Aku 19 tahun, semester pertama fakultas tehnik dinsalah satu Universitas terbaik di Bandung. Satu bulan yang lalu, saat kali pertama aku resmi menjadi mahasiswi Universitas itu aku merasa bahagia sekaligus bangga. Diantara teman-temanku, akulah yang mempunyai penggemar paling banyak. Banyak seniorki yang jatuh hati padaku. Mereka selalu menyapaku saat aku lewat. Aku hanya bisa tersenyum ramah pada mereka.
Satu bulan berlalu. Aku masih menjalani kuliahku dengan tenang sebelum musibah itu datang. Aku mengakhiri masa lajangku. Aku menjalin hubungan dengan salah seorang seniorku. Namanya Randy. Ia mempunya wajah yang tampan. Namun ia merupakan salah satu idola kaum wanita di kampusku. Mereka tidak menyukai Randy jadiaan denganku. Awalnya aku masih tahan dengan bisik-bisik dinsekitarku yang selalu membucarakan hal yang tidak benar.
"Sudahlah. Mereka hanya iri melihat kecantikanmu," kata Nana salah satu sahabatku di kampus. Akhir-akhir ini ia menjadi teman curhatku. Ia dewasa dan banyak memberikan solusi padaku. "Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Kalau hanya sindiran saja aku masih bisa sabar. Kamu lupa apa yang mereka lakukan padaku Kamis lalu?" Aku mengingatkan Nana apa yang aku alami Kamis lalu.
Kamus lalu, mungkin puncak dari kemarahan fans Randy padaku. Mereka menusuk ban motorku dengan pisau. Tidak hanya itu, mereka juga menyayat jok motorku dan mengeluarkan isinya. Bagian depan motorku juga ditempeli kertas bertuliskan "JAUHI RANDY!!! DASAR WANITA HASIL OPERASI PLASTIK!!" Aku benar-benar sedih dan takut saat itu. Aku menelephon Nana dan memintanya untuk menjemputku. "Kamu sudah beritahu Kak Randy?" Tanya Nana. Aku hanya menggelengkan kepala.
Hubunganku dengan Randy hanya bertahan tiga bulan satu hari. Bukan karena orang-orang yang coba menerorku tetapi karena ulah jahat Randy. Saat itu aku ingin mengajaknya ke pesta ulang tahun temanku. "Sebaiknya hubungan kita cukup sampai di sini saja." kata Randy yakin. Terlihat ia tak bercanda sama sekali. "Aku tidak mengerti apa maksudmu?" tanyaku.
Randy menjelaskan hubungannya denganku selama ini tidak didasari cinta tetapi uang. Randy hanya menjadikanku taruhan dengan teman-temannya. Jika ia bisa bertahan menjalin hubungan denganku lebih dari tiga bulan maka ia menang. "Aku hanya ingin membuktikan pada teman-temanku tidaklah susah mendapatkan hati wanita cantik sepertimu. Terima kasih telah membantuku mendapatkan handphone ini." Ia berkata sambil menunjukan handphone hasil taruhannya. Rasanya aku ingin menghajar dan menbunuhnya namu aku tak tega. Aku benar-benar tulus menyayanginya.
Waktu berlalu, lama aku menyembuhkan luka di hatiku. Akhirnya aku pacaran dengan Bara, teman sejurusanku. Namun luka yang mampir mengering dulu kini kembali tergores karena ulah Bara. Lagi-lagi hubunganku denganya tak bertahan lama. Ia selingkuh dengan Nana, sahabatku sendiri. Aku memutuskan Bara dan juga persahabatanku dengan Nana. Aku benci mereka berdua. Aku jijik melihat mereka bermesraan denganku. "Maafkan aku Gadis. Aku juga berhak jatuh cinta. Kamu cantik, kamu bisa dapatkan orang yang jauh lebih baik dari Bara." Terang Nana saat aku meminta penjelasan padanya. Begitu teganya ia padaku.
Aku benci Randy, Nana, Bara, aku benci hidupku aku benci semuanya! Kataku pada diriku sendiri. Mereka semua membuatku menyalahkan Tuhan. "Kenapa Engkau memberiku wajah yang cantik namun tak Kau berikan sedikitpun aku kebahagiaan?" Tanyaku pada Tuhan. Berkali-kali aku dihancurkan oleh laki-laki. Hingga seolah-olah aku benci keberadaan laki-laki. Aku merasa kapok jatuh cinta. Berawal dari itulah kehidupanku hancur. Aku mulai sering bolos kuliah hanya untuk menyepi di suatu tempat. Menutup diri dari orang-orang sekitarku hingga menentang orang tuaku.
