setelah sekian lama aku mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang sama sekali tak pernah aku tanyakan pada siapapun, hari ini aku memutuskan untuk menjalani hidupku seperti setetes air. hanya mampu mangalir dan pasrah kemana Tuhan akan membawa tetesan air itu. kemana tetesan itu akan bermuara kelak. ...
saat setetes air tengah bermuara. tak tahu harus mengalir kemana. tak tahu arah mata angin dan tak ada petunjuk apapun. sendirian diantara tetesan air lainnya yang menjadi lautan. setetes air itu hanya mampu menunggu sang surya datang untuk membawa tetesan air itu. bersama tetesan air yang ia pilih. sang surya kemudian menempatkan tetesan air itu disebuah awan yang nyaman. tetapi tetes air itu tahu tak selamanya ia berada di awan. hingga tiba saat tetesan air itu di turunkan sebagai hujan.. dan kembali ke tempat dimana setetes air itu sebelumnya, tanah....
masuk ke dalam tanah yang gelap, berharap seseorang mampu menemukan air itu sebagai mata air. yang ia butuhkan untuk hidupnya.
atau...
sebelum jatuh ke tanah, tetesan air itu menjadi bencana saat air itu menjadi hujan deras. amat deras. hingga membuat angin dan petir ikut serta dengannya. membuat orang orang menderita sebagai badai. dan membuat orang-orang kehilangan orang yang mereka cintai sebagai tsunami...
tak satu orang pun tahu bagaimana, kemana, dan menjadi apa air itu kelak. hanya takdir yang tahu dan Tuhan sebagai penulisnya. hanya satu harapan setetes air itu. tentunya ingin menjadi mata air yang senantiasa dibutuhkan dan dicari orang-orang dan tak pernah kering. agar dapat terus mendatangkan kebahagiaan bagi siapapun...