21 Jun 2012

x-RAY




PROLOG

“namaku Dheca Mahesa Ray Asmara, tapi kalian cukup panggil aku Ray. Aku berasal dari SMP Harapan Bangsa. . .” Kira-kira begitulah awal perkenalan Ray pada masa OSPEK. Ray dan Mella, sahabatnya, berhasil masuk SMA favoritnya yaitu SMA Dhimika 2. Ray dan Mella sudah bersahabat sejak masih taman kanak-kanak. Sampai sekarang pun mereka masih selalu bersama-sama. Meskipun mereka selalu bersama-sama, namun mereka berdua mempunyai kepribadian yang sangat berbeda. Mungkin perbedaan itu yang membuat mereka saling melengkapi.
            Ajaran awal OSPEK sudah Ray kacaukan. Ray hampir saja berkelahi dengan ketua OSPEK. Padahal ketua OSPEK adalah -bisa dibilang- orang yang ditakuti di sekolahnya. Kalau saja waktu itu tidak ada guru yang melerai mungkin aula sekolah akan menjadi area tinju.
            Belum resmi Ray menjadi siswi SMA Dhimika 2, Ray sudah dapat teguran dari berbagai pihak. Mulai dari calon wali kelas, guru BK, hingga anak-anak kelas XI dan XII. Saat pembagian kelas Ray dan Mella beruntung mendapatkan kelas yang sama, yaitu kelas X.2
            Saat berjalan menuju kantin. . .
            Buuk!!! Ray menabrak bahu salah seorang murid entah kelas berapa. “uupps! Sorry, gue nggak sengaja!!” Ray meminta maaf dengan nada sekenaknya. “makanya kalo jalan itu di pinggir, nggak di tengah-tengah. Emang ini koridor punya lo doang apa!”
“emang lo siapa? Koridornya lebar tau!! Noo masih ada jalan lebar!!” jawab cowok itu tak mau kalah.
“gue Ray. Ray Asmara anak X.2, lo bisa cari gue kalo lo nggak TE-RI-MA!” Ray sengaja menekankan kata TERIMA agar terdengar lebih jelas. Kemudian Ray berjalan santai dengan Mella dan meninggalkan cowok yang tadi ia tabrak tanpa merasa bersalah. Sementara cowok itu hanya diam terbengong-bengong.
            “boleh juga nih cewek. Cantik emang, tapi sayang kelakuanya mana tahan. . .” batinnya  “tunggu. . . . X.2? satu kelas dong??”
            “eh elo!! Ray! Ray Asmara!” orang yang tadi di tabrak Ray memanggil namanya. Ray berhenti dan menoleh. “lo anak X.2?” tanyanya.
            “iya! Emang kenapa? Lo nggak terima?”
            “buk bukan bukan. Gue juga anak X.2, gue Valhen. Valhen Praditya” Valhen mengulurkan tangannya, namun naas. Jabatan tangan Valhen tidak dihiraukan oleh Ray. “gue harap kita bisa jadi temen,”senyum mengembang di bibir Valhen.
            “oh. Valhen. Salam kenal deh,” jawab Ray seraya berjalan meninggalkan Valhen.
            “sial!! Blagu banget tu cewek!!” batin Valhen.









SATU

Saat pulang sekolah . .
BRUUUUM BRUUUMM TIIIIN TIIIN TIIIN
            Terdengar deru suara motor dan klakson bersahut-sahutan dari arah luar sekolah. Sontak sebagian anak SMA Dhimika 2 keluar gerbang. Dengan sigap mereka kembali masuk sekolah dan menganbil motor masing-masing. Termasuk Ray. Kemudian mereka mengejar anak SMA lain yang belum di ketahui sebagai pembuat onar di SMA Dhimika 2. Di tengah-tengah perjalanan, salah seorang mengetahui ada perempuan yang tengah mengikuti mereka,
            “BERHEEEEENTIII!!!!” teriak orang itu.
Semua yang berada di belakangnya berhenti mendadak dan nyaris tabrakan beruntun.
            “kalian ngapain berhenti? Kita kejar aja! Kalo lo nggak pada berani biar gue sendiri aja yang ngejar. Gue berani kok!” protes Ray panjang lebar. Ia heran melihat pasukan SMA Dhimika 2 berhenti mendadak. Ray tahu betul, tidak seharusnya mereka berhenti ditengah jalan raya kalau tidak tanpa sebab.
            “elo itu cewek. Ngapain lo ikut-ikutan, ini urusan cowok,” kata salah seorang seraya membuka helm fullfacenya.
“ELO!!” kata Ray dan cowok itu bebarengan. Ternyata cowok itu adalah Rama, ketua OSPEK SMA Dhimika 2. “elo lagi elo lagi. Elo cowok apa cewek sih? Cewek kok brutal” kata Rama sambil menatap Ray tajam.
            “elo nggak pantes nilai gue! Lo nggak kenal siapa gue! So, JANGAN SOK KENAL!” Ray meninggalkan Rama dan juga yang lain. Ia mengendarai motornya dengan kencang.
            “lo kenal dia Ram?” tanya Valhen.
            “gimana nggak kenal, gue sama dia hampir berantem waktu OSPEK, kalo aja nggak ada Pak Kampret itu udah gue sikat tu cewek. Tapi pantang gue mukul cewek, lag...”
            “jadi? Mau curhat atau kembali ke misi?” potong Andre.
            “curhat gigi lo rata! Kita balik dulu, urusan Stela Mulia kita urus besok,” perintah Rama.
Setelah diperintahkan untuk kembali, pasukan SMA Dhimika 2 bubar untuk pulang ke rumah masing-masing. Tanpa perlu mencari tahu siapa penyebab kekacauan tadi, Rama sudah bisa menduga bahwa SMA Stela Mulia lah dalang dari keributan tadi. SMA Stela Mulia dan SMA Dhimika 2 merupakan musuh bebuyutan dari generasi ke generasi. Bahkan kepala sekolah mereka pun saling bersaing satu sama lain.

∂∂

            “kenapa sih gue harus di takdirkan jadi cewek? Kenapa nggak cowok aja? Toh nama gue Ray, lebih pantes cowok daripada cewek!!!” omel Ray sambil memasuki rumahnya.
            “kenapa kamu Ray? Pulang-pulang sudah ngomel-ngomel nggak jelas gitu?” tanya Mama Ray penasaran melihat putri semata wayangnya ngedumel nggak karuan.
            “Maa, kenapa sih aku cewek? Kenapa nggak cowok aja? Kalo Ray cowok, Ray kan bisa ngejagain Mama sama kakak,” ungkap Ray. Sejujurnya Ray ingin sekali bisa menjaga Mamanya sebagai perempuan, bukan laki-laki. Tetapi karena suatu hal ia ingin bisa menghajar siapapun yang berani menyakiti hati sang bunda.
            “kalau kamu emang waktu brojol udah cewek terus mau Mama apain? Apa iyaa Mama masukin lagi ke perut terus diganti kelamin gitu, ngaco kamu Ray,” jawab Mama Ray enteng. Ia tidak mau menguak luka yang kini sudah susah payah ia tutup. Kenangan akan tetap menjadi kenangan.
“bukan gitu maksud Ray, Maaa. Kalo Ray cowok Ray kan bisa bales perbuatan laki-laki sialan itu!” balas Ray berapi-api. Setiap kali ada orang yang penasaran akan namanya, Ray selalu teringat kala masa kecilnya yang kelam.
            “Ray.” Panggil Mama Ray halus, “kamu jadi perempuan pun, kamu masih tetep bisa ngelindungin Mama. Tanpa harus jadi cowok, lagian semua cowok itu sama aja Ray, nggak ada yang baik kecuali kakak kamu. Perempuan itu mahkluk mulia, jadi bersyukurlah kamu dilahirkan sebagai perempuan.” Terang Mama Ray panjang lebar. Ia tak mau melihat Ray terus merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya dulu. Hampir setiap hari Ray mengomel, andaikan dia laki-laki. Selalu seperti itu, meski dengan nada bercanda namun bagi Mama Ray hal itu akan membuatnya semakin bersalah.
            “maafin Ray Maa. Ray masuk kamar dulu,” Ray menaiki tangga dan bergegas menuju kamarnya. Ray melepaskan sepatu ketsnya dan menaruhnya di rak sepatu, sementara tasnya ia lemparkan begitu saja ke meja belajarnya.
∂∂
           
Ray menarik nafas dalam-dalam, menahanya sejenak dan kemudian ia hempaskan kuat-kuat. Dipandanginya langit-langit kamar yang keabu-abuan itu, sesuai warna kesukaanya dan kehidupannya – yang kelam. Saat ini pukul tiga lebih lima belas dan hari ini merupakan jadwal Ray berlatih basket. Ray sudah ikut club basket sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya saat usianya masih sepuluh tahun.
            Ray melepas baju seragam esemmanya dan menggantinya dengan kaos oblong berwarna abu-abu dan juga mengenakan celana training. Kemudian Ray memasukan kaos team basket kebanggaanya dan bergegas keluar kamar. Ray menuju meja makan, ia mengambil empat buah roti tawar dan tiga buah keju untuk bekal latihannya hari ini.
            “Maaaa???” teriak Ray memanggil Mamanya. Sementara yang di panggil tidak juga menyaut. “MAAMMAAAAAAAA!!!!” teriak Ray makin kencang.
            “iyaaa!!” jawab Mama Ray tak mau kalah, “ada apa sih teriak-teriak?”
            “Ray mau berangkat basket nii. Udah telat, Ray berangkat dulu ya Maa?” pamit Ray.
            “iyaaa. Ati-ati” pesan Mama Ray.
            Cepat-cepat Ray menuju garasi dan mengambil motor kesayangannya dan bergegas menuju tempat ia berlatih. Seperti biasanya Ray mengendaraai sepeda motornya dengan urakkan dan kencang. Kurang dari lima belas menit Ray sampai di Major Basketball Club atau sering disingkat MBC. Dipandanginya papan nama “Major Basketball Club”, club yang selama ini membesarkan namanya di dunia basket. Tak terasa sudah hampir  lima tahun ini ia membela MBC dan tak terasa juga berapa banyak uang yang sudah mengalir ke kantongnya.
            Kriiiiiiiiiiing. . . . .kriiiiiiiingggg. . . .kriing
            Alarm tanda di mulainya latihan hari ini berbunyi. Ray segera masuk ke dalam. MBC merupakan salah satu club basket ternama dan salah satu yang terbesar juga di daerah Jakarta Utara.
            “Raaaaayy!!! Tunggu!!” panggil Evan, salah satu teman terdekatnya di MBC. Ray menoleh dan berhenti.
            “lama amat sih lo jalannya, udah kayak siput bunting aja lo!” umpat Ray.
“yeee! Siput nggak bunting aja jalannya lama, apalagi bunting non. Ada-ada aja lo Ray,” Evan tertawa. Mereka berdua berjalan menuju bangku pemain.
“sepuluh menit lagi latihan kita mulai!” perintah coach Yete. Ray menganbil jersey dan juga celananya di dalam tas. Ray menuju ruang ganti untuk mengganti kostumnya. Tak lebih dari tiga menit Ray selesai mengganti kaosnya.
Priiiiit!!!!
Bunyi peluit panjang telah di tiup coach Yete. Tanda akan di mulainya pemanasan hari ini. Semua anggota MBC berkumpul di tengah lapangan. Mereka bergandengan tangan membentuk satu lingkaran besar, sementara coach Yete berdiri di tengah-tengah lingkaran.
“sebelum latihan pada sore hari ini kita mulai, marilah kita buka dengan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing agar latihan pada hari ini berjalan dengan lancar. Berdoa mulai,” coach Yete dan anggota MBC menundukkan kepala masing-masing. “selesai” ucapnya lagi. “lari lima putaran lapangan luar, selanjutnya langsung srtaicing. Ray pimpin straicing.” Perintah coach Yete. Sebelum pemanasan seperti biasanya mereka tos bersama-sama,“WE FIGHT TOGETHER, WE WIN TOGETHER, WE ARE THE CHAMPION, WE ARE???”teriak Ray, “MMBBCC!!!”bales anggota MBC yang lain.
Ray dan Evan lari bebarengan.
“kaku semua nih badan gue. Gilaaak aja, dua minggu gue nggak latihan cuma gara-gara ngikutin OSPEK di sekolah. Sialan!” Ray membuka pembicaraan dengan Evan. Mereka memimpin lari di depan sendiri.
“haha, salah sendiri lo nggak berangkat latihan,” jawab Evan sambil tertawa ringan.
“yeee, mending gue kaku-kaku dari pada nyokap gue di pangil ke ruang BK gara-gara gue nggak ikutan OSPEK,”
“emang lo masuk mana sih Ray? Gue juga dua minggu nggak latihan di sini nih,”
“gue masuk Dhimika dua,” jawab Ray enteng.
“gilaaa lo!” Evan terkejut mendengar jawaban Ray. “beneran masuk sana lo? Kesampaian juga lo mau bales dendam,”
“hahahaha” Ray tertawa, “bisa aja lo. Nggak juga, hoki aja kali gue bisa masuk sana,”
“lo itu multitalent beneran deh, selain jago basket otak lo encer juga yaa,” Evan menaikan alisnya ke atas, menggoda Ray.
“hahahaha, lo bisa aja deh buat gue ketawa. Iya, otak gue emang encer orang isinya ludah semua. Hahahaha”
“hahahaha” Ray dan Evan tertawa terbahak-bahak. Mereka hampir menyelesaikan pemanasannya. Keliling lapangan luar MBC sekitar 125 meter, jadi mereka lari sekitar 625 meter. Bagi Ray dan anggota senior MBC yang lain hal seperti itu sudah makanan sehari-hari mereka saat latihan. Semua anggota MBC telah selesai melakukan lari pemanasan. Hampir setiap hari Ray latihan, entah itu latihan untuk dirinya sendiri atau menjadi asisten pelatih untuk MBC junior.
∂∂

            Pukul 06:15 pagi
Kriiiinggg Kriiiing Kriiiing
            Jam weker di meja tidur Ray berbunyi nyaring sudah sejak pukul 5:35 tadi. Jam weker itu akan terus berbunyi sebelum sang pemilik menekan tombol untuk mematikannya. Sementara dari arah luar kamar Ray, terdengar suara teriakan sang Mama, yang sudah hampir putus asa membangunkan Ray.
            “Ray banguuuun!! Sudah siang ini! Kamu mau sekolah enggak sih?!” teriak Mama Ray, sambil menggedor pintu kamar Ray. “RAAAYY!!! Ray Asmara!! Ini udah jam berapa?”
            “iya Ma, ini udah bangun,” jawab Ray sambil menguap. Di lihatnya jam weker di kanannya. “APAAA!!” Ray terkejut melihat jamnya yang sudah menunjukan pukul 06:25.
Dengan cepat Ray bangkit dari tampat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Sekitar sepuluh menit Ray keluar dari kamar mandi. Secepat kilat ia mengambil tas, jam, hape, dan juga helmnya. Ray mengambil motornya di garasi dan segera meninggalkan rumah tanpa berpamitan dulu dengan Mamanya.
            Ray mengendarai motor tiga kali lebih ugal-ugalan dari biasanya. Jarak yang lumayan jauh membuat Ray harus putar otak agar ia tidak datang sangat terlambat, paling tidak sepuluh menit dari bel masuk. Sekitar lima belas menit Ray menempuh perjalanan dari rumah ke sekolahnya tanpa macet di Ibu Kota ini.
            “kenapa sih Jakarta selalu macet! Nggak tahu orang lagi buru-buru apa!” Umpat Ray. Setelah cukup lama berkubang di antara sepeda motor, mobil dan angkutan umum yang sejak tadi berjalan bak siput, akhirnya Ray memutuskan untuk melewati jalan-jalan perkampungan dan itu artinya jarak sekolahnya menjadi lebih jauh. Tanpa memikirkan banyak orang yang berjalan di kanan kiri, Ray asal melaju motornya.
            “permisi buk, maaf buru-buru!” kata Ray saat akan menabrak ibu-ibu dengan kantung belanja di kedua tangannya.
            “dasar anak muda!! Kalau jatuh baru tahu rasa dia, sudah tahu jalannya kecil masih saja senewengan jalannya. . .” umpat ibu yang hendak di tabrak Ray.
            Ray masih mengendarai motornya dengan kencang, dan tibalah dia di depan pintu gerbang SMA Dhimika 2. Sekitar dua puluh tiga menit Ray sampai. Saat itu pintu gerbang sudah di tutup, itu berarti Ray sudah terlambat. Hanya sekitar satu meter pintu gerbang itu terbuka dan hanya muat untuk dilewati satu motor.
Saat akan memasuki pintu gerbang, Ray masuk bebarengan dengan Rama sehingga keduanya tidak dapat masuk secara bersamaan. Sementara slebor bagian depan masing-masing motor sudah masuk.
            “minggir lo! Gue duluan yang dateng, udah telat sepuluh menit nih!” bentak Ray.
            “emang lo siapa?! Main srobot duluan, jelas-jelas gue yang dateng duluan!” balas Rama tak mau kalah.
            “lo kan udah tahu siapa gue, ngapain lo pake nanya?!”
            “heloo mis geer!! Siapa yang nanya nama lo? NGGAK PENTING! Udah minggir gue mau lewat!”bentak Rama.
            “mentang-mentang lo kakak kelas trus lo bisa seenaknya! Ngalah dong sama cewek!!”nada suara Ray kini meninggi.
            “APA?! Nggak salah denger gue? Seorang Ray Asmara cewek? Haha” Rama tertawa palsu.
            “Ehh! Elo tu cowok nggak tahu diri banget sih!! Elo bisa minggir enggak? Udah sejam nih gue ngejongkrok di sini!!”
            “gue punya nama!” Rama mengacungkan jarinya ke muka Ray, “dan inget gue senior lo! Sopan dikit dong!”
            “sopan sama lo?!” Ray menangkis tangan Rama. “ogah amat! El. . .”
            “nama gue Rama! Jangan eh elo eh elo terus manggilnya, dan inget GUE SENOIR LO!!!” Rama meninggikan nada suaranya dan bergegas membuka gerbang. Ia masuk dan meninggalkan Ray seorang diri. “oh... jadi namanya Rama... ah masak bodoh deh,”
            Cepat-cepat Ray memasuki halaman sekolah dan bergegas menuju tempat parkir sepeda motor. Ia berlari agar cepat sampai di kelas. Sudah sekitar satu jam pelajaran Ray berdebat dengan Rama. Saat ini kelas Ray tengah belajar matematika. Karena sudah terlambat satu jam dan Ray juga sangat membenci pelajaran itu, Ray memutuskan untuk bolos dua jam pelajaran matematika. Ray pergi menuju kantin kelas duabelas yang biasanya sering digunakan anak-anak lainnya untuk membolos. Kantin kelas duabelas memang jauh dari jangkauan guru dan sejenisnya.
            Ray duduk di bangku paling pojok bagian barat, tak lupa ia memesan minuman dan membeli makanan kecil. Ray menoleh ke arah timur mejanya. Saat ia menoleh, tatapan matanya dan Rama beradu sesaat. Tetapi hanya selang beberapa detik saja.
            “ngapain lo di sini?” tanya Ray langsung, “gilaa kena kutuk apa gue!” Umpat Ray dalam hati.
            “harusnya gue yang nanya, ngapain lo di sini? Ini kan kantin kelas dua belas.” Rama balik bertanya.
            “emang ada ya aturannya anak kelas sepuluh nggak boleh ada di kantin kelas duabelas? ADA YA ATURANNYA??” Ray menjawab sambil menggebrak meja dan berdiri. Emosinya saat ini sedang tidak baik dikarenakan moodnya yang sedang labil.
            “untung elo cewek, coba kalo lo cowok. Udah gue sikat lo!”
            “emang gue baju apa pake disikat,”
            Rama berdiri dan berjalan menuju kursi Ray. Kini Ray dan Rama duduk bersebrangan. “Dheca Mahesa Ray Asmar ck...” Rama berdecak “lo tu nggak ada pantes-pantesnya jadi cewek! Pantesnya lo tu cowok, cewek kok blangsakkan,”
            “apa urusannya sama lo? Nggak ngaruh kan sama kehidupan lo? Toh ini hidup gue”Ray sudah mulai bisa mengatur emosinya, “ternyata gue emang exis ya, sampai ketua OSPEK kayak elo aja hafal betul nama gue, hahaha” Ray tertawa.
            “gue heran deh sama bonyok lo, nyidam apa mereka sampai-sampai punya anak blangsakkan kayak lo,” kata Rama sambil berdiri meninggalkan Ray karena bel pergantiaan pelajaran telah berbunyi. Ray memandang punggung Rama hingga ia menghilang di belokan. “Ternyata nggak cuma Evan yang asik di ajak ngobrol, orang itu juga asik,” tentu saja kata-kata itu hanya di ucapkan Ray dalam hati.
            Ray membayar minum dan makananya dan segera meninggalkan kantin. Ia berjalan setengah berlari agar tidak terlambat lagi masuk kelas.

