagai starting masuk lapangan dan
memulai permainan. Ray terlihat santai seperti biasanya.
∂∂
Skor saat ini 34-36 untuk Yuwana. Saat ini memasuki babak
ke tiga. Skor sedari tadi kejar-kajaran. Ray mendribling bola melewati dua
orang yang menjaganya, ia mengambil back step keluar tree point. Sekitar satu
meter, jarak yang tak biasa ia ambil. Ray mengangkat tangannya untuk shoot.
Priit
Suara peluit tanda adanya pelanggaran. Bola Ray sama
sekali melenceng dari sasaran, namun ia mendapatkan tiga shoot bebas.
“gue pasti bisa,” Ray menyemangati dirinya sendiri.
“RAAA fokus!”teriak Rama dari luar lapangan.
Wasit memberikan bola pertama kepada Ray. Ia menarik
napas, melepaskan bolanya sejenak.
Shuut! Satu poin untuk MBC.
Bola kedua untuk Ray. Ia melakukan gerakan seperti
biasanya. Dua poin untuk MBC. Skor saat ini imbang. 36-36. Bola terakhir dari
Ray akan menentukan akhir pertandingan.
Bola lepas dari tangan Ray. Melambung tinggi dan hanya
memantul ujung ring. Ray gagal memasukan bola ketiganya. Bola memantul dan
segera diriboun oleh Fika, center MBC. Fika melakukan medium shoot dan MASUK.
Skor saat ini 38-36 untuk MBC.
Prit priit time out diambil
tim Yuwana.
“ayoo kita buat skor jauh!” teriak coach Yete. “kamu
jangan terlalu memaksakan diri Ray. Bagi bola kamu sudah bagus, jangan
mengambil finishing yang membahayakan dirimu...”
∂∂
“meskipun gue nggak kenal sama kakak lo, tapi gue yakin
dia pasti orang yang hebat. Sehebat adiknya,” kata Rama.
Hari ini MBC berhasil memenangkan pertandingan dan
seperti biasanya anggota MBC pasti akan berkumpul untuk makan bersama. Rama,
Ray, Evan juga anggota senior lainnya sedang membicarakan betapa hebatnya Ray.
Saat cidera beratpun ia masih bisa menyumbangkan piont untuk MBC, meskipun tak
sebanyak biasanya namun umpan Ray membuat rekan satu timnya dapat mencetak poin
dengan mulus.
“tos untuk Ray dan kemenangan kita hari ini,” teriak
coach Yete sambil menganggkat gelas jahe hangat.
“oya Ram. Habis ini lo nggak ada acara kan?” tanya Ray.
“enggak sih emang kenapa?”
“kok sih? Lo harus tanda tangan surat perjanjian”
“oya gue lupa. Gue ada urusan sama Valhen,” Rama memukul
dahinya pela.
“gue jadi curiga sama lo,” Evan memandang Rama sinis.
“kenapa setiap lo suruh tanda tangan lo nggak pernah mau? Jangan jangan...”
“ah apaa sih lo,”
Tujuh
Final turnamen Piala Gubernur digelar dua hari lagi. Tim
basket MBC baik putra maupun putri sukses lolos babak empat besar dan akhirnya
ke babak final. Masuknya Rama untuk memperkuat MBC mengagetkan hampir semua
penonton. Hadirnya Rama membuat MBC mempunyai dua ujung tombak yaitu Evan dan
Rama. Meskipun saat di luar lapangan Evan terlihat tidak suka dengan Rama,
namun permainannya dengan Rama melihatkan Evan sebagai pemain profesional.
Rama dan Evan menjadi tranding topic sebagai pasangan
emas MBC. Sementara itu, Ray merasa kakinya mulai bermasalah. Tiga pertandingan
yang ia ikuti membuat kakinya benar-benar mati rasa. Rasanya seperti kesemutan
yang tak reda-reda. Melihat Ray terus memegangi lututnya, Rama mendatangi Ray.
“kaki lo sakit lagi?” tanya Rama sambil menunduk.
“nggak kok. Nggak papa, Cuma kram aja,”
“lo bisa Ra bohongin gue, tapi mata lo nggak bisa bohong.
Jelas-jelas mata lo kesakitan gitu,” Rama menatap Ray tajam. Ia tak ingin hal
buruk membuat Ray kehilangan mimpinya.
“ahaaaaa!!” teriak Mella mengagetkan. “ketahuan ya lo
berdua mesra-mesraan di belakang gue. Udah Ram, nggak usah sok-sok nunggu saat
yang tepat deh lo kalo mau nembak Ray. Sekarang aja mumpung aaaau!” Mella tak
sempat meneruskan perkataanya. Kedua kakinya diinjak oleh Rama dan Ray. Bisa
bayangkan sendiri gimana sakitnya diinjek dua orang kekar sekaligus.
“mulut lo lama-lama gue sumpel pake bola basket!”canda
Ray.
“busyeeeet. Cieeelah nginjek aja kompakan,”
Ray hanya tersipu malu sementara Rama menggaruk kepalanya
yang tidak terasa gatal.
∂∂
Pertandingan final putri MBC melawan Citra Club
berlangsung sengit. Kedua tim sama-sama tim kuat di masing-masing daerah. MBC
sukses mempertahankan gelar juara di Jakarta Utara sementara Citra Club di
Jakarta Barat. Skor saat ini 45-38 untuk MBC. Pada saat piala gubernur tahun
lalu, MBC sukses mengalahkan Citra Club dengan telak namun saat itu kaki Ray
tidak cidera.
Coach Yete sudah mewanti-wanti semua timnya untuk
berhati-hati jika melawan Citra Club, selain mempunyai big man yang handal,
permainan CC bisa disebut kasar. Hampir tiap melawan CC ada saja pemain tim
lawan yang cidera.
“RA! Jangan maksain kaki lo!”teriak Rama di tribun VIP.
Ray hanya menoleh dan senyum menandakan ia mengerti. Ray
memainkan bola untuk menghabiskan sisa waktu babak terakhir. Skor saat ini
45-40. Ray tidak mau mengabil resiko jika ia mengeksekusi bola. Ray hanya
melakukan passing ke sayap kanan dan dikembalikan lagi, begitu terus hingga
shoot lock menunjukan waktu akan habis.
Melihat Ray yang terus-terusan mempermainkan bola, salah
seorang pemain CC merasa dipermainkan. Ia mencoba merebut bola dari tangan Ray.
Pemain bernomor punggung 9 itu menutup jalan Ray dan sedikit mengenakan kakinya
ke lutut Ray.
Buuk
Ray jatuh tersungkur disertai dengan bunyi peluit tanda
berakhirnya pertandingan. Pemain MBC langsung mendatangi Ray dan membantunya
berdiri.
“thanks atas tendangan lo!” sindir Ray sambil menjabat
tangan pemain CC.
∂∂
MBC sukses mengawinkan gelar champion. Untuk pemain
terbaik putra jatuh kepada Rama sementara top skor putra jatuh kepada Evan.
Untuk pemain terbaik putri jatuh kepada Ray dan top skor jatuh pada pemain CC.
Mereka mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di rumah Ray untuk merayakan
gelar yang didapat Ray dan kemenangan MBC. Tahun lalu top player dan top skor
putri jatuh kepada Ray keduanya, mungkin kali ini belum saatnya Ray mendapat
gelar itu lagi.
Anak-anak MBC termasuk Rama menikmati syukuran di rumah Ray.
Saat ini Ray dan Rama berada di dapur untuk membantu Bu Asna mengeluarkan
makanan. Rama menyodorkan kotak kado kepada Ray.
“apaan nih? Gue kan nggak lagi ulang tahun,” Ray menerima
kotak Rama.
“yaa itung-itung ucapan selamat dan terima kasih gue. Gue
harap lo suka,”
Ray membuka kotak itu. Wajahnya berbinar-binar melihat
isi kotak yang diberikan Rama. Kotak itu ternyata berisi sebuah gelang karet
rubber yang memang biasa digunakan pemain basket kelas NBA. Gelang itu berwarna
abu-abu dan terdapat tulisan ‘DM RAY A 7’yang biasanya hanya bertuliskan Nike,
Adidas, dan nama-nama seperti Kobe Bryan, Derick Rose dan lainnya. Gelang itu
dipesan langsung oleh Rama.
“gue nggak tahu lo suka warna apa karena selama ini gue
nggak pernah liat lo pake warna khusus. Tapi feeling gue bilang lo suka
abu-abu,”
“makasih Ram. Gue emang suka abu-abu, gue pake ya
gelangnya,” Ray memakai gelang pemberian Rama dengan semangat. Ia melepaskan
gelang yang sudah lama sekali ia pakai. “yang ini gue simpen aja,” Ray hendak
memasukan gelang belelnya ke saku celana, namun tangannya ditahan oleh Rama.
Ray terdiam melihat tangannya depegang Rama. Selama ini
hanya Ian yang selalu memegang tangannya dan baru kali ini Ray merasakan
sesuatu saat Rama memegang tangannya.
“yang itu buat gue aja,”
“ini dari Ian,” kata Ray sedih. Ia menunduk.
“sory Ra. Lo..lo simpen aja gelangnya,” Rama salah
tingkah.
Ray menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia
tidak ingin apapun dari kakaknya diambil orang lain, tapi mengapa ia merasa
Rama akan menjaganya seperti Ian.
“nih” Ray menyodorkan gelang merah itu kepada Rama.
“jangan sampai lo hilangin ya. Awas lo!”
“iyaaa. Gue janji gue akan menjaga gelang ini sepenuh
hati seperti gue menjaga Ray Asmara,” Rama mengikrarkan janji seperti sedang membaca
teks sumpah pemuda.
“hahahaha apaain sih lo? Dasar berle!”
“apaan tu berle?”
“berle-bihan hahaha,” Ray meninggalkan Rama di dapur.
Rama hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ray.
Ray memang spesial. Siapapun pasti akan jatuh hati kepada
Ray. Dibalik sifatnya yang keras kepala ia sangat setia kawan, pemurah dan
selalu membela yang benar. Ia sosok yang tegar.
Gue sekarang tahu kenapa Ian begitu menyayangi lo...
∂∂
Setelah menyelesaikan pertandingan, Ray kembali pada
aktivitasnya di sekolah. Selama pertandingan berlangsung, atlet yang diikut
sertakan dalam pertandingan memang diizinkan untuk tidak mengukuti pelajaran
selama satu minggu dan mereka menginap di asrama yang disediakan. Hal ini
dilakukan untuk meminimalkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Kembalinya Ray ke sekolah di sambut hangat oleh Valhen
cs. kini Ray terang-terangan nongkrong sepulang sekolah bersama anggota
pentolan SMA Dhimika 2, tentu saja atas izin Rama. Ray sudah berjanji tidak
akan ikut tawuran lagi kecuali karena urusan pribadinya.
