26 Nov 2012

Cinta dan Tuhan


†satu†


Marcel berjalan menuju kelas XII-BAHASA-2. Sepanjang perjalanan ia selalu tersenyum tanpa alasan. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Mungkin ia sudah tidak sabar melihat Xania, pacarnya.
Semenjak libur kenaikan kelas, Marcel menjadi jarang bertemu Xania, paling-paling hanya seminggu dua kali. Saat ini, sudah lima hari Marcel tidak bertemu Xania, rasa kangennya pada Xania membuat ia ingin cepat-cepat masuk sekolah. Akhirnya Marcel sampai di pintu kelas XII-BAHASA-2, ia mencari-cari Xania tanpa memanggil, ia sengaja ingin membuat kejutan.

†††
           
Xania merasa hangat dari tangan seseorang di matanya, ia meraba tangan yang menutup matanya. Tanpa berfikir lama, ia sudah dapat menebak siapa gerangan yang menutup matanya.
“Pasti ini tangan pak tani,” tebak Xania dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Marcel kemudian melapaskan tangannya dari mata Xania.
“Kok pak tani sih?” Marcel protes sambil membalas senyum Xania dengan mengerutkan dahinya. “Jelas-jelas pangeran William masak dibilang pak tani,” Marcel menjawab dengan kedipan mata yang membuat Xania tersenyum geli.
“Yee... Pangeran William mah tangannya alus nggak kasar ples ngapal gini, ini sih tangan pak tani abis macul.” jawab Xania jail. Kemudian keduanya berbincang melepaskan kerinduan yang selama lima hari itu seperti lima bulan bagi mereka.
            Xania Trixie Lubis, cewek imut tapi super cerewet ini berhasil menarik hati Marcel Yanes Gustanto, cowok indo yang anak-anak SMA AL-Ma’ata bilang mirip Eza Gionino.
Xania dan Marcel menjadi pasangan paling heboh di sekolahnya. Bukan karena keduanya termasuk anak populer di sekolah, tetapi karena kemesraan yang mereka buat selalu membuat iri orang yang melihat.
            Saat ini hari pertama tahun ajaran baru. SMA AL-Ma’ata ramai dengan wajah-wajah asing.

†††


“Xan, kantin yuk,” ajak Vanya teman sebangku Xania. Xania mengangguk dan bergegas berdiri. Di sepanjang perjalanan, banyak anak kelas X yang memperhatikan Xania. Tidak hanya memperhatikan mereka juga berkasak-kusuk. Tetapi Xania tidak memperhatikan semua itu. Ia tetap berjalan.
“Yah. Penuh banget Van. Kita ke
kantin sebelah aja yuk”
            “Yee, mau ke kantin sebelah apa mau ketemu pangeran William lo itu?” goda Vanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
            “Rese lo, ya udah deh. Disini aja, tapi kita makannya jongkok. Okeee?” goda Xania sambil menaik-turunkan alisnya.
            “Gila lo, emang kita kodok apa makan sambil jongkok,” mendengar perkataan Vanya, Xania tertawa terbahak-bahak. Sudah tidak mengherankan lagi jika Xania dan Vanya tertawa keras di sekolah. Mereka berdua memang urakan.
            “Udahlah Van, ke kantin sebelah aja,”Xania memohon.
            “Ya deh iya, yuk!” mereka berdua berjalan ke kantin sebelah.


† † †

Marcel merasa lembut tangan yang hangat di matanya. Ia mencium harum parfum yang sudah tidak asing lagi baginya. “Pasti ini Kate Middleton deh, tangannya alus banget.” Tebak Marcel.
Xania melepaskan tangannya dari mata Marcel. Kemudian ia duduk di sebelah Marcel, sementara Vanya sibuk memesan makanan.
            “Aku Xania Trixie Lubis tau bukan Kate Middleton. Enak aja disama-samain, emang muka ku udah setua Kate apa?” muka Xania pura-pura cemberut. Melihat muka Xania cemberut, Marcel mencubit kedua pipi Xania dengan gemas.
            “Iyyaaa peri cintaku,” Marcel berkata seraya melepaskan cubitannya.
            “Kalian berdua tu bikin gue ngiri aja deh, gue sama pacar gue nggak pernah tu semesra kalian. Ckckck.”  Dido berdecak kagum.
Sudah lama Dido kagum dengan Marcel dan Xania. Mereka berdua memang sangat cocok dan serasi. Kemana-mana selalu berdua.
            “haaloooo eksyusmuaa!! Di sini ada orangnya tauuu!! Emang gue kurang gede apa, sampai kalian semua nggak ngeliat gue!!” Vanya mengetuk meja sambil teriak-teriak.
            “siapaaa yaaa? Emang kita kenal? Hahahahaha” seru Marcel dan Xania kompak.
“sialan lo berdua. Ntar kalo ada apa-apa nggak usah ngelibatin gue, okee?” Vanya ngambek.
            “Vanyaa ngambeeek. Vanya ngambek. Wekk!!” bukanya meminta maaf, Xania makin menjadi-jadi.

† † †

            “Ayooo Marcel, SEMANGAT!!” teriak Xania di seberang lapangan futsal. Marcel menoleh dan memberikan senyuman kepada Xania.
            “Elo sama Marcel udah kayak hape sama charger deh. Dimana ada hape di situ pasti ada charger. Dimana ada charger di situ pasti ada hape. Persis deh sama lo,” ungkap Vanya.
            “Ahh. Lebay deh lo!” Xania menjawab kata-kata Vanya tanpa memindahkan pandangan matanya dari Marcel.
“Gue heran deh sama lo!”
            “Kenapa? Nggak kebalik tu?”
            “Enggaklah,”
            “Lo heran apa?”
            “Gue heran, kok tumben omongan lo puitis banget. Terus pake ungkapan gitu. Biasanya kan lo paling lola kalo ngomongin soal ungkapan,”
            “Rese lo! Gue anak sastra tau, kan satu kelas sama lo,”
Vanya kini memasang tampang cemberut dan ngedumel nggak jelas. Mendengar ocehan Vanya yang nggak jelas, Xania pun melihat muka Vanya.
            “Mau ngaca nggak?” kata Xania saat memperhatikan Vanya.
            “Enggak. Emang apa hubungannya?”
            “Yaa kali aja lo mau liat muka jelek lo sekarang. Muka lo sekarang tu kayak pantat ayam, hahaha,” tawa Xania pecah.
            “Res….” belum sempat meneruskan perkataannya, suara dari lapangan futsal terdengar.
            “AAAWWWH!!!” suara teriakan yang menandakan bahwa yang berteriak telah kesakitan terdengar cukup keras. Dan suara itu adalah suara Marcel. Tanpa berpikir panjang, Xania berlari disusul Vanya menghampiri Marcel yang tersungkur di lapangan.
            “MARCEL!!” Xania berteriak. ”Kamu nggak papa kan?” tanya Xania. Sebelum sempat pertanyaannya dijawab oleh sang kekasih hati, ia telah memberikan cacian dan amarah kepada teman-teman Marcel. ”Kalian ngapain sih?! Bukannya bantuin Marcel berdiri terus bawa ke pinggir malah ngeliatin!... CEPET BAWA KE PINGGIR!!” perintah Xania marah. Akhirnya dengan menggunakan tandu Marcel di gotong ke pinggir lapangan.
“Kamu nggak papa kan? Mana yang sakit? Mesti parah ya sampe pake tandu gitu? Ka….” Xania tidak meneruskan kata-katanya karena jari telunjuk Marcel berada dibibirnya. Marcel kemudian mendekati Xania dan berisik.
“Sstt. Jangan keras-keras dong, pelan-pelan aja,” bisikan dari Marcel membuat wajah Xania memerah. Xania kemudian berdiri dan mengambil kotak P3K yang memang disediakan untuk korban futsal.
            “Mana yang sakit?” tanya Xania pelan.
            “Siku, kaki, sama jidatku sakit,”  ucap Marcel manja seperti merengek kesakitan pada ibunya.
Xania membersihkan luka Marcel dan menutupnya. Orang-orang yang berada di sekitar mereka melihat dengan terperangah. Mereka seakan-akan melihat film romantis yang sedang ditayangkan secara live.
            “Nah. Kalo begini nggak bakal infeksi. Masih sakit?”
            “Masih.”
Mmuuuuah. Sebuah cium mendarat di siku kanan Marcel yang terluka.
“Udah nggak sakit kan,”  tanya Xania dengan rona merah di pipinya.
            “Masih ada yang sakit lagi,” rengek Marcel. “Disini,” Marcel menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuk.
Tanpa Marcel duga, Xania mencium pipi kanan Marcel. Adegan itu hanya berdurasi sekitar 3 detik. Begitu singkat memang, tapi cukup membuat orang yang melihat merasa iri hati dan ingin juga diperhatikan oleh pasangan masing-masing seperti Marcel dan Xania. 
“Ada lagi yang sakit,” rengak Marcel lagi. Kali ini ia menunjuk bibirnya. Bukannya Xania mencium bibirnya tetapi ia mencubit lengan Marcel gemas.
            “Yee. Dasar cowok genit! Maunya. Itu namanya mencari kesempatan dalam kesakitan,”
Xania membantu Marcel berdiri dan  beranjak menuju sekolah. Dengan setia Xania menunggu Marcel selesai ganti baju.


† † †


Suasana rumah makan padang saat itu tidak seperti biasanya. Biasanya pada sore hari, rumah makan padang itu selalu penuh pengunjung. Namun saat itu hanya segelintir orang yang datang makan.
“Bang biasa yaa. Dua porsi, es jeruknya juga dua,” Marcel memesan makanan pada waiter. Marcel dan Xania memang banyak persamaan, mereka juga menyukai makanan yang sama. Nasi padang, es krim, seafood, dan banyak lagi. Kali ini mereka memilih untuk makan di rumah makan padang ‘MALING KANDANG’. Namanya yang unik dan rasa masakannya yang sedap membuat mereka sering makan di tempat ini. Tak lama kemudian pesanan pun datang.
“Eits, berdoalah dululah, Xan,” kata Marcel mengingatkan Xania.
            “Iya deh. Lupa tadi,” Xania tersenyum dan memejamkan matanya selama beberapa saat. Kemudian ia membuka mata dan mulai memakan makanannya. Xania dan Marcel makan dalam diam, mereka memang tidak terbiasa makan sambil bercanda.
            “Akhirnya habis juga,” Xania menghembuskan napasnya setelah makanannya habis.
            “Neng? Doyan, laper, apa rakus?” tanya Marcel dengan wajah geli dikarenakan melihat Xania yang menghabiskan makanannya sampai benar-benar bersih.
            “Rakus. Di rumah kan nggak ada makanan, adanya cuma ubi rebus sama garem.”
            “Ah masak?”
            “Apaan sih? Genit deh,” Xania mencubit lengan Marcel.
            “Eh ada tamu tu,” kata Marcel. Xania menoleh ke arah pintu masuk, namun tak didapatinya siapapun.
            “Nggak ada siapa-siapa tuu,” ucapnya polos membuat Marcel tertawa.
            “Maksud aku tamu di mulut kamu,” Marcel membersihkan mulut Xania dengan tisu. “Makanya kalo makan tu pelan-pelan.”
            “hihihi. Iyaaa deh iya.” Xania tersipu malu.

† † †
                        Mobil jazz hitam berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Xania. Mobil itu juga menurunkan pemilik rumah. Kaca depan kanan terbuka.“Aku pulang dulu yaa?” kata Marcel.
“Oke deh. Ati-ati di jalan, nggak usah ngebut!”
            “Siap peri cintaku!” Marcel mengatakannya disertai mengangkat tangan seperti orang yang sedang hormat. Kemudian menunggu Xania masuk gerbang dan melambaikan tangan.

† † †

            Xania duduk di depan layar laptopnya. Ia sedang berfikir. Tapi setelah susah payah berpikir, pikirannya hilang begitu saja mendengar ponselnya berdering. Ternyata Xania mendapat sms dari Marcel.

            From                : Peri Cintaku
            Subjek             :Ini jam berapa? Udh sholat? Sholat dlu, ngerjainnya nanti lagi.

Melihat pesan yang diterima Xania, membuat ia bergegas menuju ruang ibadah. Salah satu hal yang membuat Xania sangat mencintai dan menyayangi Marcel karena ia selalu mengingatkan Xania untuk sholat dan berdoa. Xania yakin bahwa Marcel adalah orang yang paling tepat untuknya. Dan mungkin juga jodohnya. Setelah selesai sholat, Xania membalas pesan Marcel.

            To        : Peri Cintaku
            Subjek : Udh nih. Barusan slsai. Makasih udh ngingetin.

Kirim.

Xania menekan tombol kirim. Kemudian kembali menyelesaikan tugasnya.

† † †
            “Xania. Kamu mau nggak tunangan sama aku?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Marcel. Saat ini Xania dan Marcel sedang berada di sebuah cafe. Mereka sedang makan malam bersama. Marcel kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ia kemudian mengeluarkan kotak kecil bergambar peri dan membukanya. Di dalam kotak itu terdapat cincin dengan mata cincin berbentuk peri kecil di tengahnya.
“Ak...aku...” dengan terbata-bata Xania menjawab tawaran Marcel. “Aku mau tunangan sama kamu,”
Marcel kemudian memasangkan cincin itu ke jari manis Xania. Setelah itu mereka berpelukan. Cukup lama. Namun, tak lama kemudian tempat yang di pijaknya terasa bergetar hebat, seperti gempa bumi.
“Geemmpaaaa!! GEMPA! Marcel gempa!!”
            “Xan!! XANIA sadar dong!!” sebuah suara keras memanggilnya dan semakin jelas terdengar.
            “GEEEEMMPAAAA!!!”
            “yeee, gempa dari taiwan!!”
“Kok elo sih Van? Marcel mana?” tanya Xania bingung.
            “ Yee... Marcel lagi, lo pasti tadi lagi ngebayangin Marcel kan?” tebak Vanya.
            “Jadi tadi gue ngimpi ya?” Xania masih tampak percaya dengan mimpinya barusan.
            “Bukan ngimpi, tapi ngayal! Lo nglamun ada kali satu jam, mana senyum-senyum sendiri lagi,” Vanya memegang jidat Xania. “Oh, pantes deh.”
            “Pantes apaan?”
            “Pantes lo gila. Hahaha”
            “Nggak lucu! Tadi tu gue baru ngebayangin...” Xania kemudian menceritakan khayalan tingkat tingginya kepada Vanya. Vanya hanya diam mendengarkan Xania bercerita.
            “Dasar KTT lo,” ejek Vanya setelah cukup lama mendengarkan cerita Xania.
            “Apaan tu KTT?”
            “Khayalan tingkat tinggi, hahaha.” Vanya tertawa terbahak-bahak.
            “Rese lo!” Xania memaki-maki Vanya. Keduanya pun larut dalam kebersamaan.

† † †

“Hahahaha...” hanya tawa yang keluar dari mulut Marcel. Ia baru saja selesai mendengarkan cerita Xania.
            “Kok ketawa sih?”
            “Iya lah ketawa, orang kamu lucu banget, masak sekolah aja belum kelar udah ngajak tunangan, hahaha...”
            “Yee. Itukan cuma mimpi aja. Ehh kalo kenyataan aku juga mau,” senyum mengembang di wajah Xania. Marcel menghentikan tawanya dan memandang Xania.
“Jadi kamu bener-bener mau tunangan sama aku?”
“Mau lah. Mau banget,” Xania tersenyum. Dan kemudian memandang langit yang cerah. Saat ini Xania dan Marcel sedang berada di taman rumah Xania. Mereka berdua sedang memandang bintang yang bertaburan di langit.
“Xan?” panggil Marcel.
“Yaa?”
“Kalo ada bintang yang paling terang di atas,” Marcel kemudian mengangkat tangan Xania dan mengarahkannya ke langit “Nggak akan bintang itu seterang kamu. . . . . Jika ada rasi bintang yang paling cantik di atas, tapi bagi aku rasi bintang paling cantik ada di sebelahku. Dan. . . . . Jika ada banyak peri di sana, cuma kamu satu-satunya peri dalam hidupku. Peri cintaku,” kata-kata yang sangat indah dan menyentuh itu keluar tulus dari dalam hati Marcel. Bukan karena Marcel memang jago dalam membuat puisi dan syair yang menyentuh, tetapi karena itu memang benar-benar tulus dari dalam hati Marcel. Kemudian ia menurunkan tangannya dan tangan Xania. Marcel menaruh tangan Xania di dadanya. Xania tidak menjawab apapun, mendengar perkataan Marcel yang benar-benar tulus, Xania meneteskan air mata. Bukan air mata kebahagiaan tetapi air mata kesedihan.
“Xania, kamu nggak papa? Kok nangis sih?” tanya Marcel ia kemudian mengusap air mata Xania.
            “Kamu tau aku nangis kenapa?” tanya Xania.
            “Enggak taulah, kamu tiba-tiba aja nangis. Ada yang salah sama omonganku at...” kalimat Marcel kemudian dipotong Xania.
            “Nggak ada yang salah dari omongan kamu. Aku nangis karna aku sedih,” Xania menjawab lirih.
            “Aku takut kehilangan kamu. Kalo kamu itung bintang di atas, sebanyak itu juga aku bersyukur mempunyai pacar kayak kamu. Dan nggak ada juga peri cinta yang bisa bikin aku ngerasa nyaman dan bahagia selain kamu, peri cintaku.” Xania memang benar-benar bersyukur memiliki Marcel, kata-kata itu memang tulus dari dalam lubuk hatinya. Marcel kemudian memeluk Xania dengan erat. Sejujurnya dari hati yang paling dalam, Marcel juga takut kehilangan Xania. Setelah cukup lama mereka berpelukan, Xania melepaskan tangan Marcel darinya.
            “Untung aja sekolah kita itu mayoritas Islam, jadi nggak perlu ragu kan buat cari pacar. Lagian kalo beda agama itu juga nggak enak,” senyum mengembang di wajah Xania, senyum yang benar-benar bahagia.
            “Astaga! Xania, ini udah jam setengah duabelas, mampus deh!”
            “Hah!” Xania juga terkejut, kemudian ia melihat jam tangannya.
            “Iya jam setengah duabelas,” Marcel bergegas bangkit dan membantu Xania berdiri. Mereka kemudian masuk rumah untuk bertemu Mama Xania.
            “Tante, aku pulang dulu ya?” Marcel berpamitan kepada mama Xania seperti biasanya.
            “Ati-ati di jalan, udah malam nggak usah ngebut. Salam buat mama di rumah,” pesan mama Xania. Kemudian Marcel meninggalkan rumah Xania.

† † †



Kring...kring... Jam weker di meja tidur Xania berbunyi.
Tak lama kemudian ia bangun dan melihat ponselnya.

            6 missed calls
            10 new message

Dan semuanya dari Marcel. Isinya pun juga sama. “Ini jam berapa? Sholat dulu, tidurnya nanti lagi.” Namun ada kata yang tidak biasa dikatakan Marcel di dalam pesan itu, ia menambahkan kata ‘i miss you’. Tidak biasanya Marcel seperti itu. Tapi kata itu tidak dihiraukan Xania, sebelum matahari terbit lebih tinggi ia bergegas menuju ruang ibadah untuk melakukan sholat seperti yang dipesankan oleh peri cintanya.

† † †

















†DUA†

Sunday, 03.00pm.

Seperti itulah yang terlihat di jam digital Marcel. Hari minggu seperti biasanya, menyebalkan. Kemudian ia menyalakan radio dan mencari acara yang bagus. Mendengar lagu yang diputar oleh stasiun radio, Marcel mengambil ponsel dan menulis satu kalimat untuk Xania.

‘message send’

            Laporan dari ponselnya menandakan bahwa pesan yang dikirim sampai.

† † †

Di kamar Xania

Ponsel Xania yang sedari tadi membisu, kini berteriak nyaring tepat di bawah bantalnya, ia pun terbangun. Setelah membaca siapa yang membuat ponselnya berteriak, ia kemudian bangkit dari tempat tidurnya.

            From                : Peri Cintaku
            Subjek : Coba dengerin radio deh, 98.5 fm, aku request lagu buat kamu.

Satu kalimat yang dapat membuat Xania bersemangat.