∂∂

            “dari mana lo Ray? Kok jam segini lo baru dateng sih? Semalem abis begadang ya?” berondong pertanyaan dari Mella.
            “plis deh La, mau gue jawab yang mana dulu nih pertanyaan lo?”Ray pusing sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan Mella.
            “terserah lo deh dari mana,” jawab Mella polos.
            “pertama, gue dari kantin. Kedua, gue tadi bangunnya jam setengah tuju. Ketiga, gue kemaren habis latihan so gue capek. Ada pertanyaan?”
            “hahahahah,” bukanya mendengarkan pernyataan Ray, Mella malah tertawa.
            “emang ada yang lucu yaa?” Tanya Ray polos.
            “enggaaaaak, hahaha. Udah deh, Bu Rika udah dateng tuh,” Ray dan Mella berhenti bercanda dan mulai memperhatikan pelajaran Bu Rika. Melihat kedatangan Ray yang sangat terlambat, ada sorot mata tajam dari bangku pojok kiri yang sedari tadi memandang Ray.
Sembilan puluh menit berlalu...
            Teeeeteeeeeteeeeeeeeeeeeeet. Bel tanda istirahat terdengar. Bu rika mengakhiri jam mengajarnya dengan segudang tugas pembuka yang cukup membuat anak didiknya merontokan rambut. Sebelum meninggalkan kelas, Valhen mendatangi meja Ray dan Mella.
BRAAAK
            Valhen menggebrak meja Ray. Ray yang tengah asik tertidur sontak bangun dan melayangkan satu tonjokan ke pipi Valhen.
            “apa-apaan sih lo?!” Valhen terkejut sambil memegangi pipinya.
            “elo yang apa-apaan?!! Ngapain lo nggebrak-nggebrak meja gue? Nggak sopan banget sih lo?!!”
            “elo dari mana tadi?! Kenapa lo masuk jam ketiga?” nada suara Valhen mulai menurun. Karena Valhen tanya baik-baik, Ray juga tidak menggunakan emosi.
            “gue dari kantin. Tadi gue telat,” jawab Ray enteng.
            “kenapa nggak masuk aja kalo lo telat?”
            “kalo gue telat cuma sepuluh menit gue nggak bakal bolos, nah ini gue telat satu jam pelajaran men! Bisa disuruh pulang gue,”
            “kok bisa lo telat satu jam?”
            “gara-gara Rama tuh. Udah deh, lo nanyanya gitu amat sih, nggak ada urusannya juga sama lo. Gue mau ke kantin La, lo mau ikut enggak?” Ray mengacuhkan Valhen dan mengajak Mella pergi ke kantin.
            Ray dan Mella berjalan sambil bercanda seperti saat mereka masih duduk di bangku SMP. Mereka tak menghiraukan mata-mata yang melihat ke arah mereka, baik itu kelas sepuluh maupun para senior. Mereka tak menghiraukannya.
“yaaah, penuh banget nih Ray,” desah Mella, “kita makan di mana nih Ray”
“makan di kantin kelas dua belas aja yuk, di sana lebih luas menunya juga lebih banyak,” ajak Ray.
            “haah?!! Gilaa lo, di sana banyak kakak kelas Ray,” tolak Mella.
            “kan ada gue, ngapain lo takut. Lagian kenapa sih sama senior? Senioritas banget!” dengan paksa Ray menarik tangan Mella agar ia mau mengikutinya ke kantin kelas dua belas. Dengan berat hati Mella mengikuti kemauan Ray untuk pindah ke kantin kelas dua belas. Mella duga-menduga bahwa Ray nanti akan membuat kekacauan.
∂∂       
Sebenarnya Mella bangga mempunyai teman seperti Ray. Bagaimana tidak, setiap ada orang yang membuat gara-gara dengan Mella, Ray pasti akan turun tangan. Ray akan selalu membela siapun yang benar, meskipun sahabatnya yang bersalah ia juga akan berbuat hal yang sepantasnya. Tetapi tidak hanya itu, Ray juga berprestasi dalam bidang olahraga, akademik bahkan bidang seni. Ray tidak pernah meminta uang saku bulanan, setiap bulan ia sudah mendapat gaji dari mana saja.
Sampailah mereka berdua di kantin kelas dua belas.
            “Ray, lo cari meja kosong biar gue yang pesen makanan,” suruh Mella.
            “oke deh. Gue mau pisang karamel pake keju dua sama jeruk nggak pake es satu,”
            “oke,” Ray dan Mella berpisah.
Ray celingukan kanan-kiri, rupanya tak susah untuk mencari meja kosong di kantin kelas dua belas, karena sebagian siswa kelas dua belas lebih memilih untuk jajan di kafe dan warung makan yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Ray duduk dan mengeluarkan hapenya. Untuk siswa SMA hape Ray memang jauh di atas siswa SMA pada umumnya.
            Ray melihat sekelilingnya, memastikan apakah Mella sudah selesai memesan makanan.
            “LO KALO JALAN PAKE MATA DOOONG!!!” terdengar bentakan dari salah seorang perempuan. Suara itu terdengar dari arah utara meja Ray. Ray berdiri dari kursinya, mencoba mencari tahu ada kejadian apa di sana. Ternyata suara itu berasal dari arah Mella. Ray makin mempercepat langkahnya.
            “ada apa La?” tanya Ray langsung.
            “anu...ituu...tadi gue nggak sengaja numpahin pisang karamel lo yang masih panas ke kakak itu,” jawab Mella sambil menunjuk takut-takut ke arah orang yang di tabraknya.
            “MAKANYA KALO JALAN TU PAKE MATA!!” Ulangnya sekali lagi sambil mendorong kepala Mella.
            “maaf kak, aku nggak sengaja. Lagian kakak tadi balik badan mendadak, jadi kena deh,” Mella coba membenarkan diri.
            “JADI LO NYALAHIN GUE?”
            “kalo iya kenapa? Lo kira temen gue takut apa sama lo? Mentang-mentang lo ketua geng gitu! Dasar gengster” kini Ray yang angkat bicara.
            “elo udah tahu dia yang salah malah ngebelain lagi!”
            “Mella kan udah minta maaf!!”
            “udahlah Ray, nggak usah di ambil ribut,” lerai Mella.
            “nggak bisa gitu aja La, biar nih anak songong gue yang ngurus. Lo minggir aja!” Ray menyingkirkan tangan Mella pelan.
            “jadi elo yang namanya Ray?” tanya Grasia, orang yang dikatakan Ray ketua geng.
            Alexia Grasia, orang yang merasa dirinya paling cantik seantero SMA Dhimika 2. Saking ditakutinya, ia bahkan mendirikan geng yang berisi orang sok cantik. Geng Ganiza.
            “IYA EMANG KENAPA?” tantang Ray.
            “JADI ADIK KELAS JANGAN BLAGU DEH LO!!”
            “emang kenapa? Masalah buat lo? Masalah buat geng lo?”
Grasia tak tahan lagi mendengan ucapan Ray. Ia melayangkan satu tamparan ke pipi Ray. Hampir saja satu tamparan mendarat di pipi Ray, namun tangan Grasia ditahan oleh tangan seseorang.
            Ray yang mengira ia akan mendapat bogem mentah dari Grasia binggung karena ada tangan yang menghentikannya. Ray ingin sekali Grasia manamparnya karena itu merupakan salah satu alasan ia dapat memberi perhitungan dengan Grasia. Grasia mendongak, memandang siapa yang berani-beraninya menahan tangan mulus yang akan digunakanya untuk memberi pelajaran juniornya.
            “lepasin tangan gue Ram!!” Kata Grasia. Ternyata orang yang menahan tangan Grasia adalah Rama.
            “apa-apaan sih lo Gras?” Tanya Rama penasaran, “lo mau sok berkuasa disini?”
            “harusnya lo tanya sama cewek blagu ini, dia apa-apaan, nabrak orang bukanya minta maaf, malah nyolot!” ungkap Grasia berapi-api.
            “jaga ya mulut lo! Mella udah minta maaf tapi lo yang nyolot!” Ray pun juga berapi-api, “ayo tampar kalo berani! Sini! GUE NGGAK TAKUT SAMA LO!!”
            “lo kira gue takut sama junior model lo?! Minggir lo Ram!! Gue mau kasih perhitungan sama DIA,” katanya sambil mengacungkan jari ke arah muka Ray. Grasia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Ray, sementara tangan lainnya maju untuk mencakar Ray.
            “LO BERDUA APA-APAAN SIIH?!!” Rama kehilangan kesabaran, tanpa sengaja tangannya mendorong Grasia agar pergi menjauh dari Ray. Karena Grasia tak seimbang, tubuhnya terjatuh terduduk.
            “Ram...lo...” Grasia berdiri perlahan dibantu kedua jongosnya yang sedari tadi diam. “LO JAHAT RAM!!” Teriak Grasia sambil berlari menjauh. Sedangkan ketiga jongosnya hanya berlari kecil mengikuti Grasia.
            Ray yang merasa saat ini Rama tidak harus ikut campur merasa engah dengan tingkah Rama yang sok pahlawan. Ia mendorong tubuh Rama ke belakang sehingga Rama mundur satu langkah dari tempatnya.
            “apa-apaan sih lo? Ikut campur urusan perempuan! Ini bukan urusan lo!” Ray masih berapi-api.
            “mending lo pergi sekarang Ra!!” perintah Rama pelan. Ia tak tahu berada di saat yang tepat atau tidak.
            “gue ingetin sekali lagi sama lo! Jangan sekali-sekali lo ikut campur urusan gue! Atau...” Ray sengaja menggantungkan kalimatnya.
            “atau apa?!”
            “atau lo tanggung sendiri akibatnya!” kata Ray. Ia segera pergi meninggalkan Rama dan puluhan mata yang memandangnya sejak tadi. Namun baru beberapa langkah ia melangkah, Ray menghentikan langkahnya. Ray berbalik dan mendekati Rama. Ditatapnya dengan tajam mata Rama. “dan perlu lo inget satu hal...NAMA GEU RAY!! BUKAN ARA!!” Setelah itu ia pergi meninggalkan kantin dan menuju kelasnya karena jam masuk telah lama berbunyi.
            “ngapain lo semua pada ngeliatin?” tanya Rama, “lo pikir ini tontonan ha!! Cepet masuk!! Ini udah bel!”
∂∂       
“satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan,” hitung Ray. Saat ini ia tengah memimpin pemanasan pada latihan hari ini.
            “Ray, denger-denger mau ada anggota baru di MBC ya?” tanya Evan.
            “apa iya? Gue malah nggak tau tuh,”jawabnya.
            “iyaa. Katanya dia ganti club gitu, dulu dari club mana gitu lupa gue,”
            “yah, elo. Kalo mau cerita yang lengkap kenapa? Cuma hoax kali. Udah yuk mulai. Udah setengah lima nih, ”Ray dan Evan memulai latihan sore ini. Mulai dari dribling kanan kiri, ley up kanan kiri, hingga shooting. Tim basket MBC memang terkenal dengan shootnya yang sangat tepat akurat, mulai dari medium shoot sampai trepoint shoot. Dan yang menjadi andalan shooter MBC adalah Ray dan Evan. Selain shooter, Ray juga ahli menguasai bola atau sering di sebut playmaker istilah kerennya pointguard.
            “RAY!!” panggil Mella. Mella juga merupakan anggota MBC, namun ia bukanlah pemain basket maupun murid didik MBC. Mella adalah manager MBC dan official MBC. Walaupun tidak bisa bermain basket, Mella mengetahui betul tentang basket. Koneksinya di dunia luar membuat ia berani terjun sebagai manager.
“eh bu manager udah dateng,” canda Ray. Mella berlari kecil ke arah Ray. “ada berita apa ini kok ibu rela terjun ke lapangan?” tanyanya disertai tawa kecil.
            “emang muka gue kayak ibu-ibu apa!”balas Mella sambil memukul bahu Ray, “besok mau ada anggota baru di sini, tapi dia bukan junior yang baru mau belajar tapi dia udah senior,”jelas Mella.
            “usia berapa dia? Cewek ato cowok?” tanya Ray penasaran.
            “delapan belas, cowok. Datanya udah masuk semua ke gue, tapi dia belum ngisi angket perpindahan, angket pemain tetap, dan dia juga belum tanda tangan perjanjian diatas materai,” terang Mella.
            “terus?”
            “ya menurut lo tuh anak diterima di MBC atau enggak?”
            “kalo keputusan pengurus MBC diterima ya udah diterima aja,” jawab Ray bijaksana.
            “kalo semua udah setuju sih Evan juga, tinggal kapten cewek aja setuju enggak?”
            “setuju aja gue, asal mainnya nggak malu-maluin MBC aja,”
            “kalo itu gue jamin bakalan lebih ngangkat nama MBC. Prestasinya hampir MVP semua,” terang Mella, “nanti lo mampir rumah gue ambil angketnya, oke?”
            “oke ibu manager,” Ray kembali melanjutkan latihannya.


Dua

 “pagi anak-anak” sapa Bu Rika.
            “paaagiiiiiii buuuuuu,” jawab murid-murid.
            “hari ini ibu akan membagikan angket kegiatan ekstrakulikuler yang harus kalian ikuti minimal dua macam. Bagi kalian yang mau mengikuti OSIS, kegiatan ekstra cukup satu macam saja.” Bu Rika menerangkan dengan jelas, kemudian ia membagikan angket satu per satu kepada murid X.2. “angket di kumpulkan nanti sepulang sekolah di meja saya. Ketua kelasnya siapa?” tanya Bu Rika.
            “Mella bu!” Ray menjawab asal.
            “Mella nanti tolong kamu taruh di meja saya,”
            “ba baik bu,” jawabnya pasrah. Sementara pelakunya hanya cekikikan.
            “sialan lo!” umpat Mella, “lo mau ikut ekskul apa Ray?” tanya Mella sambil menaik turunkan alisnya. Tanpa tanya pun sebenarnya Mella sudah tahu, tetapi ia ingin menggoda Ray.
            “gue mau ikut seni tari sama dance. Kalo lo?” jawab Ray serius.
            “hah? Seriusan lo?”
            “nggak lah!! Ngaco lo! Jelas basketlah satunya apaan ya?” Ray memandang sederet kolom-kolom pilihan ekstrakulikuler.
            “gue juga bingung nih Ray, kemenejeran sama apaan ya? Sama aja yuk Ray.”
            “DTHA itu apaan sih?” tanya Ray bingung. Dari sekian banyak ekstrakulikuler, hanya satu yang disingkat.
            “Dhimika Two Hiking Association  kayaknya, itu apaan sih Ray?” kini Mella yang balik bertanya.
            “itu bukannya ekskul mendaki gunung ya? Kalo dari artinya sih semacam perkumpulan pendaki gitu,”terang Ray. Pengetahuannya yang luas dan bahasa inggrisnya memang tidak diragukan lagi, “naah! Ikut ini aja,” kata Mella dan Ray bebarengan. Setelah itu keduanya tertawa bersama. Tak lama setelah itu pelajaran kembali berlanjut seperti biasanya. Namun saat ini merupakan mata pelajaran bahasa inggris, mata pelajaran paling disenangi Ray. Ray sangat pandai berbahasa inggris, tidak hanya menguasai kosakata yang bejibun, ia juga fase dalam berbicara.
            “now I will to talk about my life,” terang Ms.Viola “and next you will talk about your life in front of the class. Oke, my name is ms Viola Veronica but my nick name is Viola...” dan lainnya. Setelah ms. Viola selesai menceritakan tentang kehidupannya, giliran murid-murid X.2 yang menceritakan tentang kehidupannya. Dipanggil satu per satu siswa sesuai nomor presensi yang sudah di atur oleh sekolah. Dan seperti di SD dan juga SMP-nya, Ray  mendapat nomor urut 7 sedangkan Mella 19.
            Saat ini tengah bercerita nomor absen 3, durasi tujuh menit membuat hampir semua siswa kecuali Ray keringat dingin. Ditengah-tengah bercerita bel tanda ada pengumuman berbunyi melalui speakers yang menempel didinding tiap ruangan.
“...pengumuman di tunjukan kepada seluruh siswa SMA Dhimika Dua. Bagi siswa dan siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler cabang olahraga apapun, latihan rutin dilaksanakan setiap hari Rabu dan Jumat pada pukul empat lima belas, sedangkan kegiatan yang lain dilaksanakan setiap hari Sabtu sepulang sekolah. Khusus untuk rabu minggu ini pukul tiga tiga puluh akan diadakan perkenalan anggota baru untuk ekstrakulikuler cabang olahraga apapun. Bagi siswa kelas sepuluh diwajibkan hadir memakai seragam sesuai dengan cabang olahraganya. Demikian pengumuman ini saya sampaikan. Dimohon hadir tepat waktu...”
Sekitar itulah pengumuman dari pihak OSIS. Tak lama kemudian bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar berbunyi. Semua siswa merapikan buku dan alat-alat tulis dan bergegas pulang. Sebagian siswa segera pulang meninggalkan sekolah dan sebagian di antaranya berkumpul di tempat parkir dekat gerbang sekolah, terutama siswa pria.
            “Ray gue pulang dulu yaa,” pamit Mella pada Ray.  
            “oke, ati-ati La,” pesannya.
∂∂
Ray mengendap-endap dan bersembunyi agar ia tidak ketahuan mengikuti rapat kecil yang sering disebut forum ini, yang bagi kaum adam terlarang untuk Ray. Saat pulang sekolah, pentolan-pentolan SMA Dhimika 2 selalu berkumpul di dekat pos satpam.
            Hari ini, menurut berita yang Ray dengar, pentolan-pentolan SMA Dhimika 2 akan membahas bagaimana mereka membalas kekacauan yang dibuat SMA Stela Mulia. Mengetahui berita itu benar adanya, Ray diam-diam mendengarkan strategi mereka.
            “oh, jadi dia leader sekolah ini. Pantes aja songong,” batin Ray. Ray mendengarkan di balik ninja biru milik Rama. Ray mengetahui betul pemilik motor itu, tatapi ia tetap bersembunyi karena tempat itu dirasanya paling aman. Ray tertawa mendengar kata-kata Rama yang menurutnya sok bijaksana. Saking asiknya tertawa, Ray tidak mengetahui bahwa sang pemilik motor sudah datang dan memandang Ray sejak tadi.
            “ngapain lo di situ? Lo mau kempesin ban motor gue ya?!” tanya Rama curiga melihat gerak-gerik Ray.
            “yee, pede amat lo. Siapa juga yang mau ngempesin ban motor lo,” jelas Ray masih tertawa geli, “gue tadi ikut forum lo.”
            “udah gue bilang ke elo kan, ini urusan cowok, cewek nggak usah ikutan,” tegas Rama.
            Ray berhenti tertawa, “gue boleh ikut lo nggak?” tanya Ray hati-hati.
            “ikut gue kemana? Ke rumah gue? Boleh, ayook,” jawab Rama enteng
            “bukan gitu maksud gue kuya!!” Ray menonjok lengan Rama pelan.
            “nah terus lo mau ikut gue kemana?” tanyanya.
            “ikutan lo sama temen-temen lo bentrok sama Stela Mulia. Ini juga sekolah gue Ram. Gue juga nggak terima kalo sekolah gue di usik,” terang Ray.
            “Ra, elo tu cewek. Nggak mungkin gue tawur bawa-bawa cewek,” Rama mencoba menolak Ray secara halus.
Rama kini mengerti, Ray juga bisa diajak bicara baik-baik. Selama ini Rama salah, dibalik sifat Ray yang keras ia juga mempunyai sikap solidaritas yang tinggi.
            “tadi kata lo, gue nggak pantes jadi cewek. Ya udah lo anggep gue cowok aja, gampang kan,” dengan pede Ray menyangkal.
            “ini nyangkut hidup dan mati lo, lo nggak bisa main-main,”
            “siapa bilang gue main-main. Dulu esempe gue juga sering ikutan, tapi masih hidup sampai sekarang tu,”
            “terserah lo deh Ra, minggir gue mau pulang,” Rama mendorong tubuh Ray pelan. Rama mengambil helmnya dan segera mengenakannya. Saat helmnya akan masuk kepala, tangannya ditahan Ray. Rama tidak jadi menggunakan helm dan memandang tangan Ray yang menggenggam tangannya.
            “ups, sori. Lo tadi panggil gue apa?” Ray melepaskan tangannya.
            “Ara. Nama lo kan Ray Asmara, jadi nggak salah kan gue panggil lo Ara,
            “nama gue Ray, bukan Ara!”
            “suka-suka gue,” jawab Rama sambil meninggalka Ray yang terbengong-bengong.
            “tanpa ijin dari lo, gue bakal tetep ikut tawur. Lo liat aja entar,”batin Ray.



















tiga

            Tak seperti biasanya Ray sibuk membongkar isi lemari kakaknya, kelihatnnya ia sedang mencari sesuatu dalam lemari itu. Ia menemukan kotak biru tua yang sudah berdebu. Dipandanginya kotak tersebut, ditiupnya debu yang menyelimutunya. Kotak itu dibuka perlahan oleh Ray agar tidak ada yang sobek. Kotak yang mungkin sudah dua tahun ini tidak ia pegang. Kotak yang selalu membuatnya merasa bersalah. Diambilnya figura foto teratas, fotonya, Ian-kakanya dan juga Dimas-sahabat Ian mengenakan seragam Harapan Bangsa yang penuh dengan coretan pilox dan sepidol.
            Ditutupnya kembali kotak itu, kotak yang makin membuat rasa bersalahnya makin menyesakkan hati dan dendamnya yang terus membayangi pikirannya. Dimasukan kembali ke dalam lemari pakaian dan ditata rapi. Ray mengambil sesuatu dari dalam almari dan disembunyikannya di dalam baju.
            “Raaaaaaaay!!”panggil Mamanya.
            “iyaa Ma,”jawab Ray. Ia kemudian menghapus air mata dipipinya dan bergegas keluar.
            “ngapain kamu dari kamar Kak Ian?”tanya Mamanya penasaran.
            “nyari baju Kak Ian yang muat buat Ray,”jawab Ray berbohong.
            “ya udah. Makan dulu gih, Mama masak makanan kesukaan kamu,”
            “iya. Tapi Ray ke kamar dulu,”Ray bergegas masuk kamar. Memasukan sesuatu yang diambilnya tadi ke dalam tas sekolahnya. Dan segera menuju meja makan.
∂∂

            Jam pejalaran hanya kurang tiga puluh menit. Namun karena saat ini sedang berlangsung pelajaran hitung menghitung alias matematika, jam pelajaran yang hanya kurang tiga puluh menit terasa satu hari. Sejak tadi Ray melirik jam di dinding. Ray sangat tidak suka matematika, namun sebaliknya Mella sangat menyukai matematika.
            “Mel, nanti sepulang sekolah lo kemana?”tanya Ray membuka pembicaraan diantara mereka. Sejak Pak Kamflet masuk, Mella sudah bungkam. Tak ada yang ia lakukan selain menyimak apa yang diajarkan Pak Kamflet. Ray merasa bosan dengan tingkah Mella yang terus-terusan diam.
            “nggak kemana-mana,”jawabnya singkat.
            “ntar gue mau main, tapi agak sorean. Gimana lo ada di rumah nggak?”
            “di rumaaaah Ray. Gue perginya malem, ada rapat antar pengurus MBC,”jawab Mella gemas.
“lo kapan seleksi jadi manager basket sekola?”tanya Ray lagi.
“besok pulang sekolah katanya. Eh lo tau nggak?”
Yees, batin Ray. Akhirnya Mella terpancing.
            “apaan emangnya?”tanya Ray penasaran.
            “Grasia itu manager tim basketnya, kata anak-anak sih yang ikut seleksi Cuma tiga orang,”
            “siapa aja?”
            “gue, Grasia, sama anak kelas sebelas. Gila nggak tuh,”
            “siapa yang gila Mellanie Putri dan Dheca Mahesa?”tanya Pak Kamflet. Rupanya nada suara Ray dan Mella mengeras dari yang sebelumnya sehingga Pak Kamflet mendengar pembicaraan mereka.
            “Mella pak yang gila,”jawab Ray spontan. Mendengar namanya dituduh, Mella menginjak kaki Ray.
            “sekarang kalian maju ke depan dan kerjakan soal di papan tulis!”perintah pak Kamflet.
            Mella yang ahli dalam hitung menghitung langsung maju kedepan dan mengambil spidol, sementara Ray masih duduk manis di bangkunya. “Dheca Mahesa! Kamu mau mengerjakan soal atau keluar?!”tanya Pak Kamflet.
            “keluar Pak,”jawabnya santai. Ray kemudian berdiri mengemasi barangnya dan bergegas keluar. Tak lupa ia menyalami tangan Pak Kamflet.
            “DHECA MAHESA RAY ASMARA!!!”Pak Kamflet teriak-teriak memanggil nama Ray, sementara Ray berlari meninggalkan koridor kelas.
            Ray bergegas menuju kantin kelas dua belas, karena jika dia berada di sekitar kelas ia akan mendapatkan poin dari tiap guru yang melihat. Bayangkan saja, jika guru kelas sepuluh ada lebih dari duapuluh orang sedangkan setiap guru Ray bisa mendapat tiga poin berapa poin yang akan Ray dapatkan?
∂∂