“gila lo Ray, lo emang wonder women dah,” puji Andre.
Andre mengetahui semua yang menimpa Ray belakangan ini dari Valhen. Valhen
menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada teman-temannya agar Ray tidak
dianggap merugikan SMA Dhimika 2 dua hari yang lalu.
Berita yang menyebar tidak sesuai dengan kenyataannya.
Berita itu sampai ke telinga Valhen. Ia mengadakan forum dan menceritakan
keadaan yang sebenarnya.
“apaan sih lo semua. Pada ketularan Rama nih kayaknya,
berle! Udah lah gue pulang dulu, apa kata guru ntar kalo gue ikut gabung. Bisa
malu gue,” Ray berdiri meninggalkan tempat tongkrongan itu.
“kayak lo punya malu aja,” goda Valhen.
Ray menuju tempat parkir untuk mengambil CBR hitamnya.
Sudah seminggu belakangan ini Ray selalu mengendarai motor Ian. Ia serasa dekat
setiap menggunakan barang Ian.
Delapan
Liburan semester satu tinggal beberapa hari
lagi. Ray dan Mella telah sukses menempuh Ujian Akhir Semester. Nila mereka
berdua tidak ada yang merah satu pun. Mella dan Ray yang sedang asik main game
menggunakan ipad milik Ray harus berhenti karena ada pengumuman.
“...pengumuman ini ditujukan kepada nama-nama yang saya
sebut untuk berkumpul di base camp DTHA. Roni Surya, Muhammad Fikri, Budi
Andre, Raringga Putra, Suka Bangsa, Alfian Sutomo, Dheca Mehesa, Mellanie
Putri, Valentino Reza, dan yang terakhir Yoga Gutomo. Saya ulangi...”
“kok ada nama kita ya La?” tanya Ray bingung,
“kalau lo tanya gue terus gue tanya sama siapa dong?”
“dasar hola-holo lo. Ayo buruan kita ke base camp
DTHA,”Ray menarik tangan Mella.
“bahasa lo sekarang makin primitif deh. Kemaren berle,
cmemew sekarang hola holo. Ya ampun nak, saye tak mengerti apa maksud kau ni,”
∂∂
Ray dan Mella ternyata akan mengikuti kegiatan DTHA yang
akan diadakan di Bumi Perkemahan Balangan. Lokasinya di perbatasan antara Jawa
Barat dan Jawa Tengah. Kegiatan itu bersifat wajib bagi kelas sepuluh yang
mengikuti ekstrakulikuler DTHA. Kegiatan ini dilakukan selama satu minggu.
“asiiiik! Kita liburan Ray,” seru Mella kegirangan.
Sementara Ray terlihat murung. “lo bukannya seneng juga malah cmewew. Kenapa
lo?”
“acaranya kan seminggu ni, berarti gue nggak akan latihan
bareng Rama selama seminggu dong. Yaaah, mana wajib lagi acaranya,” ujar Ray
melas.
“cie cie kangen nih ye,” Mella malah menggoda Ray.
“siapa juga yang kangen. Gue cuma bakal ngerasa sepi aja
kalo nggak ada dia. Dia kan selalu buat gue seneng. Nggak kayak lo, cuma bikin
pusing. Lagian udah dua hari dia nggak masuk jang...”
“gue ikut acara DTHA kok. Lo nggak bakal kesepian,” Ray
menoleh dari sumber suara. Ia hanya melonggo melihat Rama ternyata duduk
dibelakngnya dan kini terseyum padanya.
“cie cie. Tuh Ram temenin Ray. Semenjak kenal lo Ray jadi
sering cmewew,”
“apaan sih lo La! Gue pecat tahu rasa lo,”
Ray, Mella, Rama dan lainnya mendengarkan penjelasan
ketua DTHA yang sedang menjelaskan mengenai keberangkatan dan apa saja yang
harus dibawa untuk pendakian. Rencananya, acara ini akan dilakukan empat hari
lagi tepat sehari setelah penerimaan rapor.
Ray dan Rama kini semakin dekat, mereka berdua terlihat
seperti pacaran. Mendengar Ray dan Rama akan mengikuti acara DTHA, Grasia juga
mendaftaran diri untuk mengikuti kegiatan yang serupa. Ia tak rela melihat Ray
dan Rama berduaan.
“gue denger pacar lo ikutan juga ya?” tanya Ray pada
Rama.
“ngaco lo. Gue nggak punya pacar,”
“nah tu Grasia lo kemanain? Dia kan fans setia lo,”goda
Ray.
“tuh nenek lampir ikut juga? Ya Allah kena kutuk apa
hambamu ini. Acara berduaan bareng Ara bisa gatot nih,” Rama menaik turunkan
alis menggoda Ray.
“yeee. Dasar berle,”
∂∂
Hari yang ditunggu-tunggu siswa SMA Dhimika 2 telah tiba.
Hari ini siswa SMA Dhimika 2 akan melakukan camping ekstrakulikuler DTHA di
Bumi Perkemahan Balangan. Kegiatan ini dikuti 10 siswa kelas X, 6 siswa kelas
XI sebagai ketua masing-masing kelompok dan 4 siswa kelas dua belas sebagai
penanggung jawab acara dan salah seorang kelas XII itu adalah Grasia.
Semua penanggung jawab adalah orang-orang yang sudah
sering ikut mendaki kecuali Grasia. Menurut kabar burung, Grasia mengikuti camp
hanya karena ingin ngintil dengan Rama. Ia merasa hanya dia yang pantas untuk
bersanding dengan Rama.
“gila tuh anak, niat banget ngejar Rama. Kalo gue mah
ogah,” komentar Ray setelah mendengar cerita Mella mengenai Grasia.
“alaah lo nggak usah ngeles mulu lo! Gue tahu kali kalo
lo sebenernya suka kan sama Rama?” tebak Mella.
“gu..gue nggak nggak...”
“tuh kan gagap. Itu berarti lo beneran suka. Cerita dong
sama gue,”
“gimana ya La? Gue tuh bingung sama diri gue sendiri. Di
satu sisi gue ngerasa nyaman banget sama Rama, gue ngerasa dia itu mirip banget
sama Ian. Dia bisa jaga gue, gue bisa percaya sama dia. Tapi...” kalimat Ray
terhenti. Ia diam sesaat.
Ray sendiri bimbang dengan apa
yang dia rasa. Baginya berbagi cerita dengan orang lain tidak akan membuat
orang itu merasa apa yang Ray rasakan. Ia biasanya hanya akan curhat dengan
orang-orang yang benar-benar sudah ia percaya. Bahkan sampai detik ini Mella
tidak tahu mengapa Ray sering ikut tawuran, mengapa Ray sangat menutup diri
dengan laki-laki dan apapun mengenai sifat Ray. Setahu Mella Ray memang banyak
pikiran, tapi Ray begitu pandai menyembunyikannya. Mella hanya tahu secara
garis besar apa yang menimpa Ray dua tahun yang lalu, tentang Ian, dan tentang
ayah tirinya. Untuk masalah pribadi Ray, Mella tidak pernah sekalipun untuk
menyinggungnya.
“...tapi gue nggak mau dia
celaka gara-gara gue. Dia hampir dihajar gara-gara gue. Gue nggak mau kejadian
yang menimpa Ian terjadi juga sama Rama.” Ray menunduk.
“gimanapun Rama sama Ian itu
dua orang yang berbeda. Lo tahu nggak kalo lo sekarang deket sama Rama
gara-gara lo nganggep dia kayak kak Ian apa dia nggak sakit hati? Toh gue liat
Rama tulus ngelindungi lo. Ayolah, jangan nyalahin diri lo terus. Semua itu
kecelakaan. Gue tahu lo emang sayang banget sama Ian. Mending lo lupain Rama
kalau lo masih nganggep dia Ian, atau...”
“atau apa?”
“lo buka hati lo lah. Sadar
Ray lo hidup di masa sekarang bukan masa lalu. Udah ah ngomong sama lo bikin
gue laper.” Mella meninggalkan Ray yang terbengong-bengong mendengar apa yang
dikatakan Mella.
“gila belum ada sejam di sini
tuh orang udah kerasukan aja, hii” Ray meninggalkan tempat itu untuk menyusul
Mella.
∂∂
Siswa yang mengikuti kegiatan DTHA berkumpul untuk
absensi. Satu per satu nama-nama yang terdaftar diabsen. Pak Gio sebagai
pembimbing acara menerangkan jadwal kegiatan apa saja yang akan dilakukan tiga
hari kedepan. 20 orang dibagi menjadi 4 kelompok yang masing-masing terdiri
atas 1 siswa kelas XII dan sisanya bebas.
Ray satu kelompok dengan Mella, Valhen, Andre, dan
Grasia. Ray, Mella, dan Grasia merasa sangat sial hari itu karena mereka
bertiga harus satu tenda pula.
“bujubuneng kayaknya nih tempat bakal membawa gue
kesialan mulu deh,” umpat Ray saat mendengar namanya disebut.
“tenang aja ada gue kok,” hibur Valhen.
Ray hanya nyengir. Ia merasa ada yang tidak beres dengan
Valhen. Sejak awal pertemuan mereka dulu, Ray sudah tidak suka melihat tingkah
polah Valhen. Ray merasa Valhen selalu memandangnya dimanapun Ray dan Mella berada
dan tatapannya selalu aneh.
Kerena mereka sampai saat matahari benar-benar berada di
tengah langit, maka hari ini kegiatan yang dilakukan hanyalah mendirikan tenda
dan merapikan perlengkapan.
Tenda Ray berdiri dengan tegap. Ia, Valhen dan Andre
berhasil mendirikan tenda setelah hampir satu jam tenda yang mereka dirikan
selalu doyong sebelah. Sementara mereka bertiga sibuk mendirikan tenda Mella
dan Grasia malah enak-enakan tidur dibawah pohon yang rindang. Memang terlihat
begitu semilir di bawah pohon itu. Saat camping seperti ini, Ray selalu membawa
gitar kesayangannya untuk mengisi kejenuhan.
Ray yang mengidap insomnia sejak SMP selalu memetik gitar
dimalam hari. Ia merasa kesepian karena tidak pernah ada yang bisa menemeninya
saat penyakitnya melanda. Siang-siang seperti ini sebagian siswa sudah tertidur
karena kecapekan seharian mendirikan tenda.
Malam telah datang. Karena dikaki gunung, angin dingin
menembus hingga ke tulang-tulang. Ray dan semua anggota DTHA berkumpul sekitar
api unggun yang sengaja dibuat untuk sekedar menghangatkan tubuh. Jam sudah
menunjukan pukul 22.45, terlihat wajah–wajah mengantuk dan sesekali menguap.
Tak lama kemudian satu per satu siswa meninggalkan api unggun untuk pergi
tidur. Tersisalah Ray, bahkan saat di alam liar pun insomnia Ray menyerang. Ia
hanya seorang diri ditemani gitarnya.
