Dia bukan orang yang menyakiti hati ku, bukan juga orang yang memberiku harapan-harapan yang sebenarnya tidak pernah ada. Dia hanya orang yang datang membawa kuas dan cat air. Yang kemudian mewarnai kertas gambar milikku yang sudah lama kosong, yang hanya bisa aku gambar tanpa bisa aku warnai sendiri. Dia menggoreskan kuas warna pada tiap bagian yang kosong. Terlihat indah setelah ia beri sentuhan warna. Merah, jingga, kuning, biru, hijau dan ungu. Semua warna menyatu membentuk sebuah lukisan indah yang nyaris sempurna. Namun, dia terlalu jauh memberikan warna pada kertas ku. Hingga warna-warna yang tak pantas ia tuangkan ke dalamnya. Hitam! Aku tahu sebelum lukisan itu nyata aku harus menggambarnya dengan kuas dan tinta hitam. Tapi tak pernah sedikitpun aku mengira, warna itu akan muncul di tengah-tengah warna pelangi lainnya. Bagaimana pelangi akan indah bila ada hitam diantara warna-warna indahnya? Dia kembali menggoreskan warna. Kali ini tanpa kuas! Ia menuangkan begitu saja warna pelangi ke kertas gambarku. Sampai semua gambarku tertutup olehnya. Kemudian dia pergi meninggalkanku bersama kuas, gambar dan warna yang sudah tak beraturan itu. Aku berteriak. Mencari tahu apa yang sebenarnya tersirat dalam lukisan ini. Untuk apa dia mewarnai kertas gambar ku kalau hanya untuk merusaknya? Aku mulai berfikir. Seindah apapun warna pelangi, tidak akan terlihat indah apabila warna itu tak berada pada tempat yang tepat. Pelangi muncul setelah adanya kegelapan pada hujan. Aku sadar, dia bukan meninggalkan lukisan yang buruk. Dia justru memberikan warna-warni pada lukisan itu. Dengan warna-warna itu orang tak akan pernah tahu dibalik lukisan tak beraturan itu tersimpan lukisan yang indah yang hampir selesai. Lukisan itu tinggal menunggu pelukis yang bisa merubah warna tak beraturan itu menjadi lukisan baru dengan kuas dan tinta hitam. Bukan buruk, tetapi lebih indah. Karena pelangi tak akan pernah muncul jika hujan tak muncul duluan.
elly
Tidak ada komentar:
Posting Komentar