            Di tempat lain Rama dan pasukannya mempersiapkan diri untuk melawan SMA Stela Mulia. Rama dan lainnya sudah keluar sejak jam ke tujuh tadi, seperti biasanya mereka membolos jam terahkir dengan alasan yang berbeda-beda tiap orang. Mulai dari sakit, mau kondangan, sampai pengetan seratus hari kakek maupun nenek mereka. Namun diam-diam ada seseorang yang memata-matai Rama dan teman-temannya.
            Lima belas menit berlalu, akhirnya bel yang ditunggu-tunggu pun berbunyi nyaring. Tak lama kemudian Rama dan teman-temannya mengambil motor dan melaju motor masing-masing dengan kencang. Di jalan mereka terlihat seperti sedang melakukan parade. Di bagian depan ada Rama dan Andre sebagai leader pasukan SMA Dhimika 2 sedangkan di deret paling belakang ada satu orang siswa SMA Dhimika 2 yang tidak tahu siapa. Ia mengenakan helm hitam dengan cadar yang menutupi hidung dan mulutnya dan motor Honda CBR hitam.
            Tibalah pasukan SMA Dhimika 2 di utara SMA Stela Mulia. Rama bersiap-siap, ia menyetel gas. Tak lama kemudian mereka melewati gerbang SMA Stela Mulia. Saat mereka melewati gerbang, Rama dan teman-temannya membunyikan klakson bersahut-sahutan seperti layaknya pawai coblosan dan menarik gas secara bergantian.
            Tak lama setelah mereka membunyikan klakson, pasukan SMA Stela Mulia keluar. Jumlahnya tidak berbeda dengan pasukan SMA Dhimika 2. Rama dan lainnya bergegas meninggalkan SMA Stela Mulia. Sempat terjadi kejar-kejaran antara SMA Dhimika 2 dan SMA Stela Mulia. Tapi akhirnya mereka berhenti di sebuah lapangan sepak bola yang sudah tidak rerurus lagi. Rama dan teman-temannya berdiri  di utara lapangan sedangkan anak-anak SMA Stela Mulia berada di sisi lainnya.
            Rama melepaskan helm fullfacenya dan berjalan mendekati Adit-leader SMA Stela Mulia-yang juga berjalan ke arah Rama. Adit dan Rama bertatap muka. Mereka terlihat adu mulut ringan.
BRAAAK...
            Rama terjatuh karena dipukul secara mendadak oleh adit. Saat akan membalas, tubuh Rama malah jatuh tersungkur karena ditendang oleh Adit. Tak seorang pun menolong Rama karena sebelumnya Rama sudah memberi perintah jangan ada yang melawan sebelum ia perintahkan.
            Rama hampir tak berdaya. Saat akan meninju wajah Rama yang sudah lebam, tangan Adit ditahan seseorang yang sedari tadi berada dalam pasukan SMA Dhimika 2. Ia mendorong tubuh Adit hingga terjatuh dan membalas segala yang dilakukannya kepada Rama. Orang itu kemudian memberi aba-aba pada pasukan SMA Dhimika 2 agar segera menyerbu. Dan seketika lapangan itu menjadi arena tawuran. Orang itu membuat Adit tak sadarkan diri, sementara saat itu keadaan kurang tepat bagi Rama, orang yang tadi menghajar Adit membantu Rama berdiri dan membawanya menjauh.
            “lo nggak papa kan?”tanyanya pada Rama. Suaranya tidak terdengar jelas karena ia mengenakan cadar.
            “nggak papa,”Rama mencoba untuk berdiri. Namun ia ditahan oleh seseorang yang tadi menolongnya.
            “lo di sini aja, biar gue yang urus,”katanya kemudian meninggalkan Rama.
            Orang itu mencari tongkat kayu dan segera mendatangi Adit yang mulai pulih. Diayunkannya tongkat kayu yang tadi ia bawa, kemudian menarik kerah baju Adit. Ditatapnya mata Adit secara tajam dan penuh dendam. Dikepalkannya jari-jari tangannya kuat-kuat kemudian ia ayunkan ke pipi kanan dan kiri Adit. Sebenarnya ia ingin langsung menghabisi Adit seketika itu juga. Namun niatnya ia urungkan agar ia dapat membuat Adit lebih menderita dari apa yang ia lakukan padanya saat ini. Kemudian ia lepaskan cengkraman tangan di kerah baju Adit dan meninggalkan Adit yang terkapar di lapangan.
            Cukup lama Adit tersungkur hingga pasukan SMA Dhimika 2 mengetahui leader SMA Stela Mulia telah kalah dan tersungkur lemas di hadapan mereka. Mereka baru menyadari SMA Stela Mulia telah kalah dan Adit nyaris tewas. Pasukan SMA Stela Mulia mundur dan membantu Adit berdiri.
            “TUNGGUU!!”teriak Rama saat SMA Stela Mulia akan pergi, “lo harus ngakuin kalo lo dan pasukan lo KALAH dan nyerahin almamater lo ke gue!”Rama sengaja menekankan kata KALAH.
            Adit berjalan mendekati Rama dengan jalan yang sempoyongan dibantu kedua teman di kana kirinya. Ia melepaskan almamaternya dan berkata “gue mewakili esema Stela Mulia mengaku kalah melawan Dhimika Dua dan gue nyerahin almamater sekolah gue sebagai bukti kalahnya sekolah gue”secara keras dan lantang dihadapan pasukan SMA Dhimika 2 dan tanpa sepengetahuannya direkam oleh orang yang telah menolong Rama.
            Setelah mengatakan itu pasukan SMA Dhimika 2 segera meninggalkan lapangan dan bergegas kembali ke sekolah.
∂∂

            Di SMA Dhimika 2, semua berkumpul merayakan kemenangan mereka. Tidak biasanya pertarungan antar SMA dapat berlangsung hingga akhir. Biasanya selalu ada polisi yang mendatangi dan menangkap mereka.
            “lo nggak papa Ram?”tanya Andre langsung begitu Rama melepaskan helmnya.
            “nggak papa gigi lo! Gimana sih tadi, kenapa lo nggak langsung maju trus pimpin pasukan, pake nunggu gue lagi!! Keburu mampus gue kalo lo nunggu aba-aba gue kuya!!”Rama membabi buta. Ia kesal teman seperjuangannya begonya minta ampun.
            “hahahaha”Andre hanya tertawa, “tapi temen lo tadi keren brada. Anak mana tu orang?”
            “temen gue yang mana?”tanya Rama bingung.
            “temen lo yang nolongin lo tadi, yang pake CBR item trus pake cadar item juga,”terang Andre.
            “itu bukannya anak Dhimika juga ya? Gue nggak bawa orang luar,”jawab Rama tak yakin.
            “oh mungkin anak kelas satu,”
            Setelah itu mereka melupakan kejadian sore tadi dan pulang ke rumah masing-masing. Namun sepanjang perjalan Rama masih bingung siapa gerangan orang yang telah menolongnya.
∂∂
            Malam hari di kamar Ray...
            “tuuut tuuut, La lo bisa ke rumah gue enggak? Gue habis jatuh nih...apa?...di deket indomeret deket rumah gue...oke gue tunggu...tuuut tuuut,”telpon ditutup dari sebrang.
            Tak lebih dari lima belas menit Mella sudah masuk kamar Ray membawa kentung plastik yang berlogo apotik.
            “emang lo kira gue perawat apa?!”omel Mella.
            “yee, elo kan menejer gue,”
            “menejer sih menejer, tapi bukan lo aja yang harus gue perhatiin, tapi semua kuya!!”omel Mella sambil mengobati luka lebam di muka dan lengan kanan Ray.
            “aauu, be quite oke,”rengek Ray pada Mella.
            “tahan kenapa! Betewe nyokap lo kemana? Kok gue sekarang jarang liat,”
            “aaauu aaau sakit! Belum pulang aaau lo tau kan gue Cuma aaau berdua,”jawab Ray sambil menahan sakit.







EMPAT
             
              Di kantin XII
              “thanks Val, kemaren lo udah tolong gue,”ucap Rama pada Valhen.
              “kapan?”tanya Valhen bingung.
              “sok lupa lo. Kemaren waktu di lapangan,”
              “tapi bukan gue yang nolong elo,”elak Valhen.
              “terus siapa?”Rama terlihat berfikir “gue tau!”Rama baru menyadari satu hal. Mungkin saja Ray yang menolongnya saat tawuran kemarin. “tunggu gue bentar,”Rama meninggalkan kantin dua belas dan menuju kantin sepuluh. Ia mencari sosok yang mungkin telah menolongnya.
              Rama celingukan mencari Ray. Setelah menemukan Ray, Rama langsung menggenggam erat lengannya dan menariknya paksa untuk ikut dengannya.
              “lepasin Ram!! Lo apa-apaan sih? Sakit tau!!”Ray mencoba melepaskan cengkraman erat tangan Rama. Namun sia-sia, tangan Rama terlalu kuat. Kini Ray hanya bisa pasrah. Rupanya Rama membawa Ray ke katin kelas dua belas.
              “lo pada liat nih cewek nggak waktu kita tawur kemarin?”tanya Rama.
              “lepasin Ram! Sakit tau!!”Ray masih terus mencoba melepaskan cengkraman Rama.
              “gue nggak liat, lagian nggak mungkin Ray, Ram. Orang dia pake celana,”jelas Andre.
              “apa-apaan sih lo Ram!! Lepasin nggak!! Gue nggak ikut tawuran!!”Rama ahkirnya melepaskan cengkraman tangannya di lengan Ray.
              Begitu tangan Ray dilepaskan, ia segera pergi meninggalkan Rama dan teman-temannya. Rama hanya terdiam melihat apa yang telah ia lakukan pada Ray, tak seharusnya Rama menuduh Ray yang tidak-tidak.
              “kenapa sih tu cowok, bawaannya curiga mulu sama gue! Aduh sakit, mana tangannya kuat banget lagi,”omel Ray sepanjang perjalanan menuju kelas.
∂∂

Tiiiiiiiiin
              Suara klakson mobil dibunyikan panjang di depan rumah Ray. Mendengar suara mobil yang sudah tak asing lagi, Ray segera turu dari kamar. Kemudian Ray menulis satu pesan singkat untuk Mamanya

Ma, Ray berangkat bskt dulu. Ray mkn d luar.
Ry.

              Setelah menjepitkan kertas di pintu kulkas, Ray segera keluar dan menghampiri Rio hijau milik Mella. Ray segera membuka pintu dan duduk manis di sebelah Mella.
              “lama amat sih lo! Mobil gue sampe lumutan nih!”begitu Ray duduk Mella langsung marah-marah.
              “sory sory, tadi nulis pesan dulu buat nyokap. Emang dari dulu kali mobil lo kayak lumut,”
              “brisik lo! Tinggal nebeng juga,”Mella melaju mobilnya perlahan. Namun setelah keluar jalan raya, ia sama saja dengan Ray, ugal-ugalan. Hari ini Mella mengantarkan Ray ke sekolah untuk melaksanakan perkenalan antar anggota baru di tim basket SMA Dhimika 2.
              SMA Dhimika 2 mempunyai gedung olahraga sendiri di lantai tiga yang berukuran cukup besar lengkap dengan bangku penontonnya. Rio Mella parkir dengan rapi di halaman SMA Dhimika 2. Ray dan Mella berjalan menuju gedung olahraga sambil bercerita.
              Mereka berdua ahkirnya sampai di pintu masuk GOR. Ray dan Mella memandang takjub. SMA Dhimika 2 memang memberi fasilitas terbaik bagi siapa saja yang ingin berprestasi. Saat Ray hendak membuka pintu, seseorang dari tempat sebaliknya mendorong pintu dengan keras hingga mengenai wajah Ray.
              Buuuuuuk
              “AAUUU!”teriak Ray. Karena pintu GOR cukup besar, tubuhnya terhuyung hingga terjatuh ke lantai.
              “lo nggak papa Ray?”tanya Mella sambil membantu Ray berdiri.
              “sialan!! Siapa sih yang buka pintu ngawur, kena muka gue ini!!”Ray marah-marah.
              “sory sory gue nggak seng...”kata seseorang yang membuka pintu, “ELO!!!”kata Ray dan Rama bebarengan. Ternyata orang yang membuka pintu tadi ialah Rama.
              “NGAPAIN LO DISINI!!”tanya Ray dan Rama bersamaan.
              “gue mau ikut ekskul renang!”jawab Ray.
              “lo nggak salah alamat kan?”
              “lo kira gue Ayu tingting apa, pake salah alamat! Ya gue mau ikut ekskul basketlah!”kata Ray dengan nada tinggi.
              “emang lo bisa?”tanya Rama meremehkan.
              “lo liat aja sendiri. Jangan bilang lo juga ikut ekskul ini?”
              “kalo kenyataannya emang ikut gimana?”
              “ya Tuhaaaan!! Kena kutuk apa hambamu ini. Mengapa hamba selalu bertemu dengan cowok blagu itu sih,”Ray mengguman tak jelas, sementara Mella yang mendengarkan hanya tertawa.
              Semua anggota ekstrakulikuler basket yang baru dipersilahkan memperkenalkan diri mulai dari nama, kelas hingga alasan mereka mengikuti ekstrakulikuler basket. Sementara untuk anak kelas sebelas dan dua belas cukup memberitahukan nama dan jabatan mereka di tim.
∂∂

              Setelah perkenalan selesai, dilanjutkan seleksi tim inti untuk mewakili SMA Dhimika 2 dalam setiap pertandingan. Dibuat undian agar mempermudah penilaian. Ray yang memang sudah jago melakukan semua yang ia bisa. Hampir semua yang melihat permainan Ray terpukau, bahkan Rama sebagai salah satu tim penyeleksipun juga terpukau melihat cara Ray memainkan bola.
              Untuk ukuran perempuan, cara Ray memaikan bola nyaris sempurna. Bahkan beberapa gerakan Rama tidak menguasai betul namun Ray seperti menari indah menggunakan bola.
              “kami telah menilai kemampuan kalian dalam menguasai bola. Setelah istirahat kita mulai game. Istirahat dua puluh menit,”kata Rama bijaksana. Ia terlihat kekar menggunakan kaos tim bertuliskan DHIMIKA TWO didadanya dan nomor jersey 7 dipunggungnya seperi nomor jersey Ray.
              Rama menghampiri Ray yang tengah asyik meneguk air mineral. Ia menyingkirkan tas yang berada di samping Ray dan duduk di sebelahnya. Ia memandang wajah Ray yang memerah entah karena berkeringat atau malu. Rama melihat lengan Ray sedikit lebam.
              “tangan lo kenapa?”tanya Rama penasaran, “udah gue duga, lo pasti ikut tawuran kan?”tebaknnya.
              “apaan sih lo! Ini gara-gara cengkraman lo kemaren! Udah gue bilang gue nggak ikut ya nggak ikut!”sangkal Ray.
              Rama melihat lebih dekat tangan Ray.“oh sory. Coba gue liat,”kata Rama sambil menarik lengan Ray yang lebam.
              “auu! Sakit!”rintih Ray.
              “maafin gue Ra,”kata Rama sungguh-sungguh.
              “maaf buat apa?”jawab Ray malu-malu. Mukanya yang memerah akibat berkeringat kini semakin memerah karena malu.
              “maaf karena gue udah nuduh lo ikut tawuran. Gue percaya kok kalo lo nggak ikutan,”
              Senyum mengembang di wajah Ray, “oke nggak masalah kok. Gue juga mau minta maaf soal ulah gue waktu OSPEK itu,”
              “oke. Jadi kita temenan nih sekarang?”Rama mengulurkan tangannya dan menyisakan jari kelingkingnya, sementara jari lainnya ia kepalkan.
              “oke, temen”Ray membalas jari kelingking Rama. Rama tersenyum penuh arti.
∂∂

              Hari ini MBC terlihat ramai tak seperti biasanya, padahal hari ini adalah hari Rabu hari yang biasanya sepi pemain. Biasanya hanya segelintir orang yang datang, mungkin hanya sepuluh orang cewek dan cowok. Evan yang datang belakangan langsung menghampiri Ray yang tengah melakukan treepoint shoot.
              “mau ada uji coba apa Ray? Kok tumben banyak yang dateng,”kata Evan sambil merebut bola di tangan Ray.
              “kurang tau gue. Katanya sih anggota baru itu datangnya hari ini, jadi ya mau dilihat kemampuannya,”kata Ray sambil menembakkan bola ke arah ring.
              “ooo gitu. Nama MBC bisa makin tinggi nih kalo ada anggota yang punya label MVP,”
              “bukanya nama MBC udah dari dulu ada di atas yaa. Nggak ada dia pun MBC udah punya label MVP,”kata Ray sombong.
              Saat asik tengah bermain bola dengan Evan, seseorang membuka pintu masuk. Ia menggenakan jersey biru tua bernomor tujuh dan celana senada. Ray menghentikan permainannya dan melihat siapa yang datang. Ray merasa mengetahui orang yang baru masuk itu.
              “RAA!!”panggil orang itu.
              “wooi Ram!”jawab Ray, ternyata anggota baru MBC adalah Rama. “anggota barunya itu elo yaa?”
              “iyaa, boleh gabungkan gue?”
              “boleh, asal lo bukan mata-mata dari SBC aja!”jawab Evan ketus. Ternyata Rama adalah mantan anggota SBC atau Satria Basketball Club. Club besket yang selama ini menjadi musuh terbesar MBC.
              “santai bro, data gue udah masuk,”jawab Rama santai.
              “satu lagi asal lo nggak rese sama gue,”kata Ray enteng.
            Kini Ray dan Rama sudah bedamai, tak ada lagi permusuhan diantara mereka berdua. Meskipun Ray open dengan Rama sebagai anggota baru MBC namun sebaliknya, Evan justru menaruh curiga pada Rama. Pasalnya Rama merupakan musuhnya di dalam lapangan. Sudah sejak dulu ia selalu bertemu Rama dalam pertandingan.
∂∂

              “jadi lo juga udah lama pake nomer tujuh?”tanya Rama pada Ray. Saat ini mereka sedang istirahat latihan. Ini adalah hari pertama Ray berlatih sebagai tim inti SMA Dhimika 2.
              “iya, dari gue punya baju pertama kali,”jawabnya sambil mengelap keringat di wajahnya.
              “gue juga. Semenjak gue kenal basket gue pake nomer tujuh. Lo udah berapa lama ngebela MBC?”
              “lima tahun ada kali,”
              “woow, lama juga ya. Lo kenal basket dari siapa?”
              “dari kakak gue, dulu dia juga pembasket hebat. Namanya dikenal semua orang. Nggak Cuma kalangan atlit aja, orang awam yang nggak kenal basket juga pasti ngenalin dia,”jawab Ray sambil tersenyum nakal.
              “oya?! Kakak lo femes banget dong. Emang siapa?”tanya Rama bersemangat.
              “kobe bryant. Tau nggak lo?”senyum mengembang di wajah Ray.
              Rama hanya melongo, ia merasa ditipu. “sialan lo! Gue pikir beneran,”mereka pun meneruskan latihan mereka.
              Rama, Ray dan anggota tim basket lainnya sedang melakukan uji coba. Tim basket laki-laki Dhimika 2 melawan tim basket perempuan Dhimika 2. Saat ini hampir memasuki babak ke dua dan tim Ray kalah telak dengan tim Rama. Poinnya 60-14, Ray membawa bola didepannya ada Rama yang siap dengan posisi defance. Ray menatap tajam mata Rama, seperti kebiasaanya selama ini. Ray selalu menatap tajam lawan yang mengalangi jalannya untuk memasukan bola ke ring. Cara itu dilakukan Ray sebagai gertakan agar lawan mundur.
              Tatapan Ray dan Rama kini beradu, namun tatapan mata Ray bukanlah tatapan matanya saat ia menghadapi lawan tetapi tatapan yang teduh namun tajam. Rama merasakan tajam mata Ray, saat seperti inilah yang Ray gunakan untuk memasukan bola. Ia mendribel bolanya sebikit ke kanan, sekitar titik empat puluh lima derajat dari ring. Kemnudian ia melakukan back step keluar trhee point dan melakukan shoot.
Shuuuut
              Bola Ray dengan mulus masuk ke ring. Para pemain bertepuk tangan melihat kelincahan Ray memainkan bola. Menit demi menit berganti, skor saat ini tak telak seperti awal babak tadi. 84-37 untuk tim Rama. Memasuki babak ke empat Rama dan timnya terlihat sudah kelelahan, hanya sekitar 7 orang yang hadir latihan saat itu. Sedangkan tim Ray ada sekitar 9 orang yang datang latihan.
              Prit prit prit priiiiiiiiiiiiiit
              Peluit tanda berakhirnya uji coba sore itu ditiup. Tim Ray kalah telak dengan tim Rama, sekitar 105-42. Dan hampir setengahnya Rama dan Ray yang memasukan. Selesai melakukan uji coba mereka tos bersama dan menutup latihan sore itu.
              “RA!”panggil Rama. Ray yang sedang meneguk sebotol air mineral hanya bisa menoleh dan berhenti. “lo mau langsung pulang?”
              “enggaklah. Hari ini gue juga ada latihan di MBC,”
              “ooya. Gue juga ikut deh sekarang kan gue juga anggota MBC. Lo bawa motor?”kata Rama.
              “enggak, gue ntar di jemput menejer gue, haha”
              “yaa udah bareng gue aja,”Ray akhirnya setuju. Ia dan Rama berboncengan mengendarai ninja biru milik Rama. Ray agak ragu sebelum menaiki, ada perasan tak enak yang ia rasakan. Ia merasa curiga pada kebaikan Rama. Namun ia singkirkan juga perasaan itu dan segera naik.
