Ray memetik gitarnya, memainkan intro sebuah lagu. Ray
bergumang tidak jelas. Ia tak ingin ada yang mendengarnya bernyanyi.
Lama-kelamaan Ray mulai terbawa suasana. Ia mulai bernyanyi.
∂∂
Malam ini tak seperti biasanya Rama sulit tidur padahal
biasanya ia tukang tidur. Rama bangun dan membangunkan Andre untuk menemaninya.
Andre hanya bergeming namun tak juga bangun. Rama melipat tangan di dadanya
kerana hawa dingin mulai menyelinap masuk melalui lengannya.
Rama keluar dari tenda dan menuju api unggun dinyalakan.
Rama menghentikan langkahnya, ia mendengar ada suara perempuan yang tengah
bernyanyi. Apa iya jaman moderen kayak gini ada hantu? Masak iya hantu punya
suara merdu banget! Tanya Rama pada dirinya sendiri. Ia semakin mendekat. Rama
melihat ada seorang perempuan sendirian duduk dengan gitarnya. Raut wajahnya
gelap karena cahaya api yang tepat di depannya. Lagu itu semakin terdengar
jelas.
“...namun cintamu abadii...hooo uwouwo”
“Ra? Elo Ray bukan?” tanya Rama hati-hati. Perasaannya
was-was jangan-jangan saat gadis itu mendengok wajahnya rata. Hiii.
“yaa? Ada apa Ram?” Ray mendongak. Bukannya hantu bewajah
rata melainkan wajah Ray yang bercayahaya karena pantulan api.
“ngapain lo malem-malem kayak gini di sini? Sendirian
lagi. Boleh gue temenin?” Rama mendekati Ray dan duduk di sebelahnya.
“gue insomnia. Lo sendiri?” Ray menaruh gitar
dipangkuannya.
“nggak tahu nih. Kaki gue pengen banget jalan kesini.
Nggak nyangka gue lo punya suara merdu banget,” puji Rama.
“ah bisa aja lo,” Ray menonjok pelan bahu Rama.
“ternyata masih banyak hal yang gue nggak tahu dari lo.
Selain jago basket, pemberani, penyanyi, gitaris apa lagi?”
Ray hanya tertawa mendengar ucapan jujur dari mulut Rama.
“lo emang bener-bener mirip Ian” katanya dalam hati.
“gue ajarin dong Ra,”
“huahahaha” Ray makin menjadi-jadi. “lo nggak bisa main
alat musik gitu? Hahaha padahal Ian jago banget main musik hahaha”
“tapi gue bukan Ian,” Rama tersenyum palsu. Raut wajahnya
berubah menjadi murung.
“ups sory sory gue nggak maksud bandingin lo sama Ian.
Maafin gue Ram. Maafin yaa?”
“gue maafin asal lo nyanyiin lagu buat gue. Emmm” Rama
kelihatan berfikir “lo suka ipang BIP kan? Lo nyanyiin gue yang bintang hidupku
ntar gue maafin lo deh,”
Ray tampak berfikir tak lama ia memberi kode bahwa ia
setuju. Ray mulai memetik gitarnya, memainkan intro Bintang Hidupku dari Ipang
BIP.
“aku slalu bernyanyi...lagu yang engkau ciptakan kau
nyanyikan...”Ray mulai bernyanyi pelan. Ia terlihat begitu menghayati. Rama
hanya bisa diam mendengar suara Ray, ia
benar-benar terpesona. “...dan aku slalu ikuti semua cerita tentang mu...hari
hari mu... kau jadi inspirasi ku ....smangat hidup...” Ray terus bernyayi
sesuai lirik lagu.
Apapun yang kau lakukan
Baik dan buruk
Bagiku kau tetap indah
Tak satu pun alasan
untuk melupakan mu
meninggalkanmu
Aku selalu berdiri mendukungmu
Di kala engkau terbang di kala
engkau jatuh
Sampai mati ku kan tetap setia
Aku selalu berdiri dibelakang
mu
Dikala kau dipuja di kala kau
dihina
Sampai mati ku kan tetap
membela
Kau tetap bintang ku
Kaulah semestaku
∂∂
Bait demi bait lagu Ray nyayikan dengan indah. Ray tidak
tahu mengapa Rama memintanya menyanyikan lagu itu. “...kaulah se..mesta..kuu u”
Ray mengakhiri lagunya.
“lo juga bintang gue Ra,” kata Rama pelan.
“apa lo bilang? Yee gue kan nyanyinya karna lo minta
bukan kemauan gue. Geer banget sih lo,” Ray salah tingkah. Ia membetulkan topi
yang sebenarnya sudah rapi.
“gue nggak tahu apa yang membawa lo ke Dhimika 2...” Rama
memandang mata Ray lekat-lakat. Ia meraih tangan kanan Ray yang memegangi
gitar. Tangan itu Rama genggam kuat-kuat, “dan gue nggak peduli itu semua. Gue
mohon sama lo jangan samain gue sama Ian, gue bukan Ian dan nggak akan pernah
jadi Ian,”
Ray terkesima. Ia tak menyangka Rama menyadarinya.
Menyadari bahwa selama ini Ray menganggap Rama seperti Ian, kakaknya. “maafin
gue Ram. Tapi gue nggak tahu kenapa gue bisa berfikiran kalo lo itu mirip banget
sama Ian.”
“gue beda! Gue nggak akan ninggalin lo sama kayak Ian
ninggalin lo. Gue akan jaga lo dengan cara gue bukan cara Ian. Gue tahu Ian
sayang sama lo sebagai adik tapi gue... gue sayang sama lo lebih dari Ian
sayang sama lo. Ra boleh gue gantiin Ian di hati lo?”
Ray diam seribu bahasa. Ia tak tahu apa maksud Rama. Dia
nembak gue? Batin Ray. Ia bingung harus menerima atau menolaknya. Hati kecilnya
memang menyayangi Rama tapi entah mengapa Rama belum bisa menggantikan Ian di
hati Ray.
“gue nggak akan pernah mengganti Ian dengan siapapun
termasuk lo,” tolak Ray halus sambil melepaskan tangan Rama. Ia memandang Rama.
“tapi kenapa?”
“karena lo punya tempat lain di hati gue,” jawab Ray
pelan sambil meninggalkan Rama.
Rama melongo. Apakah itu berarti iya? Apakah ucapan Ray
barusan bukan mimpi? Rama mempunyai tempat sendiri di hati Ray. Belum sempat Rama
bertanya, Ray sudah masuk ke tenda. Gue di terima? Tanya Rama pada dirinya
sendiri.
“aaaaaaaaaaaa” Rama berteriak kencang. Ia lega karena
sudah bisa mengungkapkan isi hatinya kepada Ray.
“PARAMA HARJUNA!!” Pak Gio dengan lantang memanggil nama
lengkap Rama. “ngapain kamu malam-malam begini teriak-teriak? Kembali ke tenda
kamu!”
∂∂
sembilan
Hari ini rencana pendakian Gunung Balungan. Pendakian
dimulai pukul 06.30 pagi dan diperkirakan akan sampai di perkemahan
selama-lamanya pukul 2 siang. Pendakian di pimpin oleh kelompok Rama dan di
belakang sendiri adalah kelompok Ray.
Sepanjang pendakian, Grasia selalu mengeluh. Setiap lima
menit ia selalu meminta untuk istirahat dan akhirnya Valhen dan Andre yang
kewalahan karena bergantian menggendong Grasia. Mella yang tidak pernah berolah
raga berat terlihat terengah-engah.
“capek La?” tanya Valhen peduli.
“lumayan lah. Maklum gue kan amatiran. Nggak kayak Ray
tuh yang doyang banget mendaki gunung. Udah kayak ninja hatori tuh anak.
Mendaki gunung lewati lembah...” Mella bernyanyi tidak jelas. Ia menyanyikan
potongan ost Ninja Hatori.
“tuh kan gue diem aja kali,” Ray sewot.
Pendakian menuju puncak memakan waktu sekitar 3 jam
perjalanan. Sebenarnya bisa ditempuh dengan waktu dua jam namun gara-gara
Grasia yang manja waktunya terbuang sia-sia.
“waaa indah banget!” teriak Grasia setelah sampai puncak.
“fotoin gue dong,” Grasia mengulurkan camera saku miliknya.
Sementara Grasia sibuk berfoto dan alhasil Andre menjadi
korbannya. Andre dipaksa Grasia untuk menjadi fotografer dadakan. Ray dan Mella
menikmati pemandangan di puncak Gunung Balungan. Perjuangan mereka untuk
mencapai puncak terbayar dengan indahnya pemandangan. Perkemahan mereka
terlihat seperti titik-titik kecil berwarna-warni. Sangat indah. Namun sayang,
mereka tidak boleh berlama-lama berada di puncak. Mereka harus berada di pos
satu sebelum jam 2.
“udah waktunya kita turun,” Valhen mengingatkan.
“yaaah padahal baru aja gue mau istirahat,”jawab Grasia.
“dasar manja” komen Ray.
“eh elo!” Grasia menunjuk Ray, “gue mau tantang lo. Siapa
yang duluan sampe pos satu dia yang jadi pemenang. Berani nggak lo? Yang menang
bebas lakuin apa aja sama yang kalah,”
“setuju!” Ray menjabat tangan Grasia pertanda ia sepakat
dengan tantangan Grasia.
Dilihat secara fisik Ray pasti akan menjadi pemenang,
namun bola itu bundar. Pasti akan banyak cara yang akan dilakukan Grasia agar
bisa memenangkan taruhan.
∂∂
Ray memimpin di depan sementara Grasia jauh di belakang.
Ray sudah sampai di pos 2. Ia beristirahat sambil mencari penjaga pos untuk
absensi. Siswa yang melakukan pendakian wajib untuk lapor di tiap pos.
Dari kejauhan Grasia terlihat terengah-engah. Ia berjalan
sempoyongan mendekati Ray.
“air Ray. Lo punya nggak? Punya gue habis nih,” Ray
mengeluarkan botol air mineral yang tinggal separo isinya. Ia membeikannya
kepada Grasia.
“thanks,” Grasia mengembalikan botol yang tidak tersisa
sedikitpun airnya. “betewe penjaga posnya mana?” Grasia heran melihat pos 2
sepi tak berpenghuni.
“kalo lo tanya gue terus gue harus tanya siapa? Rumput
yang bergoyang?”
“rese lo!”
Cukup lama Grasia dan Ray menunggu dan akhirnya penjaga
pos 2 datang juga.
“kak Dimas!” panggil Ray.
“sok kenal banget sih lo,”
Ray tidak memperdulikan Grasia. Ia menghampiri orang yang
ia panggil Kak Dimas tadi. Grasia mengekor di belakang Ray. Ia mengambil
absensi kemudian menandatanganinya.