† † †

“Halo sahabat Sinyalgama fm, apa kabar nih?” suara merdu penyiar  radio yang khas. “Ini ada temen-temen kita yang mau request lagu sama salam-salam. Yang pertama ada Marcel di kamar, salam buat peri cintaku yang habis bangun tidur, Marcel request lagunya Sheila On7 yang Anugrah Terindah. Ok deh tunggu nanti diputerin. Yang kedua....” dan akhirnya salam-salam berakhir dan “Ini Anugrah Terindah buat peri cintanya Marcel. So sweat bangeeet deh Marcel, haha. ” Kalimat itu yang mengakhiri suara khas penyiar radio.
Senandung demi senandung dinyanyikan dalam hati Xania, lagu yang direquest Marcel membuatnya merasa sangat berharga bagi Marcel.

            Belai lembut jarimu,
Sejuk tatap wajahmu.
Hangat peluk janjimu,
Anugrah terindah yang pernah kumiliki

Begitulah bait terakhir yang menutup lagu dari Sheila On7. Meskipun lagu yang diputar telah selesai namun Xania tak juga berhenti menyanyikan lagu itu dalam hati. Ia merasa benar-benar berharga bagi Marcel. Meskipun hanya sebuah lagu yang bukan Marcel ciptakan sendiri namun ia tetap yakin bahwa ia berharga bagi Marcel.
            Xania beranjak dari tempat tidur dan mendekati telephon rumah yang berada di sudut kamarnya. Ia menekan beberapa nomor yang disebutkan di radio.
Tut...tut... Tersambung... Kalau Marcel merequest lagu melalui pesan sedangkan Xania secara live mengontak penyiar radio.
“Halo, Sinyalgama fm. Dengan siapa? Dimana?” pertanyaan yang sudah sering didengar oleh kebanyakan pecinta radio.
“Dengan Xania, di kamar.”
“Hai Xania. Kayaknya lagunya mau langsung di bales nih. Mau request apa nih? Ada pesen-pesen nggak nih?
“makasih buat penyirnya karena udah mau angkat telfon aku,”
“oke, ada lagi?”
“Salam buat Marcel, peri cintaku yang udah request lagu buat aku. Makasih banyak. Aku juga mau request lagu nih begitu indahnya Gabby.”
“Oke deh, Xania. Tunggu ya?”
“Oke. Makasih.”

Sambungan berakhir. Raut muka Xania kini menggambarkan seorang peri yang bahagia karena telah memberikan cinta kepada seseorang.

†††

Marcel terpaku. Setelah mendengarkan suara cempreng Xania di radio. Ia merasa sangat bahagia, raut mukanya menggambarkan seorang yang menerima cinta dan kasih sayang yang tulus dari seorang peri cinta, yang mungkin cuma ada satu di dunia ini dan tak akan terganti di hati Marcel.
Suara khas Gabby yang merdu mengalunkan sebuah lagu yang diminta oleh peri cinta Marcel. ‘Begitu Indah’ yang dialunkan Gabby memang begitu indah. Memberikan suatu hawa nyaman di hati Marcel. Dari sekian banyak kata pada lagu yang mengalun indah, 3 kata yang menutup lagu itu yang benar-benar membuat hati Marcel bahagia.

Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karena dia begitu indah

Itulah sepenggal lagu Gabby ‘Begitu Indah’ yang dapat membuat hati Marcel benar-benar bahagia. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan dan mengungkapkan hati Marcel saat ini. Satu kata yang tepat. Xania memang benar-benar peri cinta Marcel.
Xania dapat membuat Marcel merasa sempurna di mata Xania. Ia memang tak sempurna namun Xania dapat membuatnya begitu indah.


† † †

“Ngapain lo? Daritadi senyum-senyum nggak jelas?” tanya Vanya bingung. Bagaimana mungkin teman semeja merangkap sahabat sekaligus saudara tidak bingung. Sudah sejak masuk sekolah hingga detik ini, waktu istirahat ke-2 Xania masih saja senyum-senyum.
“Wooy!!”
“Apaan sih Van? Nggak bisa liat orang seneng dikit deh,” protes Xania. Sementara Xania dan Vanya berdebat ringan, dari tempat lain ada seseorang yang tidak suka dengan kebahagiaan Xania.
“nah lo kenapa senyum-senyum?”
“gue tuh seneng. Kemaren Marcel habis ngerequastin lagu buat gue...”belum sempat menceritakan kebahagiaannya, ia merasa getaran yang berasal dari ponselnya.

From  :   +62889855
Subjek: JAUHIN MARCEL! ATO GAG LO TANGGUNG SENDIRI AKIBATNYA!

Satu pesan singkat yang berupa ancaman membuat senyum di wajah Xania berubah menjadi ketakutan. Perubahan drastis, 180 derajat.
“Xan, lo nggak papa?” tanya Vanya bingung. Tanpa menjawab, Xania memperlihatkan ponselnya pada Vanya. Membaca sms dari nomor tak dikenal itu Vanya juga membatu, tak berkata apa-apa. Yang dia tau sekarang, ini sebuah teror.


† † †

“Udahlah Xan, nggak usah kamu pikirin sms itu. Paling cuman orang iseng yang iri sama kita,” tiga puluh menit sudah Marcel yang menghibur Xania yang takut dengan sms itu.
Xania tetap diam, takut. Ia takut seseorang akan benar-benar merebut Marcel darinya.

From  : +62889855
Subjek: BERANINYA NGADU SMA COW LO!! ADEPIN GUE SENDIRI KALO LO BERANI!

Satu pesan dari nomor yang sama. Setelah membaca pesan itu, Xania tidak memperlihatkan pesan itu pada Marcel. Ia percaya hanya dengan kasih sayang yang tulus dari Marcel akan membuat Xania berani. Ia percaya Marcel tidak akan meninggalkannya dan pergi untuk orang lain.

To        : +62889855
Subjek: OKE SIAPA TAKUT!! Marcel bukan barang yang bisa lo ambil gitu aja dari gue! Dia punya PERASAAN!
           
“Xan? Xania kamu nggak papa?”
“Apa? Gue nggak papa kok, gue nggak takut sama ancaman lo!”
“Kamu ngomong apa barusan?”
“Nggak. Nggak ngomong apa-apa kok.”


† † †

            Liburan semester pertama sudah di depan mata. Liburan panjang mulai dari tanggal 21 Desember dan baru masuk tanggal 4 Januari. Anak-anak SMA Al-Ma’ata sibuk megatur liburan panjang mereka. Tak terkecuali Xania dan Marcel.
            Xania dan Marcel berencana akan pergi ke bukit awan. Tempat yang menjadi saksi kisah cinta mereka. Tepat pada tanggal 26 Desember nantinya. Xania bersikeras akan menghabiskan waktu di sana, namun Marcel tak sependapat.
            “aku ada acara keluarga, Xania,”kata Marcel untuk kesekian kalinya.
            “pokoknya aku mau tanggal dua enam kita ke bukit awan. TITIK!!”Xania keuh-keuh.
            “iya deh aku usahain. Tapi nggak janji ya,”
            Xania tak menjawab. Ia pura-pura tak mendengar. Biasanya Marcel tidak pernah lupa menepati janjinya. Namun kali ini ia tidak berjanji untuk bisa mengajak Xania ke bukit awan.

†TIGA†


“Malem sahabat Sinyalgama fm. Hari ini SGF mau ngebahas soal cinta nih. Karena hari ini umat Nasrani sedang merayakan Natal, selamat merayakan hari raya Natal bagi yang menjalakan... Nah karena sekarang tepat hari natal, gimana kalau temanya perbedaan iman. Tau dong maksudnya. Itu tu yang kayak lagunya Marcel Tuhan memang satu, kita yang tak sama uwo uwo” suara khas penyiar radio yang sudah tidak asing bagi Xania. Kini ia selalu mendengarkan radio favoritnya.“oke kita mulai dari penelpon pertama.”

Tut...tut...tut...tersambung...

“Halo dengan siapa? Dimana?”
“Dengan Xania, di rumah.”
“Oke Xania. Menurut kamu kalo kamu punya pasangan atau pacar atau suami yang beda iman gimana? Apa kamu terima dia adanya?” satu pertanyaan sederhana bagi Xania yang dapat dengan mudah ia jawab.
“Kalo menurut gue. Gue nggak mungkin mau punya pacar beda agama. Soalnya nih yaa, gue kan cari pacar nggak cuman buat seneng-seneng aja, tapi juga buat serius. Jadi ya nggak mungkin gue cari pacar yang beda agama. Ini kan yaa karena gue cari iman. Lagian biar kata orang perbedaan itu indah tapi nggak semua perbedaan bisa diterima...”

†††


Marcel bersiap di kamarnya. Tak lupa ia ditemani senandung dari Sinyalgama fm, radio yang selalu ia dengarkan kini.
“Kalo menurut gue. Gue nggak mungkin mau punya pacar beda agama. Soalnya nih yaa, gue kan cari pacar nggak cuman buat seneng-seneng aja, tapi juga buat serius. Jadi ya nggak mungkin gue cari pacar yang beda agama...”
Marcel terpaku, suara cempreng yang sudah tak asing lagi baginya. Suara Xania. Kanapa Xania berkata demikian? Seribu pertanyaan menghantui Marcel.
 “Apapun yang terjadi, gue tetep nggak mau cowok gue beda iman sama gue!” kata itu. Hanya kata itu yang mengakhiri semua tanda tanya dalam hatinya.
“Oke Xania. Pendapat yang bagus dan masuk akal. Thanks Xania.”
“Sama-sama.”
Tak salah lagi, suara cempreng tadi memang suara Xania. Marcel diam terpaku. Keraguan tadi kini berubah keyakinan. Yakin, jika Xania tahu hal yang sebenarnya ia tidak akan bisa menerima Marcel.
Pernyataan jujur yang keluar dari mulut Xania bagaikan sayatan tipis di hati Marcel. Mencerna kata-kata Xania dadanya sesak seperti kekurangan oksigen. Hatinya hancur berkeping-keping. Seandainya Xania-peri cintanya-tahu hal yang sebenarnya, akankah dia menerima ataukah seperti katanya dalam radio? Pertanyaan yang hanya Tuhan dan Xania yang menjawab. Dan sebuah pertanyaan yang sangat menakutkan dan sebuah mimpi buruk yang tak pernah dibayangkan oleh Marcel sebelumnya.

Dalam hati yang tertusuk samurai panjang dan hanya seorang yang dapat mencabutnya dan juga orang itu yang dapat mengobatinya. Marcel keluar kamar dengan perasaan yang tak karuan. Ia harus kuat, ini hari besar baginya. Semoga kalimat-kalimat suci nantinya akan lebih menenangkan hati Marcel.

† † †



From  :  +62889855
Subjek: BLAN DES BWT ORANG KATOLIK BIASANYA NGERAYAIN NATAL! KALO BWT LO  ENKNYA APA?

Satu pesan dari nomor yang selama ini telah menorornya. Ini merupakan pesan ke-25 yang diberikan peneror itu.
“Gila. Nggak ada habisnya deh tu orang gangguin lo, Xan!”
“Iya. Gue juga bingung Van. Gue aja nggak kenal dia.”

From  :  +62889855
Subjek:  DTG K JLN PAHLAWAN NO 30 TGL 25. LO AKAN TAU SEMUANYA. D JAMIN LO GAK AKAN NYESEL!!

“Sms dari dia lagi Xan?” tanya Vanya penasaran. Saat ini Vanya sedang berada di rumah Xania.
“Iya. Sekarang tanggal berapa Van?”
“Dualima. Emang kenapa?” Vanya yang semakin tidak mengerti merebut ponsel dari tangan Xania dan membacanya. “GILA! Sekarang dong. Buruan Xan, kita ke alamat ini.”
“Hah? Buat apa coba? Ogah ah, males banget gue!” Xania menolak mentah-mentah ajakan Vanya.
Setelah cukup lama berdebat akhirnya Xania dan Vanya memutuskan untuk menerima tantangan dari peneror itu, dengan mengendarai sepeda motor milik Vanya. Gelapnya kota Jakarta mereka tembus. Hari natal tahun ini seperti hari natal tahun-tahun sebelumnya. Ramai dan macet!
Sekeitar pukul 8, Vanya dan Xania sampai di jalan Pahlawan nomor 30. Suasana rumah itu tampak ramai dengan hiasan aneka lampu dan pohon natal selayaknya orang yang sedang merayakan natal.

From  : +62889855
Subjek: MSK AJ!! LO AKN TAU SENDIRI!

Setelah membaca pesan singkat itu, Xania dan Vanya memasuki gerbang utama. Dengan rasa was-was.
“Van, perasaan gue kok nggak enak yaa? Ada sesuatu yang nggak beres deh kayaknya,”
“Gue juga, gue takut disangka maling,” jawab Vanya polos.
Tak lama kemudian mereka mendekati pintu masuk. Di halaman, tepat di depan mata Xania dan Vanya, terparkir jazz hitam dengan nomor polisi ‘B 26 MX’. Xania membisu bahkan ia mematung. Ia mencoba melangkahkan kakinya lebih jauh, mencoba mencari petunjuk lain. Namun yang ada hanya sebuah jawaban.

† † †

“Marcel!” suara yang sudah tidak asing lagi bagi Marcel. Dengan ragu Marcel menoleh. Hal yang selama ini ia takutkan terjadi. Marcel melihat Xania dengan mata penuh luapan air mata dan raut wajah yang menyimpan amarah juga tanda tanya. Marcel berlari keluar mengejar Xania.  
Xania berlari dari tempat itu, ia menarik Vanya. Dinaiki motor Vanya dan ia kendarai dengan keadaan kalut. Dari kejauhan terdengan namanya dipanggil berulang kali oleh Marcel.
“Xan, lo nggak papa?”
“1 tahun Van, dia ngebohongin gue. Kenapa dia nggak ngasih tau gue dari awal?” Xania berusaha menjawab dengan suara lirih. Hatinya hancur, bahkan jika disatukan, hati itu tidak akan sesempurna dulu. Peri cintanya telah pergi, dan mungkin tak kan kembali. Sepanjang perjalanan yang cukup jauh, Xania hanya melamun.
“XAN, AWAS!!” hanya itu kata yang dapat didengarnya. Ia membanting stir ke kanan jalan, namun naas dari arah yang berlawanan sebuah bus yang menggila di jalan melewatinya tanpa ampun. Seolah-olah bus itu yang mengakhiri semua rasa sakit yang Xania rasakan.
Sebuah insiden maut terjadi tepat di depan mata Marcel. Peri cintanya hilang di depan matanya. Melengkapi semua rasa bersalah, penyesalan, juga sakit yang kini dirasakan.
Di dalam mobilnya, Marcel memeluk erat Xania yang bermandikan darah segar. Dan di sebelahnya, Vanya. Satu-satunya orang yang masih sadar dan tidak terluka parah akibat insiden maut tersebut.
Sampailah ia di dalam sebuah ruangan yang akan menjawab semua. Sebuah ruangan yang mungkin akan menjadi momok mengerikan bagi Marcel. Ia menunggu dengan doa yang tak kunjung habis ia berikan.
“Marcel!” panggil salah seorang.
“Xania!” spontan Marcel memanggil Xania.
“Sorry. Tapi gue bukan Xania, gue Vanya.”
“Sorry.” Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Marcel.
“Kenapa lo tega lakuin ini ke Xania? Lo taukan dia sayang banget sama lo. Kalo sampe Xania kenapa-napa, satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab itu....ELO!”
 Vanya terus memukul Marcel, entah apa tujuannya. Yang jelas Vanya dan Marcel mempunyai satu harapan yang mungkin hanya Tuhan yang memberikan. Xania dapat diselamatkan. 1 tahun sudah Marcel menjalin cinta dengan Xania. Dan kali ini juga, tepat setahun mereka menjalin cinta, 26 Desember, meskipun jam dinding masih menunjukan pukul 12.05 namun tetap saja saat ini sudah tanggal 26 Desember. Dan saat yang amat sangat berbeda pada satu tahun yang lalu.

†EMPAT†

Satu tahun yang lalu......

26 desember 2007
“Lo mau ngajak gue kemana sih?” tanya Xania bingung. Ia masih belum mengetahui betul apa yang akan Marcel-gebetan baru Xania-lakukan.
Hari ini Marcel mengajak Xania nge-date. Di dalam jazz hitam Marcel, Xania hanya diam membisu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Salah kata saja mungkin akan merubah keadaan. Dengan mata yang tertutup oleh sebuah penutup mata, Xania mulai angkat bicara.
“Lo mau nyulik gue ya?” kata Xania. “Atau nggak, lo mau nembak gue yaa?” Xania berkata spontan. Perkataan Xania membuat Marcel tertawa pelan namun tawa itu tawa yang berarti luas. Yang jelas bukan tawa karena suatu kegelian.
Mampus gue, kenapa gue ngomong kayak gitu sih? Batin Xania.
“Udah deh lo ikut aja, ntar lo juga tau,”
“Capek tau merem terus, gantian sini.”
“Hahahaha... Kalo lo yang nyetir bisa gagal ren...” Marcel tidak melanjutkan kalimatnya, ia kemudian meralatnya. “Bisa gagal semua mimpi gue,”hal ini yang disukai Marcel. Xania yang polos dan asal bicara tanpa memperdulikan orang lain.
“Apa kata lo deh!” Xania hanya diam mengikuti alunan lagu dari ponselnya.


† † †

Kurang dari 30 menit mereka sampai di  tempat yang sedari tadi dipertanyakan oleh Xania. Tempat yang begitu indah dan jauh dari jangkaun kaki. Marcel membantu Xania turun dari mobil dan menuntunnya, menuju suatu tempat lain.
“Jadi udah boleh buka mata nih?” Xania mencoba membuka matanya yang sudah 2 jam ini tertutup. Ia kerlingkan matanya. Menggosok matanya dengan punggung tangan, mencoba tersadar dari sebuah mimpi. Mimpi yang terlalu indah untuk sebuah hal yang maya dan terlalu nyata.
“Gillaaaa! Bagus bangeeeeet! Menakjubkan! Asli indah banget.” Xania tidak mempercayai apa yang ada di hadapan matanya kini. Xania dan Marcel berada di sebuah tempat yang tinggi dan curam, namun sebanding dengan keindahannya.
“Kita dimana?” tanya Xania masih terlihat bingung.
“Kita di bukit awan.”
“Bukit awan?”
“Iya. Bukit awan, kalo siang kita bisa liat awan dan deket banget sama kita. Kalo pagi kita bisa liat sunrise. Berhubung ini malem, ya liat bintang aja cukup,” terang Marcel panjang lebar. Marcel meraih tangan Xania. Ia kemudian berhadapan dengan Xania. Xania hanya membisu, tak sanggup ia berkata walau satu kata pun.
“Aku mengenalmu melalui satu nama... memahamimu melalui satu renungan, dan ... menyayangimu melalui satu perasaan. Dan akhirnya, aku jatuh cinta sama kamu. Kamu mau nggak jadi peri cintaku?” kalimat-kalimat yang diucapkan Marcel seperti alunan lagu yang indah. Sebuah senandung yang mampu membuat Xania terperangah. “Kamu mau nggak jadi peri cintaku yang slalu membuat hari-hariku lebih indah dan lebih berarti.” Marcel mengulangi pertanyaan dan pernyataannya.
“Ak...ak....” Xania tampak gugup mendengar kata-kata dari Marcel. “Aku mau jadi peri cintamu. Dan aku mau kamu jadi peri cintaku,”


† † †

              Tepat pada tanggal 26 Desember Xania jadian. Ia kini duduk di samping Marcel yang tengah menjelaskan tentang rasi bintang.
            “kalo yang itu? Cantik banget, kayak bentuk peri,”tanya Xania polos.
            “ada yang lebih cantik dari itu,”jawab Marcel.
            “man...”Xania belum sempat meneruskan pertanyaannya, jari telunjuk Marcel mengenai pipinya saat ia hendak menoleh.
            Marcel tersenyum menatap Xania tajam. Xania tersipu, baru kali ini Xania menyadari Marcel mempunyai mata cokelat muda dengan garis lensa yang amat terlihat meskipun saat malam hari.
            Xania dan Marcel memutuskan untuk pulang setelah lama mereka menikmati suasana bukit awan yang elok. Marcel mengandeng tangan Xania, sementara Xania hanya menerima dengan malu-malu uluran tangan Marcel.