lima

            Sudah hampir dua bulan Ray menjadi siswa Dhimika 2, dan sudah hampir dua bulan ini juga ia terus dipanggil guru BP. Pelanggarannya beragam mulai dari terlambat, bolos, sampai nyaris berkelahi dengan salah satu teman sekelasnya.
            Hari ini menurut kabar burung, SMA Stela Mulia akan mendatangi SMA Dhimika 2 untuk membalas kekalahan mereka. Sudah banyak siswa yang mengetahui, sehingga banyak diantara mereka yang pulang lebih dulu sebelum bel pelajaran berbunyi, tak terkecuali Ray. Ray bukannya takut musuh bebuyutan dari sekolahnya itu datang, tetapi ia malah berjaga-jaga kalau saja ada anak Stela Mulia yang sudah nyolong start atau masuk Dhimika 2 tanpa pengetahuan. Ray mengganti seragamnya dan melaju motornya dan menembus jalanan Jakarta.
∂∂
            Bel berakhirnya jam pelajaran akhirnya berbunyi. Tak seperti biasanya, SMA Dhimika 2 sudah terlihat legam, sepi tak perpenghuni. Hanya orang-orang yang seperti biasa melindungi SMA Dhimika 2. Terlihat Rama dan Valhen di sudut sekolah, mereka duduk di motor masing-masing.
            Sejauh ini tanda-tanda SMA Stela Mulia belum terlihat. Namun tetap saja, Rama dan Valhen terus siaga. Dari kejauhan terlihat CBR hitam yang dikendarai salah seorang anak SMA Stela Mulia. Ia menghampiri Rama dan berhenti tepat di hadapan motornya. Orang itu kemudian membuka helm fullfacenya. Adit! Orang yang mengendarai CBR hitam itu adalah Adit.
“ngapain lo? Sendiri aja!! Nganterin nyawa lo?!”tanya Rama langsung. Rama kini berhadapan dengan Adit.
Rama merasa tidak asing dengan Honda CBR hitam yang dikendarai Adit. Selama ini Rama melihat Adit selalu menggunakan motor bebek yang sudah dimodiv. Perasaan Rama tidak enak, jangan-jangan seorang siswa SMA Dhimika 2 tertangkap Adit.
“weits weits santai bro! Justru gue kesini mau ngasih kabar baik ke lo berdua,”jawab Adit penuh arti. Matanya terus ditatap tajam oleh Rama.
“apa maksud lo?!”
“ternyata kemaren lo tawur bawa-bawa cewek ya? Cuih!”kata Adit sambil meludah ke bawah, “jadi lo kekurangan pasukan sampai lo bawa cewek! Mana tu cewek yang hajar gue! Sialan! Enaknya gue apain tu cewek?!”terusnya disertai tawa kepuasan.
            Rama diam seketika. Tanpa diberitahu siapa orangnya, Rama jelas tahu siapa perempuan yang dimaksud Adit. “apa maksud lo!!”bentaknya. Kini ia tak dapat menahan kemarahannya. Ditonjoknya pipi kiri Adit.
“weits! Santai men, nih motor cewek itu. Lo macem-macem gue bakar nih motor!”
“JADI APA MAU LO HA?!!”
“lo berdua ikut gue, tapi lo mesti inget, jangan lo bawa-bawa pasukan, atau nggak. .”Adit sengaja menggantungkan kalimatnya. Adit kemudian mengendarai motor Ray, sementara Valhen dan Rama berboncengan. Adit melaju motor Ray dengan kencang sehingga Rama sulit mengejarnya.
∂∂

            Adit membawa Rama dan Valhen memasuki gang kecil di belakang SMA Stela Mulia. Rupanya Rama dan Valhen dibawa Adit ke base camp anak-anak SMA Stela Mulia. Disana sekitar empat motor diparkirkan, termasuk motor Adit. Rama dan Valhen turun dari motor. Mereka mengikuti Adit dari belakang.
Adit menemui salah seorang anak buahnya, ia membisikan sesuatu kemudian masuk ke dalam.
“LO MAU BAWA KITA KEMANA HAA?!!”tanya Rama tak kuasa menahan diri, ia cengkram kerah baju Adit.
Rama sudah tak tahan lagi ingin mengetahui keadaan Ray.
“lo nggak tau lo sekarang ada dimana?”jawab Adit santai, “lo ada di kandang singa, sementara lo Cuma berdua! Lo bisa mampus kalo lo nggak bisa sabar sedikit,”
            Akhirnya Rama melepaskan cengkramannya. Setelah itu Adit membuka pintu. Di balik pintu itu ternyata ada Ray yang terduduk lemah. Ia diikat dikursi dengan kain yang menahan mulutnya. Terlihat ada sedikit darah dari sudut bibir kanannya, juga lebam di pipi kanannya.
            “RAAY!!”teriak Rama dan Valhen bebarengan. Mereka berlari menghampiri Ray yang terduduk lemah itu. Diangkatnya kepala Ray yang menunduk, kemudian Rama melepaskan kain di mulutnya dan tali yang mengikat tubuhnya.
            “ck! Apaan sih lo! Lo mending urus yang di luar, hubungi semua anak-anak!”perintah Rama sambil menepis tangan Valhen yang hendak membantu Ray.
Diam-diam Valhen mengambil ponsel dari saku dan mengetik pesan singkat tanpa sepengetahuan Adit dan dua temannya yang sedari tadi berdiri di kanan kiri pintu. Tak lama setelah itu ia berdiri dan menghampiri Adit.
            “gue mau bikin perjanjian sama lo!”Adit, Valhen dan kedua orang itu kemudian keluar meninggalkan Rama dan Ray.
            “Ra!! Bangun Ra!”panggil Rama sambil menggerakan pelan tubuh Ray.
            “Ra, gue nggak akan maafin diri gue sendiri kalo lo sampai kenapa-napa,”ditatapnya wajah Ray yang lebam itu, kemudian mengambil sapu tangan yang selalu Rama bawa. Dibersihkannya darah yang berada di ujung bibir kanan Ray perlahan dan membersihkan tanah yang melekat dilukanya. “gue udah pernah bilang sama lo Ra, jangan pernah ikutan, sekarang apa? Lo juga kan yang kena,”katanya sambil menatap sedih Ray.
            “maf...maafin gue Ram,”hanya itu yang dapat Ray ucapkan saat ia setengah sadarkan diri.
            “lo nggak perlu minta maaf Ra,”
            “maafin gue karena gue udah bohong sama lo, gue Cuma...”kalimat Ray terpotong. Ray pingsan.
            Dengan sigap Rama memeluk tubuh Ray. Ia mencoba menggendong Ray. Saat ia akan membawa Ray, terdengar suara gaduh dari luar. Rama mencoba mencari jalan keluar lain. Ia melihat pintu lain yang terlihat di kunci. Rama menurunkan Ray kembali dan mencoba membuka pintu itu. Dengan menggunakan kayu, Rama mencongkel gembok yang terlihat tua itu. Untung saja gembok itu dapat terbuka.
            Rama kembali membopong Ray dan membawanya keluar. Rama mencari jalan raya disekitar itu. Ia kemudian mencegat taxie dan membawa Ray ke rumah sakit terdekat.
∂∂

            Ray sudah tiga puluh menit berada di dalam ruang UGD. Sementara Rama mondar-mandir di luar ruang UDG. Rama harap-harap cemas, ia takut sesuatu yang buruk menimpa Ray karenannya.
            Tak lama kemudian, seorang berjas putih keluar dari ruang UGD dengan raut muka yang tak terduga. Ia mungkin saja akan membawakan kabar buruk, mungkin juga kabar baik. Orang berjas putih itu kemudian melepas kacamata minusnya dan memasukannya ke dalam saku jas putihnya. Melepas sarung tangan yang sedikit kemerahan, mungkin karena percikan darah.
            Rama memandang dokter dengan penuh harap. “bagaimana keadaan teman saya Dok?”tanya Rama padanya.
            “jadi anda temannya? Mana orang tuanya? Saya perlu membicarakan hal yang serius dengan beliau”jawab Dokter itu.
            “mamanya sedang menuju kemari Dok? Bagaiman keadaan Ray? Apa dia baik-baik saja?”Rama mengulangi pertanyaannya lagi. Mungkin ia akan terus mengulangi sebelum dokter menjawabnya.
            “teman kamu baik-baik saja, tetapi...”Dokter tidak melanjutkan kalimatnya. Ia melihat wanita separuh baya berlarian mendekat ke arahnya dan Rama. Mungkin saja itu orang tua Ray. “apa Anda orang tua dari Ray Asmara?”tanya dokter pada wanita itu.
            “iya dok!”jawabnya mantap, “saya Asna dok. Bagaimana keadaan putri saya dok?”tanyanya. Tetes air mata jatuh dari sudut mata Asna, mama Ray.
            “keadaanya cukup memprihatinkan Bu. Bisakah ibu ke ruangan saya untuk membicarakan hal ini?”hanya dengan anggukan lemas, Bu Asna menjawab pertanyaan itu.
            Sementara Bu Asna masuk untuk membicarakan keadaan Ray, Rama masuk ke ruang UGD, namun sebelumnya ia telah bertanya pada suster yang menjaga Ray. Ia diperbolehkan melihat Ray asalkan ia mengunakan perlengkapan yang telah disediakan rumah sakit.
            Rama memandang wajah cantik Ray yang kini pucat dan penuh perban. Namun kecantikan Ray tetap terpancar meskipun lebam hampir sebagian wajahnya. Rama membisikan sesuatu kepada Ray. Meskipun Ray tak sadarkan diri, namun Rama yakin bahwa Ray dapat mendengar bisikan Rama. Setelah selesai ia mencium kening Ray
            Selang beberapa saat dokter beserta perawat masuk dengan membawa perlengkapan operasi. Sepertinya hanya operasi ringan. Rama diminta untuk meninggalkan ruang UGD dan menunggu di luar. Dengan pasrah Rama berjalan keluar.
            Rupanya di luar Bu Asna sudah menunggu dengan kepala tertunduk. Rama menghampirinya dan menegurnya.
            “maaf tante, boleh saya temani?”sapanya sopan.
            Bu Asna hanya menoleh memandang Rama tanpa menjawab. Ia hanya memberikan senyum sambil mengangguk.
            “kamu pacarnya Ray?”tanyanya tanpa memandang Rama. Ia tak ingin kesedihannya mendapat belas kasihan dari Rama.
            “bukan! Bukan tante, saya kakak kelasnya,”jawabnya terbata-bata.
            “maafkan Ray, nak...”
            “Rama tante,”
            “nak Rama. Ray memang seperti itu, tanpa kamu jelaskan tante sudah bisa menebak. Dia pasti ikut tawuran kan?”
            “enggak tante. Maafin saya, itu semua salah saya. Ray...”
            “tidak usah menyalahkan diri sendiri nak, meskipun dari kecil Ray tidak pernah ikut saya, tapi Ray tetap anak saya. Saya tahu betul.”
            Rama dan Bu Asna terlibat percakapan cukup lama. Mama Ray menceritakan bagaimana masa lalu Ray yang selalu membuat kekacauan. Bagaimana ia ingin sekali menghajar semua laki-laki yang menyakiti hati Bu Asna.
            “dulu Ray selalu dengan papanya, saya sudah lama bercerai sejak Ray masih TK. Tapi setelah papanya meninggal Ray dan Ian tinggal lagi sama saya...”Rama memandang raut wajah Bu Asna. Matanya mirip sekali dengan mata Ray, tajam namun teduh. Penuh tanda tanya.
            “satelah itu saya memutuskan untuk menikah lagi dengan laki-laki brengsek itu...”
            “maksut tante?”tanya Rama hati-hati.
            “laki-laki yang sudah membuat Ray seperti sekarang ini dan Ian selalu membuat onar...”
∂∂

            Ray mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Denesa Febrian Asmara, mereka sering memanggilnya Ian. Ray dan Ian selalu bersama sejak kecil. Ian selalu menjaga Ray dan mamanya. Dulu Ian bersekolah di sekolah yang sama dengan Ray saat ini.
            Saat itu Ian duduk di kelas XII SMA Dhinika 2 bersama dengan Dimas, sahabatnya. Mereka sama-sama anak yang berprestasi dan membanggakan sekolah. Meskipun mereka pentolan SMA Dhimika 2, namun prestasi mereka layak dibanggakan.
            Suatu ketika Ian dan Dimas terlibat bentrok dengan SMA Stela Mulia. Seperti biasanya, Ray selalu ikut dengan Ian. Meskipun saat-saat berbahaya seperti tawuran namun Ian tetap menjaga Ray. Mengetahui Ian sangat menyayangi Ray, musuh Ian menjadikan Ray sandera. Saat Ray pulang sekolah ia membuntuti motor Ray dan menendangnya. Kemudian Ray dihajar dan disekap. Namun saat itu, Yudha, tidak mengetahui bahwa Ray adalah perempuan. Ia sudah terlanjur menyekap Ray.
            Ian datang menemui Yudha seorang diri, Karena ia tak mau membawa temannya dalam masalah pribadi seperti ini. Begitu Ian datang Yudha mengeroyok Ian hingga babak belur dan tak sadarkan diri. Ray yang saat itu diikat tangannya berusaha sekuat tenaga untuk menolong Ian.
            Saat Ray sudah berhasil meloloskan diri, ia sudah melihat Ian tak sadarkan diri dan berlumuran darah di sekujur tubuhnya. Ray panik dan menelepon ambulan. Ian sempat dibawa kerumah sakit, namun kerena organ dalam Ian banyak yang rusak akhirnya Ian tak tertolong lagi. Saat itulah Ray benar-benar merasa bersalah karena tidak dapat membantu kakanya.
            Ray benar-benar patah semangat. Ia sempat hampir membunuh Yudha dengan tangannya sendiri. Karena emosinya yang kurang stabil akhirnya Ray masuk rehap dan menjalankan terapi. Sepengetahuan Bu Asna, Ray telah sembuh total dan bisa menjalani kehidupan seperti layaknya anak perempuan seusianya.
            Tak lama setelah itu, Bu Asna dan suaminya bertengkar hebat karena Ray. Menurut ayah tirinya Ray sudah tak waras. Karena membela Ray, Bu Asna di pukul suaminya. Ray hanya diam saja melihat itu. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi, kejadian yang sama terulang di depan matanya. Kedua orang yang ia sayangi dihajar karenanya.
            Mulai saat itulah Ray bersumpah untuk menjaga orang-orang yang disayangi dan membalaskan dendam kakanya.
∂∂

            “begitulah nak ceritanya, semenjak kejadian itu Ray tidak mau dipanggil Ara lagi karena itu panggilan kesayangan Ian. Tante minta maaf kalau Ray sering merepotkan nak Rama. Tapi tante mohon sekali, tolong jaga Ray. Meskipun ia bukan siapa-siapa bagi nak Rama, tapi tolong sekali,”Bu Asna turun dari tempat duduknya dan memohon kepada Rama, “tante rela melakukan apa saja demi Ray,”
            “tante,”Rama membangunkan mama Ray, “saya janji akan menjaga Ray. Seperti Ian menjaga Ray. Saya berjanji”
            “terima kasih nak,”
            “sama-sama tante. Pantas saja Ray kalau saya panggil Ara selalu marah,”
            “Ray tidak pernah mau dipanggil Ara lagi karena ia selalu merasa bersalah jika mengingat Ian. Ah sudahlah nak, tente jadi melow kayak begini,”tante Ane tersenyum dan menghapus air matanya.
            Sekarang gue tahu dari mana Ray bisa kuat, ibunya jauh lebi kuat batin Rama.
∂∂


            Seharian ini Rama, Evan, dan Valhen menunggui Ray. Ray telah berhasil menjalani operasinya. Kini hanya menunggu ia sadarkan diri. Wajahnya masih pucat, lebam di wajahnya masih terlihat. Sudah dua hari Ray tidak sadarkan diri.
            Mata Ray sedikit terbuka, ia seperti mengkerlingkan mata. Sedikit lagi dan akhirnya benar-benar terbuka. Ray sadarkan diri.
            “gue ada dimana?”tanyanya. Suaranya parau, “tolong, air”
            “lo ada di rumah sakit Ra,”jawab Rama seraya menyodorkan segelas air mineral.
            Ray mencoba mengingat kejadian yang telah menimpanya dua hari yang lalu. Kepalanya sakit dan kakinya terasa berat. Ia membuka selimut yang menyelimuti sebagian badannya.
            “kak...”suaranya serak dan tertahan “kaki gue kenapa? KENAPA RAM? GUE NGGAK BISA BASKET LAGI”Ray menangis melihat kakinya digips. “TINGGALIN GUE SENDIRIAAAN!!!”Ray mulai histeris.
            “Ra tenang, lo masih bisa basket,”kata Rama menenangkan. “tinggalin kita berdua”sambungnya. Evan dan Valhen meninggalkan mereka berdua.
            “gimana bisa Ram? Gimana bisa?!”
            “kaki lo Cuma di gips, nggak akan lama,”jawabnya enteng.
            “GIMANA BISA GUE TENANG!!!”Ray hilang kendali. Rama menarik tubuhnya dan memeluknya. Ia benamkan kepala Ray dan membiarkannya menangis di bahunya.
            “lo bisa ceritain lebih tenang ke gue kalo lo mau,”kemudian ia melepaskan pelukannya.
            “gue nggak akan bisa main basket lagi”kata Ray tertunduk.
            “tapi kenapa?”
            “gue pernah ngalamin hal kayak gini dua kali, kaki kanan juga. Sekali lagi lutut gue cidera, kaki gue bakal diplatina, lo taukan itu? Tanpa dijelasin dokterpun gue tahu lutut gue nggak akan bisa sembuh total, gue nggak bisa maen lagi,” Ray kembali menangis.
            “Ra, gue tahu lo orang yang kuat. Bahkan gue sendiri kalah sama lo. Lo tahu dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, mungkin aja ini jalan sempit yang susah lo lalui buat ke jalan yang lebih mudah. Gue yakin lo pasti bisa berangkat ke Australia tahun ini, masih ada tujuh bulan buat mulihin kaki lo, gue tahu lo bukan orang sembarangan,” kata Rama bijaksana.
            “dari mana lo tahu gue pengen banget ke sana?”
            “itu impian hampir semua anak basket, dan tahun ini milik lo, gue yakin lo bisa!” katanya mantap.
            “hahahaha” Ray hanya tertawa, “sok bijak banget lo, hahaha”
            Ray tetap tegar dengan apa yang menimpanya. Kata-kata Rama begitu membekas di hatinya. Saat ini orang seperti Rama lah yang diperlukan Ray untuk kesembuhannya. Dulu hanya kakaknya yang dapat membuat Ray melupakan kejadian-kejadian yang membuatya down, kini posisi Ian telah digantikan Rama, atau bahkan lebih dari itu. Rama berhasil menarik hati Ray.
∂∂
            “jadi itu sebabnya lo bisa ketangkep Adit?” tanya Rama setelah Ray bercerita bagaimana ia bisa menjadi sandera.
            Saat ini, Rama, Valhen dan Evan mendengarkan cerita Ray tentang bagaimana ia bisa sampai menjadi sandera. Awalnya Ray tidak mau menceritakan kejadian tolol itu, namun karena Rama dan Valhen sudah berjanji untuk tidak ikut campuri masalahanya dengan Adit akhirnya Ray mau menceritakan kejadian yang sebenarnya.
            Pada saat itu, Ray hanya iseng untuk berjaga-jaga kalau saja anak SMA Stela Mulia bersembunyi sekitar kompleks SMA Dhimika 2 dan benar saja, Ray melihat empat motor yang bersembunyi di belakang SMA Dhimika 2. Saat itu Ray benar-benar sendirian. Ia mencoba melarikan diri, namun di jalan motornya ditendang oleh Adit. Ray jatuh tersungkur. Tanpa pikir panjang, Adit dan 3 temannya menghajar Ray di tempat. Ray yang saat itu sedang tidak enak badan dihajar habis-habisan.
            Adit memang sengaja tidak menghabisi Ray. Kedua temannya membantu Ray berdiri. Adit melepaskan helm Ray. Saat helm Ray terlepas, rambutnya yang panjang terurai. Adit benar-benar tidak menyangka jika orang yang telah menghajarnya adalah seorang perempuan. Saat itu Ray menggunakan seragam pria SMA Dhimika 2. Adit tak habis pikir betapa cerdiknya SMA Dhimika 2. Akhirnya Ray dibawa untuk sandera dan Adit mendatangi SMA Dhimika 2 menggunakan motor Ray.
            “lo bener-bener kreatif Ra,” puji Valhen. “te-o-pe deh.”
            “gue nggak tahu Ra apa yang ada dipikiran lo sampe lo bisa lakuin itu semua,” Rama masih tak percaya akan apa yang didengarnya. Kini ia tahu orang yang menolongnya adalah Ray.
            “maafin gue karena udah bohongin lo semua,” Ray tersenyum.
            “lo nggak kenal siapa Ray, makanya lo jangan sok tahu!” kata Evan ketus. Ia pun pamit pulang karena ada latihan di MBC.





enam

            Pertandingan antar club basket yang diadakan mendikpora DKI Jakarta hanya mengghitung minggu, namun Ray masih belum bisa ikut bertanding. Ia hanya duduk di bance pemain saat berlatih, meskipun gips kakinya sudah dilepas namun kakinya belum bisa digunakan total untuk berlari.
            Posisi Ray sebagai kapten membuatnya merasa bersalah karena kali ini tidak dapat turun di lapangan. Tapi Ray tetap percaya dengan teman-teman satu teamnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, MBC selalu ikut andil dalam berbagai pertandingan. Baik putra maupun putri, keduanya sama-sama dapat dibanggakan.
            Ray berdiri dari tempatnya duduk dan menghampir Rama yang tengah mengeringkan wajahnya dengan handuk.
            “nih” ia menyodorka air mineral pada Rama.
            “thanks Ra,” jawabnya sambil menerima air meineral itu.
            “oya Ram, lo tahun ini udah bawa nama MBC tapi lo belum tanda tangan surat perjanjian sama perpindahan kan?” tanya Ray ragu-ragu.
            “aa... besok aja deh Ra, gue capek banget hari ini,” Rama tergagap-gagap menjawab pertanyaan Ray.
            “tapi kalo lo belum tanda tangan lo sih emang bisa main tapi...”
            “iyaa, gue bakal tanda tangan tapi habis pertandingan aja. Kan gue harus cari...”
            “cari apa?”
            “ah nggak kok, yuk pulang”
            Seperti biasanya, Rama mengantar pulang Ray. Ray hanya diam memikirkan perkataan Rama. Ia curiga ada sesuatu yang Rama sembunyikan darinya. Namun melihat kebaikan Rama padanya ia membuang pikiran negatifnya jauh-jauh.
            ∂∂