“gue duluan yaa. Daaaa,” Grasia meninggalkan Ray dan si
penjaga pos 2.
Orang yang dipanggil Ray ternyata adalah Dimas sahabat
Ian. Wajahnya memang tidak berubah hanya badannya yang semakin berotot. Ray dan
Dimas berpelukan seperti kakak dan adik.
“bisa kebetulan banget ya Ray kita ketemu di sini,” Dimas
melepaskan pelukannya.
“ih gue kangen banget sama lo kak. Terakhir gue ketemu
waktu pemakaman Ian. Kakak kuliah dimana sekarang?” Ray dan Dimas duduk di
gazebo yang sengaja disediakan untuk pendaki.
“gue kuliah di Bandung sih Ray makanya kita jarang
ketemu. Lo sendiri esema mana? Setahu gue ada tiga esema yang mendaki pagi
ini,”
“Dhimika dua kak,” jawab Ray singkat.
Dimas hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban
Ray. Tak perlu menanyakan lagi kenapa ia memilih Dhimika 2. Ray benar-benar
keras kepala. Ia wanita yang tangguh.
∂∂
“yah gue bisa kalah ni,” Ray terkejut melihat angka di
jam tangannya yang menunjukan pukul 12:30. Ia tak mengira hanya dengan bercakap
tukar cerita dengan Dimas bisa membuat ia lupa waktu. Mungkin Grasia sudah
sampai di pos satu. Mampus gue, batin Ray.
“kalah?” Dimas tampak bingung.
“iya tadi gue taruhan sama anak yang bareng gue tadi. Yah
kak, padahal gue pengen banget bisa ngobrol lagi sama lo,” ujar Ray sedih.
“gue tahu jalan yang cepet sampai pos satu. Itung-itung
sekalian gue reuni.”
Dimas menemani Ray melewati jalan pintas. Sebenarnya
bukan jalan pintas tetapi jalur yang lebih sulit. Sekitar level tertinggi
diantara level pendakian. Ray dan Dimas harus menuruni jalan dengan sudut
kemiringan 80°. Ray yang orang awam merasa medan yang dilaluinya berbahaya.
Tak lebih dari satu jam Ray sudah dekat dengan pos satu.
Gardu pos sudah terlihat namun tak ada tanda-tanda Grasia di sekitar pos. Ray
duduk meluruskan kakinya sambil mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
“demi apapun baru kali ini gue lewat jalan begituan kak,”
kata Ray ditengah nafasnya yang naik turun.
“itu baru namanya mendaki” Dimas mengacak-acak rambut Ray
yang terikat rapi. “siapa tu?”
Dari arah barat terlihat Grasia sedang berlari menuju pos
satu. Wajahnya blepotan tanah dan bajunya sudah kotor. Grasia berhenti di jalan
sambil membungkuk memegangi perutnya. Wajahnya yang sumringah tiba-tiba berubah
kecewa melihat Ray sudah sampai duluan. Grasia meneruskan langkahnya menghampiri
Ray.
“lo terbang apa? Cepet amat nyampeknya. Perasaan gue
nggak ngerasa lo lewatin deh,”
“kalo gue ngelewatin lo ntar lo frustasi lagi kalah
sebelum sampai. Yang jelas gue menang!”
“ah masa bodo yang penting gue mau balik ke tenda dulu.
Gue capek.”
Grasia, Ray, dan Dimas menuju perkemahan. Di sana sudah
berkumpul semua anggota DTHA. Ternyata mereka memang sengaja menunggu Ray dan
Grasia yang rupanya sangat molor dari waktu yang ditentukan.
∂∂
“RAAAAY!!” suara cempreng yang tak asing de telinga Ray.
Siapa lagi kalau bukan Mella.
Mella berlari menghampiri Ray dan segera memeluknya. “lo
nggak papa kan? Dari mana aja sih lo? Gimana lo menang nggak? Trus itu siapa?
Kok kayaknya gue pernah liat,” berondong pertanyaan Mella untuk Ray.
Bukannya menjawab pertanyaan Mella, Ray malah memegang
kening Ray. Seperti sedang memastikan Mella sedang demam atau tidak. Mella
merasa tingkah aneh Ray menepis tangannya. “oo yaa yaa,” Ray seperti dokter
yang mengetahui keadaan pasiennya.
“apaan sih lo?”
“habisnya lo nanya kayak kereta gitu. Gue jawab nih,
pasang telinga lebar-lebar. Pertama seperti yang lo lihat gue nggak papa. Kedua
gue tadi ngobrol dulu sama Kak Dimas di pos dua jadi gue lama. Ketiga gue
menang dan terakhir, La kenalin ini Kak Dimas temen Ian, Kak ini Mella temen
gue. Iya jelas, lo pernah liat waktu pemakaman Ian” jawab Ray tak kalah
panjang.
Mella menjabat tangan Dimas. Ray dan Mella mengajak Dimas
ke tenda mereka untuk meneruskan obrolan Ray yang sempat tertunda.
∂∂
“jadi lo beneran nggak tahu apa-apa soal Ray? Lo ngaku
pacarnya tapi nggak tahu apa-apa tentang dia!” kata Dimas marah. Ia sedang
berbincang dengan Rama di tenda. Saat ini tenda sepi penghuni karena mereka
berada di api unggun.
Setelah reuni dengan guru-guru pembimbing, Dimas sedikit
mencuri informasi dari Mella yang notabene emang ceplas-ceplos. Menurut mulut
Mella, Ray dekat dengan Rama. Dimas yang ternyata sudah mengenal Rama langsung
mendekatinya dan mengajaknya bicara empat mata.
Dimas bertanya sedikit mengenai Ray. Rama menceritakan
semua kejadian yang menimpa Ray. Dimas tak menyangka Ray sungguh-sungguh dengan
janjinya pada Ian.
“setahu gue sih kelakuan dia itu cuma kerena melampiaskan
kemarahnnya sama ayah tirinya dan kematian Ian. Gue sama sekali nggak tahu
faktor lainnya,” ulang Rama.
“gue nggak bisa bilang apa-apa sama lo. Gue cuma nggak
mau negatif tingking aja sama Ray. Lo nggak tahu sih gimana bengalnya Ray waktu
esempe dulu,”
Dimas mulai menceritakan masa-masa Ray saat setelah
kematian Ian. Ia selalu tawuran kesana-sini tanpa sepengetahuan mamanya. Gimana
ia bener-bener pengen menghancurkan Stela Mulia. Dimas juga menceritakan
bagaimana Ian dan dia dulunya. Selalu membela Dhimika 2. Apapun resikonya akan
mereka hadapi.
“jadi itu janjinya?” tanya Rama. Dimas hanya mengangguk.
“sekarang gue jadi nggak tenang kuliah di Bandung setelah
gue tahu Ray masuk Dhimika dua. Dia cuma nurut apa kata Ian. Dan baginya apa
yang gue bilang selalu sejalan dengan Ian...”
“lo nggak perlu kawatir. Gue bakal jaga dia. Gue nggak
akan ngebiarin Ray terlibat perkelahian lagi dalam bentuk apapun. Gue janji
sama diri gue sendiri,”
“gue pegang kata-kata lo! Bukannya gue ngancem tapi kalau
sampai terjadi apa-apa sama Ray orang yang pertama kali gue cari lo!”
“lo bisa percaya gue,”
Dimas berdiri menuju api unggun disusul Rama. Mereka
membaur bersama dengan anggota DTHA lainnya. Mereka sedang asik bernyanyi
dengan iringan gitar Ray. Bersama-sama menghangatkan dinginya hawa pegunungan.
∂∂
Akhirnya tiba juga hari penutupan kegiatan DTHA. Kegiatan
itu ditutup dengan menanam pohon di kaki gunung Balungan. Semua anggota wajib
menanam minimal satu pohon.
Selesai merapikan barang-barang anggota DTHA menaiki bus
untuk kembali ke Jakarta tercinta. Saat subuh seperti ini hanya membutuhkan
waktu sekitar 3 jam perjalanan. Ray duduk dengan Mella, mereka tampak tertidur
pulas.
Rama berjalan menyusuri bangku penumpang. Ia memperhatikan
setiap orang yang duduk. Rama mengambil ponselnya dan mengabadikan wajah-wajah
unik yang sedang tidur. Mulai dari deret belakang hingga yang depan.
Ray dan Mella duduk di deret keempat setelah Grasia. Rama
mendangi wajah Ray yang tertidur. Wajahnya tampak lugu, sama sekali tak
menyangka dibalik wajah lugunya terdapat jiwa pemberani dan kuat. Rama
mengambil beberapa gambar Ray yang tertidur pulas. Seperti merasa tidurnya
terganngu, setiap satu jepretan Ray pasti berganti posisi tudur. Membuat koleksi
foto di ponsel Rama bertambah.
“iiih apaan sih lo? Iseng banget gue bilangin Rama lo,” Ray
menepis tangan Rama yang memotretnya. Rupanya Ray mengira orang yang
memotretnya adalah Mella. Ia mengigau dan menyebut nama Rama. Rama hanya
tertawa melihat tingkah Ray.
Bus melaju meninggalkan kawasan Balungan. Kini semakin
sekat dengan Jakarta. Setelah melewati tugu selamat jalan itu berarti tidak
akan lama lagi mereka akan sampai.
sepuluh
Kegiatan belajar mengajar semester dua sudah dimulai. Ray
kembali menjadi siswi SMA Dhimika 2 setelah dua minggu ia cuti menjadi siswa.
Banyak diantara siswa-siswi SMA Dhimika 2 yang semangat sekolah dan sebagian
juga masih belum siap dengan deretan angka dan huruf.
Memasuki ajaran semester 2, bagi kelas XII adalah
semester yang menentukan akhir perjuangan mereka selama dua tahun bersekolah.
Ujian Akhir Nasional akan diselenggarakan bulan April, berarti hanya tinggal
empat bulan. Selama empat bulan itu juga siswa kelas XII selalu menghabiskan
hari dengan latihan-latihan untuk UNAS. Termasuk Rama. Ia jarang nongkrong
sepulang sekolah seperti biasanya.
Rama yang terkenal sebagai leader SMA Dhimika 2 juga
rajin mengikuti latihan UNAS. Meskipun predikatnya sering jelek di mata
guru-guru, namun nilai rapor Rama tak ada satu pun yang merah. Ia bahkan tidak
pernah remidial saat ujian. Mungkin itu salah satu sebab mengapa Rama dan
pentolan Dhimika 2 lainnya tidak dikeluarkan dari sekolah. Melihat banyaknya
skorsing dan poin di buku pelanggaran, namun pentolan Dhimika 2 rata-rata
adalah siswa berprestasi baik akademik maupun non akademik.