† † †


Tetes demi tetes air mengalir dari pelupuk mata Marcel. Kenangan-kenangan indahnya bersama Xania tiba-tiba saja muncul dipikirannya. Saat yang amat sangat berbeda dengan sebelumnya, satu tahun yang lalu.
 Dalam diam Marcel terus berharap. Harapan yang hanya Tuhan yang dapat memberinya. Sudah tiga jam lebih Marcel, Vanya dan kedua orang tua Xania di ruang tunggu. Mereka menunggu seseorang keluar dari ruang UGD. Dalam diam pula Marcel terus berdoa dan berjanji. Tak lama kemudian seseorang yang mengenakan jas putih dan masker keluar dari ruang UGD.
“Kami semua sudah berusaha semaksimal mungkin...” dokter itu menggantungkan kata-katanya. “Xania telah melewati masa kritisnya, kini tinggal menunggu ia sadarkan diri. Semua tergantung yang di atas.”
Dengan suara bijaksana, dokter itu memberikan  penjelasan.
Hanya dua kalimat! Dua kalimat yang membuat Marcel merasa semakin bersalah dan membuat hatinya terasa dicabik-cabik.
“Maksud dokter, Xania koma?” hanya pertanyaan itu yang dapat Marcel lontarkan. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Mendengar pertanyaan dokter, Vanya juga kedua orang tua Xania histeris. Mereka menangis! Tak terbayang sedikitpun oleh mama Xania, anak semata wayangnya harus menjalani masa koma.


† † †

Marcel memandangi wajah pucat Xania. Tetes air mata yang jatuh membasahi tangan Xania yang kini digenggam Marcel.
“Xania? Kamu bisa denger aku kan?” Marcel berkata lirih, bibirnya bergetar.
“Aku tau kamu bisa denger aku. Xan, happy anniversary. Hari ini tepat setahun hubungan kita...” kalimat Marcel terhenti. “Aku pengen lebih dari ini Xan, aku pengen kita selalu bersama sela...ma...nya...” Marcel tak sanggup berkata-kata. Tak ada kata lain yang ingin ia ucapkan. “Xania, aku janji. Kalo kamu bangun nanti, aku akan bikin kamu bahagia, aku akan lakuin apapun yang kamu mau. Apapun Xania,”
Marcel berjanji dalam hati. Janji yang tulus dari dalam lubuk hatinya. Kemudian Marcel mencium tangan Xania dan pergi untuk berganti pakaian. Dengan perasaan kacau Marcel mengendarai mobilnya. Dengan perlahan dan berusaha berkonsentrasi Marcel melaju dengan mobilnya di tengah padatnya kota Jakarta.


† † †

†LIMA†

Sudah dua minggu Xania koma. Dan sudah satu minggu Marcel tidak masuk sekolah. Dan selama satu minggu itu juga Marcel selalu berada di samping Xania. Marcel bahkan membawa baju ganti ke rumah sakit.
“Nak Marcel mending makan dulu, dari tadi pagikan nak Marcel belum makan,” mama Xania yang juga selalu menjaga Xania mencoba membujuk Marcel untuk makan. Seharian ini Marcel belum makan, bahkan dari sore kemarin.
“Nggak usah tante. Saya nggak laper, saya nungguin Xania aja.”
“Makan dulu nanti kalo kamu sakit gimana? Kan ada tante yang nunggu, kamu beli makan trus dimakan di sini.” Marcel menghembuskan napasnya kemudian berdiri.
“Saya makan di luar aja tante. Saya permisi dulu,” Marcel ragu untuk melangkahkan kakinya dari dalam ruang isolasi. Tetapi akhirnya ia juga meninggalkan ruangan itu dengan rasa tidak ikhlas.
Marcel menuju kantin rumah sakit, ia memesan makanan dan kembali duduk. Tak lama kemudian pesanan Marcel datang. Ia hanya memperhatikan makanannya. Marcel hanya mengaduk-aduk makanannya, tak berniat sedikitpun untuk memakannya. Kemudian seseorang menghampiri Marcel. Dan menepuk bahu Marcel. “Xania!” Marcel terkejut dan menoleh ke belakang. Namun tak didapatinya Xania, melainkan Vanya.
“Sorry gue ngagetin lo,” Vanya kemudian duduk di samping Marcel. “Lo nggak boleh kayak gini terus, lo harus bangkit. Xania pasti sembuh, gue yakin. Lo juga yakin kan?”
“gue yakin!” jawabnya lirih. “Dulu setiap gue makan, di depan gue selalu ada Xania yang makannya cepet banget...” Marcel menceritakan lirih. “Xania nggak akan berhenti makan kalo makanannya belum benar-benar habis,” Marcel tertawa pelan, tawa yang penuh kesedihan. “Saking cepetnya Xania makan, sampek ada nasi di mulutnya. Tapi sekarang...” Marcel menunduk mencoba menahan air matanya yang mulai memenuhi matanya.
“Gue udah bikin Xania koma! Gue bikin Xania koma, Van! Itu semua salah gue,” Marcel mencoba tetap tenang, tapi usahanya sia-sia. Melihat Marcel mulai histeris Vanya mencoba menenangkannya. Mencoba agar Marcel tidak selalu menyalahkan dirinya sendiri.
“Itu bukan sepenuhnya salah lo. Itu murni karna kecelakaan,” Vanya berkata dengan setenang mungkin. Dalam hatinya ia juga merasa bersalah. Kalau saja dia tidak memaksa Xania untuk pergi malam itu, mungkin tidak akan ada insiden maut itu.
“Tapi itu tetep salah gue. Coba Xania tau dari dulu, dia pasti nggak akan ke rumah nenek gue,”
“Gue yang maksa Xania. Itu salah gue. Maaf,” Vanya menunduk. Ia juga menangis. Air matanya sudah tak dapat terbendung lagi. Setelah lama mereka terdiam, Marcel akhirnya beranjak pergi.
“Gue mau ke tempat Xania dulu,”


† † †


Pukul 22.30
Marcel duduk tertidur di samping Xania. Tangannya menggenggam erat tangan Xania. Kepalanya tersandar di tempat tidur Xania. Marcel merasakan gerakan tangan Xania. Kemudian ia terbangun. Melihat tangan Xania bergerak, Marcel memanggil Xania. Tak ada reaksi apapun, Xania tetap diam. “DOKTER!!!” Marcel berteriak memanggil dokter. Tak lama setelah itu dokter datang.
“Tadi tangan Xania bergerak dokter. Xania sudah sadar,” rentetan pernyataan keluar dari mulut Marcel. Dokter memeriksa keadaan Xania. Cukup lama, tapi kemudian, “Keadaan Xania masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Mungkin adik tadi sedang mengigau.” Dokter menerangkan keadaan Xania. Dan kemudian meninggalkan ruang isolasi.
“Gue nggak ngigau, tadi gue sadar! Gue liat tangan Xania bergerak,” Marcel terduduk lemas. “Xania...” panggil Marcel lirih. Ditatapnya kini Xania. “Seandainya aku bisa gantiin posisi kamu sekarang... aku bakalan gantiin kamu. Aku lebih rela gantiin kamu daripada harus ngeliat kamu kayak gini. Aku sayang kamu Xania. Kamu bangun dong. Apa kamu udah nggak sayang aku lagi?”
Marcel menatap wajah pucat Xania. Ia melihat kilauan dari kedua ujung mata Xania. Kilauan air mata! Xania menangis. Xania yang tak sadarkan diri menangis.
“Xania? Kamu bisa denger aku?” Marcel mencoba kembali memanggil Xania. Ia melihat mata Xania mulai terbuka perlahan. Hingga akhirnya mata itu benar-benar terbuka. Xania sadar dari koma! Ditatapnya kini Marcel. Ada rasa bahagia di mata Xania.
“Mama?” panggil Xania lirih. “Mama gue mana?” tanyanya sekali lagi.
“Gue mau mama gue, bukan lo!” Xania membentak Marcel.

“Se... sebentar aku telfon dulu,” Marcel sedikit menjauh dari Xania. Dikontaknya mama Xania.
“Halo? Tante... Xania udah sadar... iya... Tante dicari Xania... yaa... sama-sama,” TUT... sambungan Marcel dengan mama Xania berakhir.
Marcel menatap Xania dengan penuh kebahagiaan. Harapan dan doa yang tak pernah habis diberikannya, sekarang tidak sia-sia. Marcel tahu, Tuhan pasti mendengar doanya. Marcel mengulurkan tangannya. Ia ingin mengusap rambut Xania.
“Jangan sentuh gue!” Xania menangkis tangan Marcel. “Ngapain lo di sini? Seneng kan lo? Puas kan?” Xania berkata lirih.
Kata-kata Xania bagaikan hantaman keras di hati Marcel. Selama ini, ia hanya ingin melihat Xania sadar. Xania memalingkan kepalanya ke arah lain. Ia tak ingin melihat wajah Marcel.
“Lo tau, elo orang keSERIBU yang pengen gue temuin setelah gue sadar... bahkan lebih dari itu... gue nggak pengen ngeliat lo. PERGI LO DARI SINI!” Xania membentak Marcel tanpa memandangnya. Ia takut. Ia takut jika ia memandang Marcel, maka ia tak akan sanggup menahan air matanya. Xania tak ingin Marcel melihatnya menangis.
“Ngapain lo masih di sini? Cepet pergi!”
“Waktu kamu koma... aku udah janji... kalo kamu bangun nanti, aku akan lakuin apapun yang kamu mau... sekarang...” Marcel menghembuskan napasnya. “Kalo kamu pengen aku keluar dari sini, aku akan keluar. Aku akan keluar kalo itu bisa bikin kamu seneng,”
“Bagus kalo gitu,”
Marcel berjalan menjauh. Ia mengambil tasnya. Namun sebelum meninggalkan ruangan, Marcel kembali memandang Xania. “Tapi... sebelum aku keluar dari sini, aku mau kamu liat mataku,” Marcel memejamkan matanya agar tak ada lagi air mata yang keluar.
“Setelah kamu liat mataku, aku bakal pergi dari sini... liat mataku Xania,”
“Nggak!” tolak Xania.
“Aku tau kamu nggak mau ngeliat mataku. Itu berarti kamu masih sayang aku,” setelah menyelesaikan kalimatnya, Marcel kemudian meninggalkan Xania sendirian. Saat akan membuka pintu, langkahnya terhenti. Marcel menoleh ke arah Xania.
“Cepet sembuh peri cintaku,” Marcel berkata dalam hati dan kemudian bergegas pergi.

† † †

Marcel berjalan gontai. Tubuhnya lemas setelah Xania mengusirnya. Tak terbayang sedikitpun oleh Marcel. Peri cintanya, yang selama ini selalu berada di sampingnya, yang selama ini bahagia bila bersamanya kini telah jauh darinya, kini benci padanya, dan kini tak mau lagi bersamanya. Setiap kenangan yang melintas di pikiran Marcel semakin membuatnya hancur, semakin membuat hatinya remuk, dan semakin membuatnya menyesal dan bersalah. Kini Marcel berada di dalam jazz hitam yang sedari tadi diam tak bergerak. Dipandangnya tempat yang biasa diduduki Xania. Marcel menundukan kepalanya. Kini kepalanya tersandar di stir mobil. Cukup lama Marcel menenangkan diri. Hingga akhirnya ia tertidur di dalam mobilnya.
† † †

Hari ini, tepat 2 hari Xania tersadar dari komanya. Keadaannya sudah membaik. Dan hari ini, dokter sudah mengijinkan Xania untuk pulang. Ditemani oleh mama dan sahabatnya, Xania kini berada di dalam kamarnya.
“ma, aku mau sama Vanya aja. Mama istirahat dulu aja,”
“ya udah kalo kamu itu mau kamu. Mama keluar dulu. Nitip Xania ya, Van?” mama Xania memberikan pesan kepada Vanya.
Vanya tahu, saat ini Xania memang tidak butuh mamanya. Ia lebih membutuhkan sahabat. Sahabat yang dapat mengerti keadaannya sekarang. Xania hanya diam dan memejamkan matanya. Dalam matanya yang terpejam, dia meneteskan air mata. Entah itu air mata kesedihan atau kekecewaan.
“Xan? lo nggakpapa?” Vanya mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya. Ia tak mau melihat Xania terus larut dalam kesedihan. Kesedihan yang tak kunjung reda.
“Xan, hidup itu bagai roda. Lo tau kan? Kadang kita di atas, di tempat yang nyaman, tempat jauh dari rasa sakit dan tempat dimana lo nemuin kebahagiaan lo...”Vanya tidak melanjutkan kata-katanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. “tapi... kadang kita juga di bawah. Dimana kita merasa bahwa hidup itu benar-benar berat. Di tempat itu lo juga akan merasa sakit yang benar-benar sakit. Tapi...” lagi-lagi Vanya menggantungkan kata-katanya. “waktu terus berputar. Mungkin saat ini lo di bawah tapi gue percaya kalo lo bakal kembali hidup di atas. Dan lo harus tetep ngejalani cobaan ini, karna kalo lo nggak ngejalanin cobaan ini, lo nggak akan nemuin kebahagiaan lo sampai kapanpun. Lo harus percaya itu,” kemudian Vanya berdiri.
“gue pulang dulu. Mending lo pikirin kata-kata gue. Inget Xan, waktu itu berputar terus!” Vanya meninggalkan Xania yang masih diam.
Kini Xania bagaikan patung bernyawa. Hanya diam tak bergerak dan tak bersuara namun memiliki jiwa dan perasaan yang entah dimana. Kata-kata dari Vanya begitu terkenang dalam pikiran Xania. Vanya memang benar. Xania memang harus menjalani hidupnya.
Waktu akan terus berputar tanpa menunggu Xania. Cepat atau lambat ia harus kembali menjalani hidupnya sebagaimana mestinya. Xania tahu waktu itu konstan. Tak akan bisa berhenti berputar walau hanya satu detik saja. Apalagi untuk menunggunya siap menjalani hidup. Dan Xania juga tahu waktu akan terus berputar ke depan tanpa melihat ke belakang. Apalagi kembali berputar seperti dahulu. Kini Xania mengusap air matanya.
“nggak ada gunanya aku nangis. Toh kalo aku nangis nggak bisa ngembaliin hidupku kayak dulu,”
Kemudian ia mengambil ponselnya. Mencari nama dalam kontaknya.
Tut... tut... tersambung
“halo? Van, lo mau bantuin gue kan?... oke... gue tunggu di kamar gue....” TUUUUT!
Sambungan berakhir. Rupanya Xania mengontak Vanya. Kurang dari 5 menit Vanya tiba di kamar Xania. Melihat Vanya, jelas Xania sangat terkejut. Bagaimana tidak, rumah Vanya dengan rumahnya yang cukup jauh, sekitar 7 km dan waktu tempuh yang ditempuh minimal 20 menit dan hanya bisa ditempuh pada saat tengah malam. Saat jalanan kota tidak padat.
“cepet banget lo?” Xania terheran-heran.
“iyalah. Orang gue tadi lagi makan sama nyokap lo,” Vanya nyengir lebar.“elo mau gue bantuin apa?”
“gue mau lo bantuin gue beresin Marcel dari hidup gue. Lo mau kan?”
“tap... tapi Xan?”Vanya terbengong-bengong. Tak disangka Xania dapat melupakan Marcel secepat itu.
“lo milih bantuin gue ato lo milih gue sedih?”
“Iyadeh, gue bantuin,” akhirnya Vanya membantu Xania untuk mengubur semua kenangan tentang Marcel.
Meskipun Xania selalu ragu untuk memasukkan benda-benda kenangannya bersamanya ke dalam kardus toh dia tetap memasukannya. Satu persatu kenangan dikubur Xania dalam ingatannya. Semua benda yang dapat membuatnya bahagia. Namun kini, benda-benda itu hanya menjadi sejarah yang mungkin tak terlupakan. Atau bahkan dilupakan begitu saja.
“beres! Nggak akan lagi ada Marcel Yanes itu lagi dalam hidup gue!!” Xania telah selesai memasukan semua barang kenangannya dengan Marcel. Jelas terlihat di raut wajahnya, bahwa Xania sejujurnya tak ingin mengubur kenangan-kenangan indahnya bersama Marcel.

† † †
















†ENAM†

Pagi ini Xania masih tertidur. Padahal jam tidurnya sudah menunjukan pukul 05.15. jam itu sengaja ia tidak atur alarm karena hari ini Xania memang masih belum siap untuk sekolah. Pasalnya hari ini adalah hari jumat. Hari dimana kelasnya dan kelas Marcel berbarengan olahraga di tengah tidurnya yang baru sebentar, Xania merasakan tubuhnya bergerak. Seperti ada yang membangunkan.
“XANIA BANGUN!!!” suara teriakan Vanya terdengar jelas di telinga Xania, bahkan sampai ke mimpinya.
“apaan sih? Ngapain lo? Gue nggak mau sekolah,” Xania menjawab sambil menguap dan menarik selimutnya yang tadi entah dimana.
“ayolah Xan! Lo harus tunjukin ke Marcel kalo lo bisa jalani hidup tanpa dia,” mendenar perkataan Vanya, mata Xania langsung terbuka. Ia kemudian bangun dan duduk di tempat tidurnya.
“lo kira gue nggak bisa hidup tanpa Marcel? Lo salah, tunggu gue di bawah,” Xania beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi.
 Vanya hanya tersenyum puas melihat sohibnya mau berangkat sekolah. Tak lama setelah itu, Xania turun dengan pakaian yang rapi lengkap dengan aksesoris yang biasa ia gunakan. Kemudian Xania dan Vanya bergegas pergi dari rumah Xania. Dalam perjalanan menuju sekolah, Xania terus diam. Entah apa yang ada dalam benaknya. Sesekali ia menghembuskan napasnya yang terlihat berat.



† † †

“Xan? Udah nyampe nih?” Vanya mengibaskan tangannya di depan wajah Xania. Namun ia tetap diam. Akhirnya Vanya memutuskan untuk mengklakson motornya.

“AAARKHHH!! Gila lo. Bisa budek kuping gue,” Xania tersadar dan mengusap telinganya yang mulai berdenging.

“yee... ngelamun sih lo. Emang apa sih yang lo pikirin?”

“nggak ada! Ayo buruan,” Xania menggandeng tangan Vanya. Sepanjang perjalanan menuju kelas XII-BAHASA-2  yang lumayan jauh dari tempat mereka perkir, Xania terlihat tetap diam. Vanya yang berada di sebelahnya hanya bisa diam melihat sahabatnya terus diam seperti itu.

† † †

Saat ini masuk jam ketiga, yaitu jam olahraga bagi kelas XII-BAHASA-2 dan kelas XII-BAHASA-5. Hal yang paling tidak diinginkan Xania. Bahkan ia ingin hari ini tidak ada jam olahraga.
“ayo, Xan. Ganti...” ajak Vanya. Ia sangat prihatin melihat Xania. Xania yang biasanya cerewet mendadak diam tanpa alasan. Bahkan saat jam mata pelajaran Sastra-pelajaran yang apling disukai Xania-ia tetap diam.
“males ah! Gue absen aja deh. Males ikut OR gue,” Xania menjawab dengan nada yang amat sangat tidak bergairah untuk hidup.
“katanya bisa hidup tanpa Marcel? Tapi kenyataannya apa? Gue ganti dulu,” Vanya pun akhirnya meninggalkan Xania.
Xania masih diam, ia benar-benar enggan untuk beranjak dari tempatnya. Namun mendenar perkataan Vanya yang begitu menusuk, Xania kemudian bangkit dan mengambill baju olahraganya di loker. Vanya sanagt terkejut dengan kehadiran Xania di lapangan. Pasalnya saat di kelas Xania tampak enggan mengikuti jam pelajaran olahraga.
“gue kan udah pernah bilang sama lo. Lo salah kalo nganggep gue nggak bisa hidup tanpa Marcel,” Xania kemudian berbaris dan mendengarkan perintah pelatihnya.
“hari ini kita akan bermain baseball. Sekarang bentuk tim dan langsung bermain!” suara tegas dan bijaksana dari pak burha-guru olahraga- yang membubarkan semua lamunan Xania. Sementara di lapangan bola terlihat Marcel dan teman-temannya sedang asyik bermain bola.
Mungkin bagi sebagian besar murid XII-BAHASA-5, saat olahraga seperti ini merupakan salah satu hiburan. Namun tidak untuk Marcel. Saat ini hanya 1 diantara wujud pelampiasannya. Bahkan dari 3 hari yang lalu, Marcel lebih senang membuat keonaran di sekolah.
Marcel dikenal anak yang patuh pada peraturan sekolah. Permainan futsalnya pun di luar batas. Ia menendang bola sekuat tenaga hingga bola yang ditendang keluar gerbang dan  masih banyak lagi. Entah apalagi yang akan Marcel lakukan untuk membuat hatinya tenang kembali.
“Do, oper ke sini,” teriak Marcel. Dido menendang bola ke arah Marcel namun tendangan Dido meleset jauh dari Marcel.
“sorry... sorry...” Dido berlari mengejar bolanya.