            “Ray, lo jadian yaa sama Rama?” goda Mella.
            “apaan lo La, siapa juga yang jadian. Orang gue cuma temenan aja kok sama dia. Lo kan tahu gue temennya banyak, nggak kayak lo, kuper!”
            “sialan lo! Gini-gini akses gue banyak tau!” Mella tak mau kalah.
            Ray dan Mella bercanda di kantin. Membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan olahraga, apapun itu. Baik basket, sepak bola, sampai karate. Mereka memang suka olahraga. Meskipun kaki Ray masih sakit, ia tetap berjalan tanpa menggunakan penyangga. Hanya Mella sesekali membantunya manaiki tangga ataupun berdiri. Ray masih pincang saat berjalan.
            Kali ini Ray dan Mella makan di kanti kelas X. Jarang-jarang mereka makan di sini, mungkin karena tempatnya yang paling dekat dengan kelas Ray.
            “jadi si biang kerok pincang nih?” kata seseorang.
            “iyaa, denger-denger gara-gara nyelametin Rama, SOK PAHLAWAN banget nggak sih girl?” tambah lainnya.
Rupanya suara itu berasal dari geng Ganiza yang sedang membawa semangkuk bakso panas ditangannya. Mereka kemudian menghampiri Ray dan Mella. Mengetahui Grasia akan mendatanginya Ray mengajak Mella pergi. Karena kaki Ray yang masih pincang ia jadi lambat saat berlajan akibatnya Gracia dan teman-temannya dapat menyusul.
            “eitts! Mau kemana lo?!” tanyanya sinis.
            “bukan urusan lo!”
            “mana kaki lo yang katanya patah itu ha?”
            “minggir lo, ini bukan urusan lo! Mau kaki gue diamputasi kek itu bukan urusan lo!!” bentak Ray tepat di wajah Grasia.
            “udah pincang masih nyolot aja lo!”
            “AAAA!” Ray menjerit kesakitan. “sialan lo, tangan kosong kalo berani!” tantang Ray. Baru saja Gracia memukul lutut Ray dengan tongkat mayoret yang sejak tadi ia sembunyikan.
            “sakit hm?!!” tanya Gracia pura-pura. “kalo yang ini!”
            “AAAAAAAAA!!” Ray menjerit hingga terjatuh. Kakinya benar-benar serasa patah. Ia hanya memegangi lututnya yang nyeri.
            “Ray lo nggak papa kan?” tanya Mella. Sementara tersangkanya pergi meninggalkan Ray begitu saja. “tunggu bentar Ray,” Mella berdiri dan mengejar Gracia. Dari belakang dicolek punggung Gracia. Gracia pun menoleh dan PLAK! Sebuah tamparan sangat keras mendarat dipipi mulus Gracia.
            “apa-apaan sih lo?!”
            “elo yang apa-apaan!” Mella mengambil mangkuk bakso yang berada di tangan Gracia dan mengguyurkannya ke wajah Gracia. “makan tu bakso!!” Kemudian Mella pergi sambil mengetik sebuah pesan singkat.
            Mella kembali ke tempat Ray. Rupanya Ray masih terduduk sambil memegangi lututnya. Mella membantu Ray berpindah ke tempat yang lebih nyaman. Tak lama Rama datang setengah berlari ke arah Ray.
            “lo nggak papa kan Ra?” tanya Rama sambil terengah-engah.
            “nggak papa kok, cuman nyeri aja” jawab Ray santai.
            Rama kemudian membantu Ray berdiri. Ray masih bisa berjalan pincang. Dua langkah setelah itu tubuh Ray menghuyung ke samping dan BUK Ray jatuh pingsan. Cepat-cepat Rama dan Mella memopong tubuh Ray ke UKS sekolah.
∂∂

            “jangan terlalu lo paksain kaki lo, ntar tambah parah. Lo ingetkan kaki lo bisa bener-bener pulih setelah tiga bulan,” kata Rama. Saat ini ia tengah membantu Ray berjalan.
            Ray dan Rama sedang berlatih di MBC. Turnamen untuk merebutkan piala Gubernur tinggal hitungan jari. Dan jika saat itu Ray belum bisa main, ia terpaksa akan duduk di bangku cadangan selama pertandingan berlangsung atau bahkan ia tidak akan terdaftar dalam turnamen musim ini.
            Rama terus menjaga Ray dari belakang agar saat tubuh Ray limbung ia bisa langsung membantu.
            “tiga bulan itu lama Ram, gue harus turun Piala Gubernur. Ini turnamen antar club putri terbesar tahun ini, dan lo tahu kan ada seleksi untuk tim putri dan gue mau gue bisa lolos,”
            “gue tahu!! Tapi percuma aja kalo lo sekarang maksain kaki lo, sama aja bakalan bikin lo sama sekali nggak bisa ikut turnamen apapun. Mending kalo gue nggak turun Piala Gubernur tapi even lain ikut,”saran Rama.
            “bagi gue cuma ada dua hal yang penting. Jadi atlet profesional dan...” Ray menghentikan ucapannya.
            “dan??”
            “udah lupain. Ayo kita latihan lagi,” katanya bersemangat.
            Ray berlatih lari kecil-kecil. Sebenarnya ia merasakan sakit dikakinya namun semangat Ray menjadi dorongan dan mampu melupakan semua rasa sakitnya. Ray mengambil bola dan mencoba mendribling bola. Tidak ada masalah saat Ray memainkan bola. Hanya saja ia tidak dapat melakukan gerakan yang biasa ia gunakan. Ray hanya bisa sedikit membungkuk untuk menahan bola agar tidak terlalu tinggi.
            Tekatnya untuk memenangkan Piala Gubernur tahun ini sudah bulat. Selain itu masih ada even besar antar SMA. Dan jika Ray bermain maksimal ia yakin ia akan ikut camp ke Australia.
∂∂
            Babak penyisihan pertandingan Piala Gubernur tinggal menghitung jam. Namun lutut Ray masih sakit. Meskipun ia sudah tidak pincang namun nyeri di lututnya tak kunjung sembuh. Padahal esok timnya akan membuka pertandingan melawan Yuwana Basket.
            Pertandingan besok akan menentukan tim mana yang akan masuk empat besar. Untuk bisa masuk empat besar tim MBC harus bisa mengalahkan tiga tim lainnya. Ray terus berpikir ia memang harus turun jika ingin timnya lolos empat besar. Kali ini tim MBC tidak seberuntung tahun lalu. Kali ini mereka harus berada di grup A beserta tiga tim kuat Jakarta Utara.
            Ray mengambil es batu dari dalam kulkas untuk mengompres kakinya.
            Sebelum kaki gue bener-bener diamputasi, gue yakin gue masih bisa main basket. Ray ingat kata-kata mendiang kakaknya. Ia kemudian bangkit dan mengambil jaket.
            “ma Ray keluar sebentar,” pamitnya pada sang Mama.
∂∂
            “lo gila yaa? Ini udah malem tau,” kata Mella takut. Saat ini Mela telah diculik Ray dan dibawa ke lapangan MBC.
            “alah lo cuma duduk aja ngeliatin gue. Nanti lo tinggal kasih pendapat kaki gue masih kelihatan pincang atau nggak,”
            “tap...” baru saja akan protes Ray sudah mengambil bola dan melatih kakinya.
            Sebenarnya bukan keputusan yang tepat jika malam ini Ray memaksa kakinya untuk berlari, karena jika malam ini Ray melakukan kesalahan ia benar-benar terancam duduk di bance selama pertandingan berlangsung.
            Ray mendribling bola dari tengah lapangan hingga garis trhee point. Ia sedikit melakukan tipuan dan menembakakan bola. Namun bola meleset, jangankan menyentuh ring bola hanya melambung lima meter ke depan.
            “sialan lutut gue belum bisa buat loncat!” umpat Ray dalam hati.
∂∂
            Pertandingan babak menyisihan Piala Gubernur sedang berlangsung. Kali ini tim MBC mengenakan jersey putih emas dan Yuwana menggunakan jersey hijau. Masing-masing tim menyayikan lagu Indonesia Raya sebagai pembukaan.
            Seperti pertandingan biasanya, starting lineup dipanggil namanya. Mulai dari nomer punggung terkecil.
            “dan... ini dia nomor punggung tujuh sekaligus kapten tim MBC... Ray Asmara,” suara Mc terdengar begitu jelas.
            Mendengar nama Ray disebutkan Rama hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia sama sekali tak menduga Ray benar-benar turun turnamen. “lo bener-bener keras kepala Ra,”
            Dengan nomor punggung tujuh dan nama DM RAY A dipunggungnya Ray tos dengan starting lainnya. Coach membuka doa dan seperti biasanya “WE FIGHT TOGETHER, WE WIN TOGETHER, WE ARE...MBC!!
                        Nama-nama sebagai starting masuk lapangan dan memulai permainan. Ray terlihat santai seperti biasanya.
∂∂
            Skor saat ini 34-36 untuk Yuwana. Saat ini memasuki babak ke tiga. Skor sedari tadi kejar-kajaran. Ray mendribling bola melewati dua orang yang menjaganya, ia mengambil back step keluar tree point. Sekitar satu meter, jarak yang tak biasa ia ambil. Ray mengangkat tangannya untuk shoot.
Priit
            Suara peluit tanda adanya pelanggaran. Bola Ray sama sekali melenceng dari sasaran, namun ia mendapatkan tiga shoot bebas.
            “gue pasti bisa,” Ray menyemangati dirinya sendiri.
            “RAAA fokus!”teriak Rama dari luar lapangan.
            Wasit memberikan bola pertama kepada Ray. Ia menarik napas, melepaskan bolanya sejenak.
Shuut! Satu poin untuk MBC.
            Bola kedua untuk Ray. Ia melakukan gerakan seperti biasanya. Dua poin untuk MBC. Skor saat ini imbang. 36-36. Bola terakhir dari Ray akan menentukan akhir pertandingan.
            Bola lepas dari tangan Ray. Melambung tinggi dan hanya memantul ujung ring. Ray gagal memasukan bola ketiganya. Bola memantul dan segera diriboun oleh Fika, center MBC. Fika melakukan medium shoot dan MASUK. Skor saat ini 38-36 untuk MBC.
Prit priit time out diambil tim Yuwana.
            “ayoo kita buat skor jauh!” teriak coach Yete. “kamu jangan terlalu memaksakan diri Ray. Bagi bola kamu sudah bagus, jangan mengambil finishing yang membahayakan dirimu...”
∂∂
            “meskipun gue nggak kenal sama kakak lo, tapi gue yakin dia pasti orang yang hebat. Sehebat adiknya,” kata Rama.
            Hari ini MBC berhasil memenangkan pertandingan dan seperti biasanya anggota MBC pasti akan berkumpul untuk makan bersama. Rama, Ray, Evan juga anggota senior lainnya sedang membicarakan betapa hebatnya Ray. Saat cidera beratpun ia masih bisa menyumbangkan piont untuk MBC, meskipun tak sebanyak biasanya namun umpan Ray membuat rekan satu timnya dapat mencetak poin dengan mulus.
            “tos untuk Ray dan kemenangan kita hari ini,” teriak coach Yete sambil menganggkat gelas jahe hangat.
            “oya Ram. Habis ini lo nggak ada acara kan?” tanya Ray.
            “enggak sih emang kenapa?”
            “kok sih? Lo harus tanda tangan surat perjanjian”
            “oya gue lupa. Gue ada urusan sama Valhen,” Rama memukul dahinya pela.
            “gue jadi curiga sama lo,” Evan memandang Rama sinis. “kenapa setiap lo suruh tanda tangan lo nggak pernah mau? Jangan jangan...”
            “ah apaa sih lo,”








Tujuh

            Final turnamen Piala Gubernur digelar dua hari lagi. Tim basket MBC baik putra maupun putri sukses lolos babak empat besar dan akhirnya ke babak final. Masuknya Rama untuk memperkuat MBC mengagetkan hampir semua penonton. Hadirnya Rama membuat MBC mempunyai dua ujung tombak yaitu Evan dan Rama. Meskipun saat di luar lapangan Evan terlihat tidak suka dengan Rama, namun permainannya dengan Rama melihatkan Evan sebagai pemain profesional.
            Rama dan Evan menjadi tranding topic sebagai pasangan emas MBC. Sementara itu, Ray merasa kakinya mulai bermasalah. Tiga pertandingan yang ia ikuti membuat kakinya benar-benar mati rasa. Rasanya seperti kesemutan yang tak reda-reda. Melihat Ray terus memegangi lututnya, Rama mendatangi Ray.
            “kaki lo sakit lagi?” tanya Rama sambil menunduk.
            “nggak kok. Nggak papa, Cuma kram aja,”
            “lo bisa Ra bohongin gue, tapi mata lo nggak bisa bohong. Jelas-jelas mata lo kesakitan gitu,” Rama menatap Ray tajam. Ia tak ingin hal buruk membuat Ray kehilangan mimpinya.
            “ahaaaaa!!” teriak Mella mengagetkan. “ketahuan ya lo berdua mesra-mesraan di belakang gue. Udah Ram, nggak usah sok-sok nunggu saat yang tepat deh lo kalo mau nembak Ray. Sekarang aja mumpung aaaau!” Mella tak sempat meneruskan perkataanya. Kedua kakinya diinjak oleh Rama dan Ray. Bisa bayangkan sendiri gimana sakitnya diinjek dua orang kekar sekaligus.
            “mulut lo lama-lama gue sumpel pake bola basket!”canda Ray.
            “busyeeeet. Cieeelah nginjek aja kompakan,”
            Ray hanya tersipu malu sementara Rama menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.

∂∂

            Pertandingan final putri MBC melawan Citra Club berlangsung sengit. Kedua tim sama-sama tim kuat di masing-masing daerah. MBC sukses mempertahankan gelar juara di Jakarta Utara sementara Citra Club di Jakarta Barat. Skor saat ini 45-38 untuk MBC. Pada saat piala gubernur tahun lalu, MBC sukses mengalahkan Citra Club dengan telak namun saat itu kaki Ray tidak cidera.
            Coach Yete sudah mewanti-wanti semua timnya untuk berhati-hati jika melawan Citra Club, selain mempunyai big man yang handal, permainan CC bisa disebut kasar. Hampir tiap melawan CC ada saja pemain tim lawan yang cidera.
            “RA! Jangan maksain kaki lo!”teriak Rama di tribun VIP.
            Ray hanya menoleh dan senyum menandakan ia mengerti. Ray memainkan bola untuk menghabiskan sisa waktu babak terakhir. Skor saat ini 45-40. Ray tidak mau mengabil resiko jika ia mengeksekusi bola. Ray hanya melakukan passing ke sayap kanan dan dikembalikan lagi, begitu terus hingga shoot lock menunjukan waktu akan habis.
            Melihat Ray yang terus-terusan mempermainkan bola, salah seorang pemain CC merasa dipermainkan. Ia mencoba merebut bola dari tangan Ray. Pemain bernomor punggung 9 itu menutup jalan Ray dan sedikit mengenakan kakinya ke lutut Ray.
            Buuk
            Ray jatuh tersungkur disertai dengan bunyi peluit tanda berakhirnya pertandingan. Pemain MBC langsung mendatangi Ray dan membantunya berdiri.
            “thanks atas tendangan lo!” sindir Ray sambil menjabat tangan pemain CC.
            ∂∂
            MBC sukses mengawinkan gelar champion. Untuk pemain terbaik putra jatuh kepada Rama sementara top skor putra jatuh kepada Evan. Untuk pemain terbaik putri jatuh kepada Ray dan top skor jatuh pada pemain CC. Mereka mengadakan acara syukuran kecil-kecilan di rumah Ray untuk merayakan gelar yang didapat Ray dan kemenangan MBC. Tahun lalu top player dan top skor putri jatuh kepada Ray keduanya, mungkin kali ini belum saatnya Ray mendapat gelar itu lagi.
            Anak-anak MBC termasuk Rama menikmati syukuran di rumah Ray. Saat ini Ray dan Rama berada di dapur untuk membantu Bu Asna mengeluarkan makanan. Rama menyodorkan kotak kado kepada Ray.
            “apaan nih? Gue kan nggak lagi ulang tahun,” Ray menerima kotak Rama.
            “yaa itung-itung ucapan selamat dan terima kasih gue. Gue harap lo suka,”
            Ray membuka kotak itu. Wajahnya berbinar-binar melihat isi kotak yang diberikan Rama. Kotak itu ternyata berisi sebuah gelang karet rubber yang memang biasa digunakan pemain basket kelas NBA. Gelang itu berwarna abu-abu dan terdapat tulisan ‘DM RAY A 7’yang biasanya hanya bertuliskan Nike, Adidas, dan nama-nama seperti Kobe Bryan, Derick Rose dan lainnya. Gelang itu dipesan langsung oleh Rama.
            “gue nggak tahu lo suka warna apa karena selama ini gue nggak pernah liat lo pake warna khusus. Tapi feeling gue bilang lo suka abu-abu,”
            “makasih Ram. Gue emang suka abu-abu, gue pake ya gelangnya,” Ray memakai gelang pemberian Rama dengan semangat. Ia melepaskan gelang yang sudah lama sekali ia pakai. “yang ini gue simpen aja,” Ray hendak memasukan gelang belelnya ke saku celana, namun tangannya ditahan oleh Rama.
            Ray terdiam melihat tangannya depegang Rama. Selama ini hanya Ian yang selalu memegang tangannya dan baru kali ini Ray merasakan sesuatu saat Rama memegang tangannya.
            “yang itu buat gue aja,”
            “ini dari Ian,” kata Ray sedih. Ia menunduk.
            “sory Ra. Lo..lo simpen aja gelangnya,” Rama salah tingkah.
            Ray menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia tidak ingin apapun dari kakaknya diambil orang lain, tapi mengapa ia merasa Rama akan menjaganya seperti Ian.
            “nih” Ray menyodorkan gelang merah itu kepada Rama. “jangan sampai lo hilangin ya. Awas lo!”
            “iyaaa. Gue janji gue akan menjaga gelang ini sepenuh hati seperti gue menjaga Ray Asmara,” Rama mengikrarkan janji seperti sedang membaca teks sumpah pemuda.
            “hahahaha apaain sih lo? Dasar berle!”
            “apaan tu berle?”
            “berle-bihan hahaha,” Ray meninggalkan Rama di dapur. Rama hanya bisa tersenyum melihat tingkah Ray.
            Ray memang spesial. Siapapun pasti akan jatuh hati kepada Ray. Dibalik sifatnya yang keras kepala ia sangat setia kawan, pemurah dan selalu membela yang benar. Ia sosok yang tegar.
            Gue sekarang tahu kenapa Ian begitu menyayangi lo...
∂∂

            Setelah menyelesaikan pertandingan, Ray kembali pada aktivitasnya di sekolah. Selama pertandingan berlangsung, atlet yang diikut sertakan dalam pertandingan memang diizinkan untuk tidak mengukuti pelajaran selama satu minggu dan mereka menginap di asrama yang disediakan. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan hal-hal yang tidak diinginkan.
            Kembalinya Ray ke sekolah di sambut hangat oleh Valhen cs. kini Ray terang-terangan nongkrong sepulang sekolah bersama anggota pentolan SMA Dhimika 2, tentu saja atas izin Rama. Ray sudah berjanji tidak akan ikut tawuran lagi kecuali karena urusan pribadinya.
            “gila lo Ray, lo emang wonder women dah,” puji Andre. Andre mengetahui semua yang menimpa Ray belakangan ini dari Valhen. Valhen menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada teman-temannya agar Ray tidak dianggap merugikan SMA Dhimika 2 dua hari yang lalu.
            Berita yang menyebar tidak sesuai dengan kenyataannya. Berita itu sampai ke telinga Valhen. Ia mengadakan forum dan menceritakan keadaan yang sebenarnya.
            “apaan sih lo semua. Pada ketularan Rama nih kayaknya, berle! Udah lah gue pulang dulu, apa kata guru ntar kalo gue ikut gabung. Bisa malu gue,” Ray berdiri meninggalkan tempat tongkrongan itu.
            “kayak lo punya malu aja,” goda Valhen.
            Ray menuju tempat parkir untuk mengambil CBR hitamnya. Sudah seminggu belakangan ini Ray selalu mengendarai motor Ian. Ia serasa dekat setiap menggunakan barang Ian.








Delapan

                        Liburan semester satu tinggal beberapa hari lagi. Ray dan Mella telah sukses menempuh Ujian Akhir Semester. Nila mereka berdua tidak ada yang merah satu pun. Mella dan Ray yang sedang asik main game menggunakan ipad milik Ray harus berhenti karena ada pengumuman.
            “...pengumuman ini ditujukan kepada nama-nama yang saya sebut untuk berkumpul di base camp DTHA. Roni Surya, Muhammad Fikri, Budi Andre, Raringga Putra, Suka Bangsa, Alfian Sutomo, Dheca Mehesa, Mellanie Putri, Valentino Reza, dan yang terakhir Yoga Gutomo. Saya ulangi...”
            “kok ada nama kita ya La?” tanya Ray bingung,
            “kalau lo tanya gue terus gue tanya sama siapa dong?”
            “dasar hola-holo lo. Ayo buruan kita ke base camp DTHA,”Ray menarik tangan Mella.
            “bahasa lo sekarang makin primitif deh. Kemaren berle, cmemew sekarang hola holo. Ya ampun nak, saye tak mengerti apa maksud kau ni,”

∂∂

            Ray dan Mella ternyata akan mengikuti kegiatan DTHA yang akan diadakan di Bumi Perkemahan Balangan. Lokasinya di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah. Kegiatan itu bersifat wajib bagi kelas sepuluh yang mengikuti ekstrakulikuler DTHA. Kegiatan ini dilakukan selama satu minggu.
            “asiiiik! Kita liburan Ray,” seru Mella kegirangan. Sementara Ray terlihat murung. “lo bukannya seneng juga malah cmewew. Kenapa lo?”
            “acaranya kan seminggu ni, berarti gue nggak akan latihan bareng Rama selama seminggu dong. Yaaah, mana wajib lagi acaranya,” ujar Ray melas.
            “cie cie kangen nih ye,” Mella malah menggoda Ray.
            “siapa juga yang kangen. Gue cuma bakal ngerasa sepi aja kalo nggak ada dia. Dia kan selalu buat gue seneng. Nggak kayak lo, cuma bikin pusing. Lagian udah dua hari dia nggak masuk jang...”
            “gue ikut acara DTHA kok. Lo nggak bakal kesepian,” Ray menoleh dari sumber suara. Ia hanya melonggo melihat Rama ternyata duduk dibelakngnya dan kini terseyum padanya.
            “cie cie. Tuh Ram temenin Ray. Semenjak kenal lo Ray jadi sering cmewew,”
            “apaan sih lo La! Gue pecat tahu rasa lo,”
            Ray, Mella, Rama dan lainnya mendengarkan penjelasan ketua DTHA yang sedang menjelaskan mengenai keberangkatan dan apa saja yang harus dibawa untuk pendakian. Rencananya, acara ini akan dilakukan empat hari lagi tepat sehari setelah penerimaan rapor.
            Ray dan Rama kini semakin dekat, mereka berdua terlihat seperti pacaran. Mendengar Ray dan Rama akan mengikuti acara DTHA, Grasia juga mendaftaran diri untuk mengikuti kegiatan yang serupa. Ia tak rela melihat Ray dan Rama berduaan.
            “gue denger pacar lo ikutan juga ya?” tanya Ray pada Rama.
            “ngaco lo. Gue nggak punya pacar,”
            “nah tu Grasia lo kemanain? Dia kan fans setia lo,”goda Ray.
            “tuh nenek lampir ikut juga? Ya Allah kena kutuk apa hambamu ini. Acara berduaan bareng Ara bisa gatot nih,” Rama menaik turunkan alis menggoda Ray.
            “yeee. Dasar berle,”