Sebagian anak yang sering ikut tawuran adalah anak
program IPA hanya segelintir yang program IPS. Andre misalnya, poin di buku
pelanggarannya nyaris 100 namun poin di buku prestasinya juga tak kalah banyak.
Andre adalah kapten tim futsal SMA Dhimika 2. Ia sering mengangkat piala
kemenangan. Lain lagi dengan Rama, ia selalu termasuk 5 besar di kelasnya. Poin
negatifnya sudah lebih dari 100, menurut peraturan ia seharusnya sudah di drop
out dari sekolah namun prestasinya patut dibanggakan. Selain kapten basket,
Rama juga sering ikut olimpiade kimia. Kurang apa coba? Negatif segudang
positifnya seabreg.
Ray merasa kesepian, Rama jarang menemaninya saat latihan
di Dhimika 2. Ia lebih sering bersama Valhen dan Mella. Rama juga jarang
berlatih di MBC. Meskipun Ray memakluminya namun ia tak dapat mengelak kalau
dia kangen dengan Rama.
∂∂
“jadi lo beneran pacaran sama Rama?” tanya Mella masih
tak percaya dengan apa yang baru saja Ray katakan. Ray menceritakan semua
kejadian saat DTHA. Saat ia bernyanyi, saat Rama mengungkapkan perasaannya dan
saat ia secara tidak langsung menerima Rama sebagai pengganti Ian.
Ray hanya mengangguk. Rambutnya yang diekor kuda
berkibas.
“jahat banget sih lo! Kenapa baru sekarang lo ceritanya,”
wajah Mella manyun. Ia melipat tangannya di dada, pura-pura marah.
“maaf deh La. Habis gue bingung sih. Hehe,” Ray hanya
tertawa.
“oyaa baru inget gue. Taruhan lo sama Grasia apa kabar?
Kayaknya setelah sampai tenda lo nggak ungkit-ungkit lagi deh,” Mella
mengingatkan taruhan Ray dengan Grasia saat DTHA.
“oyaa. Enaknya gue apain ya tuh anak...” Ray dan Mella
sama-sama berfikir.
“ahaa!” teriak mereka bebarengan.
∂∂
Ray dan Grasia sudah janjian di Montero, salah satu
restoran ternama di Jakarta. Ray meminta Grasia membayar taruhannya dengan mentraktirnya
di Montero. Ray memang datang sendirian, namun ia tak mungkin lupa dengan
Mella. Ia meminta Mella duduk berjauhan dengannya dan Grasia. Agar rencana
mereka tidak berantakan.
“awas yaa kalo lo sampe nggak bayar pesenan gue! Gue
botakin tuh rambut lo,” Ray mengancam.
Tak lama kemudian seorang pelayan restoran mendorong
kereta baki berisi semua pesanan Ray. Ray memesan banyak sekali sampai-sampai
pelayan yang melayani mereka heran. Wong cuma berdua kok pesannya kayak
sekampung, kata seorang pelayan.
“gila lo! Bisa habis tabungan gue,” Grasia ketar-ketir
melihat pesanan Ray diantarkan.
Ada blackvelvet, manggoeschips, orange squash, sate
kerang dan banyak lagi. Meja mereka penuh dengan makanan. Ray mulai menyantap
makananya sementara Grasia hanya makan kentang goreng. Montero memang
menyediakan berbagai makanan, mulai dari yang western, jepang, thailand bahkan
yang indonesia banget. Lengkap deh pokonya. Tapi harganya tidak sesuai dengan
kantong pelajar bahkan pelajar konglomerat seperti Grasia.
Grasia memang kaya, ia sering mentraktir gengnya. Namun
baru kali ini ia mentraktir orang di Montero. Bahkan pacar Grasiapun tak pernah
mentraktirnya di sini. Montero memang tempatnya orang berjas dan wisatawan yang
tajir. Bisa bayangkan harga minuman saja berkisar dari 45-115 ribu apalagi
makananya.
“waa lo makan nggak ajak-ajak gue lo!” kata Mella
tiba-tiba.
“gue aja cuma ditraktir Grasia. Tuh masih ada, makan
aja,” Ray dengan pede menawarkan makananya kepada Mella. Alhasil Mella ikut
menikmati traktiran Grasia.
∂∂
Ray dan Mella selesai melahap habis makanan di meja
mereka. Tak lama kemudian waiters datang membawa bill. Grasia melihat sekilas
dan terkejut.
“gila! Gue bisa nggak ke salon sebulan ini!” Grasia
nampak shock berat.
“berapa sih? Berapa?” Ray sok ingin mengetahui total
makanan mereka. Ia langsung melihat bagian bawah kertas yang menunjukan total
harga. “buset dah. Ini mah gaji gue sebulan.”
Grasia tampak berapi api-api. Ia mengeluarkan kartu
ATMnya dan memberikannya kepada waiters yang sejak tadi menunggu. Grasia
memberikannya dengan tidak ihklas, nampak sekali dengan wajahnya yang
ditekuk-tekuk.
“puas lo? Gue udah nggak ada utang lagi ya sama lo.
Jangan ganggu gue lagi,” Grasia meninggalkan Mella dan Ray.
Setelah Grasia meninggalkan Montero Ray dan Mella hanya
bisa tertawa. Mereka merasa sangat puas bisa mengerjai Grasia. Tapi apa tidak
keterlaluan jika total makan mereka hampir 1,5 juta?
“Itu sih nggak cuma
keterlaluan kalau kata Syahrini sih cetar membahana topan Ray,” kata Mella
sambil meniru gaya bicara Syahrini yang khas.
∂∂
“tumben lo nggak bawa motor?” tanya Rama penasaran. Tadi
pagi-pagi sebelum subuh, Ray sudah membangunkan Rama. Ia meminta Rama untuk
menjemputnya di rumah.
Hari ini Ray memang sengaja tidak membawa motor. Ia
beralasan bahwa motornya masuk bengkel, padahal motornya tertata rapi di garasi
beserta mobil mamanya.
“ini tuh modus tau,” Ray menaiki motor Rama. “daa mama,” pamitnya
kepada Asna.
Sepanjang perjalan menuju SMA Dhimika 2, Ray dan Rama
bercerita banyak hal. Rama mengendarai ninjanya hanya dengan kecepatan
40km/jam. Ia sengaja berangkat pagi agar bisa lebih lama berduaan dengan Ray.
“lo tau nggak?” tanya Ray sambil turun dari motor. Ia dan
Rama telah sampai di tempat parkir SMA Dhimika 2.
“enggak,” Rama melepaskan helmnya.
“orang pake ninja itu pertanda kalo orang itu pelit,” terang
Ray.
“nyatanya gue enggak tuh. Gue selalu bagi-bagi jawaban ke
temen-temen gue,”
“pelit soalnya joknya cuma muat satu orang. Jadi orang
mau nebeng juga mikir dua kali. Hahaha”
Rama gondok mendengar ucapa Ray. Rama hanya tertawa. Ia
mengacak-acak rambut Ray yang sudah terikat rapi. “dasar lo. Anak gigi susu,” olok
Rama.
“percaya yang udah nggak punya gigi. Hahaha” Ray berlari
meninggalkan Rama. Sementara yang ditinggalkan hanya geleng-geleng kepala
melihat tingkah pacarnya itu.
“pasti itu salah satu yang bikin Ian sayang banget sama
lo,” kata Rama pelan sambil berjalan.
∂∂
Sebelas
Sudah hampir empat bulan SMA Stela Mulia dan SMA Dhimika
2 tidak mengusik satu sama lain. Padahal Ray sudah kangen untuk melihat atau
bahkan terlibat tawuran. Heran tawuran kok dikangenin!
Semenjak kegiatan DTHA, Ray dan Dimas sering bertemu.
Dimas sering menginap di rumah Ray. Mereka dan Rama kadang hang out bersama.
Bahkan Ray dan Dimas bertukar motor. Ray kagum dengan motor Kawasaki KLX milik
Dimas. Motor itu biasa di gunakan untuk medan yang tidak bisa menggunakan motor
biasa seperti saat mendaki.
Ray kini membawa motor Dimas dan Dimas menggunakan CBR
hitam milik Ian. Mereka sepakat untuk bertukar motor selama sebulan. Motor
Dimas memang tidak dipakai Ray saat sekolah. Tidak ada yang tahu kalau Ray kini
mengendarai KLX milik Dimas.
∂∂
Hari ini SMA Dhimika 2 mengadakan pertandingan
persahabatan dengan SMA Stela Mulia. Kali ini yang akan dipertandingkan adalah
cabang futsal. Pertandingan dilakukan di GOR SMA Dhimika 2. Siswa Dhimika 2
berkumpul di tribun penontong sebelah utara sementara siswa Stela Mulia
berkumpul di tribun sebelah selatan.
Sorak-sorai penggembira semakin menambah atmosfir
pertandingan. Mengetahui terkenalnya permusuhan antara SMA Dhimika 2 dan Stela
Mulia, pihak tuan rumah mendatangkan keamanan dari kantor polisi terdekat. Hal
ini dikerenakan masing-masing sekolah pasti akan memulai pertengkaran. Entah
karena tidak terima dengan hasil akhir ataupun karena sindiran satu sama lain.
Skor saat ini 0-0 memasuki babak kedua. Sepanjang
pertandingan Ray sama sekali tidak terlihat. Mella sudah berkeliling tribun
mencari Ray, bahkan di telfonpun Ray tidak menjawab.
“kemana sih tu anak,” gumamnya.
Mella masih sibuk mencari dimana Ray. Ia sampai tidak
memperhatikan sepanjang pertandingan berlangsung. Apabila ada yang teriak ia
juga akan ikut teriak. Entah mengapa Mella kawatir dengan Ray.
Mata Mella masih terus mencari sosok Ray di antara
ratusan penonton. Mella mencari nama seseorang di phonebooknya. Ia segera
menghubungi nomor yang sudah tersimpan di memori hapenya.
“halo?..Ray sama lo nggak?..haa? apa nggak
kedengeran?...enggak? gue juga nggak tahu..coba lo cari deh gue kawatir Ram
sama dia..oke thanks..tuut” sambungan berakhir. Rupanya Mella menghubungi Rama
memastikan apakah Ray bersamanya. “jangan jangan...”
∂∂
Ray keluar dari kamar mandi. Ia sudah menganti baju
sekolahnya dengan pakaian bebas. Ray tidak suka melihat pertandingan futsal.
Baginya futsal adalah olahraga paling garing di dunia setelah sepak bola. Ia
memilih untuk duduk dekat pos satpam, tempat biasa ia dan teman-temannya
nongkrong sepulang sekolah.
Ray memegang Iphonenya yang sedari tadi bernyayi reff
firework milik katty perry.