BUUK. “AAAWW!!” teriak salah seorang. Rupanya bola yang ditendang Dido mengenai seseorang.
“Xania! Lo nggakpapa kan?” Vanya yang tadi hendak memukul bola segera berlari mendekat.
“siapa sih yang nendang bola sampe sini? Nggak  tau apa kalo ada orang! Sakit tau,” Xania marah-marah sambil memegang kepalanya yang terkena bola. Dari arah lain, Dido berlari mendekat ke arah Xania yang terduduk memegang kepalanya.
“Xan, sorry. Gue nggak sengaja,” Dido meminta maaf dan meminta kembali bolanya. Namun sebelum Dido meninggalkan Xania, Dido mendapat caci dan maki yang keluar dari mulut Xania.
“lo punya mata kan? KALO MAEN PAKE MATA DONG! JANGAN ASAL TENDANG AJA!! PUNYA MATA DUA BUAT APA?!” segala cacian keluar dari mulut Xania. Tanpa menghiraukan Xania, Dido tetap berjalan menuju lapangan sepakbola. Melihat Xania terkena bola dari Dido, Marcel mendekati Dido.
BUK!! Sebuah hantaman mendarat di pipi kiri Dido.
“lo apa-apaan sih!” Dido melepaskan bolanya dan mencengkram kerah Marcel. Namun cengkraman itu dihalau Marcel dan dibalas. Kini Marcel mencengkram kerah Dido.
“gara-gara lo, Xania jadi kena bola! Harusnya lo tadi nendang bola ke arah gue!”
“santai dong! Namanya juga maen bola. Wajar kalo meleset,” Dido berusaha tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Ia tahu betul, Marcel sedang kacau.
“emang apa urusan ma lo? Xania bukan cewek lo lagi kan?” kata-kata Dido bagaikan sebuah bom di hati Marcel. Hatinya yang memang sudah hancur semakin dijajah oleh kenyataan. Tanpa ampun Marcel melayangkan hantaman ke Dido.
“meskipun Xania nggak nganggep gue cowoknya! Tapi bagi gue, gue bakal jagain dia!”
            Sama halnya dengan Marcel, Dido juga membalas hantamannya. Seketika mereka merubah lapangan sepakbola menjadi area pertarungan. Sebelum perkelahian mereka terdangar ke telinga guru, Kenzo mendekati Marcel dan Dido memberi mereka masing-masing satu tamparan. Alhasil mereka menghentikan perkelahian.
            “ BUBAR NGGAK LO SEMUA! BUKANNYA PISAHIN MALAH PADA NGELIAT!” suara lantang Kenzo membubarkan para penonton.
            “ apa-apaan sih lo berdua. Ngapain lo pada ribut?” Kenzo terheran-heran melihat kedua sohibnya berkelahi. “ngapain lo berdua ribut?!!” tanya Kenzo langsung.
            “biarin Ken, biar Marcel lakuin apa yang dia mau.” Jawab Dido sambil memegangi pipinya yang sedikit memar.
            “Sorry Do, gue nggak bermaksud.” Setelah berkata Marcel kemudian meninggalkan kedua sahabatnya pergi.
            Setelah Marcel meninggalkan Dido dan Kenzo, Dido mulai menceritakan masalah yang dihadapi Marcel. Mendengar cerita Dido, Kenzo hanya dapat geleng-geleng kepala. Tak pernah ia menyangka Marcel akan mendapatkan cobaan atas cintanya.
            “gue punya ide!!” seru Kenzo tiba-tiba.
            “ide apaan?”   
            “Gue punya ide supaya hubungan Marcel and Xania membaik,”      
            “Maksud lo, lo mau temuin Xania sama Marcel?”
            “Dibilang begitu juga boleh. Gini rencananya. . .” Kenzo kemudian membisikkan rencananya pada Dido. Dido hanya manggut-manggut mendengar rencana Kenzo.
            “ gimana tu? Oke nggak rencana gue?” tanyanya setelah rencananya selesai dibagikan pada Dido.            
            “tumben ide lo brilian banget. Tapi kita butuh satu orang lagi. . .” Dido tampak berfikir. “naaaahhhh!!!!” Kenzo dan Dido bebarengan mendapatkan orang yang tepat.
† † †   
            “Ayolah Van, lo mau kan bantuin gue kan?” Dido sedang merayu Vanya agar mau membantu rencananya dan Kenzo. Rupanya Dido mengajak Vanya untuk bergabung dimisinya dan Kenzo.
            “Yaaahh. Kalo lo ntar sama cewek lo trus Marcel sama Xania, gue sama siapa dooong?? Jadi kambing congek gituu??”    Vanya tampak berfikir “ “ONGGAAAAHHH!!” Vanya menolak. Sejujurnya ia ingin sekali membantu hubungan Xania dan Macel, namun ia juga enggan sendirian.          
            “lo tenang aja, ada Kenzo juga kok. Lo nanti sama Kenzo aja,         
            “Kenzo anak IPS itu?? Yang bule itu bukan?” Vanya terheran-heran nama Kenzo disebut-sebut.
            “Iyaaa. Emang ada Kenzo lain, lo be  . . .”
            “gue ikut! Malming besok kan? Pasti gue bantu, lo tanang aja.”
            “yeeee, giliran ada yang bening dikit aja langsung semangat tadi aja semangit!”
            Dido kemudian pergi meniggalkan Vanya. Tak lama setelah itu Vanya mengambil motornya dan bergegas pergi. Sepanjang perjalanan ia memikirkan cara agar Xania mau ikut dengannya.    
† † †

Sementara di tempat lain, Xania sedang terduduk di kasurnya. Memandangi album foto yang kini tengah berada dalam genggaman tangannya. Album fotonya dengan Marcel. Rupanya saat ini Xania sedang memandangi foto-foto Marcel dengannya. Disetiap gambar yang diambil selalu ada keterangan yang di ketik warna orange, sesuai warna kesukaan Xania. Tulisan itu diketik rapi menggunakan komputer.

NONTON FESTIVAL LAYANG-LAYANG

              Keterangan di bawah foto itu yang sedari tadi ia pandangi. Hanya foto itu. Bahkan sejak sepulang sekolah hingga sekarang hanya foto itu yang ia pandangi. Hanya foto itu yang benar-benar membuat Xania merasa sangat sedih. Fotonya bersama Marcel dan sebuah layang-layang besar berbentuk sapi yang tengah dipegang Xania. Diusapnya foto itu. Kemudian dipindahkan ke dalam figura yang berada di meja tidurnya. Salah satu kebiasaannya setiap hari. Mengganti foto dalam figura.      
              “kenapa. . . .lo sakitin gue?” Xania berkata seraya memandang foto dalam figura yang kini telah basah karena air matanya. Xania menangis! Tangis kesedihan juga kekecewaan yang telah menjadi satu dan membuat sesak dalam dadanya. Kemudian ia peluk foto dalam figura itu dengan erat. Ditariknya nafas dalam-dalam dan kemudian dihembuskan perlahan. Mencoba meringankan sesak dalam dadanya. Sedikit membuat Xania lega.
Tok tok tok
              Xania mendengar pintu kamarnya diketuk perlahan. Cepat-cepat ia menghapus air matanya dan segera menyembunyikan figura di bawah bantal.     
  “masuuk.” Katanya sambil menoleh ke arah pinti kamarnya, “elo Van. Ada apa?”
“harusnya gue yang nanya, elo ada apa? Elo habis nangiskan?”
              Vanya mendekati Xania dan duduk di sebelahnya. Hanya diperhatikannya Xania, sesaat. Dan kemudian mengambil figura di bawah bantalnya. “kenapa lo??”
              “sory Van, selam ini gue tutupin kesedihan gue. . .” Xania kembali menangis. Ia menunduk dalam-dalam. Dikeruarkannya album foto yang sedari tadi ia sembunyikan. “gue emang nggak bisa hidup tanpa Marcel. . . . gue nggak kuat begini terus. . . semua yang ada di sini selalu ngingetin gue sama Marcel, meskipun semua barang udah gue singkirin tapi tangan gue selalu pengen ngambil lagi dan hati gue ngerasa nggak ihklas buat ngebuang semuanya. . . gu . . .”
              “Xan . . . lo harus sabar. Mungkin ini bentuk cobaan Tuhan buat nguji ketulusan dan kekuatan cinta lo sama Marcel. Tuhan nggak mungkin ngasih cobaan diluar kemampuan umatnya, semua pasti ada jalan keluarnya. Lo tau kan?” Vanya juga meneteskan air mata. Ia tidak tega melihat sahabat baiknya terus bersedih. “apapun akan gue lakuin Xan, supaya elo balik kayak dulu lagi, gue janji!” Vanya menghapus air mata Xania menggunakan tisu.
              “lo beneran mau nglakuin apa aja kan buat gue? Lo janji?” ulang Xania sekali lagi.
              “I swear! Janji gue janji penulis, lo kan tau penulis nggak boleh ingkar janji.” Vanya mengembangkan senyum khasnya.
              “hahahaha ada-ada aja deh lo. Penulis apaan, orang kiasan aja lolanya minta ampun,”
              “yeeee!!! Betewe ada film baru nih. Lo mau ikut nintin gue, Dido, sama Kenzo enggak? Lo yang pilih filmnya deh,” Vanya mulai mengalihkan pembicaraan. Ia sudah mulai lega, Xania tak lagi larut dalam kesedihan. Bahkan ia sudah mulai tertawa lepas.
              “okeee, kapan? Malming besok mau nggak??”
              “oke deh, buat sahabat gue tercinta ini apa sih yang enggak buat lo, hahaha”
              Xania dan Vanya larut dalam kebahagiaan. Mungkin sejenak dapat Xania lupakan dengan banyolan garing Vanya yang dapat membuatnya tertawa lepas. Kini Xania sadar, tanpa Marcel ia juga dapat merasakan kebahagiaan. Tentunya dari sahabat dekatnya. Namun, satu yang Xania tahu. Saat ini tak ada yang bisa menggantikan Marcel dalam hidupnya. Atau mungkin belum ada yang bisa menggantikan posisi Marcel di hati Xania. Marcel telah mengukir namanya dalam hati terdalam Xania.
            †††

            Sementara di tempat lain, Marcel duduk termangu di sebuah batu besar yang berada di tepi danua. Sedari tadi ia hanya melemparkan batu-batu ke arah danau. Berusaha mengusir beban yang ada dalam benaknya. Berusaha menjadikannya salah satu cara untuk meluapkan emosinya. Hanya itu saat ini yang dapat dilakukan Marcel sebagai pelampiasan. Selagi itu belum membahayakan nyawanya. Marcel menerawang entah kemana.
              Dulu di tepi danau ini, Marcel dan Xania selalu meluapkan semua penat dan kekesalan yang ada. Menyelesaikan semua masalah percintaan mereka bahkan bercanda bersama. Namun kini, semua hanya kenangan. Di tepi danau kini hanya ada Marcel seorang diri, meluapkan penat yang ada memang, namun tanpa ada Xania di sisinya. Samar-samar Marcel mendengar alunan syair lagu yang sudah tak asing lagi di dengarnya.
. . . .cintaaa tak kan bisaaa. . . . . pergiiii
              Syair yang seperti ringtone ponselnya. Sekali lagi ia mendengar alunan syair lagu. Kali ini tak salah lagi, ini benar-benar ringtone ponselnya. Cepat cepat Marcel merogoh tasnya, berusaha menemukan asal bunyi tersebut.
DIDO
Itulah yang tertera di layar ponselnya.
“halo?. . . ada apa Do? . . . oke bisa gue. . . lo jempu gue?? . . . hmm okedeh. Tuuuut,” sambunga berakhir.
Marcel berjalan ke tempat dimana motornya di parkir dan secepatnya meninggalkan danau itu. Tempatnya dan Xania dulu sering bersama.






†Tujuh†

            “haloooo??!! Van lo lama amat sih!! Buruan ke depan, gue uda nunggu dari tadi...” Dido mengakhiri pembicaraannya dengan Vanya. Hampir 30 menit Dido dan Kenzo menunggu di mobil. Dan mereka berdua juga sudah ngedumel nggak jelas.
“buuuussseeeeet!!! Lama amat sih lo? Lo mandi apa nguras bak sih?” berondong Kenzo.
“kalo nguras bak mah cepet, lo nguras empang yaa Xan? Hahahaha,” tambah Dido. Bukanya Vanya segera naik mobil, ia malah cemberut di depan pintu mobil Kenzo.
“CEPET NAIK KUYA!!” Dido dan Kenzo serempak.
“eh. Iya iya,” Xania dan Vanya bebarengan menaiki mobil. Vanya duduk di tengah, di antara Xania dan Kenzo.
“Xan lo habis barantem ya? Mat . . . AWW!!” belum sempat meyelesaikan perkataanya, perutnya sudah menjadi sasaran cubit Vanya. Sementara tersangkanya hanya cengar-cengir tak bersalah.
“apaan sih lo Van?! Sakit tau!”
“nggak papa Van, santai aja,” kata Xania seraya memndang ke luar jendela. Melihat kemerlap lampu jalanan. Sedikit menghibur lara hatinya kini.
“sorry Xan gue nggak maksud. Emang lo habis nangis ya, mata lo bengkak gitu??” Kenzo mengulangi pertanyaannya dengan penuh kepolosan, seolah-olah dia adalah anak kecil yang tidak tahu masalah percintaan.
“emang lo kira Xania habis berantem beneran apa?! Ngaco banget lo!! Jelas dia habis nangislah, bego banget sih lo!! Gara-gara kapten kalian itu!!” bukanya Xania yang menjawab melainkan Vanya yang memaki-maki dan memelototi Kenzo.
Vanya teringat ada sesuatu yang ganjil. Ditariknya baju Kenzo kemudian ia berbisik mengenai suatu hal.
“oh, ntar nyusul kita dia,” jawab Kenzo enteng.
            Sepanjang perjalanan menuju bioskop Empaire, Xania hanya diam membisu. Tak sepatah kata pun ia ucapkan, bahkan saat ditanya suatu hal pun, ia hanya mengangguk ataupun menggelengkan kepala. Tatapan matanya terus tertuju ke arah jendela dan menerawang entah kemana. Mungkin hanya raga yang tersisa di dalam mobil kini, sementara jiwanya melayang entah kemana. Tak ada sedikit niat pun bagi Xania untuk bercanda bersama.
“gue nggak tega liat Xania kayak gitu, sumpah nggak tega banget gue,” Kenzo berbisik pada Vanya.
“apalagi gue yang tiap hari ngeliatin dia. Kerjaanya cuma nangiiiis aja, kalo nggak ya nglamun. Pokoknya diem mulu dah, nggak bawel kayak biasanya,” tambah Vanya, juga dengan berbisik. Kenzo dan Vanya sedang membicarakan Xania yang jelas-jelas berada di samping Vanya.
“beneran Van sampe segitunya dia berubah? Yang gue denger sih Xania orangnya ceria banget, kok bisa ya dia drop banget gitu. Ckckckc”
“kalian ngomongn orang kayak tu orang nggak ada di sini aja. Gue aja denger, apalagi Xania yang jelas-jelas di samping kalian gitu.” Dido memperingati Vanya dan Kenzo, pasalnya nada mereka sudah mulai naik, dari berbisik menuju ke berteriak.
“yang di sini badannya aja, nyawanya udah nggak tau kemana,” kata Kenzo membuat Dido tertawa geli.
“sialan lo! Lo pikir Xania meninggal apa, nggak ada nyawanya!”
            Tak sampai 15 menit kemudian mereka sampai di gedung bioskop Empaire. Mereka turun dari mobil dengan semangat, tak terkecuali Xania. Demi teman-temannya ia akan berusaha tenang. Mereka menuju ke loket pembelian tiket. Karena masih ada satu orang lagi, terpaksa mereka menunggu.

†††

“DO!!” mendengar namanya dipanggil, Dido segera menoleh ke arah datangya suara.
Namun tidak hanya Dido yang menoleh, melainkan juga Xania, Vanya, Kenzo, dan Sari pun juga menoleh. Betapa terkejutnya Xania melihat Marcel yang memanggil Dido. Sama halnya dengan Xania, Vanya dan Kenzo juga ikut terkejut.
 Marcel tidak datang sendirian melainkan bersama seorang perempuan yang tengah digandengnya. Melihat Xania yang melotot tajam ke arah genggaman tangannya, Marcel segera melepaskan genggaman tangannya.
“emm. . . udah lama nunggunya?” Marcel speechles. Ia tak dapat berkata apa-apa, ia benar-benar bingung.
“kenalin, gue Marsya,”  rupanya perempuan itu Marsya, ia mengulurkan tangannya pada Xania.
“Xania!” Xania hanya tersenyum sinis tanpa menjabat tangan Marsya. Kemudian satu per satu mereka berkenalan.
“kenalannya cukup! Lo mau nonton apa Xan?” Vanya mengalihkan pembicaraan. Ia menyadari betul perubahan wajah Xania saat ini.
“gimana kalo komedi aja? Kan Xania butuh hiburan,” usul Kenzo.
“apaan sih lo, kita kan udah sepakat kalo Xania yang pilih filmnya,” Vanya protes pada Kenzo.
“nonton Final Destination empat aja gimana? New entry nih? Mau nggak?” Xania bersikap biasa-biasa saja. Meskipun di raut wajahnya terlihat bahwa ia benar-benar kecewa.
“nonton efde besok-besok aja deh. Kita nonton horor aja gimana? Kan lebih menantang tu,” tanpa ditanya, Marsya sudah memberi usul.
“kalo gue sih ngikut-ngikut aja,” Dido dan Kenzo tidak mau ambil pusing. Mereka hanya diam.
“pokoknya yang nentuin filmnya Xania, titik!!” Vanya masih bersikeras.
“udahlah Van, nggak gue juga nggak papa kan, orang sama aja kok siapa yang nentuin film,” Xania mencoba mengalah.
ta. . . tapi kan. . .” Vanya masih tetap ngotot.
“UDAHLAH VAN!! Lo bisa ngalah nggak sih?” Xania hilang kesabaran dan memaki Vanya.
            Demi agar sahabatnya tidak mengamuk Vanya akhirnya mengalah. Ia tidak mau membuat kekacauan di tempat umum. Dengan besar hati Vanya dan Xania setuju untuk mononton film pilihan Marsya.
† † †
           