∂∂

            Hari yang ditunggu-tunggu siswa SMA Dhimika 2 telah tiba. Hari ini siswa SMA Dhimika 2 akan melakukan camping ekstrakulikuler DTHA di Bumi Perkemahan Balangan. Kegiatan ini dikuti 10 siswa kelas X, 6 siswa kelas XI sebagai ketua masing-masing kelompok dan 4 siswa kelas dua belas sebagai penanggung jawab acara dan salah seorang kelas XII itu adalah Grasia.
            Semua penanggung jawab adalah orang-orang yang sudah sering ikut mendaki kecuali Grasia. Menurut kabar burung, Grasia mengikuti camp hanya karena ingin ngintil dengan Rama. Ia merasa hanya dia yang pantas untuk bersanding dengan Rama.
            “gila tuh anak, niat banget ngejar Rama. Kalo gue mah ogah,” komentar Ray setelah mendengar cerita Mella mengenai Grasia.
            “alaah lo nggak usah ngeles mulu lo! Gue tahu kali kalo lo sebenernya suka kan sama Rama?” tebak Mella.
            “gu..gue nggak nggak...”
            “tuh kan gagap. Itu berarti lo beneran suka. Cerita dong sama gue,”
            “gimana ya La? Gue tuh bingung sama diri gue sendiri. Di satu sisi gue ngerasa nyaman banget sama Rama, gue ngerasa dia itu mirip banget sama Ian. Dia bisa jaga gue, gue bisa percaya sama dia. Tapi...” kalimat Ray terhenti. Ia diam sesaat.
Ray sendiri bimbang dengan apa yang dia rasa. Baginya berbagi cerita dengan orang lain tidak akan membuat orang itu merasa apa yang Ray rasakan. Ia biasanya hanya akan curhat dengan orang-orang yang benar-benar sudah ia percaya. Bahkan sampai detik ini Mella tidak tahu mengapa Ray sering ikut tawuran, mengapa Ray sangat menutup diri dengan laki-laki dan apapun mengenai sifat Ray. Setahu Mella Ray memang banyak pikiran, tapi Ray begitu pandai menyembunyikannya. Mella hanya tahu secara garis besar apa yang menimpa Ray dua tahun yang lalu, tentang Ian, dan tentang ayah tirinya. Untuk masalah pribadi Ray, Mella tidak pernah sekalipun untuk menyinggungnya.
“...tapi gue nggak mau dia celaka gara-gara gue. Dia hampir dihajar gara-gara gue. Gue nggak mau kejadian yang menimpa Ian terjadi juga sama Rama.” Ray menunduk.
“gimanapun Rama sama Ian itu dua orang yang berbeda. Lo tahu nggak kalo lo sekarang deket sama Rama gara-gara lo nganggep dia kayak kak Ian apa dia nggak sakit hati? Toh gue liat Rama tulus ngelindungi lo. Ayolah, jangan nyalahin diri lo terus. Semua itu kecelakaan. Gue tahu lo emang sayang banget sama Ian. Mending lo lupain Rama kalau lo masih nganggep dia Ian, atau...”
“atau apa?”
“lo buka hati lo lah. Sadar Ray lo hidup di masa sekarang bukan masa lalu. Udah ah ngomong sama lo bikin gue laper.” Mella meninggalkan Ray yang terbengong-bengong mendengar apa yang dikatakan Mella.     
“gila belum ada sejam di sini tuh orang udah kerasukan aja, hii” Ray meninggalkan tempat itu untuk menyusul Mella.
∂∂

            Siswa yang mengikuti kegiatan DTHA berkumpul untuk absensi. Satu per satu nama-nama yang terdaftar diabsen. Pak Gio sebagai pembimbing acara menerangkan jadwal kegiatan apa saja yang akan dilakukan tiga hari kedepan. 20 orang dibagi menjadi 4 kelompok yang masing-masing terdiri atas 1 siswa kelas XII dan sisanya bebas.
            Ray satu kelompok dengan Mella, Valhen, Andre, dan Grasia. Ray, Mella, dan Grasia merasa sangat sial hari itu karena mereka bertiga harus satu tenda pula.
            “bujubuneng kayaknya nih tempat bakal membawa gue kesialan mulu deh,” umpat Ray saat mendengar namanya disebut.
            “tenang aja ada gue kok,” hibur Valhen.
            Ray hanya nyengir. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Valhen. Sejak awal pertemuan mereka dulu, Ray sudah tidak suka melihat tingkah polah Valhen. Ray merasa Valhen selalu memandangnya dimanapun Ray dan Mella berada dan tatapannya selalu aneh.
            Kerena mereka sampai saat matahari benar-benar berada di tengah langit, maka hari ini kegiatan yang dilakukan hanyalah mendirikan tenda dan merapikan perlengkapan.
            Tenda Ray berdiri dengan tegap. Ia, Valhen dan Andre berhasil mendirikan tenda setelah hampir satu jam tenda yang mereka dirikan selalu doyong sebelah. Sementara mereka bertiga sibuk mendirikan tenda Mella dan Grasia malah enak-enakan tidur dibawah pohon yang rindang. Memang terlihat begitu semilir di bawah pohon itu. Saat camping seperti ini, Ray selalu membawa gitar kesayangannya untuk mengisi kejenuhan.
            Ray yang mengidap insomnia sejak SMP selalu memetik gitar dimalam hari. Ia merasa kesepian karena tidak pernah ada yang bisa menemeninya saat penyakitnya melanda. Siang-siang seperti ini sebagian siswa sudah tertidur karena kecapekan seharian mendirikan tenda.
            Malam telah datang. Karena dikaki gunung, angin dingin menembus hingga ke tulang-tulang. Ray dan semua anggota DTHA berkumpul sekitar api unggun yang sengaja dibuat untuk sekedar menghangatkan tubuh. Jam sudah menunjukan pukul 22.45, terlihat wajah–wajah mengantuk dan sesekali menguap. Tak lama kemudian satu per satu siswa meninggalkan api unggun untuk pergi tidur. Tersisalah Ray, bahkan saat di alam liar pun insomnia Ray menyerang. Ia hanya seorang diri ditemani gitarnya.
            Ray memetik gitarnya, memainkan intro sebuah lagu. Ray bergumang tidak jelas. Ia tak ingin ada yang mendengarnya bernyanyi. Lama-kelamaan Ray mulai terbawa suasana. Ia mulai bernyanyi.
∂∂

            Malam ini tak seperti biasanya Rama sulit tidur padahal biasanya ia tukang tidur. Rama bangun dan membangunkan Andre untuk menemaninya. Andre hanya bergeming namun tak juga bangun. Rama melipat tangan di dadanya kerana hawa dingin mulai menyelinap masuk melalui lengannya.
            Rama keluar dari tenda dan menuju api unggun dinyalakan. Rama menghentikan langkahnya, ia mendengar ada suara perempuan yang tengah bernyanyi. Apa iya jaman moderen kayak gini ada hantu? Masak iya hantu punya suara merdu banget! Tanya Rama pada dirinya sendiri. Ia semakin mendekat. Rama melihat ada seorang perempuan sendirian duduk dengan gitarnya. Raut wajahnya gelap karena cahaya api yang tepat di depannya. Lagu itu semakin terdengar jelas.
            “...namun cintamu abadii...hooo uwouwo”
            “Ra? Elo Ray bukan?” tanya Rama hati-hati. Perasaannya was-was jangan-jangan saat gadis itu mendengok wajahnya rata. Hiii.
            “yaa? Ada apa Ram?” Ray mendongak. Bukannya hantu bewajah rata melainkan wajah Ray yang bercayahaya karena pantulan api.
            “ngapain lo malem-malem kayak gini di sini? Sendirian lagi. Boleh gue temenin?” Rama mendekati Ray dan duduk di sebelahnya.
            “gue insomnia. Lo sendiri?” Ray menaruh gitar dipangkuannya.
            “nggak tahu nih. Kaki gue pengen banget jalan kesini. Nggak nyangka gue lo punya suara merdu banget,” puji Rama.
            “ah bisa aja lo,” Ray menonjok pelan bahu Rama.
            “ternyata masih banyak hal yang gue nggak tahu dari lo. Selain jago basket, pemberani, penyanyi, gitaris apa lagi?”
            Ray hanya tertawa mendengar ucapan jujur dari mulut Rama. “lo emang bener-bener mirip Ian” katanya dalam hati.
            “gue ajarin dong Ra,”
            “huahahaha” Ray makin menjadi-jadi. “lo nggak bisa main alat musik gitu? Hahaha padahal Ian jago banget main musik hahaha”
            “tapi gue bukan Ian,” Rama tersenyum palsu. Raut wajahnya berubah menjadi murung.
            “ups sory sory gue nggak maksud bandingin lo sama Ian. Maafin gue Ram. Maafin yaa?”
            “gue maafin asal lo nyanyiin lagu buat gue. Emmm” Rama kelihatan berfikir “lo suka ipang BIP kan? Lo nyanyiin gue yang bintang hidupku ntar gue maafin lo deh,”
            Ray tampak berfikir tak lama ia memberi kode bahwa ia setuju. Ray mulai memetik gitarnya, memainkan intro Bintang Hidupku dari Ipang BIP.
            “aku slalu bernyanyi...lagu yang engkau ciptakan kau nyanyikan...”Ray mulai bernyanyi pelan. Ia terlihat begitu menghayati. Rama hanya bisa  diam mendengar suara Ray, ia benar-benar terpesona. “...dan aku slalu ikuti semua cerita tentang mu...hari hari mu... kau jadi inspirasi ku ....smangat hidup...” Ray terus bernyayi sesuai lirik lagu.
Apapun yang kau lakukan
Baik dan buruk
Bagiku kau tetap indah
Tak satu pun alasan
untuk melupakan mu meninggalkanmu
Aku selalu berdiri mendukungmu
Di kala engkau terbang di kala engkau jatuh
Sampai mati ku kan tetap setia
Aku selalu berdiri dibelakang mu
Dikala kau dipuja di kala kau dihina
Sampai mati ku kan tetap membela
Kau tetap bintang ku
Kaulah semestaku
            ∂∂

            Bait demi bait lagu Ray nyayikan dengan indah. Ray tidak tahu mengapa Rama memintanya menyanyikan lagu itu. “...kaulah se..mesta..kuu u” Ray mengakhiri lagunya.
            “lo juga bintang gue Ra,” kata Rama pelan.
            “apa lo bilang? Yee gue kan nyanyinya karna lo minta bukan kemauan gue. Geer banget sih lo,” Ray salah tingkah. Ia membetulkan topi yang sebenarnya sudah rapi.
            “gue nggak tahu apa yang membawa lo ke Dhimika 2...” Rama memandang mata Ray lekat-lakat. Ia meraih tangan kanan Ray yang memegangi gitar. Tangan itu Rama genggam kuat-kuat, “dan gue nggak peduli itu semua. Gue mohon sama lo jangan samain gue sama Ian, gue bukan Ian dan nggak akan pernah jadi Ian,”
            Ray terkesima. Ia tak menyangka Rama menyadarinya. Menyadari bahwa selama ini Ray menganggap Rama seperti Ian, kakaknya. “maafin gue Ram. Tapi gue nggak tahu kenapa gue bisa berfikiran kalo lo itu mirip banget sama Ian.”
            “gue beda! Gue nggak akan ninggalin lo sama kayak Ian ninggalin lo. Gue akan jaga lo dengan cara gue bukan cara Ian. Gue tahu Ian sayang sama lo sebagai adik tapi gue... gue sayang sama lo lebih dari Ian sayang sama lo. Ra boleh gue gantiin Ian di hati lo?”
            Ray diam seribu bahasa. Ia tak tahu apa maksud Rama. Dia nembak gue? Batin Ray. Ia bingung harus menerima atau menolaknya. Hati kecilnya memang menyayangi Rama tapi entah mengapa Rama belum bisa menggantikan Ian di hati Ray.
            “gue nggak akan pernah mengganti Ian dengan siapapun termasuk lo,” tolak Ray halus sambil melepaskan tangan Rama. Ia memandang Rama.
            “tapi kenapa?”
            “karena lo punya tempat lain di hati gue,” jawab Ray pelan sambil meninggalkan Rama.
            Rama melongo. Apakah itu berarti iya? Apakah ucapan Ray barusan bukan mimpi? Rama mempunyai tempat sendiri di hati Ray. Belum sempat Rama bertanya, Ray sudah masuk ke tenda. Gue di terima? Tanya Rama pada dirinya sendiri.
            “aaaaaaaaaaaa” Rama berteriak kencang. Ia lega karena sudah bisa mengungkapkan isi hatinya kepada Ray.
            “PARAMA HARJUNA!!” Pak Gio dengan lantang memanggil nama lengkap Rama. “ngapain kamu malam-malam begini teriak-teriak? Kembali ke tenda kamu!”

∂∂

sembilan

            Hari ini rencana pendakian Gunung Balungan. Pendakian dimulai pukul 06.30 pagi dan diperkirakan akan sampai di perkemahan selama-lamanya pukul 2 siang. Pendakian di pimpin oleh kelompok Rama dan di belakang sendiri adalah kelompok Ray.
            Sepanjang pendakian, Grasia selalu mengeluh. Setiap lima menit ia selalu meminta untuk istirahat dan akhirnya Valhen dan Andre yang kewalahan karena bergantian menggendong Grasia. Mella yang tidak pernah berolah raga berat terlihat terengah-engah.
            “capek La?” tanya Valhen peduli.
            “lumayan lah. Maklum gue kan amatiran. Nggak kayak Ray tuh yang doyang banget mendaki gunung. Udah kayak ninja hatori tuh anak. Mendaki gunung lewati lembah...” Mella bernyanyi tidak jelas. Ia menyanyikan potongan ost Ninja Hatori.
            “tuh kan gue diem aja kali,” Ray sewot.
            Pendakian menuju puncak memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Sebenarnya bisa ditempuh dengan waktu dua jam namun gara-gara Grasia yang manja waktunya terbuang sia-sia.
            “waaa indah banget!” teriak Grasia setelah sampai puncak. “fotoin gue dong,” Grasia mengulurkan camera saku miliknya.
            Sementara Grasia sibuk berfoto dan alhasil Andre menjadi korbannya. Andre dipaksa Grasia untuk menjadi fotografer dadakan. Ray dan Mella menikmati pemandangan di puncak Gunung Balungan. Perjuangan mereka untuk mencapai puncak terbayar dengan indahnya pemandangan. Perkemahan mereka terlihat seperti titik-titik kecil berwarna-warni. Sangat indah. Namun sayang, mereka tidak boleh berlama-lama berada di puncak. Mereka harus berada di pos satu sebelum jam 2.
            “udah waktunya kita turun,” Valhen mengingatkan.
            “yaaah padahal baru aja gue mau istirahat,”jawab Grasia.
            “dasar manja” komen Ray.
            “eh elo!” Grasia menunjuk Ray, “gue mau tantang lo. Siapa yang duluan sampe pos satu dia yang jadi pemenang. Berani nggak lo? Yang menang bebas lakuin apa aja sama yang kalah,”
            “setuju!” Ray menjabat tangan Grasia pertanda ia sepakat dengan tantangan Grasia.
            Dilihat secara fisik Ray pasti akan menjadi pemenang, namun bola itu bundar. Pasti akan banyak cara yang akan dilakukan Grasia agar bisa memenangkan taruhan.
∂∂

           
            Ray memimpin di depan sementara Grasia jauh di belakang. Ray sudah sampai di pos 2. Ia beristirahat sambil mencari penjaga pos untuk absensi. Siswa yang melakukan pendakian wajib untuk lapor di tiap pos.
            Dari kejauhan Grasia terlihat terengah-engah. Ia berjalan sempoyongan mendekati Ray.
            “air Ray. Lo punya nggak? Punya gue habis nih,” Ray mengeluarkan botol air mineral yang tinggal separo isinya. Ia membeikannya kepada Grasia.
            “thanks,” Grasia mengembalikan botol yang tidak tersisa sedikitpun airnya. “betewe penjaga posnya mana?” Grasia heran melihat pos 2 sepi tak berpenghuni.
            “kalo lo tanya gue terus gue harus tanya siapa? Rumput yang bergoyang?”
            “rese lo!”
            Cukup lama Grasia dan Ray menunggu dan akhirnya penjaga pos 2 datang juga.
            “kak Dimas!” panggil Ray.
            “sok kenal banget sih lo,”
            Ray tidak memperdulikan Grasia. Ia menghampiri orang yang ia panggil Kak Dimas tadi. Grasia mengekor di belakang Ray. Ia mengambil absensi kemudian menandatanganinya.
            “gue duluan yaa. Daaaa,” Grasia meninggalkan Ray dan si penjaga pos 2.
            Orang yang dipanggil Ray ternyata adalah Dimas sahabat Ian. Wajahnya memang tidak berubah hanya badannya yang semakin berotot. Ray dan Dimas berpelukan seperti kakak dan adik.
            “bisa kebetulan banget ya Ray kita ketemu di sini,” Dimas melepaskan pelukannya.
            “ih gue kangen banget sama lo kak. Terakhir gue ketemu waktu pemakaman Ian. Kakak kuliah dimana sekarang?” Ray dan Dimas duduk di gazebo yang sengaja disediakan untuk pendaki.
            “gue kuliah di Bandung sih Ray makanya kita jarang ketemu. Lo sendiri esema mana? Setahu gue ada tiga esema yang mendaki pagi ini,”
            “Dhimika dua kak,” jawab Ray singkat.
            Dimas hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ray. Tak perlu menanyakan lagi kenapa ia memilih Dhimika 2. Ray benar-benar keras kepala. Ia wanita yang tangguh.
∂∂

            “yah gue bisa kalah ni,” Ray terkejut melihat angka di jam tangannya yang menunjukan pukul 12:30. Ia tak mengira hanya dengan bercakap tukar cerita dengan Dimas bisa membuat ia lupa waktu. Mungkin Grasia sudah sampai di pos satu. Mampus gue, batin Ray.
            “kalah?” Dimas tampak bingung.
            “iya tadi gue taruhan sama anak yang bareng gue tadi. Yah kak, padahal gue pengen banget bisa ngobrol lagi sama lo,” ujar Ray sedih.
            “gue tahu jalan yang cepet sampai pos satu. Itung-itung sekalian gue reuni.”
            Dimas menemani Ray melewati jalan pintas. Sebenarnya bukan jalan pintas tetapi jalur yang lebih sulit. Sekitar level tertinggi diantara level pendakian. Ray dan Dimas harus menuruni jalan dengan sudut kemiringan 80°. Ray yang orang awam merasa medan yang dilaluinya berbahaya.
            Tak lebih dari satu jam Ray sudah dekat dengan pos satu. Gardu pos sudah terlihat namun tak ada tanda-tanda Grasia di sekitar pos. Ray duduk meluruskan kakinya sambil mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
            “demi apapun baru kali ini gue lewat jalan begituan kak,” kata Ray ditengah nafasnya yang naik turun.
            “itu baru namanya mendaki” Dimas mengacak-acak rambut Ray yang terikat rapi. “siapa tu?”
            Dari arah barat terlihat Grasia sedang berlari menuju pos satu. Wajahnya blepotan tanah dan bajunya sudah kotor. Grasia berhenti di jalan sambil membungkuk memegangi perutnya. Wajahnya yang sumringah tiba-tiba berubah kecewa melihat Ray sudah sampai duluan. Grasia meneruskan langkahnya menghampiri Ray.
            “lo terbang apa? Cepet amat nyampeknya. Perasaan gue nggak ngerasa lo lewatin deh,”
            “kalo gue ngelewatin lo ntar lo frustasi lagi kalah sebelum sampai. Yang jelas gue menang!”
            “ah masa bodo yang penting gue mau balik ke tenda dulu. Gue capek.”
            Grasia, Ray, dan Dimas menuju perkemahan. Di sana sudah berkumpul semua anggota DTHA. Ternyata mereka memang sengaja menunggu Ray dan Grasia yang rupanya sangat molor dari waktu yang ditentukan.
∂∂

            “RAAAAY!!” suara cempreng yang tak asing de telinga Ray. Siapa lagi kalau bukan Mella.
            Mella berlari menghampiri Ray dan segera memeluknya. “lo nggak papa kan? Dari mana aja sih lo? Gimana lo menang nggak? Trus itu siapa? Kok kayaknya gue pernah liat,” berondong pertanyaan Mella untuk Ray.
            Bukannya menjawab pertanyaan Mella, Ray malah memegang kening Ray. Seperti sedang memastikan Mella sedang demam atau tidak. Mella merasa tingkah aneh Ray menepis tangannya. “oo yaa yaa,” Ray seperti dokter yang mengetahui keadaan pasiennya.
            “apaan sih lo?”
            “habisnya lo nanya kayak kereta gitu. Gue jawab nih, pasang telinga lebar-lebar. Pertama seperti yang lo lihat gue nggak papa. Kedua gue tadi ngobrol dulu sama Kak Dimas di pos dua jadi gue lama. Ketiga gue menang dan terakhir, La kenalin ini Kak Dimas temen Ian, Kak ini Mella temen gue. Iya jelas, lo pernah liat waktu pemakaman Ian” jawab Ray tak kalah panjang.
            Mella menjabat tangan Dimas. Ray dan Mella mengajak Dimas ke tenda mereka untuk meneruskan obrolan Ray yang sempat tertunda.
∂∂

            “jadi lo beneran nggak tahu apa-apa soal Ray? Lo ngaku pacarnya tapi nggak tahu apa-apa tentang dia!” kata Dimas marah. Ia sedang berbincang dengan Rama di tenda. Saat ini tenda sepi penghuni karena mereka berada di api unggun.
            Setelah reuni dengan guru-guru pembimbing, Dimas sedikit mencuri informasi dari Mella yang notabene emang ceplas-ceplos. Menurut mulut Mella, Ray dekat dengan Rama. Dimas yang ternyata sudah mengenal Rama langsung mendekatinya dan mengajaknya bicara empat mata.
            Dimas bertanya sedikit mengenai Ray. Rama menceritakan semua kejadian yang menimpa Ray. Dimas tak menyangka Ray sungguh-sungguh dengan janjinya pada Ian.
            “setahu gue sih kelakuan dia itu cuma kerena melampiaskan kemarahnnya sama ayah tirinya dan kematian Ian. Gue sama sekali nggak tahu faktor lainnya,” ulang Rama.
            “gue nggak bisa bilang apa-apa sama lo. Gue cuma nggak mau negatif tingking aja sama Ray. Lo nggak tahu sih gimana bengalnya Ray waktu esempe dulu,”
            Dimas mulai menceritakan masa-masa Ray saat setelah kematian Ian. Ia selalu tawuran kesana-sini tanpa sepengetahuan mamanya. Gimana ia bener-bener pengen menghancurkan Stela Mulia. Dimas juga menceritakan bagaimana Ian dan dia dulunya. Selalu membela Dhimika 2. Apapun resikonya akan mereka hadapi.
            “jadi itu janjinya?” tanya Rama. Dimas hanya mengangguk.
            “sekarang gue jadi nggak tenang kuliah di Bandung setelah gue tahu Ray masuk Dhimika dua. Dia cuma nurut apa kata Ian. Dan baginya apa yang gue bilang selalu sejalan dengan Ian...”
            “lo nggak perlu kawatir. Gue bakal jaga dia. Gue nggak akan ngebiarin Ray terlibat perkelahian lagi dalam bentuk apapun. Gue janji sama diri gue sendiri,”
            “gue pegang kata-kata lo! Bukannya gue ngancem tapi kalau sampai terjadi apa-apa sama Ray orang yang pertama kali gue cari lo!”
            “lo bisa percaya gue,”
            Dimas berdiri menuju api unggun disusul Rama. Mereka membaur bersama dengan anggota DTHA lainnya. Mereka sedang asik bernyanyi dengan iringan gitar Ray. Bersama-sama menghangatkan dinginya hawa pegunungan.
∂∂