Mellanie
Itulah nama yang tertera di
layar Iphonenya. Ini sudah kesekian kalinya Mella menelephon Ray, namun tak ada
satu pun yang ia angkat. Bahkan telephon dari Rama dan smsnya tidak di hiraukan
Ray. Ia sedang tidak ingin di ganggu siapapun. Ray menekan Iphonenya dan
menon-aktifkannya. Kemudian ponsel itu ia masukan kedalam tas ranselnya.
Ray melihat seseorang mengenakan seragam identitas SMA
Stela Mulia. Ray bersembunyi di dalam pos satpam. Saat itu memang sangat sepi,
hanya ada Ray. Polisi yang diminta untuk mengamankanpun berada di sekitar GOR.
Ray seperti pernah melihat orang itu sebelumnya. Orang itu semakin mendekat menuju
tempat parkir yang biasanya digunakan pentolan Dhimika 2.
Siapa orang itu dan mau apa dia? Ray penasaran melihat
gerak-gerik anak Stela Mulia itu. Ray mengikuti diam-diam orang itu.
“mau apa lo?” Ray mengagetkan orang yang entah mau apa.
Di tangannya ada semacam pemotong kuku yang berukuran besar. Bagian yang
biasanya digunakan untuk membersihkan kotoran kuku terlihat di keluarkan.
Orang itu menoleh. Yudha! Batin Ray.
“rupanya elo Ray? Lama kita nggak ketemu,” sapa Yudha.
“ngapain lo di sini? Bukannya lo dipenjara?!” nafas Ray
naik turun menahan emosi. Kedua tangannya dikepalkan tanda menyimpan dendam
yang amat dalam.
“weits santai dulu sayang. Apa sih sekarang yang nggak
bisa dibeli hm?” tanyanya sok akrab. “bahkan nyawa kakak lo aja dengan mudah
gue tebus pake uang. Hahaha” Yudha tertawa mengejek.
“lo emang bukan manusia! Lo iblis!” teriak Ray.
“apa lo nggak kangen sama gue hm? Lo nggak kangen sama
orang yang pernah menghilangkan nyawa kakak lo? Maksud gue orang yang udah
bunuh kakak lo?” Yudha terlihat puas mengatakan semua itu.
Ray benar-benar marah ia menendang Yudha hingga
tersungkur. Ray kemudian menginjak dadanya hingga keluar darah dari sudut bibir
Yudha. Ray benar-benar mengeluarkan semua emosinya pada Yudha, semua dendamnya
selama ini. Bahkan saat ia berkelahi dengan Adit ia tak pernah merasa semarah
ini. Ia benar-benar ingin membunuh Yudha detik itu juga.
∂∂
Yudha benar-benar tak bisa bangun. Meskipun ia sempat
mebalas pukulan Ray, namun Ray sudah lebih dulu menghajar Yudha.
Buuuk. Satu lagi pukulan
sekuat tenaga Ray arahkan ke pipi kanan Yudha. Yudha kembali terjatuh.
“asal lo tahu” Ray masih terus memukul Yudha. “gue nggak
takut yang namanya dipenjara! Biarpun gue harus dipenjara asal gue bisa bunuh
lo, itu lebih dari cukup! Nyawa bales nyawa! Lo udah bunuh kakak gue!” buuuk.
satu lagu tendangan Ray.
Wajah Yudha sudah berdarah di bagian pelipisnya. Tidak
hanya Yudha, pipi kiri dan sudut bibir Ray juga berdarah namun tak separah luka
di wajah Yudha. Dada Ray naik turun karena menahan emosi. Air mata jatuh dari
sudut matanya.
“silahkan lo bunuh gue kalo lo berani!” tantang Yudha.
Ray melepaskan cengkraman tangannya di kerah Yudha dan
akan mengambil gunting kuku yang terpelanting saat Yudha tersungkur. “lo pikir
gue takut!” Ray mengayunkan gunting kuku itu dan hendak ia tusukan ke perut
Yudha. Namun gunting kuku itu malah ia lemparkan jauh dan memilih meninju dada
Yudha. “ini buat apa yang lo pernah lo lakuin ke gue...”buuuk pukulan ke dua
“ini buat lo yang udah hina kakak gue..”buuk pukulan ketiga “dan ini...ini atas
perbuatan lo yang udah gebukin kakak gue! Satu lagi..”saat ia akan melayangkan
tangannya, ia merasa tangannya ada yang menahan.
“RAA!! Apa-apaan sih lo,” suara Rama. Rama yang menahan
tangannya. Rama menarik Ray dan membawanya menjauh sementara Yudha ditarik
salah seorang teman Rama.
“dia orang yang udah bunuh Ian!” teriak Ray sambil
menangis. “dan dia dengan bangga bilang itu ke gue! Dia bilang nyawa Ian bisa
dibayar dengan uang Ram!” Ray histeris. Sebelumnya Rama tidak pernah melihat
Ray menangis saat berkelahi, baru kali ini. Ia tak tahu harus berbuat apa.
“minggir gue belum selesai bikin perhitungan sama dia!” Ray mencoba mendekati
Yudha lagi. Namun ia ditahan oleh Rama.
“apa-apaan sih lo Ra? Lo bisa masuk penjara kalau sampe
Yudha mati! Lo jangan nekat!”
“gue nggak takut dan nggak akan pernah takut masuk
penjara! Gue nggak cupu kayak lo yang beraninya cuma keroyokan! Dan satu
lagi...” Ray mengacungkan jari telunjuknya di wajah Rama. “JANGAN PERNAH IKUT
CAMPUR URUSAN GUE!!”Buuk, Ray menghadiahkan satu tonjokan yang lumayan keras di
pipi kanan Rama. Ia pun mengmbil motornya dan melaju motornya dengan kencang.
Rama memegangi pipinya. “gila tu cewek!” batin Rama. Ia
baru akan mengejar Ray namun tangannya di tahan oleh Mella.
“jangan!” cegah Mella. “Ray nggak akan bunuh diri atau
apa pun yang membahayakan nyawanya. Biarin aja dia sendiri.”
Mella dan Rama meninggalkan tempat parkir sebelum polisi
dan anak Stela Mulia lainnya datang. Rama tidak habis pikir kenapa Ray begitu
nekat melakukan semua itu. Perbuatan yang seharusnya tidak ia lakukan. Ray
hidup dalam dendam. Dalam kelam. Bagi Ray mata balas mata!
∂∂
Ray mengendarai motornya dengan kencang. Ia tak tahu
harus pergi kemana. Sudah seharian Ray berputar-putar tidak jelas. Ia kacau.
Sangat kacau. Ray tak mengerti apakah Ian akan bangga ataukah justru kecewa.
Ray membelokan motornya ke sebuah gang kecil.
Ia menghentikan motornya dan berjalan menuju gerbang
tempat itu. Ray menyusuri jalan setapak yang sudah disediakan. Ia berhenti dan
memandang nisan itu.
Denesa Febrian Asmara
Bin
Esa Asmara
Begitulah yang tertera pada nisan Ian. Ray duduk
disebelah batu nisan itu. Dibelainya nisan itu sambil meneteska air mata.
“kak,” Ray memanggil Ian seolah-olah nisan itu adalah Ian
dan dapat menjawabnya. “tadi gue ketemu sama Yudha. Yudha gue hajar kak. Gue
hampir bunuh dia. Tapi... kalau gue bunuh dia berarti gue sama iblisnya sama
Yudha. Gue nggak mau...” Ray terisak “lo bangga nggak kalau gue bunuh Yudha?
Atau lo kecewa? Kak,” panggil Ray sekali lagi. “gue nggak takut dipenjara, gue
nggak takut apapun. Gue cuma takut sama Tuhan, gue bakalan takut kalau Tuhan
marah sama gue dan gue juga takut kalau lo kecewa sama gue..” Ray menghentikan
ucapannya. Ia hanya bisa menangis. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi.
Ray merasa pundaknya dipegang oleh seseorang. Wajah Ray
sumringah, “kak Ian,” katanya sambil menoleh.
“gue tahu lo pasti di sini,” kata Dimas.
Dimas langsung menuju Jakarta setelah ia mendapat telfon
dari Rama. Rama menceritakan apa yang baru saja terjadi dengan Ray dan memohon
agar menemukan Ray.
“kak Dimas,”
“Ray gue tahu lo pengen benget Ian tenang tapi apa lo
tahu?..” Dimas menghentikan kalimatnya. Ia duduk di sebelah Ray. “Ian pasti
akan jauh lebih tenang kalau lo bisa ikhlasin semua yang udah terjadi. Nasi
udah jadi bubur Ray.” Dimas mencoba menasihati Ray.
“tapi sampai detik ini gue masih nggak terima atas
perbuata Yudha kak,” suaranya parau.
“menurut lo apa gue terima? Nggak Ray! Gue justru merasa
bersalah. Dimana gue saat Ian butuh bantuan, sahabat macam apa gue ini? Tapi
gue berusaha ihklas, toh menyalahkan diri sendiri nggak akan ngebuat Ian ada
lagi sama kita kan? Kakak tahu mungkin banyak orang yang berfikir kalau itu
salah lo, tapi... apa lo pernah berfikir kalau semua itu adalah takdir?”
Ray hanya diam. Ia mencoba meresapi semua perkataan Dimas
yang begitu mirip dengan cara Ian menasihatinya dulu.
“takdir?” Ray heran. Bagaimana mungkin sebuah pembunuhan
itu takdir!
“iya. Takdir yang ngebuat lo masuk Dhimika dua dan
akhirnya ketemu Rama. Gue nggak peduli gimana kalian ketemu awalnya yang jelas
Rama orang yang udah nolongin lo waktu lo disandera bukan Ian! Bukannya kejadiaanya
sama seperti dua tahun yang lalu? Sangat serupa, cuma yang lo tolong dan nolongin
lo Rama bukan Ian. Apa itu nggak bisa disebut takdir?” jelas Rama.
Ray tak pernah menyadarinya. Benar juga apa yang Dimas
ucapkan. Kejadiaan saat Rama menolongnya sama persis dengan kejadian saat Ian
dulu menolongnya, hanya saja Rama tidak lantas meninggalkan Ray. Ray mulai
menyadarinya. Ia termenung cukup lama. Hingga akhirnya hari menjelang magrib.
∂∂
duabelas
Rama masih mencoba untuk menghubungi Ray. Sudah seminggu
Ray tidak ada kabar setelah kejadian waktu itu. Rama mencoba mencarinya di MBC,
di kelasnya, di rumahnya dan hasilnya nihil. Bahkan Mella sampai menangis di
depan Rama karena ia juga tidak bisa menemukan Ray di manapun. Ray menghilang.
Rencananya hari ini Rama ingin minta maaf karena telah mencampuri urusan
pribadinya. Ia tak seharusnya bersikap seperti kemarin.
Rama tak lupa menghubungi Dimas sesaat setelah kejadiaan
itu. Sampai sekarang Dimas juga tidak bisa dihubungi. Padahal UNAS tinggal 2
bulan lagi dan fikiran Rama sangat tidak fokus. Ia takut terjadi hal buruk pada
Ray. Bisa saja Ray datang ke SMA Stela Mulia seorang diri dan menghajar Yudha.