Suara teriakan terdengar nyaring dari dalam studio 3 bioskop Empaire. Mereka duduk di deretan teratas bangku penonton. Marsya, Marcel, Xania, Sari, Dido, Kenzo dan Vanya. Mereka duduk berurutan. Teriakan para penonton sama sekali tidak berpengaruh bagi Xania. Ia hanya menatap kosong ke layar tanpa memperhatikan sama sekali. Sedangkan Marcel yang berada di sebelahnya, tampak menikmati setiap detik yang ada dengan Marsya yang duduk di sebelahnya.
            Marsya sedari tadi memeluk Marcel bila ketakutan. Sedangkan Marcel? Ia malah merima pelukan Marsya tanpa sedikitpun merasa enggan dengan Xania. Xania hanya bisa diam melihat tingkah polah Marsya dan Marcel. Biasanya ia akan memaki-maki siapapun orang yang berani memeluk Marcel di hadapanya. Namun kini, ia hanya bisa diam. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain diam. Xania tak tahu harus berbuat apa, ia tak tahu siapa Marcel sekarang.
            Tak ada lagi yang Xania lakukan sekarang selain menahan sesak di dadanya dan menahan agar air matanya tidak tumpah. Sekuat tenaga Xania menahan agar air matanya tak keluar dari dalam kelopak matanya. Nmamun ia gagal. Air matanya menetes perlahan. Bahkan tak tertahankan lagi hingga bahunya berguncang. Tak satupun diantara mereka yang menyadari bahwa Xania menangis. Tarikan napas yang panjang dan berat membuat Sari menyadari Xania menangis.
“Xan, lo nggak papa kan?” Sari bertanya dengan hati-hati. Sari mengulurkan tangannya dan kemudian menyolek Kenzo. “panggilin Vanya, suruh dia pindah di kursi gue,” Sari berbisik pada Kenzo. Tak lama kemudiaan Vanya berdiri dan duduk di samping Xania.
“kenapa lo?” tanya Vanya langsung, namun bukanya menjawab Xania malah sibuk mengusap air matannya. “kenapa lo nangis?” ulangnya.
“nggak. . . nggak papa kok. Gue cuma terharu aja,” jawab Xania disela isak tangisnya. Ia mencoba tenang agar air matanya berhenti mengalir.
“HAH? Ngaco lo! Kita nonton horor bukan drama seri!” Vanya tampak hilang kendali “elo kenapa nangiss?!” suara Vanya naik level dari yang sebelumnya. Matanya menatap tajam ke arah Marcel, mencoba mencari tahu penyebab menangisnya Xania.
“iya, gue tahu kok. Gue terharu sama pocongnya. Kok bisa gitu maen film bagus bannget gitu. Apa nggak capek tu loncat-loncat mulu,” jawab Xania asal-asalan.
“lo bener-bener ngaco Xan! Kita nggak nonton pocong tapi kit. . .” belum selesai Vanya berbicara, dari depan berjatuhan benda-benda yang entah datang dari mana. Mulai dari pop corn, tutup botol mineral, sampai sandal jepit. Loh? “ssttt!” ternyata benda-benda itu berasal dari penonton lain yang mulai meresa terusik dengan suara cempreng Vanya.
“lo sih! Kita nonton Insidious tau, bukan pocong,” jawab Vanya pelan.
“bodoo! Yang penting gue nggak nangis gara-gara ngeliatin nih orang dua, tapi gara-gara terharu,” Xania menunjuk Marcel.
“terserah lo mau bilang apa! Habis nonton, kita makan dulu.”
“iyaa,” jawab Xania sambil mengangguk.
Xania menghapus air mata yang kini membasahi pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahanya sejenak dan kemudian ia hembuskan perlahan. Xania tak ingin menangisi hal yang bodoh. Hal yang jelas-jelas tak berguna baginya. Xania hanya ingin mengeluarkan air mata untuk orang-orang yang menyayanginya, bukan orang yang telah menyakiti hatinya ataupun membohonginya mentah-mentah. Bagi Xania, kebohongan tetaplah sebuah kepalsuan. Dan ia tak ingin di bohongi. Apalagi diberi sesuatu yang palsu.
“AAAAAAAAAA!!!!!” Xania berteriak sekuat tenaga. Mengurangi sesak di dadanya. Sedikit melegakan sakit hatinya. Untungnya saat Xania berteriak banyak juga orang yang berteriak, sehingga teriakannya seolah-olah adalah teriakan ketakutan. Rupanya Xania berteriak disaat yang tepat. Kemudian ia kembali tenang hingga akhirnya tertidur.
† † †

            “Xan? Filmnya udah selesai nih,” Vanya menggoyangkan pelan tubuh Xania yang terbaring di bangku studio. “XANIAAA!!”
“Apaan sih lo, lima meniit lagi deh. Ganggu aja lo Van,” jawab Xania di sela tidurnya.
“lima menit??” Vanya hilang kesabaran “lo kira ini di kamar lo apa?! Ini di bioskop kuyaa!!” teriak Vanya. Suaranya yang cempreg membuat sebaian orang yang belum keluar dari bioskop menoleh ke arahnya.
“APA?” mendengar suara Vanya, Xania segera terbangun. “kenapa lo nggak bangunin gue dari tadi sih?” tanpa merasa berdosa Xania balik memarahi Vanya. Vanya hanya mengangkat satu alisnya ke atas dan memandang Dido dan Kenzo bergantian. Sementara Dido dan Kenzo hanya menyengir.
            Mereka segera meninggalkan studio sebelum penjaga mengusir mereka. Mereka menuju ke salah satu foodcourt. Mereka semua duduk dalam satu meja besar.
“lo semua mau pesen apa? Biar gue deh yang traktir,” Kenzo menawarkan diri.
“lagi banyak duit lo sob? Gue mau stek sirlion double dua sama milk shake moca dua,” tanpa berpikir panjang lagi Dido cepat-cepat memesan makanan untuknya dan Sari. Ia tak mau menyianyiakan kesempatan emas yang jelas-jelas di hadapan matanya. Sementara itu, Kenzo mencoret-coret kertas pesanan di tangannya. Satu per satu dari mereka memesan makanan bergantian,
“gue apa yaa? Bingung nih. . .” Xania tampak bingung dengan apa yang hendak ia pesan.
“nah! Chicken honey satu!” tanpa sengaja Xania dan Marcel memesan makanan yang sama. Mereka hanya memandang heran saaatu sama lain.
ternyata lo masih suka apa yang gue suka” tentu saja kata-kata itu hanya diucapkan Xania dalam hati. Dan meneruskan pesanannya, “es telernya satu,” kemudian ia diam terpaku.
† † †

Pesanan mereka pun datang. Vanya makan dengan lahap, begitu pun Xania, untuk sesaat ia akan menutupi semua kesedihannya demi teman-temannya.
“hmmm, roasted sheepnya enaak banget. Coba tadi lo pesen ini Xan, cobain deh!” tawar Vanya.
“ogah ah. Kasian tauk dombanya, domba kan lu. . .” Xania tidak melanjutkan kata-katanya. Ia teringat pada Marcel. Xania ingat betul, Marcel sangat menyukai daging domba tetapi karena Xania selalu mengasiani domba yang akan dimakan Marcel, ia juga menjadi tidak tega memakan daging domba. Saat Xania hendak memandang Marcel, ia justru melihat suatu hal yang seharusnya tidak ia lihat di depan matanya saat ini. Xania melihat Marcel dan Marsya sedang asyik suap-suapan tanpa mempedulikan Xania yang kini sedang menatap sedih Marcel.
            Xania mencoba menahan air mata yang kini telah penuh di pelupuk matanya. Ia tarik nafas dalam-dalam mencoba mencari ketenangan jiwanya yang kini sedang dihujani kecemburuan. Xania kini merasa ia tidak dipedulikan. Dido sibuk dengan pacarnya, Kenzo yang bercanda dengan Vanya dan Marcel yang kini tidak bisa lagi membahagiaakanya.
“Van?” panggil Xania pelan.
“ya?” jawab Vanya.
“gu. . . Gue ke toilet dulu ya, lo sama semuanya lanjutin aja makanya.” Xania berkata sambil berdiri meninggalkan tempat makan. Ia bergegas menuju toilet terdekat. Xania berlari sambil menangis menuju toilet. Di dalam toilet ia hanya berada di depan cermin, menangis di depanya. Kemudian Xania mengambil air dari keran dan ia basuhkan ke wajahnya. Xania tidak ingin orang lain melihat kesedihannya.

Enam puluh menit berlalu

            Terlihat cemas di raut wajah Vanya, pasalnya sudah sekitar enampuluh menit Xania berada di toilet. Tak seperti biasanya Xania berlama-lama di tiolet. Biasanya lima belas menit saja berada di toilet ia sudah hendak muntah, nah ini enam puluh menit. Semua makanan sudah hampir habis tetapi Xania tak kunjung datang.
“Van! Xania lama amat sih?” tegur Kenzo. Sebenrnya tidak hanya Vanya yang kawatir dengan Xania, bahkan Marcel pun demikian. Ia juga merasaka ada hal yang tidak beres dengan Xania.
 “lo susul Xania gih Van,” bujuk Kenzo.
“gue telpon aja deh, toiletnya jauh.” Kemudian Vanya mengampil ponsel di dalam saku celananya. Ia mencari nama Xania di kontaknya. Tuuuuut tuuuuut tersambung!
“Haloo? Xan lo dimana sih? Lama banget sih? Udah hampir selesai nih makanya!” berondong pertanyaan keluan dari mulut Vanya.
“huuh” hanya desahan nafas yang keluar dari mulut Xania. “gue di jalan Van. Ini udah hampir deket rumah,” jawabnya singkat.
“APAAA!!!” jawab Vanya terkejut. Mendengar jawaban Vanya yang begitu mengejutkan, wajah Marcel menjadi tegang. Ia takut ada sesuatu hal buruk menimpa Xania.
“iya, gue udah di jalan” ulang Xania sekali lagi. “Van, tolong sampain maaf gue ke anak-anak ya soalnya gue pulang duluan. Thanks. Tuuuut” sambungan terputus!
“gimana Van? Xania nggak papa kan?” tanya Kenzo.
“satu. . .dua. . .tiga. . .empat. . .lima. . .enam. .” Vanya mengambil nafs dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Hal yang selalu ia lakukan untuk mengatur emosinya. Vanya memang sangat tempramental. Dibandingkan dengan Xania, Vanya tidak bisa santai.
“gimana Van? Xania baik-baik aja kan?” ulang Kenzo.
“kayaknya setan yang kita tonton tadi ngikutin deh,” jawab Vanya santai. Matanya memandang Marsya tajam.
“hah? Maksud lo apaan?” Kenzo tampak bingung.
“iyaa. Setan insidious tadi ngikutin kita sampe sini. Buktinya aja Xania ketakutan, trus pulang duluan deh!”
            “APA!?” Marcel, Dido, Kenzo bebarengan. “Xania pulang duluan?”
            “iya emang kenapa?! Kayaknya gue juga mau ikutan pulang deh. Gue nggak kuat ngeliat tuh SETAN!!” Vanya sengaja menekankan kata SETAN sambil melihat tajam ke arah Marsya.
            “oke deh. Gue juga ikutan pulang. Gue cabut dulu sob, semua udah gue bayar kecuali punya tuh setan, dia nggak ada dalam undangan!” Kenzo berdiri dan memukul pelan bahu Marcel. Tak lama kemudian Dido dan Sari juga pulang. Rencana yang sudah mereka susun matang-matang agar dapat membuat Xania dan Marcel kembali gagal total gara-gara seorang perempuan yang tak seorangpun dari mereka mengenalinya.

            † † †

            Xania hanya terdiam di dalam taxi. Setelah mematikan telfon dari Vanya, air mata yang sudah susah payah ia hentikan kini mengalir lagi. Hatinya perih. Belum genap satu bulan Xania dan Marcel bubaran, Marcel sudah menggandeng perempuan lain. Entah itu hanya sebagai pelarian maupun palabuhan hatinya. Hanya Marcel dan Tuhan lah yang mengetahuinya. Yang Xania tahu saat ini, hatinya sakit, perih. Kini bagaikan luka yang terkena garam dan dibersihkan dengan air jeruk nipis. Sakit sekali.
            Xania hanya bisa melihat ke luar jendela taxi. Ia ingin cepat-cepat pulang ke rumah, masuk kamar dan menangis sekencang-kencangnya. Berteriak sebisanya. Tak peduli seberapa banyak orang yang mendengarnya.
            Kurang dari sepuluh menit kemudian Xania sampai di depan rumahnya. Ia segera turun dan membayar ongkos taxi. Xania berlari memasuki halaman rumah. Diambilnya kunci rumah yang selalu pembantunya taruh di bawah karpet depan. Pembantu Xania memang selalu pulang malam.
            Dengan cepat Xania menaiki tangga dan bergegas mengunci pintu kamar. Ia memutar volume radio maximum, agar tangisnya tidak terdengar jelas dari luar. Tak lupa ia mamitikan handphonenya.
            “AAAAAAA!!! MARCEL LO JAHAT BANGEET!!! LO TEGA JALAN SAMA CEWEK LAIN DI DEPAN MATA GUE!!” Xania berteriak sekuat tenaga. Hanya itu saat ini yang Xania bisa lakukan. Ia berteriak mengeluarkan semua sesak dadanya, mengurangi rasa sakit di luka hatinya.
            Xania teringat sesuatu, ia mangambil remot kontrol untuk tape combonya. Ia mencari saluran favoritnya, yaitu Sinyalgama fm. Terdengar suara merdu dari penyiar radio favoritnya itu. Kini tengah diputar lagu dari Bruno Mars, Runaway. Baru musik pembuka. Rupanya penyiar radio itu mengetahui benar isi hati Xania. Xania larut dalam setiap alunan lagu, suara merdu Bruno membuatnya lebih tenang. Hingga akhirnya ia tertidur lelap.


† † †


            Marcel terduduk di ranjangnya. Ia tak tahu mengapa Xania besikap seperti itu padanya. Tatapan matanya seolah penuh kekecewaan. Bahkan Xania pulang duluan.
            “kenapa lo nggak mau dengerin penjelasan gue, lo nggak pernah tanya apa-apa ke gue. Kenapa sekarang lo tinggalin gue? Gue nggak pernah tau keyakinan bikin lo jauh dari gue,” katanya.
            Marcel berdiri dan memandang dirinya lewat cermin. Tak ada lagi sinar mata yang seperti dulu, seperti saat ia selalu bersama Xania. Ia bahkan tak pernah merasakan sepi yang seperti ini. Mata Marcel redup bahkan ia seperti tak bernyawa. Ia hanya terlihat bahagia namun hatinya remuk. Ia hanya tak ingin orang lain mengetahui penderitannya.
            Praaaang!!!
            Marcel memecahkan kaca yang ada di depannya. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahannya kepada Xania. Ia keluar kamar dengan tangan berdarah. Ia menuju garasi dan mengeluarkan motor yang sudah lama tak ia pakai.
            “hari ini lo harus nemenin gue!” katanya pada Kawasaki Ninja RR itu. Ia melajukan Ninja RR itu melebihi kecepatan yang semestinya. Menembus sepinya kota Jakarta malam hari.




†DELAPAN†


            Bukan hal mudah melupakan Xania bagi Marcel. Semua kenangan manis sudah tercetak jelas dalam ingatan Marcel. Bahkan saat ia menutup mata hanya Xania yang ada, semua Xania.
            Hampir seluruh isi kamar Marcel terpampang hadiah dari Xania. Bukan hanya itu, di sudut dekat jendela tercetak besar sekitar 25R foto yang dipigura rapi oleh Marcel. Fotonya besama Xania saat Festifal Layang-layang. Saat itu Xania benar-benar terlihat cantik. Dengan menggunakan dress kuning selutut dan bolero cokelat membuatnya terlihat semakin feminim.
            Marcel beranjak dari tempat tidurnya, mengambil ponselnya dan memandang keluar jendela. Langit tak secerah biasanya. Mungkin langit merasakan apa yang dirasakan Marcel. Dipandanginya foto Xania, “kenapa kamu nggak mau dengerin penjelasanku Xan? Aku bisa terima kamu nggak mau nerima aku karena kita beda. Tapi, plis aku mohon kamu dengerin penjelasanku setelah itu kamu bebas putusin apa mau kamu,”kata Marcel. ia seolah sedang berbicara pada Xania. Namun yang ada hanya bayangannya dalam sebuah
Tok...ok..tok
            Terdengar suara ketukan pintu namun Marcel enggan membukakannya. “masuk!”hanya itu yang keluar dari mulutnya.
            “lo kenapa? Udah siang tapi lo belum turun dari kamar?”tanya Marsya.
            “gue baru bangun.”jawab Marcel singkat.
            “gue tau lo pasti masih mikirin Xania, yaa kan?”
            “iya.”
            “lo tau masih banyak cewek diluar sana yang lebih dari Xania. Dan gue yakin mereka pasti bisa terima lo apa adanya, tanpa pandang apapun. APA PUN!”Marsya sengaja menekankan kata terakhirnya agar terdengar jelas oleh Marcel.
            “tapi semua nggak ada yang sama! Mereka semua nggak seperti Xania lo tau?! Nggak ada yang bisa bikin gue bahagia selain Xania!”ujar Marcel “tinggalin gue sendiri!”
            “gue akan tunjukin ke elo nggak Cuma Xania yang bisa bikin lo seneng. Gue juga bisa,”kemudian Marsya pergi meninggalkan Marcel.
            “terserah apa kata lo!”
                       
†††
            “kita mau kemana sih?”tanya Marcel. ia sudah tak tahan dengan kelakuan Marsya. Sudah hampir dua jam mata Marcel ditutup kain.
            “lo diem aja. Gue bakal bikin lo seneng. Dan lo ingat nanti, bukan Cuma Xania yang bisa bikin lo seneng,”
            “terserah apa kata lo!”kata Marcel kemudian diam.
            Sepanjang perjalanan Marcel dan Marsya hanya diam. Kurang dari tigapuluh menit kemudian mereka sampai di tempat tujuan Marsya.
            “nah sekarang lo boleh buka mata,”katanya sambil membantu Marcel.
            “lo bawa gue kemana sih?”tanya Marcel sambil mengerjapkan mata, seolah pemandangan didepan matanya hanya sebuah fatamorgana.
            “ke tempat yang bisa bikin lo seneng lah. Gue yakin kalo gue bawa elo kesini lo pasti bisa keluarin semua beban yang lo punya,”
            “thanks. Lo emang orang yang paling bisa ngertiin gue,”
†††
            “nggak salah lagi Xan, itu Marcel. Eh bukannya itu cewek yang waktu itu diajak Marcel nonton ya?”kata Vanya. Saat ini Xania dan Vanya sedang menghabiskan sore di danau yang dulu sering Marcel dan Xania datangi.
            “ah lo salah liat kali. Marcel nggak mungkin dateng ke sini kalo nggan sama gue. Paing-paling kalo ke sini dia sendiri. Gue tau persis gimana Marcel,”bantah Xania. Sejujurnya ia ragu orang yang Vanya lihat bukan Marcel. Namun ia tak mau merusak moodnya yang lagi bagus.
            “iya kali ya. Gue salah orang kayaknya. Marcel kurusan sekarang ya? Sama kayak lo,”Vanya mulai mengalihkan pembicaraan.
            Xania hanya diam, tak menjawab apapun.
            “oooooiii!! Jyaah nglamun lagi,”
            “sory Van, coba Marcel ngejelasin semuanya ke gue dari awal. Gue pasti bisa ngerti,”katanya sambil menunduk.
            “gimana dia mau jelasin ke elo, elonya aja selalu ngehindar setiap ada Marcel. sakit lah, nggak mau diganggu lah, bla bla bla,”
            “bukan gitu maksud gue. Coba aja Marcel bilang ke gue dari dulu kalo dia ternyata nasrani. Gue mungkin bisa terima,”
            “nah lo nggan pernah tanyakan? Marcel juga mana tau lo pilih pilih,”
            Vanya benar. Xania memang tidak pernah menanyakan apa pun mengenai Marcel. Ia ingin mengetahuinya sendiri. Namun setelah semua ia ketahui mengapa ia justru menjauh seperti saat ini.
            Xania memang tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan yang ada antara Xania dan Marcel. Saat menjalani hubungan pun, Xania dan Marcel sepakat hubungan mereka berdasarkan kejujuran dan kepekaan. Xania tak pernah menyangka bahwa Marcel yang selama ini selalu mengingatkannya agar tidak lupa untuk sholat ternyata mempunyai keyakinan yang sebaliknya.
            Bukan menyesal karena ia memilih Marcel dari sekian pria yang mendekatinya, tetapi menyesal karena ia baru mengetahui sekarang. Saat rasanya benar-benar dalam untuk Marcel.
            “gue butuh penjelasan Marcel, Van”kata Xania tiba-tiba, “lo bisakan bantuin gue?”
            “apasih yang enggak buat lo”Jawab Vanya sumringah.
†††
            Vanya sudah merencanakan matang-matang pertemuan Xania dan Marcel. Rencananya akan berjalan mulus jika tanpa kendala. Ia ingat betul pertemuannya dengan Marsya sore kemarin akan memberikan sedikit gelombang dalam hubungan Marcel dan Xania.
            “gue harap lo nggak akan ganggu hubungan Xania lagi,” kata Vanya tiba-tiba saat tanpa sengaja bertemu Marsya di Indomart.
            “sory. Tapi gue nggak tau apa maksud ucapan lo barusan,”
            “mungkin Xania bisa lo bodohi dengan teror-teror lo itu, tapi gue nggak! Gue tau itu cuma salah satu taktik lo buat ngerebut Marcel dari Xania,”
            “gue bener-bener nggak tau apa maksud lo!”
            “gue mohon sama lo jangan rebut Marcel dari Xania. Hubungan mereka bakal baik nggak lama lagi. Jadi lo jangan deket-deket lagi sama Marcel,”
            “sory tapi Xania yang udah ngrebut Marcel dari gue. Sory gue buru-buru.”
            Pertemuannya dengan Marsya yang tanpa diduga itu menimbulkan sejuta pertanyaan di benak Vanya. Pikirannya kini tertuju bagaimana ia bisa mempertemukan Xania dan Marcel tanpa ada pengganggu diantara mereka.
†††
            Marcel berjalan sambil memandang skeliling. Barangkali orang yang mengirimkan surat kaleng untuknya dapat diketahui. Pagi tadi Marcel menemukan surat kaleng di dalam lacinya.
Gue tunggu di danau jam 4.50 sore.
Hanya itu pesan yang ada dalam surat itu. Sebuah pesan singkat memang, namun cukup membuat Marcel penasaran.