            Akhirnya tiba juga hari penutupan kegiatan DTHA. Kegiatan itu ditutup dengan menanam pohon di kaki gunung Balungan. Semua anggota wajib menanam minimal satu pohon.
            Selesai merapikan barang-barang anggota DTHA menaiki bus untuk kembali ke Jakarta tercinta. Saat subuh seperti ini hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Ray duduk dengan Mella, mereka tampak tertidur pulas.
            Rama berjalan menyusuri bangku penumpang. Ia memperhatikan setiap orang yang duduk. Rama mengambil ponselnya dan mengabadikan wajah-wajah unik yang sedang tidur. Mulai dari deret belakang hingga yang depan.
            Ray dan Mella duduk di deret keempat setelah Grasia. Rama mendangi wajah Ray yang tertidur. Wajahnya tampak lugu, sama sekali tak menyangka dibalik wajah lugunya terdapat jiwa pemberani dan kuat. Rama mengambil beberapa gambar Ray yang tertidur pulas. Seperti merasa tidurnya terganngu, setiap satu jepretan Ray pasti berganti posisi tudur. Membuat koleksi foto di ponsel Rama bertambah.
            “iiih apaan sih lo? Iseng banget gue bilangin Rama lo,” Ray menepis tangan Rama yang memotretnya. Rupanya Ray mengira orang yang memotretnya adalah Mella. Ia mengigau dan menyebut nama Rama. Rama hanya tertawa melihat tingkah Ray.
            Bus melaju meninggalkan kawasan Balungan. Kini semakin sekat dengan Jakarta. Setelah melewati tugu selamat jalan itu berarti tidak akan lama lagi mereka akan sampai.


















sepuluh

            Kegiatan belajar mengajar semester dua sudah dimulai. Ray kembali menjadi siswi SMA Dhimika 2 setelah dua minggu ia cuti menjadi siswa. Banyak diantara siswa-siswi SMA Dhimika 2 yang semangat sekolah dan sebagian juga masih belum siap dengan deretan angka dan huruf.
            Memasuki ajaran semester 2, bagi kelas XII adalah semester yang menentukan akhir perjuangan mereka selama dua tahun bersekolah. Ujian Akhir Nasional akan diselenggarakan bulan April, berarti hanya tinggal empat bulan. Selama empat bulan itu juga siswa kelas XII selalu menghabiskan hari dengan latihan-latihan untuk UNAS. Termasuk Rama. Ia jarang nongkrong sepulang sekolah seperti biasanya.
            Rama yang terkenal sebagai leader SMA Dhimika 2 juga rajin mengikuti latihan UNAS. Meskipun predikatnya sering jelek di mata guru-guru, namun nilai rapor Rama tak ada satu pun yang merah. Ia bahkan tidak pernah remidial saat ujian. Mungkin itu salah satu sebab mengapa Rama dan pentolan Dhimika 2 lainnya tidak dikeluarkan dari sekolah. Melihat banyaknya skorsing dan poin di buku pelanggaran, namun pentolan Dhimika 2 rata-rata adalah siswa berprestasi baik akademik maupun non akademik.
            Sebagian anak yang sering ikut tawuran adalah anak program IPA hanya segelintir yang program IPS. Andre misalnya, poin di buku pelanggarannya nyaris 100 namun poin di buku prestasinya juga tak kalah banyak. Andre adalah kapten tim futsal SMA Dhimika 2. Ia sering mengangkat piala kemenangan. Lain lagi dengan Rama, ia selalu termasuk 5 besar di kelasnya. Poin negatifnya sudah lebih dari 100, menurut peraturan ia seharusnya sudah di drop out dari sekolah namun prestasinya patut dibanggakan. Selain kapten basket, Rama juga sering ikut olimpiade kimia. Kurang apa coba? Negatif segudang positifnya seabreg.
            Ray merasa kesepian, Rama jarang menemaninya saat latihan di Dhimika 2. Ia lebih sering bersama Valhen dan Mella. Rama juga jarang berlatih di MBC. Meskipun Ray memakluminya namun ia tak dapat mengelak kalau dia kangen dengan Rama.

∂∂
           
            “jadi lo beneran pacaran sama Rama?” tanya Mella masih tak percaya dengan apa yang baru saja Ray katakan. Ray menceritakan semua kejadian saat DTHA. Saat ia bernyanyi, saat Rama mengungkapkan perasaannya dan saat ia secara tidak langsung menerima Rama sebagai pengganti Ian.
            Ray hanya mengangguk. Rambutnya yang diekor kuda berkibas.
            “jahat banget sih lo! Kenapa baru sekarang lo ceritanya,” wajah Mella manyun. Ia melipat tangannya di dada, pura-pura marah.
            “maaf deh La. Habis gue bingung sih. Hehe,” Ray hanya tertawa.
            “oyaa baru inget gue. Taruhan lo sama Grasia apa kabar? Kayaknya setelah sampai tenda lo nggak ungkit-ungkit lagi deh,” Mella mengingatkan taruhan Ray dengan Grasia saat DTHA.
            “oyaa. Enaknya gue apain ya tuh anak...” Ray dan Mella sama-sama berfikir.
            “ahaa!” teriak mereka bebarengan.

∂∂

            Ray dan Grasia sudah janjian di Montero, salah satu restoran ternama di Jakarta. Ray meminta Grasia membayar taruhannya dengan mentraktirnya di Montero. Ray memang datang sendirian, namun ia tak mungkin lupa dengan Mella. Ia meminta Mella duduk berjauhan dengannya dan Grasia. Agar rencana mereka tidak berantakan.
            “awas yaa kalo lo sampe nggak bayar pesenan gue! Gue botakin tuh rambut lo,” Ray mengancam.
            Tak lama kemudian seorang pelayan restoran mendorong kereta baki berisi semua pesanan Ray. Ray memesan banyak sekali sampai-sampai pelayan yang melayani mereka heran. Wong cuma berdua kok pesannya kayak sekampung, kata seorang pelayan.
            “gila lo! Bisa habis tabungan gue,” Grasia ketar-ketir melihat pesanan Ray diantarkan.
            Ada blackvelvet, manggoeschips, orange squash, sate kerang dan banyak lagi. Meja mereka penuh dengan makanan. Ray mulai menyantap makananya sementara Grasia hanya makan kentang goreng. Montero memang menyediakan berbagai makanan, mulai dari yang western, jepang, thailand bahkan yang indonesia banget. Lengkap deh pokonya. Tapi harganya tidak sesuai dengan kantong pelajar bahkan pelajar konglomerat seperti Grasia.
            Grasia memang kaya, ia sering mentraktir gengnya. Namun baru kali ini ia mentraktir orang di Montero. Bahkan pacar Grasiapun tak pernah mentraktirnya di sini. Montero memang tempatnya orang berjas dan wisatawan yang tajir. Bisa bayangkan harga minuman saja berkisar dari 45-115 ribu apalagi makananya.
            “waa lo makan nggak ajak-ajak gue lo!” kata Mella tiba-tiba.
            “gue aja cuma ditraktir Grasia. Tuh masih ada, makan aja,” Ray dengan pede menawarkan makananya kepada Mella. Alhasil Mella ikut menikmati traktiran Grasia.
∂∂

            Ray dan Mella selesai melahap habis makanan di meja mereka. Tak lama kemudian waiters datang membawa bill. Grasia melihat sekilas dan terkejut.
            “gila! Gue bisa nggak ke salon sebulan ini!” Grasia nampak shock berat.
            “berapa sih? Berapa?” Ray sok ingin mengetahui total makanan mereka. Ia langsung melihat bagian bawah kertas yang menunjukan total harga. “buset dah. Ini mah gaji gue sebulan.”
            Grasia tampak berapi api-api. Ia mengeluarkan kartu ATMnya dan memberikannya kepada waiters yang sejak tadi menunggu. Grasia memberikannya dengan tidak ihklas, nampak sekali dengan wajahnya yang ditekuk-tekuk.
            “puas lo? Gue udah nggak ada utang lagi ya sama lo. Jangan ganggu gue lagi,” Grasia meninggalkan Mella dan Ray.
            Setelah Grasia meninggalkan Montero Ray dan Mella hanya bisa tertawa. Mereka merasa sangat puas bisa mengerjai Grasia. Tapi apa tidak keterlaluan jika total makan mereka hampir 1,5 juta?
“Itu sih nggak cuma keterlaluan kalau kata Syahrini sih cetar membahana topan Ray,” kata Mella sambil meniru gaya bicara Syahrini yang khas.
∂∂

            “tumben lo nggak bawa motor?” tanya Rama penasaran. Tadi pagi-pagi sebelum subuh, Ray sudah membangunkan Rama. Ia meminta Rama untuk menjemputnya di rumah.
            Hari ini Ray memang sengaja tidak membawa motor. Ia beralasan bahwa motornya masuk bengkel, padahal motornya tertata rapi di garasi beserta mobil mamanya.
            “ini tuh modus tau,” Ray menaiki motor Rama. “daa mama,” pamitnya kepada Asna.
            Sepanjang perjalan menuju SMA Dhimika 2, Ray dan Rama bercerita banyak hal. Rama mengendarai ninjanya hanya dengan kecepatan 40km/jam. Ia sengaja berangkat pagi agar bisa lebih lama berduaan dengan Ray.
            “lo tau nggak?” tanya Ray sambil turun dari motor. Ia dan Rama telah sampai di tempat parkir SMA Dhimika 2.
            “enggak,” Rama melepaskan helmnya.
            “orang pake ninja itu pertanda kalo orang itu pelit,” terang Ray.
            “nyatanya gue enggak tuh. Gue selalu bagi-bagi jawaban ke temen-temen gue,”
            “pelit soalnya joknya cuma muat satu orang. Jadi orang mau nebeng juga mikir dua kali. Hahaha”
            Rama gondok mendengar ucapa Ray. Rama hanya tertawa. Ia mengacak-acak rambut Ray yang sudah terikat rapi. “dasar lo. Anak gigi susu,” olok Rama.
            “percaya yang udah nggak punya gigi. Hahaha” Ray berlari meninggalkan Rama. Sementara yang ditinggalkan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah pacarnya itu.
            “pasti itu salah satu yang bikin Ian sayang banget sama lo,” kata Rama pelan sambil berjalan.
∂∂







Sebelas

            Sudah hampir empat bulan SMA Stela Mulia dan SMA Dhimika 2 tidak mengusik satu sama lain. Padahal Ray sudah kangen untuk melihat atau bahkan terlibat tawuran. Heran tawuran kok dikangenin!
            Semenjak kegiatan DTHA, Ray dan Dimas sering bertemu. Dimas sering menginap di rumah Ray. Mereka dan Rama kadang hang out bersama. Bahkan Ray dan Dimas bertukar motor. Ray kagum dengan motor Kawasaki KLX milik Dimas. Motor itu biasa di gunakan untuk medan yang tidak bisa menggunakan motor biasa seperti saat mendaki.
            Ray kini membawa motor Dimas dan Dimas menggunakan CBR hitam milik Ian. Mereka sepakat untuk bertukar motor selama sebulan. Motor Dimas memang tidak dipakai Ray saat sekolah. Tidak ada yang tahu kalau Ray kini mengendarai KLX milik Dimas.
∂∂

             Hari ini SMA Dhimika 2 mengadakan pertandingan persahabatan dengan SMA Stela Mulia. Kali ini yang akan dipertandingkan adalah cabang futsal. Pertandingan dilakukan di GOR SMA Dhimika 2. Siswa Dhimika 2 berkumpul di tribun penontong sebelah utara sementara siswa Stela Mulia berkumpul di tribun sebelah selatan.
            Sorak-sorai penggembira semakin menambah atmosfir pertandingan. Mengetahui terkenalnya permusuhan antara SMA Dhimika 2 dan Stela Mulia, pihak tuan rumah mendatangkan keamanan dari kantor polisi terdekat. Hal ini dikerenakan masing-masing sekolah pasti akan memulai pertengkaran. Entah karena tidak terima dengan hasil akhir ataupun karena sindiran satu sama lain.
            Skor saat ini 0-0 memasuki babak kedua. Sepanjang pertandingan Ray sama sekali tidak terlihat. Mella sudah berkeliling tribun mencari Ray, bahkan di telfonpun Ray tidak menjawab.
            “kemana sih tu anak,” gumamnya.
            Mella masih sibuk mencari dimana Ray. Ia sampai tidak memperhatikan sepanjang pertandingan berlangsung. Apabila ada yang teriak ia juga akan ikut teriak. Entah mengapa Mella kawatir dengan Ray.
            Mata Mella masih terus mencari sosok Ray di antara ratusan penonton. Mella mencari nama seseorang di phonebooknya. Ia segera menghubungi nomor yang sudah tersimpan di memori hapenya.
            “halo?..Ray sama lo nggak?..haa? apa nggak kedengeran?...enggak? gue juga nggak tahu..coba lo cari deh gue kawatir Ram sama dia..oke thanks..tuut” sambungan berakhir. Rupanya Mella menghubungi Rama memastikan apakah Ray bersamanya. “jangan jangan...”
∂∂

            Ray keluar dari kamar mandi. Ia sudah menganti baju sekolahnya dengan pakaian bebas. Ray tidak suka melihat pertandingan futsal. Baginya futsal adalah olahraga paling garing di dunia setelah sepak bola. Ia memilih untuk duduk dekat pos satpam, tempat biasa ia dan teman-temannya nongkrong sepulang sekolah.
            Ray memegang Iphonenya yang sedari tadi bernyayi reff firework milik katty perry.
Mellanie
Itulah nama yang tertera di layar Iphonenya. Ini sudah kesekian kalinya Mella menelephon Ray, namun tak ada satu pun yang ia angkat. Bahkan telephon dari Rama dan smsnya tidak di hiraukan Ray. Ia sedang tidak ingin di ganggu siapapun. Ray menekan Iphonenya dan menon-aktifkannya. Kemudian ponsel itu ia masukan kedalam tas ranselnya.
            Ray melihat seseorang mengenakan seragam identitas SMA Stela Mulia. Ray bersembunyi di dalam pos satpam. Saat itu memang sangat sepi, hanya ada Ray. Polisi yang diminta untuk mengamankanpun berada di sekitar GOR. Ray seperti pernah melihat orang itu sebelumnya. Orang itu semakin mendekat menuju tempat parkir yang biasanya digunakan pentolan Dhimika 2.
            Siapa orang itu dan mau apa dia? Ray penasaran melihat gerak-gerik anak Stela Mulia itu. Ray mengikuti diam-diam orang itu.
            “mau apa lo?” Ray mengagetkan orang yang entah mau apa. Di tangannya ada semacam pemotong kuku yang berukuran besar. Bagian yang biasanya digunakan untuk membersihkan kotoran kuku terlihat di keluarkan.
            Orang itu menoleh. Yudha! Batin Ray.
            “rupanya elo Ray? Lama kita nggak ketemu,” sapa Yudha.
            “ngapain lo di sini? Bukannya lo dipenjara?!” nafas Ray naik turun menahan emosi. Kedua tangannya dikepalkan tanda menyimpan dendam yang amat dalam.
            “weits santai dulu sayang. Apa sih sekarang yang nggak bisa dibeli hm?” tanyanya sok akrab. “bahkan nyawa kakak lo aja dengan mudah gue tebus pake uang. Hahaha” Yudha tertawa mengejek.
            “lo emang bukan manusia! Lo iblis!” teriak Ray.
            “apa lo nggak kangen sama gue hm? Lo nggak kangen sama orang yang pernah menghilangkan nyawa kakak lo? Maksud gue orang yang udah bunuh kakak lo?” Yudha terlihat puas mengatakan semua itu.
            Ray benar-benar marah ia menendang Yudha hingga tersungkur. Ray kemudian menginjak dadanya hingga keluar darah dari sudut bibir Yudha. Ray benar-benar mengeluarkan semua emosinya pada Yudha, semua dendamnya selama ini. Bahkan saat ia berkelahi dengan Adit ia tak pernah merasa semarah ini. Ia benar-benar ingin membunuh Yudha detik itu juga.
            ∂∂

            Yudha benar-benar tak bisa bangun. Meskipun ia sempat mebalas pukulan Ray, namun Ray sudah lebih dulu menghajar Yudha.
Buuuk. Satu lagi pukulan sekuat tenaga Ray arahkan ke pipi kanan Yudha. Yudha kembali terjatuh.
            “asal lo tahu” Ray masih terus memukul Yudha. “gue nggak takut yang namanya dipenjara! Biarpun gue harus dipenjara asal gue bisa bunuh lo, itu lebih dari cukup! Nyawa bales nyawa! Lo udah bunuh kakak gue!” buuuk. satu lagu tendangan Ray.
            Wajah Yudha sudah berdarah di bagian pelipisnya. Tidak hanya Yudha, pipi kiri dan sudut bibir Ray juga berdarah namun tak separah luka di wajah Yudha. Dada Ray naik turun karena menahan emosi. Air mata jatuh dari sudut matanya.
            “silahkan lo bunuh gue kalo lo berani!” tantang Yudha.
            Ray melepaskan cengkraman tangannya di kerah Yudha dan akan mengambil gunting kuku yang terpelanting saat Yudha tersungkur. “lo pikir gue takut!” Ray mengayunkan gunting kuku itu dan hendak ia tusukan ke perut Yudha. Namun gunting kuku itu malah ia lemparkan jauh dan memilih meninju dada Yudha. “ini buat apa yang lo pernah lo lakuin ke gue...”buuuk pukulan ke dua “ini buat lo yang udah hina kakak gue..”buuk pukulan ketiga “dan ini...ini atas perbuatan lo yang udah gebukin kakak gue! Satu lagi..”saat ia akan melayangkan tangannya, ia merasa tangannya ada yang menahan.
            “RAA!! Apa-apaan sih lo,” suara Rama. Rama yang menahan tangannya. Rama menarik Ray dan membawanya menjauh sementara Yudha ditarik salah seorang teman Rama.
            “dia orang yang udah bunuh Ian!” teriak Ray sambil menangis. “dan dia dengan bangga bilang itu ke gue! Dia bilang nyawa Ian bisa dibayar dengan uang Ram!” Ray histeris. Sebelumnya Rama tidak pernah melihat Ray menangis saat berkelahi, baru kali ini. Ia tak tahu harus berbuat apa. “minggir gue belum selesai bikin perhitungan sama dia!” Ray mencoba mendekati Yudha lagi. Namun ia ditahan oleh Rama.
            “apa-apaan sih lo Ra? Lo bisa masuk penjara kalau sampe Yudha mati! Lo jangan nekat!”
            “gue nggak takut dan nggak akan pernah takut masuk penjara! Gue nggak cupu kayak lo yang beraninya cuma keroyokan! Dan satu lagi...” Ray mengacungkan jari telunjuknya di wajah Rama. “JANGAN PERNAH IKUT CAMPUR URUSAN GUE!!”Buuk, Ray menghadiahkan satu tonjokan yang lumayan keras di pipi kanan Rama. Ia pun mengmbil motornya dan melaju motornya dengan kencang.
            Rama memegangi pipinya. “gila tu cewek!” batin Rama. Ia baru akan mengejar Ray namun tangannya di tahan oleh Mella.
            “jangan!” cegah Mella. “Ray nggak akan bunuh diri atau apa pun yang membahayakan nyawanya. Biarin aja dia sendiri.”
            Mella dan Rama meninggalkan tempat parkir sebelum polisi dan anak Stela Mulia lainnya datang. Rama tidak habis pikir kenapa Ray begitu nekat melakukan semua itu. Perbuatan yang seharusnya tidak ia lakukan. Ray hidup dalam dendam. Dalam kelam. Bagi Ray mata balas mata!
∂∂

            Ray mengendarai motornya dengan kencang. Ia tak tahu harus pergi kemana. Sudah seharian Ray berputar-putar tidak jelas. Ia kacau. Sangat kacau. Ray tak mengerti apakah Ian akan bangga ataukah justru kecewa. Ray membelokan motornya ke sebuah gang kecil.
            Ia menghentikan motornya dan berjalan menuju gerbang tempat itu. Ray menyusuri jalan setapak yang sudah disediakan. Ia berhenti dan memandang nisan itu.
Denesa Febrian Asmara
Bin
Esa Asmara
            Begitulah yang tertera pada nisan Ian. Ray duduk disebelah batu nisan itu. Dibelainya nisan itu sambil meneteska air mata.
            “kak,” Ray memanggil Ian seolah-olah nisan itu adalah Ian dan dapat menjawabnya. “tadi gue ketemu sama Yudha. Yudha gue hajar kak. Gue hampir bunuh dia. Tapi... kalau gue bunuh dia berarti gue sama iblisnya sama Yudha. Gue nggak mau...” Ray terisak “lo bangga nggak kalau gue bunuh Yudha? Atau lo kecewa? Kak,” panggil Ray sekali lagi. “gue nggak takut dipenjara, gue nggak takut apapun. Gue cuma takut sama Tuhan, gue bakalan takut kalau Tuhan marah sama gue dan gue juga takut kalau lo kecewa sama gue..” Ray menghentikan ucapannya. Ia hanya bisa menangis. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi.
            Ray merasa pundaknya dipegang oleh seseorang. Wajah Ray sumringah, “kak Ian,” katanya sambil menoleh.
            “gue tahu lo pasti di sini,” kata Dimas.
            Dimas langsung menuju Jakarta setelah ia mendapat telfon dari Rama. Rama menceritakan apa yang baru saja terjadi dengan Ray dan memohon agar menemukan Ray.
            “kak Dimas,”
            “Ray gue tahu lo pengen benget Ian tenang tapi apa lo tahu?..” Dimas menghentikan kalimatnya. Ia duduk di sebelah Ray. “Ian pasti akan jauh lebih tenang kalau lo bisa ikhlasin semua yang udah terjadi. Nasi udah jadi bubur Ray.” Dimas mencoba menasihati Ray.
            “tapi sampai detik ini gue masih nggak terima atas perbuata Yudha kak,” suaranya parau.
            “menurut lo apa gue terima? Nggak Ray! Gue justru merasa bersalah. Dimana gue saat Ian butuh bantuan, sahabat macam apa gue ini? Tapi gue berusaha ihklas, toh menyalahkan diri sendiri nggak akan ngebuat Ian ada lagi sama kita kan? Kakak tahu mungkin banyak orang yang berfikir kalau itu salah lo, tapi... apa lo pernah berfikir kalau semua itu adalah takdir?”
            Ray hanya diam. Ia mencoba meresapi semua perkataan Dimas yang begitu mirip dengan cara Ian menasihatinya dulu.
            “takdir?” Ray heran. Bagaimana mungkin sebuah pembunuhan itu takdir!
            “iya. Takdir yang ngebuat lo masuk Dhimika dua dan akhirnya ketemu Rama. Gue nggak peduli gimana kalian ketemu awalnya yang jelas Rama orang yang udah nolongin lo waktu lo disandera bukan Ian! Bukannya kejadiaanya sama seperti dua tahun yang lalu? Sangat serupa, cuma yang lo tolong dan nolongin lo Rama bukan Ian. Apa itu nggak bisa disebut takdir?” jelas Rama.
            Ray tak pernah menyadarinya. Benar juga apa yang Dimas ucapkan. Kejadiaan saat Rama menolongnya sama persis dengan kejadian saat Ian dulu menolongnya, hanya saja Rama tidak lantas meninggalkan Ray. Ray mulai menyadarinya. Ia termenung cukup lama. Hingga akhirnya hari menjelang magrib.
∂∂





duabelas

            Rama masih mencoba untuk menghubungi Ray. Sudah seminggu Ray tidak ada kabar setelah kejadian waktu itu. Rama mencoba mencarinya di MBC, di kelasnya, di rumahnya dan hasilnya nihil. Bahkan Mella sampai menangis di depan Rama karena ia juga tidak bisa menemukan Ray di manapun. Ray menghilang. Rencananya hari ini Rama ingin minta maaf karena telah mencampuri urusan pribadinya. Ia tak seharusnya bersikap seperti kemarin.
            Rama tak lupa menghubungi Dimas sesaat setelah kejadiaan itu. Sampai sekarang Dimas juga tidak bisa dihubungi. Padahal UNAS tinggal 2 bulan lagi dan fikiran Rama sangat tidak fokus. Ia takut terjadi hal buruk pada Ray. Bisa saja Ray datang ke SMA Stela Mulia seorang diri dan menghajar Yudha.
            “ah mana mungkin itu. Ra, lo kemana sih?” batin Rama.
            Rama mengambil motornya. Ia berencana latihan di MBC hari ini. Siapa tahu Ray ada di sana pikirnya. Semenjak kejadian Ray menghajar Yudha ia tak pernah kelihatan lagi. Bahkan Dimas yang sempat bisa di hubungi juga tak tahu di mana.
Ddrrrt drrrrt. Ponsel Rama bergetar, seperti getaran telefon.
Dimas. Nama yang tertera pada ponselnya. Rama menepikan motornya. Mencari tempat terdekat yang bisa ia gunakan untuk mengangkat telfon.
            “halo?” jawab Rama.
            “lo dimana? Ray sama lo?” suara Dimas tidak terdengar begitu jelas kerena suara bising kendaraan.
            “bukannya dia sama lo? Gue udah cari-cari dia tapi nggak ketemu...haa?..nggak jelas. Apa?...kuburan? nggak ada gue dah cek semua tempat yang Mamanya tahu...udah pulang?...dari mana? Sama lo?...” Rama mendengarkan perkataan Dimas yang berada entah dimana.
            “oke!”
            Rama memutar motornya. Ia mengendarai motornya menuju rumahnya bukan ke MBC.