“ah mana mungkin itu. Ra, lo kemana sih?” batin Rama.
Rama mengambil motornya. Ia berencana latihan di MBC hari
ini. Siapa tahu Ray ada di sana pikirnya. Semenjak kejadian Ray menghajar Yudha
ia tak pernah kelihatan lagi. Bahkan Dimas yang sempat bisa di hubungi juga tak
tahu di mana.
Ddrrrt drrrrt. Ponsel Rama
bergetar, seperti getaran telefon.
Dimas. Nama yang tertera pada
ponselnya. Rama menepikan motornya. Mencari tempat terdekat yang bisa ia
gunakan untuk mengangkat telfon.
“halo?” jawab Rama.
“lo dimana? Ray
sama lo?” suara Dimas tidak terdengar begitu jelas kerena suara bising
kendaraan.
“bukannya dia sama lo? Gue udah cari-cari dia tapi nggak
ketemu...haa?..nggak jelas. Apa?...kuburan? nggak ada gue dah cek semua tempat
yang Mamanya tahu...udah pulang?...dari mana? Sama lo?...” Rama mendengarkan
perkataan Dimas yang berada entah dimana.
“oke!”
Rama memutar motornya. Ia mengendarai motornya menuju
rumahnya bukan ke MBC.
∂∂
Ray mengambil bolanya yang
mengelinding dekat pintu masuk. Jam sudah menunjukan pukul 01.40 namun Ray
masih belum puas. Ia masih butuh waktu untuk kembali ke hidupnya. Sudah satu
minggu Ray menghilang. Selama itu, setiap malam ia selalu bermain basket
sendirian di GOR MBC. Untung saja Ray dulu pernah menduplikat kunci GOR yang
selalu di bawa Mella. Tak ada teman selain bola basketnya dan lampu yang
menerangi GOR.
Sudah sejak pukul 22.00 Ray berada di dalam GOR. MBC
memang tidak pernah mengadakan latihan malam sehingga tempat itu bisa digunakan
Ray kapanpun ia mau tanpa sepengetahuan orang lain. Ray meneruskan permainannya.
Ia belum sangat lelah.
Ray mengambil botol air mineral yang isinya tinggal
separo itu. Ia meneguknya dan duduk di bance. Ray mengambil Iphonenya yang
sudah seminggu ini ia matikan. Ray menghidupkan ponselnya itu.
95 new massage
187 misscall
Ray hanya tersenyum melihat informasi yang tertera di
layar ponselnya. Ada 187 panggilan yang mencoba menghubunginya. Meskipun tidak
tersambung namun tetap tertera berapa kali orang-orang mencoba menghubungi Ray.
98 pesan yang berasal dari Mamanya, Mella, Dimas, dan Rama. Ray mengutak-atik
layar ponselnya. Mencari lebih banyak informasi.
Sebagian pesannya didominasi dari mamanya dan Rama. Sisanya
hanya segelintir pesan dari Mella dan Dimas. Ray mengetik sebuah pesan singkat.
To: mamaaa
Ray gak papa maa. Ray nginep
rmh temen. Ray akan plg secepatnya, mama gak usah kawatir
Send..
Ray mengetik pesan singkat
untuk Mamanya.
Ray kembali mengambil bola basket dan melemparnya ke arah
ring. Ray mengejar kemana bola itu memenatul dan melemparkannya kembali ke
ring.
“gue tahu lo pasti di sini,” kata seseorang.
“Rama?” balas Ray terkejut.
Rupanya sedari tadi Rama berdiri di dekat pintu GOR MBC.
Ia memperhatikan Ray yang bermain basket sendirian. “butuh musuh?” tanya Rama.
Ray hanya mengangguk pertanda iya.
∂∂
“thanks Ram,” Ray menerima air mineral yang di sodorkan
Rama. Mereka berdua telah selesai adu satu lawan satu. Ray bermain sangat
kacau. Tak pernah sebelumnya Rama melihat permainan Ray sekacau tadi. Ia sangat
tidak terkontrol.
“gue ..” Rama dan Ray bebarengan. Rama diam, membiarkan
Ray berbicara terlebih dahulu.
“gue ngerti lo peduli sama gue, tapi gue mohon jangan
pernah ikut campur apapun masalah pribadi gue. Gue nggak mau siapapun terlibat
masalah gue, gue nggak mau orang-orang yang peduli sama gue ikut terlibat atau
bahkan dalam bahaya..”
“maafin gue Ra,” potong Rama. “gue janji nggak akan ikut
campur masalah pribadi lo. Gue akan ada saat lo bener-bener butuh, bukan malah
mengganggu.” Rama menatap Ray. Tulus dan teduh, seperti saat Ian menatapnya.
Rama tersenyum. Pipinya terlihat sedikit memar.
“itu..” Ray memegang pipi Rama yang memar. “pasti
gara-gara gue tonjok kemaren ya? Sory Ram sory gue nggak sengaja. Guee..” Ray
menghentikan kalimatnya melihat jari telunjuk Rama berada di bibirnya.
Rama menarik badan Ray mendekat padanya. Ia memeluk Ray.
“jangan pernah bikin gue cemas lagi Ra,”bisik Rama ditelinga Ray. Ray hanya
membenamkan wajahnya dipelukan Rama. “lo mau pulang kan?” tanya Rama melepaskan
pelukannya.
“mau.”
∂∂
tiga belas
Ray kembali masuk sekolah
seperti biasanya. Ia mendapatkan banyak panggilan dari guru BK dan wali
kelasnya. Ray hanya beralasan bahwa ia sedang ada masalah keluarga yang harus
ia selesaikan. Melihat mata Ray yang terlihat lelah, Bu Nista sebagai guru BK
Ray tidak memperpanjang masalah. Ia hanya meminta Ray untuk mengejar
ketinggalannya selama tidak masuk sekolah.
Mendengar Ray kembali sekolah, Mella benar-benar
sumringah. Ia memeluk Ray. Ia kangen sekali dengannya.
“apa-apaan sih lo? Gue masih doyan cowok tau!” Ray
melepaskan pelukan Mella.
“gue kangen banget tau sama lo. Lo jahat banget sih Ray.”
Mella pura-pura cemberut.
“gue jahat kenapa?”
“lo bolos sekolah nggak ngajak gue. Kurang jahat apa coba
lo sebagai sahabat,”
Ray hanya tertawa mendengar ucapan Mella. Dia itu beneran
polos apa pura-pura polos sih? Tanya Ray dalam hati. Sejujurnya Ray tahu Mella
benar-benar mengkhawatirkannya. Rama menceritakannya pada Ray. Mata Mella
terlihat sembab. Melihat mata Mella yang sembab, Ray teringat dengan Mamanya.
Mella yang onengnya minta ampun aja sampai sembab matanya gara-gara mikirin Ray
apalagi orang yang melahirkannya.
“La?”
“hm?” Mella tidak menengok. Ia masih memandangi papan
tulis yang penuh coretan spidol.
“lo mau nggak temenin gue pulang sekolah ntar?”
Mella tidak menjawab, ia malah sibuk menyalin coretan di
papan tulis. Ray lama-lama kesal sendiri dengan Mella yang asik dengan
matematika. Mau atau tidak Mella harus mau menemani Ray.
∂∂
Ray dan Mella sedang berada di Vivalavicie Bakery. Salah
satu toko roti yang terkenal di Jakarta Utara. Ray sibuk memilih cake sebagai
permintaan maaf untuk mamanya. Ia merasa sangat berdosa telah membiarkan
Mamanya khawatir.
“yang ini gimana Ray?” Mella menunjuk cake yang ada di
pojokan.
“emang lo kira Mama gue mau ultah yang ke tujuh apa pake
cake kayak gitu!” Ray kesal dengan Mella. Sudah sejak tadi pilihan cake Mella
tidak sesuai situasi dan kondisi. Barusan ia menyarankan untuk membeli cake
berukuran diameter 25cm yang dihiasi fondan berbentuk angry bird warni-warni
yang bertuliskan Happy Birtday. Kurang sempurna apa coba Mella ini!
“habisnya gue kesel dari tadi cake gue nggak ada yang elo
setujuin sih!”
“oke gue kasih kesempatan sekali lagi. Tapi kali ini
harus serius, keburu sore entar.”
“siap bos!” Mella menggangkat tangannya, memberi hormat
kepada Ray dan memilih cake di tempat lain. Ray duduk tempat duduk yang
disediakan dan membuka ponselnya.
2 new messages
Segera
Ray membuka inboxnya. Rama. Nama yang tertera pada layar Iphonenya. Sudah sejak
kejadian di MBC Ray tidak menghubungi Rama. Bahkan tadi sewaktu di sekolah Ray
sama sekali tidak bertemu Rama.
From: Parama
Lo udah masuk tadi? Sory gue gk mask tadi. Gue kesiangan
gara2 begadang semalem L
Ray hanya tersenyum melihat pesan dari Rama. Ia merasa
bersyukur memiliki pacar seperti Rama. Ia tak terlalu mengurusi Ray. Ia
membiarkan Ray dengan kehidupan Ray seperti biasa. Ia tidak menuntuk Ray yang
aneh-aneh seperti kebanyakan remaja berpacaran. Meskipun demikian Rama juga
bukan tipe pacar yang cuek. Ia tetap peduli dengan Ray namun tidak berlebihan.
To: Parama
Gw udh masuk tadi. Thx udah begadang buat gw J
Ray senyum-senyum sendiri saat sms-an dengan Rama. Ia tak
menyadari Mella yang sedari tadi berdiri di hadapannya membawa cake. Mella
sengaja tidak memanggil Ray, ia ingin tahu kenapa sahabatnya senyum-senyum
sendiri.
“cieee yang online sama pacarnya sampai ketawa-ketawi
sendirian. Duh jadi iri nih,” goda Mella.
“apaan sih lo! Siapa juga yang pacaran. Eh mana cakenya?
Udah ketemu?” Ray mengalihkan pembicaraan sebelum Mella makin menjadi.
“nih cake buat nyokap lo,” Mella menyodorkan baki berisi
2 cake. Yang satu berukuran sedang yang satunya berukuran kecil.
“nah kalau yang ini baru tepat. Loh kok dua sih?” Ray
kebingungan melihat baki berisi dua cake sementara Ray tadi hanya minta untuk
dicarikan satu cake.
“gini loh Ray,” Mella mulai menjelaskan, “gue tadi nyari
cakenya jauh banget sampai pojokan sana noh. Nah ditengah jalan balik ke sini
gue liat cake yang ini. Tiba-tiba kaki gue minta bayaran atas kerja kerasnya.
Nggak papakan? Lagian murah kok Ray.”