            Saat ini baru pukul 4.30 p.m, tapi Marcel sudah berada di sekitar danau. Ia benar-benar tidak tahu siapa orang iseng yang telah mengiriminya surat kaleng.
            Marcel mencari kursi kosong sekitar danau. Saat sore seperti ini memang sulit mencari kursi kosong. Hanya ada satu kursi di ujung danau, tempat yang biasa ia dan Xania duduki. Marcel menuju kursi itu.
            “sory gu..” Marcel hampir bebarengan dengan seorang wanita yang hendak juga duduk di pinggir kolam “Xania?” lanjutnya. Tak disangka, ternyata wanita yang akan menduduki kursi itu Xania. 
            “Aku boleh duduk sini?” kata Marcel ragu-ragu. Kini ia merasa canggung dengan Xania.
            “bo...boleh boleh silahkan. Gue bisa cari tempat lain,” jawab Xania. Saat hendak meninggalkan Marcel, tangan Xania ditahan pelan oleh Marcel.
            “Xania?” panggilnya.
            Xania hanya menatap tangannya yang digenggam Marcel.
            “Sory. Kamu bisa duduk di sini juga kalo kamu nggak keberatan,”
            “aku nggak keberatan,”
            Xania dan Marcel duduk bersebelahan di pinggir danau. Tempat yang selalu menjadi penyelesai masalah mereka berdua sebelumnya. Dan kini baik Xania maupun Marcel juga berharap tempat ini bisa menyatukan mereka seperti dulu.
            Xania dan Marcel hanya berdiam sejak sepuluh menit yang lalu. Tak ada yang memulai pembicaraan. Bahkan hanya sekedar basa-basipun tidak ada yang berani. Mereka sama-sama tidak suka basa-basi.
            “aku...” Marcel dan Xania bebarengan.
            “kamu dulu aja,” Marcel mengalah.
            “enggak, kamu dulu aja,”
            “aku emang nggak suka basa-basi. Aku  mau jelasin semuanya ke kamu. Kamu mau dengerin penjelasanku? Apapun keputusanmu aku rela, yang penting kamu dengerin dulu” kata Marcel ragu-ragu. Takut Xania justru akan pergi dari sisinya.
            Xania hanya mengangguk, pertanda iya.
            “maaf kalo menurut kamu selama ini aku bohongin atau apalah menurut kamu. Tapi demi Tuhan aku nggak pernah bohongin kamu Xan. Selama kita pacaran kamu nggak pernah sekalipun tanya sama aku. Aku pikir kamu nggak mempermasalahkan perbedaan kita..”
            “aku...” Xania memotong perkataan Marcel, namun Marcel tetap melanjutkan perkataannya.
            “aku mulai tau dari radio yang biasa kita dengerin, tanpa sengaja aku dengerin semua jawaban kamu. Sebenernya setelah natal aku bakalan jelasin semuanya ke kamu, tapi kamu udah tau duluan. Sekarang semua keputusan ada di kamu, kamu mau terima aku lagi atau kamu boleh tinggalin aku kalo emang perbedaan kita masalah yang besar buat kamu.” Marcel menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya serasa berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
            “aku juga minta maaf selama ini udah ngehindar dari kamu. Aku cuma belum siap kehilangan kamu. Semuanya selalu ngingetin sama kamu. Tapi perbedaan kita emang nggak ringan, dari awal aku udah bilang aku cari pacar bukan buat main-main tapi untuk serius, kita udah sama-sama dewasa. Aku udah putusin dari kemaren,” Xania menghentikan kalimatnya, membuat Marcel semakin menahan nafasnya. “Aku nggak akan terima kamu lagi” kalimat itulah yang keluar dari mulut Xania.
            Jantung Marcel serasa berhenti berdetak. Hal yang selama ini ia takutkan benar-benar terjadi. Aku nggak akan terima kamu lagi, itulah yang di dengar Marcel!
            “Jadi kamu bener-bener nggak mau terima aku lagi?” tanya Marcel, memastikan Xania salah bicara.
            “iyaa.”
            Marcel berdiri. “oke kalo gitu, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku pulang dulu.”
            “Tapi kita bisa mulai lagi dari awal kan?” tanya Xania sebelum Macel pergi menjauh.
            “maksutnya?”
            “kita bisa mulai hubungan kita dari awal kan? Yang udah terjadi biar aja berlalu, kita mulai dari awal,”
            “jadi kamu terima aku?” tanya Marcel. Ia benar-benar tak menyangka Xania secepat itu berubah pikiran.
            Xania hanya menganggukan kepala dan tersenyum. Senyumnya yang dulu. Melihat senyum Xania, Marcel mendekat dan memeluk Xania.
            “Makasih Xania. Aku nggak akan pernah sia-siain kesempatan yang kamu berikan,” bisiknya ditelinga Xania.
            †††











†SEMBILAN†

            Marcel dan Xania tidak mempedulikan orang-orang yang berkasak-kusuk melihat mereka berjalan bersama. Hari ini terlihat jelas kegembiraan di wajah Xania dan Marcel. Mereka seperti pasangan yang baru kemarin jadian dan baru mengenal satu sama lain.
            Sepanjang perjalanan menuju kelas Marcel selalu menggandeng tangan Xania. Membuat mata yang memandang mereka iri karena tak mempunyai pacar sehebat Marcel. Xania memang beruntung memiliki Marcel, selain bintang lapangan Marcel juga idola di sekolah.
            Jam dinding baru menunjukan pukul 6.25 tetapi SMA Al-Ma’ata sudah dipenuhi siswa-siswi yang hendak menuntut ilmu. Kelas XII-BAHASA-2, kelas dimana Xania menuntut ilmu juga terlihat ramai.
            Marcel mengantarkan Xania sampai ke kelasnya. “aku masuk kelas dulu yaa?” pamit Xania pada Marcel.
            “iyaa, aku ke kelas dulu. Nanti istirahat aku jemput kamu. Daaa,” Marcel pergi meninggalkan Xania. Tak lupa ia melambaikan tangan pada peri cintanya yang telah kembali itu.
†††

            “ciee ciee yang udah baikan,” goda Vanya saat Xania menaruh tasnya di laci meja. “ceritanya masalahnya udah selesai nih?”
            “apaan sih lo Van, thanks banget yaa lo udah bantuin gue. Nggak tau deh gimana jadinya kalo gue nggak punya sahabat sebaik en sepinter lo,” puji Xania sambil memeluk Vanya secara paksa.
            “eist! Siapa bilang gue bantuin lo cuma-cuma?”
            “nah trus? Lo minta bayaran gitu? Jahat banget lo!”
            “bayarannya murah aja kok....” Vanya membisikan sesuatu kepada Xania.
            Xania hanya meringis geli. “oke deh. Bisa bisa!” jawabnya bersemangat.
†††

            Sorak-sorak penonton meramaikan lapangan futsal SMA Al-Ma’ata. Hari ini seperti minggu-minggu sebelumnya, tim futsal SMA Al-Ma’ata melakukan latihan seperti biasanya. Namun hari ini ada yang berbeda, tim tuan rumah kedatangan tim futsal dari sekolah lain. Rupanya hari ini ada uji coba antara SMA Al-Ma’ata melawan SMA N 75.
            Tim futsal SMA N 75 sudah terkenal hingga seluruh Jakarta. Tim yang memegang piala Gubernur 3 tahun berturut-turut ini terlihat sama dengan tim futsal pada umumnya hanya saja pemain dari SMA N 75 merupakan pemain futsal yang sudah memperkuat tim futsal junior Indonesia 2 tahun belakangan ini.
            Tim futsal Al-Ma’ata yang dikapteni Marcel sudah terlihat di bance. Tim yang terdiri dari 10 orang itu bersikeras untk dapat mengalahkan SMA N 75. Terlihat wajah-wajah gugup dari masing-masing pemain.
            “ayooo Marcel kamu pati bisaa!!” suara cempreng Xania mendominasi sorakan penonton.
            “hhhuuuuuu!” sorak penonton lain bebarengan.
            “bikin malu aja lo!”kata Vanya sambil menepuk pelan bahu Xania.
            “biarin! Lo juga semangatin tuh gebetan baru lo. Cieee ciiee kecengannya bule sekarang. Hahaha” goda Xania.

†††

            Peluit tanda berakhirnya pertandingan telah ditiup, namun papan skor masih menunjukan angka 0-0. Tambahan waktupun telah diambil namun kedudukan masih seri. Akhirnya baik tim Marcel maupun tim lawan melakukan adu pinalti.
            Satu persatu pemain menendang ke gawang. Skor saat ini 3-3. Hanya tinggal satu orang lagi dari masing-masing. Tim SMA N 75 menyiapkan diri di depan gawang.
            Bola melambung ke sudut kanan gawang. Dan .... plek!! Bola hanya memantul di sudut kanan gawang. Kesempatan untuk Marcel.
            Marcel bersiap di depan gawang. Ia menyentuh bahu kiri dan kananya secara bergantian menggunakan ibu jari dan telunjuk dan terakhir mencium kedua jari itu dan menunduk. Persis sebagaimana kaum katolik berdoa. Marcel menarik nafas dalam-dalam dan menahannya.
            Ia mengambil ancang-ancang dan menendang bola ke arah kiri. Bola mengelinding ke arah kiri namun kiper SMA N 75 terkecoh dengan gerakan kaki Marcel. Bukanya menangkap bola ke kiri ia justru berlari ke arah sebaliknya. Saat akan berbalik langkahnya terlambat dan....
            “GOOOOOOLLLLL!!” sorak-sorak penonton. 4-3 untuk kemenangan tim Marcel.
            Dido, Kenzo dan teman lainya mendatngi Marcel dan memeluknya. Meskipun hanya uji coba namun ini merupakan uji coba penting bagi Marcel. Ia kemudian di angkat dan di bawa ke tengah lapangan.
†††
            “yeee!!” seru Xania kegirangan.
            “udah dong senengnya. Udah sejam kali kamu tepuk tangan terus,” ejek Marcel.
            “aku bangga nih ceritanya. Kok kamu gitu sih?” Xania cemberut.
            “iya deh. Makasih yaa udah semangatin aku tadi di lapangan. Coba kamu  nggak nonton, nggak akan semangat aku.”
            “traktirannya mana?”
            “ayooo! Kapan”
            “besok sore gimana? Di steak Sabaya? Vanya ajak juga ya? Sama temen-temen kamu juga ya?” Xania mengusulkan.
            “yee yang mau nraktir siapa yang ngusulin temennya siapa? Hahaha” goda Marcel. Ia sangat suka melihat wajah Xania yang cemberut.
            “yaaayaaya?” Xania mengkerlingkan genit matanya dan meringis selebar mungkin.
            “iya deh. Apa sih yang enggak buat peri cinta ku” wajah Xania merah merona. Ia tersenyum dan menundukan kepala. Takut Marcel akan melihat ekspresinya saat itu.
†††

            Steak Sabaya keesokan harinya...
            “ini yang mau nraktir mana sih?” tanya Vanya mulai gelisah. Sudah setengah jam Vanya, Xania, Dido, Sari juga Kenzo menunggu Marcel. Dari janjian pukul 18.30 sekarang sudah pukul 19.15.
            “udah kita telat, ee masih ada yang lebih telat,” tambah Kenzo.
            “udah tunggu aja... Nah itu dia,” kata Xania sambil menunjuk Marcel yang kebingungan mencari seseorang. Kemudian Xania melambaikan tangan dan dibalas oleh Marcel.
            Senyum mengembang diwajah Xania. Tak seperti biasanya Marcel serapi ini. Ia menggunakan celana jins panjang dan T-shirt hijau muda. Biasanya Marcel hanya menggunakan celana jins pendek dan kaos oblong jika santai seperti ini.
            “sory sob, gue nemenin Marsya dulu tadi. Udah pada pesen?” sapa Marcel tanpa basa-basi. Rupanya tak ada yang mendengarkan perkataan Marcel barusan. Tanpa mengulangi ia langsung memesan makanan begitu pula Xania dan Vanya dan lainya kemudian mereka bercanda bersama.
            Xania merasakan getaran disakunya.
            “hahaha. Tunggu deh. Halo?...maaf ini siapa? Halo? Halo?!! Sialan!” umpat Xania.
            Mendengar Xania mengumpat Marcel memandang heran, bahkan tidak hanya Marcel tetapi juga Vanya dan Kenzo.
            “siapa Xan?” tanya Marcel dan Vanya kompak.
            “nggak tahu. Orang rese kali. Udah lanjutin aja,” jawabnya santai.
†††

            Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Xania mengambil makanan yang telah dipesannya. Saat suapan pertama, getaran terasa lagi dari sakunya, namun kali ini lebih pendek. Seperti sebuah pesan.
From    :   +62889855
Subyek : AWAS!! Makanan lo udah gue RACUN!!

            Melihat pesan singkat dari ponselnya Xania langsung tersedak. Ia kemudian mendorong makanannya hingga jauh dari pandangannya. Xania kehilangan nafsu makan.
            “kamu kenapa?” tanya Marcel cemas.
            Tanpa menjawab Xania memberikan ponselnya kepada Marcel. Marcel hanya diam melihat pesan singkat itu. Dari nomor yang dulu pernah meneror Xania dan menyebabkan ia dan Xania sempat putus.
            Tanpa pikir panjang Marcel menghubungi nomor itu.
Tut...tut...tut..
            Sekian kali Marcel mencoba namun tak satupun panggilannya digubris. Sialan ! Batin Marcel. Ia tak mau kejadian dulu terulang lagi.
            Setelah ditunggu lama ternyata nomor tadi tidak mengirim pesan singkat yang berupa teror lagi. Mereka kemudian meneruskan makan-makannya. Kecuali Xania, ia tak berselera lagi menyantap steak favoritnya. Ia terus mengaduk minumannya yang sebenarnya tidak perlu diaduk.
From  :   +62889855
Subyek: chiken lo beraninya ngadu! Gue akan rebut apa yang udah lo rebut dari gue! Tunggu 5 menit lagi!
            Satu lagi pesan singkat dari nomor yang sama. Kali ini Xania tidak memperlihatkannya pada Marcel. Ia bersikap santai namun ketar-ketir. Jujur, ia takut hal yang dulu akan terulang lagi.
†††
            “ciee ciee Kenzo Vanya. Hahaha bisa barengan gitu. Jodoh itu berarti,” ejek Xania. Sedari tadi bahan bulanan hanya Vanya dan Kenzo. Mereka berdua bersamaan mengambil saos dari meja, bersamaan menghabisakan makanan, bahkan saat akan ke toilet mereka juga bersamaan.
            “apaan sih lo Xan!”
            “alah semua juga udah tahu lo berduan pedekate. Iya kan ya kan??” tebak Xania.
            Vanya dan Kenzo hanya bisa diam. Mereka seperti ter-skak mat. Wajah Vanya mulai merah karena malu
            “hahahaha” semua tertawa bersama.
†††


Tak seperti biasanya Marcel terlihat grusah-grusuh. Ia seperti sedang terburu-buru.
“lo kenapa sob? Gue lihat dari tadi lo liat jam terus?” tanya Kenzo, ia mulai tak tahan dengan tingkah Marcel yang sedikit-sedikit melihat jam tangannya.
“aa anu.. sebenernya gue ada janji hari ini. Aku pulang dulu gimana Xan?” Marcel meminta persetujuan pada Xania.
            “emang kamu ada janji sama siapa?”
            “Maaaarhh... Mama Xan, dia minta dianterin cari kebaya katanya,” terlihat sekali di mata Xania bahwa Marcel berbohong.
            “ya udah kamu pulang aja. Kita masih mau nongkrong dulu,”
            “ya udah aku duluan yaa. Kamu jangan kemaleman. Sob gue pulang duluan ya,”
            Marcel meninggalkan teman-temannya dengan tergesa-gesa. Ia merasa bersalah karena sudah membohongi Xania.

From  :   +62889855
Subjek : gw bilang juga apa, gw ambil Macel dari lo kan?
            Pesan singkat dari nomor yang sama. Xania hanya membacanya dalam diam. Ia tahu betul mata Marcel saat berbohong padanya. Kenapa Marcel bohongin gue? Sebuah pertanyaan terbesit di benak Xania. Ia paling benci dibohongi, apalagi dengan orang yang sudah ia percayai. Mungkin Marcel punya alasan mengapa ia berbohong pada Xania.
            †††
            Xania sudah melupakan kejadian seminggu yang lalu, kejadiaan saat Marcel membohonginya. Kini ia dan Marcel tengah menikmati sunset di danau favorit mereka. Langit yang jingga menghiasi bumi. Suasana yang teduh di sekitar danau menambah indah pemandangan di depan mata. Heningnya air danau menambah hangat suasana.
            Marcel menarik tangan Xania ke genggamannya, namun Xania melepas pelan tangannya.
            “Marcel? kamu mau janji satu hal ke aku?”tanya Xania. Matanya menatap dalam bola mata Marcel.
            “apapun, selama aku masih bisa nepatinnya. I promise.”
            “kamu jangan pernah bohongin aku lagi yaa? Kalau ada apa-apa kamu harus ngomong sama aku. Aku nggak akan marah kalau kamu ngomong jujur sama aku. Aku bakalan lebih marah kalau kamu bohongin aku. Kamu taukan, aku paling benci sama orang yang suka bohong,” terang Xania panjang lebar.
            Marcel diam sesaat, “I promise that I never lies to you,” kemudian mereka saling mengikatkan kelingking.
            Hari sudah semakin petang. Taman juga sudah mulai sepi. Beberapa orang tampak bergegas untuk pulang. Xania dan Marcel berjalan menyusuri jalan setapak dengan diam. Rupanya janji yang mereka buat mendinginkan suasana.
            Xania terus menatap ke bawah, ke bebatuan yang yang berserakan. Ia merasa masih ada sesuatu yang disembunyikan Marcel. Xania mengenal benar Marcel. Marcel tampak gugup saat mengucapkan janjinya.
            Xania terus berjalan menunduk. “aaaww”Xania tak sengaja menginjak batu yang lumayan besar hingga kakinya tersandung. Ia terhuyung kebelakang dan akan jatuh. Hap!! Marcel dengan sigap menarik tangan Xania dan menahan tubuhnya.
            Marcel memandang wajah Xania. Memandangi kecantikan alami Xania. Kejadian itu berlangsung cukup lama.
            “hhmm maaf.” ucap Marcel seraya melepaskan tubuh Xania.
            Xania hanya tersipu malu dan berlari kecil meninggalkan Marcel.
            “heeeii!! Tunggu,” teriak Marcel.
            “kejar aku kalo bisa!”