∂∂

            Ray mengambil bolanya yang mengelinding dekat pintu masuk. Jam sudah menunjukan pukul 01.40 namun Ray masih belum puas. Ia masih butuh waktu untuk kembali ke hidupnya. Sudah satu minggu Ray menghilang. Selama itu, setiap malam ia selalu bermain basket sendirian di GOR MBC. Untung saja Ray dulu pernah menduplikat kunci GOR yang selalu di bawa Mella. Tak ada teman selain bola basketnya dan lampu yang menerangi GOR.
            Sudah sejak pukul 22.00 Ray berada di dalam GOR. MBC memang tidak pernah mengadakan latihan malam sehingga tempat itu bisa digunakan Ray kapanpun ia mau tanpa sepengetahuan orang lain. Ray meneruskan permainannya. Ia belum sangat lelah.
            Ray mengambil botol air mineral yang isinya tinggal separo itu. Ia meneguknya dan duduk di bance. Ray mengambil Iphonenya yang sudah seminggu ini ia matikan. Ray menghidupkan ponselnya itu.
95 new massage
187 misscall
            Ray hanya tersenyum melihat informasi yang tertera di layar ponselnya. Ada 187 panggilan yang mencoba menghubunginya. Meskipun tidak tersambung namun tetap tertera berapa kali orang-orang mencoba menghubungi Ray. 98 pesan yang berasal dari Mamanya, Mella, Dimas, dan Rama. Ray mengutak-atik layar ponselnya. Mencari lebih banyak informasi.
            Sebagian pesannya didominasi dari mamanya dan Rama. Sisanya hanya segelintir pesan dari Mella dan Dimas. Ray mengetik sebuah pesan singkat.
To: mamaaa
Ray gak papa maa. Ray nginep rmh temen. Ray akan plg secepatnya, mama gak usah kawatir
Send..
Ray mengetik pesan singkat untuk Mamanya.
            Ray kembali mengambil bola basket dan melemparnya ke arah ring. Ray mengejar kemana bola itu memenatul dan melemparkannya kembali ke ring.
            “gue tahu lo pasti di sini,” kata seseorang.
            “Rama?” balas Ray terkejut.
            Rupanya sedari tadi Rama berdiri di dekat pintu GOR MBC. Ia memperhatikan Ray yang bermain basket sendirian. “butuh musuh?” tanya Rama. Ray hanya mengangguk pertanda iya.
                                                                      ∂∂

            “thanks Ram,” Ray menerima air mineral yang di sodorkan Rama. Mereka berdua telah selesai adu satu lawan satu. Ray bermain sangat kacau. Tak pernah sebelumnya Rama melihat permainan Ray sekacau tadi. Ia sangat tidak terkontrol.
            “gue ..” Rama dan Ray bebarengan. Rama diam, membiarkan Ray berbicara terlebih dahulu.
            “gue ngerti lo peduli sama gue, tapi gue mohon jangan pernah ikut campur apapun masalah pribadi gue. Gue nggak mau siapapun terlibat masalah gue, gue nggak mau orang-orang yang peduli sama gue ikut terlibat atau bahkan dalam bahaya..”
            “maafin gue Ra,” potong Rama. “gue janji nggak akan ikut campur masalah pribadi lo. Gue akan ada saat lo bener-bener butuh, bukan malah mengganggu.” Rama menatap Ray. Tulus dan teduh, seperti saat Ian menatapnya. Rama tersenyum. Pipinya terlihat sedikit memar.
            “itu..” Ray memegang pipi Rama yang memar. “pasti gara-gara gue tonjok kemaren ya? Sory Ram sory gue nggak sengaja. Guee..” Ray menghentikan kalimatnya melihat jari telunjuk Rama berada di bibirnya.
            Rama menarik badan Ray mendekat padanya. Ia memeluk Ray. “jangan pernah bikin gue cemas lagi Ra,”bisik Rama ditelinga Ray. Ray hanya membenamkan wajahnya dipelukan Rama. “lo mau pulang kan?” tanya Rama melepaskan pelukannya.
            “mau.”
                                                                      ∂∂











tiga belas
           
            Ray kembali masuk sekolah seperti biasanya. Ia mendapatkan banyak panggilan dari guru BK dan wali kelasnya. Ray hanya beralasan bahwa ia sedang ada masalah keluarga yang harus ia selesaikan. Melihat mata Ray yang terlihat lelah, Bu Nista sebagai guru BK Ray tidak memperpanjang masalah. Ia hanya meminta Ray untuk mengejar ketinggalannya selama tidak masuk sekolah.
            Mendengar Ray kembali sekolah, Mella benar-benar sumringah. Ia memeluk Ray. Ia kangen sekali dengannya.
            “apa-apaan sih lo? Gue masih doyan cowok tau!” Ray melepaskan pelukan Mella.
            “gue kangen banget tau sama lo. Lo jahat banget sih Ray.” Mella pura-pura cemberut.
            “gue jahat kenapa?”
            “lo bolos sekolah nggak ngajak gue. Kurang jahat apa coba lo sebagai sahabat,”
            Ray hanya tertawa mendengar ucapan Mella. Dia itu beneran polos apa pura-pura polos sih? Tanya Ray dalam hati. Sejujurnya Ray tahu Mella benar-benar mengkhawatirkannya. Rama menceritakannya pada Ray. Mata Mella terlihat sembab. Melihat mata Mella yang sembab, Ray teringat dengan Mamanya. Mella yang onengnya minta ampun aja sampai sembab matanya gara-gara mikirin Ray apalagi orang yang melahirkannya.
            “La?”
            “hm?” Mella tidak menengok. Ia masih memandangi papan tulis yang penuh coretan spidol.
            “lo mau nggak temenin gue pulang sekolah ntar?”
            Mella tidak menjawab, ia malah sibuk menyalin coretan di papan tulis. Ray lama-lama kesal sendiri dengan Mella yang asik dengan matematika. Mau atau tidak Mella harus mau menemani Ray.
∂∂

            Ray dan Mella sedang berada di Vivalavicie Bakery. Salah satu toko roti yang terkenal di Jakarta Utara. Ray sibuk memilih cake sebagai permintaan maaf untuk mamanya. Ia merasa sangat berdosa telah membiarkan Mamanya khawatir.
            “yang ini gimana Ray?” Mella menunjuk cake yang ada di pojokan.
            “emang lo kira Mama gue mau ultah yang ke tujuh apa pake cake kayak gitu!” Ray kesal dengan Mella. Sudah sejak tadi pilihan cake Mella tidak sesuai situasi dan kondisi. Barusan ia menyarankan untuk membeli cake berukuran diameter 25cm yang dihiasi fondan berbentuk angry bird warni-warni yang bertuliskan Happy Birtday. Kurang sempurna apa coba Mella ini!
            “habisnya gue kesel dari tadi cake gue nggak ada yang elo setujuin sih!”
            “oke gue kasih kesempatan sekali lagi. Tapi kali ini harus serius, keburu sore entar.”
            “siap bos!” Mella menggangkat tangannya, memberi hormat kepada Ray dan memilih cake di tempat lain. Ray duduk tempat duduk yang disediakan dan membuka ponselnya.
2 new messages
            Segera Ray membuka inboxnya. Rama. Nama yang tertera pada layar Iphonenya. Sudah sejak kejadian di MBC Ray tidak menghubungi Rama. Bahkan tadi sewaktu di sekolah Ray sama sekali tidak bertemu Rama.
           
From: Parama
            Lo udah masuk tadi? Sory gue gk mask tadi. Gue kesiangan gara2 begadang semalem L

            Ray hanya tersenyum melihat pesan dari Rama. Ia merasa bersyukur memiliki pacar seperti Rama. Ia tak terlalu mengurusi Ray. Ia membiarkan Ray dengan kehidupan Ray seperti biasa. Ia tidak menuntuk Ray yang aneh-aneh seperti kebanyakan remaja berpacaran. Meskipun demikian Rama juga bukan tipe pacar yang cuek. Ia tetap peduli dengan Ray namun tidak berlebihan.
To: Parama
            Gw udh masuk tadi. Thx udah begadang buat gw J
            Ray senyum-senyum sendiri saat sms-an dengan Rama. Ia tak menyadari Mella yang sedari tadi berdiri di hadapannya membawa cake. Mella sengaja tidak memanggil Ray, ia ingin tahu kenapa sahabatnya senyum-senyum sendiri.
            “cieee yang online sama pacarnya sampai ketawa-ketawi sendirian. Duh jadi iri nih,” goda Mella.
            “apaan sih lo! Siapa juga yang pacaran. Eh mana cakenya? Udah ketemu?” Ray mengalihkan pembicaraan sebelum Mella makin menjadi.
            “nih cake buat nyokap lo,” Mella menyodorkan baki berisi 2 cake. Yang satu berukuran sedang yang satunya berukuran kecil.
            “nah kalau yang ini baru tepat. Loh kok dua sih?” Ray kebingungan melihat baki berisi dua cake sementara Ray tadi hanya minta untuk dicarikan satu cake.
            “gini loh Ray,” Mella mulai menjelaskan, “gue tadi nyari cakenya jauh banget sampai pojokan sana noh. Nah ditengah jalan balik ke sini gue liat cake yang ini. Tiba-tiba kaki gue minta bayaran atas kerja kerasnya. Nggak papakan? Lagian murah kok Ray.”
            Ray hanya menghembuskan napasnya cepat. Benar-benar merasa salah mengajak Mella ke toko roti. Mella kan apa-apa doyan! Batin Ray.
            Ray menuju kasir untuk membayar cakenya. Ray hanya bisa menelan ludah mendengar pegawai kasir menyebutkan total cake Ray.
∂∂
            “astaga Ray. Selama ini kamu kemana saja? Mama khawatir banget sama kamu,” Mama Ray mendekap anaknya. Ia begitu kangen dengan teriakan Ray yang selalu memanggil mamanya.
            “maafin Ray Ma, Ray Cuma butuh waktu buat sendiri aja. Liatkan sekarang Ray nggak kenapa-kenapa,” Ray menghibur Mamanya yang menangis.
            Asna bangga sekali pada Ray. Meskipun hanya hidup berdua, Ray tidak pernah salah pergaulan yang membuatnya menjadi remaja yang bermasalah. Masalah terbesar Ray hanya perkelahian, selain itu ia bersih.
            “ya sudah sekarang mana cake mama tadi? Mumpung mama laper,” Asna melepaskan dekapannya. Ia beranjak mengambil cake yang dibelikan Ray tadi siang. “oo iya Ray, apa kamu juga belikan cake buat Rama? Kasian dia sampai jarang sekolah cuma buat nyariin kamu buat mama,” ujar Asna disela makannya.
            Ray terkejut. “astaga ma, Ray lupa.”
            Mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ray memang tipikal orang yang cuek. Selain keluarga dan sahabatnya tidak ada yang ia pedulikan lagi.
∂∂
            “jadi belum mau jawab jujur kenapa ngajak aku main malem-malem?” Ray hanya meringis melihat kedua tangannya diikat. Ia masih menutup mulut dan hanya menggelengkan kepala sedari tadi. “oke kalau nggak mau jawab. Gue pulang aja, lusa udah UN.” Rama pura-pura meninggalkan Ray yang tangannya terikat. Baru sekitar lima langkah, Ray sudah memanggil namanya.
            “Ram!” Rama hanya berhenti tanpa menoleh. Jika saja Ray melihatnya pasti ia sangat kesal. Rama mala cekikikan. “oke gue akan kasih tau lo setelah lo kalahin gue by one?”
            “oke siapa takut!”
            Ray mengambil bola di tasnya. Mereka memulai adu satu lawan satu. Ini adalah kali kedua Rama menghadapi Ray dalam keadaan normal. Tanpa ada tekanan di pikiran Ray. Ray begitu asik memainkan bola. Kali ini lo yang harus lihat mata gue! Pikir Rama.
            Satu poin untuk Ray! Kini bola dikuasai Rama. Ray pada posisi bertahan mencoba merebut bola di tangan Rama. Rama menatap mata Ray, mencoba mencari celah agar bisa melewatinya.  Ia mengambil back step yang biasa dilakukan Ray. Dua poin untuk Rama. Ia melakukan 3poin.
∂∂
            “...begitu.” Ray selesai menjelaskan tujuan ia membawa Rama malam-malam ke lapangan MBC. Rama hanya diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Ada perasaan bersalah pada Ray. “kok malah bengong?”
            “gue speecles aja dengerin penjelasan lo. Segitu cintanya ya lo sama gue hahaha,” goda Rama.
            Ray tersipu malu. Pipinya memerah. Rupanya sekitar pukul 22:30 tadi, Ray menelepon Rama saat ia tengah tertidur pulas. Rama bangun dan terkejut mendapati Ray sudah di depan rumahnya. Ray membawa Rama ke lapangan MBC. Awalnya Ray tak tahu harus membawa Rama kemana malam-malam seperti ini. Ray ingin menengkan Rama yang sedang gelisah karena lusa sudah menghadapi UN.
            Dulu sewaktu menjelang UN, Ray juga mengajak Ian untuk bertanding basket agar pikirannya tidak terlalu tegang dan lebih santai saat menghadapi UN. Sekarang ia juga melakukan hal yang sama pada Rama. Ia tak ingin Rama terlalu serius memikirkan Unnya hingga stres.
            “apaan sih lo. Gue Cuma nggak pengen lo stres aja gara-gara mikirin UN,” Ray membuat alibi.
            “thanks Ra. Gara-gara lo stres gue berkurang dikit,” Rama tersenyum.
            “o iya gue punya ini,” Ray membuka tasnya. Mencari sesuatu di dalam tasnya. “nih” ia menyodorkan kotak pensil lengkap dengan isinya.
            “pensil? Buat apa?” Rama mengangkat satu alisnya menerima. Mana ada cowok-cewek pacaran ngasih hadiahnya seperangkat alat tulis. Emang anak SD? Rama tertawa dalam hati.
            “gue bingung mau ngasih lo apa sebagai tanda terima kasih udah mau nyari gue buat mama. Berhubung lo mau UN yaudah gue beliin ini aja,” jawab Ray polos.
            “hahahahaha”
            Ray belum pernah memberikan hadiah dalam bentuk apapun kepada cowok. Bahkan Ian pun tak pernah ia beri hadiah. Meskipun merasa lucu namun Rama tetap berterima kasih kepada Ray. Ia janji akan menggunakan pensil pemberiannya untuk mengerjakan soal.
∂∂
            Ujian Nasional bagi siswa kelas XII (dua belas) sedang berlangsung. Sementara siswa kelas XII sedang berjuang mati-matian untuk menentukan masa depan mereka, siswa kelas X dan XI malah asik menikmati liburan. Meskipun hanya empat hari lamanya namun bagi mereka sudah termasuk rejeki yang tidak boleh disia-siakan. Banyak diantara mereka yang menggunakan waktu liburnya untuk pergi berlibur ke luar kota namun tidka sedikit yang hanya santai di rumah.
            Pagi ini Ray berencana akan pergi ke Bandung bersama Mella untuk melihat tournamen basket kelas profesional yaitu IBL. Ray menyempatkan melihat tim kebanggaannya berlaga yaitu OBY (Oetama Basketball Yamaha). Salah satu club berada pada manajemen yang sama dengan club MBC. Hari ini OMC akan melawan tim dari Bandung yaitu Satria Jaya Yahama atau yang lebih populer SJY. Meskipun baru babak penyisihan untuk lolos ke champion ship, namun pertandingan OBY melawan SJY merupakan pertandingan paling seru yang ditunggu penggila basket.
            “ingat pesenan Mama ya Ray, ati-ati di jalan,” pesan Mama Ray. “oo iya Mella tolong kamu awasin Ray, jangan sampai dia terpancing emosi.” Tambahnya.
            “siap komandan!” seru Ray dan Mella bebarengan.
∂∂
            Perjalanan menuju Bandung hari ini cukup melelahkan. Jalanan dipadati mobil-mobil pribadi yang hendak liburan. Alhasil Ray dan Mella sampai sekitar pukul 2 siang. Mereka berhenti di salah satu wisata kuliner terkenal di Bandung, Kampung Bagong.
            “lo udah hubungin Rama?” tanya Mella setelah menyelesaikan makanannya.
            “belum. Gue malah nggak mau Rama tau kalau gue ke sini,”
            “kenapa? Bang cireng 1 lagi ya!”
            “masak dia lagi susah payah ngerjain UN sementara gue malah asik-asikan liburan. Gue juga mau dong Bang, yang keju yah” Ray mengacungkan telunjuknya seperti angka satu.
            “yah realistis dikit kenapa? Toh emang jatahnya kita liburan. Lagian gue yakin Rama pasti sukses ngerjainnya, dia smart sist”
            “bukan gitu kuya. Maksut gue apa kata orang entar kalau gue seneng-seneng sementara pacarnya lagi pusing ngerjain. Maksih bang,”
            Ray menerima cireng keju dari “abangnya”. Ia meneruskan pembicaraanya dengan Mella sambil menyantap cireng keju + mayonise hangat.
            “ternyata Rama ngerubah lo jauh banget ya,”
            “...”
            Ray tersadar, ternyata ia telah terbuka dengan orang lain. Meskipun hanya dengan Mella namun itu bukan seperti Ray yang dulu. Sebenarnya Ray tidak berubah, ia malah kembali ke Ray yang dulu. Ray yang selalu ceria. Matanya yang dulu tajam dan sinis mulai berubah. Masuknya Rama di kehidupan Ray membuat Ray kembali pada dirinya saat bersama Ian. Ray teringat perkataan Dimas tempo hari bahwa semua yang terjadi adalah takdir. Takdir yang membuat Ian meninggal. Takdir juga yang telah membawa Ray sampai ke Dhimika Dua dan sampai akhirnya takdir mempertemukan Ray dengan Rama.
            Ray mulai menjadi jati dirinya yang sesungguhnya. Dulu memang ia hidup dalam dendam kakaknya. Ia tak ingin seorang pun pria mengganggu hidupnya kecuali Evan, dulu. Karena memang Evan satu-satunya teman yang ia punya dulu selain Mella. Astaga! Batin Ray.
To: Ka Dimas
Lo bener kak ini semua takdir...
Send..
            ∂∂

            “gue udah bilang, gue nggak tau apa-apa soal manajemen OBY!”
            “gue udah pernah peringatin ke elo! Karir basket lo ada di tangan gue! Cepat atau lambat lo harus cari tahu manajemen OBY dan MBC kalau lo masih mau basket...dan satu lagi selama kita penyisihan lo nggak akan diturunin......tuuttuuuuuuut”
            Sialan! Dia ngancem gue! Ia membuka ponsel dan mengeluarkan batrainya tanpa dimatikan terlebih dahulu. Kemudian mencopot simcardnya dan membuangnya.
∂∂
           
            Ujian Nasional bagi siswa kelas 3 SMA sudah berakhir. Mereka hanya tinggal menunggu hasilnya yang ternyata diajukan menjadi satu minggu lagi. Majunya penerimaan hasil UN membuat siswa kelas 3 SMA menjadi gundah gulana, tak terkecuali SMA Dhimika 2. Sebagian siswa sibuk berdoa mengharapkan hasil terbaik, sebagian lagi mempersiapkan acar prom night, sebagian mengurus data-data yang digunakan untun mendaftar perguruan tinggi, dan sisanya menghabiskan waktu dengan liburan.
            Rama dan teman-temannya sudah lama tidak mencari gara-gara dengan SMA Stela Mulia dan sebaliknya SMA Stela Mulia juga tidak pernah lagi menggangu SMA Dhimika 2. Sepertinya berita dihajarnya Yudha –pendiri geng SMA Stela Mulia- oleh Ray menyebar cepet ke telinga para trouble maker SMA Stela Mulia sehingga mereka tak berani mengusik SMA Dhimika 2.
∂∂