Ray hanya menghembuskan napasnya cepat. Benar-benar
merasa salah mengajak Mella ke toko roti. Mella kan apa-apa doyan! Batin Ray.
Ray menuju kasir untuk membayar cakenya. Ray hanya bisa
menelan ludah mendengar pegawai kasir menyebutkan total cake Ray.
∂∂
“astaga Ray. Selama ini kamu kemana saja? Mama khawatir
banget sama kamu,” Mama Ray mendekap anaknya. Ia begitu kangen dengan teriakan
Ray yang selalu memanggil mamanya.
“maafin Ray Ma, Ray Cuma butuh waktu buat sendiri aja.
Liatkan sekarang Ray nggak kenapa-kenapa,” Ray menghibur Mamanya yang menangis.
Asna bangga sekali pada Ray. Meskipun hanya hidup berdua,
Ray tidak pernah salah pergaulan yang membuatnya menjadi remaja yang
bermasalah. Masalah terbesar Ray hanya perkelahian, selain itu ia bersih.
“ya sudah sekarang mana cake mama tadi? Mumpung mama
laper,” Asna melepaskan dekapannya. Ia beranjak mengambil cake yang dibelikan
Ray tadi siang. “oo iya Ray, apa kamu juga belikan cake buat Rama? Kasian dia
sampai jarang sekolah cuma buat nyariin kamu buat mama,” ujar Asna disela
makannya.
Ray terkejut. “astaga ma, Ray lupa.”
Mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ray memang
tipikal orang yang cuek. Selain keluarga dan sahabatnya tidak ada yang ia
pedulikan lagi.
∂∂
“jadi belum mau jawab jujur kenapa ngajak aku main
malem-malem?” Ray hanya meringis melihat kedua tangannya diikat. Ia masih
menutup mulut dan hanya menggelengkan kepala sedari tadi. “oke kalau nggak mau
jawab. Gue pulang aja, lusa udah UN.” Rama pura-pura meninggalkan Ray yang
tangannya terikat. Baru sekitar lima langkah, Ray sudah memanggil namanya.
“Ram!” Rama hanya berhenti tanpa menoleh. Jika saja Ray
melihatnya pasti ia sangat kesal. Rama mala cekikikan. “oke gue akan kasih tau
lo setelah lo kalahin gue by one?”
“oke siapa takut!”
Ray mengambil bola di tasnya. Mereka memulai adu satu
lawan satu. Ini adalah kali kedua Rama menghadapi Ray dalam keadaan normal.
Tanpa ada tekanan di pikiran Ray. Ray begitu asik memainkan bola. Kali ini lo
yang harus lihat mata gue! Pikir Rama.
Satu poin untuk Ray! Kini bola dikuasai Rama. Ray pada
posisi bertahan mencoba merebut bola di tangan Rama. Rama menatap mata Ray,
mencoba mencari celah agar bisa melewatinya.
Ia mengambil back step yang biasa dilakukan Ray. Dua poin untuk Rama. Ia
melakukan 3poin.
∂∂
“...begitu.” Ray selesai menjelaskan tujuan ia membawa
Rama malam-malam ke lapangan MBC. Rama hanya diam. Ia tak tahu harus berkata apa.
Ada perasaan bersalah pada Ray. “kok malah bengong?”
“gue speecles aja dengerin penjelasan lo. Segitu cintanya
ya lo sama gue hahaha,” goda Rama.
Ray tersipu malu. Pipinya memerah. Rupanya sekitar pukul
22:30 tadi, Ray menelepon Rama saat ia tengah tertidur pulas. Rama bangun dan
terkejut mendapati Ray sudah di depan rumahnya. Ray membawa Rama ke lapangan
MBC. Awalnya Ray tak tahu harus membawa Rama kemana malam-malam seperti ini.
Ray ingin menengkan Rama yang sedang gelisah karena lusa sudah menghadapi UN.
Dulu sewaktu menjelang UN, Ray juga mengajak Ian untuk
bertanding basket agar pikirannya tidak terlalu tegang dan lebih santai saat
menghadapi UN. Sekarang ia juga melakukan hal yang sama pada Rama. Ia tak ingin
Rama terlalu serius memikirkan Unnya hingga stres.
“apaan sih lo. Gue Cuma nggak pengen lo stres aja
gara-gara mikirin UN,” Ray membuat alibi.
“thanks Ra. Gara-gara lo stres gue berkurang dikit,” Rama
tersenyum.
“o iya gue punya ini,” Ray membuka tasnya. Mencari
sesuatu di dalam tasnya. “nih” ia menyodorkan kotak pensil lengkap dengan
isinya.
“pensil? Buat apa?” Rama mengangkat satu alisnya
menerima. Mana ada cowok-cewek pacaran ngasih hadiahnya seperangkat alat tulis.
Emang anak SD? Rama tertawa dalam hati.
“gue bingung mau ngasih lo apa sebagai tanda terima kasih
udah mau nyari gue buat mama. Berhubung lo mau UN yaudah gue beliin ini aja,”
jawab Ray polos.
“hahahahaha”
Ray belum pernah memberikan hadiah dalam bentuk apapun
kepada cowok. Bahkan Ian pun tak pernah ia beri hadiah. Meskipun merasa lucu
namun Rama tetap berterima kasih kepada Ray. Ia janji akan menggunakan pensil
pemberiannya untuk mengerjakan soal.
∂∂
Ujian Nasional bagi siswa kelas XII (dua belas) sedang
berlangsung. Sementara siswa kelas XII sedang berjuang mati-matian untuk
menentukan masa depan mereka, siswa kelas X dan XI malah asik menikmati
liburan. Meskipun hanya empat hari lamanya namun bagi mereka sudah termasuk
rejeki yang tidak boleh disia-siakan. Banyak diantara mereka yang menggunakan
waktu liburnya untuk pergi berlibur ke luar kota namun tidka sedikit yang hanya
santai di rumah.
Pagi ini Ray berencana akan pergi ke Bandung bersama
Mella untuk melihat tournamen basket kelas profesional yaitu IBL. Ray
menyempatkan melihat tim kebanggaannya berlaga yaitu OBY (Oetama Basketball
Yamaha). Salah satu club berada pada manajemen yang sama dengan club MBC. Hari
ini OMC akan melawan tim dari Bandung yaitu Satria Jaya Yahama atau yang lebih
populer SJY. Meskipun baru babak penyisihan untuk lolos ke champion ship, namun
pertandingan OBY melawan SJY merupakan pertandingan paling seru yang ditunggu
penggila basket.
“ingat pesenan Mama ya Ray, ati-ati di jalan,” pesan Mama
Ray. “oo iya Mella tolong kamu awasin Ray, jangan sampai dia terpancing emosi.”
Tambahnya.
“siap komandan!” seru Ray dan Mella bebarengan.
∂∂
Perjalanan menuju Bandung hari ini cukup melelahkan.
Jalanan dipadati mobil-mobil pribadi yang hendak liburan. Alhasil Ray dan Mella
sampai sekitar pukul 2 siang. Mereka berhenti di salah satu wisata kuliner
terkenal di Bandung, Kampung Bagong.
“lo udah hubungin Rama?” tanya Mella setelah
menyelesaikan makanannya.
“belum. Gue malah nggak mau Rama tau kalau gue ke sini,”
“kenapa? Bang cireng 1 lagi ya!”
“masak dia lagi susah payah ngerjain UN sementara gue
malah asik-asikan liburan. Gue juga mau dong Bang, yang keju yah” Ray
mengacungkan telunjuknya seperti angka satu.
“yah realistis dikit kenapa? Toh emang jatahnya kita
liburan. Lagian gue yakin Rama pasti sukses ngerjainnya, dia smart sist”
“bukan gitu kuya. Maksut gue apa kata orang entar kalau
gue seneng-seneng sementara pacarnya lagi pusing ngerjain. Maksih bang,”
Ray menerima cireng keju dari “abangnya”. Ia meneruskan
pembicaraanya dengan Mella sambil menyantap cireng keju + mayonise hangat.
“ternyata Rama ngerubah lo jauh banget ya,”
“...”
Ray tersadar, ternyata ia telah terbuka dengan orang
lain. Meskipun hanya dengan Mella namun itu bukan seperti Ray yang dulu.
Sebenarnya Ray tidak berubah, ia malah kembali ke Ray yang dulu. Ray yang
selalu ceria. Matanya yang dulu tajam dan sinis mulai berubah. Masuknya Rama di
kehidupan Ray membuat Ray kembali pada dirinya saat bersama Ian. Ray teringat
perkataan Dimas tempo hari bahwa semua yang terjadi adalah takdir. Takdir yang
membuat Ian meninggal. Takdir juga yang telah membawa Ray sampai ke Dhimika Dua
dan sampai akhirnya takdir mempertemukan Ray dengan Rama.
Ray mulai menjadi jati dirinya yang sesungguhnya. Dulu
memang ia hidup dalam dendam kakaknya. Ia tak ingin seorang pun pria mengganggu
hidupnya kecuali Evan, dulu. Karena memang Evan satu-satunya teman yang ia
punya dulu selain Mella. Astaga! Batin Ray.
To: Ka Dimas
Lo bener kak ini semua
takdir...
Send..
∂∂
“gue udah bilang, gue nggak tau apa-apa soal manajemen
OBY!”
“gue udah pernah peringatin ke elo! Karir basket lo ada
di tangan gue! Cepat atau lambat lo harus cari tahu manajemen OBY dan MBC kalau
lo masih mau basket...dan satu lagi selama kita penyisihan lo nggak akan
diturunin......tuuttuuuuuuut”
Sialan! Dia ngancem gue! Ia membuka ponsel dan
mengeluarkan batrainya tanpa dimatikan terlebih dahulu. Kemudian mencopot
simcardnya dan membuangnya.
∂∂
Ujian Nasional bagi siswa kelas 3 SMA sudah berakhir.
Mereka hanya tinggal menunggu hasilnya yang ternyata diajukan menjadi satu
minggu lagi. Majunya penerimaan hasil UN membuat siswa kelas 3 SMA menjadi
gundah gulana, tak terkecuali SMA Dhimika 2. Sebagian siswa sibuk berdoa
mengharapkan hasil terbaik, sebagian lagi mempersiapkan acar prom night,
sebagian mengurus data-data yang digunakan untun mendaftar perguruan tinggi,
dan sisanya menghabiskan waktu dengan liburan.
Rama dan teman-temannya sudah lama tidak mencari
gara-gara dengan SMA Stela Mulia dan sebaliknya SMA Stela Mulia juga tidak
pernah lagi menggangu SMA Dhimika 2. Sepertinya berita dihajarnya Yudha
–pendiri geng SMA Stela Mulia- oleh Ray menyebar cepet ke telinga para trouble
maker SMA Stela Mulia sehingga mereka tak berani mengusik SMA Dhimika 2.
∂∂