†††

            “hai hai semua. Masih setia aja nih dengerin radio sinyalgama hoho, harus setia dong. Oke seperti biasa, hari ini kita buka buat yang mau kirim salam atau reques lagu buat si doi. Ngomong ngomong nih, tema kita hari ini kesetiaan brada. So kita tunggu di nol lapan tiga...”suara penyiar yang sudah tak asing lagi bagi Marcel. Kini ia sedang gundah memikirkan janjinya pada Xania minggu lalu.
            Sebentar lagi ujian kelulusan dan Marcel tak ingin masalahnya membuat ia tak fokus pada ujiannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan masalahnya dengan Xania. Ia  ingin cepat-cepat mendapat kepastian.
            Selama ini ia selalu risau. Ia tak tahu betul apa yang sebenarnya menjadi kendala hubungannya dengan Xania kini. Hubungannya tak seindah dulu. Ia seperti kehilangan sosok Xania.
            Tok tok tok. Terdengan suara pintu diketuk. “masuk,”
            “kenapa lo?” tanya Marsya. Rupanya Marsya yang datang.
            “gue nggak papa. Gue cuma heran, kenapa Xania sekarang bawaannya curiga mulu ya sama gue? Gue jadi..”
            “jadi gara-gara cewek itu lagi? Gue udah bilang berapa kali sih sama lo? Cewek itu banyak! Lo jangan cuma buka hati buat satu orang, coba aja lo move on,”
            “lo kira gampang?! Gue sayang sama Xania Ca. Ngomong emang gampang!” Marcel kemudian meninggalkan Marsya.
†††

            “lo bener-bener nggak kenal Marsya, Van?” tanya Xania. Ini sudah kesekiankalinya Xania bertayanya dan semua pertanyaannya sama.
            “gue nggak kenal, sumpah dah. Lo sadar nggak sih sebenernya?”
            “sadar apaan?”
            “lo sadar nggak, kalo Marcel baru kenal sama Marsya nggak mungkin banget mereka bisa akrab trus mesra kayak kemaren. Iya nggak sih?”
            Xania melonjak bangun dari tempat tidurnya. “bener juga. Marcel kan nggak gampang akrab sama cewek. Berarti mereka udah lama kenal dong?”
            Xania dan Vanya terus menebak kemungkinan hubungan Marcel dan Marsya. Mulai dari teman SMP yang jelas-jelas tidak mungkin karena Vanya satu SMP dengan Marcel, teman SD yang lebih tidak masuk akal lagi karena SD Marcel hanya menerima siswa laki-laki, hingga selingkuhan.
            “gue punya ide!” teriak Vanya “begini Xan...” Vanya membisikan idenya pada Xania, sementara Xania hanya manggut-manggut seolah-olah ia mengerti.
            “good idea Van,” sorak Xania.
            Mereka kemudian menyusun siasat mengenai misi rahasia.

†††

            Seperti Jumat sebelumnya, kelas XII-BAHASA-2 dan kelas XII-BAHASA-5 mata pelajaran olahraga pada jam ketiga. Saat itu ialah saat yang paling ditunggu-tunggu Xania. Ia dan Vanya hari ini berencana untuk bolos olahraga dan melakukan misi rahasianya.
            Saat kelas XII-BAHASA-5 keluar untuk olahraga, Xania, Vanya juga Dido akan diam-diam mengendap ke bangku Marcel. Mereka berpura-pura mengobrol bersama agar tidak mencurigakan, karena Dido yang notabene pemilik kelas berada bersama mereka.
            “lo yakin berhasil?” tanya Dido ragu.
            “kalo belum dicoba mana tau hasilnya!” jawab Xania ketus sambil terus merogoh tas Marcel. “ketemu!”
            Rupanya Xania diam-diam meminjam ponsel Marcel. Ia mencari kontak Marsya dalam phonebook Marcel. Ia menekan beberapa tombol. “kok nggak ada yaa?”
            “nggak mungkin lah, gimana mereka bisa janjian kalo Marcel nggak nyimpen nomer tu cewek,”bantah Dido.
            “bener juga Xan. Coba lo cari dikontak BBMnya, kalo nggak lo cari di inbox atau outboxnya,”tambah Vanya.
            “nggak ada! Udah gue cari. Kelamaan, mending lo bacain nomernya deh dari hp gue,”
            “nol lapan...” Vanya membacakan sederet angka.
            Xania mengetikan suatu pesan singkat untuk Marsya menggunakan ponsel Marcel. Misinya sedikit demi sedikit telah sukses.
            “tinggal send aja nih.” Klik! Xania menekan tombol sen dan memsukan kembali ponsel Marcel.
            Messages send
            Laporan dari ponsel Marcel.
            Xania, Vanya juga Dido segera meninggalkan kelas dan menuju UKS. Mereka sama-sama ijin tidak mengikuti jam olahraga karena sakit.

†††

            Di tempat lain
            Marcel berlari pelan menyusuri lapangan sepak bola. Ia berharap menemukan Xania yang seharusnya berada juga di lapangan. Matanya terus mencari keberadaan Xania.
            “Xania nggak ikut sob,” kata Kenzo yang berlari dibelakang Marcel.
            “kenpa dia nggak ikut? Bukanya hari ini ada penilaian? Vanya?”
            “sama. Mereka berdua di UKS, katanya sih sakit perut.”
            “aneh. Dido juga tiba-tiba sakit perut tadi. Curiga gue,”
            “kalo Xania sama Vanya cewek nah Dido? Bulanan juga kali hahaha” jawab Kenzo sekenaknya.
            “hahaha sialan lo!”
            Marcel mulai curiga dengan Xania dan Vanya. Mereka tidak biasanya mangkir jam olahraga. Keduanya sama-sama hiperaktif dan menyukai jam olahraga. Namun Marcel tak ambil pusing, ia tak mau menuduh pacarnya sembarangan selama belum ada bukti.
†††















†sepuluh†

            Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu Xania. Ia dan kedua temannya akan melakukan misi rahasia yang sudah ia rencanakan matang-matang bersama Vanya. Dengan mengajak Dido sebagai supir.
            Vanya mengendarai motornya menuju rumah Xania, sementara Dido sudah standby sejak sore tadi. Dido dan Xania sudah menunggu Vanya di dalam mobil Dido. Tak lama setelah itu Vanya pun masuk.
            “sory gue tadi makan dulu hehe,” Vanya nyengir. “mobil baru Do?”
            “bukan punya abang gue, kalau pake mobil gue bisa gagal rencana kita. Kacanya bening, kayak yang punya hahaha”
            “yeee pede lo! Udah buruan jalan, keburu pergi tu nenek lampir,” kata Xania tak sabar.
            Dido melaju mobilnya menuju taman kota. Di sinilah nanti misi rahasia Xania dilaksanakan. Sementara Dido fokus menyetir, Xania dan Vanya sibuk mengabsen barang bawaan. Mulai dari kamera digital, topi, masker, kacamata hitam, selendang, buku catatan dan lainnya.
            “buseet lo mau mata-matain orang apa mau piknik sih?” Dido tak tahan juga melihat barang yang dibawa Xania dan Vanya.
            “ini buat penyamaran nanti Dido,” jawab Vanya.
            “sesuai perjanjian gue cuma jadi supir kalian, gue nggak mau ikutan nyamar kayak orang gila!” tolak Dido.
            “iyaa bawel. Lo cukup pake topi biar nggak terlalu mencolok,” tambah Xania.
            “emang dasar wanita.”

†††

            Xania dan Vanya saat ini sedang bersembunyi dibalik semak-semak. Ia sedang mamandangi Marsya, targetnya. Seperti anak kecil, Xania dan Vanya menggunakan keker agar Marsya terlihat jelas.
            Marsya sudah terlihat resah menunggu kedatangan seseorang. Ia beberapa kali mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Dari kejauhan nampak seorang pria mengenakan celana pendek dan kaos polo menghampiri Marsya.
            Xania melihat menggunakan kekernya “Van itu Marcel,” katanya pelan.
            “iya! Tuh kan gue bilang juga apa, cepetan foto Xan,”perintah Vanya.
            Cepat-cepat Xania mengambil kemera digitalnya dan memotret beberapa foto Marsya dan Marcel. Terlihat Marcel berbincang sejenak dengan Marsya hanya sebentar kemudian mereka beranjak pergi dari kursi taman.
            “halo Do? Cepetan lo nyalain mobil lo. Target mau pergi... ayo Van buruan, keburu jauh!” terlihat Xania tak sabar.
            “iyaa bawel!”
            Mobil Dido mengikuti motor ninja hitam milik Marcel. “sial sial siaaal! Tuh cewek ngapain sih pake pegangan Marcel! ngapain coba pake motor? Gue aja jarang diboncengin naik begituan!” Xania mengomel tak jelas.
            Ninja hitam itu melaju kencang ditengah padatnya jalan. Dido yang menggunakan mobil sulit untuk mengejar Marcel.
            “tunggu! Bukanya ini jalan ke rumah Marcel?” tanya Vanya, “ngapain Marcel bawa tu cewek ke rumahnya? Jangan jangan...” lanjutnya.
            “lo tunggu sini aja Do, gue sama Vanya jalan kaki aja. Biar lebih aman,”
            Xania dan Vanya turun dari mobil Dido. Tak lupa mereka mengenakan kaca mata hitam serta selendang agar tidak ketahuan. Xania dan Vanya berada di samping gerbang. Mereka dapat melihat dengan jelas Marcel dari situ.
            Marsya terlihat turun dari motor dan bergegas masuk rumah tanpa memberikan salam. Sementara Marcel terlihat sedang memasukan motor ke dalam garasi. Ia kemudian menutup garasi dan duduk di teras.
            “ngapain motornya pake dimasukin?” tanya Xania penasaran.
            “mana gue tau. Kita tunggu aja sampai Marsya pulang,”
            “ide bagus!”

†††

            Setelah lebih dari satu jam menunggu, Xania dan Vanya merasa lelah. Mereka sudah menguap beberapa kali.
            “tuh cewek ngapain aja sih? Mana lampu tengah udah dimatiin lagi,” Xania hilang kesabaran.
            “apa jangan-jangan mereka tinggal satu rumah Xan?” tutur Vanya asal.
            “HAA! Bisa jadi tuh Van, jangan-jangan Marsya udah dijodohin lagi sama Marcel,”
            “mending kita pulang aja deh, udah malem. Kasian Dido juga,”
            Xania dan Vanya bergegas menuju mobil Dido diparkir. Saat membuka pintu mobil, tampak Dido sudah tertidur denga kepala berada pada stir mobil.
            “DOO!! Ayo buruan!” teriak Vanya menggagetkan.
            “hooaaamm.” Dido hanya menguap dan menarik tangannya ke atas seperti sedang pemanasaan saat olah raga. “jadi kalian dapet info apa” tanyanya penasaran.
            “ternyata Marcel sama Marsya tinggal satu rumah Do,” terang Vanya.
            “lo yakin Van? Bisa jadi mereka sepupu,”
            “gue yakin!” Xania mantap.
            “tapi Dido ada benernya juga sih Xan, setahu gue sih Marcel punya adik perempuan...”
            “tapi namanya Aca bukan Marsya, itu jelas beda benget,” potong Dido.
            Sepanjang perjalanan pulang mereka bertiga terus membicarakan Marsya yang tinggal satu atap dengan Marcel. Xania kali ini tidak mau menuduh Marcel yang tidak-tidak, ia tak mau egonya membuat ia harus kehilangan Marcel untuk kedua kalinya. Namun perkataan kedua temannya ada benarnya, untuk apa seorang wanita yang tidak ada hubungan darah tinggal satu atap. Sebuah misteri yang membuat tanda tanya besar di pikiran Xania.
            Malam semakin larut, Vanya memutuskan untuk menginap di rumah Xania sementara Dido pamit pulang. Sesampainya di kamar Xania, Vanya langsung tertidur lelap. Sebelum tidur ia mengetikan sebuah pesan singkat entah untuk siapa. Xania masih tetap terjaga, jam dinding sudah menunjuk pukul 12.05. Hari bahkan sudah berganti.
            Rasa kalutnya membuat ia keluar kamar untuk mengambil air wudhu. Ia memutuskan untuk melakukan salat malam agar hatinya lebih tenang. Selesai salat, Xania langsung beranjak dan pergi tidur. Rupanya berdoa benar-benar membuatnya lebih tenang hingga mengantuk dan tertidur.

†††

            Xania celingak-celinguk mencari Marcel di kelasnya. Tak seperti biasanya ia tak menjemput Xania di kelas.
            “Ken!” panggil Xania pada Kenzo, teman sebangku Marcel. mendengar namanya dipanggil, Kenzo langsung mendatangi Xania. “Marcel kemana? Seharian gue belum liat dia?”
            “gue yang satu kelas juga belum liat dari pagi, nggak masuk kali,” jawab Kenzo sekenaknya.
            “tapi tadi ada mobilnya di depan, dia juga janji mau nganterin gue pulang,” Xania mulai sedih.
            “sory Xan, gue mau ada urusan. Nanti gue sampein ke Marcel kalo lo nyariin. Gue pergi dulu,” Kenzo pamit dengan muka tak tega dan bergegas meninggalkan Xania. Sebelum pergi, Kenzo terlihat menulis pesan singkat.
            Xania pergi meninggalkan kelas XII-BAHASA-5 dengan wajah lusuh. Xania memutuskan untuk pergi ke kantin sendirian. Di kantin Xania hanya ditemani Vanya, sahabat yang selalu ada di sampingnya.
            “XAAAN!!” teriak Vanya untuk kesekian kalinya.
            “ap apa apa?” jawab Xania terkaget-kaget.
            “lo AB ya sekarang,”
            “apaan tuh AB?”
            “agak budek! Hahah” Vanya terkekek-kekek.
            “apaan sih lo. Kayaknya ada yang Marcel sembunyiin dari gue deh Van,” terang Xania lirih tanpa terlebih dahulu ditanya.
            “lo yakin?”
            “yakin! Dia udah berubah 180 derajat semenjak gue sempet putus. Apa jangan-jangan waktu gue sempet putus dia cari cewek baru ya Van?” tanya Xania memelas.
            “mana gue tahu. Apa lo nggak pikir positif gitu, siapa tahu dia ada les. Ujian tinggal menghitung hari lagi Xan,”
            “lo bener juga sih, tapi..”
            “mending lo jangan terlalu mikirin Marcel dulu deh, lo nggak mau kan cita-cita lo kandas cuma gara-gara cowok?”
            Xania bungkam. Perkataan Vanya memang ada benarnya. Ia tidak boleh menuduh Marcel yang tidak-tidak, selagi belum ada bukti. Mungkin Marcel memang serius belajar. Mereka sudah berjanji untuk sama-sama kuliah di salah satu sekolah sastra terbaik di Prancis.
            “gue kayak gini soalnya gue nggak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya Van. Gue sayang sama Marcel,” ucap Xania kemudian meninggalkan Vanya.
            Melihat Xania pergi, Vanya cepat-cepat mengeluarkan ponselnya. Ia menekan salah satu tombol di ponselnya.           
            “sip! Dapet satu.” katanya.

†††

            Marcel terus diam meskipun kedua temanya, Dido juga Kenzo sedang asik bermain PS dirumahnya. Ia masih terbayang akan suatu hal. Ia harus segera mengakhiri permainanya sebelum ia benar-benar kehilangan Xania.
            Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Marcel berdiri dan segera membuka pintu. rupanya tamu yang datang ialah Vanya.
            “rame amat, udah pada dateng?” tanya Vanya ketika memasuki ruang tamu Marcel.
            “udah dari tadi. Lonya aja yang telat,”
            Marcel dan Vanya menaiki tangga untuk menuju balkon kamarnya. Marcel dan Vanya terlibat pembicaraan yang cukup serius. Melihat Marcel dan Vanya berdebat, Dido juga Kenzo menghentikan permainan mereka dan menghampiri Marcel dan Vanya.
            “Vanya bener sob, apa lo nggak sayang sama Xania sampe lo tega nglakuin hal semacam itu?” Dido mulai angkat bicara.
            “justru karna gue sayang sama dia Do, gue rela lakuin hal ini! Dan cuma itu caranya supaya gue nggak ngerasa sia-sia, gue harus tau sejauh mana Xania sayang sama gue,” Marcel bersikeuh-kueh.
            “dengan cara masa depan sebagai korban? Lo tau akibatnya kalo sampe Xania stres? Dia bisa nggak lulus!” Vanya tak mau kalah.
            “Van, apa salahnya sih bantu Marcel. Dia udah berkorban banyak cuma buat Xania. Lo juga tau gimana parahnya Marcel waktu Xania koma. Apa itu belum cukup?” Kenzo menenangkan suasana.
            “tap tapi...” Vanya berpikir sejenak. “oke oke. Asal lo nggak mempermainkan Tuhan lo hanya demi cinta, gue mau bantuin lo,” Vanya memberikan pilihan ke Marcel.
            Marcel diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Vanya menyebut nama Tuhan. Ia sama sekali tak bisa membohongi perasaannya, ia lakukan semua ini memang semata-mata karena cintanya kepada Xania. Ia merasa berdosa, ia mencintai Xania melebihi cintanya kepada Tuhan.
            “okee. Tapi sebelum itu, gue mau lo semua ajarin gue. Sebelum gue bener-bener salah jalan,” ujar Marcel.
            Setelah mebuat keputusan yang benar-benar membuat Marcel lega, ia kembali untuk bersenang-senang bersama kedua temannya. Setelah mendapat kepastian, Vanya segera pamit untuk pulang ke rumah.
            Marcel tak tahu, hal yang sepele justru bisa membuat Xania merasa kecewa. Yang jelas Marcel sudah berkorban banyak untuk Xania. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Biarkan waktu yang akan mengakhiri semua pengorbanannya.
            “gue udah setengah jalan, nggak mungkin gue mundur lagi,” ujarnya dalam hati.

†††
            Sebentar lagi Ujian Nasiaonal untuk siswa kelas XII akan segera berlangsung. Hanya tinggal hitungan jari. Semua siswa-siswa SMA Al-Ma’ata tak terkecuali Marcel dan Xania sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional. Tak ada satu siswapun yang ingin gagal dalam Ujian Nasional.
            Marcel, Xania, Vanya, Kenzo juga Dido berencara untuk belajar bersama di rumah Xania. Di rumah Xania itu juga Marcel akan memulai rencananya. Ia berharap Xania dapat menerima keputusannya.
            Semua sudah berkumpul di ruang tamu Xania kecuali Vanya, seperti biasanya ia selalu terlambat. Xania tampak serius membaca buku bertuliskan INDONESIA, mungkin buku bahasa Indonesia.
            “Xania, aku mau ngomong sama kamu,” suara Marcel terdengar, memecah keheningan, lirih.
            “ngomong aja,” jawab Xania sembari menurunkan buku dari hadapannya. Ia kini menatap Marcel.
            “sebentar lagi kita kan Ujian Nasional, aku nggak mau hubungan kita nggg...”
            “aku ngerti kok, pasti kamu mau serius dulu kan sama UNAS? Kamu mau kita break dulu?” Xania memotong perkataan Marcel. ia seakan bisa menebak jalan pikiran Marcel.
            “ak...aku...maksut aku bukan gitu. Kita fokus dulu sama UNAS, kamu nggak usah terlalu mikirin aku. Aku gimana-gimana kamu nggak usah pikirin. Kamu fokus sama UNAS aja,” jelas Marcel. Ia tak sanggup jika harus menatap Xania. Ia terus menunduk.
            “okee. Selama UNAS ini aku nggak bakal gangguin kamu, terserah kamu mau ngapain,”
            Suasana menjadi hening. Diantara Marcel, Xania, Dido juga Kenzo tak ada yang berani angkat suara. Sejak tadi Dido dan Kenzo pura-pura tidak mengindahkan Marcel dan Xania. Meskipun tak ada hubungan, Dido dan Kenzo benar-benar merasa tak tega melihat wajah Xania. Meskipun Xania berusaha ihklas namun matanya jelas-jelas menunjukan kekecewaan.
            “HAAAIII SEMUA!! Maaf yaa gue telat, udah sampe mana kalian belajarnya?” suara cempreng yang tak asing dan tak bukan, Vanya. Ia datang di saat yang tepat. Mungkin sedetik saja Vanya terlambat lagi, ruangan itu sudah menjadi kuburan.
            “naaah ini dia yang kita tunggu. Noh Kenzo dari tadi galau mulu lo nggak nongol-nongol,” kata Dido. Mencoba mencairkan suasana yang sedingin es ini.
            Vanya sebenarnya sudah datang sejak tadi. Ia berdiri di balik pintu. Ia tak tega melihat langsung Xania. Vanya sengaja belakangan, karena ia tahu Marcel pasti akan membekukan suasana.
            Mereka kembali meneruskan belajar dengan canda dan tawa seperti biasanya. Vanya yang selalu lemot menjadi bulan-bulanan. Sementara Dido yang asal jeplak menambah hangat suasana. Yang hilang hanya tawa Xania yang keras. Ia hanya tertawa seadanya, seperti kotak persediaan tawanya menipis.
            Raut wajah Xania terlihat kekecewaan. Meskipun senyum menggembang namun matanya menangis. Ia tertawa namun matanya berlingan air mata yang siap jatuh dari pelupuk matanya.