Sampai suatu ketika Sandra datang. Ia anak dari adik papaku. Dengan senang hati kami sekeluarga menerima Sandra untuk tinggal bersama. Sandra sangat baik padaku. Aku berbagi banyak cerita padanya. "Semua laki-laki tidak ada yang baik kecuali papamu," kata Sandra padaku. Ia mulai menuntunku kembali ke hidupku yang dulu. Aku mulai membuka diri dengan orang lain dan berteman dengan teman-teman Sandra.
Dibalik kebaikan Sandra padaku ia ternyata menyimpan rasa padaku. Ia sering memandangku dengan tatapan aneh dan terkadang tersenyum sendiri. Aku semakin nyaman dengan perlakuan Sandra padaku. Suatu hari Sandra mengutarakan perasaannya padaku. "Aku benar-benar mencintaimu tidak peduli kita sama." Kata Sandra. Aku ragu akan perasaan ini. Dalam hatiku aku juga menyayangi Sandra tepatnya mencintainya.
Aku yang saat itu sedang berhenti di persimpangan tiba-tiba menemukan orang yang bisa menuntunku untuk kembali berjalan yaiti Sandra. Jiwaku yang saat itu benar-benar labil mulai terpengaruh dengan hidup Sandra. Kemudian aku berbelok dan akhirnya berhenti pada suatubpersinggahan.
Aku mulai menjalain hubungan diam-diam dengan Sandra. Aku takut ketahuan orang tuaku. Diluar kompleksku tidak banyak yang mengenal Sandra. Aku mulai berani membuka hubunganku dengan Sandra pada orang-orang. Aku menyuruh Sandra untuk potong dengan gaya laki-laki agar aku lebih tenang saat jalan dengannya. Aku memperkenalkan Sandra sebagai Andra di kampusku. Banyak hal yang aku lalui bersamanya. Ia begitu menyayangiku. Sandra bahkan menjagaku dari orang-orang yang menggoda ku. Aku semakin terbuai dengan cunta yang salah ini. Aku sadar cintaku terlarang, namun apa boleh buat hatiku terlanjur memantapkan pada Sandra.
Suatu hari saat pulang kuliah, kedua orang tuaku juga Sandra duduk di ruang keluarga dengan wajah serius. "Sedang apa kalian di sini? Pasti sedang menungguku ya?" Tanyaku percaya diri sembari menghampiri papa. Plak! Tiba-tiba saja papa menampar pipi kiriku. Aku tak tahu mengapa beliau melakukan ini. Aku memandang mama mencoba mencari tahu penyebabnya. Mamaku hanya menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Apa yang kamu lakukan selama ini dengan Sandra?" Tanya papaku. Astaga kedua orang tuaku telah mengetahui hubunganku dengan Sandra. Aku mencoba menjelaskan perasaanku pada papa sementara Sandra hanya diam. "Mengapa Tuhan menciptakan rasa cinta ini jika menurut papa salah?" Tanyaku sambil menangis. "Sandra Om rasa kamu sebaiknya kembali ke Jakarta. Tidak ada gunanya kamu di sini jika hanya untuk menjerumuskan Gadis!" Kata papa tegas pada Sandra.
Semenjak Sandra kembali ke Jakarta, aku benar-benar berhenti kuliah. Aku merasa hidupku benar-benar hancur. Berhari-hari aku mengurung diri di kamar. Menagisi kehidupanku yang amat sangat berantakan, menangisi nasib burukku. Aku tidak lagi menyalahkan Tuhan. "Ya Tuhan jika rasa cinta yang Kau ciptakan ini terlarang mengapa Engkau beri aku rasa cinta ini lagi jika hanya berujung pada kesakitan?" Tanyaku pada Tuhan. Aku memohon padaNya agar mengambil hati dan pikiranku. Sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi aku mempunya hati. Semua berasa mati. Aku seperti hidup dalam kekoaongan.
Dua bulan berlalu. Papa tak tahan melihatku terus mengurung diri di kamar. Ia akhirnya mengirimku ke sebuah pondok pesantren di Garut. Aku memulai hidup baru di sini. Mengenal orang-orang baru, mendapatkan pembelajaran baru, dan lingkungan yang baru tanpa Sandra tentunya. Kini aku dapat menjalani hidupku yang seperti dahulu sebelum aku mengenal Sandra. Darinpersinggahan ku dahulu aku mulai berdiri untuk mencari jalan lagi dan akhirnya menemukan persimpangan. Aku yang harus menentukan ke arah mana aku akan berbelok. Ke arah hidup yang lebih baik sekarang. Sandra kini hanya menjadi kenangan pahit masa laluku. Jika aku bertemu dengannya kelak, aku hanya ingin melihatnya bersama laki-laki yang tepat untuknya dan bahagia seperti aku sekarang ini. Kini aku menjalin hubungan dengan salah satu temanku diponpes. Menjalin hubungan yang tentunya tidak terlarang lagi. Kini Gadis di persimpangan yang dulu salah arah telah kembali menemukan persinggahan yang jauh lebih nyaman dari persinggahannya sebelumnya.
tamat