†††

            Radio seperti sebelumnya selalu menjadi teman Xania saat ia kesepian seperti sekarang ini. Ditemani secangkir cokelat dingin ia duduk di jendela sambil mendengarkan radio. Alunan lagu sedikit menenangkan perasaan Xania yang labil saat ini.
            Ujian Nasional tinggal satu hari lagi. Xania tak ingin ia gagal karena masalah cinta. Ia terus mencari solusi agar belajarnya selama ini tidak sia-sia.
            “nah kembali lagi di sinyalgama fm. Radio paling gaul seantero jagad. Hahaha, hari ini khusus buat semua anak SMA yang besok Senin mau UNAS tapi masih juga mengalaauu, esge punya tips-tips yang keren abis dan dijamin bisa menghilangkan galau kamu,”suara khas penyiar radio langganan Xania terdengar. Seperti biasanya ia secara tidak langsung akan menghibur Xania dengan ocehannya yang terkadang tak masuk diakal. “pertama nih, buat lo yang diputusin cowok...”Xania mendengarkan sambil terkadang menyeruput cokelatnya.
            Pertama, mulai dari yang galau karena diputusin pacar hingga yang cintanya tidak sampai kepada sang pujaan diulas oleh si penyiar radio. Saran yang tidak bermutu namun justru membangkitkan semangat.
            “...terus yang terakhir. Yang galau karena pacar berubah disaat yang tidak tepat seperti ini..” nyees Xania membesarkan volume radio. Ia mendengarkan dengan seksama saran yang mungkin cocok untuknya.
            “...gampang aja lo tinggal googling, masukin kata kunci ‘cowok cakep’. Nanti kalo udah ketemu, lo pilih deh mana cowok yang tepat, buat jaga-jaga aja sih siapa tau mau move on...” mendengar saran si penyiar Xania tertawa, ia bahkan lupa akan Marcel.
            “...intinya nih ya listeners, buat kamu para remaja, nggak usah deh terlalu  mikirin pacar kamu. Inget masa depan ada di tangan kamu, kalo kamu gagal cuma di UNAS besok sih masih bisa diperbaiki, tapi jangan sampai kamu mempertaruhkan masa depan demi orang yang kamu cintai. Percaya deh, kalo ending itu pasti bahagia so tunggu apa lagi. Buruan isi pikiran kamu buat hal yang positif, jangan sampai menyesal listeners...” kalimat yang sebenarnya singkat namun berarti. Penyiar itu benar, Xania kini sadar. Ia mulai tersenyum. Ia harus tetap menghadapi ujian yang menantinya esok. Hanya dia yang mengetahui siapa yang akan menang. Ia atau rasa sedihnya.

†††

            Ujian Nasional bagi siswa-siswi kelas XII sedang berlangsung. Semua siswa SMA se-Indonesia sedang berjuang. Semua perjuangannya selama tiga tahun belajar harus diakhiri dalam waktu empat hari.
            Wajah tegang menghiasi ruang 9 di SMA Al-Ma’ata, yaitu kelas dimana Xania menempuh ujian nasional. Xania terlihat serius mengerjakan soal UNAS di mejanya, tak sedikitpun terlihat ia sedang merasa galau ataupun sedih. Ia terlihat sangat yakin mencoret-coret lembar jawab.
            Sementara itu, di ruang 20, ruang dimana Marcel menempuh ujian nasional. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat jelas seperti habis begadang semalaman. Meskipun terlihat bimbang dan sesekali melamun, Marcel tetap serius mengerjakan soal. Ia mantap melingkari lembar jawabnya.
            Marcel dan Xania mempunyai tujuan yang sama setelah Ujian ini selesai, yaitu menyelesaikan hubungan mereka. Tetap berlanjut ataukah tak bisa berlanjut lagi seperti dahulu.

†††

            Malam sebelum Ujian Nasional...
            Marcel berdiri di balkon kamarnya. Ia memandang langit yang sepi. Hanya terlihat bulan sabit dan sedikit bintang. Ia merasa alam merasakan kesepian dirinya. Ujian Nasional tinggal besok dan sampai sekarang ia masih ragu akan keputusan dan rencananya.
            Angin malam yang dingin berhembus. Sedingin hati Marcel kini. Ia menutup jendela balkon, berbaring di tempat tidur dan memandang langit-langit kamarnya. Jam dinding sudah menunjukan pukul 23:37 namun mata Marcel belum juga bisa terpejam.
            Marcel memiringkan kepalanya, di meja terdapat fotonya bersama Xania saat melihat festival layang-layang tahun lalu. Ia melihat Xania begitu bahagia bersamanya. Kebahagiaan yang jarang dirasakan Marcel belakangan ini.
            “come on Marcel, lo nggak boleh kecewain orang-orang yang udah ngedukung lo! Lo harus bisa, demi Xania, Marcel. ayolah!” kata Marcel pada dirinya sendiri.

†††

†sebelas†

            Ujian Nasional yang berlangsung selama lima hari telah usai. Wajah-wajah gembira bertaburan di SMA Al-Ma’ata. Mereka merayakannya dengan makan-makan bersama di kantin. Perang telah usai, hanya tinggal menanti detik-detik kemrdekaan.
            Pengumuman kelulusan hanya berselang satu bulan. Waktu yang cukup lama untuk menanti. Seperti SMA lainnya, SMA Al-Ma’ata juga mengadakan prom night. Di SMA Al-Ma’ata, prom night biasanya diadakan pada hari kesepuluh setelah Ujian Nasional berakhir. Seperti biasanya, disetiap prom night pasti akan ada queen dan king prom namun di SMA Al-Ma’ata lebih kenal dengan sebutan mis Alma dan mr Alta.
            Semua pasangan pasti ingin mendapatkan gelar-yang sebenarnya tidak penting-itu. Mereka ingin mendapatkan gelar bersama sang kekasih hati atau bagi yang tidak mempunyai pasangan, ia ingin mendapatkan gelar bersama si gebetan. Tak terkecuali Marcel dan Xania. Semenjak naik kelas XII, mereka ingin sekali mendapatkan gelar sebagai mis Alma dan mr Alta.
            Marcel sudah mempunyai rencana agar ia dapat mewujudkan keinginan Xania. Sebagai ketua prom night, ia ingin membuat acara prom terbaik selama prom night diadakan di SMA Al-Ma’ata. Waktu Marcel terkadang habis untuk rapa panitia prom night. Ia sampai tidak sempat untuk bersama Xania, bahkan ia lupa akan rencananya.

†††

            “lo nggak bisa lupa gitu aja dong! Xania udah ngalah buat ngejaga perasaan lo! Dia nggak mau dikatain manja!...” Vanya meledak-ledak. Ia marah sekali saat bertanya pada Marcel mengenai rencanya. Dan dengan enteng Marcel menjawab, lupa!
            “gue ketua Van! Lo harusnya ngerti posisi gue! Jangan egois lo! Mentang-mentang Xania sahabat lo terus elo main nyalahin gue git...” Marcel belum selesai menjelaskan namun sudah dipotong Vanya.
            “ooo jadi lo mentingin prom? Okee! Siapa yang mulai mau ngetes Xania? Apa lo udah nggak percaya lagi sama Xania? Lo sadar nggak? Lo cuma dikomporin sama Marsya! Pengorbanan Xania buat lo apa itu belum cukup buat ngebuktiin sayangnya ke elo?”
            “gue cuma ragu sama Xania, bukan nggak percaya. Lo nggak ngeliat pengorbanan gue Van! Buka dong mata lo! Xania yang berubah, dia gampang curiga, buktinya dia sama lo bututin gue kan? Marsya nggak ada hubungannya sama semua ini. Gue cuma pengen ngetes apa rasa sayangnya Xania ke gue nggak berubah dan gu...”
            Braaak
Terdengar suara tong jatuh, seperti tertabrak. “Xania,” kata Vanya dan Marcel bebarengan. Tanpa berpikir panjang, Marcel segera mengejar Xania. Ia tak mau Xania salah sangka dengan perkataannya.

†††

            Xania sudah berdiri sejak lima menit yang lalu. Saat ia melewati koridor dekat kantin, ia mendengar suara Vanya. Ia berniat untuk menghampiri Vanya, namun saat menlihat Vanya dan Marcel terlihat bertengkar, ia mengurunkan niat untuk mendatangi Vanya. Ia berniat untuk menunggu di kantin, namun mendengar namanya disebut ia berhenti dan bersembunyi untuk mendengarkan.
            Mata Xania pedih melihat apa yang keluar dari mulut Marcel. Marcel mengetes rasa sayang Xania. Tak terbesit sedikitpun Marcel akan melakukan hal itu. Xania terus mendengarkan dengan seksama, sampai-sampai ia tak sadar telah menjatuhkan tong.
            “tong sialan!” umpatnya dalam hati.
            Melihat Vanya dan Marcel menyadari keberadaan Xania, ia segera berlari. Ia tak menyangka Vanya akan berbohong padanya dan menyembunyikan sesuatu. Xania terus mendengar namanya dipanggil, namun ia tak menghiraukannya.
            “xaniaa tunggu! Aku bisa jelasin semua,” sayup-sayup terdengar suara Marcel.
            Entah mengapa langkah kaki Xania terhenti. Mungkin hati nuraninya yang menghentikannya. Marcel dan Vanya segera mendekat.
            “stop! Jangan jelasin apapun. Gue cuma mau ngomong sama Vanya! Van, thanks banget lo udah mau jadi sahabat gue...”
            “tap...tap..”
            “tapi mulai sekarang lo nggak usah repot-repot lagi bantuin gue buat dia” jari telunjuk Xania mengarah ke Marcel, “..dan...lo nggak perlu repot-repot lagi luangin waktu buat gue. Dan buat lo,” kini mata Xania berkaca-kaca menatap Marcel. “jangan pernah ganggu hidup gue lagi! Gue udah benci sama sikap lo ke gue! Lo pacaran aja sama Marsya Marsya lo itu!” Xania pun pergi meninggalkan Vanya dan Marcel yang terbengong-bengong.
            Marcel dan Vanya berjalan sambil tertunduk. Rencana mereka kali ini gagal total, Xania sudah tahu semuanya-mungkin. Mereka berdua berharap ada keajaiban yang membuat Xania mau memaafkan mereka. Xania memang benci dibohongi.

†††

            Marcel bodoh, umpat Marcel pada dirinya sendiri. I merencanakan sebuah rencana dan dia juga yang telah menggagalkannya. Xania salah paham dan dia tidak mau mendengarkan penjelasan Marcel untuk kedua kalinya. Marcel hanya bisa pasrah kepada Tuhan.
            Marcel menunduk dengan kedua tangan menengadah. Ia sudah berjanji akan menjaga Xania, ia juga sudah belajar menjalani hidup seperti yang Xania inginkan. Jika ada kesempatan lagi, Marcel tak akan mensia-siakannya lagi. Marcel berdoa kepada Tuhan memohon agar ia dan Xania bisa kembali seperti dahulu lagi.
            Selesai berdoa, Marcel menyalakan radio. Ia mencari tuning sinyalgama. Sepeti yang sudah-sudah, setiap ada masalah ia akan mencurahkannya kepada semua orang.
            “...thanks Xania buat curhatnya.” suara penyiar radio seperti biasanya.
            “sial! Terlambat gue, kalo dari tadi pasti gue tau Xania curhat apa aja tentang gue,” kata Marcel, “tunggu berarti Xania juaga dengerin radio..”
            Marcel segera mencari ponselnya dan kemudian mengetikan pesan yang cukup panjang entah untuk siapa. Wajahnya tampak berharap cemas, semoga Xania mendengarkannya kali ini.
            Xania... maafin ak kalo ak selalu buat kamu kecewa, tapi yakinlah semua ini aku lakuin bukan tanpa tujuan. Ak lakuin ini semua buat kamu bisa nerima ak apadanya tanpa kamu tau sesuatu. Kalo kamu gak ngasih ak kesempatan ke2 ak bakal nunggu kesempatan ke3 kesempatan ke4 sampai ak gak bisa lagi minta kesempatan. Xania plis dengerin penjelasan ku, kalo kmu mau kmu bisa dateng k taman deket danau jam 4. Ak bakalan nunggu kmu sampai dateng.
            Rupanya Marcel menulis pesan untuk radio sinyalgama. Marcel berharap Xania akan datang menemuinya dan mendengarkan penjelasannya. Ini saatnya untuk Marcel membuka semua rahasia yang ia sembunyikan selama ini.
†††

            Xania meneteskan air mata setelah mendengar pesan dari Marcel yang disampaikan melalui penyiar radio. Dasar pengecut! Batin Xania. Xania merasa bodoh! Keledai saja tidak jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya! Apa dia lebih bodoh dari seekor keledai yang punya image dungu dihadapan semua orang. Xania tak habis pikir, Marcel meragukan kasih sayang dan cintanya selama ini? Sampai-sampai ia menguji seberapa besar cinta Xania. Benar-benar hebat!
            Xania sudah mau menerima kembali Marcel walaupun sebenarnya kedua orang tuanya melarang. Xania tetap pada pendirian bahwa jodoh di tangan Tuhan. Sampai akhirnya Mama Papanya luluh dan menerima kembali Marcel.
            “sepertinya Tuhan memang bener-bener belum mengijinkan kita sama-sama lagi!”
            Xania mengambil kertas HVS orange kosong di meja belajarnya. Tak lupa ia mengambil bolpoint gel kesayangannya. Ia mulai menuliskan sesuatu ke kertas kosong itu. Sesekali ia meneteskan air mata saat menulis. Meskipun Xania masuk kelas bahasa dan menjadi jurnalis adalah cita-citanya, tetapi ia masih belum fasih dalam mengolah kata dema kata.
†††

            “sampai kapan lo mau diemin gue Xan?” rengek Vanya.
            Sudah tiga hari Vanya dan Xania diam satu sama lain. Sepertinya Xania masih belum bisa memaafkan kejadian lalu yang melibatkan Vanya. Bahkan Xania memilih untuk duduk di sebelah Ibot, cowok paling jorok seantero sekolah. Kalau ada nilai 5-10 tingkat kejorokan, Ibot akan menduduki nilai 9,75 alias nyaris sempurna. Xania hampir muntah duduk di sebelahnya. Demi agar berjauhan dengan Vanya ia rela melihat Ibot mengorek-orek telinganya menggunakan bolpoint yang kadang tanpa sadar bolpoinnya diemut-emut. Hueks!
            Hari ini Vanya sudah bener-bener enek dengan Xania yang seolah-olah tidak menginginkan keberadaanya. Vanya menghalangi pintu kelas sehingga Xania tidak bisa lewat.
            “Permisi! Pintu ini milik umum! Gue mau lewat!”
            “Gue nggak akan biarin lo lewat sampai lo dengerin penjelasan gue!” Vanya keukeuh.
            “Hebat yaa lo berdua, kompakan amat. Mau ngatur rencana lagi yaa? Tapi maaf gue udah muak sama kebohongan yang lo sama Marcel buat! Gue enek! Minggir!” Xania menepis tangan Vanya yang menghalanginya dan pergi meninggalkan Vanya yang terdiam.
            Astaga segitu marahnya lo sama gue! Batin Vanya.
            Tak seperti biasanya Xania bisa tahan diam dengan Vanya. Terakhir mereka marahan adalah saat Vanya tiba-tiba tidak bisa datang ke pesta ulang tahunnya karena ban motornya bocor. Xania hanya marah selama 2 hari tanpa meninggalkan mejanya dengan Xania.
            Vanya sedih melihat sahabatnya yang sedang dilanda kegelisahan tetapi tak bisa membantu apapun. Dan yang paling parah, sahabatnya tidak bisa tersenyum juga karena ulahnya!
            “Cukup Marcel! Gue nggak mau terlibat terlalu jauh!” Vanya kemudian mengambil tas sekolahnya dan pergi meninggalkan sekolah. Menuju suatu tempat.
†††

            “CUKUP!!” Vanya memaki Marcel kesekian kali.
            “Cukup untuk apa? Gue tahu lo nggak dukung gue sama Xania setelah insiden dulu, tapi gue nggak mau berhenti di tengah jalan!”
            “Lo nggak mau berhenti di tengah jalan tapi lo mau kehilangan Xania? Lo nggak Cuma mempermainkan Xania tapi lo juga mempermainkan Tuhan!”
            “Gue serius Van! Bukan karena Xania! Walaupun akhirnya gue harus kehilangan Xania gue nggak akan pernah menyesal nglakuin semua ini. Itu murni dari diri gue sendiri!”
            Vanya dan Marcel adu mulut beberapa saat. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti mengenai Xania dan Tuhan. Kerena mereka berdua selalu menyebut Tuhan. Tuhan kok didebatin!
            “oke! Gue harap lo nggak nyesel ngelakuin itu semua. Gue akan bantu sebisa gue”
            “Thanks. Gue mohon lo jangan kasih tau Xania soal ini dan satu lagi... Tolong bikin Xania percaya lagi sama gue!” Marcel pergi meninggalkan Vanya. Tak lupa ia membawa tas buku-buku yang temanya hampir sama.
            Vanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah salah satu sahabatnya. Terlalu besar pengorbanan Marcel untuk Xania. Ini bukan lagi cinta remaja biasa! Terlalu besar pengorbanan maka kepingan saat pengorbanan itu jatuh akan lebih banyak juga. Semoga pengorbanan Marcel tidak hancur!
            Gimana caranya bikin Xania percaya sama lo, ngomong sama gue aja dia ogah!

†††

            Prom night SMA Al-Ma’ata tinggal menghitung menit sebelum acara dibuka. Siswa-siswi kelas XII baik program IPA, IPS, maupun bahasa sudah berkumpul di lantai dasar Hotel Rich Jakarta. Tempat itu sudah disulap bertemakan Fairy Land. Seperti temanya negeri dongeng, semua siswa berlomba tampil menjadi tokoh raja dan ratu di negri dongeng. Mulai dari seperti barbie sampai menjadi tokoh antagonis dalam sebuah dongeng.
            Seperti sudah tradisi tiap sekolah saat prom membawa pasangan mereka. Mulai dari satu angkatan, satu sekolah hingga beda sekolah pun ada. Yang penting berpasangan! Kecuali Xania mungkin. Ia datang seorang diri ke pesta prom. Xania tak kalah dengan yang lain. Ia menggunakan gaun orange selutut yang melekat pas ditubuhnya yang mungil. Rambut yang biasa ia kucir kuda digelung membulat di bagian teratas kepalanya dan menggunakan mahkota yang terbuat dari bunga plastik yang cantik. Membuat Xania mirip sosok peri dalam dongeng.
            Vanya yang sudah resmi jadian dengan Kenzo tentu memilih berangkat bersama pacarnya. Xania sebenarnya sudah diajak untuk bareng mereka tetapi ia menolak. Oya, Xania dan Vanya sudah baikan seminggu yang lalu! Mereka sudah kemana-mana bersama lagi!
            Seminggu yang lalu saat Xania akan makan dikantin, seperti biasanya kantin ramai penduduk. Xania malas untuk pergi ke kantin sebelah. Ia malas bertemu Marcel. Xania memesan makanan dan mencoba mencari tempat duduk. Hanya terlihat satu meja kosong di pojok dekat pohon. Cepat-cepat Xania berlari ke arah meja. Ternyata meja kosong itu juga dilihat Vanya. Alhasil mereka berdua makan satu meja dalam diam.
            Vanya meminta maaf pada Xania dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, saat itu ia tak peduli lagi apa Xania mau mendengarkan. Yang penting sudah bicara! Alhasil mereka baikan dan urakan seperti biasa.
            “Xania!!”
            Xania sibuk mencari-cari asal suara yang memanggil namanya. Pasti Vanya! Penerangan yang tidak terlalu terang karena acara belum dimulai membuat Xania sulit menemukan Vanya.
            “yee asal suaranya dimana nengoknya kemana!” Vanya menepuk bahu Xania dari belakang.

†††